Bismillaahirrahmaanirrahiim :)
![]() |
google search |
Selingkar
itu masih bertengger nyaman di jari manis. Terpilin pilin jemari lainnya
sembari membangun yakin. Belum ada seumur jangung, dan ada ragu yang tetiba
menggunung. Slide slide prosesi yang terus berputar serupa film layar lebar di
kepala.
Berbekal
sepaket lengkap alamat tempat tinggal dan kepala keluarga yang menahkodai juga
tak ketinggalan peta transportasi untuk menuju lokasi yang ia tanyakan sepekan
sebelum terlunasi, lelaki itu melangkah penuh percaya diri. Bersiap menjemput pertemuan
pertama di rumah Bunda. Lantas berlanjut pertemuan kedua di rumahnya, pertemuan
dua keluarga menentukan hari H hingga hari hari sesudahnya. Setiap detik adalah
ingat yang kesegarannya masih mampu dibaui. Dan pada detik kesekian di malam
kesekian, ada detik yang menyematkan asma di dalamnya.
Sekalipun
ia sudah terbingkai dalam kenang masa lalu serupa kisah virtual dalam kotak
video, tetap saja ada hangat dipelupuk mata. Menetes dan menguap di udara. Asma
yang benar benar menyiksa.
Kaktus
itu masih terguyur hujan, sebagian dirinya sudah terendam air. Ada keyakinan
yang muncul bahwa ia akan lekas menemui kematian. Kaktus yang malang. Batinku
melirih.
Mungkin
seperti aku. Lanjutku masih membatin.
Proses
kebatinan yang lekas teralihkan sebab ada seirama dua kali jentikan jari dari
pusat gravitasi tempatku berkontemplasi. Mau tidak mau, menatap sumber suara
adalah jawaban paling efektif.
Alisku
terangkat sebagai wakil “Ada apa?”
“Jangan
melamun! Sekalipun ini caffe bertajuk perpustakaan, rasanya tidak sopan
menggunakan tempat sehening ini hanya untuk melamun.” Isyaratnya dengan mata
keberatan dan senyum ejekan.
Dalam
sekali pengacuhan tatap, semoga ia tahu ada raga yang enggan berdebat. Doaku
membatin.
“Banyak
yang harus melepaskan dan dilepaskan, mau tidak mau, suka tidak suka, siap
tidak siap, ikhlas tidak ikhlas.” Secarik kertas itu datang bersama secangkir
ButterBeer Capuchino, minuman hangat a la Hogsmeade di serial Harry Potter yang
kandungan alkoholnya digantikan teh jahe wangi pandan.
Seulas
senyum itupun hadir tanpa dosa dengan isyarat, “Selamat Mengeja sajian kami….”
Tatapku
jelas mengena pada retinanya, memintakan padanya agar mengerti bahwa ada yang
terluka disini.
Tapi
tetap saja, wajah itu terus tersenyum tanpa dosa.
Damn! Dia tahu dan enggan menanyakan
perihal hatiku.
“Aku
sakit.” Kataku singkat tanpa suara.
“Kamu
hamil?!” serunya dalam isyarat. Matanya berbinar.
“Iya,
tapi bukan itu maksudnya.” Ucapku geram. Masih dengan tanpa suara.
“Selamaaaat
yaa….” Isyaratnya bahagia dengan seiring tangan hendak mendekap tapi
diurungkan. Dia teringat batasan di jari manisku.
Canggung.
“Tapi
bukan itu Ra… Aku sekarat.” Ucapku akhirnya. Lirih dan benar benar
membiarkannya membaca gerak bibir. Pertahananku tumbang. Bendungan itu menjadi
bah di bukit pipi. Nafas itu keluar tak teratur.
Tuhan tidak suka memaksa.
Keadaanlah yang terkesan memaksa terjadi sebab kitalah yang lebih dulu memaksa.
Semesta hanya pengapresiasi, dan siapapun yang kita temui selalu punya energi.
Ia dapat merasakan, memilah, memilih. Memeluk atau menjauh. Menggenggam atau
melepas.
Bahkan benda mati pun bisa tahu
bedanya dicintai dengan tulus, atau seperti dicintai tapi sebenarnya tidak.
Apalagi manusia yang berhati dan bernurani?
Awal bulan Juni jatuh seperti
puisi Sapardi. Seperti biasa, alam selalu lebih jujur dibanding manusia.
Meskipun keduanya sama sama sulit dieja. Pun seperti itu juga, manusia akhirnya
terkikis oleh egonya yang menjadikan ia manusia. Ironisnya, sisa kekuatannya
adalah tetap egonya yang masih tersisa.
Dialog itu terurai begitu saja.
Perang batin yang sedari kemarin lalu sudah ingin di ledakkan melebihi
Ramayana. Hanya saja, kali ini Rama yang
diculik Husna, bukan Sinta yang terperdaya Rahwana.
Ku baca ulang berlembar kertas
itu. Kertas yang sedari pagi ku tekuri di antara lalu lintas pengunjung caffe.
Kertas yang ku harap mampu meluruhkan segala tanyaku perihal setia, cinta, dan
kita. Kertas yang entah dengan keberanian macam apa akan sanggup
mengantarkannya pada seorang yang memang dituju.
“Hmmmmhhhh.” Nafasku menghela.
Meminta kekuatan semesta demi untuk membuka selembar kertas. Tabularasa yang
sudah bertabur warna. Bunga luka.
Surakarta, Di Awal Juni
Assalamualaykum Saudariku,
Salam selamat dan sejahtera untukmu dan
untukku.
Aku ingin memanggilmu Saudari, sebab kita masih
diberi nikmat mengimani satu yang Esa. Kebenaran yang terlabel dalam satu kata.
Islam.
Tulisan ini sampai padamu seperti namamu
yang sampai padaku berbulan lalu. Husna, begitu ia memanggilmu. Nama yang
berbeda yang kamu sebutkan saat kedua tangan dan raga kita saling mendekap.
Nuraini, begitu kamu mengenalkan diri. Dan namamu
sungguh selaras dengan parasmu. Cantik nan meneduhkan. Pujiku dalam hati. Aku
menyukai senyummu seperti aku menyukai senyum kakak tingkatku di halaqah.
Dengan jarak usiaku yang lebih muda, aku bisa merasakan kamu adalah kakak
perempuan yang baik. :”)
Kak Husna, ijinkan aku memanggil nama itu
dengan lisanku. Istri dari lelaki yang memanggilmu dengan nama itu. Sebab
begitulah engkau mengenalkan diri ketika aku memasuki peran sebagai istri dari
lelaki itu.
Dari sekian nama rekan yang yang pernah ia
ceritakan, maaf, namamu adalah satu yang ku pertanyakan. Dan dia dengan tenang
menjawab,
“Itu panggilan Mas untuk dia.”
Sebaris kata
yang mengantar pada sesak yang sungguh menyiksa. Baiklah. Aku butuh udara
segar. Terlalu banyak makhluk hidup yang berebut oksigen. Bisa kah aku pergi
sejenak???
Tidak.
Aku sudah tidak
bisa lagi kemana-mana.
Kamu tahu kak? Ketika seumur hidup aku
menghindari stagnansi, pada Lelaki itulah aku memilih berhenti. Berhenti
menjadi Perempuan, lantas menyingkap strata tertinggi dari keberanian kaum hawa
menembus feminimitas. Menjadi Wanita (wani ditata), menitipkan ketaatkan atas
titahnya guna meraih ridha.Nya.
Lalu malam itu, di malam pertama aku menjadi
istri. Aku patah hati. Tanpa bisa lagi memilih lari atau membiarkan sesiapa
pergi.
Bahkan untuk seorang Pepeng harus menempuh
tiga belas tahun usia pernikahan agar dimampukan memberikan panggilan mesra
untuk istrinya, panggilan yang hanya di dengar dua telinga manusia, suami dan
istrinya saja. Tiga belas tahun untuk sebuah nama ‘Dik Tami’ yang menggenapi
perasaan cintanya kepada sang istri di malam penganugerahan ‘Keluarga Bahagia
Caplang’. Satu dasawarsa lebih setengah lusin semester.
Nama itu. Husna atau semacamnya.
Bahkan aku tidak memilikinya.
Lantas siapa
yang harusnya menjadi istrinya?
Maka, sedalam apa perasaan yang pernah
terjadi di antara kalian?
Maka, sekokoh apa hubungan yang pernah
terupayakan di antara kalian?
Maka, semurni apa hubungan yang kini ada di hadapanku?
Maka, apa yang hendak kamu sampaikan dalam
lima huruf yang terlabel sebagai namamu di matanya? Jika hanya perihal jalinan
silaturahim kalian sebagai teman, mengapa harus nama itu, bukankah kamu
memiliki nama yang sesuai KTP? Nama yang sesuai akta kelahiran, ijazah atau
sepaket perangkat administrasi kependudukan lainnya. Yang siapapun pasti
mengenalmu dalam keseharian. Yang sudah pasti aku tidak akan menanyakannya.
Atau kamu ingin mengenalkan diri sebagai
perempuan pendahuluku? Dan aku adalah Perempuan Bocah yang dipungut lelaki itu
atas dasar kasihan dan perasaan kehilangan sebab penolakan yang terjadi dari
keluargamu? Atau kamu hendak menegaskan bahwa tidak seharusnya aku menerimanya
sebab nyatanya tidak pernah ada penolakan, tapi waktu menanti yang harus diulur
lagi hingga beberapa tahun kedepan?
Aku merasa bersalah, tidak suka, risih, dan
gamang secara akut. Dengan prosi yang tidak bisa dibilang sedikit. Dalam sekali
waktu, di malam pertamaku menjadi istrinya.
Lantas jika kamu membaca ini sebagai
kecemburuan, kalau boleh ku luruskan ini hanya segaris perasaan tidak nyaman
sebab aku melihat dalam sepersekian detik ia membaca namamu. Ada senyumnya melengkung dengan
sangan tampan. Senyum yang mampu meningkatkan keteduhan di wajahnya lima belas
persen. Senyum yang masih ku cari formula untuk dimunculkan kembali.
Bagiku tindak cemburu itu tidak terlalu
terpuji, terlebih engkau sudah dilunasi perannya sebagai masa lalu. Aku paham
benar perihal masa lalu. Dan bukankah setiap dari kita memiliki masa lalu? Ayam
saja memiliki masa lalu sebagai telur. Pun si kupu cantik yang pernah menjadi
ulat buruk rupa.
Detik itu. Aku memutuskan untuk berhenti
bertanya perkaramu. Aku enggan menggali pusaraku sendiri. Aku enggan terkubur
dalam kisah kalian yang mungkin sangat heroic. Bahwa bersaing dengan masa lalu
adalah kemustahilanku untuk menang.
Aku kalah. Bahkan sebelum bertanding.
Aku (ingin)mengalah tanpa harus menyerah. Bahkan sebelum kalian memintakan.
^o^
“Seared Scallop
with Creamy Fettucini selalu pas untuk membaca semestamu, Nona!” Dua Jentikkan
jari dan segenap isyarat penyertanya. Tersaji dengan aroma pasta yang cukup
mengobati empat puluh dua persen kepatahhatian. Sayangnya, masih ada lima puluh
delapan persen kepatahatian yang mengendap dan tak tergantikan rasanya.
“Thanks, Ra.
Hope I can make it look and taste as spectacular as yours did, someday. But, Im
sorry I cant try this dish.” Balasku lirih bernada penuh putus asa.
“Why?” Bahunya
terangkat, selaras dengan alisnya yang tertaut. Tatapnya menuntut jawaban tidak
singkat.
“I wanna ask
you. May I?”
“With pleasure…”
senyumnya empat senti.
“Bagaimana cara
agar manusia menang dari hujan, Ra?”
“Aku merindukan
hujan di musim hujan, bukan di bulan Juni. Ku merasa aman dengan yang memang
semestinya.” Tanyaku pada udara. Catra hanya sesosok raga sebagai penyeimbang
agar aku tidak dianggap gila. Mengobrol dengan diri sendiri, untuk manusia masa
kini sudah bisa masuk kategori kelainan psikis. Dan aku tidak pernah siap
dibawa kerumah sakit jiwa.
RisaRiiLeon
-R-