Rss Feed
    Showing posts with label Dear. Show all posts
    Showing posts with label Dear. Show all posts
  1. Bismillaahirrahmaanirrahiim :)




    Tantangan pertama memasuki peran Ibu adalah bijak menanggapi banjir informasi mengenai masa kehamilan, persalinan, hingga pola asuh diawal kehidupan anak. Riuhnya isyu yang tersebar terkait fakta dan mitos selama hamil dan pasca persalinan, tentu cukup membuat banyak ibu muda yang kelimpungan mengelola data. Nyatanya, aktivitas new moms dengan si kecil yang tidak menentu sudah cukup menguras tenaga, ditambah dengan ramainya suara sekitar yang masih tercampur antara mitos dan fakta acapkali menuai kontroversi dalam diri seorang ibu baru.

    Pemberian Perlindungan Imunisasi pada anak menjadi salah satu isyu yang paling menghantui pada Ibu Baru. Bagi saya memberikan Perlindungan Imunisasi kepada anak, bukan hanya perkara hak dan kewajiban anak dan orangtua, bukan pula hanya masalah pemerintah. Pemberian Perlindungan Imunisasi kepada anak, adalah mengenai kebutuhan anak dan orangtua terhadap perlindungan perkembangan system imun dalam tubuh untuk masa depan.

    “Bukannya banyak ya, kasus tidak diimunisasi tidak apa apa?” seloroh seorang teman.

    Benar. Saya sendiri memiliki beberapa tetangga yang anaknya tidak pernah diimunisasi sejak lahir dan anaknya sehat beraktivitas. Namun kasus tersebut, hendaknya tidak dipandang satu sisi saja. 

    Beberapa pertanyaan mengenai hal di atas ini ada baiknya diajukan kepada diri kita sebagai orangtua terkait hal di atas :
    · Berapa persen perbandingan anak sehat tanpa atau dengan Perlindungan Imunisasi?
    ·     Bagaimana manfaat ASI cukup untuk melawan kompleksnya perkembangan infeksi masa kini?
    · Adakah literasi yang terpercaya mengenai kecukupan ASI = Perlindungan Imunisasi dari ragam penyakit?
    Sebab kenyataanya : Terkadang tanpa Perlindungan Imunisasi anak tetap bisa sehat beraktivitas, dan terkadangpun dengan Perlindungan Imunisasi anak juga nampak sehat produktif beraktivitas. Hanya tinggal bagaimana kita menyikapi kebutuhan diri dan anak mengenai investasi kesehatannya di masa depan.

    Ketika orangtua memutuskan untuk tidak memberikan Perlindungan Imunisasi kepada anaknya, barangkali orangtua tersebut telah merasa cukup dengan memberikan ASIsebagai perlindungan system imun anak. Sebab faktanya cukupnya kebutuhan ASI anak mampu menjaga system kekebalan tubuh anak terhadap penyakit. Hanya saja, dalam kasus tersebut tidak banyak literasi yang dapat dipertanggungjawabkan mengenai penyakit apa saja yang dapat dicegah hanya dengan ASI. Mengingat lingkungan sekarang yang begitu rawan terhadap masa tumbuh kembang anak. Setidaknya penyakit orang pada jaman dulu tidak sekompleks penyakit manusia masa kini, terlebih anak anak sebagai investasi kita.

    Perlindungan Imunisasi atau vaksin sendiri merupakan ikhtiar untuk investasi masa depan kesehatan anak dengan memasukan virus yang dilemahkan ke dalam tubuh anak. Sebab dengan pemberian vaksin anak diharapkan memiliki resiko lebih kecil untuk terserang penyakit serta infeksi berbahaya. Nah, harapannya anak memiliki kesempatan lebih luas untuk beraktivitas, bermain, dan belajar tanpa terganggung oleh masalah kesehatan nantinya.

    Dalam ragam ikhtiar menuju Indonesia Sehat, pemerintah sudah jauh hari mengedukasi masyarakat untuk memberikan Perlindungan Imunisasi kepada anak anak. Pihak Kementerian Kesehatan bersama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun berupaya bersama guna mendukung program imunisasi yang saat ini tengah dijalankan dalam negeri, salah satunya melalui harmonisasi bidang keagamaan dalam pelaksanaan program kesehatan. Kementerian Kesehatan sebagai wadah para pakar penyedia sarana kesehatan untuk masyarakat dan MUI sebagai wadah para ulama untuk menjamin kehalalan produk vaksin imunisasi tersebut. Keduanya solid berkerjasama untuk membangun Indonesia Sehat dengan produk penuh kebaikan dengan syariah Islam. (Mengingat mayoritas masyarakat Indonesia adalah umat Islam.) Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) bahkan sudah mengeluarkan satu petunjuk jadwal imunisasi. Jadwal tersebut merupakan kajian Satgas Imunisasi IDAI yang disesuaikan dengan kebutuhan anak Indonesia. Jadwal yang sama juga disediakan oleh pemerintah dalam sampul halaman belakang buku pegangan Ibu Hamil. ^^
    Jadwal Imunisasi (Klik Untuk Memperbesar)

    Menurut dr. Hardiono D.Pusponegoro SpA(K) dalam salah satu majalah anak di Indonesia menyatakan bahwa Perlindungan Imunisasi sangat baik untuk anak, sebab mampu merangsang tubuh anak untuk menghasilkan kekebalan alami terhadap penyakit. Dan jika dilakukan dengan baik dan benar , maka perlindungan dan kekebalan yang dicapai hampir 100%.



    “Lalu, bagaimana dengan maraknya kasus anak – anak yang sakit menahun pasca pemberian imunisasi ?”

    Pada kenyataannya ketakuan akan efek samping pasca imunisasi kerap mendera hati para orangtua. Tapi, sejatinya efek samping dari Perlindungan Imunisasi pada umumnya sangat sedikit, dan seringnya hanya berupa demam, namun itupun dapat dikurangi dengan pemberian vaksin tanpa panas meski tidak seratus persen benar tanpa panas. Sebab ada beberapa kasus anak tetap mengalami demam ringan pasca suntikan meski yang diberikan adalah vaksin tanpa panas. Menurut dr. Hardiono D. Pusponegoro SpA(K), keampuhan vaksin tanpa panas dengan vaksin biasa adalah sama, yang membedakan hanya harganya saja. Vaksin tanpa panas cenderung lebih mahal

       Sebagai upaya optimal pemerintah terhadap keamanan dan kenyamanan program Perlindungan Imunisasi pemerintah telah menyediakan wadah yang bertugas mengurus efek samping dari imunisasi atau Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang disebut dengan Komite Nasional KIPI. Komite tersebut bertugas memantau dan menanggulangi apabila terjadi efek samping dan membuktikan apakah penyebabnya oleh vaksin tersebut atau hal lain.

                Nyatanya, sebagian besar kasus pada KIPI bukan disebabkan oleh vaksin. Banyak diantaranya terjadi sebab kesalahan teknik pembuatan, pengadaan dan distribusi serta pernyimpanan vaksin, juga dari kesalahan prosedur dan tehnik pelaksanaan imunisasi yang timbul tanpa kesengajaan.


                Kemudian, sebagai pengingat untuk diri sendiri dan Para Ibu Baru, setelah tahu dan paham mengenai informasi diatas (pengertian imunisasi, manfaat, dan efek samping yang menyertanya) semoga kita mampu lebih bijak menelaah informasi, menjadi lebih jeli dan teliti mengelola informasi. Pahami benar perkara Imunisasi sebagai investasi masa depan kesehatan anak, terutama proses saat sebelum imunisasi tersebut diberikan. Perhatikan hal berikut ini :
    ·       Pastikan anak dalam kondisi fit dan sehat.
    ·    Pastikan penyimpanan vaksin daam kondisi baik. Tanyakan kepada tenaga kesehatan yang bersangkutan. Biasanya vaksin ditelakkan dalam suhu rendah agar komposisinya tetap terjaga dengan baik.
    ·       Pastikan jarum yang digunakan baru dan masih steril.
    ·     Selalu tanyakan lebih detail kepada tenaga kesehatan yang bersangkutan mengenai vaksin yang akan diberikan, juga tindakan pertama yang harus dilakukan vaksin memiliki efek samping.


    Galeri Sehat dari www.sehatnegeriku.kemkes.go.id 

    Menkes Lakukan Dialog dengan Pemegang Program Indonesia Sehat Melalui Pendekatan Keluarga

    Menkes Lakukan Dialog dengan Pemegang Program Indonesia Sehat Melalui Pendekatan Keluarga








  2. Kita : Sepotong Kisah Menenun Jannah

    Thursday, 6 September 2018

    Bismillaahirrahmaanirrahiim :)

    Waduk Gajah Mungkur



    Sabtu pagi 2016 lalu, aku ulang pada Kamis 2018 kemarin. Bertemu wajah baru dalam sebuah lingkar kebaikan berdalang seorang yang sama. ^^

    Alhamdulillah…segala puji dan syukur atas segala nikmat iman dan islam yang masih menetap dihati. Shalawat serta salam masih tercurah kepada Rosuallah saw.

    Saya tidak pandai mengucapkan kata perpisahan. Jujur saja, bagi saya perpisahan hanya sebuah jeda dari pertemuan. Semacam pertemuan yang tertunda. :”) Tapi, kali ini ijinkan saya mengeja kata perpisahan untuk kebersamaan kita setahun lebih ini.

    Kamis lalu, saya dipertemukan dengan mereka. Ibu Ibu yang masha Allah menginspirasi, untuk tidak lekas berputus asa dan menjaga sebuah baik sangka kepada Allah Ta’ Alla. Memang belum banyak saya mengenal mereka. Belum banyak saya berbincang dengan mereka. Tapi, aura kebersamaan yang hangat dan ramah serta sharing pengalaman, nyatanya membuat saya berfikir “Insya Allah, akan lebih baik saya disini.”

    Tunggu! Bukan. Bukan berarti kebersamaan dengan kalian tidak baik. Tidak sama sekali. Kebersamaan dengan kalian adalah anugerah yang Allah berikan di masa tranisisi saya sebagai Ibu ^^ Setidaknya kalian sempat melihat ketertatihan saya melakoni peran IBU :D
    Setidaknya dua puluh satu bulan ini, Allah telah mengenalkan saya kepada kalian, Saudari Saudariku yang Insya Allah dirahmati Allah ^^

    Menjadi nama baru dalam lingkaran ini bersama Mbak Dilla dan Mbak A’yun. ^^
    Sebenarnya dari dulu saya hendak mengatakannya, tapi agak sungkan :D Dalam setiap tilawah kita, saya selalu menunggu nunggu saatnya Mbak A’yun yang membaca. Masya Allah, suaranya membuat Al Quran seolah meresap dalam setiap pori hingga hati saya. Semoga lantunanmu menjadi amalan penjemput jannahmu ya Mbak :”) Aamiiiin Apakah jika saya lahir dari keluarga muslim akan secanggih dirimu, Saya tidak tahu. Yang jelas upaya untuk melengkapi syahadat keduang orang tua saya membuat saya ingin menjadi anak sepertimu, dan menjadi orangtua sepertimu. Menjadi anak yang mampu membersamai orangtuanya menjemput jannah, dan menjadi orangtua yang membersamai anaknya menemukan peran peradabannya bersama Al Quran. :”)

    Mbak Dilla. Jazzakillah khoiron katsir atas kehangatan merengkuhku dengan sabar. Kau tau, dalam banyak pertanyaan dan pernyataan lugasmu tentang anak-anak ataupun jodoh, aku percaya seorang yang kelak mennggenapi separuh dien.mu adalah seorang pejuang sejati :* dan percayalah sifat keibuan adalah fitrah setiap perempuan. Just let it flow and enjoy the process :* Semoga ldisegerakan tiba waktunya pengabulan doa doamu Mbak :”) Aaamiiin

    Mbak Diah. Jazzakillah khoiron katsir atas segala kesediaannya menjadi tempat bicara perkara anak-anak. Kamu tahu Mbak? Berfikir tentangmu adalah berfikir untuk tetap berupaya, untuk tidak menyerah, untuk terus berfikir Allah Maha Baik dalam setiap rencana.Nya. Memikirkanmu, terkadang adalah caraku untuk bangkit ketika beberapa suara sekitar begitu tidak menyenangkan untuk didengar. :”) Semoga senantiasa dimudahkan dalam setiap urusan :”) Aamiiin

    Mbak Rusti. Mbaak…kamu tahu? Kali pertama melihat, kamu layaknya muslimah masa kini yang sedang berupaya menjaga izzah melalui pakaian yang syar’i nan modis. Tapi nyatanya, kian kesini aku tahu, kamu lebih dari itu. Kamu tidak hanya modis dalam berpakaian, tapi juga update dalam menuai hafalan. Masya Allah Mbak, aku  sering minder kalau nyimak kamu hafalan :D Banyak banget :D Kelak ketika telah genap separuh agamamu, semoga cara berpakaianmu kian cantik dan terjaga, Insha Allah dapat pahala dari rasa teduh suami ketika menatapmu :* dan semoga hafalanmu kian terjaga :* aamiiin

    Mbak Watiq. Alhamdulillah Allah mempertemukan kita ya Mbak :”) sebab melalui kamu, aku belajar cara sederhana menyampaikan makna ukhuwah islamiyah. Tanpa perlu bunga bahasa, penyampaianmu seringkali begitu lugas, ringkas, dan mudah diterima. Terlebih untukku yang kata suami ‘Terlalu Rumit’ :D Semoga dikabulkan setiap harapan harapan yang dipeluk dalam sujud – sujud panjang sepertiga malam :”) aamiiiin

    Mbak Dian. Alhamdulillah, Maha Baik Allah yang menulis scenario kebersamaan kita. Afwan jidan bahkan meski hampir dua tahun bersama, kita belum banyak berbincang tentang pribadi masing masing. Tapi dalam beberapa bincang aku mengerti. Aku melihat sebagian diriku saat itu ada padamu saat ini. Dan aku tahu, saat itu yang aku butuhkan adalah kekuatan doa dari segenap orang yang ku kenal. Bukan dengan pertanyaan yang memangkas waktu tanpa memberi solusi. Maka, semoga Allah memudahkan setiap urusanmu agar didekatkan dengan keberhasilan. Dan melimpahkan kebaikan atas apapun yang engkau upayakan pada akhirnya. Aaamiiin Ada banyak tangan dan telinga yang selalu sedia memberi tenaga dan mendengar cerita. Percayalah Mbak. :*

    Mbak Andi. Maha Besar Allah yang membuat setiap rencana untuk hamba.Nya dengan sebaik – baik rencana. Dan salah satu rencana baik itu adalah kehadiranmu ditengah tengah kami. Masha Allah. Mbak Andi, jazzakillah khoiron katsir atas ilmu macaknya :D meski jarang terpraktekkan tapi nyatanya itu manjur kok :D setidaknya untuk suamiku :P Walau tanpa menuai kata ‘Cantik’ tapi melihat dia menatap seperti saat akad itu ….. wkwkwkk you know lah :v eh belum tau ding ya..mulo geek ndang :P Cantikkk..semoga dimudahkan, disegerakan bertemu dia yang mampu menuntunmu ke Jannah.Nya, yang menyempurnakan separuh Dienmu, dan dilancarkan segala urusan. Aaamiiiin

    Mbak Reni, Mbak Hasanah, Mbak Isna, Mbak Mifta, Mbak Fitria, Mbak Malika, Mbak Yeyen dan Mbak Nunung..Barakallah :* Afwan jidan belum banyak bincang kita yang tertunaikan, belum banyak cerita kita yang menghiasi lingkaran ini. Tapi semoga kita senantiasa didekatkan dengan kebaikan, dilancarkan mengamalkan islam dengan kaffah sesuai quran dan sunnah, dan dikembalikan dalam sebaik baik keadaan, khusnul khotimah :”) aaamiiiiin

    Untuk Bu Lilis (dan semuanya) uhibukki fillah :* #warmhug Semoga Allah mengampuni dosa dosa kita, dan menerima setiap amalan kita. Dan semoga kita dimudahkan menjaga niatan Lillahi Ta’Alla…aamiiiin

    Insya Allah ini bukan pertemuan terakhir kita :”) Akan dengan sangat senang hati bertemu dalam rangka menghadiri walimah bagi para Jofisa (Jomblo Fi Sabilillah) atau undangan kehadiran dlam rangka kebaikan lainnya :”) Pun dengan segenap hati saya memohon maaf atas segala kehilafan dan kealpaan saya yng mungkin seringkali tidak berkenan untukmu Ukhtii Fillah..afwan jidan wa jazzakumulloh khoiron katsir. :*

    Lantas jika boleh, ada satu permohonanku untukmu Ukhti Ukhti :’) Permohonan sederhana untuk mencari keberadaanku di akherat kelak, ketika Allah sudah meresmikan kalian berada di Jannah.Nya dan kalian tidak mendapatiku bersama kalian. Aku mohon, carilah aku. Tanyakanlah kepada Allah mengenai keberadaanku. Katakanlah pada.Nya bahwa kita pernah saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Bahwa kita pernah melingkar mencari ilmu – ilmu.Nya. Bahwa kita pernah saling menyemak hafalan satu sama lain. Bahwa kita pernah menjadi saudara seiman seislam yang berjuang untuk Dien.Nya. Bahwa kita pernah bersama untuk berjuang di jalan cinta para pejuang :”)

    RumahAksara, 3/08/2018
    @risariileon              


  3. Bismillaahirrahmaanirrahiim :)

    taken from : merdeka.com

    Kepada Anakku, Alfa Rayhan Al Biruni yang sudah mulai berani berdiri sendiri.

    Nak, ada beberapa hal di dalam hidup yang tidak bisa kita pilih begitu saja. Hal – hal yang memang sudah ditentukan dari sang Pencipta. Lahir dizaman dan di daerah seperti apa misalnya.

    Zaman kita dilahirkan sudah masuk akhir zaman Nak. Negeri tempat kita lahirpun tidak lepas dari ujian akhir zaman. Belajarlah Nak, dari panjangnya perjalanan bangsa ini berjuang untuk merdeka. Belajarlah Nak, dari peluhnya bangsa ini mengisi kemerdekaannya. Meskipun kita berbeda dua puluh tiga tahun, namun tetap saja kita masih satu masa menghadapi akhirul zaman.

    Dan selayaknya kebanyakan Ibu dimanapun berada, Bunda juga ingin memberimu bekal agar kita bisa selamat hidup di jalan Allah pada masa akhir zaman ini.

    Nak, perkuatlah selalu perasaanmu atas pengawasan Allah. Pahamilah bahwa Allah Maha Mengetahui, yang terucap lisan atau hanya terbesit di hati. Sehingga ketika kelak ada keinginanmu untuk berbohong, kamu akan segera  urungkan.

    Kelak kamu akan ingat, mengapa setiap pulang dari sekolah, kamu selalu Bunda tanyai, perihal kemana uang yang bunda berikan itu teralokasikan. Apa saja yang kamu beli, berapa harganya, dan apa manfaatnya untukmu.


    Tentu saja bukan karena Bunda tidak percaya. Dan tentu saja ketika Bunda memberikan uang itu untukmu, itu sudah menjadi hakmu. Kamu memiliki keluasaan menggunakan itu untuk kebutuhanmu. Namun, ada tanggung jawab yang Bunda titipkan melalui uang itu, sebuah kepercayaan bahwa kamu mampu menggunakan uang tersebut untuk kebaikan, ketika Bunda menanyakannya Bunda hanya memeriksa, apakah Bunda sudah berhasil mengajakmu menunaikan kebaikan melalui harta yang kita miliki?

    Dan tentu saja Bunda akan bahagia, ketika kelak kamu mampu menggunakan uang itu untuk kebaikan bukan sekedar memenuhi kebutuhan diri sendiri ^^

    Di negeri tempatmu dilahirkan ini, ada sebuah lembaga yang cukup mumpuni untuk dijadikan teladan dalam menegakkan kebenaran pun mengamalkan tanggung jawab dalam kewibawaan pengawalan harta negara. Ialah BPK, Nak.

    Iya Nak, Badan Pemeriksa Keuangan atau lebih dikenal dengan akronim BPK merupakan lembaga negara yang  bertugas memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab tentang keuangan negara. Peran dan tugas pokoknya bisa diuraikan dalam dua hal. Pertama, BPK adalah pemeriksa semua asal – usul dan besarnya penerimaan negara, darimanapun sumbernya. Kedua, BPK harus mengetahui tempat uang negara itu disimpan dan untuk apa uang negara tersebut digunakan.

    http://www.bpk.go.id/
    Sama seperti kamu lahir Nak, BPK pun lahir pada bulan Januari. Bulan penuh hujan. Tepatnya, 1 Januari 1947 dan masih ada sampai sekarang. Dalam usia panjangnya ini, sejak masa reformasi 1998 terdapat sejumlah perubahan atau amandemen terhadap UUD 1945. 10 November 2001 terdapat amandemen UUD 1945 untuk BPK yang diatur dalam bab VIIIA pasal 23E mengenai sifat bebas dan mandiri.









    http://www.bpk.go.id/
    Kedudukan BPK dalam penyelenggaraan negara sejajar dengan Presiden, sehingga BPK sangat terbantu oleh sifat bebas dan mandirinya, sebab bisa leluasa dalam memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara. Adapun hasil pemeriksaan BPK akan diserahkan langsung kepada DPR, DPD, dan DPRD sesuai dengan kewenangannya untuk lantas ditindaklanjuti oleh lembaga perwakilan atau badan yang sesuai UU tanpa perlu dikonsultasikan lebih dulu dengan pemerintah. Untuk anggota BPK dipilih langsung oleh DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD lalu diresmikan oleh Presiden, kemudian untuk Ketua BPK dipilih oleh anggota BPK itu sendiri dan diambil dari anggotanya.

    Ketahuilah Nak, keberadaan BPK di negeri kita ini sangatlah penting. Sebab apa? Sebab agar setiap pihak yang diamanahi uang negara mampu menjalankan amanah tersebut dengan sebaik – baiknya sehingga mampu membawa banyak manfaat untuk rakyat.

    Kebiasaan Bunda menanyaimu tentang bagaimana kamu menggunakan uang adalah sedikit cara yang bisa bunda terapkan dalam membekalimu dalam menjaga setiap amanah. Sebagai anggota masyarakat, kita memiliki andil untuk turut serta bersama BPK mengawal harta negara. Bunda dengan cara sederhana mengajakmu untuk senantiasa jujur dalam berperilaku, lantas ketika menemui ketidakjujuran lekaslah melakukan pemeriksaan dengan langkah yang tetap hanif, tetap jujur. Sebab Bunda percaya, terkawalnya harta negara tidak lepas dari terkawalnya akhlak jujur dari setiap individu anggota keluarga. Bagi Bunda, Indonesia adalah keluarga, keluarga yang sangaaaaat besar. ^^
    Kelak ketika kakimu sudah mampu berdiri, lantas mulai berjalan, berdikari untuk negerimu kemudian menemukan kejanggalan dalam pengelolaan harta negara, maka jangan sungkan untuk mengadukan Nak. Kebenaran harus senantiasa ditegakkan.

    http://www.bpk.go.id/

    Bila menemukan adanya indikasi pengelolaan keuangan negara atau daerah yang tidak sesuai dengan peraturan perundang – undangan, kamu dan masyarakat lainnya dapat mengajukan pengaduan dengan melengkapi bukti dan data terkait penyimpangan keuangan negara/daerah yang terjadi. Kamu hanya perlu memperhatikan beberapa hal berikut :
          1   .   Menguraikan kejadiannya
    Ceritakanlah kejadian yang kamu curigai sebagai bentuk penyimpangan pengelolaan keuangan negara / daerah dengan detail. Uraikan ceritamu berdasarkan fakta dan kejadian yang nyata, hindari hal – hal yang berkaitan dengan perasaan tidak suka / benci. Banyak hal yang dikaitkan dengan perasaan membuat kita menjadi tidak obyektif Nak. Ceritakan pengaduanmu dengan melengkapi unsur 5 W plus 1 H. Agar ada gambaran siapa, apa, kapan, dimana, kenapa, dan bagaimana.nya dengan  jelas.
          2.      Memilih pasal – pasal yang sesuai.
    Pengadu diharapkan untuk menyocokkan dengan pasal-pasal yang sesuai dengan peraturan yang berlaku (dapat lebih dari satu pasal). Informasi mengenai peraturan perundang-undangan dapat pengadu lihat dalam website Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum BPK [www.jdih.bpk.go.id]
    http://www.bpk.go.id/
        3.      Menyertakan bukti awal jika ada
    Apabila ada copy dokumen atau barang lain yang memperkuat uraian kejadian di atas agar disimpan dengan baik untuk disertakan dalam pengaduan/laporan yang disampaikan.
        4.      Menyertakan identitas pengadu, bila tidak keberatan.
    Akan sangat baik apabila pengadu menyertakan identitas dan alamat atau nomor telepon, sehingga bila BPK masih membutuhkan keterangan tambahan maka pengadu akan mudah dihubungi.





    Dan saat kamu berangkat sertakanlah syarat – syarat pengaduan masyarakat berikut Nak
    1.     Pastikan ke.WNI.an kita. Iya, harus Warga Negara Indonesia yang datang mengadu.
    2.     Mengisi formulir pengaduan masyarakat,
    3.     Melampirkan fotokopi identitas diri yang masih berlaku. Bisa KTP, SIM atau ID Card.
    4.     Dapat menjelaskan kronologi kejadian yang dilaporkan.
    5.     Terakhir melampirkan bukti awal aduan seperti fotokopi dokumen atau barang lain yang dapat memperkuat uraian aduan yang disampaikan. ^^


    Mari Nak, kita kawal harta negara bersama BPK. Melalui kejujuran akhlak dari setiap individu keluarga.


    Sumber Referensi 
    http://www.bpk.go.id/
    http://www.bpk.go.id/assets/files/otherpub/2017/otherpub__2017_1511750809.pdf


  4. Hujan (di awal) Juni

    Monday, 15 August 2016

    Bismillaahirrahmaanirrahiim :)



    google search
    Selingkar itu masih bertengger nyaman di jari manis. Terpilin pilin jemari lainnya sembari membangun yakin. Belum ada seumur jangung, dan ada ragu yang tetiba menggunung. Slide slide prosesi yang terus berputar serupa film layar lebar di kepala.

    Berbekal sepaket lengkap alamat tempat tinggal dan kepala keluarga yang menahkodai juga tak ketinggalan peta transportasi untuk menuju lokasi yang ia tanyakan sepekan sebelum terlunasi, lelaki itu melangkah penuh percaya diri. Bersiap menjemput pertemuan pertama di rumah Bunda. Lantas berlanjut pertemuan kedua di rumahnya, pertemuan dua keluarga menentukan hari H hingga hari hari sesudahnya. Setiap detik adalah ingat yang kesegarannya masih mampu dibaui. Dan pada detik kesekian di malam kesekian, ada detik yang menyematkan asma di dalamnya.

    Sekalipun ia sudah terbingkai dalam kenang masa lalu serupa kisah virtual dalam kotak video, tetap saja ada hangat dipelupuk mata. Menetes dan menguap di udara. Asma yang benar benar menyiksa.

    Kaktus itu masih terguyur hujan, sebagian dirinya sudah terendam air. Ada keyakinan yang muncul bahwa ia akan lekas menemui kematian. Kaktus yang malang. Batinku melirih.

    Mungkin seperti aku. Lanjutku masih membatin.

    Proses kebatinan yang lekas teralihkan sebab ada seirama dua kali jentikan jari dari pusat gravitasi tempatku berkontemplasi. Mau tidak mau, menatap sumber suara adalah jawaban paling efektif.
    Alisku terangkat sebagai wakil “Ada apa?”

    “Jangan melamun! Sekalipun ini caffe bertajuk perpustakaan, rasanya tidak sopan menggunakan tempat sehening ini hanya untuk melamun.” Isyaratnya dengan mata keberatan dan senyum ejekan.

    Dalam sekali pengacuhan tatap, semoga ia tahu ada raga yang enggan berdebat. Doaku membatin.

    “Banyak yang harus melepaskan dan dilepaskan, mau tidak mau, suka tidak suka, siap tidak siap, ikhlas tidak ikhlas.” Secarik kertas itu datang bersama secangkir ButterBeer Capuchino, minuman hangat a la Hogsmeade di serial Harry Potter yang kandungan alkoholnya digantikan teh jahe wangi pandan.

    Seulas senyum itupun hadir tanpa dosa dengan isyarat, “Selamat Mengeja sajian kami….”

    Tatapku jelas mengena pada retinanya, memintakan padanya agar mengerti bahwa ada yang terluka disini.

    Tapi tetap saja, wajah itu terus tersenyum tanpa dosa.

    Damn! Dia tahu dan enggan menanyakan perihal hatiku.

    “Aku sakit.” Kataku singkat tanpa suara.

    “Kamu hamil?!” serunya dalam isyarat. Matanya berbinar.

    “Iya, tapi bukan itu maksudnya.” Ucapku geram. Masih dengan tanpa suara.

    “Selamaaaat yaa….” Isyaratnya bahagia dengan seiring tangan hendak mendekap tapi diurungkan. Dia teringat batasan di jari manisku.

    Canggung.

    “Tapi bukan itu Ra… Aku sekarat.” Ucapku akhirnya. Lirih dan benar benar membiarkannya membaca gerak bibir. Pertahananku tumbang. Bendungan itu menjadi bah di bukit pipi. Nafas itu keluar tak teratur.

                    Tuhan tidak suka memaksa. Keadaanlah yang terkesan memaksa terjadi sebab kitalah yang lebih dulu memaksa. Semesta hanya pengapresiasi, dan siapapun yang kita temui selalu punya energi. Ia dapat merasakan, memilah, memilih. Memeluk atau menjauh. Menggenggam atau melepas.

                    Bahkan benda mati pun bisa tahu bedanya dicintai dengan tulus, atau seperti dicintai tapi sebenarnya tidak. Apalagi manusia yang berhati dan bernurani?
                    Awal bulan Juni jatuh seperti puisi Sapardi. Seperti biasa, alam selalu lebih jujur dibanding manusia. Meskipun keduanya sama sama sulit dieja. Pun seperti itu juga, manusia akhirnya terkikis oleh egonya yang menjadikan ia manusia. Ironisnya, sisa kekuatannya adalah tetap egonya yang masih tersisa.
                    Dialog itu terurai begitu saja. Perang batin yang sedari kemarin lalu sudah ingin di ledakkan melebihi Ramayana. Hanya saja, kali ini  Rama yang diculik Husna, bukan Sinta yang terperdaya Rahwana.

                    Ku baca ulang berlembar kertas itu. Kertas yang sedari pagi ku tekuri di antara lalu lintas pengunjung caffe. Kertas yang ku harap mampu meluruhkan segala tanyaku perihal setia, cinta, dan kita. Kertas yang entah dengan keberanian macam apa akan sanggup mengantarkannya pada seorang yang memang dituju.

                    “Hmmmmhhhh.” Nafasku menghela. Meminta kekuatan semesta demi untuk membuka selembar kertas. Tabularasa yang sudah bertabur warna. Bunga luka.
    Surakarta, Di Awal Juni
    Assalamualaykum Saudariku,
    Salam selamat dan sejahtera untukmu dan untukku.
    Aku ingin memanggilmu Saudari, sebab kita masih diberi nikmat mengimani satu yang Esa. Kebenaran yang terlabel dalam satu kata. Islam.
    Tulisan ini sampai padamu seperti namamu yang sampai padaku berbulan lalu. Husna, begitu ia memanggilmu. Nama yang berbeda yang kamu sebutkan saat kedua  tangan dan raga kita saling mendekap.
    Nuraini, begitu kamu mengenalkan diri. Dan namamu sungguh selaras dengan parasmu. Cantik nan meneduhkan. Pujiku dalam hati. Aku menyukai senyummu seperti aku menyukai senyum kakak tingkatku di halaqah. Dengan jarak usiaku yang lebih muda, aku bisa merasakan kamu adalah kakak perempuan yang baik. :”)
    Kak Husna, ijinkan aku memanggil nama itu dengan lisanku. Istri dari lelaki yang memanggilmu dengan nama itu. Sebab begitulah engkau mengenalkan diri ketika aku memasuki peran sebagai istri dari lelaki itu.
    Dari sekian nama rekan yang yang pernah ia ceritakan, maaf, namamu adalah satu yang ku pertanyakan. Dan dia dengan tenang menjawab,
    “Itu panggilan Mas untuk dia.”

    Sebaris kata yang mengantar pada sesak yang sungguh menyiksa. Baiklah. Aku butuh udara segar. Terlalu banyak makhluk hidup yang berebut oksigen. Bisa kah aku pergi sejenak???
    Tidak.
    Aku sudah tidak bisa lagi kemana-mana.

    Kamu tahu kak? Ketika seumur hidup aku menghindari stagnansi, pada Lelaki itulah aku memilih berhenti. Berhenti menjadi Perempuan, lantas menyingkap strata tertinggi dari keberanian kaum hawa menembus feminimitas. Menjadi Wanita (wani ditata), menitipkan ketaatkan atas titahnya guna meraih ridha.Nya.
    Lalu malam itu, di malam pertama aku menjadi istri. Aku patah hati. Tanpa bisa lagi memilih lari atau membiarkan sesiapa pergi.
    Bahkan untuk seorang Pepeng harus menempuh tiga belas tahun usia pernikahan agar dimampukan memberikan panggilan mesra untuk istrinya, panggilan yang hanya di dengar dua telinga manusia, suami dan istrinya saja. Tiga belas tahun untuk sebuah nama ‘Dik Tami’ yang menggenapi perasaan cintanya kepada sang istri di malam penganugerahan ‘Keluarga Bahagia Caplang’. Satu dasawarsa lebih setengah lusin semester.
    Nama itu. Husna atau semacamnya.
    Bahkan aku tidak memilikinya.

    Lantas siapa yang harusnya menjadi istrinya?

    Maka, sedalam apa perasaan yang pernah terjadi di antara kalian?
    Maka, sekokoh apa hubungan yang pernah terupayakan di antara kalian?
    Maka, semurni apa hubungan yang kini ada di hadapanku?
    Maka, apa yang hendak kamu sampaikan dalam lima huruf yang terlabel sebagai namamu di matanya? Jika hanya perihal jalinan silaturahim kalian sebagai teman, mengapa harus nama itu, bukankah kamu memiliki nama yang sesuai KTP? Nama yang sesuai akta kelahiran, ijazah atau sepaket perangkat administrasi kependudukan lainnya. Yang siapapun pasti mengenalmu dalam keseharian. Yang sudah pasti aku tidak akan menanyakannya.
    Atau kamu ingin mengenalkan diri sebagai perempuan pendahuluku? Dan aku adalah Perempuan Bocah yang dipungut lelaki itu atas dasar kasihan dan perasaan kehilangan sebab penolakan yang terjadi dari keluargamu? Atau kamu hendak menegaskan bahwa tidak seharusnya aku menerimanya sebab nyatanya tidak pernah ada penolakan, tapi waktu menanti yang harus diulur lagi hingga beberapa tahun kedepan?
    Aku merasa bersalah, tidak suka, risih, dan gamang secara akut. Dengan prosi yang tidak bisa dibilang sedikit. Dalam sekali waktu, di malam pertamaku menjadi istrinya.
    Lantas jika kamu membaca ini sebagai kecemburuan, kalau boleh ku luruskan ini hanya segaris perasaan tidak nyaman sebab aku melihat dalam sepersekian detik ia membaca  namamu. Ada senyumnya melengkung dengan sangan tampan. Senyum yang mampu meningkatkan keteduhan di wajahnya lima belas persen. Senyum yang masih ku cari formula untuk dimunculkan kembali.
    Bagiku tindak cemburu itu tidak terlalu terpuji, terlebih engkau sudah dilunasi perannya sebagai masa lalu. Aku paham benar perihal masa lalu. Dan bukankah setiap dari kita memiliki masa lalu? Ayam saja memiliki masa lalu sebagai telur. Pun si kupu cantik yang pernah menjadi ulat buruk rupa.
    Detik itu. Aku memutuskan untuk berhenti bertanya perkaramu. Aku enggan menggali pusaraku sendiri. Aku enggan terkubur dalam kisah kalian yang mungkin sangat heroic. Bahwa bersaing dengan masa lalu adalah kemustahilanku untuk menang.
    Aku kalah. Bahkan sebelum bertanding.
    Aku (ingin)mengalah tanpa harus menyerah. Bahkan sebelum kalian memintakan.
    ^o^
    “Seared Scallop with Creamy Fettucini selalu pas untuk membaca semestamu, Nona!” Dua Jentikkan jari dan segenap isyarat penyertanya. Tersaji dengan aroma pasta yang cukup mengobati empat puluh dua persen kepatahhatian. Sayangnya, masih ada lima puluh delapan persen kepatahatian yang mengendap dan tak tergantikan rasanya.

    “Thanks, Ra. Hope I can make it look and taste as spectacular as yours did, someday. But, Im sorry I cant try this dish.” Balasku lirih bernada penuh putus asa.

    “Why?” Bahunya terangkat, selaras dengan alisnya yang tertaut. Tatapnya menuntut jawaban tidak singkat.

    “I wanna ask you. May I?”

    “With pleasure…” senyumnya empat senti.

    “Bagaimana cara agar manusia menang dari hujan, Ra?”

    “Aku merindukan hujan di musim hujan, bukan di bulan Juni. Ku merasa aman dengan yang memang semestinya.” Tanyaku pada udara. Catra hanya sesosok raga sebagai penyeimbang agar aku tidak dianggap gila. Mengobrol dengan diri sendiri, untuk manusia masa kini sudah bisa masuk kategori kelainan psikis. Dan aku tidak pernah siap dibawa kerumah sakit jiwa.

    RisaRiiLeon

    -R-