![]() |
| Critical Eleven |
-
Critical Eleven : Ika Natasha (Review Buku)
Tuesday, 6 February 2018
Bismillaahirrahmaanirrahiim :)
Setelah jauh – jauh hari Cuma tau cari quote – quotenya yang tersebar dri banyak pelosok instagram beberapa bulan lalu Critical Eleven hadir nyata dalam bentuk buku bersama sekawannya Architecture of Love. So lets get reading !!!Masuk diawal kisah, ada perasaan sedikit bosan untuk saya. Ada banyak teori yang menyerta disana. Teori tentang perfilman dan psikologi melupakan. Atau mungkin itu hanya efek dari perkenalan pertama dengan tulisan Teh Ika, tapi selalu sih fiksi memiliki magisnya sendiri. Menuntun para pembacanya untuk melanjutkan cerita.Dalam penampakan awalnya, saya agak meragukan bahwa Anya akan memiliki sifat keibuan yang luar biasa di pertengahan menjelang ending ceriita. Agak timpang dengan kondisi awalnya yang seperti tidak punya tujuan hidup lebih dari sekedar banyu mili. Mungkin itu sengaja diatur Teh Ika agar karakter utamanya finally punya tujuan hidup. Menjadi seorang Ibu yang punya karir konsultan ^^Ada beberapa tanda tanya yang masih saya kurang paham sebenarnya. Dari latar religious keluarga Ale dan Anya, kenapa Anya masih mengonsumi Wine? Ale memelihara anjing? Sebuah tanya yang berdasar pada keharaman minuman beralkohol untuk muslim, dan najisnya air liur anjing. Agak kontra menurut saya. Belum lagi tidak dijelaskannya penyebab Anya keguguran, Teh Ika sejauh yang bisa saya baca hanya mengeksplore kondisi psikis Anya dan Ale dalam menghadapi kehilangan Aidan.Eksplorasi yang tidak sia sia tentunya, sebab kehilangan dan problemnya kerasaaa banget. Ketersiksaannya Anya ketika dijadikan kambing hitam atas meninggalnya Aidan dalam kandungan. Banyak dari kita yang tidak merasakan langsung bagaimana ketika dalam satu tubuh ada dua nyawa. Naluri seorang Ibu akan selalu ada untuk melindungi dan menyayangi buah hatinya. Kebersamaan dalam satu raga sudah menumbuhkan banyak hal diluar prasangka orang – orang yang hanya melihat dari matanya. Melihat tanpa menyerta hati.Bagaimanapun kondisi seorang Ibu Hamil, dia hanya membutuhkan support lahir batin, dukungan untuk bisa tumbuh menjadi seorang Ibu yang baik untuk anaknya kelak. Sayangnya, kebanyakan orang hanya akan mengintimidasi atas apapun yang terjadi pada anak atau kandungannya. Well, ketika harusnya keluarga yang paling mendukung, suami yang harusnya siap mendekap dan membenahi luka kehilangan bersama – sama malah bersikap sebaliknya. Bersikap mementingkan lukanya sendiri. Menyatakan bahwa dialah yang paling terluka atas meninggalnya Aidan, sebab baginya dialah yang paling mencintai Aidan. Lupa bahwa Anya bahkan sudah berjuang melahirkan normal dengan kondisi Aidan yang sudah tidak berdetak jantungnya. Beruntungnya Anya memiliki mertua yang bahkan tidak menyalahkannya, mertua yang sangat paham bagaimana cara membersamai kehilangan itu. Biar bagaimanapun, mereka pernah sama – sama merasakan kehilangan meski diwaktu yang berbeda.Teh Ika resmi mencuri empati saya untuk Anya. Menyadari bahwa kebanyakan orang akan lekas menjustifikasi kepada si Ibu ketika ada sesuatu yang terjadi pada anaknya. Yang saya maksud disini sesuatu yang tidak kita ingini. Sesuatu yang negative. Kondisi kandungan atau anak yang kurang fit misalnya, kebanyakan mereka akan menyalahkan si Ibu, menghakimi si Ibu dan menyatakan bahwa si Ibu tidak hati – hati, sembrono, bahkan sampai menyatakan bahwa si Ibu tidak mencintai anaknya.Itu sangat menyebalkan tingkat banyak.Menjadi Ibu di dunia nyata tidak semudah menjadi Ibu di sinetron atau telenovela, yang hanya dalam beberapa kali ngeden langsung oeeee….oeee…oeee. kemudan disambut script ‘lima tahun kemudian’ lalu akan ada adegan si anak yang lima detik lalu baru lahir sudah lari – lari dalam wujud anak usia lima tahun.Ada proses yang menyita raga dan jiwa untuk menuju buah hati sehat dan bahagia. Menyalahkan si Ibu hanya akan memperburuk keadaan dalam proses perawatan anak. Setiap Ibu selalu butuh dukungan untuk lebih percaya diri membersamai pertumbuhan anak, Ibu bekerja atau fulltimeMommies, mereka sama – sama wanita yang membutuhkan penjaga, pendamping, dan pembersama. Menyalahkan si Ibu hanya akan membuat si Ibu kian frustasi dan merasa tidak nyaman dalam membersamai anak bahkan nyaris merasa enggan.Biar bagaimanapun, pada akhirnya newborn baby itu akan dirawat Ibuknya, tugas keluarga, entah Suami, Ibuk Mertua, atau Ibu sendiri tugasnya bukan menghakimi cara Ibu baru mengasuh anaknya. Tugas mereka mendukung si Ibu, membantu tanpa memburu sesekali jika diperlukan,memberikan makanan pendamping Busui, menjaga kondisi psikisnya agar keep positive.
Teh Ika..selamat, kamu berhasil menguras empati saya untuk Anya, dan berhasil bertepuk tangan untuk Ale dalam mempertahankan rumah tangganya dalam proses perbaikan. He is cute husband ^^Posted by RisaRiiLeon at 08:52 | Labels: Buku, Fiksi, rumah aksara | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
#JumpaKlorofil @Kelas Aksara
Sunday, 28 February 2016
Tidak tepat pukul setengah empat seperti yang dijanjikan, sebab semesta berkehendak lain. Hujan rahmat nyata memperlambat langkah untuk bergegas dan lekas sampai. Tapi, besertanya syukur itu senantiasa melirih, bahwa ada kegersangan iman yang resmi dibasahinya dimenjelang senja Sabtu lalu. Bersama kamu, faktanya kita mampu melaju mengejar waktu. ^^ Terima kasihh :*
@TinyCaffeLibrary.
Tidak terlalu ramai, tapi juga tidak perlu dibilang sepi. Seusai menyalami staff caffe yang saya kenal, langkah ini segera masuk. Mendapati empat perempuan sudah menanti.
Hi April, Hi Karina, Hi Tami, dan Hi Aini ^^
Tanpa basa basi, wajah ini tak bisa dipungkiri menyatakan bahagia tak berperi. Semangat itu terpompa. Debar itu makin terasa. Saya jatuuh cintaa :’D
@KelasAksara
Lingkaran itu cukup rapat dengan enam perempuan berjilbab. Haha mengingatkan saya pada lingkaran yang satu itu. :D Syukur kehadiran Allah semesta alam, pengenalan Kelas Aksara dibuka dengan bahagia :”) Alhamdulillah…
Kelas Aksara yang merupakan keeping mozaik dari keutuhan puzzle Rumah Aksara hadir sebagai ruang apresiasi atas ragam karya. Sastra, skestsa gerak raga ataupun suara, mereka adalah karya yang tak perlu sungkan menerima apreasiasi. Dan ruang itu jelas tidak mengikat perkara kehadirannya. Siapapun dengan latar belakang apapun, adalah sesiapa yang akan selalu diterima adanya. ^^Satu satunya syarat ialah semangat belajar. Sebab mengikuti kelas aksara bukan jaminan para pesertanya menjelma menjadi penulis hebat. Kehebatan itu adalah satu yang harus dijemput sendiri, namun dalam proses menuju penjemputan tersebut Kelas Aksara akan membersamaimu. ^^
Mengeja Aksara.
Benar. Pada akhirnya kita hanya akan belajar mengeja. Segala rupa pertanda yang Allah titipkan melalui semesta sebagai hamparan pembelajaran manusia manusia berakal. :”)
Mengeja semesta untuk lebih dekat dengan sang Pencipta.
Sebab Setiap dari kita adalah aksara yang akan menemukan alur ceritanya. Iya, dengan mencoba membaca melalui ejaan peraksara kita akan paham untuk apa setiap cerita itu ada. Hingga kita paham, Tuhan itu Maha Kreatif. Dan jalan setiap orang wajib bersyukur dengan jalan ceritanya.
Mengapa copy paste? :P
Dee. Fiksi Ilmiah yang sekilas Nampak picisan tapi setelah terselami akan paham apa makna proses menulis yang tidak sebentar. Perjalanan menulis yang tidak hanya mengajak kita berimajinasi tapi juga menyerap informasi kini.
Pram. Fiksi Lintas Generasi. Gerbang mengenal Negara sendiri meski dari balik jeruji pena. Setidaknya kala itu kebebasan menulis belum selebar sekarang.
Seno Gumiro Ajidharma. Perayu ulung yang tidak hanya memikat hati melalui bunga diksi, tapi menggelitik politik dengan beberapa lirisnya. Penutur Kisah Sebentar dengan gravitasi tingkat tinggi.
Cak Nun. Pembaca masa dengan bingkai agama. Nampak religious tapi sebenarnya humoris nan manis tanpa meninggalkan keseriusannya berpendapat.
Sapardi Joko Damono. Pujangga penakluk banyak wanita. Tuan Metafora dengan senjata bunga aksara.
Habbiburrahman. Penyampai fiksi berbumbu informasi islami. Tanpa merancukan mana fiksi dan nonfiksi, keduanya dituturkan dengan jujur dalam diksinya.
Adrea Hirata. Pengamat budaya keseharian dari tanah kelahiran dan jejak langkah perjuangannya. Jika Nampak berlebihan, itu hanya syarat agar tulisannya disangka fiksi. :”D
Mereka adalah yang telah berhasil menemukan aksaranya. Menjadi pembeda tanpa mengotak otakkan. Manis tanpa buatan.^^
Mereka telah berhasil menjadi media sesama untuk memudahkan mereka mengeja tanda semesta.
Sang Maha Pencipta membuat hamparan semesta ini sebagai ladang pembelajaran. Just to be nice Reader :”)Jelas. Tidak ada yang seperti mereka. Kamu bisa menjadi dirimu sendiri dengan ragam potensi dalam dirimu. Ingat. Tuhan Maha Kreatif.
Maka, BERKARYALAH!! Bukan sebab kamu memiliki massa atau followers yang akan menjadi diterimanya karyamu, tapi berkaryalah untuk memanusiakan manusia.
Apapun karya itu.Dan satu karya yang bisa kita buat setiap detik ialah nafas syukur atas setiap masa yang hadir dengan ragam cita. Semoga selalu ada Allah disana.
Dan syukurku menjumpa kalian sebagai keluarga baru. Teman belajar kelompok untuk mengeja aksara kita. :”) Terima kasih atas upaya kehadirannya.
April, Aini, Karina dan Tami yang rela menanti lebih awal dari seharusnya.
Ibnu dan Bayu yang hadir lebih dari jam seharusnya, kebersamaan kalian mengingatkan saya pada suadara kembar yang baru dipertemukan. Arggghh kalian itu mirip tauk! :D
Udin yang kepolosannya menyapa ditengah bincang kita. Masih dengan bara yang menyala meski terguyur hujan.
Juga dua partner TerKeceh Dedek Burhan dan Kakak Titi, sinih tak peluk deh.Terima kasih untuk upaya kehadiran di malam minggu yang biru. Sebab ada semangat baru di ujung senja malam sabtu itu. ^^
Dan tanpa maksud melupakan kehadiranmu di ujung temu, Terima Kasih Kang Catraaa atas upayanya untuk dataaang :D next time langsung joint saja yak :D katanya lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali hlooo….
Lantas untuk semua insan dibalik layar yang turut mendoakan upaya ini berjalan lancar, terima kasiihhh… :*
Untuk kalian yang belum sempat datang…
Masih ada pertemuan kedua, ketiga, keempat, kelima dan seterusnya sampai Allah yang Maha Tahu :”)______________((((^^^))))______________
Sekedar mengingatkan materi untuk kelas aksara akan diisi dengan beberapa agenda.
^^ Di setiap pekan pertama dan ketiga, akan ada Kepo Karya. Semacam bedah karya, bisa berupa buku, cerpen, antologi, puisi, naskah drama, gambar, dkk. Bedah karya tersebut bisa langsung dilaksanakan bersama si Kreator ataupun hanya bertukar kaca mata tentang sebuah karya. Semisal: kita akan membedah buku Perahu Kertas karya Dee, jika memungkinkan kita akan mengundang Dee untuk kita KEPOin habis habisan tentang karyanya, jika belum memungkinkan kita akan sharing pandangan tentang karya tersebut. Teknis materi sharing bisa seputar unsur intrinsik karya maupun unsur ekstrinsiknya. :D^^ Di pekan kedua dan keempat, insha Allah akan ada Jaring Inspirasi. Kita akan jalan jalan guys, nyuri inspirasi dari mana mana untuk kelas Aksara. Haha terjun kelapangan untuk menemukan cinta memanusiakan manusia. Inget ye, ini jalan jalan bukan sepedaan atau motoran apalagi mobilan. :D semoga terlaksana. :”)
^^ Akan ada tiket berupa karya untuk setiap pertemuan. Tiket itulah yang akan mengantarkan kita masuk pada kelas Aksara selanjutnya. Tidak perlu merasa tertinggal, sebab kita akan selalu bergandengan tangan untuk mengeja kebesaran Allah Ta’ala. ^^
^^ Base Camp Kelas Aksara ada dua. Titik Nol pertama ada di Tiny Caffe Library Purwosari Solo. Titik Nol kedua ada di Ketiak Sekolah Alam Bengawan Solo Juwiring Klaten (sebab kontrakan saya masih disana :v )
Sampai bertemu di Tangga Kelas Aksara Kedua ^^ ada Rindu yang butuh dijemput Temu. Mari berupaya mencipta jumpa. ^^
Rumah Aksara, 28/2/2016
– Nona Aksara –Posted by RisaRiiLeon at 04:02 | Labels: kelas aksara, Kita, Rumah, rumah aksara, Sahabat | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
