Rss Feed
    Showing posts with label Kita. Show all posts
    Showing posts with label Kita. Show all posts
  1. Bismillaahirrahmaanirrahiim :)

    Nyatanya Qonaah itu sudah ada jauh sebelum ia mengenal rupiah.

     “Alfa tadi suratnya sudah dikasihkan ke Bu Eva?” tanyaku sepulang sekolah sembari mengecheck isi tasnya.

    “Surat?” Wajahnya berupaya mengingat pesanku pagi tadi.

    “Laah, ini suratnya masih ada, tapi kok uangnya ndak ada. Uangnya kemana?”

    “Uangnya untuk beli jajan tadi.”

    “Semua?”

    “Iyaa, soalnya saya tidak menemukan uang. Hanya satu.”

    “Astagfirullah Alfaaaa….Kan tadi pagi sudah Bunda sampaikan. Uang yang disurat tolong dikasihkan ke Bu Eva, Alfa jajannya pakai uang yang satunya, yang ada angkanya dua. Tadi pagi kan Alfa jawabnya iyaa, sudah paham.” *Emaknya sedang berusaha menahan esmosi.

    “Iyaaa, Bunda. Maaf. Saya lupa.”

    “Besok lagi diinget inget dong kalau Bunda ngomong.”

    “Iyaa Bundaa … Maafin yaa…”

    “Hmmmmm *hela nafas* Iya Bunda Maafin, tapi Alfa bertanggung jawab yaa. Harus mengganti uang yang tadi digunakan dengan uangnya Alfa, soalnya itu uangnya kan untuk Infaq Ijtima besok. Jadi nanti Bunda ambil uang tabungannya Alfa sepuluh ribu, oke?”

    “Baik Bunda …”

    “Yaudah, ini tolong dikasihkan ke Bu Eva .”

     

    Saat emosi sudah membaik, karena yaa lupa itu manusiawi bukan? Ndak, papa meski agak sedikit gemesh. Dalam perjalanan menuju tempat kerja usai penjemputan, kutanyakan kembali perihal uang sepuluh ribu itu. Bagaimana bisa ia menghabiskannya dalam sehari?

     “Alfa, tadi Alfa jajan apa saja memangnya di sekolah?”

    “Tadi saya beli jagung susu Bunda.”

    “Enaaaak kah? Keknya sering beli jagung yaa Alfa?”

    “Enak Bunda, ada manis manisnya, ada kejunya juga tapi sedikit.”

    “Trus jajan apa lagi selain jagung?”

    “Tidak jajan apa apa lagi. Hanya satu.”

    “Laaah? Kan tadi Alfa menghabiskan uang sepuluh ribu sama uang dua ribu, berarti Alfa tadi menggunakan uang dua belas ribu. Itu banyak sekali, tapi kok jajannya hanya sekali?”

    “Iyaa, tadikan uangnya saya kasih ke teman-teman.”

    “Teman-teman? Semuanyaa?”

    “Iya Bunda…”

    “Ya Allah … *emaknya mulai berkaca-kaca* kan Alfa bawa dua uang, satu angkanya sepuluh satu lagi ada angkanya dua. Nah yang dipakai jajan Alfa yang mana?”

    “Hanya ada satu Bunda uangnya, tidak ada angka dua.”

    “Tapikan tadi pagi Bunda kasihnya dua lembar.”

    “Tapi tidak ada Bunda. Sudah Saya cari hanya ada satu.”

    “Oke baiklah, jadi Alfa jajan pakai uang yang angka sepuluh, jajan jagung satu kali, dan uang kembaliannya dikasih ke teman semua?” *konfirmasi kronologis hari itu

    “Iyaa Bundaa, soalnya kasihan, tidak dibawakan sangu.”

    “Eh masa? Mereka tidak bawakan uang maksudnya?”

    “Iya, tidak dikasih sangu uang, jadi tidak punya uang, tidak bisa jajan.”

    “Sik bentar, tadi Alfa kasih uangnya ke satu teman atau ke banyak teman memang?”

    “Banyak Bundaa, kan banyak yang tidak disangu.in.”

    “Okee..mungkin mereka dibawakannya bukan uang, tapi makanan Ndud. Sangu itu kan artinya bekal, dan bekal bisa macam-macam. Seperti Alfa kalau di Seroja juga bawanya sangu nasi, lauk, sayur, buah dan jajan.”

    “Tapi jadi tidak bisa jajan di Sekolah Bunda, kasihan.”

    “Iyaa gapapa, Alfa boleh kasihan sama teman. Dan ndak papa berbagi ke teman jika memang Alfa punya uang dan tidak merasa terpaksa atau dipaksa. Tapi lain kali, tolong bilang ke Bunda dulu yaa. Dan tentu saja, pakai uang jajan Alfa sendiri, bukan uang yang harusnya untuk bayar urusan sekolah.”

    Meski agak mengejutkan, namun kejadian hari itu membuat rasa banggaku terhadap si Kakak bertambah setidaknya dua puluh centi meter. MaasyaAllah, bukankah sikapnya terhadap uang berlebih menunjukkan adanya bibit qonaah dalam dirinya? Perasaan cukupnya hanya jajan seribu meski ia memiliki uang sepuluh ribu. Terlepas, belum terlalu mahfhumnya ia pada nominal, toh sebenarnya dia sudah paham jika masih memiliki uang kembali artinya ia masih bisa memperbanyak jajan. Tapi, maasyaAllah dia tidak demikian. Ia beli secukupnya, seperlunya dan sisanya ia tunaikan pada jalur kasih pada teman-temannya.

    Dan Semoga perasaan cukup itu selalu ada hingga kapanpun. Tumbuh dan mengakar sebagai bibit perilaku tawadhu, zuhud, nan mudah bersyukur. Sehingga mampu untuk hidup sesuai kapasitas diri tanpa harus memaksa terlihat mulia di mata manusia :’)

     Bagimu cukup dengan apa yang dipunya usai upaya itu tertunai seutuh iman dan takwa. 

    MaasyaAllah Naaak, lagi-lagi Bunda belajar darimu :”)

     Btw Alfa uang jajan Alfa dua ribu, dan pernah dia habiskan meski lebih sering ia sisakan seribu untuk ditabung. Lalu misteri kemana perginya uang dua ribu yang saya berikan sebagai sangunya Alfa, masih belum terjawab.


  2. Kita : Sepotong Kisah Menenun Jannah

    Thursday, 6 September 2018

    Bismillaahirrahmaanirrahiim :)

    Waduk Gajah Mungkur



    Sabtu pagi 2016 lalu, aku ulang pada Kamis 2018 kemarin. Bertemu wajah baru dalam sebuah lingkar kebaikan berdalang seorang yang sama. ^^

    Alhamdulillah…segala puji dan syukur atas segala nikmat iman dan islam yang masih menetap dihati. Shalawat serta salam masih tercurah kepada Rosuallah saw.

    Saya tidak pandai mengucapkan kata perpisahan. Jujur saja, bagi saya perpisahan hanya sebuah jeda dari pertemuan. Semacam pertemuan yang tertunda. :”) Tapi, kali ini ijinkan saya mengeja kata perpisahan untuk kebersamaan kita setahun lebih ini.

    Kamis lalu, saya dipertemukan dengan mereka. Ibu Ibu yang masha Allah menginspirasi, untuk tidak lekas berputus asa dan menjaga sebuah baik sangka kepada Allah Ta’ Alla. Memang belum banyak saya mengenal mereka. Belum banyak saya berbincang dengan mereka. Tapi, aura kebersamaan yang hangat dan ramah serta sharing pengalaman, nyatanya membuat saya berfikir “Insya Allah, akan lebih baik saya disini.”

    Tunggu! Bukan. Bukan berarti kebersamaan dengan kalian tidak baik. Tidak sama sekali. Kebersamaan dengan kalian adalah anugerah yang Allah berikan di masa tranisisi saya sebagai Ibu ^^ Setidaknya kalian sempat melihat ketertatihan saya melakoni peran IBU :D
    Setidaknya dua puluh satu bulan ini, Allah telah mengenalkan saya kepada kalian, Saudari Saudariku yang Insya Allah dirahmati Allah ^^

    Menjadi nama baru dalam lingkaran ini bersama Mbak Dilla dan Mbak A’yun. ^^
    Sebenarnya dari dulu saya hendak mengatakannya, tapi agak sungkan :D Dalam setiap tilawah kita, saya selalu menunggu nunggu saatnya Mbak A’yun yang membaca. Masya Allah, suaranya membuat Al Quran seolah meresap dalam setiap pori hingga hati saya. Semoga lantunanmu menjadi amalan penjemput jannahmu ya Mbak :”) Aamiiiin Apakah jika saya lahir dari keluarga muslim akan secanggih dirimu, Saya tidak tahu. Yang jelas upaya untuk melengkapi syahadat keduang orang tua saya membuat saya ingin menjadi anak sepertimu, dan menjadi orangtua sepertimu. Menjadi anak yang mampu membersamai orangtuanya menjemput jannah, dan menjadi orangtua yang membersamai anaknya menemukan peran peradabannya bersama Al Quran. :”)

    Mbak Dilla. Jazzakillah khoiron katsir atas kehangatan merengkuhku dengan sabar. Kau tau, dalam banyak pertanyaan dan pernyataan lugasmu tentang anak-anak ataupun jodoh, aku percaya seorang yang kelak mennggenapi separuh dien.mu adalah seorang pejuang sejati :* dan percayalah sifat keibuan adalah fitrah setiap perempuan. Just let it flow and enjoy the process :* Semoga ldisegerakan tiba waktunya pengabulan doa doamu Mbak :”) Aaamiiin

    Mbak Diah. Jazzakillah khoiron katsir atas segala kesediaannya menjadi tempat bicara perkara anak-anak. Kamu tahu Mbak? Berfikir tentangmu adalah berfikir untuk tetap berupaya, untuk tidak menyerah, untuk terus berfikir Allah Maha Baik dalam setiap rencana.Nya. Memikirkanmu, terkadang adalah caraku untuk bangkit ketika beberapa suara sekitar begitu tidak menyenangkan untuk didengar. :”) Semoga senantiasa dimudahkan dalam setiap urusan :”) Aamiiin

    Mbak Rusti. Mbaak…kamu tahu? Kali pertama melihat, kamu layaknya muslimah masa kini yang sedang berupaya menjaga izzah melalui pakaian yang syar’i nan modis. Tapi nyatanya, kian kesini aku tahu, kamu lebih dari itu. Kamu tidak hanya modis dalam berpakaian, tapi juga update dalam menuai hafalan. Masya Allah Mbak, aku  sering minder kalau nyimak kamu hafalan :D Banyak banget :D Kelak ketika telah genap separuh agamamu, semoga cara berpakaianmu kian cantik dan terjaga, Insha Allah dapat pahala dari rasa teduh suami ketika menatapmu :* dan semoga hafalanmu kian terjaga :* aamiiin

    Mbak Watiq. Alhamdulillah Allah mempertemukan kita ya Mbak :”) sebab melalui kamu, aku belajar cara sederhana menyampaikan makna ukhuwah islamiyah. Tanpa perlu bunga bahasa, penyampaianmu seringkali begitu lugas, ringkas, dan mudah diterima. Terlebih untukku yang kata suami ‘Terlalu Rumit’ :D Semoga dikabulkan setiap harapan harapan yang dipeluk dalam sujud – sujud panjang sepertiga malam :”) aamiiiin

    Mbak Dian. Alhamdulillah, Maha Baik Allah yang menulis scenario kebersamaan kita. Afwan jidan bahkan meski hampir dua tahun bersama, kita belum banyak berbincang tentang pribadi masing masing. Tapi dalam beberapa bincang aku mengerti. Aku melihat sebagian diriku saat itu ada padamu saat ini. Dan aku tahu, saat itu yang aku butuhkan adalah kekuatan doa dari segenap orang yang ku kenal. Bukan dengan pertanyaan yang memangkas waktu tanpa memberi solusi. Maka, semoga Allah memudahkan setiap urusanmu agar didekatkan dengan keberhasilan. Dan melimpahkan kebaikan atas apapun yang engkau upayakan pada akhirnya. Aaamiiin Ada banyak tangan dan telinga yang selalu sedia memberi tenaga dan mendengar cerita. Percayalah Mbak. :*

    Mbak Andi. Maha Besar Allah yang membuat setiap rencana untuk hamba.Nya dengan sebaik – baik rencana. Dan salah satu rencana baik itu adalah kehadiranmu ditengah tengah kami. Masha Allah. Mbak Andi, jazzakillah khoiron katsir atas ilmu macaknya :D meski jarang terpraktekkan tapi nyatanya itu manjur kok :D setidaknya untuk suamiku :P Walau tanpa menuai kata ‘Cantik’ tapi melihat dia menatap seperti saat akad itu ….. wkwkwkk you know lah :v eh belum tau ding ya..mulo geek ndang :P Cantikkk..semoga dimudahkan, disegerakan bertemu dia yang mampu menuntunmu ke Jannah.Nya, yang menyempurnakan separuh Dienmu, dan dilancarkan segala urusan. Aaamiiiin

    Mbak Reni, Mbak Hasanah, Mbak Isna, Mbak Mifta, Mbak Fitria, Mbak Malika, Mbak Yeyen dan Mbak Nunung..Barakallah :* Afwan jidan belum banyak bincang kita yang tertunaikan, belum banyak cerita kita yang menghiasi lingkaran ini. Tapi semoga kita senantiasa didekatkan dengan kebaikan, dilancarkan mengamalkan islam dengan kaffah sesuai quran dan sunnah, dan dikembalikan dalam sebaik baik keadaan, khusnul khotimah :”) aaamiiiiin

    Untuk Bu Lilis (dan semuanya) uhibukki fillah :* #warmhug Semoga Allah mengampuni dosa dosa kita, dan menerima setiap amalan kita. Dan semoga kita dimudahkan menjaga niatan Lillahi Ta’Alla…aamiiiin

    Insya Allah ini bukan pertemuan terakhir kita :”) Akan dengan sangat senang hati bertemu dalam rangka menghadiri walimah bagi para Jofisa (Jomblo Fi Sabilillah) atau undangan kehadiran dlam rangka kebaikan lainnya :”) Pun dengan segenap hati saya memohon maaf atas segala kehilafan dan kealpaan saya yng mungkin seringkali tidak berkenan untukmu Ukhtii Fillah..afwan jidan wa jazzakumulloh khoiron katsir. :*

    Lantas jika boleh, ada satu permohonanku untukmu Ukhti Ukhti :’) Permohonan sederhana untuk mencari keberadaanku di akherat kelak, ketika Allah sudah meresmikan kalian berada di Jannah.Nya dan kalian tidak mendapatiku bersama kalian. Aku mohon, carilah aku. Tanyakanlah kepada Allah mengenai keberadaanku. Katakanlah pada.Nya bahwa kita pernah saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Bahwa kita pernah melingkar mencari ilmu – ilmu.Nya. Bahwa kita pernah saling menyemak hafalan satu sama lain. Bahwa kita pernah menjadi saudara seiman seislam yang berjuang untuk Dien.Nya. Bahwa kita pernah bersama untuk berjuang di jalan cinta para pejuang :”)

    RumahAksara, 3/08/2018
    @risariileon              


  3. Bismillaahirrahmaanirrahiim :)

    Beranda IDN Times


                Pesatnya arus informasi membuka banyak jendela wawasan kita sebagai manusia pembelajar. Didukung oleh merebaknya situs informasi online, sekali sentuh …. Voila karpet ilmu terbentang seketika. Lantas IDN Times hadir diantara kita. ^^

    Apa itu IDN Times?

    Tak kenal maka tak sayang, tak kenal maka kenalan dong! Yups,,,pertanyaan wajar ketika kita bertemu dengan wajah baru (meski sebenarnya mungkin dia barang lama :v) IDN Times sendiri hadir untuk seluruh anak bangsa, menjadi semacam wadah untuk mereka dan kita – kita yang menyukai dunia tulis menulis. Menjembatani agar dari hobi tulis menulis tersebut kita tidak hanya panen kata tapi juga panen apresiasi yang beda dari biasanya. IDN Times menawarkan poin untuk para kontributor/penulisnya. ^^
    Lanjut pertanyaan yaa….

    Konten IDN Times

    Konten apa saja yang ditawarkan IDN Times?

    Buaaanyaaak dan lengkap Gan! Bisnis? Ok. Travel? Buanyak. Kesehatan? Ada. Opini? Terbuka. Otomotif? Lengkap. Bahkan TV juga ada hlo.
    Dari konten yang ditawarkan aja udah segitu lengkapnya. Cocok buat semua kalangan, Kakek sama Nenek aja masih bisa ikut nongkrong di situs IDN Times ini.

    Duh banyak banget. Abal – abal enggak itu artikel –artikel yang diterbitin IDN Times?

    Hwaaaah yo jelas kagak Gan! Setiap artikel yang telah diterbitkan IDN Times sudah melewati proses penjaringan yang panjang (tanpa mengulur waktu).
    Semua karya tulis yang kamu submit ke IDNTimes Community akan melalui proses moderasi terlebih dahulu. Editor akan melakukan pengecekan, apakah sudah sesuai syarat dan ketentuan dan layak untuk terbit atau belum.
    Kalau tulisanmu sesuai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku di IDN TimesCommunity dan gak banyak editing, dalam kurun waktu kurang dari 7 hari juga sudah bisa terbit kok.
    Apabila status artikelmu yang tadinya sudah “Pending Review Article” lalu tiba-tiba kembali menjadi “Draft Article”, maka artinya karya tulismu tidak lolos dan belum bisa diterbitkan.
    Noh, kata mas IDNTimes.nya langsung. Jadi, emang bukan artikel abal – abal yang diterbitin sama IDN Times. Karena IDN Times situs wawasan yang baik yang menyediakan artikel terbaik untuk para pembaca yang baik ^^

    Terus, apa keuntungan yang ditawarkan IDN Times buat kita ?

    Ragam artikel IDN Times yang bikin fresh otak ^^
    Sebagai pembaca, kamu bakal menemukan makna kesetiaan yang tidak ada ikatannya sama manusia. Dari beraneka ragamnya tawaran artikel menarik dari IDN Times, kita bakal enggak bosen sama IDN Times, hyah walaupun abis itu kita bakal rada – rada makan banyak kuota tapi itu setimpal dengan banyaknya hal baru yang diberikan IDNTimes dalam memandang sesuatu. Kacamata dan sudut pandang dari para Kontributornya itu nyenengiiin banget soalnya.
    Banjir Poin untuk para kontributor IDN Times

    Lalu, ketika kita udah jadi Penulis / Kontributor di IDN Times kita bakal punya kesempatan mendapat apresiasi berupa poin – poin IDNTimes yang bisa ditukarkan menjadi uang Mak…! Horeeee…jadi punya uang belanja tambahan kan. Bisa buat beli cilok deh. Pas banget buat ruang tulis menulis Emak – Emak yang suka sama uang belanja plus – plus.^^ Untuk penukaran poin dan tata caranya bisa kamu kepoin disini ya.. ^^ Mas IDN Times sudah mengantisipasi pertanyaan wajib para newbie macem ane hlo.. Pengertian banget kan ya ^^

    Ada juga tips – tips biar tulisan kita bisa diterbitkan IDN Times. Klik di sini ya..Makin terbuka lebar deh kesempatan dapet poinnya ^^

    Biar kamu makin semangat ngepoin IDN Times, kepoin juga apresiasi yang ditawarkan IDN Times buat para kontributornya. Kamu mesti bisa jadi salah satunya Gan!

                 So, buruan gabung di IDNTimes!

    halaman log in IDN Times

    Caranya?
    Klik aja IDN TimesCommunity, terus kamu bisa pilih Log In dengan Facebook (kalau saya pilih ini, hehe ) atau bisa juga dengan alamat e-mail kamu yang masih aktif. Abis itu..selamat kamu udah punya kesempatan mendapat banjir point dari IDN Times ^^



  4. #JumpaKlorofil @Kelas Aksara

    Sunday, 28 February 2016

    Tidak tepat pukul setengah empat seperti yang dijanjikan, sebab semesta berkehendak lain. Hujan rahmat nyata memperlambat langkah untuk bergegas dan lekas sampai. Tapi, besertanya syukur itu senantiasa melirih, bahwa ada kegersangan iman yang resmi dibasahinya dimenjelang senja Sabtu lalu. Bersama kamu, faktanya kita mampu melaju mengejar waktu. ^^ Terima kasihh :*

    @TinyCaffeLibrary.

    Tidak terlalu ramai, tapi juga tidak perlu dibilang sepi. Seusai menyalami staff caffe yang saya kenal, langkah ini segera masuk. Mendapati empat perempuan sudah menanti.

    Hi April, Hi Karina, Hi Tami, dan Hi Aini ^^

    Tanpa basa basi, wajah ini tak bisa dipungkiri menyatakan bahagia tak berperi. Semangat itu terpompa. Debar itu makin terasa. Saya jatuuh cintaa :’D

    @KelasAksara

    Lingkaran itu cukup rapat dengan enam perempuan berjilbab. Haha mengingatkan saya pada lingkaran yang satu itu. :D Syukur kehadiran Allah semesta alam, pengenalan Kelas Aksara dibuka dengan bahagia :”) Alhamdulillah…
    Kelas Aksara yang merupakan keeping mozaik dari keutuhan puzzle Rumah Aksara hadir sebagai ruang apresiasi atas ragam karya. Sastra, skestsa gerak raga ataupun suara, mereka adalah karya yang tak perlu sungkan menerima apreasiasi. Dan ruang itu jelas tidak mengikat perkara kehadirannya. Siapapun dengan latar belakang apapun, adalah sesiapa yang akan selalu diterima adanya. ^^

    Satu satunya syarat ialah semangat belajar. Sebab mengikuti kelas aksara bukan jaminan para pesertanya menjelma menjadi penulis hebat. Kehebatan itu adalah satu yang harus dijemput sendiri, namun dalam proses menuju penjemputan tersebut Kelas Aksara akan membersamaimu. ^^

    Mengeja Aksara.

    Benar. Pada akhirnya kita hanya akan belajar mengeja. Segala rupa pertanda yang Allah titipkan melalui semesta sebagai hamparan pembelajaran manusia manusia berakal. :”)

    Mengeja semesta untuk lebih dekat dengan sang Pencipta.

    Sebab Setiap dari kita adalah aksara yang akan menemukan alur ceritanya. Iya, dengan mencoba membaca melalui ejaan peraksara kita akan paham untuk apa setiap cerita itu ada. Hingga kita paham, Tuhan itu Maha Kreatif. Dan jalan setiap orang wajib bersyukur dengan jalan ceritanya.
    Mengapa copy paste? :P
    Dee. Fiksi Ilmiah yang sekilas Nampak picisan tapi setelah terselami akan paham apa makna proses menulis yang tidak sebentar. Perjalanan menulis yang tidak hanya mengajak kita berimajinasi tapi juga menyerap informasi kini.
    Pram. Fiksi Lintas Generasi. Gerbang mengenal Negara sendiri meski dari balik jeruji pena. Setidaknya kala itu kebebasan menulis belum selebar sekarang.
    Seno Gumiro Ajidharma. Perayu ulung yang tidak hanya memikat hati melalui bunga diksi, tapi menggelitik politik dengan beberapa lirisnya. Penutur Kisah Sebentar dengan gravitasi tingkat tinggi.
    Cak Nun. Pembaca masa dengan bingkai agama. Nampak religious tapi sebenarnya humoris nan manis tanpa meninggalkan keseriusannya berpendapat.
    Sapardi Joko Damono. Pujangga penakluk banyak wanita. Tuan Metafora dengan senjata bunga aksara.
    Habbiburrahman. Penyampai fiksi berbumbu informasi islami. Tanpa merancukan mana fiksi dan nonfiksi, keduanya dituturkan dengan jujur dalam diksinya.
    Adrea Hirata. Pengamat budaya keseharian dari tanah kelahiran dan jejak langkah perjuangannya. Jika Nampak berlebihan, itu hanya syarat agar tulisannya disangka fiksi. :”D
    Mereka adalah yang telah berhasil menemukan aksaranya. Menjadi pembeda tanpa mengotak otakkan. Manis tanpa buatan.^^
    Mereka telah berhasil menjadi media sesama untuk memudahkan mereka mengeja tanda semesta.
    Sang Maha Pencipta membuat hamparan semesta ini sebagai ladang pembelajaran. Just to be nice Reader :”)

    Jelas. Tidak ada yang seperti mereka. Kamu bisa menjadi dirimu sendiri dengan ragam potensi dalam dirimu. Ingat. Tuhan Maha Kreatif.
    Maka, BERKARYALAH!! Bukan sebab kamu memiliki massa atau followers yang akan menjadi diterimanya karyamu, tapi berkaryalah untuk memanusiakan manusia.
    Apapun karya itu.

    Dan satu karya yang bisa kita buat setiap detik ialah nafas syukur atas setiap masa yang hadir dengan ragam cita. Semoga selalu ada Allah disana.

    Dan syukurku menjumpa kalian sebagai keluarga baru. Teman belajar kelompok untuk mengeja aksara kita. :”) Terima kasih atas upaya kehadirannya.
    April, Aini, Karina dan Tami yang rela menanti lebih awal dari seharusnya.
    Ibnu dan Bayu yang hadir lebih dari jam seharusnya, kebersamaan kalian mengingatkan saya pada suadara kembar yang baru dipertemukan. Arggghh kalian itu mirip tauk! :D
    Udin yang kepolosannya menyapa ditengah bincang kita. Masih dengan bara yang menyala meski terguyur hujan.
    Juga dua partner TerKeceh Dedek Burhan dan Kakak Titi, sinih tak peluk deh.

    Terima kasih untuk upaya kehadiran di malam minggu yang biru. Sebab ada semangat baru di ujung senja malam sabtu itu. ^^

    Dan tanpa maksud melupakan kehadiranmu di ujung temu, Terima Kasih Kang Catraaa atas upayanya untuk dataaang :D next time langsung joint saja yak :D katanya lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali hlooo….

    Lantas untuk semua insan dibalik layar yang turut mendoakan upaya ini berjalan lancar, terima kasiihhh… :*
    Untuk kalian yang belum sempat datang…
    Masih ada pertemuan kedua, ketiga, keempat, kelima dan seterusnya sampai Allah yang Maha Tahu :”)

    ______________((((^^^))))______________
    Sekedar mengingatkan materi untuk kelas aksara akan diisi dengan beberapa agenda.
    ^^ Di setiap pekan pertama dan ketiga, akan ada Kepo Karya. Semacam bedah karya, bisa berupa buku, cerpen, antologi, puisi, naskah drama, gambar, dkk. Bedah karya tersebut bisa langsung dilaksanakan bersama si Kreator ataupun hanya bertukar kaca mata tentang sebuah karya. Semisal: kita akan membedah buku Perahu Kertas karya Dee, jika memungkinkan kita akan mengundang Dee untuk kita KEPOin habis habisan tentang karyanya, jika belum memungkinkan kita akan sharing pandangan tentang karya tersebut. Teknis materi sharing bisa seputar unsur intrinsik karya maupun unsur ekstrinsiknya. :D

    ^^ Di pekan kedua dan keempat, insha Allah akan ada Jaring Inspirasi. Kita akan jalan jalan guys, nyuri inspirasi dari mana mana untuk kelas Aksara. Haha terjun kelapangan untuk menemukan cinta memanusiakan manusia. Inget ye, ini jalan jalan bukan sepedaan atau motoran apalagi mobilan. :D semoga terlaksana. :”)

    ^^ Akan ada tiket berupa karya untuk setiap pertemuan. Tiket itulah yang akan mengantarkan kita masuk pada kelas Aksara selanjutnya. Tidak perlu merasa tertinggal, sebab kita akan selalu bergandengan tangan untuk mengeja kebesaran Allah Ta’ala. ^^

    ^^ Base Camp Kelas Aksara ada dua. Titik Nol pertama ada di Tiny Caffe Library Purwosari Solo. Titik Nol kedua ada di Ketiak Sekolah Alam Bengawan Solo Juwiring Klaten (sebab kontrakan saya masih disana :v )

    Sampai bertemu di Tangga Kelas Aksara Kedua ^^ ada Rindu yang butuh dijemput Temu. Mari berupaya mencipta jumpa. ^^

    Rumah Aksara, 28/2/2016
    – Nona Aksara –


  5. Bergegaslah...!! ^^

    Friday, 19 February 2016

    Kepada Putri yang sedang Membangun Diri ^^

    SemangArt Pagi Putri ^^
    Apa kabar nuranimu? Masihkah kematian menjadi hayalanmu sebelum lelap? :”) Setidaknya dengan mengingat kematian,
    prioritas kehidupan fana kita akan lebih tertata. :”)

    Maafkan sikap abai saya terhadap pesan singkatmu. ^^

    Sungguh, abai saya tak senyata yang kamu rasakan. Saya membacanya lantas memerdekakan engkau menjawabnya sendiri. ^^
    Perkenalan kita memang belum lama, terhitung dari jumpa pertama di layar virtual, lantas ku jemput petemuan kita dalam aksi membersamai. :”)

                               ^O^

    Perkara benci membenci itu murni urusan nurani sendiri, Putri. :”) Sekalipun kamu sudah bertanya kesana kemari untuk mengilangkan rasa itu jika kamu tidak bertanya pada diri sendiri perihal memaafkan yang telah terjadi, niscaya dia, kebencian itu akan terus menggerogoti. :”)

    Kamu bertanya bagaimana cara menghilangkan benci. Kamu bertanya bagaimana cara melenggang pergi tanpa beban urusan hati. Kamu bertanya bagaimana cara melogikan rasa. Dan akhirnya kamu bertanya mengapa saya menjadi sebegitu sombong dihadapmu. :D

    Mari tertawa sejenak.

    Mau kopi Atau mau saya buatkan Teh?

    Dua sedok makan gula dan setengah gelas air panas yang dibauri air es hingga penuh, lantas sebagai penutup kamu memilih biji kelengkeng atau daun mint. ^^ Keduanya bisa disediakan untukmu Putri, selama hati dan ragamu bersedia hadir di bincang senja kita.

    Duduklah sejenak.

    Seperti halnya senja yang menghadirkan jingga, mengabarkan keramahan matahari pasca menyengat sepanjang siang. Di sanalah momen berdamai itu dengan jenak dapat terangkai. Bahwa segala klimaks masa ketidakmenyenangkan akan ada anti klimaksnya, meredupkan segala amarah dan dengki dengan satu kata. Damai. Iya, berdamailah dengan ekpektasimu. Berdamailah dengan realisasi semesta. Berdamailah dengan dirimu sendiri.
    Mengabaikan pesan singkatmu adalah cara saya membuatmu merdeka dalam berlaku. Kamu bisa mengambil apapun langkah yang butuh kamu ambil. Kamu bukan hamba sahaya dari sesama manusia, kamu adalah perempuan merdeka! Sekalipun engkau menghamba, menghambalah pada Allah semata.

    Ayolah, jangan mau diperbudak rasa!

                              ^O^
    Pertama. Tanyakanlah perihal kebencian itu.
    Berlandas pada apa kebencian itu kamu pupuk? Jika hadirnya sebab Illah, teruskanlah, tapi jika sebab yang lain, buanglah. Sejauh mungkin.

    Susah? Jelas, sebab kita masih dilangkah pertama. Langkah awal memang sering membuat terengah.
    Ayok, ada langkah kedua yang akan membuatmu sedikit melega.

    Tanyakanlah perihal kebencian itu.
    Bergunakah untuk terus memendam kebencian?

    Dalam sebuah tragedy, saya pernah meminta anak anak untuk mengantongi sebiji kentang yang harus mereka bawa kemana mana kapanpun dan dimanapun. Tujuh hari mereka tak terpisahkan dengan kentang itu. Ya, makhluk organic itu mulai membusuk. Menguarkan bau tak sedap dan membuat tak nyaman. Ingin rasanya lekas membuang kentang dikantong itu, aku mereka. Kentang busuk itu serupa dengan hati kita yang terserang benci. Menyebalkan dan tak berguna.

    Buang saja. Sudahi.
    Kamu mengangguk? Baiklah. Tak perlu ragu. Buang saja sekarang.
    “Caranya?”
    Minumlah dulu tehmu sebelum dingin. Aroma hangat the mint lebih menyegarkan kala hangat.
    Iklashkan apapun yang membuatmu benci.
    Perihal patah hati, kehilangan, sampai ketidakjelasan rasa. Kembalikan pada Ia yang Maha Membolak Balikkan hati.
    Kamu butuh kekuatan untuk melangkah?
    Mari, saya ajak ke rumah itu. Rumah penuh obat dan selang. Di ujung ruang anak anak, di pojok paling ceria.
    Dalam sisi pandangmu, mereka sangat berhak membenci, sangat berhak marah, sangat berhak mengadili. Tapi? Tawa mereka merekah, hati mereka berperi, ceria itu terpatri.
    Mereka adalah adik adik dengan banyak kekuatan yang diuji melalui kanker, tapi tak sedikitpun mereka menyesali suratan.Nya. setidaknya jikapun pernah, mereka berhasil melalui itu.
    Pun di ruangan ruangan sebelumnya, ada kekuatan yang tersebar disetiap penjuru rumah itu. Bangsal bangsal yang malah membuat mereka kian tangguh dalam dera kata ‘sakit’. Mungkin itu mengapa kita dianjurkan meluangkan waktu sejenak untuk membersamai mereka mengurai senyum.
    Mendekatlah pada mereka, dan kamu akan tertulari semangat kekuatan mereka. ^^
    Iya, pancaran kekuatan itu resmi menular.
    Kekuatan yang tak pernah melemahkan. Kekuatan yang datang lebih dari sekedar syukur sebab kamu bukan mereka, tapi sebab kamu paham bagaimana cara menyikapi hidup yang mungkin tidak sebentar. Bahwa beban rasa yang masih kamu biarkan teremban adalah perihal cara pandang saja. Bahwa semua uji adalah solusi yang butuh digali dan direnungi untuk lantas dijadikan refrensi menyapa hari. ^^
    “Tapi, serius. Ini bukan hal yang mudah!” alismu masih tertaut. Pipimu tersambar gravitasi dan melukiskan mendung diwajah.
    Tidak ada yang mudah untuk meraih jannah Sayang ^^ jika ingin mudah, mungkin kamu hanya akan mendapat piring pecah atau kalau sedikit lebih beruntung mendapat kipas angina ^^ lantas apakah keduanya mampu melindungimu dari panasnya api neraka? ^^
    Putri, semua bisa begitu mudah pun mampu sangat rumit. Kembali kepada diri menatap cermin. Iya, semua berawal dari diri sendiri. Insan lain hanya lalu lalang pencaci atau pembersama. Yang jelas satu, ada aku disini. ^^

    Surakarta, minggu kedua bulan penuh hujan di tahun banyak pesta penikahan.

    RisaRiiLeon


  6. Akan ku katakan kepadanya, bahwa menerima tak semata perkara bahagia. Meski aku akan selalu bahagia bersamanya, tapi berani bermimpi diluar kebanyakan manusia adalah perihal mengemas bahagia dengan cara yang berbeda.
    Meski harus tertatih dan penuh peluh, dengan semangat meraih ridho.Nya serta mengingat segala nikmat.Nya semoga selalu cukup untuk menumbuhkan kita.
    Sebab tidak ada nikmat yang lebih mulia dari segenggam cinta yang terpupuk kasih sayang Allah Ta’Alla.
    Bukankah tujuan kita surga? ^^ Maka tak perlu ragu untuk sedia.

    Akan ku katakan kepadanya, bahwa menerima tak semata perkara seorang raga tapi juga banyak raga. Iya, menerimamu berarti menerima segala manusia yang ada dihidupmu. Pun beberapa yang bersinggungan dalam langkahmu meraih cita. Perkara berbagi dengan sesamapun sudah masuk daftar citamu bukan? ^^ Toh, begitu Allah berfirman. Membersihkan amal dan mall kita melalui indahnya berbagi. ^^ Seperti katamu, memudahkan jalan orang lain adalah langkah tidak biasa untuk memudahkan jalan kita. ^^ Pun dengan perihal makan enak, bukankah kamu seorang omnifora? Pemakan segala yang hanya mensyaratkan halal, bersih, dan sehat sebagai sajian utama.
    Dan halal dan toyib bukan perkara enak bukan? ^^ Maka jenak lebih menentramkan.

    Akan ku katakan kepadanya, bahwa menerima tak semata perkara tangan dibawah beserta fasilitas mewah. Juga perihal rumah. ^^ Bukankah kita percaya, rumah kita sejati kita dalam proses pembangunan di jannah. Biarlah sepetak kecil hunian kita di dunia mampu melapangkan rumah kita disurga. Kita landasi Rumah Aksara itu dengan banyak hal yang berguna. ^^ Menjembatani banyak proses sesame untuk mulai mengeja asma.Nya di hamparan semesta. ^^ Dengan halaman penuh saung saung pengemas ragam cita anak bangsa. Rindangnya daun yang sukses mensuplay nafas potensi mereka. ^^ Ah ya, kita belajar sabar membersamai pada akhirnya. Menjadi sebaik baik hara yang menjaga mereka dari pencemaran akhlak yang kian merajalela.

    Jelas, akan ku katakan kepadanya, bahwa menerima bukan perihal harta ataupun tahta. Tapi biarlah ia menjadi pijakan anak anak tangga meraih jannah.Nya. menerima ialah perkara membersama mengibarkan kebaikan vertical dan horizontal.

    Menguatkan untuk bergantung semata pada yang Maha Besar.
    Bukankah kekuatan seseorang Nampak pada siapa ia bersandar? ^^
    Akan ku katakan padanya, bahwa  ia adalah satu rahasia yang akan ku eja. :v


  7. Setiap kelahiran menggemgam banyak rahasia dalam tangis pertamanya mengudara. Rahasia yang sejatinya sudah ditakdirkan. Banyak kitab menyatakan tiga perkara itu. Rizky, jodoh, dan ajal. Kitap siapa? Bagaimana? Allah yang Maha Tahu. Kehadiran ketiganya.pun rahasia, lantas bagaimana jika nyatanya banyak manusia lancing mengeja rahasia rahasia itu?
    Baiklah. Tidak lancang. Toh memang Tuhan mencipta hamparan semesta ini sebagai tanda tanda bagi mereka yang hendak mengeja kearifan takdir.Nya.
    Satu rahasia nyaris terbuka untuk seorang Arda. Gadis belia itu belajar mengeja perkara masa. Kisah sebentar yang akan saya coba paparkan dalam waktu yang tak kalah sebentar. Sungguh! Dengan penuh kejujuran, saya tidak mengenal baik perihal lahir batinnya. Semua perkenalan itu melalui perantara lisan lisan itu. Serupa endors di belakang sampul sampul buku, tutup buku Hidup Arda hadir seusai tanah hitam itu berguguran. Menyisakan banyak isak dan air mata mereka yang pernah tersapa.
    Menuju senja yang masih ashar, beserta gerimis yang tidak romantic sebab perjalanan kali itu melaju kencang diantara bis bis luar kota. Menempuh Solo – Klaten dengan hati berdebar. Takut terjatuh. Bukan jatuh hati tentu saja :v
    “Pelan pelan aja ya Kak.” Tawarku pada rekan seperjalanan. (Saudari kembar dihati ^^ Ukhti Shalihah Maryam)
    Bismillah…
    Aroma kehilangan itu masih terhirup. Ada kenang yang masih menggenang. Basah serupa rumput halaman terguyur hujan tadi. Gambar A3 dengan wajah ramah penuh rekahan senyum itu terduduk di depan kami. Dan seorang di sebelah kiri kami duduk bergelora menyatakan rindu pada wajah terbingkai itu.
    Rindu pada suadari penghuni Rahim yang sama meski berbeda masa. Kakak beradik yang terpisah masa mencinta.
    Mesin waktu terputar. Slide slide peristiwa terpampang bergantian. Suka duka, upaya, ikhtiar, kepasrahan, dan doa. Mereka menjadi fakta dalam cerita.
                                  ^O^
    Upaya mengeja rahasia itu terlaksana, tepat saat gadis belia itu duduk di kelas lima sekolah dasar. Bukan vonis manis, tapi cukup membuat miris bocah yang sedang optimis meraih mimpi. ya, gadis kecil itu memiliki mimpi besar.
    DM tipe 1.begitu kata mereka.

    Kata sebuah iklan resiko Diabetes itu lebih besar pada proses genetika, sayangnya kasus gadis belia ini berbeda. Diabetes Miletus tipe 1 adalah yang hadir tanpa di duga, tak melalui jalur genetika, hanya hadir begitu saja.
    Merusak autoimun pada sel beta di pancreas, membabat produksi insulin pada tubuh.
    Kepatahan itu tak hanya menyerang gadis belia itu, jelas ada keluarga yang juga merasa.
    “Bisa diganti kah peran untuk menanggungnya?” Tanya mereka retoris.
    Tanpa maksud menyalahkan suratan ataupun keadaan, mereka berikhitiar saling menegarkan. Membangun pondasi kekuatan lebih besar untuk menopang berita gusar itu.
    Ada banyak hal yang perlu dilakukan.
    Check medis, pencarian upaya penyembuhan, dan jauh sebelum itu, ada langkah mengenal DM tipe 1.
    Insulin menjadi kata kunci di sana, hingga akhirnya prosesi penyuntikan itu hadir setiap hari. Setidaknya dua kali atau lebih sehari. Dosis yang lantas disesuaikan atas dasar monitoring kadar glukosa darah. Proses penggantian shift insulin basal dan preprandial insulin. Bekerjasamalah untuk raga itu, pinta mereka penuh percaya pada Allah Ta’ala.
    Tak lagi sesuka hati menyantap, tapi dia masih dengan leluasa hati menatap.
    Matanya tak pernah kekurangan bara semangat. Menatap cerah cita citanya untuk bisa menjadi sebaik baik manusia. Ya, berguna untuk sekitarnya.
    Jalur prestasi akademik ia kejar penuh cita. Keselarasan horizontal pun enggan tertinggal, ia teman yang baik untuk banyak rekan. Sayang, kakak perempuannya kerap menjadi bahan bullyannya. Tapi percayalah, itu adalah keakraban yang akan dirindukan. Tanda sayang menyebalkan tapi kehadirannya enggan dibuang dalam kenangan. ^^
    Saya melihat, waktu gadis belia itu terlaksana penuh daya. Penuh guna untuk sesama. Tamparan cerita di waktu menuju isya.
    Lantas nikmat Allah yang manakah yang kamu dustakan? :”)
    Ketika sepasang mata itu masih terbangun menatap bias mentari pagi, bukan sepasang malaikat yang menanyakan siapa Rabb.mu.
    Ketika raga itu masih bebas bergerak melanglangbuana menyapa penuh ceria tanpa rambu rambu larangan atas nama kesehatan.
    Tak kenal maka tak sayang. Dan saya tak harus mengenal (nyatanya) untuk jatuh sayang. Berbusa cerita menuju isya itu membuat resmi ada cinta yang membuncah bagi seorang adik perempuan di Surga.Nya. :”) dan sebaik baik cinta adalah ia yang membawamu lebih dekat dengan Allah Ta Ala. Maka, ijinkan cinta ini berbicara dalam doa.
    Bahwa gadis belia itu tidak kemana mana, bahkan sejengkalpun tidak. Dia masih di sana. Di rumah pinggir jalan dengan penghuni tiga raga penuh ketegaran. Raga adik perempuan itu memang tak kasat mata, tapi bias keberadaannya yang penuh manfaat adalah amal bakti yang abadi. Bahasa cinta tak melulu perkara tatap mata, tapi rapal doa yang kian lirih berpasrah pada.Nya.
    Merajuklah pada.Nya untuk keterangan jalan bagi gadis belia itu.
    Merayulah pada.Nya untuk keselamatan jalan bagi gadis belia itu.
    Tidak ada yang berubah, bahkan setelah raga itu tertutup tanah merah dan basah.
    Ia ada. Nyata hadir. Di hati. Di doa. Di nafas dan paru kita menggenapi fitrah sebagai hamba.Nya.
    Hanya satu yang berbeda. Bahasa kita mencinta. Tak lagi lewat kata. Tak lagi lewat belai manja. Tak lagi lewat tatap mata. Tak lagi lewat peluk mesra. Tapi, lewat doa. :”)

    Satu nama resmi masuk dalam list doa, bersanding dengan dua insan terkasih itu… Romo, Biyung, dan Fitria Ardana Anindya Jati

    Selamat mendoa untuk ia yang tercinta. :”)
    Ya Rabbi, kasih.Mu adalah nyata. Maka dengan ridho.Mu Tuhan semesta alam. Yang Maha Satu lagi Maha Berdiri Sendiri, ijinkan kami untuk berkumpul kembali di tempat sebaik baiknya kembali. :”) Surga.Mu. Aaamiiiin…aamiiin…aaamiiin ya rabbal’alamin.
                                   ^O^
    Dan kamu, Kakak Perempuan Gadis Belia itu. Sudikah kamu melanjutkan hari bersamaku? ^^ Menggenggam tangan kecil ini untuk meneruskan apa yang kita mulai, ya, ada amanah untuk menyelsaikan hal yang satu itu. Sungguh, ini belum terlambat. ^^ Sudikah untukmu menyudahi kemanjaan rasa itu? ^^ ada langkah panjang dan hari luar biasa di depan sana. Waktu istirahatmu sudah cukup untuk membangun kekuatan. ^^
    Ujian itu resmi membuatmu menjadi perempuan tegar. Percayaalah, semua baik baik saja.
    Lakukanlah apa yang memang butuh dilakukan, tidak perlu banyak bertanya. Kita tidak akan pernah tahu sebelum mengalaminya sendiri. Hi, I’m here.
    Saya disini. Siap membersamai.


  8. Perempuan Penjudi

    Wednesday, 16 December 2015

    Bismillaahirrahmaanirrahiim :)

    Hahaha saya penjudi yang buruk.

    Tunggu! Ini bukan perkara taruhan materi yang dipertaruhkan atas dasar ekonomis. Bukan perkara mengeluarkan modal seminimal mungkin untuk mendapatkan harta sebanyak mungkin. Keluarga Cemara kami tak memiliki harta melimpah sedemikian luas untuk sekedar ditaruhkan di meja judi. Kesehatan, Waktu, dan Iman, adalah tiga yang kami miliki, dan bisa dengan mudah diambil oleh Tuhan sebab Ialah pemilik sejati semua itu. Perkara judi ini tentang perlegoan yang aku cicil satu per satu melalui suratan Tuhan.

    Perjudianku dengan Tuhan.
    Bapak. Meski dia juga bukan penjudi yang baik, tapi nyata dia mengenalkanku dengan perjudian di awal jejak akademis itu dia tawarkan. Pengambilan raport adalah momentnya.
    “Kalau kamu bisa ranking, Bapak akan ajak jalan jalan ke Rita.”
    Kesederhanaan Kota Beriman kami tak mengijinkan kehadiran Mall sekelas Paragon atau semacam Solo Grand Mall. Cukup dua pasar raya di sana, Rita dan Jadi Baru. Sudah dan semoga cukup. Kala itu baru ada Rita. Jalan jalan ke sana untuk ukuran gadis desa macam saya itu cukup menyenangkan. :”)
    Tiga kali setahun tiket itu saya pegang, dua tahun di kelas lima dan enam sebab system berganti dari catur wulan ke semester. Di kalikan saja berapa kali seharusnya saya berjalan jalan di pasar raya itu. :”)
    Nyatanya hanya beberapa kali.
    Bapak kalah taruhan dengan Tuhan rupanya. Tapi, tidak apa. Bapak jujur perkara itu. Dan kejujuran selalu lebih baik dari apapun. Aku mencintaimu Lelakiku :*
    Bersama Vespa Biru, kami menghirup atmosfer malam Kebumen. Menatap kerlip lampu jalanan. Menghirup dalam dalam jajaran sate khas Ambal yang berceceran sepanjang jalan Ambal dan Kutowinangun, pun kuliner kuliner berasap lainnya. Jika bapak punya cukup uang, dan aku berani mengatakan betapa kala itu saya menginginkan kuliner itu. Belum tentu syukurku hadir sebab ada sempat bepergian dengan Bapak.
    Tidak ada pasar raya pasca pengambilan raport meski tiga buku dan tiga bolpoint resmi menjadi saksi juara kelas itu tergenggam. Hanya ada kunjungan kunjungan ke tempat sahabat – sahabat bapak. ^^ Tempat tempat ramah bin menyenangkan yang kini hanya beberapa yang teringat.
    Daerah Panjer pernah menjadi saksi perjuangan bapak dan saya bermesraan dengan malam, dengan asap bensin campuran dari knalpot vespa bapak. Pun saksi atas maha karya bapak menunaikan pesanan pagar pagar rumah pelindung dari ketidakamanan koordinat pinggir jalan besar. :”) Mereka adalah desain yang ditawarkan bapak. ^^

    Sekarang saya paham, genetika siapa yang mewarisi tangan ‘utak atik’ ini.
    Perjalanan lintas ukhuwah itu nyata memberi ruang hangat tersendiri. Meski bapak bukan siapa siapa di desa, beliau adalah insan yang tak segan menyapa sesiapapun. Benih dasar memanusiakan manusia, meski bapak tak teranggap di desa, tapi beliau syukur lebih dari sekedar perkara ‘terpandang’. Hati risa kecilpun, semoga kelak memiliki sempat untuk merawat ukhuwah dengan sesiapapun pula. :”)
    Perjudian masa Sekolah Dasar kembali hadir. Kali ini bapak sebagai pelaku utama. Kelas lima sekolah dasar. Sumatra menjadi tujuan perlegoannya. Meninggalkan saya dan dua ksatria juga perempuan paruh baya. Kami menanti, bukan kiriman dana hidup, bukan kiriman harta benda. Kami menanti kabar berita keberadaannya. Lelakiku, apa kabarmu di tanah rantau? Ku lego semua percayaku. Menotalkan kepercayaan itu. Percaya bahwa Tuhan Maha Baik. Menjaga lelaki kami yang sedang berikhtiar di tanah seberang. Di tengah bisikan nyinyir tetangga bahwa bapak telah beristri dua, bahwa bapak lupa jalan pulang, bahwa bapak tak akan kembali, saya sangat percaya Lelaki kami berhak dipererat peluknya lewat doa. Biarlah Tuhan yang menyumpal lisan lisan itu. Pelajaran sosiologi pertama yang Mamak ajarkan. Begitulah Nduk ketika kita hidup bermasyarakat. Saringanmu harus jeli. Membedakan yang layak di dengar dan yang layak di tinggalkan.
    Tepat setahun.
    Masih jelas.
    Seminggu awal di bulan desember 2003. Akhir tahun yang ditutup suka oleh kabar kepulangan Bapak, malam minggu lalu. Setiap hari adalah moment menghitung waktu. Menyilangi masa yang sudah terlewati. Dan hadir lebih awal dari perkiraan tanpa membuat arti premature, dua kali klakson sepeda motor itu menyumbang di ruang dengar beranda.
    Masih ingat. Jelas. Rindu itu menyeruak saru. Membuatku lari menubruknya, dengan sapu ditangan dan serakan sampah yang ku tinggalkan. Lengan kecilku memeluk pinggul Bapak. Saya belum tumbuh tinggi, rupanya.
    “Bapak, jangan pergi lagi.” Ujarku dalam peluk tangis. Dan dia tertawa. Anak Perempuannya takut ditinggalkan.
    Tak ada kata. Hanya tawa dan sepasang tangan yang membopongku sampai pintu rumah. Elusan lembut di kepala. Dan Mamak tersenyum mahfum. Saya rindu betulan dengan Bapak.
    Tindak sepasang tangan itu telah cukup mewakili banyak kata lelaki tak banyak cakap itu.
    “Perjudian bapak belum selesai Nduk. Tunggulah dalam percayamu di rumah. Bapak akan selalu pulang, dan mengupayakan untuk kalian. Jaga Mamak dan Adik adikmu. Kamu sulung. Kamu Perempuan. Kuatlah.”
    Akhir 2004. Tahun ajaran sekolah dasar lunas sudah. Semua rekan sibuk mendaftar sekolah menengah pertama favorit. Ksatria Ketiga lahir. Rumah seperti kapal pecah setiap saat. Ksatria Pertama masuk TK, Ksatria Kedua sedang hobi jalan – jalan ke banyak ruangan dan butuh pengawasan, Ksatria Ketiga masih menjadi manusia tanpa daya. Ku legokan kesempatan melanjutkan sekolah.
    Hafalan PR semasa kelas dua itu lunas menjadi amalan.
    “Apa yang kamu kerjakan saat di rumah? Membantu Ibu memasak, mencuci piring, dan mengasuh adik.”
    Setahun dengan proses yang tak mudah. Ksatria Pertama yang harus lelarian sambil nangis sebelum mandi dan berangkat sekolah. (Belum kenal Ayah Edy kala itu, tak bisa setenang sekarang menghadapi tangis bocah). Ksatria Kedua yang sering jadi bahan carian kala waktu pulang tiba. Ksatria Ketiga yang masih hobi nangis dan gantiin popok di larut malam.
    Di tahun yang sama pula, kehilangan itu nyaris menyapa. Ksatria Kedua di dorong rekan sepermainannya hingga jatuh ke sungai. Bocah kecil itu, dengan paru paru yang pernah dipelihara hingga rumah sakit, yang mandi masih harus pakai air hangat, yang hanya seperti batok kelapa jika jatuh ke sungai. Ya Rabb, bahkan hanya nyaris saja sudah sangat menyesakkan. Ksatria Kedua terselamatkan oleh Malaikat Pengemudi Dokar, kencana  yang semoga mampu membawa beliau lebih dekat dengan surga. Aamiiin. Pelajaran sosiologi kedua: Bahwa manusia tetaplah manusia, kebaikan dan keburukan ada padanya. Focus pada orang yang berbuat baik yang lantas membekali cara membaiki orang itu lebih utama. Pelajaran parenting pertama: Bahwa menutup kesalahan anak adalah bentuk pengabaian yang sungguh menyesakkan, kepedulian yang nyata membiarkan anak memelihara kesalahan tanpa proses pemetikan pelajaran. Nyata, keluarga teman sepermainan Ksatria Kedua tak percaya anaknya mampu berbuat sedemikian keji.
    2006.
    Perlegoan itu hadir setiap hari selama tiga tahun pelajaran. SMP PGRI 1 Kutowinangun, markas perjudian terbesar kedua (setelah Universitas Sebelas Maret). Beasiswa Retrival itu mengantarkanku ke gerbang lego. Sebab berhenti sekolah setahun, intansi tersebut berbaik hati memfasilitasiku sekolah gratis berbonus seragam dan alat tulis juga fasilitator yang penuh kesabaran. Langkah efektif mencerdaskan anak bangsa untuk mereka yang nyaris putus sekolah sebab perkara dana. Bukan semata isapan jempol atas nama bangsa padahal demi menjaga nama saja.
    Meskipun bergelar Kota Beriman, faktanya tidak semua orang beriman sebagaimana mestinya. Ada banyak preman dalam aku iman. SMP PGRI Kutowinangun kala itu masih terkenal sebagai sarang preman. Sangkar siswa siswa badung buangan pendaftaran negeri. List mines sepuluh jika ingin direkomendasikan sebagai arena pendidikan. Pelajaran sosiologi ketiga: Jangan pernah percaya kata orang sebelum mengalaminya, percaya saja pada Tuhan dengan kesungguhan.
    Benar. Teman temanku ada yang badung. Yang merokok, baju dikeluarkan, rambut di cat, bertato yang gerilya dari Pak Eko (Kepala Sekolah jaman saya sekolah di sana). Tapi, kembali pada pelajaran sosiologi kedua. Perlegoanku masih perkara percaya pada Tuhan. Selalu ada kebaikan. Percaya saja. Dan dipertemukanlah saya dengan malaikat malaikat itu. Dewi, Poppi, Apri, Yuli, Ijah, rekan rekan seperjuangan yang mengajariku bagaimana cara menjaga kehormatan dan kebaikan di selokan sekalipun.
    Jika di rumah selalu di kelilingi Laki – Laki yang membantuku menjaga kehormatan, sekolah adalah tempatku menguji pertahanan penjagaanku. Tak ada jalan lain selain menjadi seperti mereka. Anggap saja ini proses adaptasi bunglon. Risa versi laki laki hadir. Amunisi trining, rok jauh di bawah lutut, kaos sebelum seragam, juga secantol peniti di ujung lengan baju yang terlipat. Jarum yang masih terjaga di ujung jilbab hingga kini. Kecil namun bermata tajam. Cukup untuk membutakan seseorang dengan itu. Cukup untuk mengejutkannya melalui tusuk dalam lantas membuka kesempatan untuk lari.
    Dua mata pisau itu selalu nyata. Sekalipun terkenal sebagai sarang preman, di sanalah  pendidikan itu ada. Pendidikan karakter yang ditegaskan oleh kesabaran para fasilitatornya, jauh sebelum bangsa menyerukannya. Fasilitator Pasukan Pak Eko :”) Terima kasih atas tiga tahun masa pendidikan yang mengesankan :”) Semoga kesabaran kalian kepada kami mampu memberatkan amal baik di yaumul hizab kelak. Aaaamiiiiin. Almarhum Pak Ngindoho, Penjaga Sekolah terbaik kedua setelah Pak Midun (Penjaga Sekolah kala SD), kesamaan kalian adalah selalu mengajakku menghabiskan snack seusai rapat guru, juga segelas air putih kala saya haus dan tidak punya cukup uang untuk membeli es. Pak Ngin, semoga kita dipertemukan di surga. :”) Terima kasiiih :”) semoga amalmu mampu membawamu lebih dekat dengan surga kini. :”)
    2008.
    Biaya pendidikan masih tinggi sekalipun katanya sudah bersubsidi. Banyak Yayasan berdiri, barangkali Pendidikan sudah menjadi bisnis yang jauh dari rugi. Ah ya, mungkin. Dan syarat ‘harus sekolah di negeri’ itu berlaku untuk anak petani macam saya. Well, sekalipun bangsa ini masuk kategori negeri agraris, belum ada apresiasi manis untuk para petani. Para insinyur pertanian masih sibuk menghitung uang dibank sebab masa perkuliahan hanya menjadi ajang pencarian gelar strata satu.
    SMA Negeri Kutowinangun. Perlegoanku tidak terlalu kentara disini. Arus itu hadir begitu saja. Tapi bukan tanpa makna. Pendidikan semakin membuatku mengerti. Ilmu adalah teori. Ada beberapa guru yang sungguh sampai sekarang saya tidak mengerti, jika pernah terdengar tugas guru adalah mencerdaskan muridnya. Beberapa malah menuntut kami untuk belajar dirumah dan kembali ke sekolah harus sudah pintar. -,- dan selama itulah Kimia, Fisika, Matematika, belum ku temukan implementasinya di kehidupan kecuali jika kau ilmuwan dan pedagang. Logaritma, persamanaan linear, rumus fisika yang bahkan ketika orang bertanya seberapa jauh rumahmu dari sekolah dan berapa waktu yang dibutuhkan untuk sampai sekolah masih dengan mengira ngira tanpa peduli pada kecepatan yang menentukan keduanya. Pun dengan table itu, table misterius yang kefiksiannya seolah nyata untuk duniaku.  -,-
    Orplas (Organisasi Pecinta Alam) dan Rohis Al Irsyad. Rectoverso yang memberi nuansa baru. Keberbedaan yang saling melengkapi. Memang Orplas dengan pembaurannya yang sangat kentara dan Al Irsyad yang sangat terjaga, tapi jauh sebelum itu semua. Iman itu harus seimbang, kata Mamak. Vertikal dan Horisontal.
    Orplas. Membekaliku cara menjaga keluarga juga semesta. Tiga prinsip (dilarang mengambil sesuatu kecuali gambar, dilarang meninggalkan sesuatu kecuali jejak, dilarang membunuh sesuatu kecuali waktu) yang mengarahkan ingat pada visi  Tuhan menciptakan Nabi Adam as.  Menjadi Khalifah Bumi. Penjaga Bumi. Tuhan melegokan percaya.Nya pada manusia dihadapan malaikat. Sebab takdir ada pada genggaman.Nya. Lantas masihkah kau tidak mempercayai.Nya? Maka nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan?
    Lantas Al Irsyad membuat pengambilan gambar itu masih perlu etika, jejak itu perlu diberi polesan ilmu, waktu itu perlu dibunuh dengan bijak.
    Pelajaran Agama Pertama: Beragama itu bukan perkara apa agamamu, tapi mencintai Tuhan dalam keseimbangan vertical dan horizontal. Al Quran menyeimbangan jalan mencintai.Nya. Dan itu ada di Islam.
    Dua ruang berbeda warna yang merawat pemikiran iseng: Melakukan perjalanan pendakian bersama dia yang menawarkan kebersamaan dalam ruang halal. ( rahasia yang dimiliki para bolang untuk membaca karakter para pendaki.)
    Exzeme Gebo (X5), Gethukers (XI IS 4), Cobister (XII 3),terima kasih kalian telah memberikan warna penuh makna untuk masa SMA seorang Risa. Semoga dimanapun kalian, senantiasa terjaga. :”) Bu Limit dan Pak Eka, selama masa pendidikanku, kalianlah dua guru Matematika yang membuatku tak takut mencoba matematika yang kadang serupa neraka. Kelembutan dan kesabaran kalianlah yang membuat saya terus mencoba hingga dekat dengan bisa.
    2011
    Gerbang Perjudian itu terbuka lebar. Banyak hal yang ingin aku sampaikan. Tapi tunggu nanti. Ya semoga masih ada nanti untuk saya dan kamu bebragi cerita ini. Tunggu ya sampai saya selesai dengan yang satu ‘itu’.

  9. Rindu Ini Kamu.

    Sunday, 14 June 2015

    Bismillaahirrahmaanirrahiim :)

    Jumat, 12 Juni 2015
    tumblr serach


    Kepada kamu yang masih kurindui meski sudah tidak sendiri.

                Apakah saya lancang menuliskan ini untukmu? ketika nyata kamu sudah tidak lagi seorang diri, yang artinya ada seseorang yang sudah tentu kamu prioritaskan atas restunya, seseorang yang jelas lebih membahagiakanmu tanpa perlu melukai, seseorang yang dapat kamu peluk setiap waktu. Jika lancang, semoga masih ada maaf yang tersisa untuk saya, kelancangan saya menuliskan rindu yang tidak tahu diri.
                Sepanjang jalan pemberangkatan ke sekolah, ada isak yang membuat nafas tersengal. Rindu yang memporak – porandakan tatanan kekuatan saya, rindu yang membuat asma tiba – tiba. Saya jelas merindukan kamu, mungkin. Sebab bersamaan dengan itu kerajaan kenangan atas kita bersliweran dalam benak. Ini tidak menyenangkan untuk menyambut pagi hari yang harusnya menyenangkan. -,-
                Saya tidak terlalu menyukai kenyataan ini, fakta bahwa saya merindukan kamu adalah fakta yang menyebalkan. Seharusnya saya melogiskan perasaan ini, menyadarkan dia agar tahu batasan diri mengumbar rasa. Sayangnya, saya masih gadis haus kekuatan yang tidak mudah berpindah.
                Saya mencari kata – kata penyemangat agar hari – hari yang akan saya lalui bisa selamat dari ketidakmawasan diri. Meyakinkan hati bahwa kamu sudah barang tentu bahagia bersamanya, sudah tentu tidak ada yang berani melukaimu, sudah tentu tanpa tangis, sudah tentu kamu diterima sepenuhnya oleh dia. Meyakinkan diri, bahwa tidak layak saya mengganggu kamu dan dia dengan kisah hidup saya yang kurang menyenangkan bagi kebanyakan orang. Menjaga telinga kalian dengan kemeranaan yang sejatinya harus saya syukuri. Menjaga diri dari ketergantungan semangat dari orang lain.
                Tapi,
                Lagi lagi saya makhluk lemah. Sulung yang masih membutuhkan sulung lain. Sulung yang masih mencari teladan lain. Sulung yang masih harus banyak belajar. Sulung yang masih membutuhkanmu.
                Ingat?
                Peluk yang meluncur hangat diantara riuh pelanggan sosnag daerah Widuran nyaris pukul sebelas malam. Bukan sebab jagung bakar naga yang membuat basah kornea, bukan pula sosis pedas yang menyengat lidah itu, tapi peluk itulah yang membanjirkan air mata saya. Sepasang kakak – adik tanpa ikatan darah yang menautkan kelingking kembali atas kesalahpahaman sebab takut saling melukai.
                Mbakkkk :”(
                Saya rindu diajak ngobrol sama kamu. Saya rindu diceritakan banyak hal sama kamu. Saya rindu diajak tertawa sama kamu. Saya rindu pulang malam dan bernyanyi sepanjang jalan. Saya rindu ditunggui saat saya memanjat pagar asrama. Saya rindu proses kita.
                Ada banyak hal yang ingin saya pelajari untuk bekal nanti. Lebih dari sekedar latihan diskusi dengan dosen pembimbing atas draft yang saya tulis, lebih dari sekedar celoteh peserta didik dan rekan kerja. Saya ingin mengenal kamu yang sekarang. :”)
                Sudah lama memang, spasi itu diketuk, semenjak kamu lulus? Atau semenjak kamu lengser dari tahta kepengurusan. Entah, yang jelas saya tidak suka ketika kita bertemu bagai dua orang asing. Sungkan. Biingung hingga terkesan saling menghindar.
                Menyebalkan atau berlebihan.
                Saya tidak peduli. Yang jelas perasaan seorang adik kepada kakaknya tidak akan berubah. Tidak ada jaminan sampai kapan, yang jelas hingga detik ini, saya masih menyayangimu sebagai kakak perempuan yang menjaga saya. :”) Mungkin sebab kamu perempuan pertama yang mengantar saya pulang malam lantas mengajak bincang banyak hal, lantas memercayakan banyak cerita yang tidak didengar dunia, lantas memanggil saya ‘nduk’.

                Mbak Asri :”) Risa rindu sama mbak tapi sangat sungkan mengajak bertemu atau bertamu, masih malu sama Mas Heri.. :”)