Rss Feed
    Showing posts with label Fiksi. Show all posts
    Showing posts with label Fiksi. Show all posts
  1. Bismillaahirrahmaanirrahiim :)

    Critical Eleven


                Setelah jauh – jauh hari Cuma tau cari quote – quotenya yang tersebar dri banyak pelosok instagram beberapa bulan lalu Critical Eleven hadir nyata dalam bentuk buku bersama sekawannya Architecture of Love. So lets get reading !!!
                Masuk diawal kisah, ada perasaan sedikit bosan untuk saya. Ada banyak teori yang menyerta disana. Teori tentang perfilman dan psikologi melupakan. Atau mungkin itu hanya efek dari perkenalan pertama dengan tulisan Teh Ika, tapi selalu sih fiksi memiliki magisnya sendiri. Menuntun para pembacanya untuk melanjutkan cerita.
                Dalam penampakan awalnya, saya agak meragukan bahwa Anya akan memiliki sifat keibuan yang luar biasa di pertengahan menjelang ending ceriita. Agak timpang dengan kondisi awalnya yang seperti tidak punya tujuan hidup lebih dari sekedar banyu mili. Mungkin itu sengaja diatur Teh Ika agar karakter utamanya finally punya tujuan hidup. Menjadi seorang Ibu yang punya karir konsultan ^^
                Ada beberapa tanda tanya yang masih saya kurang paham sebenarnya. Dari latar religious keluarga Ale dan Anya, kenapa Anya masih mengonsumi Wine? Ale memelihara anjing? Sebuah tanya yang berdasar pada keharaman minuman beralkohol untuk muslim, dan najisnya air liur anjing. Agak kontra menurut saya. Belum lagi tidak dijelaskannya penyebab Anya keguguran, Teh Ika sejauh yang bisa saya baca hanya mengeksplore kondisi psikis Anya dan Ale dalam menghadapi kehilangan Aidan.
                Eksplorasi yang tidak sia sia tentunya, sebab kehilangan dan problemnya kerasaaa banget. Ketersiksaannya Anya ketika dijadikan kambing hitam atas meninggalnya Aidan dalam kandungan. Banyak dari kita yang tidak merasakan langsung bagaimana ketika dalam satu tubuh ada dua nyawa. Naluri seorang Ibu akan selalu ada untuk melindungi dan menyayangi buah hatinya. Kebersamaan dalam satu raga sudah menumbuhkan banyak hal diluar prasangka orang – orang yang hanya melihat dari matanya. Melihat tanpa menyerta hati.
                Bagaimanapun kondisi seorang Ibu Hamil, dia hanya membutuhkan support lahir batin, dukungan untuk bisa tumbuh menjadi seorang Ibu yang baik untuk anaknya kelak. Sayangnya, kebanyakan orang hanya akan mengintimidasi atas apapun yang terjadi pada anak atau kandungannya. Well, ketika harusnya keluarga yang paling mendukung, suami yang harusnya siap mendekap dan membenahi luka kehilangan bersama – sama malah bersikap sebaliknya. Bersikap mementingkan lukanya sendiri. Menyatakan bahwa dialah yang paling terluka atas meninggalnya Aidan, sebab baginya dialah yang paling mencintai Aidan. Lupa bahwa Anya bahkan sudah berjuang melahirkan normal dengan kondisi Aidan yang sudah tidak berdetak jantungnya. Beruntungnya Anya memiliki mertua yang bahkan tidak menyalahkannya, mertua yang sangat paham bagaimana cara membersamai kehilangan itu. Biar bagaimanapun, mereka pernah sama – sama merasakan kehilangan meski diwaktu yang berbeda.
                Teh Ika resmi mencuri empati saya untuk Anya. Menyadari bahwa kebanyakan orang akan lekas menjustifikasi kepada si Ibu ketika ada sesuatu yang terjadi pada anaknya. Yang saya maksud disini sesuatu yang tidak kita ingini. Sesuatu yang negative. Kondisi kandungan atau anak yang kurang fit misalnya, kebanyakan mereka akan menyalahkan si Ibu, menghakimi si Ibu dan menyatakan bahwa si Ibu tidak hati – hati, sembrono, bahkan sampai menyatakan bahwa si Ibu tidak mencintai anaknya.
                Itu sangat menyebalkan tingkat banyak.
                Menjadi Ibu di dunia nyata tidak semudah menjadi Ibu di sinetron atau telenovela, yang hanya dalam beberapa kali ngeden langsung oeeee….oeee…oeee. kemudan disambut script ‘lima tahun kemudian’ lalu akan ada adegan si anak yang lima detik lalu baru lahir sudah lari – lari dalam wujud anak usia lima tahun.
                Ada proses yang menyita raga dan jiwa untuk menuju buah hati sehat dan bahagia. Menyalahkan si Ibu hanya akan memperburuk keadaan dalam proses perawatan anak. Setiap Ibu selalu butuh dukungan untuk lebih percaya diri membersamai pertumbuhan anak, Ibu bekerja atau fulltimeMommies, mereka sama – sama wanita yang membutuhkan penjaga, pendamping, dan pembersama. Menyalahkan si Ibu hanya akan membuat si Ibu kian frustasi dan merasa tidak nyaman dalam membersamai anak bahkan nyaris merasa enggan.
                Biar bagaimanapun, pada akhirnya newborn baby itu akan dirawat Ibuknya, tugas keluarga, entah Suami, Ibuk Mertua, atau Ibu sendiri tugasnya bukan menghakimi cara Ibu baru mengasuh anaknya. Tugas mereka mendukung si Ibu, membantu tanpa memburu sesekali jika diperlukan,memberikan makanan pendamping Busui, menjaga kondisi psikisnya agar keep positive.

                Teh Ika..selamat, kamu berhasil menguras empati saya untuk Anya, dan berhasil bertepuk tangan untuk Ale dalam mempertahankan rumah tangganya dalam proses perbaikan. He is cute husband ^^

  2. Hujan (di awal) Juni

    Monday, 15 August 2016

    Bismillaahirrahmaanirrahiim :)



    google search
    Selingkar itu masih bertengger nyaman di jari manis. Terpilin pilin jemari lainnya sembari membangun yakin. Belum ada seumur jangung, dan ada ragu yang tetiba menggunung. Slide slide prosesi yang terus berputar serupa film layar lebar di kepala.

    Berbekal sepaket lengkap alamat tempat tinggal dan kepala keluarga yang menahkodai juga tak ketinggalan peta transportasi untuk menuju lokasi yang ia tanyakan sepekan sebelum terlunasi, lelaki itu melangkah penuh percaya diri. Bersiap menjemput pertemuan pertama di rumah Bunda. Lantas berlanjut pertemuan kedua di rumahnya, pertemuan dua keluarga menentukan hari H hingga hari hari sesudahnya. Setiap detik adalah ingat yang kesegarannya masih mampu dibaui. Dan pada detik kesekian di malam kesekian, ada detik yang menyematkan asma di dalamnya.

    Sekalipun ia sudah terbingkai dalam kenang masa lalu serupa kisah virtual dalam kotak video, tetap saja ada hangat dipelupuk mata. Menetes dan menguap di udara. Asma yang benar benar menyiksa.

    Kaktus itu masih terguyur hujan, sebagian dirinya sudah terendam air. Ada keyakinan yang muncul bahwa ia akan lekas menemui kematian. Kaktus yang malang. Batinku melirih.

    Mungkin seperti aku. Lanjutku masih membatin.

    Proses kebatinan yang lekas teralihkan sebab ada seirama dua kali jentikan jari dari pusat gravitasi tempatku berkontemplasi. Mau tidak mau, menatap sumber suara adalah jawaban paling efektif.
    Alisku terangkat sebagai wakil “Ada apa?”

    “Jangan melamun! Sekalipun ini caffe bertajuk perpustakaan, rasanya tidak sopan menggunakan tempat sehening ini hanya untuk melamun.” Isyaratnya dengan mata keberatan dan senyum ejekan.

    Dalam sekali pengacuhan tatap, semoga ia tahu ada raga yang enggan berdebat. Doaku membatin.

    “Banyak yang harus melepaskan dan dilepaskan, mau tidak mau, suka tidak suka, siap tidak siap, ikhlas tidak ikhlas.” Secarik kertas itu datang bersama secangkir ButterBeer Capuchino, minuman hangat a la Hogsmeade di serial Harry Potter yang kandungan alkoholnya digantikan teh jahe wangi pandan.

    Seulas senyum itupun hadir tanpa dosa dengan isyarat, “Selamat Mengeja sajian kami….”

    Tatapku jelas mengena pada retinanya, memintakan padanya agar mengerti bahwa ada yang terluka disini.

    Tapi tetap saja, wajah itu terus tersenyum tanpa dosa.

    Damn! Dia tahu dan enggan menanyakan perihal hatiku.

    “Aku sakit.” Kataku singkat tanpa suara.

    “Kamu hamil?!” serunya dalam isyarat. Matanya berbinar.

    “Iya, tapi bukan itu maksudnya.” Ucapku geram. Masih dengan tanpa suara.

    “Selamaaaat yaa….” Isyaratnya bahagia dengan seiring tangan hendak mendekap tapi diurungkan. Dia teringat batasan di jari manisku.

    Canggung.

    “Tapi bukan itu Ra… Aku sekarat.” Ucapku akhirnya. Lirih dan benar benar membiarkannya membaca gerak bibir. Pertahananku tumbang. Bendungan itu menjadi bah di bukit pipi. Nafas itu keluar tak teratur.

                    Tuhan tidak suka memaksa. Keadaanlah yang terkesan memaksa terjadi sebab kitalah yang lebih dulu memaksa. Semesta hanya pengapresiasi, dan siapapun yang kita temui selalu punya energi. Ia dapat merasakan, memilah, memilih. Memeluk atau menjauh. Menggenggam atau melepas.

                    Bahkan benda mati pun bisa tahu bedanya dicintai dengan tulus, atau seperti dicintai tapi sebenarnya tidak. Apalagi manusia yang berhati dan bernurani?
                    Awal bulan Juni jatuh seperti puisi Sapardi. Seperti biasa, alam selalu lebih jujur dibanding manusia. Meskipun keduanya sama sama sulit dieja. Pun seperti itu juga, manusia akhirnya terkikis oleh egonya yang menjadikan ia manusia. Ironisnya, sisa kekuatannya adalah tetap egonya yang masih tersisa.
                    Dialog itu terurai begitu saja. Perang batin yang sedari kemarin lalu sudah ingin di ledakkan melebihi Ramayana. Hanya saja, kali ini  Rama yang diculik Husna, bukan Sinta yang terperdaya Rahwana.

                    Ku baca ulang berlembar kertas itu. Kertas yang sedari pagi ku tekuri di antara lalu lintas pengunjung caffe. Kertas yang ku harap mampu meluruhkan segala tanyaku perihal setia, cinta, dan kita. Kertas yang entah dengan keberanian macam apa akan sanggup mengantarkannya pada seorang yang memang dituju.

                    “Hmmmmhhhh.” Nafasku menghela. Meminta kekuatan semesta demi untuk membuka selembar kertas. Tabularasa yang sudah bertabur warna. Bunga luka.
    Surakarta, Di Awal Juni
    Assalamualaykum Saudariku,
    Salam selamat dan sejahtera untukmu dan untukku.
    Aku ingin memanggilmu Saudari, sebab kita masih diberi nikmat mengimani satu yang Esa. Kebenaran yang terlabel dalam satu kata. Islam.
    Tulisan ini sampai padamu seperti namamu yang sampai padaku berbulan lalu. Husna, begitu ia memanggilmu. Nama yang berbeda yang kamu sebutkan saat kedua  tangan dan raga kita saling mendekap.
    Nuraini, begitu kamu mengenalkan diri. Dan namamu sungguh selaras dengan parasmu. Cantik nan meneduhkan. Pujiku dalam hati. Aku menyukai senyummu seperti aku menyukai senyum kakak tingkatku di halaqah. Dengan jarak usiaku yang lebih muda, aku bisa merasakan kamu adalah kakak perempuan yang baik. :”)
    Kak Husna, ijinkan aku memanggil nama itu dengan lisanku. Istri dari lelaki yang memanggilmu dengan nama itu. Sebab begitulah engkau mengenalkan diri ketika aku memasuki peran sebagai istri dari lelaki itu.
    Dari sekian nama rekan yang yang pernah ia ceritakan, maaf, namamu adalah satu yang ku pertanyakan. Dan dia dengan tenang menjawab,
    “Itu panggilan Mas untuk dia.”

    Sebaris kata yang mengantar pada sesak yang sungguh menyiksa. Baiklah. Aku butuh udara segar. Terlalu banyak makhluk hidup yang berebut oksigen. Bisa kah aku pergi sejenak???
    Tidak.
    Aku sudah tidak bisa lagi kemana-mana.

    Kamu tahu kak? Ketika seumur hidup aku menghindari stagnansi, pada Lelaki itulah aku memilih berhenti. Berhenti menjadi Perempuan, lantas menyingkap strata tertinggi dari keberanian kaum hawa menembus feminimitas. Menjadi Wanita (wani ditata), menitipkan ketaatkan atas titahnya guna meraih ridha.Nya.
    Lalu malam itu, di malam pertama aku menjadi istri. Aku patah hati. Tanpa bisa lagi memilih lari atau membiarkan sesiapa pergi.
    Bahkan untuk seorang Pepeng harus menempuh tiga belas tahun usia pernikahan agar dimampukan memberikan panggilan mesra untuk istrinya, panggilan yang hanya di dengar dua telinga manusia, suami dan istrinya saja. Tiga belas tahun untuk sebuah nama ‘Dik Tami’ yang menggenapi perasaan cintanya kepada sang istri di malam penganugerahan ‘Keluarga Bahagia Caplang’. Satu dasawarsa lebih setengah lusin semester.
    Nama itu. Husna atau semacamnya.
    Bahkan aku tidak memilikinya.

    Lantas siapa yang harusnya menjadi istrinya?

    Maka, sedalam apa perasaan yang pernah terjadi di antara kalian?
    Maka, sekokoh apa hubungan yang pernah terupayakan di antara kalian?
    Maka, semurni apa hubungan yang kini ada di hadapanku?
    Maka, apa yang hendak kamu sampaikan dalam lima huruf yang terlabel sebagai namamu di matanya? Jika hanya perihal jalinan silaturahim kalian sebagai teman, mengapa harus nama itu, bukankah kamu memiliki nama yang sesuai KTP? Nama yang sesuai akta kelahiran, ijazah atau sepaket perangkat administrasi kependudukan lainnya. Yang siapapun pasti mengenalmu dalam keseharian. Yang sudah pasti aku tidak akan menanyakannya.
    Atau kamu ingin mengenalkan diri sebagai perempuan pendahuluku? Dan aku adalah Perempuan Bocah yang dipungut lelaki itu atas dasar kasihan dan perasaan kehilangan sebab penolakan yang terjadi dari keluargamu? Atau kamu hendak menegaskan bahwa tidak seharusnya aku menerimanya sebab nyatanya tidak pernah ada penolakan, tapi waktu menanti yang harus diulur lagi hingga beberapa tahun kedepan?
    Aku merasa bersalah, tidak suka, risih, dan gamang secara akut. Dengan prosi yang tidak bisa dibilang sedikit. Dalam sekali waktu, di malam pertamaku menjadi istrinya.
    Lantas jika kamu membaca ini sebagai kecemburuan, kalau boleh ku luruskan ini hanya segaris perasaan tidak nyaman sebab aku melihat dalam sepersekian detik ia membaca  namamu. Ada senyumnya melengkung dengan sangan tampan. Senyum yang mampu meningkatkan keteduhan di wajahnya lima belas persen. Senyum yang masih ku cari formula untuk dimunculkan kembali.
    Bagiku tindak cemburu itu tidak terlalu terpuji, terlebih engkau sudah dilunasi perannya sebagai masa lalu. Aku paham benar perihal masa lalu. Dan bukankah setiap dari kita memiliki masa lalu? Ayam saja memiliki masa lalu sebagai telur. Pun si kupu cantik yang pernah menjadi ulat buruk rupa.
    Detik itu. Aku memutuskan untuk berhenti bertanya perkaramu. Aku enggan menggali pusaraku sendiri. Aku enggan terkubur dalam kisah kalian yang mungkin sangat heroic. Bahwa bersaing dengan masa lalu adalah kemustahilanku untuk menang.
    Aku kalah. Bahkan sebelum bertanding.
    Aku (ingin)mengalah tanpa harus menyerah. Bahkan sebelum kalian memintakan.
    ^o^
    “Seared Scallop with Creamy Fettucini selalu pas untuk membaca semestamu, Nona!” Dua Jentikkan jari dan segenap isyarat penyertanya. Tersaji dengan aroma pasta yang cukup mengobati empat puluh dua persen kepatahhatian. Sayangnya, masih ada lima puluh delapan persen kepatahatian yang mengendap dan tak tergantikan rasanya.

    “Thanks, Ra. Hope I can make it look and taste as spectacular as yours did, someday. But, Im sorry I cant try this dish.” Balasku lirih bernada penuh putus asa.

    “Why?” Bahunya terangkat, selaras dengan alisnya yang tertaut. Tatapnya menuntut jawaban tidak singkat.

    “I wanna ask you. May I?”

    “With pleasure…” senyumnya empat senti.

    “Bagaimana cara agar manusia menang dari hujan, Ra?”

    “Aku merindukan hujan di musim hujan, bukan di bulan Juni. Ku merasa aman dengan yang memang semestinya.” Tanyaku pada udara. Catra hanya sesosok raga sebagai penyeimbang agar aku tidak dianggap gila. Mengobrol dengan diri sendiri, untuk manusia masa kini sudah bisa masuk kategori kelainan psikis. Dan aku tidak pernah siap dibawa kerumah sakit jiwa.

    RisaRiiLeon

    -R-

  3. Bismillaahirrahmaanirrahiim :)


                Hhhhhaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah!
                Haha setelah menghela nafas cukup mendalam dan lama, saya hanya ingin menuliskan ini. Perkara ruang apresiasi untuk sebuah proses inklusi.
    Itu nafas lega, bangga, juga bahagia. Terima kasih banyak untuk semua yang telah terlibat secara lahir maupun batin. Terima kasih, telah membersamai penghidupan Republik Angkringan. Tanpa kalian, Republik Angkringan hanya benda mati, naskah yang mungkin tak terbaca.
    ^O^
                “Ris, bisa minta tolong buatkan naskah untuk pementasan?” tidak seperti itu sebenarnya. Itu hanya kalimat mudah yang coba saya tuliskan untuk menjembatani saya bertemu dengan ‘proses Republik Angkringan’. Mas Sutradara aka Mas Sandi hanya mengajak saya berbincang mengenai dunia inklusi, mengerucut jadi keadaan Inklusi di Indonesia hingga menyabet pada kebinekatunggalikaan, lalu menjurus pada kampus dan berakhir pada lingkungan diri. Proses inklusi yang masih dipandang sebelah mata oleh sebagian besar dari kita.
                Saya tertarik? Jelas. Teringat setitik mimpi yang di buahi bersama Mba Asri dahulu kala (jauh sebelum Mbak Asri menikah, jauh sebelum saya bertemu Gapai, jauh sebelum ini semua.) Sebenarnya saya tidak cukup percaya diri untuk mengiyakan. Observasi adalah cara saya mengumpulkan kepercayaan diri yang tercecer dimana – mana.
                Cerita – cerita dari Mbak Sita di Gapai. Penuturannya perkara para rekan istimewa dalam menunjukkan kehadirannya. Kisah – kisah Wahyu, Dian, Fajar, Yanti, Nia, Susi, Wahid, juga beberapa rekan istimewa yang ditemui. Kesemuanya menyatakan keprihatinan pada nurani manusia yang ditiadakan.
                Jalur pustaka juga tak sungkan saya ketuk. Dari sekedar ke mesin pencari hingga ke perpustakaan negeri, saya singgahi. Hmmm proses pencarian kegelisahan naskah, memang terkadang harus demikian agar tak kegelisahan yang terlupa. Bismillah.
    ^O^
                “Aku itu sebel sama Mbak Narisa, setiap ditanya naskahnya sudah jadi belum mesti ada saja alasan yang menyatakan naskahnya belum jadi. Buat naskah susah banget to?” kira – kira begitu ungkapan seorang adik ketika menanyakan ‘Proses Republik Angkringan.’
                Bukan susah atau tidaknya. Tapi, ada atau tidaknya bahan yang ditulis. Bahannya sudah ada, tapi untuk sebuah cerita dia membutuhkan alur dan  karakter tokoh, juga nilai moral (teman – teman teater biasa menyebutnya dengan ‘kegelisahan’), setting tempat, waktu dan suasana, juga unsur instrinsik lainnya akan muncul sejalannya alur cerita.
                Mengambil judul “Republik Angkringan” itu bukan asal – asalan sebab sudah ada Republik Jancukers. Tidak. Republik Angkringan, pertama karena ini ada apresiasi inklusi pada sebuah Negara dengan system Republik yang artinya ada nama Presiden di sana. Angkringan, sebab dialah yang terdekat dengan kami, sederhana dan apa adanya, tak pernah menuntut neko – neko. Qonaah saja. Ya, tidak hanya Yogya yang terbuat dari Hik. Solo pun terbuat dari Angkringan, Budaya, dan Pulang.
                “Kamu kok suka makan di Angkringan to?!” lontar seorang rekan perempuan suatu hari.
                “Hla kenapa enggak suka? haha” timpalku ringan.
                “Kamu kan perempuan, berjilbab lagi. Masa makan ditongkrongannya cowok – cowok, udah gitu terbuka lagi, di pinggir jalan.”
                Ada hening panjang.
                Bagi saya, Angkringan itu ruang symposium terbuka untuk semua kalangan membahas apapun, mendengar apapun, juga makan apapun tanpa takut keracunan sebab disana hanya ada hidangan kampong yang jauh kimiawi, aditif dan adiktif (setidaknya jenis hidangan yang baru dimasak).
                “Berhijab itu bukan berarti menutup diri kan Ukh? Insya Allah saya kuat kok. Doakan saja agar tetap terjaga.”
                Keterbukaan Angkringan, tempat duduknya yang hanya kursi panjang tanpa lengan dan sandaran, juga beberapa tikar yang digelar, membuat siapapun nyaman untuk mulai membuat bincang. Tak sungkan sebab mungkin berbeda kalangan. Semua disana sama.
    ^O^
                Alur kasar yang di dukung oleh keberadaan setting sudah. Tinggal membuat detail alur dan penyesuaian karakter yang muncul. Saatnya observasi dengan para pemain. Casting dimulai.
                Hasil observasi tetap menjadi bahan setengah matang, karakter mereka pada akhirnya tetap dinikahkan dengan karakter saya dalam menuliskan dialog. Maka jadilah saya mengotak – otakkan karakter pada dirinya saya. Menikmati benar menjadi seorang DID, sayangnya saya sadar kehadiran setiap karakter itu. Alter – alter kepribadian yang memang sengaja dihadirkan.
                Republik Angkringan lahir (setelah revisi berkali – kali, sebenarnya hanya konsultasi bersama sutradara yang lantas saya sikapi dengan melengkapinya. Anak pertama, jadi harap mahfum :v. Sungkem kaliyan Mas Sandi :v) tepat sebulan sebelum pementasan (yak.e ding).
                Sayangnya, saya melewatkan moment melihat reaksi kala pertama kali membaca naskahnya. Huwaaaah saya rugi pemirsah :3 (*puk puk, enggak papa. Kan memang Ksatria Kedua lebih urgent. Menghibur diri.)
    ^O^
                Republik Angkringan dihidupkan di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah tepat pada tanggal 23 Desember 2014 lalu. Ya, satu semester yang lalu. Terima Kasih untuk Mas Sandi dan rekan GAPAI atas ajakannya berproses. Rekan – rekan penghuni YKAB yang kece beud, asli kalian bikin aku merinding pas pentas. Haha aku fans tingkat sulung kalian deh pokoknya. ^^
                Nduk Susi, haha karakter mbok – mboknya dapet banget nduk. Salut nduk. Serius. (Saya jadi membayangkan, apakah seperti itu jika saya sudah berumah tangga kelak?:3 Pie ris? :v)
                Dian, Leee… Mbak kasih jempol dua deh ya buat aktingnya ya ba’nyus banget. Iya, bapak – bapak yang overdosis cuek tapi peduli .nya berhasil kamu bawakan dengan apik. ^^
                Wahyu, kekritisanmu manis le, tidak pesimis. Semangat!
                Wahid, kocaknya benar – benar menghibur, cadas Le!
                Fajar, lugasmu luas Le. Mbak suka caramu menyampaikan kejujuran.
                Yanti, kamu canggih mengelola grogi nduk. DIa hilang dalam prosesmu menuju Republik Angkringan. Semangat Sayaang ^^
                Nia, duhh Nduk maaf ya, dalam naskah dialog itu ada bagian kamu bermonolog panjang haha menjadi sasaran empuk saya menunjukkan sisi metafora. Tapi, selamat kamu berhasil membawakannya. Pernafasan dan penjedaan kamu keren nduk! ^^ I love you.
                Ican, sebagai Mahasisa aka Masmas, kamu memang sudah pas pada karakter itu. Songong tapi jujur. :3 Ngeselin sih jadinya. :v
                Dhylan, keberadaanmu di pucuk cerita meski hanya sekejap sudah mampu menunjukkan bahwa kamu hadir. ^^
                Mas Sandi, hiks hiks… saya bingung mau ngomongnya. Tapi serius mas, saya mau belajar nulis (lagi). Serius beud mas. Jangan sungkan mengajak proses lagi. ^^
                Backstage Crew, mas Bintang, Mbak Nuning, Mbak Caroline, Mbak Ayu, Bolo Usung, Nyan, Tri, Lighting Men, semuanyaaaa I love you  haha (diobral deh :3)
                Rekan GAPAI. Semoga kelak, kita benar – benar sama – sama berproses, mengamalkan kebinekatunggalikaan secara kaffah. Semoga… (aamiin..)
                Dan untuk kamu, terima kasih untuk mengagendakan membaca ^^
    ^O^
                Akhirnya, Republik Angkringan bukan jadi benda mati, pun bukan alat menghakimi. Ia hanya pengapresiasi atas cerminan tindak inklusi yang memang sebaiknya dijunjung tinggi, sebab kita adalah satu. Bhineka Tunggal Ika. Semangat Berproses Menuju Indonesia Inklusi! Salam Penyetaraan! Salam Budaya!
                Naskah Republik Angkringan bisa di download di sini. Paswordnya risaopen. Selamat Menikmati… 

  4. Negeriku Berduka, Negeriku Menangis

    Saturday, 10 May 2014

    Bismillaahirrahmaanirrahiim :)

    Alhamdulillah buku antologi cerpen saya selanjutnya :D sudah terbit. ^^

     
    Buku Antologi Cerpen dari Event Negeriku Berduka Negeriku Menangis

    Buku: Negeriku Berduka Negeriku Menangis
    Penulis: A. Raissa, Ifa Avianty, Rere Zivago, dkk
    Diterbitkan oleh: Pena Indis
    ISBN: 978-602-1334-04-1
    Pemerhati Aksara: Nitha Ayesha
    Tata Letak: Fandy Said
    Desain Cover: Fandy Said
    Ukuran buku: 14 X 20 cm
    Tebal Buku: 164 hlm
    Harga: Rp. 40.000,- (Di luar Ongkir)

    Masa Pre Order: 29 April s/d 10 Mei 2014

    (Khusus kontributor yang pesan dan transfer masa pre order diskon 15 %, di luar masa PO diskon normal 10 %)

    Cara Pemesanan:

    SMS/WA ke No. Hp 081327714422 (Ukh Nitha)
    Atau melalui pesan fb ke akun Pena Indis (https://facebook.com/pena.indhis)

    Dengan format : Judul Buku_Nama_Alamat Lengkap_No HP_Jumlah Pemesanan

    Atau via Toko Buku Pena Indis Online di www.indhisbook.com

    Sinopsis:

    “Tuhan, marahkah Kau pada kami? Hingga Kau luluh lantakkan negeri ini?”

    Kantung-kantung air mata mulai mengering. Lengkung senyuman langka, yang ada hanya tangisan, teriakan dan ronta ketakutan. Seolah-olah terbangun dari mimpi buruk. Perasaan hati yang berkecamuk. Sulit untuk menerima kenyataan, bahwa negeriku kini mengamuk. Media berkicau, Indonesia gawat darurat. Bencana alam, gempa, banjir, tsunami, tanah longsor menghantam beberapa kawasan Indonesia. Alam marah, bumi bergoyang, langit menangis, angin berhembus kencang, ombak menerjang, dan luapan air bah segala material, semua seolah rata dengan tanah.

    Indonesia terancam. Pada siapa hati mengadu? Tuhan, sentilanmu begitu dahsyat. Sedetik yang lalu memang tak bisa diulang, sedetik yang akan datang tak dapat dibayangkan. Kini, hanya dengan sekali kedipan mata. Senyuman berganti jadi tangisan. Kebersamaan bisa berganti jadi kesendirian. Suasana aman bisa jadi genting dan sangat menakutkan. Kini, semua itu benar-benar terjadi. Apakah ini ujian dari Tuhan untuk menilai kesabaran di antara hamba-Nya? Atau ini adalah teguran karena manusia yang merusak bumi secara perlahan? Alam sedang marah?

    (Dela Oktadiani)

    Semoga kisah-kisah yang terangkum dalam buku ini bisa menginspirasi kita untuk mencintai bumi yang Allah titipkan untuk kita jaga.

    Kontributor:
    A.Raissa, Ifa Avianty, Rere Zivago, Eclair Auclair, Medina Azzahra, Anggi Putri, Hermawan Satya Budi, Iwan Al Wa’di, Jayadi Oemar Bakrie, Mas Ipin, Masita Rauf, Ricky Ramadhan D, Mutiara Kurniati, Nazri Z Syah Nazar, Nisa Utami, Achmad Burhanuddin Faqih, Rifqah Husnul, Riyanti Binti Rachmad, Seruni Warakandi, Sonya Hero, V.n. Aini, Yunita Nurisfa Mayasari, Rahmi Mardatillah, Irsyadiyah, Yhulis, Wildan Fuady, Wika Mardiyah, Frandhy Rizal, Ummu Maila, Risa Rii Leon, Mahfudz Ahmad, Hulya Ashfie, Sofia HD, Hikari Kagawa, Elnina Zee, Chiizumi, Yulyana Safitri, Asty Hanani, Anis S. Shoclichah, Aidaku Niraya, Dela Oktadiani, dan Fajriatun.
     
                                                                                   ^O^



    Sepatu Kalpataru Untuk Emak

                Dia terus berlari, menerjang hujan yang kian menghujam tubuh kecilnya. Dia harus cepat sampai rumah, memastikan kebenaran berita burung yang di dengarnya tadi siang.
                “Tong, rumeh lu kebanjiran!” Cuma sepotong kalimat itu yang membuatnya berlari kesetanan malam ini.
                Seusai menutup toko kelontong milik Koh Acong tempat ia mencari nafkah, ia berpamitan. Tanpa persiapan apapun, ia hanya ingin cepat pulang, melihat emaknya tersenyum .
                Selalu seperti itu, Otong pulang dari kota, membuka pintu kardus yang dibingkai bambu sisa pembangunan pabrik dekat rumah mereka, kemudian mencium tangan emaknya yang beraroma semangat dengan penuh takzim, dan emak akan mengelus rambut anak semata wayangnya itu dengan lembut teriring kalimat menangkan.
                “Emak baik baik aja Tong, lu baik baik juga di rumah orang. Jaga amanah yang udah di kasih ke lu baik baik. Kita emang orang enggak punya tapi kita punya Allah yang bakalan ngasih apa yang kita butuhin setelah kita usaha.”
                Tanpa perlu banyak kata, Emak tahu kepulangan putranya selalu membawa rindu, tidak penting bingkisan apa yang menyertai kepulangan putranya  itu, baginya melihat Otong pulang dalam keadaan sehat adalah nikmat Allah SWT yang tak terbantahkan.
                Sayangnya, tidak untuk Otong, setiap bingkisan yang menyertainya pulang adalah bagian dari ragam cara ia menyatakan cinta pada emaknya. Dia bukan si penggombal ulung yang selalu sanggup membuat siapapun melayang sebab lontaran sebuah kalimat, bukan pula seorang yang akan merajuk dengan kalimat kalimat manja agar diperhatikan, bahkan untuk sekedar memanggil emaknya dia tak sanggup.
                “Tong, kebanyakan manusia di dunia ini masuk neraka karena lisan yang tidak terjaga, lisan yang terkadang melukai tanpa disadari, lisan yang sering lincah menggunjing, Juga lisan yang dihias penuh dusta. Lu harus bersyukur dengan keadaan lu sekarang ini, sebab dengan keadaan lu ini, lu udah dimudahkan untuk menutup satu pintu penyebab dosa menumpuk.” Dan Otong akan tersenyum bangga pada emaknya, teriring anggukan untuk syukur tiada tara memiliki emak seperti perempuan di depannya.
                Otong terus berlari, dan hujan masih tanpa tahu diri mengguyurnya yang kian kuyup. Otong harus cepat sampai rumah, batinnya berteriak. Bersama genggaman ditangannya yang kian mengerat, diapun mempercepat laju kaki bersandal aus itu.
    ^O^
                Melalui ragam gerak dan isyarat, Otong bertanya pada orang orang di sana. Pada bapak berseragam, pada manusia berkamera, pada rekan satu profesi, juga beberapa tetangga yang ia kenal. Dan mereka hanya menggelengkan kepala, atau mengusir dengan tatapan, “Haiisssh mengganggu saja!”
                Mereka, orang orang itu, yang mengaku peduli dan ingin menyelamatkan, mereka tidak peduli pada Otong, mereka tidak menggagas Otong yang juga harus diselamatkan. Selamatkan ia dari status sebatang kara! Otong duduk dalam keputusasaan, hendak menyalahkanpun tak akan merubah keadaan. Hanya doa yang mampu ia rapalkan dalam dalam, berkali kali.
                “Ya Allah, semoga Emak baik baik aja, dan jika masih diijinkan, Otong ingin meluk Emak sebelum Engkau memeluknya di surga.”
                Untuk seorang Otong, emak adalah harta seluruh dunia dikali tujuh, tak akan ada yang mampu menggantikannya. Bersama Emaknya, Otong menjadi jutawan cinta yang hidup bahagia meski serba seadanya. Sarapan pukul sebelas siang setelah menukarkan hasil memulungnya sedari pagi, pun dengan lauk sambel terasi dan orak arik telur seharga tiga ribu rupiah. Tidur beralas kasur tipis dengan dinding seng yang membuat gerah kala siang. Emak adalah pahlawan tanpa tanda jasa untuk Otong. Emak dengan keranjang dipunggung dan sebuah tongkat multifungsi ditangan kanannya, memilih dan memilah ragam sampah yang masih bisa dimanfaatkan, dikumpulkan lalu ditukarkan dengan beberapa lembar kapitan patimura. Emak adalah pahlawan, tak hanya untuk Otong, tapi juga untuk penghuni Jakarta Raya. Emak dan semua rekan rekan pemulungnya, mengajari Otong banyak hal. Tentang siklus kehidupan, bagaimana sebuah ciptaan harus menjadi berguna meski dunia memandang sebelah mata. Ketika manusia manusia lain memandang sampah sebagai benda tak berguna, Emak dan rekan lainnya melihat sampah sebagai ladang pahala. Proses pendaurulangannya, keikhlasan Emak terpandang sebelah mata, juga keihsanan Emak hidup di pesisir Sungai Ciliwung ini.
                Kemudian setelah apa yang dilakukan Emak dan rekan rekannya pada lingkungan ini, haruskah Emak yang menjadi korban kebinalan manusia manusia kota membuang sampah sembarangan? Bahkan melalui tangan keriput Emak Sungai Ciliwung tidak tersedak sampah terlalu banyak. Bahkan melalui kaki telanjang Emak Sungai Ciliwung tak sedangkal pemikiran orang orang kota. Dan bahkan Emak tak pernah meminta Kalpataru atas seluruh tindakannya.
                Tangis Otong melebur bersama riuh hujan, lidahnya asin menelan getir air mata dan keringat di dahinya, asin itupun berlahan menjadi pahit, bingkisan itu belum sempat ia berikan pada pahlawannya.
                “Emaaakk...” seru Otong susah payah mencoba bersuara, dan yang terdengar hanya serupa teriakan tak jelas. Laranya terbungkus gemuruh petir juga lolongan mobil bantuan. Keramaian yang membuatnya tak sadar akan sebuah kehadiran.
                “Otong, Lu ngapain masih di sini, Emak Lu nunggui Lu di tenda pengungsian.” Colek seorang tetangga mengagetkannya.
                Dengan wajah terperangah ia melangkah di belakang sang tetangga yang juga rekan seprofesi Emak. Otong diam, berkali mengorek telinganya, takut jika salah dengar. Berkali mencubit pipi, khawatir jika hanya mimpi.
                Dan di sana, dalam rimbunnya lalu lalang para pengungsi, ada sosok manusia berbadan gempal, dengan senyum hangat suam kuku, dan binar penuh semangat, juga jilbab kumal aroma surga, sedang duduk menantinya. Lisannya sibuk mengingat asma Allah teriring tangan bersenandung dengan tasbih alamiah. Melihat kedatangan putra semata wayangnya, Emak segera beranjak, menghambur haru dalam peluk Otong.
                “Lu baik baik aja kan Tong? Lu enggak kenapa kenapa kan?” serbu Emak terhias isak.
                Otong hanya mengangguk pasti, harta dunia dikali tujuhnya sudah kembali. Otong tak lagi sendiri. Otong menatap lekat lekat sosok di depannya, menghapus air mata Emak, dan menyerahkan bungkusan yang sedari tadi ia genggam.
                “Sepatu Boots?” tanya Emak seusai membuka bingkisan terbungkus kresek hitam.
                Otong hanya mengangguk, tersenyum pasti.
                “Buat Emak?”
                Otong kembali mengangguk, tersenyum, dan memperlihatkan sebaris surat yang ia tulis dengan susah payah, les berbulan bulan dari anak majikannya yang kelas lima SD, tiga tahun dibawahnya.
                Ini buat Emak. Sepatu untuk melindungi surganya Otong yang ada ditelapak kaki Emak. Semoga Emak suka.”
                    Dan bahagia yang berlebihan itu membisukan Emak, membuatnya mengeratkan pelukan pada buah hatinya. Emak bahagia tanpa banyak kata, dan tanpa perlu banyak harta. Dan bahagia menjadi begitu sederhana, sebab sepasang sepatu yang akan melindungi kaki dari kerikil kerikil tajam, juga dari tusukan beling berkarat yang diberikan penuh cinta oleh putra satu satunya.    

  5. Bara dan Embun

    Monday, 5 May 2014

    Bismillaahirrahmaanirrahiim :)

    Senin, 05 Mei 2014




               Ribuan rintik pernah turun sebelumnya. Memadamkan rupa Bara menjadi kelam tanpa raga. Dan selalu hujan tak pernah menetap, hanya lewat dan membuat basah. Tapi tidak kali ini. Ada setetes yang masih menyejukkan api. Dia datang dalam ketiadaan. Hadir dalam kesahajaan menggenggam rasa. Hi, Embun ^^


             
    Bersama wujudku yang nyaris padam, ku beranikan diri menyapamu yang masih bening. Dan kamu lebih dari sekedar bening, kamu indah meski  tak berwarna, menawan penuh pesona kesucian. Dan senyummu, bahkan pelangipun akan bersembunyi sebab malu mengakui ada yang melebihi indah lengkungnya.
                “Hi Bara!” balasmu mendekat satu langkah. Enggan kalah ku ikuti pemangkasan jarak ini. Sejengkal kita kini, bersama dua tangan yang saling menjulur, saya dan kamu mencoba menggandeng kita.





                  “Tssssssss!” desis dua kulit ari kita. Menyedot sebagian dari kita menjadi udara. Sepertinya semesta tak merestui kita, batinku mulai meronta. Kamu menunduk, menahan isak. Ah ya, kamu tak pernah bisa untuk menangis. Kamu hanya akan diam dan tentu saja, meredam kejanggalan. Saya berfikir keras, merajuk pada Tuhan agar menurunkan perintah.Nya. Melirik.Nya agar merestui kami yang teranugerahi cinta.



                

             Melalui sebuah pandang yang jatuh sembarang, ada sebatang batu kecil di dekat pijakan kita. Ya, serupa tongkat batu yang tak akan terbakar olehku atau hanyut olehmu. Kembali mencoba bergandeng, lantas menyamakan langkah untuk berjalan beriringan, dengan saya di ujung kiri dan kamu di ujung kanan. Kita melangkah menyeimbangkan semesta. 

                    “Bagaimana cara menggungkapkan kebahagiaan dengan tepat?” batinku mulai bertanya.
             Ah sudahlah, sapaan bayu penuh sepoi serta ramahnya para pinus sepertinya sudah cukup menyatakan kebahagiaan kita yang masih tetap melenggang. Kian tumbuh dalam ragam pijakan yang kita ambil. Membersamai satu sama lain dengan langkah berlahan. ^^ Menyeimbangkan semesta agar tak lagi timpang.
                Dan rupanya kamu amm banyak kata. Bercerita tentang bagaimana awan menggodamu untuk tetap tinggal, danau dan samudra yang selalu menanti kehadiranmu, belum para ikan yang senantiasa merinduimu. Ah sepertinya kamu hidup dalam kubangan cinta.
                Berbeda denganku yang yaa meski terkadang manusia memujiku sebab memancarkan hangat, namun tak jarang mereka menyumpahiku sebab panas yang menyengat, belum lagi saat pertumbuhanku yang pesat berkolaborasi dengan kelalaian mereka, dengan angkara murka mereka tak segan untuk ...meniadakanku.

     

             

             Kamu tahu? Melangkah bersamamu sejauh ini membuatku seperti menggali rasa, memperdalam bersama langkah kita. Kian menyukaimu yang ceria, dan kamu tahu apa yang paling menggembirakan? Tak satu katapun yang keluar dari lisanmu bahkan narasi narasimu yang menyatakan sebuah keluhan. Meski kamu lelah, meski kamu seperti ingin menyerah, meski kamu ah barangkali sangaaat lelah, kamu masih tetap sama. Membungkus peluh dalam kerapian senyum. Dan jelas, di sini saya harus paham.
                  “Istirahat yuk!” ajakku menunjuk sebongkah batu yang nampak kokoh.
                Kamu mengganguk, mengiyakan penuh lega ajakanku. Semua bincangmu mengudara. Tentang aksi kejar kejaran yang kerap kamu lakukan dengan segerombol awan. Tentang pembauranmu bersama garam dan terumbu karang samudra. Dan bagian yang paling saya suka, ketika kamu tertawa. Menampakkan kilaumu yang apa adanya. Indah tanpa buatan. Kisah yang terus mengalir, mengantarkan kita dalam lena mimpi. Membiarkan kita sejenak hening bersama.



     
              

               “Batu!” seruku menganggetkanmu. Mengembalikanmu ke alam fana.
                “Kenapa?” tanyamu segera.
                “Batu pipih kita hilang.” Ulangku kembali, melempar pandang ke segala arah. Dan ya, di arah jam sebelas seekor semut tanpa sopan santun mengambil batu itu dari kita.




               


                “Embun, disini dulu ya... Bara akan mengambil batu kita itu!” pintaku padamu.
                “Sebentar Bara!” teriakmu dari balik punggungku.
                “Iya Bara hanya sebentar kok!” seruku masih dalam ikhtiar mengejar batu yang kian menjauh.
                “Nahhhh! Kena kau sekarang semut tidak punya sopan santun!” seruku dengan nafas tersengal. Mengambil batu pipih itu dan baru tersadar si Semut berjalan terlampau cepat dalam mini ukurannya -_-. Embun jauh di belakang saya.
                Tunggu! Akan hujankah? Mengapa tiba tiba cahaya matahari tak nampak? Kenapa tiba tiba gelap begini? Batinku terus bertanya.


               


          Bukan matahari yang tak nampak, hanya saja ada raksasa berdiri tepat di belakang saya. Manusia pencari cahaya rupanya! -_- Melalui tangan kokohnya, saya berpindah tempat. Mengakar pada sumbu minyak kompor di genggamannya. Melalui kakinya, saya serasa melesat kian jauh meninggalkan Embun.
                “Embuuuuuuuuuuuuuuun!” teriakku putus asa.
           Langkahmu memang tak berdebum keras, namun nyata saya melihatmu berlari kecil jauh dibalik punggung si Manusia ini. Beberapa kilometer di depan, pondok kayu itu berdiri sendirian di atas bukit. Serupa raga renta yang kesepian menanti ajal.

     

               


             Dan sebuah benda bening itu mengurungku. Menghidupiku dengan larutan minyak di bawah sumbu tumpuan. Lantas mata hanya mampu menunduk mencari pasrah, mengamati sekitar yang asing dengan satu liang mengarah pada pandang di luar. Tunggu! Ada sosok bening dibalik tirai.
                “Embun?!” seruku penuh kejut, bahagia.
                “Ssstttt!” kodenya dengan telunjuk di bibir.
                Saya menggangguk, paham bahwa kita harus waspada. Kamu mendekat, menanjaki meja kayu yang memasungku bersama obor kaca.
                “Bagaimana kamu bisa sampai disini?” serbuku segera dari atas pijar minyak.
                “Aku hanya terus berjalan, dan mengaktifkan radar!” sahutmu tenang. Ah dimana kelelahanmu, bukankah kaki kecilmu barusan menempuh puluhan kilo?
                “Berjalan? Mengikutiku? Dan radar apa yang kamu maksudkan Embun?” alisku tertaut, mencari tahu.



           


              “Iya aku berjalan bersama angin yang membersamai. Hehe iya radar, aku percaya setiap dari kita memiliki radar. Sebuah radar dengan formula satu sama lain yang sama, dan aku percaya kode dan formula yang Tuhan berikan untuk kita itu serupa, makannya kita bisa saling menemukan tanpa harus saling melewati masa penantian yang menjemukan.” Ulasmu menerawang, menyamankan duduk memandang lautan bintang di langit luar jendela. Melepas lelah juga, barangkali.
                “Hmm mungkin serupa tulang rusuk dan tulang punggung yang tak akan salah untuk saling mengenali. Satu bintang dengan bintang yang lain untuk bersama membentuk satu rasi? Begitu kah?” saya turut menerawang. Mengulas beberapa pertemuan insan dengan insan lain untuk kemudian menjadi pasangan.
                “Mungkin.” Sahutmu pendek penuh lirih.
                “Kalau begitu dahsyat ya kekuatan radar itu. Dari banyaknya ragam nanusia, dari banyak taburan bintang, mereka masih dimampukan untuk saling menemukan satu sama lain. Haha seperti rekayasa semesta gitu ya Embun? Ammm Apakah kita pun demikian?” Tanyaku retoris.
                Tak ada sahutanmu. Ku tengok kebawah, ada magnet dari suara nyenyak lelap
                “Zzzzz...” ah kamu tertidur rupanya.

            Angin masih saya berlarian diluar sana, mencari sarangnya yang barangkai ikut mengudara tanpa landasan untuk mendarat. Dedaunan bahkan masih terkikik sebab godaan rayu Si Angin Sepoi. Dan saya masih menyelami kisah  kita, pertemuan awal yang jauh dari duga, perjalanan melewati jejakan masa dalam kebersamaan saling menjaga, hingga kini kekuatan rasa yang teruji dalam jeruji kaca.
                “Hmm Embun...” Gumamku masih menatapmu.
                “Oh jadi kamu yang tadi Embun cari!” kaget sebuah suara tanpa wujud.
                “Siapa kamu?” Seruku kaget.
                “Aku Angin! Sahabatnya Embun!”
                “Oh Angin. Iya, tadi Embun sempat bercerita bahwa bersamamu dia mencariku. Terima Kasih ya....”
                “Iya, kenapa kalian tak juga bersatu? Bukankah kalian sudah sama sama tahu tentang ‘itu’?” tanyanya tanpa tameng.
                “Itu?” Alisku tertaut.
                “Iya, tahu cinta dan bagaimana menjaganya dalam sahaja!”
                “Ammm kami masih menjalani bagian dari takdir kami sebelum benar benar disatukan oleh Yang Maha Satu. Kami paham kalau takdir kami yang satu ini masih tak memungkinkan kami bersatu, api dan air jika bersatu hanya akan memusnahkan satu sama lain. Sangat berlawanan dengan kami yang ingin menjaga satu sama lain.” Jelasku.
                “Bagaimana jika aku bantu?”
                “Bantu apa?”
                “Bersatu!”
                Tanpa sempat ku iyakan, Angin telah mengabur tanpa suara. Lantas datang dengan atmosfer hangat dari para dedaunan.
                “Angin apa yang kamu lakukan pada Embun?! Jangan sakiti dia!” berontakku di balik kaca. Tak tega melihat raga Embun yang kian menipis, mengudara hingga tiada. Berlahan dan pasti, ada ruang di hati yang mengosong seketika.
                “Embuuuuuuuuuuuuuuuuuuuun!” teriakku tanpa daya. Saya kehilanganmu tanpa sempat membantu.

     
                 


               Saya pasrah atas ketiadaanmu. Saya paham jika memang ini yang Tuhan mau. Bersama tangan renta si Manusia, ku titipkan semua rasa kepada Sang Maha Mencinta. Tuhan, penuhi hati ini dengan keikhlasan pada.Mu semata. Bara padam seketika. Mengudara bersama cinta yang juga telah tiada.



                “Embunn...” lirihku pada semesta, sekedar melegakan hati yang sedari tadi menahan.
                “Iya, Bara!” sahut sebuah suara penuh ceria.
                Ah separah inikah rasa ini, hingga mampu membuatku berhalusinasi senyata ini?
                “Sadar Bara! Sadar! Embun sudah bahagia disana!” tamparku pada diri. Tak mau terbelenggu rasa yang nyata enggan berlalu.
                “Ini benar aku Bara, Embun!” Seru suara itu lagi.
                Saya mengitari pandang, mencari sumber suara yang mengaku ‘Embun’.
                Di sana, arah jam tiga. Satu sosok serupa Embun berdiri manis. Menampakkan seulas senyum pengalah pelangi.
                “Embuuun!” seruku penuh bahagia.
                “Baraaaaaa!” sambutmu penuh cinta.




              


              Layaknya adegan Rahul dan Angeli saat bertemu pertama kali setelah sekian tahun tak kunjung bertemu, kita nyaris lupa untuk saling menjabat.
                Dan, betapa pemurah.Nya Tuhan.
                “Sekarang kita bisa berpegangan tangan?” Alisku tertaut, antara heran dan bahagia.
                “Iya Bara! Kita bisa bersama, bersatu!” serumu tak kalah bahagia.
                Dan angin masih setia pada rayuannya menggelitik dedaunan. Awan masih setia memayungi keceriaan Embun. Langit masih tersenyum membersamai mereka yang saling cinta dalam sahaja. Bintang masih bertasbih dalam kelipnya, mengaminkan doa doa mereka yang menjaga cinta.Nya dalam restu Illahi.
                Ya, kita telah serupa hingga Tuhan membebaskan kami menyatakan cinta masing masing.




    Pic: Copas From here