Rss Feed
    Showing posts with label Amanah. Show all posts
    Showing posts with label Amanah. Show all posts
  1. Bismillaahirrahmaanirrahiim :)

    Nyatanya Qonaah itu sudah ada jauh sebelum ia mengenal rupiah.

     “Alfa tadi suratnya sudah dikasihkan ke Bu Eva?” tanyaku sepulang sekolah sembari mengecheck isi tasnya.

    “Surat?” Wajahnya berupaya mengingat pesanku pagi tadi.

    “Laah, ini suratnya masih ada, tapi kok uangnya ndak ada. Uangnya kemana?”

    “Uangnya untuk beli jajan tadi.”

    “Semua?”

    “Iyaa, soalnya saya tidak menemukan uang. Hanya satu.”

    “Astagfirullah Alfaaaa….Kan tadi pagi sudah Bunda sampaikan. Uang yang disurat tolong dikasihkan ke Bu Eva, Alfa jajannya pakai uang yang satunya, yang ada angkanya dua. Tadi pagi kan Alfa jawabnya iyaa, sudah paham.” *Emaknya sedang berusaha menahan esmosi.

    “Iyaaa, Bunda. Maaf. Saya lupa.”

    “Besok lagi diinget inget dong kalau Bunda ngomong.”

    “Iyaa Bundaa … Maafin yaa…”

    “Hmmmmm *hela nafas* Iya Bunda Maafin, tapi Alfa bertanggung jawab yaa. Harus mengganti uang yang tadi digunakan dengan uangnya Alfa, soalnya itu uangnya kan untuk Infaq Ijtima besok. Jadi nanti Bunda ambil uang tabungannya Alfa sepuluh ribu, oke?”

    “Baik Bunda …”

    “Yaudah, ini tolong dikasihkan ke Bu Eva .”

     

    Saat emosi sudah membaik, karena yaa lupa itu manusiawi bukan? Ndak, papa meski agak sedikit gemesh. Dalam perjalanan menuju tempat kerja usai penjemputan, kutanyakan kembali perihal uang sepuluh ribu itu. Bagaimana bisa ia menghabiskannya dalam sehari?

     “Alfa, tadi Alfa jajan apa saja memangnya di sekolah?”

    “Tadi saya beli jagung susu Bunda.”

    “Enaaaak kah? Keknya sering beli jagung yaa Alfa?”

    “Enak Bunda, ada manis manisnya, ada kejunya juga tapi sedikit.”

    “Trus jajan apa lagi selain jagung?”

    “Tidak jajan apa apa lagi. Hanya satu.”

    “Laaah? Kan tadi Alfa menghabiskan uang sepuluh ribu sama uang dua ribu, berarti Alfa tadi menggunakan uang dua belas ribu. Itu banyak sekali, tapi kok jajannya hanya sekali?”

    “Iyaa, tadikan uangnya saya kasih ke teman-teman.”

    “Teman-teman? Semuanyaa?”

    “Iya Bunda…”

    “Ya Allah … *emaknya mulai berkaca-kaca* kan Alfa bawa dua uang, satu angkanya sepuluh satu lagi ada angkanya dua. Nah yang dipakai jajan Alfa yang mana?”

    “Hanya ada satu Bunda uangnya, tidak ada angka dua.”

    “Tapikan tadi pagi Bunda kasihnya dua lembar.”

    “Tapi tidak ada Bunda. Sudah Saya cari hanya ada satu.”

    “Oke baiklah, jadi Alfa jajan pakai uang yang angka sepuluh, jajan jagung satu kali, dan uang kembaliannya dikasih ke teman semua?” *konfirmasi kronologis hari itu

    “Iyaa Bundaa, soalnya kasihan, tidak dibawakan sangu.”

    “Eh masa? Mereka tidak bawakan uang maksudnya?”

    “Iya, tidak dikasih sangu uang, jadi tidak punya uang, tidak bisa jajan.”

    “Sik bentar, tadi Alfa kasih uangnya ke satu teman atau ke banyak teman memang?”

    “Banyak Bundaa, kan banyak yang tidak disangu.in.”

    “Okee..mungkin mereka dibawakannya bukan uang, tapi makanan Ndud. Sangu itu kan artinya bekal, dan bekal bisa macam-macam. Seperti Alfa kalau di Seroja juga bawanya sangu nasi, lauk, sayur, buah dan jajan.”

    “Tapi jadi tidak bisa jajan di Sekolah Bunda, kasihan.”

    “Iyaa gapapa, Alfa boleh kasihan sama teman. Dan ndak papa berbagi ke teman jika memang Alfa punya uang dan tidak merasa terpaksa atau dipaksa. Tapi lain kali, tolong bilang ke Bunda dulu yaa. Dan tentu saja, pakai uang jajan Alfa sendiri, bukan uang yang harusnya untuk bayar urusan sekolah.”

    Meski agak mengejutkan, namun kejadian hari itu membuat rasa banggaku terhadap si Kakak bertambah setidaknya dua puluh centi meter. MaasyaAllah, bukankah sikapnya terhadap uang berlebih menunjukkan adanya bibit qonaah dalam dirinya? Perasaan cukupnya hanya jajan seribu meski ia memiliki uang sepuluh ribu. Terlepas, belum terlalu mahfhumnya ia pada nominal, toh sebenarnya dia sudah paham jika masih memiliki uang kembali artinya ia masih bisa memperbanyak jajan. Tapi, maasyaAllah dia tidak demikian. Ia beli secukupnya, seperlunya dan sisanya ia tunaikan pada jalur kasih pada teman-temannya.

    Dan Semoga perasaan cukup itu selalu ada hingga kapanpun. Tumbuh dan mengakar sebagai bibit perilaku tawadhu, zuhud, nan mudah bersyukur. Sehingga mampu untuk hidup sesuai kapasitas diri tanpa harus memaksa terlihat mulia di mata manusia :’)

     Bagimu cukup dengan apa yang dipunya usai upaya itu tertunai seutuh iman dan takwa. 

    MaasyaAllah Naaak, lagi-lagi Bunda belajar darimu :”)

     Btw Alfa uang jajan Alfa dua ribu, dan pernah dia habiskan meski lebih sering ia sisakan seribu untuk ditabung. Lalu misteri kemana perginya uang dua ribu yang saya berikan sebagai sangunya Alfa, masih belum terjawab.


  2. Bismillaahirrahmaanirrahiim :)

    taken from : merdeka.com

    Kepada Anakku, Alfa Rayhan Al Biruni yang sudah mulai berani berdiri sendiri.

    Nak, ada beberapa hal di dalam hidup yang tidak bisa kita pilih begitu saja. Hal – hal yang memang sudah ditentukan dari sang Pencipta. Lahir dizaman dan di daerah seperti apa misalnya.

    Zaman kita dilahirkan sudah masuk akhir zaman Nak. Negeri tempat kita lahirpun tidak lepas dari ujian akhir zaman. Belajarlah Nak, dari panjangnya perjalanan bangsa ini berjuang untuk merdeka. Belajarlah Nak, dari peluhnya bangsa ini mengisi kemerdekaannya. Meskipun kita berbeda dua puluh tiga tahun, namun tetap saja kita masih satu masa menghadapi akhirul zaman.

    Dan selayaknya kebanyakan Ibu dimanapun berada, Bunda juga ingin memberimu bekal agar kita bisa selamat hidup di jalan Allah pada masa akhir zaman ini.

    Nak, perkuatlah selalu perasaanmu atas pengawasan Allah. Pahamilah bahwa Allah Maha Mengetahui, yang terucap lisan atau hanya terbesit di hati. Sehingga ketika kelak ada keinginanmu untuk berbohong, kamu akan segera  urungkan.

    Kelak kamu akan ingat, mengapa setiap pulang dari sekolah, kamu selalu Bunda tanyai, perihal kemana uang yang bunda berikan itu teralokasikan. Apa saja yang kamu beli, berapa harganya, dan apa manfaatnya untukmu.


    Tentu saja bukan karena Bunda tidak percaya. Dan tentu saja ketika Bunda memberikan uang itu untukmu, itu sudah menjadi hakmu. Kamu memiliki keluasaan menggunakan itu untuk kebutuhanmu. Namun, ada tanggung jawab yang Bunda titipkan melalui uang itu, sebuah kepercayaan bahwa kamu mampu menggunakan uang tersebut untuk kebaikan, ketika Bunda menanyakannya Bunda hanya memeriksa, apakah Bunda sudah berhasil mengajakmu menunaikan kebaikan melalui harta yang kita miliki?

    Dan tentu saja Bunda akan bahagia, ketika kelak kamu mampu menggunakan uang itu untuk kebaikan bukan sekedar memenuhi kebutuhan diri sendiri ^^

    Di negeri tempatmu dilahirkan ini, ada sebuah lembaga yang cukup mumpuni untuk dijadikan teladan dalam menegakkan kebenaran pun mengamalkan tanggung jawab dalam kewibawaan pengawalan harta negara. Ialah BPK, Nak.

    Iya Nak, Badan Pemeriksa Keuangan atau lebih dikenal dengan akronim BPK merupakan lembaga negara yang  bertugas memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab tentang keuangan negara. Peran dan tugas pokoknya bisa diuraikan dalam dua hal. Pertama, BPK adalah pemeriksa semua asal – usul dan besarnya penerimaan negara, darimanapun sumbernya. Kedua, BPK harus mengetahui tempat uang negara itu disimpan dan untuk apa uang negara tersebut digunakan.

    http://www.bpk.go.id/
    Sama seperti kamu lahir Nak, BPK pun lahir pada bulan Januari. Bulan penuh hujan. Tepatnya, 1 Januari 1947 dan masih ada sampai sekarang. Dalam usia panjangnya ini, sejak masa reformasi 1998 terdapat sejumlah perubahan atau amandemen terhadap UUD 1945. 10 November 2001 terdapat amandemen UUD 1945 untuk BPK yang diatur dalam bab VIIIA pasal 23E mengenai sifat bebas dan mandiri.









    http://www.bpk.go.id/
    Kedudukan BPK dalam penyelenggaraan negara sejajar dengan Presiden, sehingga BPK sangat terbantu oleh sifat bebas dan mandirinya, sebab bisa leluasa dalam memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara. Adapun hasil pemeriksaan BPK akan diserahkan langsung kepada DPR, DPD, dan DPRD sesuai dengan kewenangannya untuk lantas ditindaklanjuti oleh lembaga perwakilan atau badan yang sesuai UU tanpa perlu dikonsultasikan lebih dulu dengan pemerintah. Untuk anggota BPK dipilih langsung oleh DPR dengan memperhatikan pertimbangan DPD lalu diresmikan oleh Presiden, kemudian untuk Ketua BPK dipilih oleh anggota BPK itu sendiri dan diambil dari anggotanya.

    Ketahuilah Nak, keberadaan BPK di negeri kita ini sangatlah penting. Sebab apa? Sebab agar setiap pihak yang diamanahi uang negara mampu menjalankan amanah tersebut dengan sebaik – baiknya sehingga mampu membawa banyak manfaat untuk rakyat.

    Kebiasaan Bunda menanyaimu tentang bagaimana kamu menggunakan uang adalah sedikit cara yang bisa bunda terapkan dalam membekalimu dalam menjaga setiap amanah. Sebagai anggota masyarakat, kita memiliki andil untuk turut serta bersama BPK mengawal harta negara. Bunda dengan cara sederhana mengajakmu untuk senantiasa jujur dalam berperilaku, lantas ketika menemui ketidakjujuran lekaslah melakukan pemeriksaan dengan langkah yang tetap hanif, tetap jujur. Sebab Bunda percaya, terkawalnya harta negara tidak lepas dari terkawalnya akhlak jujur dari setiap individu anggota keluarga. Bagi Bunda, Indonesia adalah keluarga, keluarga yang sangaaaaat besar. ^^
    Kelak ketika kakimu sudah mampu berdiri, lantas mulai berjalan, berdikari untuk negerimu kemudian menemukan kejanggalan dalam pengelolaan harta negara, maka jangan sungkan untuk mengadukan Nak. Kebenaran harus senantiasa ditegakkan.

    http://www.bpk.go.id/

    Bila menemukan adanya indikasi pengelolaan keuangan negara atau daerah yang tidak sesuai dengan peraturan perundang – undangan, kamu dan masyarakat lainnya dapat mengajukan pengaduan dengan melengkapi bukti dan data terkait penyimpangan keuangan negara/daerah yang terjadi. Kamu hanya perlu memperhatikan beberapa hal berikut :
          1   .   Menguraikan kejadiannya
    Ceritakanlah kejadian yang kamu curigai sebagai bentuk penyimpangan pengelolaan keuangan negara / daerah dengan detail. Uraikan ceritamu berdasarkan fakta dan kejadian yang nyata, hindari hal – hal yang berkaitan dengan perasaan tidak suka / benci. Banyak hal yang dikaitkan dengan perasaan membuat kita menjadi tidak obyektif Nak. Ceritakan pengaduanmu dengan melengkapi unsur 5 W plus 1 H. Agar ada gambaran siapa, apa, kapan, dimana, kenapa, dan bagaimana.nya dengan  jelas.
          2.      Memilih pasal – pasal yang sesuai.
    Pengadu diharapkan untuk menyocokkan dengan pasal-pasal yang sesuai dengan peraturan yang berlaku (dapat lebih dari satu pasal). Informasi mengenai peraturan perundang-undangan dapat pengadu lihat dalam website Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum BPK [www.jdih.bpk.go.id]
    http://www.bpk.go.id/
        3.      Menyertakan bukti awal jika ada
    Apabila ada copy dokumen atau barang lain yang memperkuat uraian kejadian di atas agar disimpan dengan baik untuk disertakan dalam pengaduan/laporan yang disampaikan.
        4.      Menyertakan identitas pengadu, bila tidak keberatan.
    Akan sangat baik apabila pengadu menyertakan identitas dan alamat atau nomor telepon, sehingga bila BPK masih membutuhkan keterangan tambahan maka pengadu akan mudah dihubungi.





    Dan saat kamu berangkat sertakanlah syarat – syarat pengaduan masyarakat berikut Nak
    1.     Pastikan ke.WNI.an kita. Iya, harus Warga Negara Indonesia yang datang mengadu.
    2.     Mengisi formulir pengaduan masyarakat,
    3.     Melampirkan fotokopi identitas diri yang masih berlaku. Bisa KTP, SIM atau ID Card.
    4.     Dapat menjelaskan kronologi kejadian yang dilaporkan.
    5.     Terakhir melampirkan bukti awal aduan seperti fotokopi dokumen atau barang lain yang dapat memperkuat uraian aduan yang disampaikan. ^^


    Mari Nak, kita kawal harta negara bersama BPK. Melalui kejujuran akhlak dari setiap individu keluarga.


    Sumber Referensi 
    http://www.bpk.go.id/
    http://www.bpk.go.id/assets/files/otherpub/2017/otherpub__2017_1511750809.pdf


  3. Bismillaahirrahmaanirrahiim :)

    Beranda IDN Times


                Pesatnya arus informasi membuka banyak jendela wawasan kita sebagai manusia pembelajar. Didukung oleh merebaknya situs informasi online, sekali sentuh …. Voila karpet ilmu terbentang seketika. Lantas IDN Times hadir diantara kita. ^^

    Apa itu IDN Times?

    Tak kenal maka tak sayang, tak kenal maka kenalan dong! Yups,,,pertanyaan wajar ketika kita bertemu dengan wajah baru (meski sebenarnya mungkin dia barang lama :v) IDN Times sendiri hadir untuk seluruh anak bangsa, menjadi semacam wadah untuk mereka dan kita – kita yang menyukai dunia tulis menulis. Menjembatani agar dari hobi tulis menulis tersebut kita tidak hanya panen kata tapi juga panen apresiasi yang beda dari biasanya. IDN Times menawarkan poin untuk para kontributor/penulisnya. ^^
    Lanjut pertanyaan yaa….

    Konten IDN Times

    Konten apa saja yang ditawarkan IDN Times?

    Buaaanyaaak dan lengkap Gan! Bisnis? Ok. Travel? Buanyak. Kesehatan? Ada. Opini? Terbuka. Otomotif? Lengkap. Bahkan TV juga ada hlo.
    Dari konten yang ditawarkan aja udah segitu lengkapnya. Cocok buat semua kalangan, Kakek sama Nenek aja masih bisa ikut nongkrong di situs IDN Times ini.

    Duh banyak banget. Abal – abal enggak itu artikel –artikel yang diterbitin IDN Times?

    Hwaaaah yo jelas kagak Gan! Setiap artikel yang telah diterbitkan IDN Times sudah melewati proses penjaringan yang panjang (tanpa mengulur waktu).
    Semua karya tulis yang kamu submit ke IDNTimes Community akan melalui proses moderasi terlebih dahulu. Editor akan melakukan pengecekan, apakah sudah sesuai syarat dan ketentuan dan layak untuk terbit atau belum.
    Kalau tulisanmu sesuai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku di IDN TimesCommunity dan gak banyak editing, dalam kurun waktu kurang dari 7 hari juga sudah bisa terbit kok.
    Apabila status artikelmu yang tadinya sudah “Pending Review Article” lalu tiba-tiba kembali menjadi “Draft Article”, maka artinya karya tulismu tidak lolos dan belum bisa diterbitkan.
    Noh, kata mas IDNTimes.nya langsung. Jadi, emang bukan artikel abal – abal yang diterbitin sama IDN Times. Karena IDN Times situs wawasan yang baik yang menyediakan artikel terbaik untuk para pembaca yang baik ^^

    Terus, apa keuntungan yang ditawarkan IDN Times buat kita ?

    Ragam artikel IDN Times yang bikin fresh otak ^^
    Sebagai pembaca, kamu bakal menemukan makna kesetiaan yang tidak ada ikatannya sama manusia. Dari beraneka ragamnya tawaran artikel menarik dari IDN Times, kita bakal enggak bosen sama IDN Times, hyah walaupun abis itu kita bakal rada – rada makan banyak kuota tapi itu setimpal dengan banyaknya hal baru yang diberikan IDNTimes dalam memandang sesuatu. Kacamata dan sudut pandang dari para Kontributornya itu nyenengiiin banget soalnya.
    Banjir Poin untuk para kontributor IDN Times

    Lalu, ketika kita udah jadi Penulis / Kontributor di IDN Times kita bakal punya kesempatan mendapat apresiasi berupa poin – poin IDNTimes yang bisa ditukarkan menjadi uang Mak…! Horeeee…jadi punya uang belanja tambahan kan. Bisa buat beli cilok deh. Pas banget buat ruang tulis menulis Emak – Emak yang suka sama uang belanja plus – plus.^^ Untuk penukaran poin dan tata caranya bisa kamu kepoin disini ya.. ^^ Mas IDN Times sudah mengantisipasi pertanyaan wajib para newbie macem ane hlo.. Pengertian banget kan ya ^^

    Ada juga tips – tips biar tulisan kita bisa diterbitkan IDN Times. Klik di sini ya..Makin terbuka lebar deh kesempatan dapet poinnya ^^

    Biar kamu makin semangat ngepoin IDN Times, kepoin juga apresiasi yang ditawarkan IDN Times buat para kontributornya. Kamu mesti bisa jadi salah satunya Gan!

                 So, buruan gabung di IDNTimes!

    halaman log in IDN Times

    Caranya?
    Klik aja IDN TimesCommunity, terus kamu bisa pilih Log In dengan Facebook (kalau saya pilih ini, hehe ) atau bisa juga dengan alamat e-mail kamu yang masih aktif. Abis itu..selamat kamu udah punya kesempatan mendapat banjir point dari IDN Times ^^



  4. Terima Kasih Yang Terlupa

    Tuesday, 24 February 2015

    Bismillaahirrahmaanirrahiim :)




                Perasaan ‘Diterima’ adalah keniscayaan seorang untuk mampu memulai sebuah kisah pun dengan bertahan dalam sebuah kisah. Dan itu hal yang lupa saya ucapkan terima kasih untuk seorang Hammam. Hi Hammam, terima kasih untuk sejumput tanda terima diawal ramadhan perjumpaanmu dengan Ksatria Kedua. Membuka lebar pintu pertemanan diawal perjumpaan kalian. Berawal dari sana, Ksatria Kedua kian yakin akan putusannya belajar di sekolah alam. Terima Kasih Hammam, untuk suntikan keberaniannya. ^_^
    ^O^
                Membawa Ksatria Kedua ditanah rantau bersama saya diusianya yang masih belasan, tak banyak fikir selain pertimbangan memberinya kesempatan belajar (lagi). Konsentrasinya yang mudah teralihkan dan kekurangsukaannya dengan hal administratif (hla dia yang nulis pengalamannya ke gunung Ungaran itu? Itu lain soal -_-) membuatnya enggan meneruskan proses belajarnya di sekolah dasar dekat rumah.
                Dan inspirasi bonus motivasi itu datang dalam “Sejenak Hening” dari Sekolah Alam Bengawan Solo. Dibawaserta oleh Kak Oktina dan Kak Rini serta obrolan lewat tengah malam dengan Pak Yudi, niat itu muncul.
                “Ksatria Kedua harus saya ajak kesini!”  batinku berseru empat lima. Hal lain? Pikir nanti. :v
    ^O^
                Saya ingat benar. Pertemuan saya dengan seorang MasDi pun berlanjut kedua pada event tersebut. Dan efek samping itu muncul dengan gejala serupa pertemuan awal saya dengan Nduk Sesty (Pekan Seni Tidar dari Bengkel Seni UNTidar), MasDi resmi dibuat banyak tertawa oleh saya. Jadilah kesan dia sebagai perempuan Anggun di jumpa awal menguap seketika. Saya, MasDi, dan Ksatria Kedua bertiga menuju SABS dengan Revo Merah.
                Canggung dan penuh kesungkanan adalah hal pertama yang nampak diwajah Ksatria Kedua kala pertama bertemu cahbocah SABS. Saya tidak banyak mencampuri atau mengarahkan bagaimana ia bersosialisasi dengan temannya. Saya membiarkannya menemukan caranya sendiri, menatapnya dari jauh serta memastikan dia dan teman-temannya baik-baik saja, itu sudah cukup. And then? Voilaaa, meski beberapa kali di goda cah-bocah sebab logat bicaranya yang masih NGAPAK banget plus belum NYOLO atau berantakan bahasa Indonesianya, Ksatria Kedua nampak bahagia dan diterima.
                “Mas, aku sayaaang kamu!”Teriak Hammam dari balik jendela mobil yang kian menjauh, melaju menuju Wonogiri.
                Jujur, batin saya malah gerimis. Entah magnet apa yang dimiliki Ksatria Kedua sampai mendapat pengakuan sayang dihari pertamanya. Jujur, saya merasa rugi jutaan sebab tidak paham bagaimana proses interaksi mereka diawal. Hmm setidaknya kalau saya tahu itu bisa jadi bekal saya untuk kelak :v benar-benar rugi, pemirsa. -__- Tapi disamping itu saya memiliki banyak keuntungan, fakta Ksatria Kedua bisa diterima dan mampu membaur sudah menutup rugi jutaan saya itu :”) Hammam, terima kasih untuk kata sayang itu :”)
    ^O^
                Dan ucap terima kasih kian berlanjut pada sosok Abi :D Hi Abi ^_^
                Berangkat dari Solo pukul 06.00 WIB (jam 5 air wudhu harus sudah menempel dipelupuk mata, sejauh ini itu cara ampuh untuk membangunkannya subuhan lantas membisikan, sudah siang sebentar lagi mbak-mbak yang lain bangun, mandi, shalat subuh, sarapan dengan telur asin atau orek tempe) dengan tangan kanan menenteng bekal yang saya siapkan (bekal sederhana serupa biskuit atau jelly yang saya tata sebelum tidur). Bismillah, kami berangkat.
                “Bekalnya dimakan ndak tadi?” tanyaku dalam perjalanan pulang.
                “Aku enggak suka bekalnya, yang suka malah Abi.” Jelas Ksatria Kedua.
                “Hahaha jadi yang habisin Abi?”
                “Iya dihabisin Abi.”
                Bagi saya bekal tak hanya tentang tatanan jajan atau makanan yang dibawa anak ke sekolah, lebih dari sekedar makanan ada keajaiban yang dibawa serta. Melalui sebuah bekal, pertemanan dengan mudah dapat terjalin. Melalui sebuah bekal hati seorang pun meluluh hingga leleh. Pun dapat menjadi sebuah indikator sikap anak bersosialisasi.
                Dengan bekal sederhana yang sengaja saya porsikan banyak, pertanyaan menghabiskan dengan siapa adalah hal wajib yang ditanyakan sepulang sekolah. Deretan nama teman, baik sekelas maupun tidak sekelas akan mewarnai cerita Ksatria Kedua menghabiskan bekalnya. Ada haru yang helas hadir, setidaknya Ksatria Kedua telah belajar berbagi dan berinteraksi dengan lingkup barunya.
                “Makanan adalah obat ajaib untuk meluluhkan banyak hati.” Benar! Dengan Media bekal Ksatria Kedua mulai menjalin banyak pertemanan. Perasaan diterimanya kian banyak. Pun dengan dukungan untuk Ksatria Kedua mulai menabung. Membawa bekal berarti tidak jajan disekolah, jadi uang jajannya bisa ditabung untuk kegiatan night camp atau outingclass. Dan satu lagi,  ada kontrol terhadap apa yang dia makan. Meminimalisir zat zat aditif yang mungkin masuk ke pencernaannya. :D
                Terima Kasih Abi, untuk kehadiranmu yang tak kalah pagi dengan Ksatria Kedua, menemaninya yang kerap kesepian di pagi saya antar. Menjadi partner Petugas Perpustakaan di minggu pertama Ksatria Kedua masuk ^_^
    ^O^
                Terima Kasih untuk langit hangat Sekolah Alam Bengawan Solo.
                Bertemu dengan kalian dimasa akhir pendidikan saya, sungguh menggoda! Tergoda untuk belajar banyak dilangit yang sama dengan kalian, lantas mengesampingkan tiket kelulusan yang sudah berteriak minta dijemput segera (skripsi.red) :D
                Kenapa?
                Sulit menjawabnya. Tapi sangat mudah melihat semangat yang membawa dari setiap elemen kalian. Semangat kalian mempelajari karakter tiap anak didik. Semangat kalian menampung kritik dan saran orang tua anak didik. Semangat kalian membersamai proses anak yang terkadang beda tahap. Semangat kalian menyabarkan diri sembari terus berusaha memberikan yang terbaik. Semangat kalian memaafkan banyak kondisi yang kurang menyenangkan dari sekitar. Semangat kalian saling melangkah dalam perbaikan diri.
                Terima kasih untuk semua yang tak mampu saya tuliskan. Terima kasih untuk semua yang tak mudah saya tuturkan. Terima kasih untuk semua kesediaannya. *nyekaingus*