![]() |
| Critical Eleven |
-
Critical Eleven : Ika Natasha (Review Buku)
Tuesday, 6 February 2018
Bismillaahirrahmaanirrahiim :)
Setelah jauh – jauh hari Cuma tau cari quote – quotenya yang tersebar dri banyak pelosok instagram beberapa bulan lalu Critical Eleven hadir nyata dalam bentuk buku bersama sekawannya Architecture of Love. So lets get reading !!!Masuk diawal kisah, ada perasaan sedikit bosan untuk saya. Ada banyak teori yang menyerta disana. Teori tentang perfilman dan psikologi melupakan. Atau mungkin itu hanya efek dari perkenalan pertama dengan tulisan Teh Ika, tapi selalu sih fiksi memiliki magisnya sendiri. Menuntun para pembacanya untuk melanjutkan cerita.Dalam penampakan awalnya, saya agak meragukan bahwa Anya akan memiliki sifat keibuan yang luar biasa di pertengahan menjelang ending ceriita. Agak timpang dengan kondisi awalnya yang seperti tidak punya tujuan hidup lebih dari sekedar banyu mili. Mungkin itu sengaja diatur Teh Ika agar karakter utamanya finally punya tujuan hidup. Menjadi seorang Ibu yang punya karir konsultan ^^Ada beberapa tanda tanya yang masih saya kurang paham sebenarnya. Dari latar religious keluarga Ale dan Anya, kenapa Anya masih mengonsumi Wine? Ale memelihara anjing? Sebuah tanya yang berdasar pada keharaman minuman beralkohol untuk muslim, dan najisnya air liur anjing. Agak kontra menurut saya. Belum lagi tidak dijelaskannya penyebab Anya keguguran, Teh Ika sejauh yang bisa saya baca hanya mengeksplore kondisi psikis Anya dan Ale dalam menghadapi kehilangan Aidan.Eksplorasi yang tidak sia sia tentunya, sebab kehilangan dan problemnya kerasaaa banget. Ketersiksaannya Anya ketika dijadikan kambing hitam atas meninggalnya Aidan dalam kandungan. Banyak dari kita yang tidak merasakan langsung bagaimana ketika dalam satu tubuh ada dua nyawa. Naluri seorang Ibu akan selalu ada untuk melindungi dan menyayangi buah hatinya. Kebersamaan dalam satu raga sudah menumbuhkan banyak hal diluar prasangka orang – orang yang hanya melihat dari matanya. Melihat tanpa menyerta hati.Bagaimanapun kondisi seorang Ibu Hamil, dia hanya membutuhkan support lahir batin, dukungan untuk bisa tumbuh menjadi seorang Ibu yang baik untuk anaknya kelak. Sayangnya, kebanyakan orang hanya akan mengintimidasi atas apapun yang terjadi pada anak atau kandungannya. Well, ketika harusnya keluarga yang paling mendukung, suami yang harusnya siap mendekap dan membenahi luka kehilangan bersama – sama malah bersikap sebaliknya. Bersikap mementingkan lukanya sendiri. Menyatakan bahwa dialah yang paling terluka atas meninggalnya Aidan, sebab baginya dialah yang paling mencintai Aidan. Lupa bahwa Anya bahkan sudah berjuang melahirkan normal dengan kondisi Aidan yang sudah tidak berdetak jantungnya. Beruntungnya Anya memiliki mertua yang bahkan tidak menyalahkannya, mertua yang sangat paham bagaimana cara membersamai kehilangan itu. Biar bagaimanapun, mereka pernah sama – sama merasakan kehilangan meski diwaktu yang berbeda.Teh Ika resmi mencuri empati saya untuk Anya. Menyadari bahwa kebanyakan orang akan lekas menjustifikasi kepada si Ibu ketika ada sesuatu yang terjadi pada anaknya. Yang saya maksud disini sesuatu yang tidak kita ingini. Sesuatu yang negative. Kondisi kandungan atau anak yang kurang fit misalnya, kebanyakan mereka akan menyalahkan si Ibu, menghakimi si Ibu dan menyatakan bahwa si Ibu tidak hati – hati, sembrono, bahkan sampai menyatakan bahwa si Ibu tidak mencintai anaknya.Itu sangat menyebalkan tingkat banyak.Menjadi Ibu di dunia nyata tidak semudah menjadi Ibu di sinetron atau telenovela, yang hanya dalam beberapa kali ngeden langsung oeeee….oeee…oeee. kemudan disambut script ‘lima tahun kemudian’ lalu akan ada adegan si anak yang lima detik lalu baru lahir sudah lari – lari dalam wujud anak usia lima tahun.Ada proses yang menyita raga dan jiwa untuk menuju buah hati sehat dan bahagia. Menyalahkan si Ibu hanya akan memperburuk keadaan dalam proses perawatan anak. Setiap Ibu selalu butuh dukungan untuk lebih percaya diri membersamai pertumbuhan anak, Ibu bekerja atau fulltimeMommies, mereka sama – sama wanita yang membutuhkan penjaga, pendamping, dan pembersama. Menyalahkan si Ibu hanya akan membuat si Ibu kian frustasi dan merasa tidak nyaman dalam membersamai anak bahkan nyaris merasa enggan.Biar bagaimanapun, pada akhirnya newborn baby itu akan dirawat Ibuknya, tugas keluarga, entah Suami, Ibuk Mertua, atau Ibu sendiri tugasnya bukan menghakimi cara Ibu baru mengasuh anaknya. Tugas mereka mendukung si Ibu, membantu tanpa memburu sesekali jika diperlukan,memberikan makanan pendamping Busui, menjaga kondisi psikisnya agar keep positive.
Teh Ika..selamat, kamu berhasil menguras empati saya untuk Anya, dan berhasil bertepuk tangan untuk Ale dalam mempertahankan rumah tangganya dalam proses perbaikan. He is cute husband ^^Posted by RisaRiiLeon at 08:52 | Labels: Buku, Fiksi, rumah aksara | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Hujan Matahari: Rintik Inspirasi Penghangat Nurani
Tuesday, 16 December 2014
Bismillaahirrahmaanirrahiim :)
Rabu, 08 Oktober 2014“Tulisannya bagus sih Nduk, tapi kok malah jadi menye-menye gitu ya?” lempar seorang kakak retoris seusai membaca buku rekomendasi saya. Dan saya meringis, siap melempar linggis *jikaada*.Hari ini tulisanmu telah ku babat habis. Tidak habis dalam arti yang sebenarnya, tapi setidaknya sudah terbaca sebagian besar. Lantas memberikan nasib sama dengan buku-buku lainnya, bukumu saya bawa kemana-mana. Saya pamerkan dan saya ajak yang lain untuk membacanya pula. Dan respond diatas adalah yang menggunggah saya menuliskan ini untukmu, bukan ding! Amm lebih tepatnya untuk melegakan hati saya.^O^“Hujan Matahari” mengemas banyak cerita beraroma hikmah dengan sangat pekat. Tak jarang pada lembarnya ada tetesan haru yang menyaru hingga mengaburkan pandangku. Beberapa dengan tepat menginjeksikan cairan bawang dimata saya. Memang tulisanmu terkesan sangat perempuan, tapi sungguh tak terlintas sedikitpun itu sebagai indikator ketidakjantanan. -_- Ayolah, bukankah itu malah baik? Setidaknya itu menandakan bahwa kamu paham bagaimana sisi seorang perempuan memandang. Dan memahami perempuan melalui lembutnya sebuah tulisan itu tidak membuat si laki-laki kehilangan apapun kan? Sama seperti saat laki-laki menangis? Dia tidak kehilangan apapun kan? Bahkan semakin lengkap sebagai manusia. :”)^O^Hujan. Besertanya doa-doa melangit dengan leluasa. Besertanya dosa-dosa meluruh seketika. Besertanya pula banyak cerita bermula. Besertanya lagu-lagu rasa muncul dipermukaan, memunculkan kubangan kenangan yang enggan dilupakan. Besertanya inspirasi-inspirasi itu mengudara dalam kebebasan imaji. Bersertanya tanah, rumput, daun, serta akar bersenyawa mengabarkan petrichor dalam nafas-nafas air. (RisaRiiLeon, 15/12/2014)Hujan Matahari adalah satu kawanan air yang menginspirasi, menyumbangkan sebuah kacamata penuh hikmah guna memandang rencana.Nya yang kerap jauh dari duga. Menguatkan dalam kelembutan. Terima kasih untuk berbagi kesempatan mengenakan kacamatamu, Tuan :”). Ini bukan rayuan. Sungguh! Bodoh jika saya mencoba merayumu melalui alinea sederhana tanpa bunga metafora ini. Pun mengingat betapa jual mahalnya kamu.Sebab jelas, saya tidak ada niat menawarkan hidupku untuk mengamanahkan sebuah rasa kepadamu. Pun dengan saya yang belum berminat sekedar memberi perhatian apapun untukmu. Juga dengan rupaku yang biasa saja, hartaku yang Cuma raga, darahku yang hanya merah tanpa biru, dan lebih dari itu semua titipan semata :D Jelas, saya tidak memiliki apa-apa untuk ditawarkan atau berikan untukmu. Tulisan ini murni testimoni untuk sebuah prestasi berbagi dari seorang penyuka Hujan. ^_^^O^Tanpa perlu berbohong, hujan memang kerap merubah banyak agenda saya. -_- Menunda beberapa agenda sebab rintiknya yang kerap membuat sakit. Dari omelan bunda juga larangan rekan kerja untuk menunda aktivitas selama hujan menjajah semesta. Tapi sungguh! Sejujurnya beserta Hujan saya sering bahagia. ^_^ Selain sebagai alarm pengingat masa kecil yang penu canda. Hujan-hujanan adalah teguran Allah kepada saya untuk pelan-pelan berkendara. Lebih menikmati perjalanan dan percakapan dengan diri. :D dalam laju yang melambat, dalam diam hati saya berisik berbincang. Membincangkan banyak hal yang sudah atau belum terjadi. Hahaaha semacam terapi menanti seorang yang kerap akan saya ajak berbincang banyak hal :v Pun dengan hadirnya ruang resonansi maha besar yang maha merdu mengalunkan lagu rindu. Tentu kamu sudah mendengar bahwa hujan memiliki kemampuan menhipnotis manusia untuk meresonansikan ingatan masa lalu dan mengabarkan sebuah rindu. Dan hujan pula bukti betapa langit dan bumi masih saling jatuh hati dalam meski. Ya, meski keduanya tidak memiliki satu kesamaan perihal fisik dan fungsi. Tapi langit dan bumi masih memiliki rasa untuk melindungi serta mengisi satu sama lain.Melalui hujan. Bumi dengan kerendahhatinya mempersembahkan enambelas juta ton air, menguap dan mengabarkan pesan cinta melalui selokan, parit, sungai, telaga, danau, hingga samudra lewat awan juga deru angin diangkasa. Pesan cinta hadir dalam proses kondensasi, menjelma dalam gumpalan awan mengandung titik air lantas terjun bebas dengan kecepatan delapan sampai sepuluh kilometer per jam. Proses jatuh yang menyampaikan betapa ramainya langit merindu bumi. Mengembalikan lima ratus lima kali seribu dua puluh satu ton air. Selalu dan pasti, sejumlah yang bumi berikan untuk langit. Tanpa pernah berkurang. Air-air itu yang telah membumi atau melangit adalah pesan cinta yang sama dari zaman dahulu kala. Abadi dalam siklusnya menghidupi banyak kehidupan. Pesan cinta yang tak lekang oleh waktu. Serasi dalam takaran yang seimbang dan sesuai kebutuhan. Langit dan Bumi melalui hujan, jatuh cinta sepanjang masa. Berlandas rela menjalanni titah Rabbnya.Lalu Hujan Matahari, layaknya hujan yang menginspirasi serta menjembatani banyak ide. Matahari adalah bintang kehidupan. Matahari satu saja sudah menghidupi, apalagi jika banyak? :D Hmmm benar, Hujan Matahari itu serupa banjir hikmah. Sampai bingung harus bagaimana :v Tidak, tidak hanya bercanda. Tapi jujur ya, satu matahari saja sering menyilaukan, apalagi banyak :v Saya sempat terbutakan kisanak! Terbutakan atas apa? Atas kamu -__- Sempat saya kira kamu manusia setengah dewa -_- sebuah prasangka yang hadir tidak pada tempatnya. Maafkan. Ya, wajar dong. Sosokmu yang begitu ammm ‘pas’ mengutarakan frasa mampu menghadirkan perkara dengan sangat bijak. Ceritamu yang sederhana namun mengena, itu. Ya itu yang membuat saya sempat buta. Tenang! Tenang saja, akal saya masih bekerja kok ^_^ Saya tetap akan memandang kamu sebagai manusia sehingga saya tidak akan terkejut dengan kemungkinan kamu memiliki sesuatu yang tidak baik :P Sudahlah, intinya saya berterima kasih atas hujannya. Ayo hujan-hujanan (lagi)! ^_^Posted by RisaRiiLeon at 02:18 | Labels: Buku, Hujan, Kacamata Risa | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Negeriku Berduka, Negeriku Menangis
Saturday, 10 May 2014
Bismillaahirrahmaanirrahiim :)
Alhamdulillah buku antologi cerpen saya selanjutnya :D sudah terbit. ^^
Buku Antologi Cerpen dari Event Negeriku Berduka Negeriku Menangis
Buku: Negeriku Berduka Negeriku Menangis
Penulis: A. Raissa, Ifa Avianty, Rere Zivago, dkk
Diterbitkan oleh: Pena Indis
ISBN: 978-602-1334-04-1
Pemerhati Aksara: Nitha Ayesha
Tata Letak: Fandy Said
Desain Cover: Fandy Said
Ukuran buku: 14 X 20 cm
Tebal Buku: 164 hlm
Harga: Rp. 40.000,- (Di luar Ongkir)
Masa Pre Order: 29 April s/d 10 Mei 2014
(Khusus kontributor yang pesan dan transfer masa pre order diskon 15 %, di luar masa PO diskon normal 10 %)
Cara Pemesanan:
SMS/WA ke No. Hp 081327714422 (Ukh Nitha)
Atau melalui pesan fb ke akun Pena Indis (https://facebook.com/pena.indhis)
Dengan format : Judul Buku_Nama_Alamat Lengkap_No HP_Jumlah Pemesanan
Atau via Toko Buku Pena Indis Online di www.indhisbook.com
Sinopsis:
“Tuhan, marahkah Kau pada kami? Hingga Kau luluh lantakkan negeri ini?”
Kantung-kantung air mata mulai mengering. Lengkung senyuman langka, yang ada hanya tangisan, teriakan dan ronta ketakutan. Seolah-olah terbangun dari mimpi buruk. Perasaan hati yang berkecamuk. Sulit untuk menerima kenyataan, bahwa negeriku kini mengamuk. Media berkicau, Indonesia gawat darurat. Bencana alam, gempa, banjir, tsunami, tanah longsor menghantam beberapa kawasan Indonesia. Alam marah, bumi bergoyang, langit menangis, angin berhembus kencang, ombak menerjang, dan luapan air bah segala material, semua seolah rata dengan tanah.
Indonesia terancam. Pada siapa hati mengadu? Tuhan, sentilanmu begitu dahsyat. Sedetik yang lalu memang tak bisa diulang, sedetik yang akan datang tak dapat dibayangkan. Kini, hanya dengan sekali kedipan mata. Senyuman berganti jadi tangisan. Kebersamaan bisa berganti jadi kesendirian. Suasana aman bisa jadi genting dan sangat menakutkan. Kini, semua itu benar-benar terjadi. Apakah ini ujian dari Tuhan untuk menilai kesabaran di antara hamba-Nya? Atau ini adalah teguran karena manusia yang merusak bumi secara perlahan? Alam sedang marah?
(Dela Oktadiani)
Semoga kisah-kisah yang terangkum dalam buku ini bisa menginspirasi kita untuk mencintai bumi yang Allah titipkan untuk kita jaga.
Kontributor:
A.Raissa, Ifa Avianty, Rere Zivago, Eclair Auclair, Medina Azzahra, Anggi Putri, Hermawan Satya Budi, Iwan Al Wa’di, Jayadi Oemar Bakrie, Mas Ipin, Masita Rauf, Ricky Ramadhan D, Mutiara Kurniati, Nazri Z Syah Nazar, Nisa Utami, Achmad Burhanuddin Faqih, Rifqah Husnul, Riyanti Binti Rachmad, Seruni Warakandi, Sonya Hero, V.n. Aini, Yunita Nurisfa Mayasari, Rahmi Mardatillah, Irsyadiyah, Yhulis, Wildan Fuady, Wika Mardiyah, Frandhy Rizal, Ummu Maila, Risa Rii Leon, Mahfudz Ahmad, Hulya Ashfie, Sofia HD, Hikari Kagawa, Elnina Zee, Chiizumi, Yulyana Safitri, Asty Hanani, Anis S. Shoclichah, Aidaku Niraya, Dela Oktadiani, dan Fajriatun.^O^
Sepatu Kalpataru Untuk EmakDia terus berlari, menerjang hujan yang kian menghujam tubuh kecilnya. Dia harus cepat sampai rumah, memastikan kebenaran berita burung yang di dengarnya tadi siang.“Tong, rumeh lu kebanjiran!” Cuma sepotong kalimat itu yang membuatnya berlari kesetanan malam ini.Seusai menutup toko kelontong milik Koh Acong tempat ia mencari nafkah, ia berpamitan. Tanpa persiapan apapun, ia hanya ingin cepat pulang, melihat emaknya tersenyum .Selalu seperti itu, Otong pulang dari kota, membuka pintu kardus yang dibingkai bambu sisa pembangunan pabrik dekat rumah mereka, kemudian mencium tangan emaknya yang beraroma semangat dengan penuh takzim, dan emak akan mengelus rambut anak semata wayangnya itu dengan lembut teriring kalimat menangkan.“Emak baik baik aja Tong, lu baik baik juga di rumah orang. Jaga amanah yang udah di kasih ke lu baik baik. Kita emang orang enggak punya tapi kita punya Allah yang bakalan ngasih apa yang kita butuhin setelah kita usaha.”Tanpa perlu banyak kata, Emak tahu kepulangan putranya selalu membawa rindu, tidak penting bingkisan apa yang menyertai kepulangan putranya itu, baginya melihat Otong pulang dalam keadaan sehat adalah nikmat Allah SWT yang tak terbantahkan.Sayangnya, tidak untuk Otong, setiap bingkisan yang menyertainya pulang adalah bagian dari ragam cara ia menyatakan cinta pada emaknya. Dia bukan si penggombal ulung yang selalu sanggup membuat siapapun melayang sebab lontaran sebuah kalimat, bukan pula seorang yang akan merajuk dengan kalimat kalimat manja agar diperhatikan, bahkan untuk sekedar memanggil emaknya dia tak sanggup.“Tong, kebanyakan manusia di dunia ini masuk neraka karena lisan yang tidak terjaga, lisan yang terkadang melukai tanpa disadari, lisan yang sering lincah menggunjing, Juga lisan yang dihias penuh dusta. Lu harus bersyukur dengan keadaan lu sekarang ini, sebab dengan keadaan lu ini, lu udah dimudahkan untuk menutup satu pintu penyebab dosa menumpuk.” Dan Otong akan tersenyum bangga pada emaknya, teriring anggukan untuk syukur tiada tara memiliki emak seperti perempuan di depannya.Otong terus berlari, dan hujan masih tanpa tahu diri mengguyurnya yang kian kuyup. Otong harus cepat sampai rumah, batinnya berteriak. Bersama genggaman ditangannya yang kian mengerat, diapun mempercepat laju kaki bersandal aus itu.^O^Melalui ragam gerak dan isyarat, Otong bertanya pada orang orang di sana. Pada bapak berseragam, pada manusia berkamera, pada rekan satu profesi, juga beberapa tetangga yang ia kenal. Dan mereka hanya menggelengkan kepala, atau mengusir dengan tatapan, “Haiisssh mengganggu saja!”Mereka, orang orang itu, yang mengaku peduli dan ingin menyelamatkan, mereka tidak peduli pada Otong, mereka tidak menggagas Otong yang juga harus diselamatkan. Selamatkan ia dari status sebatang kara! Otong duduk dalam keputusasaan, hendak menyalahkanpun tak akan merubah keadaan. Hanya doa yang mampu ia rapalkan dalam dalam, berkali kali.“Ya Allah, semoga Emak baik baik aja, dan jika masih diijinkan, Otong ingin meluk Emak sebelum Engkau memeluknya di surga.”Untuk seorang Otong, emak adalah harta seluruh dunia dikali tujuh, tak akan ada yang mampu menggantikannya. Bersama Emaknya, Otong menjadi jutawan cinta yang hidup bahagia meski serba seadanya. Sarapan pukul sebelas siang setelah menukarkan hasil memulungnya sedari pagi, pun dengan lauk sambel terasi dan orak arik telur seharga tiga ribu rupiah. Tidur beralas kasur tipis dengan dinding seng yang membuat gerah kala siang. Emak adalah pahlawan tanpa tanda jasa untuk Otong. Emak dengan keranjang dipunggung dan sebuah tongkat multifungsi ditangan kanannya, memilih dan memilah ragam sampah yang masih bisa dimanfaatkan, dikumpulkan lalu ditukarkan dengan beberapa lembar kapitan patimura. Emak adalah pahlawan, tak hanya untuk Otong, tapi juga untuk penghuni Jakarta Raya. Emak dan semua rekan rekan pemulungnya, mengajari Otong banyak hal. Tentang siklus kehidupan, bagaimana sebuah ciptaan harus menjadi berguna meski dunia memandang sebelah mata. Ketika manusia manusia lain memandang sampah sebagai benda tak berguna, Emak dan rekan lainnya melihat sampah sebagai ladang pahala. Proses pendaurulangannya, keikhlasan Emak terpandang sebelah mata, juga keihsanan Emak hidup di pesisir Sungai Ciliwung ini.Kemudian setelah apa yang dilakukan Emak dan rekan rekannya pada lingkungan ini, haruskah Emak yang menjadi korban kebinalan manusia manusia kota membuang sampah sembarangan? Bahkan melalui tangan keriput Emak Sungai Ciliwung tidak tersedak sampah terlalu banyak. Bahkan melalui kaki telanjang Emak Sungai Ciliwung tak sedangkal pemikiran orang orang kota. Dan bahkan Emak tak pernah meminta Kalpataru atas seluruh tindakannya.Tangis Otong melebur bersama riuh hujan, lidahnya asin menelan getir air mata dan keringat di dahinya, asin itupun berlahan menjadi pahit, bingkisan itu belum sempat ia berikan pada pahlawannya.“Emaaakk...” seru Otong susah payah mencoba bersuara, dan yang terdengar hanya serupa teriakan tak jelas. Laranya terbungkus gemuruh petir juga lolongan mobil bantuan. Keramaian yang membuatnya tak sadar akan sebuah kehadiran.“Otong, Lu ngapain masih di sini, Emak Lu nunggui Lu di tenda pengungsian.” Colek seorang tetangga mengagetkannya.Dengan wajah terperangah ia melangkah di belakang sang tetangga yang juga rekan seprofesi Emak. Otong diam, berkali mengorek telinganya, takut jika salah dengar. Berkali mencubit pipi, khawatir jika hanya mimpi.Dan di sana, dalam rimbunnya lalu lalang para pengungsi, ada sosok manusia berbadan gempal, dengan senyum hangat suam kuku, dan binar penuh semangat, juga jilbab kumal aroma surga, sedang duduk menantinya. Lisannya sibuk mengingat asma Allah teriring tangan bersenandung dengan tasbih alamiah. Melihat kedatangan putra semata wayangnya, Emak segera beranjak, menghambur haru dalam peluk Otong.“Lu baik baik aja kan Tong? Lu enggak kenapa kenapa kan?” serbu Emak terhias isak.Otong hanya mengangguk pasti, harta dunia dikali tujuhnya sudah kembali. Otong tak lagi sendiri. Otong menatap lekat lekat sosok di depannya, menghapus air mata Emak, dan menyerahkan bungkusan yang sedari tadi ia genggam.“Sepatu Boots?” tanya Emak seusai membuka bingkisan terbungkus kresek hitam.Otong hanya mengangguk, tersenyum pasti.“Buat Emak?”Otong kembali mengangguk, tersenyum, dan memperlihatkan sebaris surat yang ia tulis dengan susah payah, les berbulan bulan dari anak majikannya yang kelas lima SD, tiga tahun dibawahnya.“Ini buat Emak. Sepatu untuk melindungi surganya Otong yang ada ditelapak kaki Emak. Semoga Emak suka.”Dan bahagia yang berlebihan itu membisukan Emak, membuatnya mengeratkan pelukan pada buah hatinya. Emak bahagia tanpa banyak kata, dan tanpa perlu banyak harta. Dan bahagia menjadi begitu sederhana, sebab sepasang sepatu yang akan melindungi kaki dari kerikil kerikil tajam, juga dari tusukan beling berkarat yang diberikan penuh cinta oleh putra satu satunya.Posted by RisaRiiLeon at 11:48 | Labels: Buku, Fiksi | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Menepuk Udara (Versi Give Away #StayInLove)
Saturday, 8 March 2014
Bismillaahirrahmaanirrahiim :)
Sabtu, 8 Maret 2014Ceritanya pas itu iseng iseng ikutan Give Away buku #StayInLove.nya dek
Ceritanya ikut Give Away #StayInLove.nya Nisa Maulan Shofa yang di share rekan twitter. Membaca beberapa persyaratannya di kawah kegalauannya dek Nisa ini sepertinya cukup menarik, dan dengan niat menggebu, berharap menjadi pertama yang mengisi inbox emailnya :D, sayapun ngebut buat fiksi mini sesuai tema :D tiga puluh menit, dan taraaaa :D jadilah ini :D
^O^“Untuk apa merasakan bahagia karena dekat dengan seseorang yang kamu cintai, tapi ternyata dia mencintai gadis lain sedang hatimu terus digerogoti cemburu?” tanya Nara penuh tikam disela tangisku.“Untuk melihatnya tetap bahagia Ra.” Jawabku lirih.“Kamu bodoh Nis! Ayolah Nis jangan bunuh diri dengan cara konyol seperti ini!” tegasnya kembali.“Sebab mencintai terkadang tentang meletakkan bahagianya diatas bahagia kita, Ra.Melihatnya bahagia meski bukan karena kita. Mengikhlaskan dia bahagia meski tak bersama kita.” Belaku ditengah tangis.“Dan setia pada cemburu yang kamu tutup tutupi?!” sindirnya tajam “Kamu sama saja bunuh diri dengan bom waktu ditangan Nis!”Mungkin benar, cemburu adalah magma yang selalu siap bererupsi kapan saja, terlebih jika terpendam begitu lama. Terpendam bersama bahana tawa saat ia bercerita gadisnya. Terajut oleh manisnya kisah dia dan gadisnya diberanda sosial media. Sebuah cemburu yang membuat tuli dan buta. Tuli pada hati yang sejatinya menjerit ingin memiliki. Dan buta untuk tahu ada hati yang selalu menemani sedekat nadi. Nara, andai kamu paham betapa tidak menyenangkannya keadaan ini. Aku pun ingin mampu mencintaimu, seperti aku mencintainya. Sayangnya, hanya maaf yang mampu ku cerna untuk menjawab semua tanya. Maaf untuk tangan yang bertepuk tanpa bunyi, sebab hanya satu yang terangkat. Menepuk udara hingga terluka.^O^Sama dek Nisa juga dimuat di blognya :D
disini.... ^_^ Happy Reading :) Thanks a lot Dear ^_^
Posted by RisaRiiLeon at 07:22 | Labels: Buku, Fiksi, Fiksi Mini | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Bukan Wanita, Tapi Perempuan Dewasa!
Thursday, 27 February 2014
Bismillaahirrahmaanirrahiim :)
Judul : TOKOH (Pemenang Antologi Lomba Bertema “TOKOH”)
Pengarang : ECA LOVERS
Ukuran : 14 x 20 cm
Tebal : vi + 105 hlm
Harga : 32.000
Ketik: TOKOH# NAMA LENGKAP # ALAMAT LENGKAP # JUMLAH # NO TELP
Kirim ke : 082333535560
Nanti Anda akan mendapatkan SMS No.Rek dan jumlah yang harus dibayarkan.
Sinopsis:
Sosok tokoh atau seseorang terkadang mampu membuat diri kita merenung dan menunduk lebih dalam. Mungkin kita jauh lebih beruntung darinya yang harus menghadapi cerita pahit dan susah dalam hidup. Atau sebaliknya kita ingin menjadi manusia yang lebih baik dan lebih bermakna dengan mengikuti jejaknya dalam hidup yang membahagiakan atau mengambil secuil semangat dari kisahnya.
Buku ini berisi antologi kisah nyata tentang tokoh yang dikagumi, idola kebanggaan, atau seseorang yang disayangi sehingga menjadi motivator atau inspirator bagi para penulis. Sebuah buku sederhana yang membuka mata kita tentang berartinya sosok tertentu di hidup kita.
Kita selalu bisa mendapatkan pelajaran dari setiap orang, apakah ia orang baik atau jahat. Kita dapat memetik pelajaran dari orang yang kita temui. Yang baik dari dia menjadi contoh untuk ditiru dan yang tidak baik menjadi contoh untuk tidak diteladani.
Lewat cerita-cerita penuh hikmah ini, kita akan lebih bisa mengelola hati agar menjadi manusia yang lebih arif dalam memahami makna kehidupan.
Kontributor:
Adinda Zetya Salsabila, Annisa Yumna Ulfah, Ayuke Mentari, Desih Sukaesih, Dhya Rahmani, Dini Nurdianti, Dyah Istiani, Eny Lupita Sari, Lela Rahmat, Maftuhatus Sa’diyah, Mitri Komalasari, Nenny Makmun, N. Kirana, Nur Aini, Nuri Fadlilatin, Oktaviani, Putri Ayu Maryam, Putri Larasati Wulandari, Rabiatul Adawiyah, Reni Agustini, Rere Zivago, Risa Rii Leon, Ruhaini, Singgih Prayogi Hidayat, Ulil Latifah, Witri Prasetyo Aji, Yuan Yunita, Yulita Rohman, You Nie Iyyun, Zarratul Ziand Zainia.
Dan ini adalah coretan tinta -Risa- :")
^O^Kesederhanaan adalah atmosfer yang dikenalkan orang tuaku sejak lahir. Sapaan aroma tanah dan embun dari pucuk pohon adalah sarapanku setiap hari. Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning dengan punggung menghadap ke langit. Mengairi sawah dengan tetesan keringat cinta. Malam demi malam mereka rangkai dalam benang benang rajutan mesin jahit. Dan aku mempunyai seorang kakak, tiga tahun lebih tua dariku.Dia perempuan, namun untuk ketegarannya seperti laki-laki.Menjadi pertama tidak selalu menyenangkan, terlebih untuk sebuah tongkat estafet regenerasi manusia. Ada amanah indah terpasung dipundak. Lebih dari sekedar kata pertama, namun ada sebuah keutamaan atas peran perdana itu. Ing ngarso sung tuladha. Di depan memberikan contoh. Pertamapun demikian. Menjadi teladan bagi adik adiknya. Terdepan mengabarkan. Pertamapun selalu demikian. Menjaga adik adiknya dengan kedisplinan dalam lembutnya akhlak. Dia menjadi contoh terindah untuk refresnsi bertindak. Dia menjadi pembicara dan pendengar terhebat saat dunia tak sempat melirik atau menyediakan telinga bagiku. Bukan menasehati, hanya menemani dan mengerti. Tak pernah menyalahkan ataupun membenarkan, namun mengarahkan kemana harus berjalan atas apa yang terjadi. Saat itu aku lima tahun dan dia delapan tahun.^O^Dia masih perempuan, namun lihatlah apa yang dia lakukan pada rambutnya. Cepak, pendek. Memangkas ciri perempuan pada umumnya. Membiarkan tengkuknya terbakar surya karena mengayuh sepeda sepanjang tiga kilo meter setiap senja. Membantu Bunda mengepulkan asap dapur dengan ojek sepeda. Dan lihat pula apa yang dia kenakan. Celana trining siap pensiun di dapur Bunda. Dan apa pula yang dia kerjakan? Dia memanjat genting rumah. Gerakan preventif menyambut musim hujan. Melupakan bahaya gravitasi bumi. Semua hanya demi perlindungan pada penghuni rumah. Mensponsori kenyamanan dalam gubuk sederhana itu. Saat itu aku delapan tahun, dan dia sebelas tahun.^O^Dia tetap seorang perempuan, namun lihatlah! Dia begitu sederhana ditengah berkilaunya gadis remaja dalam pubertasnya. Rambutnya mulai sebahu. Kadang tergerai, tak jarang pula terikat oleh karet gelang. Bukan tergerai penuh kilau hasil rawatan salon. Dia telah cukup indah dengan tetesan air endapan kulit padi. Tidak juga terhias pita pita indah penghias mahkota. Bukan konsumsinya, ucapnya. Dia seperti mawar. Cantik dalam kesederhanaan. Indah dalam ke-apaada-annya. Hanya butuh kelopak dan tangkai tanpa perhiasan bunga lain, dan ia masih tetap mampu menjaga dirinya sebagai seorang perempuan. Menjaga kodratnya untuk mengayomi dengan kelembutan dan kehangatan adab tindak. Menjaga kewajibannya untuk tetap merangkul adik adiknya penuh amanah. Saat itu aku tiga belas tahun, dan dia enam belas tahun.^O^Dia bukan wanita, melainkan perempuan dewasa. Kata wanita yang mengandung unsur pengabdian dan mendampingi serta menyenangkan pria. Muatan makna aktif, menuntut hak tak termuat dalam kata wanita. Sehingga wanita harus mengabdi setia pada tugas tugas pria. Suka atau tidak suka, itulah tugas dan lelakon yang harus dijalankan wanita. Namun tidak untuknya, perempuan adalah penjaga keselamatan, pencegah kelenaan pada gravitasi hidup yang sering menjatuhkan.Kata ‘sederhana’ memberinya kekayaan hati yang tak terperi. Sekalipun dia terjatuh itu hanya untuk bangkit kembali dengan kekuatan lebih. Bukankah semakin besar tekanan, maka semakin besar pula kekuatan yang dibangun? “Jikapun kau pernah terluka dan hampir mati olehnya, bukankah itu malah akan menguatkanmu?” bisiknya selalu sembari menbelai rambutku.Dia menangis tersedu disamping Bunda, aku mengintipnya di balik tirai kamarnya. Menjaga jarak, dan menyembunyikan cinta juga kekhawatiran atas tangisnya dengan rapi. Dia tersakiti oleh jarak yang akan dia jemput dalam rangka mencari ilmu di tanah seberang. Menuruni tanah gunung yang hijau, dan memasuki daerah metro. Lebih dari sekedar urbanisasi, namun menjurus pada proses menyatukan mozaik mimpi mimpi besar dalam raga seratus lima puluh sembilan sentimeter itu. Aku sudah merindu sebelum dia beranjak. Saat itu aku empat belas tahun, dan dia tujuh belas tahun.^O^Dia telah menjadi kupu kupu yang bermetamorfosa dari kepompong. Dari seorang gadis lugu, menjadi perempuan dewasa yang berilmu. Perempuan pertama yang mampu memberi contoh adik-adiknya. Perempuan pertama dalam garis keturunan keluarga bernama cemara. Sederhana dan apa adanya. Perempuan yang tanpa lelah berfalseto guna mengajak displin adik adiknya meski sang adik mulai lelah dalam prosesnya. Perempuan yang selalu terbangun pukul dua dini hari. Mengukir sujud di tengah kolaborasi derik serangga malam dan deru mesin jahit. Merapalkan ayat ayat cinta untuk mereka yang terlelap dalam atap rimba sederhana ini. Merangkai selimut keselamatan dan kemudahan dalam langkah langkah di depan mata. Menyusun mimpi-mimpi guna membangunkan mereka yang masih enggan membuka mata. Saat itu aku tujuh belas tahun, dan dia dua puluh tahun.^O^Untuk seorang perempuan di depan laptop yang selalu menyiapkan senyum termanis saat menjumpai orang lain. Membuat mereka yang menatap enggan berpaling.Untuk seorang perempuan di depan laptop yang sedang menuliskan syair syair hidupnya dalam guratan kata sederhana penggugah jiwa yang lena.Untuk seorang perempuan yang tetap menari meski ombak hidup berkali kali menjatuhkannya.Untuk seorang perempuan yang Tuhan takdirkan untuk menjadi panutanku. Perempuan pertama dalam garis keturunan keluargaku. Perempuan pertama yang aku panggil “kakak”. Terima kasih kakakku yang manis dan cerdas J. Cerdas lahir maupun batin. J Semoga rapalan doa kita akan tetap terus saling menghangatkan. Lengan doa yang mampu mengalahkan angkuhnya jarak.Posted by RisaRiiLeon at 21:01 | Labels: Buku, Fiksi | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |


