Rss Feed
    Showing posts with label Serial Anak Kost. Show all posts
    Showing posts with label Serial Anak Kost. Show all posts
  1. Agar Perca Lebih Berguna.

    Friday, 22 August 2014

    Bismillaahirrahmaanirrahiim :)


    Jumat, 22 Agustus 2014
                Memanfaatkan kain perca menjadi sesuatu yang indah dimata itu seperti memberi kesempatan kedua agar si perca menjadi lebih berguna :”) Dan masih memegang prinsip “kalau bisa buat kenapa harus beli?” :P saya mencoba membuat jarum bunga :D
                Potong kain perca menjadi ukuran kecil memanjang, untuk ukuran lebar disesuaikan dengan kebutuhan dan selera. Berhubung saya akan membuat jarum bunga untuk lebar saya memilih 2-3 cm sebagai ukurannya, lain lagi kalau untuk bros biasa (4-5 cm).
                Kain kecil memanjang sudah siap dijahit jelujur ^_^ Jika sudah sampai ujung kain, tarik benang hingga kain akan berkerut, lantas bentuk menjadi lingkaran ^_^ Duh agak susah nih bilangnya, biarlah gambar yang menjelaskannya :v
                Kalau bunganya sudah jadi, tambahkan kancing baju sesuai selera sebagai putik bunganya. Udah? Siap deh ditempel jarum pentul :D






    Alat dan bahan yang dibutuhkan


                




     Potong kain menjadi bentuk persegi atau persegi panjang, kemudian tentukan bagian tengah kain tersebut,terapkan tusuk jelujur. Tarik benang seperti saat membuat bunga lingkaran tadi :”) jadi deh pitanya :D







     

  2. Bismillaahirrahmaanirrahiim :)


    Jumat, 22 Agustus 2014

                Belajar semalam dengan Kakak Ismi, menggulung-gulung kertas menjadikannya benda 3D :D ah yaa, malam ini berlalu tanpa ditunggu. :”) So. To the point yak :D Alat dan bahan yang dibutuhkan :D
                Berhubung kami benar-benar hanya memanfaatkan apa yang tersedia, kami membuat kertas quiling secara manual, caranya memotong kertas lipat berbagai warna menjadi kertas dengan ukuran kecil memanjang, lebarnya 3-6 mm atau sesuai kebutuhan saja. Tapi, ingat! Tidak semua kertas lipat bisa digunakan. Kami menggunakan kertas lipat yang seratnya bukan putih, jadi semua kertas yang dilihat dari berbagai sisi itu warnanya sama. :D
                Seusai membuat kertas quilingnya, kami menggulung secara manual tanpa menggunakan jarum quiling ataupun quiling mate.nya :D lantas sesudah menggulung kertas tersebut kami bentuk dan susun sesuai selera dengan menggunakan lem kayu :v Lem kertas kurang rekat di bahan kami :D
                So, inilah bentuk susun kertas quiling kami ^_^
                *newbie :D


















      *yang ada kata ISMI nya itu punya Kak Ismi :D Keren kan ^_^ itu belum kelar tapi :D kalau udah kelar, insya Allah saya share deh :)

  3. Kamu, Catatan Yang Menghilang

    Sunday, 10 August 2014

    Bismillaahirrahmaanirrahiim :)



    Minggu, 10 Agustus 2014

    By Risa Rii Leon

                Ingat, pesan singkatku beberapa hari lalu? Pesan satu kirim seribu yang juga saya alamatkan kepadamu? Ya, itu permintaan tolong saya atas kondisi Wildan yang koma. Wildan sakit dan tentu saja, saya menjadi makhluk tidak berkutik. Tak mampu menjamah deadline yang sudah siap mencekik, pun tak mungkin menuliskan apa yang terlintas dalam guratan file doc.
                Sementara Wildan dibawa oleh seorang, saya membawa si Kadal, nama yang saya sematkan untuk notebook seorang itu. Sebab dia menolak nama wildan -_- mengejanya menjadi wild-done, not well done. Memilih calm-done hingga saya plesetkan menjadi kadal. Kamu harus terima itu, Kisanak! :P Nyata, Kadal banyak membantu pemenuhan deadline saya ^_^ Ya, saya harus tetap berterima kasih sebab tanpamu Bab I hingga Bab III saya hanya akan menjadi draft fiktif.
                Dan malam ini, sekembalimu ke Solo. Kamu mengembalikan Wildan dengan baik-baik saja. Ah ya, saya rindu Wildan, meski katamu Wildan tak merindukan saya -__-.
                “Hla selama tak bawa enggak rewel, enggak nangis juga. Ketoke wis lali mbi kowe :D” ujarmu.
                Percakapan malam ini tak jauh dari proses PPL kita yang akan segera datang, pun dengan agenda organisasi atau pencarianmu tentang hunian baru :D hingga saya tersadar, ada satu folder tidak ada ditempatnya. Sebuah ruang pena selama nyaris empat tahun. Catatan-catatan tentang kenang yang coba saya lestarikan dalam minimnya kapasitas ingatan saya. Surat-surat dengan alamat hati yang tak akan pernah saya kirimkan. Pun dengan beberapa karya yang sudah diterbitkan atau belum diterbitkan. Juga draft tulisan saya yang lainnya. Jejak pena untuk kerajaan kenangan yang belum sempat saya realisasikan. Hmmmm semua tintaku di sana. Dan sekarang tidak ada.
                Boleh saya menangis? Iya, saya memang cengeng.
                Barangkali akan sangat sepele dimata kamu, menangis sebab file doc? Ayolah, itu hanya sebuah file olahan microsoft word yang siapa saja bisa membuatnya. Begitu kah?
                Ya, memang tak ada yang istimewa dimata orang lain, tapi untuk saya. Mereka bukan sekedar file doc olahan microsoft word. Mereka adalah ingatan saya, detak waktu yang coba saya rekam baik-baik. Olah rasa yang coba saya kemas baik-baik. Saya bukan seorang yang pandai mengingat, maka dari itu saya membuat jejak itu. Menulis adalah cara saya mempertahankan ingatan.
                Dan jujur, yang paling membuat saya sedih ialah banyaknya surat yang sejatinya ingin saya sampaikan kepadamu suatu saat kelak. Kamu tau? Dari sekian folder yang dikandung Wildan, folder itu adalah yang saya rawat baik-baik. Saya beri makan sehari minimal empat kali. Satu yang paling ku sedihkan, sejarah kita yang belum dimulai tapi sudah dihapuskan. Sesuatu yang belum ada tapi ditiadakan. Mungkinkah pertanda? Bahwa saya tak boleh berharap banyak kepada kamu untuk membaca pena saya? amm maksud saya, tentang surat-surat yang belum berani saya sampaikan kepadamu itu, termasuk perasaan yang menyertainya juga.
                Kemudian dari sekian banyak harap saya pada rentetan tulisan itu, saya hanya berharap semoga segenap rasa juga logika yang menyertainya tak lenyap begitu saja. Erggh ayolah, itu benar-benar kenangan yang saya susun sejauh empat tahun, masa dibiarkan lenyap dalam seperempat detik. Setidaknya ijinkan saya untuk mencarinya, bantu saya. ya, bantu saya melalui doa. Sudah itu saja. :”)
                Saya hanya ingin menyelamatkan sejarah kita yang belum dimulai namun sudah saya jejaki sedari dini. :”)
     

  4. Bismillaahirrahmaanirrahiim :)

    Foto By Risa Rii Leon




                Kembali mengoptimalkan fungsi Magicom, setelah sukses dengan nasi kuning dan puding tela ungu (Yeyeye *tepuktanganuntuksaya :v) kali ini saya mencoba membuat Bubur Sumsum. Niat membuat sudah ada seminggu terpelihara, dan baru terealisasi malam ini :3 Baiklah mari merapat, acuhkan saja cerita saya :v
                Bahan: Tepung beras, garam, daun pandan, santan (masih setia menggunakan santan Kara), gula jawa (yang suka gula pasir, boleh pakai gula pasir), Mutiara (rebus hingga lunak/bening lalu tiriskan).
                Cara membuat
    1.      Larutkan santan dengan dua gelas air.
    2.      Larutkan tepung beras dengan sebagian larutan santan tadi.
    3.      Rebus sisa santan. Aduk terus. Kemudian satu persatu masukan gula jawa yang telah diiris tipis agar cepat larut, garam secukupnya, dan irisan daun pandan. Aduk terus agar santan tidak mengental hingga hampir mendidih (check suhu)
    4.      Lalu masukkan larutan tepung beras perlahan sembari terus mengaduk hingga mengental.
    5.      Masukkan mutiara yang telah ditiriskan tadi, secara perlahan juga dan terus diaduk.
    6.      Violaaa, Bubur Sumsum Gula Jawa siap ^_^
    *Kalau buburnya kurang manis, bisa ditambahkan saus gula jawa. Cara membuat sausnya rebus gula jawa, garam, dan daun pandan hingga gula larut.

    Baiklah, memang kurang menarik dari segi face validity :3 tapi insya Allah dari segi rasa pantaslah untuk menyambut tamu asrama malam ini (Hallo Nduk Ais ^_^). Dan bahagia menjadi sangat sederhana ketika panci magicom itu kehilangan muatannya, berpindah tempat pada perut perut manis penghuni asrama. ^_^