Rss Feed
    Showing posts with label Kacamata Risa. Show all posts
    Showing posts with label Kacamata Risa. Show all posts
  1. Bismillaahirrahmaanirrahiim :)



    Review Skin1004 Madagascar Centella Asiatica Ampoule
    Oleh @risariileon 

    Anyoeeeng…udah kenal kan ya sama brand Skin1004, nah kali ini aku mau share dua pekan pengalamanku ditemani Madagascar Centella Asiatica Ampoule.

    Sebelumnya, Skin1004 yang lebih sering dikenal dengan sebutan Skin Angel 'cause bisa bikin kulit kita flawless bagai bidadari 🥰. Dan si Madagascar Centella Asiatica masuk produk BEST SELLER mereka.




    Madagascar Centella Asiatica sendiri, memiliki 3 senyawa aktif yang berperan penting dalam perbaikan kulit yaitu : 
    1. Asiaticoside yang berguna untuk menyeimbangkan kadar air dan menyak di kulit. 
    2.Asiatica Acid yang kaya anti-oksidan serta mampu memperkuat skin barrier.
    3. Madecassic Acid yang mampu memperbaiki jaringan kulit yang terluka dan mempercepat penyembuhan kulit.


    Jadi enggak perlu heran kenapa produk ini BestSeller. 😆

    Tipe kulitku kombinasi kusam + kering, jadi sering bermasalah dengan kelembaban.

    Berikut adalah pengalaman yang aku rasakan selama pemakaian Madagascar Centella Asiatica Ampoule  :

    ☑️Testurnya cair layaknya essence sangat ringan, love it. Ga se.encer toner, pun enggak sekental serum. Mudah menyerap dan saat diaplikasikan tidak meninggalkan efek lengket. Cukup melembabkan.

    ☑️Sesuai sama claimnya yang mampu menenangkan kulit, dia bekerja efektif menenangkan kulitku serta meredakan jerawat. Hydrating-calming nya pun OK.

    ☑️Mudah dicombine dengan berbagai actives, ‘cause ingredientsnya simple : 100 % Centella Asiatica. No Alcohol, parfum dan essential oil. So, aman utk semua jenis kulit termasuk kulit sensitif.

    ☑️Dari sisi packaging itu elegant dan keliatan lux : botol bening dengan pipet yang memudahkan pengambilan serum agar tetap hygenis. But, kurang travel-able sih menurutku,karena agak berat dan terbuat dari kaca.


    🌟Catatan untuk kalian yang berharap hasil instan : JANGAN BERHARAP, karena kalian akan kecewa. Karena produk ini terbuat dari bahan alami jadi kerjanya enggak instan, tapi Slow but sure.

    Tags : @go.picky @pickyrewards
    @skin1004official 

    #RisaRiiLeon #gopicky #pickyreward #SKIN1004picky #SkincareReview #beautyenthusiast

  2. Bismillaahirrahmaanirrahiim :)




    Anyoeng, my first #NoworriesKit mau lewat 😆 Jadi sebahagia ini emang dapet #NoWorriesKitxPONDS

    Kali ini aku dapet PONDS Vitamin Micellar Water dengan kekuatan 3-in-1, angkat 99% makeup, bersihkan kuman & kotoran serta cerahkan wajah dg 5 vitamin esensial (Vit A, B3,B5,C, dan E) yang dikenal dapat membantu regenerasi, melembabkan dan mencerahkan kulit dong. 🥰

    Ada empat variab PONDS Vitamin Micellar Water :


    💫Brightening Rose
    Micellar Water yang diformulasikan dengan 5 vitamin (Vit A, B3,B5,C, dan E) dan 100% Organic Natural Fresh Roses Extract ini sukses bantu aku bersihin make up harianku. Apalagi aku yang emang sering kena debu jalan & matahari. Aromanya khas rose ya, dan agak kuat dan kerasa bersih after pemakaian. So pinkish bright glow 😌
    Rate : ⭐⭐⭐⭐



    💫Nourishing Milk
    Mengandung 5 Vitamin dan milk essence, cocok buat bantu bersihin makeup waterproof, juga bisa utk eksfoliasi wajah serta membersihkan kulit mati. Aromanya susu bangeeeet 😆 kerasa lebih lembab juga after pemakaian. Bikin wajah Dewy Korea Glow 👰
    Rate : ⭐⭐⭐⭐

















    💫D-TOXX Charcoal
    Nah kalau yang varian ini mengandung activated charcoal dan bamboo charcoal, bisa bangeeet bantu buat deep cleanse biar wajah purified glow. Btw, ini hampir ga ada aromanya, tapi tetep bikin wajah better and clean, of course.
    Rate : ⭐⭐⭐⭐⭐



    💫Hydrating Aloe Vera
    Ini favorite aku. Wkwkwk karena kulit aku cenderung dry dan micellar water ini selain membersihkan dan menutrisi wajah juga memberikan kesegaran dan hidrasi lebih buat kulit. Yups, itu karena dia mengandung 100% Organic Natural Aloe Vera. Wajah jadi hydrate glow pastinya. 😌🥰
    Rate : ⭐⭐⭐⭐⭐

    Untuk cara pemakaiannya : Tuangkan Pond’s Vitamin Micellar Water ke kapas dan usapkan ke kulit untuk membersihkan makeup waterproof dan kotoran. Tidak perlu dibilas.

    Makeup Off, Glow On!

    #RisaRiiLeon #Review #FemaleDaily #BeautyEnthusiast #NoWorriesKitxPONDS #PONDSVitaminMicellarWater #SOCOID

  3. Bismillaahirrahmaanirrahiim :)




    Tantangan pertama memasuki peran Ibu adalah bijak menanggapi banjir informasi mengenai masa kehamilan, persalinan, hingga pola asuh diawal kehidupan anak. Riuhnya isyu yang tersebar terkait fakta dan mitos selama hamil dan pasca persalinan, tentu cukup membuat banyak ibu muda yang kelimpungan mengelola data. Nyatanya, aktivitas new moms dengan si kecil yang tidak menentu sudah cukup menguras tenaga, ditambah dengan ramainya suara sekitar yang masih tercampur antara mitos dan fakta acapkali menuai kontroversi dalam diri seorang ibu baru.

    Pemberian Perlindungan Imunisasi pada anak menjadi salah satu isyu yang paling menghantui pada Ibu Baru. Bagi saya memberikan Perlindungan Imunisasi kepada anak, bukan hanya perkara hak dan kewajiban anak dan orangtua, bukan pula hanya masalah pemerintah. Pemberian Perlindungan Imunisasi kepada anak, adalah mengenai kebutuhan anak dan orangtua terhadap perlindungan perkembangan system imun dalam tubuh untuk masa depan.

    Bukannya banyak ya, kasus tidak diimunisasi tidak apa apa?” seloroh seorang teman.

    Benar. Saya sendiri memiliki beberapa tetangga yang anaknya tidak pernah diimunisasi sejak lahir dan anaknya sehat beraktivitas. Namun kasus tersebut, hendaknya tidak dipandang satu sisi saja. 

    Beberapa pertanyaan mengenai hal di atas ini ada baiknya diajukan kepada diri kita sebagai orangtua terkait hal di atas :
    · Berapa persen perbandingan anak sehat tanpa atau dengan Perlindungan Imunisasi?
    ·     Bagaimana manfaat ASI cukup untuk melawan kompleksnya perkembangan infeksi masa kini?
    · Adakah literasi yang terpercaya mengenai kecukupan ASI = Perlindungan Imunisasi dari ragam penyakit?
    Sebab kenyataanya : Terkadang tanpa Perlindungan Imunisasi anak tetap bisa sehat beraktivitas, dan terkadangpun dengan Perlindungan Imunisasi anak juga nampak sehat produktif beraktivitas. Hanya tinggal bagaimana kita menyikapi kebutuhan diri dan anak mengenai investasi kesehatannya di masa depan.

    Ketika orangtua memutuskan untuk tidak memberikan Perlindungan Imunisasi kepada anaknya, barangkali orangtua tersebut telah merasa cukup dengan memberikan ASIsebagai perlindungan system imun anak. Sebab faktanya cukupnya kebutuhan ASI anak mampu menjaga system kekebalan tubuh anak terhadap penyakit. Hanya saja, dalam kasus tersebut tidak banyak literasi yang dapat dipertanggungjawabkan mengenai penyakit apa saja yang dapat dicegah hanya dengan ASI. Mengingat lingkungan sekarang yang begitu rawan terhadap masa tumbuh kembang anak. Setidaknya penyakit orang pada jaman dulu tidak sekompleks penyakit manusia masa kini, terlebih anak anak sebagai investasi kita.

    Perlindungan Imunisasi atau vaksin sendiri merupakan ikhtiar untuk investasi masa depan kesehatan anak dengan memasukan virus yang dilemahkan ke dalam tubuh anak. Sebab dengan pemberian vaksin anak diharapkan memiliki resiko lebih kecil untuk terserang penyakit serta infeksi berbahaya. Nah, harapannya anak memiliki kesempatan lebih luas untuk beraktivitas, bermain, dan belajar tanpa terganggung oleh masalah kesehatan nantinya.

    Dalam ragam ikhtiar menuju Indonesia Sehat, pemerintah sudah jauh hari mengedukasi masyarakat untuk memberikan Perlindungan Imunisasi kepada anak anak. Pihak Kementerian Kesehatan bersama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun berupaya bersama guna mendukung program imunisasi yang saat ini tengah dijalankan dalam negeri, salah satunya melalui harmonisasi bidang keagamaan dalam pelaksanaan program kesehatan. Kementerian Kesehatan sebagai wadah para pakar penyedia sarana kesehatan untuk masyarakat dan MUI sebagai wadah para ulama untuk menjamin kehalalan produk vaksin imunisasi tersebut. Keduanya solid berkerjasama untuk membangun Indonesia Sehat dengan produk penuh kebaikan dengan syariah Islam. (Mengingat mayoritas masyarakat Indonesia adalah umat Islam.) Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) bahkan sudah mengeluarkan satu petunjuk jadwal imunisasi. Jadwal tersebut merupakan kajian Satgas Imunisasi IDAI yang disesuaikan dengan kebutuhan anak Indonesia. Jadwal yang sama juga disediakan oleh pemerintah dalam sampul halaman belakang buku pegangan Ibu Hamil. ^^
    Jadwal Imunisasi (Klik Untuk Memperbesar)

    Menurut dr. Hardiono D.Pusponegoro SpA(K) dalam salah satu majalah anak di Indonesia menyatakan bahwa Perlindungan Imunisasi sangat baik untuk anak, sebab mampu merangsang tubuh anak untuk menghasilkan kekebalan alami terhadap penyakit. Dan jika dilakukan dengan baik dan benar , maka perlindungan dan kekebalan yang dicapai hampir 100%.



    “Lalu, bagaimana dengan maraknya kasus anak – anak yang sakit menahun pasca pemberian imunisasi ?”

    Pada kenyataannya ketakuan akan efek samping pasca imunisasi kerap mendera hati para orangtua. Tapi, sejatinya efek samping dari Perlindungan Imunisasi pada umumnya sangat sedikit, dan seringnya hanya berupa demam, namun itupun dapat dikurangi dengan pemberian vaksin tanpa panas meski tidak seratus persen benar tanpa panas. Sebab ada beberapa kasus anak tetap mengalami demam ringan pasca suntikan meski yang diberikan adalah vaksin tanpa panas. Menurut dr. Hardiono D. Pusponegoro SpA(K), keampuhan vaksin tanpa panas dengan vaksin biasa adalah sama, yang membedakan hanya harganya saja. Vaksin tanpa panas cenderung lebih mahal

       Sebagai upaya optimal pemerintah terhadap keamanan dan kenyamanan program Perlindungan Imunisasi pemerintah telah menyediakan wadah yang bertugas mengurus efek samping dari imunisasi atau Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) yang disebut dengan Komite Nasional KIPI. Komite tersebut bertugas memantau dan menanggulangi apabila terjadi efek samping dan membuktikan apakah penyebabnya oleh vaksin tersebut atau hal lain.

                Nyatanya, sebagian besar kasus pada KIPI bukan disebabkan oleh vaksin. Banyak diantaranya terjadi sebab kesalahan teknik pembuatan, pengadaan dan distribusi serta pernyimpanan vaksin, juga dari kesalahan prosedur dan tehnik pelaksanaan imunisasi yang timbul tanpa kesengajaan.


                Kemudian, sebagai pengingat untuk diri sendiri dan Para Ibu Baru, setelah tahu dan paham mengenai informasi diatas (pengertian imunisasi, manfaat, dan efek samping yang menyertanya) semoga kita mampu lebih bijak menelaah informasi, menjadi lebih jeli dan teliti mengelola informasi. Pahami benar perkara Imunisasi sebagai investasi masa depan kesehatan anak, terutama proses saat sebelum imunisasi tersebut diberikan. Perhatikan hal berikut ini :
    ·       Pastikan anak dalam kondisi fit dan sehat.
    ·    Pastikan penyimpanan vaksin daam kondisi baik. Tanyakan kepada tenaga kesehatan yang bersangkutan. Biasanya vaksin ditelakkan dalam suhu rendah agar komposisinya tetap terjaga dengan baik.
    ·       Pastikan jarum yang digunakan baru dan masih steril.
    ·     Selalu tanyakan lebih detail kepada tenaga kesehatan yang bersangkutan mengenai vaksin yang akan diberikan, juga tindakan pertama yang harus dilakukan vaksin memiliki efek samping.


    Galeri Sehat dari www.sehatnegeriku.kemkes.go.id 

    Menkes Lakukan Dialog dengan Pemegang Program Indonesia Sehat Melalui Pendekatan Keluarga

    Menkes Lakukan Dialog dengan Pemegang Program Indonesia Sehat Melalui Pendekatan Keluarga








  4. Bismillaahirrahmaanirrahiim :)

    Beranda IDN Times


                Pesatnya arus informasi membuka banyak jendela wawasan kita sebagai manusia pembelajar. Didukung oleh merebaknya situs informasi online, sekali sentuh …. Voila karpet ilmu terbentang seketika. Lantas IDN Times hadir diantara kita. ^^

    Apa itu IDN Times?

    Tak kenal maka tak sayang, tak kenal maka kenalan dong! Yups,,,pertanyaan wajar ketika kita bertemu dengan wajah baru (meski sebenarnya mungkin dia barang lama :v) IDN Times sendiri hadir untuk seluruh anak bangsa, menjadi semacam wadah untuk mereka dan kita – kita yang menyukai dunia tulis menulis. Menjembatani agar dari hobi tulis menulis tersebut kita tidak hanya panen kata tapi juga panen apresiasi yang beda dari biasanya. IDN Times menawarkan poin untuk para kontributor/penulisnya. ^^
    Lanjut pertanyaan yaa….

    Konten IDN Times

    Konten apa saja yang ditawarkan IDN Times?

    Buaaanyaaak dan lengkap Gan! Bisnis? Ok. Travel? Buanyak. Kesehatan? Ada. Opini? Terbuka. Otomotif? Lengkap. Bahkan TV juga ada hlo.
    Dari konten yang ditawarkan aja udah segitu lengkapnya. Cocok buat semua kalangan, Kakek sama Nenek aja masih bisa ikut nongkrong di situs IDN Times ini.

    Duh banyak banget. Abal – abal enggak itu artikel –artikel yang diterbitin IDN Times?

    Hwaaaah yo jelas kagak Gan! Setiap artikel yang telah diterbitkan IDN Times sudah melewati proses penjaringan yang panjang (tanpa mengulur waktu).
    Semua karya tulis yang kamu submit ke IDNTimes Community akan melalui proses moderasi terlebih dahulu. Editor akan melakukan pengecekan, apakah sudah sesuai syarat dan ketentuan dan layak untuk terbit atau belum.
    Kalau tulisanmu sesuai dengan syarat dan ketentuan yang berlaku di IDN TimesCommunity dan gak banyak editing, dalam kurun waktu kurang dari 7 hari juga sudah bisa terbit kok.
    Apabila status artikelmu yang tadinya sudah “Pending Review Article” lalu tiba-tiba kembali menjadi “Draft Article”, maka artinya karya tulismu tidak lolos dan belum bisa diterbitkan.
    Noh, kata mas IDNTimes.nya langsung. Jadi, emang bukan artikel abal – abal yang diterbitin sama IDN Times. Karena IDN Times situs wawasan yang baik yang menyediakan artikel terbaik untuk para pembaca yang baik ^^

    Terus, apa keuntungan yang ditawarkan IDN Times buat kita ?

    Ragam artikel IDN Times yang bikin fresh otak ^^
    Sebagai pembaca, kamu bakal menemukan makna kesetiaan yang tidak ada ikatannya sama manusia. Dari beraneka ragamnya tawaran artikel menarik dari IDN Times, kita bakal enggak bosen sama IDN Times, hyah walaupun abis itu kita bakal rada – rada makan banyak kuota tapi itu setimpal dengan banyaknya hal baru yang diberikan IDNTimes dalam memandang sesuatu. Kacamata dan sudut pandang dari para Kontributornya itu nyenengiiin banget soalnya.
    Banjir Poin untuk para kontributor IDN Times

    Lalu, ketika kita udah jadi Penulis / Kontributor di IDN Times kita bakal punya kesempatan mendapat apresiasi berupa poin – poin IDNTimes yang bisa ditukarkan menjadi uang Mak…! Horeeee…jadi punya uang belanja tambahan kan. Bisa buat beli cilok deh. Pas banget buat ruang tulis menulis Emak – Emak yang suka sama uang belanja plus – plus.^^ Untuk penukaran poin dan tata caranya bisa kamu kepoin disini ya.. ^^ Mas IDN Times sudah mengantisipasi pertanyaan wajib para newbie macem ane hlo.. Pengertian banget kan ya ^^

    Ada juga tips – tips biar tulisan kita bisa diterbitkan IDN Times. Klik di sini ya..Makin terbuka lebar deh kesempatan dapet poinnya ^^

    Biar kamu makin semangat ngepoin IDN Times, kepoin juga apresiasi yang ditawarkan IDN Times buat para kontributornya. Kamu mesti bisa jadi salah satunya Gan!

                 So, buruan gabung di IDNTimes!

    halaman log in IDN Times

    Caranya?
    Klik aja IDN TimesCommunity, terus kamu bisa pilih Log In dengan Facebook (kalau saya pilih ini, hehe ) atau bisa juga dengan alamat e-mail kamu yang masih aktif. Abis itu..selamat kamu udah punya kesempatan mendapat banjir point dari IDN Times ^^



  5. Open Endorse!

    Sunday, 21 January 2018

    Bismillaahirrahmaanirrahiim :)

    Taken by RisaRiiLeon
    Kolaborasi secercah langit jingga dengan luka itu bukan sesuatu yang bagus. Tentu. Tapi, selepas ashar itu membawa kami pada perkara luka.
    Setidaknya sepiring Mochi pandan isi pisang menjadi saksi betapa proses penyembuhan itu tidak semudah mengolah mie instan.
    “Kok bisa sih, laki laki semudah itu menyabangkan hati. Bersamaan menyayangi dua hati?” dengusku dengan ingat melayang pada pengalaman teman.
    Yang ditanya hanya melirik “Meh ngomong opo Nduk?” sambil menyeruput teh kelengkengnya.
    “Itu hlo Mak, temenku.”
    Angin menjadi perantaraku mengenang. Ketika sepasang yang telah lama bersama harus berakhir hanya sebab ada pihak ketiga yang datang. Jahatnya, mereka masih dalam satu lingkaran. Beruntungnya kedua perempuan itu adalah perempuan baik-baik, yang tidak akan saling jambak jambakan hanya sebab laki-laki. Lelaki itu pun tidak jahat-jahat amat, sebab akhirnya dia mau berbicara pada kedua perempuan itu. Mengomunikasikan apa yang menjadi kegelisahan diantara mereka, lantas mereka bertiga bersama mengunduh hikmah.
    Sedikit berakhir bahagia memang, namun tetap saja. Ada drama, air mata, juga asa yang tergadaikan untuk bisa memanen hikmah.
    Lantas apa kabar, jika lelaki itu hanya memilih salah satu dari dua perempuan yang sudah berteman itu lantas mengandengnya dengan lenggang kangkung. Menyudahi semuanya tanpa menengok lagi, bagaimana seorang dari mereka membangun pondasi kembali, seorang diri. Pondasi atas keyakinannya yang sudah berkeping – keeping.
    “Takdir itu ada Nduk. Sampai hari ini. Pun keterlibatan.Nya, tidak hanya perkara hati, bahkan daun mangga depan rumah yang jatuh barusan juga karena Allah sudah menghendaki. Allah selalu maha Terlibat.” Ucapnya tenang, dengan mata terpejam dan hidung menghirup aroma kelengkeng dalam-dalam.
    Iya sih Mak, memang demikian. Batinku.
    Jika Allah sudah menitahkan suatu perkara untuk terjadi, maka tak ada perkara yang dapat mencegahnya. Tak ada yang dapat memajukan atau menunda-nunda. Bukankah takdir yang telah digariskan Allah Azza Wa Jalla itu mengikat setiap makhluk.Nya? Sehingga seandainya seluruh tenaga kita kerahkan dan segenap kemampuan yang kita gunakan, tak akan pernah sanggup menggeser takdir itu dari keputusan.Nya. Lantas, apakah ada yang mampu kita lakukan untuk menolak takdir?
    Tetapi,
    Bukankah, Allah dan Rosul.Nya pun telah memberikan petunjuk kepada kita. Segala sesuatu ada hukum yang telah Allah Ta’ Alla untuk mengaturnya. Maka hukum itulah yang perlu kita ketahui. Pahami dan patuhi.
    Berkenaan dengan takdir nasehat Rosulallah saw kepada Ibnu Abbas ra perlu direnungkan kembali,
    “Wahai Anakku, sesungguhnya aku akan mengajarkanmu beberapa kata ini sebagai naseat buatmu. Jagalah hak-hak Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah dirimu dari berbuat dosa terhadap Allah niscaya Allah akan selalu berada dihadapanmu.”
    Lalu, sudahkah kita menyikapi takdir dengan bijak? Meramahi setiap sisi takdir yang mungking bersinggungan dengan syahwat atau egoisme kita sebagai manusia?
    Setidaknya, ketika pena takdir belum terlalu kering, kita masih memiliki beberapa “pilihan takdir”. Atau saat kita menapak tilas takdir takdir yang sudah terjadi. Tinta yang sudah terlanjur kering. Tidakkah kita berfikir akan ada semacam upaya memperbaiki sedikit langkah yang masih bisa direnovasi. Perbaikan tersebab sadar akan kesalahan. Remidi atas nama kesadaran diri.
    Kemudian, pernahkah kita memikirkan dia atau mereka yang menjadi kesalahan? Memikirkan dia atau mereka yang terdzolimi oleh kita? Bagaimana dia atau mereka menyembuhkan diri usai kita sakiti?
    Tidak pernah?
    Hmmm belilah es kucir. Minumlah dari salah satu ujungnya. Nikmati dan pikirkan. Sebab, percuma menjadi baik jika hanya tentang diri sendiri.
    Sebab, mudah bagi kita untuk melontarkan nasehat (semacam kalimat penghibur, mungkin) “Coba ubah sudut pandang. Ambil hikmahnya aja. Keep positive thinking!!!”
    Jujur. Itu agak naif (menurut saya).
    Lantas bagaimana dengan kita yang menyakiti? Bukankah akan lebih baik jika kita, sedikit agak lebih tahu diri? Agar paham ini kesalahan. Segeralah melakukan perbaikan! Evakuasi korban (mu).
    “Sudah minta maaf, yo!”
    Lalu? Apakah dengan meminta maaf semua akan kembali normal? Bagi kita yang melakukan kesalahan, mungkin ya! (Paling rasa bersalah yang masih ada.)
    Bagi dia yang disakiti, terdzolimi? Apa semudah itu?
    Kita minta maaf seringnya untuk sekedar melegakan hati (kita sendiri.)
    Akuilah, kita jarang bahkan hampir tidak pernah memikirkan cara dia atau mereka berdamai dengan luka (dari kita).
    Kita merasa bersalah lalu minta maaf, agar dosa kita terampuni. Agar kita merasa lega, agar kita merasa sebagai orang baik.
    “Nduk kok melamun?!? Es kucirmu mencair itu! Gage dimimik!”
    “Mak…….?” Panggilku ke Perempuan Tertangguh disampingku.
    Bukannya menjawab, malah menunjuk siluet matahari yang siap menuju ke peraduannya. Indah. Jingga yang merona menyala.
    Jadi harus bagaimana? Batinku masih bertanya.
    Entahlah. Saya sendiri tidak tahu harus bagaimana.
    Iya. Kita harus memaafkan. Kita harus meminta maaf. Kita harus positive thinking. Kita harus menjadi lebih baik.
    Hanya saja, sudah tepatkah kaki kita dalam menapaki takdir suratan.Nya? sudah sesuai tuntunan.Nya kah? Tidak menyakiti.Nya, dia atau mereka yang masih saudara seiman kita?
    Kelak, di penghujung hari, saya ingin mengetuk pintu rumahmu. Menunggumu membukakan pintu. Lantas ketika tatap kita sudah bertemu. Mari….. duduk diteras rumahmu berbincang sembari menanyakan satu hal.
    “Bagaimana perasaanmu setalah ku sakiti? Boleh aku peluk kamu agar perasaanmu lebih baik? kamu tidak perlu buru – buru memaafkanku, yang ku mau adalah perasaanmu menjadi lebih baik.”
    Sebab, memperbaiki diri terkadang bukan hanya perkara tentang diri sendiri (saja) tapi juga apa yang orang lain ikut nikmati (Ya, sebut saja semacam testimoni.)
    Karena open endorse tidak melulu perkara produk yang laku di pasaran, tapi juga mengenai cara kita saling menjaga perasaan saudara :”)
    Happpy Open Endorse! :D




  6. Memeluk Masa Lalu

    Tuesday, 22 March 2016

    Dan malam kian renta dalam penjemputan pada rona pagi yang masih dini. Masa lalu itu hadir dalam banyak tutur kisahnya. Tiba tiba saya ingin meredam gumpalan rasa tidak menyenangkan ini dengan memelukmu, Perempuan dengan nama berawalan huruf sama denganku. :”) Perempuan dengan huruf N diawal namanya. :”)

    Assalamualaykum.. :”)

    Saya pertegas, ini bukan cemburu, ini hanya setitik rasa tidak menyenangkan yang hadir sebab paham betapa engkau dulu pernah sangat diperjuangkan oleh dia. :”D
    Just warm hug. And not more. Ok? ^^

    Nyatanya, bertanya tentang masa lalu menjadi perkara bukan karena benar benar ingin tahu, tapi ikhtiar memulung hikmah, menghindari kesalahan yang sama terulang kembali pada kisah saya dan ia. :”).

    Jelas, perkara menjaga bukan bahan untuk bercanda :”)

    Terima kasih untuk menjadi jalan ia menguatkan diri. :")

    Bagaimana rasanya menunggu tanpa diminta? Layaknya membaca buku lalu ketiduran. Akhirnya kita hanya akan melanjutkan perjalanan dalam ekspektasi, melunasi harapan tertinggi berdasarkan imajinasi terindah. Berangan bahwa Tuhan telah resmi merestui.

    Benar. Allah selalu sesuai dengan prasangka hamba.Nya :”) saya sangat percaya itu. Namun mengemas percaya itu pun perlu sedikit jujur pada diri, bahwa hamparan fenomena semesta adalah tanda untuk dibaca. Bahwa teka teki Illahi hadir bukan berdasarkan ekspektasi, jauh dari itu adalah untuk menggenapi kita sebagai makhluk Illahi. :”)

    Terima kasih untuk menjadi jalan ia membenah diri. :")

    Tiga tahun bukan waktu yang sebentar untuk kata ‘tunggu’ tapi bukan waktu yang lama jika untuk menjemput kepastian. :”) sayangnya, lupa itu kerap hadir. Bahwa kepastian tidak selalu berbuah kebahagiaan. Serupa pohon manga tetangga yang tidak selalu manis rasanya, tapi jelas kita memiliki kelegaan luar biasa mampu merawatnya hingga berbuah. ^^ Ada lega yang tertunaikan dalam senyum simpul lima senti itu.

    Dan ya, ada jemuran harapan yang bisa lekas diangkat untuk ditata kembali di lemari upaya menggenapi separuh agama. Menilik segala niat dan cara untuk melampauinya.
    Masihkah benar benar berdasarkan Allah Ta’ala atau masih terbingkis kata selera atau malah terkena gravitasi ‘terbiasa ada’.

    Entah.

    Proses itu nyata berlangsung lama.
    Memindahkan jemuran harapan nyata tidak semudah kala menjemurnya, terlebih jika sudah mengakar bahkan nyaris menjamur.

    Sebab nyata, engkau adalah perempuan yang sama denganku. Pengemban amanah seorang putri dari sepasang suami istri yang enggan berpindah surga pada lelaki yang belum diridhoi :”) Iya, restu orangtua menjadi tonggak utama kita menerima ia yang mengajak menggenapi agama. :”)

    Meski fakta masa keberjalanan proses mengenal itu sudah menjadi hal biasa untuk kalian saling ada. Saya percaya, sebab saya masih perempuan. :”) I know that as well. Cause so far, im still a girl. :D trust me! :v

    Hukum Newton ketiga. Keselarasan aksi dan reaksi proses kalian yang cukup berpolemik. Manis.

    Bagaimana ia menjagamu.

    Bagaimana kamu mempercayainya.

    Bagaimana kalian menuliskan cerita pro dan kontra.

    Bagaimana kalin berproses. Adalah secangkir good day vanilla latte dengan hangat suam kuku. :”D

    Sungguh, bahkan saat mendengar penuturannya perkara engkau, lisanku masih mengembangkan senyum. :")

    Dan terima kasih telah menjadi perantaranya menemukan jalan pulang. :”)

    Ketamatan cerita pasca Abah menyampaikan jawab, jelas tidak lagi satu hati yang patah. Ada dua hati yang patah. Jujur saja. Masa yang tidak sebentar, adalah indikasinya. ^^ Semoga kejujuran tidak lagi menjadi hal yang engkau sungkankan. Ingat, saya masih perempuan. ^^

    Kepatahatian yang lantas menyabangkan jalan yang sempat diharap akan searah.

    Pelaku Pertama, dalam ketegarannya menerima jawab atas penantian, ia mulai berbenah, mengembalikan segalanya pada Illah. Pulang ke titik nol. (Disanalah cerita bersambung di Rumah Aksara. Koordinat pertemuan Ksatria Aksara dan Nona Aksara. Sepasang manusia yang sedang belajar mengeja). Iya, cintanya tak lagi utuh untuk seorang yang kelak mengutuhkannya. Tapi, percayanya pada Sang Pencipta scenario terbaik itu kian menebal. Sangat percaya bahwa Allah knows what is the best. :”)

    Maka,
    Si Tokoh Utama Pelaku Pertama, bisa apa selain menerima dan terus percaya bahwa surga anak senantiasa ada di ridho orangtua. Ridhollohu fi ridho walidain. Bahwa keterikatan masa membersama sudah seharusnya ditutup buku saja. Bahwa semua akan kembali baik baik saja. :”)

    Terima kasih telah menjadi bagian perjalanan panjangnya. Semoga engkau ridho untuk saya meneruskan sepersekian jalan yang sempat engkau bersamai. :”)

    Di Malam Bulan Kedua dengan mata masih terbuka dan banyak semut buah mangga.
    Rumah Aksara.


  7. Peluk Frasa untuk Azizah

    Saturday, 12 March 2016

    Minggu, 13 Maret 2016

    Dan ketika banyak orang mencari nilai sebuah kekuatan, mereka lupa bahwa sejatinya kekuatan itu sudah di depan mata, hadir dalam sebuah amal  menerima. Iya, penerimaan atas segala scenario Allah terhadap kita sebagai seorang hamba.

    Dusun Gampingcilik, Desa Tegalrejo, Kecamatan Bayat, Klaten, dalam rumah sederhana Keluarga Bapak Wagiyono  dipinggir jalan Klaten – Gunungkidul beberapa ratus meter dari SD N Tegelrejo, Allah menitipkan sebuah kekuatan di sana. Bocah berusia lima tahun itu, resmi mengambil hati saya.
    Tanpa perlu mencuri, hati ini lekas terpaut pada bait pertama saya membaca ceritanya. Nyata, kebijakan penggunaan media social berhasil membuka jalan pertemuan kami.

    Broadcast dari Bunda Wahyu dalam grup Istitut Ibu Profesional Solo adalah gerbang pertama, yang lantas saya tularkan di grup Laskar Sedekah Surakarta. Tidak banyak yang saya lakukan saat itu, namun satu yang pasti. Mencari kebenaran informasi tersebut adalah langkah pertama.

    Terhubunglah dengan Kang Jaka Triwiyana (0856 – 4287 - 8277) tetangga desa Dik Azizah yang turut merawat Kakak Sulung Dik Azizah, Mahasiswa DKV ISI Surakarta yang sungguh baiknya tiada tara.  Kebenaran informasi tersebut ditemui. Tanpa perlu dusta, nyata ada dik Azizah disana, terbaring tanpa daya namun terus berupaya bersama simbahnya.
    Ramadhan 2015.

    Duka itu datang mengetuk melalui sebuah bengkak dileher serupa gondongen disertai panas, lantas di bawa ke rumah sakit kota sebagai upaya penyembuhan. Alhamdulillah, bengkak itu pergi. Namun duka masih mengiringi, diagnose dokter jatuh dalam sebuah vonis kanker darah. Leukemia katanya. Ingat ini melayang pada ingat mengenai sakit itu, sedikit gambaran dalam pelajaran biologi sewaktu smp. Sakit dengan sebab sel darah putih yang terlalu banyak dan diawali anemia akut. Keberadaan darah merah dan darah putih yang tidak seimbang. Tidak pernah ada bayangan bahwa akan berakibat sefatal itu pada Dik Azizah.

    Tidak ada mimisan, rambut rontok, atau pingsan berkali kali. Itu hanya gambaran fiksi penyesatan dalam sinetron. Nyatanya, dalam proses kemoterapi yang dijalani dik Azizah pasca pemvonisan kanker, dik Azizah masih bisa berlarian bersama teman temannya, mewarnai gambar bersama dokter jaga di rumah sakit ia dirawat, juga bercerita pada simbahnya bahwa ia akan masuk sekolah dengan tas baru, pergi ke mushola bersama Mbak dan adiknya. Ya, anak kedua dari tiga bersaudara itu masih sempat bertumbuh layaknya bocah lima tahun yang banyak tingkah kesana kemari hingga ia berpamitan pada simbahnya untuk berobat ke kota tetangga. Tiga hari berselang tanpa pulang, Dik Azizah dikabarkan ‘masih lebih baik dari kondisi bayi’ oleh Bundanya. Simbah Putripun menyusul ke Kota Tetangga. Mendapati cucu terdekatnya terbaring kaku, dengan reflek genggam kuat, respond mata yang hilang, dan badan yang mengurus kehilangan isi, bahkan untuk mengonsumsi makanan harus melalui selang. Keceriaan Dik Azizah lenyap, dunia Simbah senyap. Tidak ada lagi celoteh dik Azizah untuknya.

    Lantas cinta itu hadir penuh daya. Telinga Dik Azizah masih bisa menerima, raga Simbah masih sekuat kala muda. Proses pengobatan itu terus berjalan tanpa kehilangan sedikitpun harapan. Sayangnya, ujian itu datang dengan banyak jalan juga.
    Bapak Dik Azizah menikah lagi tanpa kembali (yang semoga lekas pulang bersama nurani dan kepedulian kepada sang Putri …aamiin), Sang Bunda berpulang pada Illahi tepat sepuluh hari sebelum kedatangan kami.
    Seminggu sekali kemoterapi itu dijalani (sebelum ibunya meninggal), pengambilan sumsum tulang belakang itu tentu bukan tidak sakit dan tidak membutuhkan biaya sedikit. Alhamdulillah ada BPJS (tanpa harus pro dan kontra, saya hanya bersyukur dan berterima kasih), pembebasan pembiayaan jelas ditangan.

    Lalu sepeninggal sang Bunda, Dik Azizah tidak lagi dirawat di rumah sakit ataupun kemoterapi, dia masih dirawat dalam pelukan Simbah Putrinya. Mbah Mi panggilannya, menyuntikkan susu dua jam sekali melalui selang. Ada susu Proten sebagai suplemen makanan utama Dik Azizah, selang yang sepuluh hari sekali harus diganti demi menjaga sterilisasi gizi, keduanya resmi menyalurkan nafas kehidupan dik Azizah.

    Semoga kekuatan menerima itu bisa menular untuk sesiapa saja yang menyapa. Perempuan yang tidak lagi muda itu penuh telaten menyibin (mandi kering dalam bahasa jawa) Dik Azizah, mengelap keringat dik Azizah, mengganti posisi Dik Azizah, dan ya saya ingat. Ada lubang luka dibagian belakang tubuh dan kepala dik Azizah, entah akibat proses Kemo atau apa, tapi keduanya mengeluarkan semacam cairan. Dan sebab stok obat dokter sudah habis, luka dik Azizah hanya diberi obat warung, antibioatik (supertetra) dan satu obat yang harus dihaluskan untuk lantas ditempel di luka. Alhamdulillah, sudah lebih baik. :”)

    Sabtu, 12 Maret 2016
    Dibersamai saya (0857 – 2847 - 9204), Mbak Avilia (0857 – 2524 - 8080), Dek Ifna, Aldi, Sabriyan. Kami bersaksi kebenaran informasi ini. Maka kepada siapapun yang hendak berdonasi bisa menghubungi kami untuk menjemput kesembuhan Dik Azizah. Maaf tidak ada publikasi fotografi, sebab nurani tidak bisa dibohongi. Jika ia terketuk, tunaikanlah hak saudara kita diamanpun ia berada, jika ia ragu dekaplah yang terdekat dalam jangkauan mata.

    Semoga langkah kita diringankan untuk meringankan langkah saudara kita.
    Semoga Allah senantiasa menjaga setiap amal baik kita sebagai pemberat di yaumul hizab kelak. Aaamiiiin.

    Rumah Aksara dalam Minggu yang seadanya.
    RisaRiiLeon


  8. Perempuan Penjudi

    Wednesday, 16 December 2015

    Bismillaahirrahmaanirrahiim :)

    Hahaha saya penjudi yang buruk.

    Tunggu! Ini bukan perkara taruhan materi yang dipertaruhkan atas dasar ekonomis. Bukan perkara mengeluarkan modal seminimal mungkin untuk mendapatkan harta sebanyak mungkin. Keluarga Cemara kami tak memiliki harta melimpah sedemikian luas untuk sekedar ditaruhkan di meja judi. Kesehatan, Waktu, dan Iman, adalah tiga yang kami miliki, dan bisa dengan mudah diambil oleh Tuhan sebab Ialah pemilik sejati semua itu. Perkara judi ini tentang perlegoan yang aku cicil satu per satu melalui suratan Tuhan.

    Perjudianku dengan Tuhan.
    Bapak. Meski dia juga bukan penjudi yang baik, tapi nyata dia mengenalkanku dengan perjudian di awal jejak akademis itu dia tawarkan. Pengambilan raport adalah momentnya.
    “Kalau kamu bisa ranking, Bapak akan ajak jalan jalan ke Rita.”
    Kesederhanaan Kota Beriman kami tak mengijinkan kehadiran Mall sekelas Paragon atau semacam Solo Grand Mall. Cukup dua pasar raya di sana, Rita dan Jadi Baru. Sudah dan semoga cukup. Kala itu baru ada Rita. Jalan jalan ke sana untuk ukuran gadis desa macam saya itu cukup menyenangkan. :”)
    Tiga kali setahun tiket itu saya pegang, dua tahun di kelas lima dan enam sebab system berganti dari catur wulan ke semester. Di kalikan saja berapa kali seharusnya saya berjalan jalan di pasar raya itu. :”)
    Nyatanya hanya beberapa kali.
    Bapak kalah taruhan dengan Tuhan rupanya. Tapi, tidak apa. Bapak jujur perkara itu. Dan kejujuran selalu lebih baik dari apapun. Aku mencintaimu Lelakiku :*
    Bersama Vespa Biru, kami menghirup atmosfer malam Kebumen. Menatap kerlip lampu jalanan. Menghirup dalam dalam jajaran sate khas Ambal yang berceceran sepanjang jalan Ambal dan Kutowinangun, pun kuliner kuliner berasap lainnya. Jika bapak punya cukup uang, dan aku berani mengatakan betapa kala itu saya menginginkan kuliner itu. Belum tentu syukurku hadir sebab ada sempat bepergian dengan Bapak.
    Tidak ada pasar raya pasca pengambilan raport meski tiga buku dan tiga bolpoint resmi menjadi saksi juara kelas itu tergenggam. Hanya ada kunjungan kunjungan ke tempat sahabat – sahabat bapak. ^^ Tempat tempat ramah bin menyenangkan yang kini hanya beberapa yang teringat.
    Daerah Panjer pernah menjadi saksi perjuangan bapak dan saya bermesraan dengan malam, dengan asap bensin campuran dari knalpot vespa bapak. Pun saksi atas maha karya bapak menunaikan pesanan pagar pagar rumah pelindung dari ketidakamanan koordinat pinggir jalan besar. :”) Mereka adalah desain yang ditawarkan bapak. ^^

    Sekarang saya paham, genetika siapa yang mewarisi tangan ‘utak atik’ ini.
    Perjalanan lintas ukhuwah itu nyata memberi ruang hangat tersendiri. Meski bapak bukan siapa siapa di desa, beliau adalah insan yang tak segan menyapa sesiapapun. Benih dasar memanusiakan manusia, meski bapak tak teranggap di desa, tapi beliau syukur lebih dari sekedar perkara ‘terpandang’. Hati risa kecilpun, semoga kelak memiliki sempat untuk merawat ukhuwah dengan sesiapapun pula. :”)
    Perjudian masa Sekolah Dasar kembali hadir. Kali ini bapak sebagai pelaku utama. Kelas lima sekolah dasar. Sumatra menjadi tujuan perlegoannya. Meninggalkan saya dan dua ksatria juga perempuan paruh baya. Kami menanti, bukan kiriman dana hidup, bukan kiriman harta benda. Kami menanti kabar berita keberadaannya. Lelakiku, apa kabarmu di tanah rantau? Ku lego semua percayaku. Menotalkan kepercayaan itu. Percaya bahwa Tuhan Maha Baik. Menjaga lelaki kami yang sedang berikhtiar di tanah seberang. Di tengah bisikan nyinyir tetangga bahwa bapak telah beristri dua, bahwa bapak lupa jalan pulang, bahwa bapak tak akan kembali, saya sangat percaya Lelaki kami berhak dipererat peluknya lewat doa. Biarlah Tuhan yang menyumpal lisan lisan itu. Pelajaran sosiologi pertama yang Mamak ajarkan. Begitulah Nduk ketika kita hidup bermasyarakat. Saringanmu harus jeli. Membedakan yang layak di dengar dan yang layak di tinggalkan.
    Tepat setahun.
    Masih jelas.
    Seminggu awal di bulan desember 2003. Akhir tahun yang ditutup suka oleh kabar kepulangan Bapak, malam minggu lalu. Setiap hari adalah moment menghitung waktu. Menyilangi masa yang sudah terlewati. Dan hadir lebih awal dari perkiraan tanpa membuat arti premature, dua kali klakson sepeda motor itu menyumbang di ruang dengar beranda.
    Masih ingat. Jelas. Rindu itu menyeruak saru. Membuatku lari menubruknya, dengan sapu ditangan dan serakan sampah yang ku tinggalkan. Lengan kecilku memeluk pinggul Bapak. Saya belum tumbuh tinggi, rupanya.
    “Bapak, jangan pergi lagi.” Ujarku dalam peluk tangis. Dan dia tertawa. Anak Perempuannya takut ditinggalkan.
    Tak ada kata. Hanya tawa dan sepasang tangan yang membopongku sampai pintu rumah. Elusan lembut di kepala. Dan Mamak tersenyum mahfum. Saya rindu betulan dengan Bapak.
    Tindak sepasang tangan itu telah cukup mewakili banyak kata lelaki tak banyak cakap itu.
    “Perjudian bapak belum selesai Nduk. Tunggulah dalam percayamu di rumah. Bapak akan selalu pulang, dan mengupayakan untuk kalian. Jaga Mamak dan Adik adikmu. Kamu sulung. Kamu Perempuan. Kuatlah.”
    Akhir 2004. Tahun ajaran sekolah dasar lunas sudah. Semua rekan sibuk mendaftar sekolah menengah pertama favorit. Ksatria Ketiga lahir. Rumah seperti kapal pecah setiap saat. Ksatria Pertama masuk TK, Ksatria Kedua sedang hobi jalan – jalan ke banyak ruangan dan butuh pengawasan, Ksatria Ketiga masih menjadi manusia tanpa daya. Ku legokan kesempatan melanjutkan sekolah.
    Hafalan PR semasa kelas dua itu lunas menjadi amalan.
    “Apa yang kamu kerjakan saat di rumah? Membantu Ibu memasak, mencuci piring, dan mengasuh adik.”
    Setahun dengan proses yang tak mudah. Ksatria Pertama yang harus lelarian sambil nangis sebelum mandi dan berangkat sekolah. (Belum kenal Ayah Edy kala itu, tak bisa setenang sekarang menghadapi tangis bocah). Ksatria Kedua yang sering jadi bahan carian kala waktu pulang tiba. Ksatria Ketiga yang masih hobi nangis dan gantiin popok di larut malam.
    Di tahun yang sama pula, kehilangan itu nyaris menyapa. Ksatria Kedua di dorong rekan sepermainannya hingga jatuh ke sungai. Bocah kecil itu, dengan paru paru yang pernah dipelihara hingga rumah sakit, yang mandi masih harus pakai air hangat, yang hanya seperti batok kelapa jika jatuh ke sungai. Ya Rabb, bahkan hanya nyaris saja sudah sangat menyesakkan. Ksatria Kedua terselamatkan oleh Malaikat Pengemudi Dokar, kencana  yang semoga mampu membawa beliau lebih dekat dengan surga. Aamiiin. Pelajaran sosiologi kedua: Bahwa manusia tetaplah manusia, kebaikan dan keburukan ada padanya. Focus pada orang yang berbuat baik yang lantas membekali cara membaiki orang itu lebih utama. Pelajaran parenting pertama: Bahwa menutup kesalahan anak adalah bentuk pengabaian yang sungguh menyesakkan, kepedulian yang nyata membiarkan anak memelihara kesalahan tanpa proses pemetikan pelajaran. Nyata, keluarga teman sepermainan Ksatria Kedua tak percaya anaknya mampu berbuat sedemikian keji.
    2006.
    Perlegoan itu hadir setiap hari selama tiga tahun pelajaran. SMP PGRI 1 Kutowinangun, markas perjudian terbesar kedua (setelah Universitas Sebelas Maret). Beasiswa Retrival itu mengantarkanku ke gerbang lego. Sebab berhenti sekolah setahun, intansi tersebut berbaik hati memfasilitasiku sekolah gratis berbonus seragam dan alat tulis juga fasilitator yang penuh kesabaran. Langkah efektif mencerdaskan anak bangsa untuk mereka yang nyaris putus sekolah sebab perkara dana. Bukan semata isapan jempol atas nama bangsa padahal demi menjaga nama saja.
    Meskipun bergelar Kota Beriman, faktanya tidak semua orang beriman sebagaimana mestinya. Ada banyak preman dalam aku iman. SMP PGRI Kutowinangun kala itu masih terkenal sebagai sarang preman. Sangkar siswa siswa badung buangan pendaftaran negeri. List mines sepuluh jika ingin direkomendasikan sebagai arena pendidikan. Pelajaran sosiologi ketiga: Jangan pernah percaya kata orang sebelum mengalaminya, percaya saja pada Tuhan dengan kesungguhan.
    Benar. Teman temanku ada yang badung. Yang merokok, baju dikeluarkan, rambut di cat, bertato yang gerilya dari Pak Eko (Kepala Sekolah jaman saya sekolah di sana). Tapi, kembali pada pelajaran sosiologi kedua. Perlegoanku masih perkara percaya pada Tuhan. Selalu ada kebaikan. Percaya saja. Dan dipertemukanlah saya dengan malaikat malaikat itu. Dewi, Poppi, Apri, Yuli, Ijah, rekan rekan seperjuangan yang mengajariku bagaimana cara menjaga kehormatan dan kebaikan di selokan sekalipun.
    Jika di rumah selalu di kelilingi Laki – Laki yang membantuku menjaga kehormatan, sekolah adalah tempatku menguji pertahanan penjagaanku. Tak ada jalan lain selain menjadi seperti mereka. Anggap saja ini proses adaptasi bunglon. Risa versi laki laki hadir. Amunisi trining, rok jauh di bawah lutut, kaos sebelum seragam, juga secantol peniti di ujung lengan baju yang terlipat. Jarum yang masih terjaga di ujung jilbab hingga kini. Kecil namun bermata tajam. Cukup untuk membutakan seseorang dengan itu. Cukup untuk mengejutkannya melalui tusuk dalam lantas membuka kesempatan untuk lari.
    Dua mata pisau itu selalu nyata. Sekalipun terkenal sebagai sarang preman, di sanalah  pendidikan itu ada. Pendidikan karakter yang ditegaskan oleh kesabaran para fasilitatornya, jauh sebelum bangsa menyerukannya. Fasilitator Pasukan Pak Eko :”) Terima kasih atas tiga tahun masa pendidikan yang mengesankan :”) Semoga kesabaran kalian kepada kami mampu memberatkan amal baik di yaumul hizab kelak. Aaaamiiiiin. Almarhum Pak Ngindoho, Penjaga Sekolah terbaik kedua setelah Pak Midun (Penjaga Sekolah kala SD), kesamaan kalian adalah selalu mengajakku menghabiskan snack seusai rapat guru, juga segelas air putih kala saya haus dan tidak punya cukup uang untuk membeli es. Pak Ngin, semoga kita dipertemukan di surga. :”) Terima kasiiih :”) semoga amalmu mampu membawamu lebih dekat dengan surga kini. :”)
    2008.
    Biaya pendidikan masih tinggi sekalipun katanya sudah bersubsidi. Banyak Yayasan berdiri, barangkali Pendidikan sudah menjadi bisnis yang jauh dari rugi. Ah ya, mungkin. Dan syarat ‘harus sekolah di negeri’ itu berlaku untuk anak petani macam saya. Well, sekalipun bangsa ini masuk kategori negeri agraris, belum ada apresiasi manis untuk para petani. Para insinyur pertanian masih sibuk menghitung uang dibank sebab masa perkuliahan hanya menjadi ajang pencarian gelar strata satu.
    SMA Negeri Kutowinangun. Perlegoanku tidak terlalu kentara disini. Arus itu hadir begitu saja. Tapi bukan tanpa makna. Pendidikan semakin membuatku mengerti. Ilmu adalah teori. Ada beberapa guru yang sungguh sampai sekarang saya tidak mengerti, jika pernah terdengar tugas guru adalah mencerdaskan muridnya. Beberapa malah menuntut kami untuk belajar dirumah dan kembali ke sekolah harus sudah pintar. -,- dan selama itulah Kimia, Fisika, Matematika, belum ku temukan implementasinya di kehidupan kecuali jika kau ilmuwan dan pedagang. Logaritma, persamanaan linear, rumus fisika yang bahkan ketika orang bertanya seberapa jauh rumahmu dari sekolah dan berapa waktu yang dibutuhkan untuk sampai sekolah masih dengan mengira ngira tanpa peduli pada kecepatan yang menentukan keduanya. Pun dengan table itu, table misterius yang kefiksiannya seolah nyata untuk duniaku.  -,-
    Orplas (Organisasi Pecinta Alam) dan Rohis Al Irsyad. Rectoverso yang memberi nuansa baru. Keberbedaan yang saling melengkapi. Memang Orplas dengan pembaurannya yang sangat kentara dan Al Irsyad yang sangat terjaga, tapi jauh sebelum itu semua. Iman itu harus seimbang, kata Mamak. Vertikal dan Horisontal.
    Orplas. Membekaliku cara menjaga keluarga juga semesta. Tiga prinsip (dilarang mengambil sesuatu kecuali gambar, dilarang meninggalkan sesuatu kecuali jejak, dilarang membunuh sesuatu kecuali waktu) yang mengarahkan ingat pada visi  Tuhan menciptakan Nabi Adam as.  Menjadi Khalifah Bumi. Penjaga Bumi. Tuhan melegokan percaya.Nya pada manusia dihadapan malaikat. Sebab takdir ada pada genggaman.Nya. Lantas masihkah kau tidak mempercayai.Nya? Maka nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan?
    Lantas Al Irsyad membuat pengambilan gambar itu masih perlu etika, jejak itu perlu diberi polesan ilmu, waktu itu perlu dibunuh dengan bijak.
    Pelajaran Agama Pertama: Beragama itu bukan perkara apa agamamu, tapi mencintai Tuhan dalam keseimbangan vertical dan horizontal. Al Quran menyeimbangan jalan mencintai.Nya. Dan itu ada di Islam.
    Dua ruang berbeda warna yang merawat pemikiran iseng: Melakukan perjalanan pendakian bersama dia yang menawarkan kebersamaan dalam ruang halal. ( rahasia yang dimiliki para bolang untuk membaca karakter para pendaki.)
    Exzeme Gebo (X5), Gethukers (XI IS 4), Cobister (XII 3),terima kasih kalian telah memberikan warna penuh makna untuk masa SMA seorang Risa. Semoga dimanapun kalian, senantiasa terjaga. :”) Bu Limit dan Pak Eka, selama masa pendidikanku, kalianlah dua guru Matematika yang membuatku tak takut mencoba matematika yang kadang serupa neraka. Kelembutan dan kesabaran kalianlah yang membuat saya terus mencoba hingga dekat dengan bisa.
    2011
    Gerbang Perjudian itu terbuka lebar. Banyak hal yang ingin aku sampaikan. Tapi tunggu nanti. Ya semoga masih ada nanti untuk saya dan kamu bebragi cerita ini. Tunggu ya sampai saya selesai dengan yang satu ‘itu’.