![]() |
| Waduk Gajah Mungkur |
-
Kita : Sepotong Kisah Menenun Jannah
Thursday, 6 September 2018
Bismillaahirrahmaanirrahiim :)
Sabtu pagi 2016 lalu, aku ulang pada Kamis 2018 kemarin. Bertemu wajah baru dalam sebuah lingkar kebaikan berdalang seorang yang sama. ^^Alhamdulillah…segala puji dan syukur atas segala nikmat iman dan islam yang masih menetap dihati. Shalawat serta salam masih tercurah kepada Rosuallah saw.Saya tidak pandai mengucapkan kata perpisahan. Jujur saja, bagi saya perpisahan hanya sebuah jeda dari pertemuan. Semacam pertemuan yang tertunda. :”) Tapi, kali ini ijinkan saya mengeja kata perpisahan untuk kebersamaan kita setahun lebih ini.Kamis lalu, saya dipertemukan dengan mereka. Ibu Ibu yang masha Allah menginspirasi, untuk tidak lekas berputus asa dan menjaga sebuah baik sangka kepada Allah Ta’ Alla. Memang belum banyak saya mengenal mereka. Belum banyak saya berbincang dengan mereka. Tapi, aura kebersamaan yang hangat dan ramah serta sharing pengalaman, nyatanya membuat saya berfikir “Insya Allah, akan lebih baik saya disini.”Tunggu! Bukan. Bukan berarti kebersamaan dengan kalian tidak baik. Tidak sama sekali. Kebersamaan dengan kalian adalah anugerah yang Allah berikan di masa tranisisi saya sebagai Ibu ^^ Setidaknya kalian sempat melihat ketertatihan saya melakoni peran IBU :DSetidaknya dua puluh satu bulan ini, Allah telah mengenalkan saya kepada kalian, Saudari Saudariku yang Insya Allah dirahmati Allah ^^Menjadi nama baru dalam lingkaran ini bersama Mbak Dilla dan Mbak A’yun. ^^Sebenarnya dari dulu saya hendak mengatakannya, tapi agak sungkan :D Dalam setiap tilawah kita, saya selalu menunggu nunggu saatnya Mbak A’yun yang membaca. Masya Allah, suaranya membuat Al Quran seolah meresap dalam setiap pori hingga hati saya. Semoga lantunanmu menjadi amalan penjemput jannahmu ya Mbak :”) Aamiiiin Apakah jika saya lahir dari keluarga muslim akan secanggih dirimu, Saya tidak tahu. Yang jelas upaya untuk melengkapi syahadat keduang orang tua saya membuat saya ingin menjadi anak sepertimu, dan menjadi orangtua sepertimu. Menjadi anak yang mampu membersamai orangtuanya menjemput jannah, dan menjadi orangtua yang membersamai anaknya menemukan peran peradabannya bersama Al Quran. :”)Mbak Dilla. Jazzakillah khoiron katsir atas kehangatan merengkuhku dengan sabar. Kau tau, dalam banyak pertanyaan dan pernyataan lugasmu tentang anak-anak ataupun jodoh, aku percaya seorang yang kelak mennggenapi separuh dien.mu adalah seorang pejuang sejati :* dan percayalah sifat keibuan adalah fitrah setiap perempuan. Just let it flow and enjoy the process :* Semoga ldisegerakan tiba waktunya pengabulan doa doamu Mbak :”) AaamiiinMbak Diah. Jazzakillah khoiron katsir atas segala kesediaannya menjadi tempat bicara perkara anak-anak. Kamu tahu Mbak? Berfikir tentangmu adalah berfikir untuk tetap berupaya, untuk tidak menyerah, untuk terus berfikir Allah Maha Baik dalam setiap rencana.Nya. Memikirkanmu, terkadang adalah caraku untuk bangkit ketika beberapa suara sekitar begitu tidak menyenangkan untuk didengar. :”) Semoga senantiasa dimudahkan dalam setiap urusan :”) AamiiinMbak Rusti. Mbaak…kamu tahu? Kali pertama melihat, kamu layaknya muslimah masa kini yang sedang berupaya menjaga izzah melalui pakaian yang syar’i nan modis. Tapi nyatanya, kian kesini aku tahu, kamu lebih dari itu. Kamu tidak hanya modis dalam berpakaian, tapi juga update dalam menuai hafalan. Masya Allah Mbak, aku sering minder kalau nyimak kamu hafalan :D Banyak banget :D Kelak ketika telah genap separuh agamamu, semoga cara berpakaianmu kian cantik dan terjaga, Insha Allah dapat pahala dari rasa teduh suami ketika menatapmu :* dan semoga hafalanmu kian terjaga :* aamiiinMbak Watiq. Alhamdulillah Allah mempertemukan kita ya Mbak :”) sebab melalui kamu, aku belajar cara sederhana menyampaikan makna ukhuwah islamiyah. Tanpa perlu bunga bahasa, penyampaianmu seringkali begitu lugas, ringkas, dan mudah diterima. Terlebih untukku yang kata suami ‘Terlalu Rumit’ :D Semoga dikabulkan setiap harapan harapan yang dipeluk dalam sujud – sujud panjang sepertiga malam :”) aamiiiinMbak Dian. Alhamdulillah, Maha Baik Allah yang menulis scenario kebersamaan kita. Afwan jidan bahkan meski hampir dua tahun bersama, kita belum banyak berbincang tentang pribadi masing masing. Tapi dalam beberapa bincang aku mengerti. Aku melihat sebagian diriku saat itu ada padamu saat ini. Dan aku tahu, saat itu yang aku butuhkan adalah kekuatan doa dari segenap orang yang ku kenal. Bukan dengan pertanyaan yang memangkas waktu tanpa memberi solusi. Maka, semoga Allah memudahkan setiap urusanmu agar didekatkan dengan keberhasilan. Dan melimpahkan kebaikan atas apapun yang engkau upayakan pada akhirnya. Aaamiiin Ada banyak tangan dan telinga yang selalu sedia memberi tenaga dan mendengar cerita. Percayalah Mbak. :*Mbak Andi. Maha Besar Allah yang membuat setiap rencana untuk hamba.Nya dengan sebaik – baik rencana. Dan salah satu rencana baik itu adalah kehadiranmu ditengah tengah kami. Masha Allah. Mbak Andi, jazzakillah khoiron katsir atas ilmu macaknya :D meski jarang terpraktekkan tapi nyatanya itu manjur kok :D setidaknya untuk suamiku :P Walau tanpa menuai kata ‘Cantik’ tapi melihat dia menatap seperti saat akad itu ….. wkwkwkk you know lah :v eh belum tau ding ya..mulo geek ndang :P Cantikkk..semoga dimudahkan, disegerakan bertemu dia yang mampu menuntunmu ke Jannah.Nya, yang menyempurnakan separuh Dienmu, dan dilancarkan segala urusan. AaamiiiinMbak Reni, Mbak Hasanah, Mbak Isna, Mbak Mifta, Mbak Fitria, Mbak Malika, Mbak Yeyen dan Mbak Nunung..Barakallah :* Afwan jidan belum banyak bincang kita yang tertunaikan, belum banyak cerita kita yang menghiasi lingkaran ini. Tapi semoga kita senantiasa didekatkan dengan kebaikan, dilancarkan mengamalkan islam dengan kaffah sesuai quran dan sunnah, dan dikembalikan dalam sebaik baik keadaan, khusnul khotimah :”) aaamiiiiinUntuk Bu Lilis (dan semuanya) uhibukki fillah :* #warmhug Semoga Allah mengampuni dosa dosa kita, dan menerima setiap amalan kita. Dan semoga kita dimudahkan menjaga niatan Lillahi Ta’Alla…aamiiiinInsya Allah ini bukan pertemuan terakhir kita :”) Akan dengan sangat senang hati bertemu dalam rangka menghadiri walimah bagi para Jofisa (Jomblo Fi Sabilillah) atau undangan kehadiran dlam rangka kebaikan lainnya :”) Pun dengan segenap hati saya memohon maaf atas segala kehilafan dan kealpaan saya yng mungkin seringkali tidak berkenan untukmu Ukhtii Fillah..afwan jidan wa jazzakumulloh khoiron katsir. :*Lantas jika boleh, ada satu permohonanku untukmu Ukhti Ukhti :’) Permohonan sederhana untuk mencari keberadaanku di akherat kelak, ketika Allah sudah meresmikan kalian berada di Jannah.Nya dan kalian tidak mendapatiku bersama kalian. Aku mohon, carilah aku. Tanyakanlah kepada Allah mengenai keberadaanku. Katakanlah pada.Nya bahwa kita pernah saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran. Bahwa kita pernah melingkar mencari ilmu – ilmu.Nya. Bahwa kita pernah saling menyemak hafalan satu sama lain. Bahwa kita pernah menjadi saudara seiman seislam yang berjuang untuk Dien.Nya. Bahwa kita pernah bersama untuk berjuang di jalan cinta para pejuang :”)RumahAksara, 3/08/2018@risariileonPosted by RisaRiiLeon at 10:31 | Labels: Accapella, Dear, Kita | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Hujan (di awal) Juni
Monday, 15 August 2016
Bismillaahirrahmaanirrahiim :)

google search Selingkar itu masih bertengger nyaman di jari manis. Terpilin pilin jemari lainnya sembari membangun yakin. Belum ada seumur jangung, dan ada ragu yang tetiba menggunung. Slide slide prosesi yang terus berputar serupa film layar lebar di kepala.Berbekal sepaket lengkap alamat tempat tinggal dan kepala keluarga yang menahkodai juga tak ketinggalan peta transportasi untuk menuju lokasi yang ia tanyakan sepekan sebelum terlunasi, lelaki itu melangkah penuh percaya diri. Bersiap menjemput pertemuan pertama di rumah Bunda. Lantas berlanjut pertemuan kedua di rumahnya, pertemuan dua keluarga menentukan hari H hingga hari hari sesudahnya. Setiap detik adalah ingat yang kesegarannya masih mampu dibaui. Dan pada detik kesekian di malam kesekian, ada detik yang menyematkan asma di dalamnya.Sekalipun ia sudah terbingkai dalam kenang masa lalu serupa kisah virtual dalam kotak video, tetap saja ada hangat dipelupuk mata. Menetes dan menguap di udara. Asma yang benar benar menyiksa.Kaktus itu masih terguyur hujan, sebagian dirinya sudah terendam air. Ada keyakinan yang muncul bahwa ia akan lekas menemui kematian. Kaktus yang malang. Batinku melirih.Mungkin seperti aku. Lanjutku masih membatin.Proses kebatinan yang lekas teralihkan sebab ada seirama dua kali jentikan jari dari pusat gravitasi tempatku berkontemplasi. Mau tidak mau, menatap sumber suara adalah jawaban paling efektif.Alisku terangkat sebagai wakil “Ada apa?”“Jangan melamun! Sekalipun ini caffe bertajuk perpustakaan, rasanya tidak sopan menggunakan tempat sehening ini hanya untuk melamun.” Isyaratnya dengan mata keberatan dan senyum ejekan.Dalam sekali pengacuhan tatap, semoga ia tahu ada raga yang enggan berdebat. Doaku membatin.“Banyak yang harus melepaskan dan dilepaskan, mau tidak mau, suka tidak suka, siap tidak siap, ikhlas tidak ikhlas.” Secarik kertas itu datang bersama secangkir ButterBeer Capuchino, minuman hangat a la Hogsmeade di serial Harry Potter yang kandungan alkoholnya digantikan teh jahe wangi pandan.Seulas senyum itupun hadir tanpa dosa dengan isyarat, “Selamat Mengeja sajian kami….”Tatapku jelas mengena pada retinanya, memintakan padanya agar mengerti bahwa ada yang terluka disini.Tapi tetap saja, wajah itu terus tersenyum tanpa dosa.Damn! Dia tahu dan enggan menanyakan perihal hatiku.“Aku sakit.” Kataku singkat tanpa suara.“Kamu hamil?!” serunya dalam isyarat. Matanya berbinar.“Iya, tapi bukan itu maksudnya.” Ucapku geram. Masih dengan tanpa suara.“Selamaaaat yaa….” Isyaratnya bahagia dengan seiring tangan hendak mendekap tapi diurungkan. Dia teringat batasan di jari manisku.Canggung.“Tapi bukan itu Ra… Aku sekarat.” Ucapku akhirnya. Lirih dan benar benar membiarkannya membaca gerak bibir. Pertahananku tumbang. Bendungan itu menjadi bah di bukit pipi. Nafas itu keluar tak teratur.Tuhan tidak suka memaksa. Keadaanlah yang terkesan memaksa terjadi sebab kitalah yang lebih dulu memaksa. Semesta hanya pengapresiasi, dan siapapun yang kita temui selalu punya energi. Ia dapat merasakan, memilah, memilih. Memeluk atau menjauh. Menggenggam atau melepas.Bahkan benda mati pun bisa tahu bedanya dicintai dengan tulus, atau seperti dicintai tapi sebenarnya tidak. Apalagi manusia yang berhati dan bernurani?Awal bulan Juni jatuh seperti puisi Sapardi. Seperti biasa, alam selalu lebih jujur dibanding manusia. Meskipun keduanya sama sama sulit dieja. Pun seperti itu juga, manusia akhirnya terkikis oleh egonya yang menjadikan ia manusia. Ironisnya, sisa kekuatannya adalah tetap egonya yang masih tersisa.Dialog itu terurai begitu saja. Perang batin yang sedari kemarin lalu sudah ingin di ledakkan melebihi Ramayana. Hanya saja, kali ini Rama yang diculik Husna, bukan Sinta yang terperdaya Rahwana.Ku baca ulang berlembar kertas itu. Kertas yang sedari pagi ku tekuri di antara lalu lintas pengunjung caffe. Kertas yang ku harap mampu meluruhkan segala tanyaku perihal setia, cinta, dan kita. Kertas yang entah dengan keberanian macam apa akan sanggup mengantarkannya pada seorang yang memang dituju.“Hmmmmhhhh.” Nafasku menghela. Meminta kekuatan semesta demi untuk membuka selembar kertas. Tabularasa yang sudah bertabur warna. Bunga luka.Surakarta, Di Awal JuniAssalamualaykum Saudariku,Salam selamat dan sejahtera untukmu dan untukku.Aku ingin memanggilmu Saudari, sebab kita masih diberi nikmat mengimani satu yang Esa. Kebenaran yang terlabel dalam satu kata. Islam.Tulisan ini sampai padamu seperti namamu yang sampai padaku berbulan lalu. Husna, begitu ia memanggilmu. Nama yang berbeda yang kamu sebutkan saat kedua tangan dan raga kita saling mendekap.Nuraini, begitu kamu mengenalkan diri. Dan namamu sungguh selaras dengan parasmu. Cantik nan meneduhkan. Pujiku dalam hati. Aku menyukai senyummu seperti aku menyukai senyum kakak tingkatku di halaqah. Dengan jarak usiaku yang lebih muda, aku bisa merasakan kamu adalah kakak perempuan yang baik. :”)Kak Husna, ijinkan aku memanggil nama itu dengan lisanku. Istri dari lelaki yang memanggilmu dengan nama itu. Sebab begitulah engkau mengenalkan diri ketika aku memasuki peran sebagai istri dari lelaki itu.Dari sekian nama rekan yang yang pernah ia ceritakan, maaf, namamu adalah satu yang ku pertanyakan. Dan dia dengan tenang menjawab,“Itu panggilan Mas untuk dia.”Sebaris kata yang mengantar pada sesak yang sungguh menyiksa. Baiklah. Aku butuh udara segar. Terlalu banyak makhluk hidup yang berebut oksigen. Bisa kah aku pergi sejenak???Tidak.Aku sudah tidak bisa lagi kemana-mana.Kamu tahu kak? Ketika seumur hidup aku menghindari stagnansi, pada Lelaki itulah aku memilih berhenti. Berhenti menjadi Perempuan, lantas menyingkap strata tertinggi dari keberanian kaum hawa menembus feminimitas. Menjadi Wanita (wani ditata), menitipkan ketaatkan atas titahnya guna meraih ridha.Nya.Lalu malam itu, di malam pertama aku menjadi istri. Aku patah hati. Tanpa bisa lagi memilih lari atau membiarkan sesiapa pergi.Bahkan untuk seorang Pepeng harus menempuh tiga belas tahun usia pernikahan agar dimampukan memberikan panggilan mesra untuk istrinya, panggilan yang hanya di dengar dua telinga manusia, suami dan istrinya saja. Tiga belas tahun untuk sebuah nama ‘Dik Tami’ yang menggenapi perasaan cintanya kepada sang istri di malam penganugerahan ‘Keluarga Bahagia Caplang’. Satu dasawarsa lebih setengah lusin semester.Nama itu. Husna atau semacamnya.Bahkan aku tidak memilikinya.Lantas siapa yang harusnya menjadi istrinya?Maka, sedalam apa perasaan yang pernah terjadi di antara kalian?Maka, sekokoh apa hubungan yang pernah terupayakan di antara kalian?Maka, semurni apa hubungan yang kini ada di hadapanku?Maka, apa yang hendak kamu sampaikan dalam lima huruf yang terlabel sebagai namamu di matanya? Jika hanya perihal jalinan silaturahim kalian sebagai teman, mengapa harus nama itu, bukankah kamu memiliki nama yang sesuai KTP? Nama yang sesuai akta kelahiran, ijazah atau sepaket perangkat administrasi kependudukan lainnya. Yang siapapun pasti mengenalmu dalam keseharian. Yang sudah pasti aku tidak akan menanyakannya.Atau kamu ingin mengenalkan diri sebagai perempuan pendahuluku? Dan aku adalah Perempuan Bocah yang dipungut lelaki itu atas dasar kasihan dan perasaan kehilangan sebab penolakan yang terjadi dari keluargamu? Atau kamu hendak menegaskan bahwa tidak seharusnya aku menerimanya sebab nyatanya tidak pernah ada penolakan, tapi waktu menanti yang harus diulur lagi hingga beberapa tahun kedepan?Aku merasa bersalah, tidak suka, risih, dan gamang secara akut. Dengan prosi yang tidak bisa dibilang sedikit. Dalam sekali waktu, di malam pertamaku menjadi istrinya.Lantas jika kamu membaca ini sebagai kecemburuan, kalau boleh ku luruskan ini hanya segaris perasaan tidak nyaman sebab aku melihat dalam sepersekian detik ia membaca namamu. Ada senyumnya melengkung dengan sangan tampan. Senyum yang mampu meningkatkan keteduhan di wajahnya lima belas persen. Senyum yang masih ku cari formula untuk dimunculkan kembali.Bagiku tindak cemburu itu tidak terlalu terpuji, terlebih engkau sudah dilunasi perannya sebagai masa lalu. Aku paham benar perihal masa lalu. Dan bukankah setiap dari kita memiliki masa lalu? Ayam saja memiliki masa lalu sebagai telur. Pun si kupu cantik yang pernah menjadi ulat buruk rupa.Detik itu. Aku memutuskan untuk berhenti bertanya perkaramu. Aku enggan menggali pusaraku sendiri. Aku enggan terkubur dalam kisah kalian yang mungkin sangat heroic. Bahwa bersaing dengan masa lalu adalah kemustahilanku untuk menang.Aku kalah. Bahkan sebelum bertanding.Aku (ingin)mengalah tanpa harus menyerah. Bahkan sebelum kalian memintakan.^o^“Seared Scallop with Creamy Fettucini selalu pas untuk membaca semestamu, Nona!” Dua Jentikkan jari dan segenap isyarat penyertanya. Tersaji dengan aroma pasta yang cukup mengobati empat puluh dua persen kepatahhatian. Sayangnya, masih ada lima puluh delapan persen kepatahatian yang mengendap dan tak tergantikan rasanya.“Thanks, Ra. Hope I can make it look and taste as spectacular as yours did, someday. But, Im sorry I cant try this dish.” Balasku lirih bernada penuh putus asa.“Why?” Bahunya terangkat, selaras dengan alisnya yang tertaut. Tatapnya menuntut jawaban tidak singkat.“I wanna ask you. May I?”“With pleasure…” senyumnya empat senti.“Bagaimana cara agar manusia menang dari hujan, Ra?”“Aku merindukan hujan di musim hujan, bukan di bulan Juni. Ku merasa aman dengan yang memang semestinya.” Tanyaku pada udara. Catra hanya sesosok raga sebagai penyeimbang agar aku tidak dianggap gila. Mengobrol dengan diri sendiri, untuk manusia masa kini sudah bisa masuk kategori kelainan psikis. Dan aku tidak pernah siap dibawa kerumah sakit jiwa.RisaRiiLeon
-R-Posted by RisaRiiLeon at 01:06 | Labels: Accapella, Dear, Fiksi, Hujan, kelas aksara | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Perempuan Penjudi
Wednesday, 16 December 2015
Bismillaahirrahmaanirrahiim :)
Hahaha saya penjudi yang buruk.
Tunggu! Ini bukan perkara taruhan materi yang dipertaruhkan atas dasar ekonomis. Bukan perkara mengeluarkan modal seminimal mungkin untuk mendapatkan harta sebanyak mungkin. Keluarga Cemara kami tak memiliki harta melimpah sedemikian luas untuk sekedar ditaruhkan di meja judi. Kesehatan, Waktu, dan Iman, adalah tiga yang kami miliki, dan bisa dengan mudah diambil oleh Tuhan sebab Ialah pemilik sejati semua itu. Perkara judi ini tentang perlegoan yang aku cicil satu per satu melalui suratan Tuhan.
Perjudianku dengan Tuhan.
Bapak. Meski dia juga bukan penjudi yang baik, tapi nyata dia mengenalkanku dengan perjudian di awal jejak akademis itu dia tawarkan. Pengambilan raport adalah momentnya.
“Kalau kamu bisa ranking, Bapak akan ajak jalan jalan ke Rita.”
Kesederhanaan Kota Beriman kami tak mengijinkan kehadiran Mall sekelas Paragon atau semacam Solo Grand Mall. Cukup dua pasar raya di sana, Rita dan Jadi Baru. Sudah dan semoga cukup. Kala itu baru ada Rita. Jalan jalan ke sana untuk ukuran gadis desa macam saya itu cukup menyenangkan. :”)
Tiga kali setahun tiket itu saya pegang, dua tahun di kelas lima dan enam sebab system berganti dari catur wulan ke semester. Di kalikan saja berapa kali seharusnya saya berjalan jalan di pasar raya itu. :”)
Nyatanya hanya beberapa kali.
Bapak kalah taruhan dengan Tuhan rupanya. Tapi, tidak apa. Bapak jujur perkara itu. Dan kejujuran selalu lebih baik dari apapun. Aku mencintaimu Lelakiku :*
Bersama Vespa Biru, kami menghirup atmosfer malam Kebumen. Menatap kerlip lampu jalanan. Menghirup dalam dalam jajaran sate khas Ambal yang berceceran sepanjang jalan Ambal dan Kutowinangun, pun kuliner kuliner berasap lainnya. Jika bapak punya cukup uang, dan aku berani mengatakan betapa kala itu saya menginginkan kuliner itu. Belum tentu syukurku hadir sebab ada sempat bepergian dengan Bapak.
Tidak ada pasar raya pasca pengambilan raport meski tiga buku dan tiga bolpoint resmi menjadi saksi juara kelas itu tergenggam. Hanya ada kunjungan kunjungan ke tempat sahabat – sahabat bapak. ^^ Tempat tempat ramah bin menyenangkan yang kini hanya beberapa yang teringat.
Daerah Panjer pernah menjadi saksi perjuangan bapak dan saya bermesraan dengan malam, dengan asap bensin campuran dari knalpot vespa bapak. Pun saksi atas maha karya bapak menunaikan pesanan pagar pagar rumah pelindung dari ketidakamanan koordinat pinggir jalan besar. :”) Mereka adalah desain yang ditawarkan bapak. ^^
Sekarang saya paham, genetika siapa yang mewarisi tangan ‘utak atik’ ini.
Perjalanan lintas ukhuwah itu nyata memberi ruang hangat tersendiri. Meski bapak bukan siapa siapa di desa, beliau adalah insan yang tak segan menyapa sesiapapun. Benih dasar memanusiakan manusia, meski bapak tak teranggap di desa, tapi beliau syukur lebih dari sekedar perkara ‘terpandang’. Hati risa kecilpun, semoga kelak memiliki sempat untuk merawat ukhuwah dengan sesiapapun pula. :”)
Perjudian masa Sekolah Dasar kembali hadir. Kali ini bapak sebagai pelaku utama. Kelas lima sekolah dasar. Sumatra menjadi tujuan perlegoannya. Meninggalkan saya dan dua ksatria juga perempuan paruh baya. Kami menanti, bukan kiriman dana hidup, bukan kiriman harta benda. Kami menanti kabar berita keberadaannya. Lelakiku, apa kabarmu di tanah rantau? Ku lego semua percayaku. Menotalkan kepercayaan itu. Percaya bahwa Tuhan Maha Baik. Menjaga lelaki kami yang sedang berikhtiar di tanah seberang. Di tengah bisikan nyinyir tetangga bahwa bapak telah beristri dua, bahwa bapak lupa jalan pulang, bahwa bapak tak akan kembali, saya sangat percaya Lelaki kami berhak dipererat peluknya lewat doa. Biarlah Tuhan yang menyumpal lisan lisan itu. Pelajaran sosiologi pertama yang Mamak ajarkan. Begitulah Nduk ketika kita hidup bermasyarakat. Saringanmu harus jeli. Membedakan yang layak di dengar dan yang layak di tinggalkan.
Tepat setahun.
Masih jelas.
Seminggu awal di bulan desember 2003. Akhir tahun yang ditutup suka oleh kabar kepulangan Bapak, malam minggu lalu. Setiap hari adalah moment menghitung waktu. Menyilangi masa yang sudah terlewati. Dan hadir lebih awal dari perkiraan tanpa membuat arti premature, dua kali klakson sepeda motor itu menyumbang di ruang dengar beranda.
Masih ingat. Jelas. Rindu itu menyeruak saru. Membuatku lari menubruknya, dengan sapu ditangan dan serakan sampah yang ku tinggalkan. Lengan kecilku memeluk pinggul Bapak. Saya belum tumbuh tinggi, rupanya.
“Bapak, jangan pergi lagi.” Ujarku dalam peluk tangis. Dan dia tertawa. Anak Perempuannya takut ditinggalkan.
Tak ada kata. Hanya tawa dan sepasang tangan yang membopongku sampai pintu rumah. Elusan lembut di kepala. Dan Mamak tersenyum mahfum. Saya rindu betulan dengan Bapak.
Tindak sepasang tangan itu telah cukup mewakili banyak kata lelaki tak banyak cakap itu.
“Perjudian bapak belum selesai Nduk. Tunggulah dalam percayamu di rumah. Bapak akan selalu pulang, dan mengupayakan untuk kalian. Jaga Mamak dan Adik adikmu. Kamu sulung. Kamu Perempuan. Kuatlah.”
Akhir 2004. Tahun ajaran sekolah dasar lunas sudah. Semua rekan sibuk mendaftar sekolah menengah pertama favorit. Ksatria Ketiga lahir. Rumah seperti kapal pecah setiap saat. Ksatria Pertama masuk TK, Ksatria Kedua sedang hobi jalan – jalan ke banyak ruangan dan butuh pengawasan, Ksatria Ketiga masih menjadi manusia tanpa daya. Ku legokan kesempatan melanjutkan sekolah.
Hafalan PR semasa kelas dua itu lunas menjadi amalan.
“Apa yang kamu kerjakan saat di rumah? Membantu Ibu memasak, mencuci piring, dan mengasuh adik.”
Setahun dengan proses yang tak mudah. Ksatria Pertama yang harus lelarian sambil nangis sebelum mandi dan berangkat sekolah. (Belum kenal Ayah Edy kala itu, tak bisa setenang sekarang menghadapi tangis bocah). Ksatria Kedua yang sering jadi bahan carian kala waktu pulang tiba. Ksatria Ketiga yang masih hobi nangis dan gantiin popok di larut malam.
Di tahun yang sama pula, kehilangan itu nyaris menyapa. Ksatria Kedua di dorong rekan sepermainannya hingga jatuh ke sungai. Bocah kecil itu, dengan paru paru yang pernah dipelihara hingga rumah sakit, yang mandi masih harus pakai air hangat, yang hanya seperti batok kelapa jika jatuh ke sungai. Ya Rabb, bahkan hanya nyaris saja sudah sangat menyesakkan. Ksatria Kedua terselamatkan oleh Malaikat Pengemudi Dokar, kencana yang semoga mampu membawa beliau lebih dekat dengan surga. Aamiiin. Pelajaran sosiologi kedua: Bahwa manusia tetaplah manusia, kebaikan dan keburukan ada padanya. Focus pada orang yang berbuat baik yang lantas membekali cara membaiki orang itu lebih utama. Pelajaran parenting pertama: Bahwa menutup kesalahan anak adalah bentuk pengabaian yang sungguh menyesakkan, kepedulian yang nyata membiarkan anak memelihara kesalahan tanpa proses pemetikan pelajaran. Nyata, keluarga teman sepermainan Ksatria Kedua tak percaya anaknya mampu berbuat sedemikian keji.
2006.
Perlegoan itu hadir setiap hari selama tiga tahun pelajaran. SMP PGRI 1 Kutowinangun, markas perjudian terbesar kedua (setelah Universitas Sebelas Maret). Beasiswa Retrival itu mengantarkanku ke gerbang lego. Sebab berhenti sekolah setahun, intansi tersebut berbaik hati memfasilitasiku sekolah gratis berbonus seragam dan alat tulis juga fasilitator yang penuh kesabaran. Langkah efektif mencerdaskan anak bangsa untuk mereka yang nyaris putus sekolah sebab perkara dana. Bukan semata isapan jempol atas nama bangsa padahal demi menjaga nama saja.
Meskipun bergelar Kota Beriman, faktanya tidak semua orang beriman sebagaimana mestinya. Ada banyak preman dalam aku iman. SMP PGRI Kutowinangun kala itu masih terkenal sebagai sarang preman. Sangkar siswa siswa badung buangan pendaftaran negeri. List mines sepuluh jika ingin direkomendasikan sebagai arena pendidikan. Pelajaran sosiologi ketiga: Jangan pernah percaya kata orang sebelum mengalaminya, percaya saja pada Tuhan dengan kesungguhan.
Benar. Teman temanku ada yang badung. Yang merokok, baju dikeluarkan, rambut di cat, bertato yang gerilya dari Pak Eko (Kepala Sekolah jaman saya sekolah di sana). Tapi, kembali pada pelajaran sosiologi kedua. Perlegoanku masih perkara percaya pada Tuhan. Selalu ada kebaikan. Percaya saja. Dan dipertemukanlah saya dengan malaikat malaikat itu. Dewi, Poppi, Apri, Yuli, Ijah, rekan rekan seperjuangan yang mengajariku bagaimana cara menjaga kehormatan dan kebaikan di selokan sekalipun.
Jika di rumah selalu di kelilingi Laki – Laki yang membantuku menjaga kehormatan, sekolah adalah tempatku menguji pertahanan penjagaanku. Tak ada jalan lain selain menjadi seperti mereka. Anggap saja ini proses adaptasi bunglon. Risa versi laki laki hadir. Amunisi trining, rok jauh di bawah lutut, kaos sebelum seragam, juga secantol peniti di ujung lengan baju yang terlipat. Jarum yang masih terjaga di ujung jilbab hingga kini. Kecil namun bermata tajam. Cukup untuk membutakan seseorang dengan itu. Cukup untuk mengejutkannya melalui tusuk dalam lantas membuka kesempatan untuk lari.
Dua mata pisau itu selalu nyata. Sekalipun terkenal sebagai sarang preman, di sanalah pendidikan itu ada. Pendidikan karakter yang ditegaskan oleh kesabaran para fasilitatornya, jauh sebelum bangsa menyerukannya. Fasilitator Pasukan Pak Eko :”) Terima kasih atas tiga tahun masa pendidikan yang mengesankan :”) Semoga kesabaran kalian kepada kami mampu memberatkan amal baik di yaumul hizab kelak. Aaaamiiiiin. Almarhum Pak Ngindoho, Penjaga Sekolah terbaik kedua setelah Pak Midun (Penjaga Sekolah kala SD), kesamaan kalian adalah selalu mengajakku menghabiskan snack seusai rapat guru, juga segelas air putih kala saya haus dan tidak punya cukup uang untuk membeli es. Pak Ngin, semoga kita dipertemukan di surga. :”) Terima kasiiih :”) semoga amalmu mampu membawamu lebih dekat dengan surga kini. :”)
2008.
Biaya pendidikan masih tinggi sekalipun katanya sudah bersubsidi. Banyak Yayasan berdiri, barangkali Pendidikan sudah menjadi bisnis yang jauh dari rugi. Ah ya, mungkin. Dan syarat ‘harus sekolah di negeri’ itu berlaku untuk anak petani macam saya. Well, sekalipun bangsa ini masuk kategori negeri agraris, belum ada apresiasi manis untuk para petani. Para insinyur pertanian masih sibuk menghitung uang dibank sebab masa perkuliahan hanya menjadi ajang pencarian gelar strata satu.
SMA Negeri Kutowinangun. Perlegoanku tidak terlalu kentara disini. Arus itu hadir begitu saja. Tapi bukan tanpa makna. Pendidikan semakin membuatku mengerti. Ilmu adalah teori. Ada beberapa guru yang sungguh sampai sekarang saya tidak mengerti, jika pernah terdengar tugas guru adalah mencerdaskan muridnya. Beberapa malah menuntut kami untuk belajar dirumah dan kembali ke sekolah harus sudah pintar. -,- dan selama itulah Kimia, Fisika, Matematika, belum ku temukan implementasinya di kehidupan kecuali jika kau ilmuwan dan pedagang. Logaritma, persamanaan linear, rumus fisika yang bahkan ketika orang bertanya seberapa jauh rumahmu dari sekolah dan berapa waktu yang dibutuhkan untuk sampai sekolah masih dengan mengira ngira tanpa peduli pada kecepatan yang menentukan keduanya. Pun dengan table itu, table misterius yang kefiksiannya seolah nyata untuk duniaku. -,-
Orplas (Organisasi Pecinta Alam) dan Rohis Al Irsyad. Rectoverso yang memberi nuansa baru. Keberbedaan yang saling melengkapi. Memang Orplas dengan pembaurannya yang sangat kentara dan Al Irsyad yang sangat terjaga, tapi jauh sebelum itu semua. Iman itu harus seimbang, kata Mamak. Vertikal dan Horisontal.
Orplas. Membekaliku cara menjaga keluarga juga semesta. Tiga prinsip (dilarang mengambil sesuatu kecuali gambar, dilarang meninggalkan sesuatu kecuali jejak, dilarang membunuh sesuatu kecuali waktu) yang mengarahkan ingat pada visi Tuhan menciptakan Nabi Adam as. Menjadi Khalifah Bumi. Penjaga Bumi. Tuhan melegokan percaya.Nya pada manusia dihadapan malaikat. Sebab takdir ada pada genggaman.Nya. Lantas masihkah kau tidak mempercayai.Nya? Maka nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan?
Lantas Al Irsyad membuat pengambilan gambar itu masih perlu etika, jejak itu perlu diberi polesan ilmu, waktu itu perlu dibunuh dengan bijak.
Pelajaran Agama Pertama: Beragama itu bukan perkara apa agamamu, tapi mencintai Tuhan dalam keseimbangan vertical dan horizontal. Al Quran menyeimbangan jalan mencintai.Nya. Dan itu ada di Islam.
Dua ruang berbeda warna yang merawat pemikiran iseng: Melakukan perjalanan pendakian bersama dia yang menawarkan kebersamaan dalam ruang halal. ( rahasia yang dimiliki para bolang untuk membaca karakter para pendaki.)
Exzeme Gebo (X5), Gethukers (XI IS 4), Cobister (XII 3),terima kasih kalian telah memberikan warna penuh makna untuk masa SMA seorang Risa. Semoga dimanapun kalian, senantiasa terjaga. :”) Bu Limit dan Pak Eka, selama masa pendidikanku, kalianlah dua guru Matematika yang membuatku tak takut mencoba matematika yang kadang serupa neraka. Kelembutan dan kesabaran kalianlah yang membuat saya terus mencoba hingga dekat dengan bisa.
2011
Gerbang Perjudian itu terbuka lebar. Banyak hal yang ingin aku sampaikan. Tapi tunggu nanti. Ya semoga masih ada nanti untuk saya dan kamu bebragi cerita ini. Tunggu ya sampai saya selesai dengan yang satu ‘itu’.Posted by RisaRiiLeon at 23:56 | Labels: Accapella, Kacamata Risa, Kita, Rumah | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
(Mungkin) Apatis!
Saturday, 22 November 2014
Bismillaahirrahmaanirrahiim :)
Bagaimana rasanya berdiri dengan kaki sendiri? Linukah dihari kelima kamu memijak? Pegalkan di 24 x 5 jam kamu menegak? Wajar, sungguh! Itu hanya sensasi awal sebuah ikhtiar.
Iya ikhtiar. Sebagian ada yang membuat ikhtiar itu benar-benar dalam rangka berdikari, berdiri dengan kaki sendiri hingga mampu berlari tanpa subsidi. Pun sebagian ada yang menguatkan gurita koalisi untuk sebuah kursi. Sebagian lagi ada yang meregang menunggu mati.
Dari segimanapun ikhitiar itu nampak, sejatinya tugas kita tak pernah jauh dari menyibukan kedua malaikat disisi kanan lantas menganggurkan malaikat disisi kiri. Perihal mereka yang kian asik dalam aksi pencuriannya, perihal ada yang terusik cekik sebab semua butuh serba naik, juga perihal tawa licik yang pura-pura baik. Sungkankah kita untuk turut serta menaikkan syukur? Sebab kita masih ditanah surga milik Pertiwi.
Dengan kolam susu tanpa nila, meski nyata hanya orang-orang kaya yang meminum susu. Biarlah setiap tenggaknya itu menyumbang kesibukkan malaikat kiri.
Kail dan jala di arus hidup berombak, meski nyata ikan-ikan kita ditangkap bebas oleh banyak negara. Bahkan beberapa ada yang riang gembira bertamu lupa pulang ke Indonesia. Setidaknya kita belajar paham, lengan doa selalu mampu memutus sekat negara.
Batu dan kayu yang selalu sedia tumbuh meski nyata banyak yang terjual untuk membangun surga para 'penunggu' hingga malaikat kanan tersedu sebab jemu menunggu waktu berlalu.
Apatis? Atau Optimis? Barangkali hanya ingin bersikap sedikit manis pada proses adaptasi yang mulai kritis.
RisaRiiLeon, Solo, 22/11/2014Posted by RisaRiiLeon at 11:10 | Labels: Accapella | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Untuk Kamu Yang Masih Menjadi Bolang (Ku)
Wednesday, 11 June 2014
Bismillaahirrahmaanirrahiim :)
Kau tapaki puncak-puncak tertinggi, tapi masih kau lukai pepohonan dengan pucuk tajam pisaumu.
Apa gunanya?
Kau jelajahi pantai berpasir hitam dan putih, tapi masih kau lukai karang karang tebing dengan sampah plastikmu.
Apa gunanya?
Kau jejaki lorong lorong goa gelap hingga terang, tapi masih kau lukai ornamen ornamen alam dengan busuknya polusimu.
Apa gunanya?
Kau jamahi hutan hutan perawan Irian juga Kalimantan, tapi masih kau lukai tunas tunas muda dengan langkah congkakmu.
Apa gunanya?
Kau salami anak anak sungai dari rafting sampai rafling, tapi masih kau lukai jembatan jembatan tua dengan keluhanmu pada semesta.
Apa gunanya?
Kau sapa seluruh unsur semesta sekedar amoeba hingga manusia, tapi masih kau lukai raga raga dunia dengan tindakmu sebagai makhluk sempurna.
Apa gunanya?
Sampah yang kau tinggalkan sebagai jejak.
Hara semesta yang kau tumpuk sebagai harta diri.
Pun dengan waktu yang kau bunuh dalam keluhan.
Ingatmu tentang khalifah menguap, melebur sebab syahwat duniamu.
Ingatmu tentang penjaga semesta mengudara tanpa sempat ternyatakan.
Semesta menua dalam renta.
Menunggu ketiadaan sebab kealpaan umat manusia.
Solo, 11 Juni 2014
Risa Rii Leon
Posted by RisaRiiLeon at 17:22 | Labels: Accapella, Bolang | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Biru
Thursday, 29 May 2014
Bismillaahirrahmaanirrahiim :)
Lisanmu begitu menggebu.Menghamburkan rangkaian puji atas satu warna.Biru.Ya, Biru menjadi warna hidupmu.Kamar, gorden, kursi, piring, gelas, gantungan kunci, bahkan satu lemari hanya terisi kain biru.Penuh pengagungan kaupun menjadi biru.Memaknai hidup dalam jalur biru, tuturmu masih dengan menggebu.Mengaminkan dalam dalam sajak biru jalanmu.Serupa blue film yang menjajar bebass dari sabang sampai merauke.Ya, Biru.Bebas katamu, dusta sergahku.Kebebasan apa yang kau maksudkan?Langit tak pernah menjadi Biru.Itu adalah tipu daya matahari.Lupakan pada ocehan Hamburan Rayleigh?Fenomena hamburan elastis yang resmi membuat raportmu terbakar sebab nilai merah dalam fisika.Pun dengan samudra yang nampak Biru.Sungguh itu hanya tipu!Tak beda dengan langit,samudra hanya korban dari kebinalan pancaran gelombang elektromagnetik dalam semua spektrum cahaya tampak.Tidakkah narapidana memakai kain biru dalam hidupnya?
Solo, 29 Mei 2014 pukul 22:42
Risa Rii LeonPosted by RisaRiiLeon at 08:55 | Labels: Accapella | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Sehelai Kain Biru
Wednesday, 28 May 2014
Bismillaahirrahmaanirrahiim
Bagaimana lukamu?
Sudah sembuhkah?
Memang tak berdarah, namun sepertinya berdampak sangat parah hingga kamu terus menatap spion itu.
Seolah ada anggota jiwamu yang masih tertinggal disana, di masa yang kamu miliki tanpa saya.
Dan saya mulai tidak menyukaimu, lantas dosakah jika saya melenggang pergi sebelum sempat menyembuhkan lukamu?
Ku tinggalkan sehelai kain itu untuk mengelap cairan bening itu, yang mugkin akan segera membanjir dalam pamitku.
Sebab saya paham, lukamu tak pernah berdarah, makannya tak kusarankan kamu gunakan kain itu untuk membalut luka.
Maka, bolehkan saya pergi?
Solo, 25 Mei 2014Risa Rii LeonPosted by RisaRiiLeon at 20:56 | Labels: Accapella | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Dia dan Sebuah Dasi
Friday, 31 January 2014
Bismillaahirrahmaanirrahiim :)

www.allthatscrap.net Pekerjaannya memang tak memberikan dasi, apalagi kedudukan duniawi.Tapi insya Allah melalui pekerjaan halalnya itu kelak ia akan menghidupi kami, keluarga kecilnya.
Pekerjaannya memang tak memberikan dasi, apalagi kedudukan duniawi.Tapi insya Allah dia melakukannya dengan hati, menikmati tiap detik penuh syukur pada Illahi.Pekerjaannya memang tak memberikan dasi, apalagi kedudukan duniawi.Tapi insya Allah dia tak pernah lupa untuk memberi, memberi inspirasi juga memberi ruang kreasi.Pekerjaannya memang tak memberikan dasi, apalagi kedudukan duniawi.Sebab memang bukan itu yang ia cari.Baginya keikhlasanan dan keahsanan melakukan suatu aktivitas lebih indah dari sebuah dasi dan kedudukan tinggi.Sebab memang bukan itu yang ia cari.Baginya kesyukuran dan ketakwaanlah kunci kebahagiaan sejati. Sebuah bahagia untuk rumah sederhana kami. Rumah yang juga ingin kami bangun disurga.Nya :")Insya Allah :)Jumat, 31 Januari 2013-R-
Posted by RisaRiiLeon at 04:41 | Labels: Accapella, Kita | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Mata Rindu
Friday, 8 November 2013
Bismillaahirrahmaanirrahiim :)

www.republika.co.id Senja ini kamu malu maluMengintaiku dibalik rimbunnya awan.Memberi beberapa lembar sinar dengan mata sipit.Dalam hembusan angin,Dalam sapaan oksigen dataran tinggi,Dalam tetes air pucuk cemara,Dalam bias aroma basah,Entah dari mana rindu itu menyergap.Arrrghh!! Alam pandai nian kau berkonspirasi,Membelengguku dalam rindu pada sosok yang masih semu.
Perjalanan menuju Gondosuli, Tawangmangu.Jumat, 11 Oktober 2013
Posted by RisaRiiLeon at 07:04 | Labels: Accapella | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |


