Rss Feed
    Showing posts with label Bolang. Show all posts
    Showing posts with label Bolang. Show all posts
  1. Bismillaahirrahmaanirrahiim :) 
     
    Rawa  Kebumen
      

    Kebumen, siapa sangka kota kecil di pesisir Pantai Selatan ini memiliki banyak destinasi wisata menarik. Kota yang kabarnya memiliki luas daerah setara dengan Singapura ini layak masuk sepuluh daftar kunjung di list kamu yang ingin #JelajahNusantara.  Nah, seklumit cerita tentang Kebumen Beriman ini ada satu tempat yang eksotisnya bikin romantis. Bukan karena tempat ini asik buat ng-date, tapi lebih karena betapa Allah itu Maha Kreatif dengan segala ciptaan.Nya.

    Rawa Kebumen

    Rawa. Berwujud cekungan yang agak dalam dan terisi air dengan dikeliling gumuk gumuk pasir dan bertetangga dengan pantai selatan. Yups, Rawa eksotis dengan gumuk pasir sebagai gerbang panorama kemudian debur pantai setelahnya adalah bukti bahwa Tuhan tak pernah main main menciptakan keindahan alam. Menempuh jarak ±10 km dari rumah (Pagedangan, Ambal, Kebumen), yang memakan nyaris lima puluh menit perjalanan (Ok. Kecepatan rata – rata perjalanan motor saya hanya setara dengan kupu – kupu terbang ) pemandangan Rawa lunas membayar kelelahan saya menyambangi Deandles  yang penuh lubang :3 (Peringatan: Bahwa jalan Deandles jauh dari kata mulus, jadi waspadalah!). Jika dari Jalan provinsi arah timur, masuk jalan aspal kecil sebelum Pasar Prembun, warga menyebutnya daerah Dadaptulak, terus saja ke selatan mengikuti jalan yang berkelok serta melewati perumahan penduduk hingga bertemu perempatan (Jalan Deandles, Ambal) itu masih luruuuuuus saja ke selatan daaaan sampailah. :D Untuk transportasi kesana sampai saat ini belum ada transportasi umum, sebab memang sepertinya masih jadi pemandangan turis lokal, jadi yaa bersiap-siap dengan kendaraan pribadi (kalau mau naik sepeda gowes juga enggak papa, sebab selain lebih go green,  jalanpun tidak ada tanjakan berarti).
    Rawa Kebumen
    Tidak ada gerbang pembelian tiket. Dan sepertinya tiket dijual bebas oleh para pemilik tempat parkir (yang kadang antara ada dan tiada). Sejauh yang saya tahu ada dua parkiran kendaraan. Pertama yang dekat dengan pantai (Parkir Selatan) dan yang jauh dari pantai (Parkir Utara). Kalau saya seringnya di Parkir Selatan, sebab untuk sampai Rawa lebih dekat sehingga hanya jalan kaki beberapa meter sudah sampai Gumuk Pasir lantas kemudian disambut bias tenang permukaan air Rawa.
    Ada event langganan yang dinamakan Grebek Rawa, dilabeli demikian sebab dibeberapa tanggal tertentu kerap diadakan Pasar dadakan (Grebek), semacam Sunmor di Manahan (Solo). Event Grebek ini biasaya diadakan saat perayaan hari besar Islam ex: Idhul Fitri. Jadi, kalau di Jika di Solo atau Yogya ada sekatenan di Kebumen ada Grebek. Saya belum pernah ke sana, hanya saja telinga saya kerap menerima suara cerita dari tetangga saya yang pernah ke sana. Iyes, seringnya Ayah sama Bunda yang kesana, dan saya hanya dioleh-olehi cerita betapa ramainya Grebek Rawa kala itu (Harap maklum, kendaraan kami haya satu, jadi harus bergantian ketika hendak bepergian berbanyak).
    Selayaknya pasar – pasar dadakan lainnya, Grebek juga dipenuhi aneka penjual dengan ragam
    Rawa Kebumen
    tawarannya. Ada segala model baju dari batik sampai polosan, celana luar dalam hingga jeans, baju berlengan atau tanpa lengan. Tidak ketinggalan pernak – pernik mainan bocah. Bahkan bianglala, komedi putar, dan odong – odong turut serta meramaikan event Grebek Rowo ini. Untuk varian harga tidak beda jauh dengan kebanyakan pasar – pasar tradisional (pandai – pandailah menawar barang yang kamu taksir :v ).
    Tipsnya biar dapet harga miring tiga puluh derajat : Gunakanlah bahasa lokal ! Nah berhubung Kebumen itu NGAPAKERS. Kowe kudu bisa ngapak yah! (Kamu harus bisa ngapak ya.red). So, mulailah belajar Enyong Kowe ketika kamu memilih Kebumen sebagai salah satu destinasi dolanmu. ^^
    Kembali ke panorama alamnya ya,
    Rawa Kebumen
    Sesuai namanya, pusat gravitasi keindahan Rawa memang di rawanya. Lebih tepatnya ada pada keheningan Rawa yang menikah syahdu dengan ramai debur ombak sekaligus. Begitulah, terkadang sesuatu yang berlawanan ketika disandingkan akan menghasilkan hal yang menakjubkan. Rawa adalah contoh nyata. :D Kamu bisa merendamkan kaki di ketenangan Rawa sembari menikmati music of sea (music samudera.red). Atau berselfie di Gumuk Pasirnya sambil berpura-pura sedang di gurun pasir. So, enggak usah jauh – jauh naik pesawat ngurus passport buat ke luar negeri nyari gurun :D Kebumen punya hlo :D
    sate ambal.google search
    Soal kuliner khas atau sekedar jajanan derah setempat memang jauh dari area Rawa, kecuali hari libur besar tentunya. Kebanyakan pedagang hanya menawarkan jajanan jajanan itu ketika libur hari raya saja. Solusi berkunjung ke Rawa tanpa kelaparan dan kekeringan kantong adalah BAWA BEKAL MAKANAN. Yoi, biar kamu enggak keburu jadi ‘beda’ karena lapar, mending bawa jajan jajan gitu dari rumah. Atau ketika kamu melewati sepanjang Jalan Deandles mampirlah ke salah satu kedai SATE AMBAL. Beli secukup porsiperut dan kantongmu, bungkus dan nikmatin pas leha – leha di pantai. Biar makin yakin, buat mampir. Saya ceritakan rasa SATE AMBAL deh ya.
    Rawa Kebumen
    SATE AMBAL adalah sate ayam yang berasal dari daerah Ambal. Yosh, ambal merupakan nama daerah asal si sate. Perbedaan sekaligus kekhasan dari SATE AMBAL terletak pada pengolahan ayam sebelum di bakar dan sambal tempenya yang Nikah Banget! Untuk rasa sate ayamnya itu manis manis gurih, di padu dengan  bumbu tempe yang agak berkuah kental rada asin dan sedikit pedes merica sama Lombok. Penyajiannya selalu hangat guys, karena si Sate baru akan dibakar ketika ada yang pesan, apalagi di makannya sama sepiring kupat janur. Masha Allah, lantas nikmat Tuhan manakah yang kamu dustakan? Tips lagi nih, kalau kamu punya calon mertua yang jarang senyum, bawain deh seporsi hangat sate ambal, dengan ijin Allah beliau bakal senyum-senyum penuh arti ke kamu. Trust me! Its work! (Saya udah nyoba ke mertua saya :v)
    Gumuk Pasir, Rawa Kebumen
    Dan jangan lupa bawa pulang sampahmu kembali ketika jelajahmu menghasilkan sampah :P Fasilitas tempat sampah yang sesuai SNI belum ada, hanya ada beberapa gudukan sampah dibeberapa area Rawa. Mungkin ada orang yang inisiatif nyapuiin ketika hidupnya selo banget :v.So, sebagai #turislokal selalu-lah mawas diri. Kalau mau buang sampah sembarangan, ga perlulah harus sampai #JelajahNusantara :P
    Fyi,fasilitas toilet umum juga belum ada. Jadi untuk mengantisipasi biar enggak pipis sembarangan kamu pipis dulu di SPBU yang kamu lewati selama perjalanan menuju Rawa :v atau boleh juga sih nembung ke penduduk lokal. Karena Kebumen masih IndonesiaBanget jadi jangan khawatir permintaan tolongmu ditampik dengan tak acuh, ketika kamu memasang wajah senyum dan memelas butuh tempat pipis :v meski dengan bahasa yang belepotan, warga akan segera menyambutmu dengan hangat. “Monggo Mas…monggo Mbak, pinarak rumiyin ^^”. Semacam kalimat, silahkan mampir sebentar. Dan saking hangatnya warga, mereka tidak sungkan menyediakan segelas teh hangat beserta temannya (gorengan.red).
    Gumuk Pasir, Rawa Kebumen
    Buruan, enggak perlu mikir banyak – banyak deh buat memilih Kebumen sebagai destinasi pijakanmu di bumi jelajahmu. Akan ada banyak panorama indah siap membersamai piknikmu. Kebumen Beriman. Kebumen pangkal Keindahan. ^^






    Rawa Kebumen

    #VisitKebumen #TurisLokal #KebumenBeriman #JelajahBumi #DolanGramedia #GramediaHolidaySeason

  2. Bismillaahirrahmaanirrahiim :)


    Jumat, 11 Juli 2014
                 Dua rekan tercinta itu telah menyebar bahkan ketika bunga baru mekar. Angin perpisahan nyata menyapa terlalu dini. Hati-hati dijalan Nduk Izzah, Nduk Sesty :”) Semoga ada sempat untuk saling bersapa kembali :”) batinku meriuhkan harap.
                Tinggallah saya, Amie, Sifa, Evi, Susi, Bara, dan Akbar menyaksikan langkah-langkah panitia beberes. Meninggalkan Gedung Kyai Sepanjang untuk menghampiri UNTidar. Dan Selamat Datang ^_^ Malam menyita wujud asli dari kampus, menyisakan rona muram sebab sepi ditinggal penghuninya. Tak serupa Kampus Kentingan yang selalu ramai 24 jam -_- dari sekedar menikmati free wifi hingga dini hari, nobar di gedung UKM, pun dengan proses latihan rutin hingga proses tahunan. Kampus adalah saksi bisu pergerakan mahasiswa mengasah skill. UNTidar nampak tidur nyenyak dengan penjagaan siaga dari beberapa Satpam. Sayangnya tidurnya segera terganggu oleh beberapa bocah pendatang, ah ya tiba-tiba tingkat kepenasaran saya meningkat sebab langit nampak indah memikat dengan taburan bintangnya, belum lagi ada bukit belakang kampus yang berkedip menggoda saya untuk menghampiri. Bukankah kelip lampu di perumahan akan nampak sangat menggoda jika nampak dari kejauhan? Ya serupa gunung yang minta didaki dalam keagungannya dari jauh. Atau kamu bisa bayangkan Bukit Bintang di Yogya itu, nah ini versi yang lebih mungil saja :v.
                Kami (saya, Amie, Sifa, Susi, dan Evi )ditemani beberapa panitia perempuan tidur di amm semacam aula sepertinya (*CMIIW), Bara dan Akbar ternyata pulang ke Mendut hmm ya wajar saja mereka kan manusia asli Magelang :3 Tidurlah kami dengan dendang pengantar tidur obrolan ringan sebagai tindak lanjut dari aksi perkenalan yang terpotong di masjid kampus UGM sore tadi. Sifa yang ternyata sudah kedua kalinya berkunjung ke kampus UNTidar, Evi yang memiliki tingkat KEPO ekstrem, Amie dengan kesibukannya menulis fiksi ditengah deraan menyusun laporan, Susi yang nampak berani dalam kesendirian menjelajah beberapa kota, pun dengan panitia yang dengan sabar menanggapi kepenasaran kami, menuturkan proses kepanitiaan juga perkuliahan :v. Lelah nyata menyelimuti kami dalam kenyenyakan lelap. Have a nice dream ^_^
    ^O^



                Semangat Pagi! Sambutku pada Langit Pagi Magelang.
                Dua rekaat itu telah lunas dalam jamaah kecil dini hari. Melanjutkan proses berkeliling kampus yang terpotong malam, kami menyambangi beberapa gedung kampus negeri yang baru dinegerikan :v Dan kami kembali disapa oleh megahnya sebuah puncak gunung Merbabu (mungkin) di belakang kampus. Voilaaaa, tampan nian itu gunung! -_- Pukul enam lebih kami kembali ke basecamp, disambut oleh kepulan hangat teh teh manis, juga beberapa piring bakwan. :v Sungguh tak enak hati kami dibuatnya :3 Kamu kok baik banget sih :”( *akuterharu. Dan tiba tiba diantara riuhnya perempun perempuan saling lempar cerita, satu siluet terbentuk di muka pintu. Menghalangi sinar dengan badannya yang kurus. :v Semangat Pagi Komandan Kury :P , sebagai Lurah Rumah, dia bertindak sok ramah menyapa kami para tetamu tak tahu diri :v
                Menawarkan beberapa kegiatan, kami sibuk menyeleksi mengingat bahwa kami tak bisa seharian lagi di sana.
                “Ke Taman Kyai Langgeng aja yok!” seru salah satu panitia.
                Berbekal dua termos teh manis hangat dan dua kardus besar kue lebihan konsumsi semalam, kami (Saya dg Amie, Sifa dg Evi, Susi ) melenggangkan kuda besi dalam bahagia.
                Baiklah, di kota yang bukan serambi makkah atau asal dari Walisongo sepertinya Magelang sangat akrab dengan nama Kyai manapun :3 Dalam benak saya, Taman Kyai Langgeng itu serupa taman kota tanpa pagar tembok yang bebas dimasuki siapa saja tanpa tiket. Nyatanya, ada pagar besi menghalangi pandang kami melihat ke dalam, ada loket tiket yang harus dibayar lunas untuk menikmati fasilitas. Dan ada tiga patung Punokawan yang mengajak foto bersama :v
                Taman Kyai Langgeng bisa dikatakan perbukitan yang dihias dengan ragam fasilitas, dari sekedar kereta mini untuk berkeliling, beberapa kandang binatang layaknya di kebun binatang, juga sebuah arus sungai dengan aroma rafting yang menantang. Kami berkeliling sebentar sebelum memutuskan untuk melabuhkan kaki pada sepasang ayunan. Haha jiwa bocah saya keluar seketika, menikmati lantunan gravitasi bersama benda yang disebut ayunan tanpa menggagas pandang lingkungan :P
                Atmosfer hangat untuk menghabiskan weekend bersama keluarga maupun kerabat, Taman Kyai Langgeng menawarkan banyak fasilitas peretas gundah. Namun sayangnya operator tak tanggap pada kami yang sedang berlibur penuh bahagia. :3 Ruang dengar terisi penuh oleh lirik super galauuu dari negeri seberang :3 Oh Men :3 Plis ya saya sedang tidak ingin dekat dekat dengan galau :3 Pun disana yang banyak di huni oleh anak-anak usia PAUD hingga SD. Mengabaikan ruang dengar yang tak mendukung itu, kami beraksi dengan kamera 14 MP :D mengabadikan beberapa adegan kebersamaan dalam format JPG. Menunggu Pak Komandan datang, kami berkeliling sebentar. Iya, Pak Komandan memang sengaja membiarkan kami jalan di depan, katanya begitu cara Komandan Menjaga Kami :3 (berasa bebek yang di kawal di belakang :v) selang beberapa waktu, saat kami masih riuh dengan candaan khas perempuan :v. Pak Komandan melambai pada kami, memberikan instruksi untuk mengikutinya yang sudah melenggang jauh di depan bersama ketiga tourguide kami. Heiii Waiting Fooorrr Us!
                Ada banyak jalan setapak di sana. Jalan yang berujung sama, fasilitas lain yang disajikan. Dan ya kami nyaris tersesat :3 Dengan radar Neptunus yang masih aktif kami berhasil mengendus jejak Pak Komandan dan Tiga Cute Guidenya.


                Saya sempat sejenak hening. Memastikan telinga tak salah menangkap bunyi, ada deru air bertempur pelan dengan gundukan batu. Hei ada sungai, pun dengan tatanan batu alamnya. Aaarrrghhh arena ma’ger buat rafting :3 Lima menit, kecurigaan saya terbukti. Sebuah arus sungai menawan kami untuk menghabiskan pagi sebelum sadar hari yang kian siang, sudah saatnya beranjak dari Magelang.

                Melambai pada kenang tentang Tidar, Pasukan Dandelion terbawa angin peran yang lain. Semoga ada kesempatan untuk berjumpa kembali. Semangat berkarya dalam aksara! ^^


    *dituliskembali setahun kemudian :") 8/7/2015

  3. Sepasang Hebat!

    Thursday, 18 June 2015

    Bismillaahirrahmaanirrahiim :)


    Taken by Mr.Lintang

                Katanya harus ada perempuan hebat di belakang lelaki hebat.
                Mario Teguh dengan back up istrinya yang sepenuh cinta mengabdikan diri. Pak Jokowi dengan back up Bu Iriana yang setia dalam setiap kehadirannya. Juga semua laki – laki yang nampak hebat dengan kemapanan, kedudukan, keterpandangan, wibawa, juga kepopularitasan lainnya. Lantas bagaimana dengan lelaki – lelaki itu? Penarik becak, kondektur bis, sopir truk, penjaga palang kereta api, petugas kebersihan, petani padi, juga lelaki lelaki lain dengan kehadirannya yang nampak biasa.
                Penarik becak yang nampak hanya mencari waktu tidur tambahan di luar rumah, kondektur bis yang kadang bajunya nampak lusuh, sopir truk yang sering nampak tidak mandi, penjaga palang kereta api yang hanya sesekali nampak mengawasi, petugas kebersihan yang bahkan jauh dari aroma wangi, petani padi yang bahkan hanya buruh pada tetangga sebelum sempat memiliki lahan sendiri. Dan banyak lelaki dengan tampilan tidak menarik serta kesibukan yang kurang terpandang.
                Apakah secara otomatis kalimat “perempuan hebat ada dibelakang lelaki hebat” itu hangus dan tidak berlaku untuk mereka?
                TIDAK menurut saya.
                Perempuan hebat itu masih ada di belakang lelaki yang dimata dunia itu tidak hebat.
                Ketika pandang ini mengarah pada bapak penarik becak, kondektur bis, sopir truk, petani padi, petugas kebersihan atau pekerjaan lain yang nampak selalu kotor dan berpeluh. Ada dialog dengan hati dan Tuhan berkecamuk.
                Katanya masa depan yang cerah adalah milik mereka yang menyiapkan hari ini.
                Apakah mereka tidak menyiapkan hari ini sebelumnya? Hingga mereka harus nampak susah setiap hari.
                Apakah mereka menikah hanya bermodal cinta, tanpa memikirkan bibit, bebet, bobot? Hingga terkadang penghasilan hanya untuk makan hari ini.
                Apakah mereka bahagia dengan kehidupan seperti itu? Apakah mereka pernah piknik? Apakah mereka pernah pergi ke luar untuk makan bersama di restoran mewah? Apakah mereka terlintas ingin meraih beberapa bintang? Apakah mereka bahagia?
                Tuhan, mengapa terkadang kehidupan ini begitu tidak adil.
                Ada yang bekerja sangat keras hingga keringatnya berganti darah namun rumahnya kadang masih bocor sana sini, makan masih susah.
                Ada yang bekerjanya hanya tanda tangan, hadir rapat, koar – koar menebar harapan tapi penghasilan dan kehidupannya seakan terjamin dalam kenyamanan.
                Tapi, terlepas dari semua itu. Kasus bunuh diri orang miskin lebih sedikit dibanding kasus bunuh diri orang kaya.
                Ada apa ini? Kenapa orang yang nampak nyaman, bergelimang harta, kedudukan, wibawa dan seolah memiliki dunia malah rawan bunuh diri?
                Lantas sesak itu menyergap. Membungkus lisan dengan istigfar berkali – kali.
                “Lantas nikmat Tuhan yang manakah yang engkau dustai??”
                Kaya miskin, pintar bodoh, tinggi rendah, dan semua kebalikan itu adalah keseimbangan dari.Nya. Perbandingan yang memang disuratkan. Bukan sebab tidak ada ikhtiar, bukan sebab Allah mendiamkan, bukan sebab ketidakadilan.
                Dan benar!
                Selalu ada perempuan hebat di balik lelaki hebat. Siapapun dan bagaimanapun sepasang lelaki dan perempuan itu.
                Perempuan yang tidak pernah menuntut lebih dari apa yang diberikan lelakinya.
                Perempuan yang tiada henti mengalunkan doa dalam sabar mendampingi lelakinya.
                Perempuan yang tanpa ragu percaya pada ikhtiar lelakinya.
                Perempuan yang tak kenal lelah meniti langkah membersamai lelakinya.
                Perempuan yang ramah peluh tanpa perlu mengeluh.
                Lantas,
                Lelaki yang pantang menyerah memberikan apa yang mampu diberikan.
                Lelaki yang tak pernah absen mengimami keluarganya meningkatkan keimanan pada.Nya.
                Lelaki yang tanpa ragu percaya pada kekuatan perempuannya.
                Lelaki yang membalas kesetiaan itu dengan tidak pernah menduakan perempuannya.
                Lelaki yang selalu berpeluh tapi tidak pernah mengeluh, bahkan perkara perempuannya yang kadang menghadirkan sisi ‘kurang menyenangkan.’
                Sepasang hebat itu ada.
                Nyata berbahagia.
                Sebab dihati dan langkahnya ada syukur tiada tara kepada Allah Ta’ala.

                Semangat Pagi, Sepasang Hebat! ^_^

  4. Makhluk Angin

    Friday, 6 March 2015

    Bismillaahirrahmaanirrahiim




                Musim penghujan tiba, genangan kenangan hadir tanpa iba. Menyita ruang pikir dengan derasnya. Bersama rintik air, petir juga hembusan angin, semuanya mengarahkan pada sudut temaram sosok yang kadang masih terngiang.
                Oktober  lalu alam telah membuat jadwal kencan untuk senja dan hujan. Kala matahari kembali dalam peraduannya, kumandanga adzan menggema, juga kepakan burung gereja di angkasa, hujan menerpa, menyapa malam yang sendiri. Kamar blok E asrama kampus terbungkus air langit sedari senja. Dalam gelapnya malam terbungkus hujan tanpa penerangan (listrik padam beberapa menit setelah hujan turun), seluruh penghuni kamar berkumpul mengitari lilin di kamar 22. Saling bercerita tentang sosok buram yang hinggap dalam harapan. Dan entah bagaimana aroma tanah diguyur hujan itu resmi mengarahkanku pada sosoknya. Makhluk angin satu mei. :”D
    ^O^
                Bukan kali pertama saya bertemu dengannya, bukan kali kedua juga. :D Pandang pertama telah terpangkas sejak silaturahim antar dua kelompok pecinta alam beberapa bulan lalu. Dia yang mencari perhatian dengan memanjat papan Wall Climbing di sekolahnya, sementara saya dan beberapa rekan masih antusias dengan penjelasan sang Korlat. Hmm sialnya saya malah sibuk mengkhawatirkan dia diatas sana, khawatir jika ia lupa pada hukum Gravitasi. -_-.
                Sedang pertemuan kedua lunas sudah diantara serakan buku buku Pameran di Setda Kebumen. Pameran dua kali setahun yang selalu menjadi kunjungan pencari buku murah. :v. Ketika sosoknya nyata terlihat diantara rak rak kios penjaja buku, juga seruan seruan pedagang menawarkan dagangannya. Dia bersama rekan rekannya begitupun saya. Sempat hampir saling menghindar (sebab malu yang hadir dengan terlalu) namun tergiring iringan teman kami berpapasan, saling menundukkan pandang, lalu menyembunyikan senyum senang namun salah tingkah. Arggg sepertinya wajah saya sudah serupa udang rebus. Merah padam tak pandai meredam malu.
                “Bukunya bagus bagus ya...!” pesan singkatmu kemudian. :D Saya ingat betul, pesan singkat itu terbaca tepat saat saya meninggalkan tempat pameran menuju masjid agung terdekat. Menggugurkan ashar dalam empat rekaat lillahi ta’ala. :”)
                Pesan yang menjadi tiket saya memasang senyum sepanjang perjalanan. Pesan singkat yang membuat saya dibanjiri tanya ‘kenapa’ oleh semua rekan seperjalanan saya. :”D
    ^O^
                Ya, ini pertemuan ketiga kami. Di hari ketujuh tiap minggunya, dengan seragam osis yang beraroma keringat. Dengan ketidakberanian saya melenggang sendiri ke Kebumen (kota) dan kepeduliannya, kami bertemu.
                Dengan klakson sumbang dari kuda besinya, saya menoleh. Memastikan itu bukan seruan menggoda dari tukang parkir jalan, memastikan bahwa itu sosoknya. Dengan helm masih disinggasananya (dikepalanya dan kaca hitam tertutup -_-) entah ekspresi apa yang coba ia sembunyikan, lalu menyerahkan helm serupa untuk saya. tanpa ba – bi – bu, saya nangkring di jok bagian belakang :D memintanya menarik pacu kuda besinya, menyegerakan menuju stasiun radio tempat saya akan mengudara.
                Dan kamipun menjadi sepasang putih abu abu berpakaian osis yang berboncengan tanpa cengkrama, malu malu. :D Sesampainya di studio, kumandang ashar menggema. Mengundang kami menyerukan sujud. Dan (lagi) masjid agung dekat Alun alun menjadi tujuan. Memarkir disebelah menara, lalu melenggang berlawanan (dia ke arah timur dan saya ke arah barat) menuju tempat wudlu masing masing. Seusai sujud itu, ada namanya yang ku rapal. Ucapan terima kasih dalam kemasan yang berbeda. Lalu membenarkan letak jilbab, dan menyusulnya yang sudah siap di beranda masjid. Duduk bersandar dengan kaki telanjang.     
                Disanalah. Saat saya lupa menundukkan pandang. Mata kami beradu dengan tatap malu dan langkah ragu. Saya resmi dibuatnya merona. Hei, berapa jumlah jantungku?! Kenapa debarannya benar benar muncul dipermukaan?!
                Tanpa mendetailkan lagi, kami kembali ke studio.
                Dia bercerita bahwa salah satu rekannya ulang tahun, tepat satu mei. Dan ucapan untuk rekannya itu menutup kalimat saya diudara. Keluar menemuinya yang masih setia diberanda. Haha sungguh saya bahagia saat itu.
                “So How was?”tanyaku penuh antusias.
                “Suaramu enggak kedengeran.”  Jawabnya sedatar papan parut.
                “Eh masa?! Kata temenku kedengeran og.” Celetuku ngeyel.
                Sebab itukah ia menatapku sedari tadi. Tatap yang mengundangku menatapnya kembali. Tatap yang pada akhirnya membuat kami salah tingkah satu sama lain. Dia membenarkan duduknya, saya tersipu digoda rekan satu siaran. Dia kembali menekuri layar handphone dan saya kembali pada layar siar. Adegan lucu kedua sehari itu.
                “Mau pulang naik apa?” tanyamu, masih dengan nada datar.
                “Hmm emang jam segini masih ada angkutan?” gumamku lebih pada diri sendiri. Melihat jarum jam (17.11 WIB) lalu melempar pandang harap padanya.
                “Yaudah, ayo aku temenin nunggu di stand plat.” Tawarnya.
                “Hehhe.” Ada bahagia tak tersembunyi disana.
                Lima belas menit di lampu merah tempat biasa angkutan berhenti, tak ada tanda tanda kemunculan angkutan umum itu. Selaras dengan doa yang kurapalkan sedari tadi. Senja terlampau indah untuk ku nikmati sendiri dibawah atap angkutan umum itu. Terlampau indah untuk tidak dinikmati dengan makhluk angin ini.
                “Hmmm.” Desauku sembari menatap jarum jam yang terus berjalan, seolah putus asa.
                “Yaudah, ayo pulang. Aku anter!” respondnya seolah paham. Haha
                “Hehehe.” Benar bukan. Senja terlampau indah untuk tidak bersamanya. Senja satu mei dua ribu sepuluh.
    ^O^
                Aku mengunci senja itu. Mematrinya sebagai bagian termanis dalam kubangan coklat kenangan. Senja itu, saya sungguh berterima kasih. :”)
    ^O^
                “Avada Kadavra!” smsnya tiba tiba.
                “Ekspeliarmus!” mantra yang salah. Bahkan sebelum menguncapkannya saya sudah luluh lantah sebab ia tak memberi ruang saya untuk melawan. Memberinya Patronus.pun bukan tindakan berarti. -_-
                “Hahha.” Balasnya.
                “Milih jadi apa, antara laut, angin, pohon, rumah?” tanyaku out of topic.
                “Angin.” Balasnya singkat.
                “Kenapa?” tanyaku penasaran.
                “Ingin saja.”
                “Hmmm.”
                “Bebas.”
                “Hahaha”
    ^O^
                Ya, makluk satu mei yang lahir tanggal dua belas januari itu, adalah ia Si Makhluk Angin. Bolang dari negeri Merdeka. Calon akuntan yang pernah mendapat nilai 3 di mata pelajaran serupa. Calon akuntan yang mengajariku cara menikmati manisnya sejarah. Haha
    ^O^
                “Siapa penemu Benua Amerika?” ujiku suatu hari.
                “Columbuslah.” Jawabnya penuh percaya diri.
                “Haha salah :P Padahal kan si Erick Mera”
                “-_- diakan tidak meninggalkan jejak keberadaannya nag pernah singgah di daratan itu hooooo”
                “Haha emang.”
                “Sejarah itu tentang kronologis, ojo dihafalke!” nasehatnya.
                “Hmm iya.”
                “Ganbatte!”
                “Hamasah!”
                “Haha”
                “ :P ”
    ^O^
                Selewat angin aku titipkan rindu ini, melalui aksara saya mengenang kamu dalam bait sajak. Lantas apakah cerita kita hanya selewat angin, Wahai Raja Udara?!