Rss Feed
    Showing posts with label Conversation. Show all posts
    Showing posts with label Conversation. Show all posts
  1. Bismillaahirrahmaanirrahiim :)

    Nyatanya Qonaah itu sudah ada jauh sebelum ia mengenal rupiah.

     “Alfa tadi suratnya sudah dikasihkan ke Bu Eva?” tanyaku sepulang sekolah sembari mengecheck isi tasnya.

    “Surat?” Wajahnya berupaya mengingat pesanku pagi tadi.

    “Laah, ini suratnya masih ada, tapi kok uangnya ndak ada. Uangnya kemana?”

    “Uangnya untuk beli jajan tadi.”

    “Semua?”

    “Iyaa, soalnya saya tidak menemukan uang. Hanya satu.”

    “Astagfirullah Alfaaaa….Kan tadi pagi sudah Bunda sampaikan. Uang yang disurat tolong dikasihkan ke Bu Eva, Alfa jajannya pakai uang yang satunya, yang ada angkanya dua. Tadi pagi kan Alfa jawabnya iyaa, sudah paham.” *Emaknya sedang berusaha menahan esmosi.

    “Iyaaa, Bunda. Maaf. Saya lupa.”

    “Besok lagi diinget inget dong kalau Bunda ngomong.”

    “Iyaa Bundaa … Maafin yaa…”

    “Hmmmmm *hela nafas* Iya Bunda Maafin, tapi Alfa bertanggung jawab yaa. Harus mengganti uang yang tadi digunakan dengan uangnya Alfa, soalnya itu uangnya kan untuk Infaq Ijtima besok. Jadi nanti Bunda ambil uang tabungannya Alfa sepuluh ribu, oke?”

    “Baik Bunda …”

    “Yaudah, ini tolong dikasihkan ke Bu Eva .”

     

    Saat emosi sudah membaik, karena yaa lupa itu manusiawi bukan? Ndak, papa meski agak sedikit gemesh. Dalam perjalanan menuju tempat kerja usai penjemputan, kutanyakan kembali perihal uang sepuluh ribu itu. Bagaimana bisa ia menghabiskannya dalam sehari?

     “Alfa, tadi Alfa jajan apa saja memangnya di sekolah?”

    “Tadi saya beli jagung susu Bunda.”

    “Enaaaak kah? Keknya sering beli jagung yaa Alfa?”

    “Enak Bunda, ada manis manisnya, ada kejunya juga tapi sedikit.”

    “Trus jajan apa lagi selain jagung?”

    “Tidak jajan apa apa lagi. Hanya satu.”

    “Laaah? Kan tadi Alfa menghabiskan uang sepuluh ribu sama uang dua ribu, berarti Alfa tadi menggunakan uang dua belas ribu. Itu banyak sekali, tapi kok jajannya hanya sekali?”

    “Iyaa, tadikan uangnya saya kasih ke teman-teman.”

    “Teman-teman? Semuanyaa?”

    “Iya Bunda…”

    “Ya Allah … *emaknya mulai berkaca-kaca* kan Alfa bawa dua uang, satu angkanya sepuluh satu lagi ada angkanya dua. Nah yang dipakai jajan Alfa yang mana?”

    “Hanya ada satu Bunda uangnya, tidak ada angka dua.”

    “Tapikan tadi pagi Bunda kasihnya dua lembar.”

    “Tapi tidak ada Bunda. Sudah Saya cari hanya ada satu.”

    “Oke baiklah, jadi Alfa jajan pakai uang yang angka sepuluh, jajan jagung satu kali, dan uang kembaliannya dikasih ke teman semua?” *konfirmasi kronologis hari itu

    “Iyaa Bundaa, soalnya kasihan, tidak dibawakan sangu.”

    “Eh masa? Mereka tidak bawakan uang maksudnya?”

    “Iya, tidak dikasih sangu uang, jadi tidak punya uang, tidak bisa jajan.”

    “Sik bentar, tadi Alfa kasih uangnya ke satu teman atau ke banyak teman memang?”

    “Banyak Bundaa, kan banyak yang tidak disangu.in.”

    “Okee..mungkin mereka dibawakannya bukan uang, tapi makanan Ndud. Sangu itu kan artinya bekal, dan bekal bisa macam-macam. Seperti Alfa kalau di Seroja juga bawanya sangu nasi, lauk, sayur, buah dan jajan.”

    “Tapi jadi tidak bisa jajan di Sekolah Bunda, kasihan.”

    “Iyaa gapapa, Alfa boleh kasihan sama teman. Dan ndak papa berbagi ke teman jika memang Alfa punya uang dan tidak merasa terpaksa atau dipaksa. Tapi lain kali, tolong bilang ke Bunda dulu yaa. Dan tentu saja, pakai uang jajan Alfa sendiri, bukan uang yang harusnya untuk bayar urusan sekolah.”

    Meski agak mengejutkan, namun kejadian hari itu membuat rasa banggaku terhadap si Kakak bertambah setidaknya dua puluh centi meter. MaasyaAllah, bukankah sikapnya terhadap uang berlebih menunjukkan adanya bibit qonaah dalam dirinya? Perasaan cukupnya hanya jajan seribu meski ia memiliki uang sepuluh ribu. Terlepas, belum terlalu mahfhumnya ia pada nominal, toh sebenarnya dia sudah paham jika masih memiliki uang kembali artinya ia masih bisa memperbanyak jajan. Tapi, maasyaAllah dia tidak demikian. Ia beli secukupnya, seperlunya dan sisanya ia tunaikan pada jalur kasih pada teman-temannya.

    Dan Semoga perasaan cukup itu selalu ada hingga kapanpun. Tumbuh dan mengakar sebagai bibit perilaku tawadhu, zuhud, nan mudah bersyukur. Sehingga mampu untuk hidup sesuai kapasitas diri tanpa harus memaksa terlihat mulia di mata manusia :’)

     Bagimu cukup dengan apa yang dipunya usai upaya itu tertunai seutuh iman dan takwa. 

    MaasyaAllah Naaak, lagi-lagi Bunda belajar darimu :”)

     Btw Alfa uang jajan Alfa dua ribu, dan pernah dia habiskan meski lebih sering ia sisakan seribu untuk ditabung. Lalu misteri kemana perginya uang dua ribu yang saya berikan sebagai sangunya Alfa, masih belum terjawab.


  2. Open Endorse!

    Sunday, 21 January 2018

    Bismillaahirrahmaanirrahiim :)

    Taken by RisaRiiLeon
    Kolaborasi secercah langit jingga dengan luka itu bukan sesuatu yang bagus. Tentu. Tapi, selepas ashar itu membawa kami pada perkara luka.
    Setidaknya sepiring Mochi pandan isi pisang menjadi saksi betapa proses penyembuhan itu tidak semudah mengolah mie instan.
    “Kok bisa sih, laki laki semudah itu menyabangkan hati. Bersamaan menyayangi dua hati?” dengusku dengan ingat melayang pada pengalaman teman.
    Yang ditanya hanya melirik “Meh ngomong opo Nduk?” sambil menyeruput teh kelengkengnya.
    “Itu hlo Mak, temenku.”
    Angin menjadi perantaraku mengenang. Ketika sepasang yang telah lama bersama harus berakhir hanya sebab ada pihak ketiga yang datang. Jahatnya, mereka masih dalam satu lingkaran. Beruntungnya kedua perempuan itu adalah perempuan baik-baik, yang tidak akan saling jambak jambakan hanya sebab laki-laki. Lelaki itu pun tidak jahat-jahat amat, sebab akhirnya dia mau berbicara pada kedua perempuan itu. Mengomunikasikan apa yang menjadi kegelisahan diantara mereka, lantas mereka bertiga bersama mengunduh hikmah.
    Sedikit berakhir bahagia memang, namun tetap saja. Ada drama, air mata, juga asa yang tergadaikan untuk bisa memanen hikmah.
    Lantas apa kabar, jika lelaki itu hanya memilih salah satu dari dua perempuan yang sudah berteman itu lantas mengandengnya dengan lenggang kangkung. Menyudahi semuanya tanpa menengok lagi, bagaimana seorang dari mereka membangun pondasi kembali, seorang diri. Pondasi atas keyakinannya yang sudah berkeping – keeping.
    “Takdir itu ada Nduk. Sampai hari ini. Pun keterlibatan.Nya, tidak hanya perkara hati, bahkan daun mangga depan rumah yang jatuh barusan juga karena Allah sudah menghendaki. Allah selalu maha Terlibat.” Ucapnya tenang, dengan mata terpejam dan hidung menghirup aroma kelengkeng dalam-dalam.
    Iya sih Mak, memang demikian. Batinku.
    Jika Allah sudah menitahkan suatu perkara untuk terjadi, maka tak ada perkara yang dapat mencegahnya. Tak ada yang dapat memajukan atau menunda-nunda. Bukankah takdir yang telah digariskan Allah Azza Wa Jalla itu mengikat setiap makhluk.Nya? Sehingga seandainya seluruh tenaga kita kerahkan dan segenap kemampuan yang kita gunakan, tak akan pernah sanggup menggeser takdir itu dari keputusan.Nya. Lantas, apakah ada yang mampu kita lakukan untuk menolak takdir?
    Tetapi,
    Bukankah, Allah dan Rosul.Nya pun telah memberikan petunjuk kepada kita. Segala sesuatu ada hukum yang telah Allah Ta’ Alla untuk mengaturnya. Maka hukum itulah yang perlu kita ketahui. Pahami dan patuhi.
    Berkenaan dengan takdir nasehat Rosulallah saw kepada Ibnu Abbas ra perlu direnungkan kembali,
    “Wahai Anakku, sesungguhnya aku akan mengajarkanmu beberapa kata ini sebagai naseat buatmu. Jagalah hak-hak Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah dirimu dari berbuat dosa terhadap Allah niscaya Allah akan selalu berada dihadapanmu.”
    Lalu, sudahkah kita menyikapi takdir dengan bijak? Meramahi setiap sisi takdir yang mungking bersinggungan dengan syahwat atau egoisme kita sebagai manusia?
    Setidaknya, ketika pena takdir belum terlalu kering, kita masih memiliki beberapa “pilihan takdir”. Atau saat kita menapak tilas takdir takdir yang sudah terjadi. Tinta yang sudah terlanjur kering. Tidakkah kita berfikir akan ada semacam upaya memperbaiki sedikit langkah yang masih bisa direnovasi. Perbaikan tersebab sadar akan kesalahan. Remidi atas nama kesadaran diri.
    Kemudian, pernahkah kita memikirkan dia atau mereka yang menjadi kesalahan? Memikirkan dia atau mereka yang terdzolimi oleh kita? Bagaimana dia atau mereka menyembuhkan diri usai kita sakiti?
    Tidak pernah?
    Hmmm belilah es kucir. Minumlah dari salah satu ujungnya. Nikmati dan pikirkan. Sebab, percuma menjadi baik jika hanya tentang diri sendiri.
    Sebab, mudah bagi kita untuk melontarkan nasehat (semacam kalimat penghibur, mungkin) “Coba ubah sudut pandang. Ambil hikmahnya aja. Keep positive thinking!!!”
    Jujur. Itu agak naif (menurut saya).
    Lantas bagaimana dengan kita yang menyakiti? Bukankah akan lebih baik jika kita, sedikit agak lebih tahu diri? Agar paham ini kesalahan. Segeralah melakukan perbaikan! Evakuasi korban (mu).
    “Sudah minta maaf, yo!”
    Lalu? Apakah dengan meminta maaf semua akan kembali normal? Bagi kita yang melakukan kesalahan, mungkin ya! (Paling rasa bersalah yang masih ada.)
    Bagi dia yang disakiti, terdzolimi? Apa semudah itu?
    Kita minta maaf seringnya untuk sekedar melegakan hati (kita sendiri.)
    Akuilah, kita jarang bahkan hampir tidak pernah memikirkan cara dia atau mereka berdamai dengan luka (dari kita).
    Kita merasa bersalah lalu minta maaf, agar dosa kita terampuni. Agar kita merasa lega, agar kita merasa sebagai orang baik.
    “Nduk kok melamun?!? Es kucirmu mencair itu! Gage dimimik!”
    “Mak…….?” Panggilku ke Perempuan Tertangguh disampingku.
    Bukannya menjawab, malah menunjuk siluet matahari yang siap menuju ke peraduannya. Indah. Jingga yang merona menyala.
    Jadi harus bagaimana? Batinku masih bertanya.
    Entahlah. Saya sendiri tidak tahu harus bagaimana.
    Iya. Kita harus memaafkan. Kita harus meminta maaf. Kita harus positive thinking. Kita harus menjadi lebih baik.
    Hanya saja, sudah tepatkah kaki kita dalam menapaki takdir suratan.Nya? sudah sesuai tuntunan.Nya kah? Tidak menyakiti.Nya, dia atau mereka yang masih saudara seiman kita?
    Kelak, di penghujung hari, saya ingin mengetuk pintu rumahmu. Menunggumu membukakan pintu. Lantas ketika tatap kita sudah bertemu. Mari….. duduk diteras rumahmu berbincang sembari menanyakan satu hal.
    “Bagaimana perasaanmu setalah ku sakiti? Boleh aku peluk kamu agar perasaanmu lebih baik? kamu tidak perlu buru – buru memaafkanku, yang ku mau adalah perasaanmu menjadi lebih baik.”
    Sebab, memperbaiki diri terkadang bukan hanya perkara tentang diri sendiri (saja) tapi juga apa yang orang lain ikut nikmati (Ya, sebut saja semacam testimoni.)
    Karena open endorse tidak melulu perkara produk yang laku di pasaran, tapi juga mengenai cara kita saling menjaga perasaan saudara :”)
    Happpy Open Endorse! :D




  3. Bismillaahirrahmaanirrahiim :)

    google search

                Selalu. Ada helaan panjang ketika membahas perkara ini. Bukan lega, tapi menimbun kekuatan semesta. Membersamai. Satu kata kerja yang menyalurkan banyak tindak guna melunasinya tanpa beban. Memfasilitasi lahir batin. Kasat mata kebutuhan fisik yang utama, dan kebutuhan batin terkadang bukan nomer dua. Dan mata sekitar adalah yang paling awas menatap kinerja itu. Mencoba tidak peduli, tapi jelas tetap terfikirkan.
                Bagaimana caranya memilih satu diantara dua pilihan?? Jika kamu bisa melakukannya, ajari saya.
                Tidak. Ini bukan perkara memilih cinta dan sahabat. Pilihan itu sudah lama tutup buku. Cerita picisan yang sudah ku petik hikmahnya. Ini perkara finansial dan kehadiran. Finansial sebagai bentuk pencukupan kebutuhan fisik sebagai manusia. Pendanaan untuk makan, minum, mobilitas, komunikasi, pendidikan, bahkan kenyamanan dalam bentuk ruang beratap. Kehadiran, seberapa hadirnya keberadaan kita untuk lingkungan terdekat, keluarga. Menciptakan quality time bersama. Menghidupkan komunikasi. Saling hadir untuk satu sama lain. Saling membekali dan membuka hati. Dan tentu, saling membenahi diri untuk Illahi.
                Jujur. Ketakutan itu ada. Selalu. Hantu tidak tahu diri yang datang tak hanya malam hari. Bahkan setiap berangkat sekolah pagi. Sering ku halau dengan nyanyian riang, tapi sayang dia terus membayang.
                Saya takut, Ksatria Kedua melangkah ke luar pagar. Saya takut saringan dan bentengnya tidak kuat dalam menjalin pergaulan. Saya takut mendzaliminya. Saya takut Bapak Ibu kecewa. Saya takut saya hanya menjadi Kakak Fiktif.
                Banyak hal yang seharusnya sudah saya berikan untuk Ksatria Kedua, setidaknya sedikit bekal untuk membuka gerbang balighnya. Tiga belas tahun sudah masuk usia waspada sebagai seorang laki – laki. Fase keduamu hampir terbuka Le.. :”) Yayu masih belum tahu bagaimana cara tepat efektif menyampaikan hal hal ‘itu’ untukmu.
                Andai Yayu laki – laki, pasti yayu dengan ringan mampu menyampaikan mimpi basah pertama kali. Bagaimana mengelola hasrat semacam itu dengan bijak. Bagaimana gejala tersebut datang dan pergi dalam kendali. (Mungkin)
                Andai Yayu laki laki, pasti yayu sudah dengan senang hati mengajakmu menonton ‘proses reproduksi’ sebagai kajian ilmiah proses darimananya kita.
                Andai Yayu laki laki, pasti sudah dengan berani berhenti kuliah dan mengambil pekerjaan dengan fee yang mencukupi fasilitasmu. Bukan menjadi Fasilitator PAUD. Setidaknya dengan menjadi laki – laki, Yayu tidak dengan mudah memiliki keterikatan rasa dengan anak – anak seusia mereka. :’( Bahkan terkadang memilih jalan ini masih mengajukan ego Yayu :’( astagfirullah..
                Andai Yayu laki – laki, pasti sudah ku pameri kamu perempuan – perempuan yang sempat disukai lantas mengajakmu untuk mengenal rasa kepada lawan jenis dan mengelolanya dengan bijak. Bahwa ketampanan bukanlah segalanya, bahwa Perempuan tetaplah mempertimbangkan akhlak.
                Andai Yayu laki – laki, pasti sudah ku kenalkan kamu pada harga diri dan tanggung jawab, bahwa harga diri laki – laki tidak terletak pada lantangnya suara, tapi keyakinan dan kepahamannya pada tindak. Bahwa kelembutan tindak bukan bukti ketidakjantanan. Bahwa meminta maaf duluan bukan hal yang memalukan.
                Andai Yayu laki – laki, pasti sudah ku turuti setiap puncak yang kamu daki, sungai yang kamu susuri, goa yang kamu masuki, pun pantai yang kamu singgahi tanpa perlu takut jatuh sakit (lagi). Setidaknya dengan fisik laki – laki, selalu ada energy melimpah di raga. Seperti kamu yang nampak tak punya lelah.
                Andai Yayu laki – laki, pasti sudah diikhtiarkan sejak dulu untuk menjadi teladanmu menumbuhkan pribadi yang baik. Memberikan contoh dan refrensi dalam tumbuh kembangmu menyapa kehidupan.
                Andai Yayu laki – laki, setidaknya dengan menjadi sama lelakinya, Yayu bisa membersamaimu dengan optimal. Tidak perlu sungkan membahas ini itu tentang kelelakian. Tidak ambil pusing dengan yang katamu terlalu rumit dijadikan pertimbangan.
                Andai Yayu laki – laki, ya andai saja.
                Andai yang segera terhenti pada fakta bahwa saya bukan laki – laki.
                Semoga kamu memaafkan Yayu Le, ketika masih marah – marah saat kamu merusak barang – barang Yayu. Mencoba menggunakan barang – barang yayu tapi belum bisa lantas kamu mencobanya sendiri hingga rusaklah barang itu. Seharusnya, jauh sebelum itu sudah Yayu ajari duluan. Andai kamu meminta ijin dulu sebelum memakai, pasti Yayu ajarin. Andai Yayu tidak mudah lelah. Pulang sekolah selalu membawa lelah, dan kamu hanya akan menjadi penghias hari yang terabaikan. :”(( Maafken.
                Semoga kamu memaafkan Yayu Le, ketika masih marah – marah saat kamu pulang main sementara Yayu sudah kelimpungan mencari kemana – mana tanpa hasil. Andai kamu berpamitan dulu sebelum pergi, pasti yayu tidak usah mencari – cari. Andai Yayu tahu kebiasaan bermainmu dimana dan siapa saja teman akrabmu. Pasti tidak Yayu tidak bingung mencari sedemikian pusing.
                Andai Yayu Laki laki le, kamu tidak perlu melihat air mata setiap kali perbincangan kita mulai. Kamu hanya perlu paham isi percakapan, dan kegagahan sikap mengambil keputusan, bukan kelemahan seorang perempuan yang menjadi cengeng ‘akhir-akhir’ ini. :’) Kamu tidak perlu bingung membedakan ekspresi marah dan sedihnya kakakmu ini.

                Maafken Yayu Le, maafken belum mampu optimal membersamaimu. :”((

  4. Monolog Sendiri

    Wednesday, 19 August 2015

    Bismillaahirrahmaanirrahiim :)



                Sendiri.
                Mari kita eja bersama.
                S.E.N.D.I.R.I.
                Apa yang kamu temukan? Sepi? Mandiri? Dewasa? Keren? Sunyi? Atau Mati?
                Saya menemukan kejernihan, diri sendiri, dan keramaian dalam satu paket sekaligus.
                Duduklah dulu, akan ku ceritakan bagaimana saya menemui mereka.

                Sangat mudah untuk menemukan kesendirian, bahkan ketika kamu berpasangan. Secara amal ibadah memang lebih berkah ketika dilakukan berjamaah, namun untuk amal satu ini kamu cukup hadir sendiri, sepenuhnya, dan insya Allah akan banyak hal mengiringinya. Pensucianmu di mulai.
                Beberapa rekan sempat mengumpat kesendirian ini, padahal semakin dekat dengan kesendirian semakin dekat pula ia dengan apa yang (sejatinya) ia cari. Tidak percaya? Alami saja. ^^
    .::::::::::::::::::::::.
                Saat hanya ada kamu, detak waktu, hembus udara, juga bisikan hati. Mulailah berjalan. Kemana? Ke dalam dirimu. Rasakan segala hal yang selama ini terabai. Dengarkan apa yang selama ini kamu bungkam dalam – dalam. Lihatlah apa yang selama ini kamu lewatkan. Senyamanmu saja, bisa dengan berdiri, duduk, terpejam, membuka mata, tiduran. Nikmati saja semua itu.
                Helaan nafas. Denyut nadi. Suara hati.
                Sudah bertemu?
                Iya kejernihan.
                Kesendirian kerap membawa pada kejernihan diri. Jujur pada diri mengenai apapun. Lara, suka, duka, bahagia, tawa, kecewa, bisa hadir bersamaan. Yang lantas menjadi syukur tak berbatas. Betapa mulai Tuhan berkehendak. Bagaimana takdir membawamu pada takdir kini.
                Air mata itu? Hei, biarkan ia kembali mengudara tanpa perlu ditutupi lagi. Biarkan ia menghirup kemerdekaannya. Tak perlu sungkan. Hanya Tuhan yang sedang bersamamu kini. Tuhan itu sangat dekat dengan kejujuran, Sayang. ^^
                Tiba – tiba ragamu gaduh oleh suara – suara nuranimu? Selamat, kamu bertemu keduanya. Selamat berbincang dengan diri.
    .::::::::::::::::::::::.
                Tidak mengapa jika sesekali kamu berpindah dari lingkup rutinitas. Keluar dari lingkungan yang sudah mengenal bagaimana kamu, yang mungkin tidak menyadari ada banyak rekonstruksi sudah kamu lalui.
                “Berjalanlah sendiri saat kamu akan menempuh jarak yang jauh” kata seorang teman.
                “Berjalanlah sendiri ketika tujuanmu adalah perjalanan itu sendiri. haha” timpalku.
                Sering, ada sebuah keentahan waktu kaki ini hanya ingin melangkah tanpa tujuan tempat yang pasti. Hanya ingin berjalan, berjalan, dan berjalan. Murni jalan – jalan tanpa tendensi destinasi.
                Yogya, Semarang, Purworejo, Temanggung, Karanganyar, Solo, Klaten, manapun deh. Bahkan ketika itu hanya gang sempit yang belum pernah diambah.
                Jalan – jalanlah selayaknya jalan – jalan. Menyapa, tersenyum, membingkai panorama, terlibatlah dengan atmosfer yang sedang dibauri. Akan ada banyak hal.
                Bahkan meski sama – sama sebagai tempat jual beli dengan omset banyak, Pasar Gedhe, Pasar Klewer, Pasar Bringharjo, Pasar Wonosobo, memiliki atmosfer niaga yang berbeda. Komunikasi dan interaksinya, hmmm hirup deh.
                System perparkirannya juga tidak jauh berbeda, tapi pernahkah dibincangkan bagaimana proses para penjaga itu rela menggadaikan waktu untuk menunggui kuda – kuda besi?
                Jalan setapaknya barangkali nyaris sama hiruknya, ragam orang lalu lalangnya, komoditi yang ditawarkan, tapi pernahkah sejenak berhenti dan menyelidik langkah mereka? Kecepatannya, melenggangnya, arahnya, suasana yang membersamainya, atau aksi – aksi menarik yang lain?
                Ragam bangunan dan fungsinya memang tidak jauh berbeda, tapi desain bangunan dan penataannya kerap kali menunjukkan identitas diri. Bagaimana denganmu? Sudah kamu tunjukkan desain dirimu yang sejati? Bukan semacam desain produk yang biasa harus dicitrakan agar laku, tapi desain diri yang bijak berlaku tanpa ada yang tahu. ^^
                Melalui perjalanan keluar ini, kamu berlahan akan mampu menemukan jalan pulang ke dalam dirimu sendiri. Tak apa jika dalam perjalanan itu kamu akan nampak tak punya tujuan, plin plan, atau penuh kegamangan. Selama kamu yakin dengan perjalananmu, paham dengan langkahmu, teruskanlah. Ini kamu, itu mereka. Tuhan itu Maha Kreatif, menciptakan takdir manusia dengan ragam jalan. ^^
                Nah, berhubung kamu sedang jalan – jalan sendiri. Kamu tidak perlu khawatir akan mendengar orang mengeluhkan tujuan yang nampak tidak jelas, peluh yang mendera, lapar yang terabai. Pada akhirnya kamu bebas mengolah perjalananmu. Mau istirahat lima menit sekalipun tak apa, mau terus berjalan juga tidak ada yang menahan, mau kemana juga tidak ada yang sibuk mengatur agenda kesana kemarimu. Mau ngapain juga, kamu hanya setitik dari keramaian yang ada. Kamu ada, tapi belum tentu hadir untuk lingkungan luas itu. Mau menyapa siapapun juga tidak ada yang melarang sebab berbincang dengan orang asing :D (orang asing selamanya akan jadi orang asing jika tidak dijabati perkenalan sebelumnya, saya dan kamu juga bemula dari orang asing, kan? Hati – hati perlu, tapi jangan sampai menutupi ^^)
    .::::::::::::::::::::::.
    “Dirimu yang sesungguhnya adalah dirimu ketika tidak ada orang lain yang melihatmu.” Kata Ali Bin Abu Thalib ra.
                Malam selalu punya misteri, sepertiga malam adalah yang paling jujur mengungkap rahasia diri. Menikmati sepertiga malam dalam kesendirian, benar – benar nikmat yang tak terlukiskan kata. Lakukanlah. Menjaga sepertiga malam dalam sujud panjang pengabdianmu pada Illah. Sssttt, itu rahasia. Sungguh. Keromantisan itu akan pudar jika kamu mengunggahnya pada social media. Ingat, sendiri adalah moment kamu bebas bermanja – manja dengan Tuhan, dan sepertiga malam adalah masa yang paaliiiiiing romantis. Nikmatilah berdua. Sesekali boleh kok mengajak pasangan untuk bersama mendirikannya. Toh memang begitulah pasangan, bersama melangkah dalam kebaikan ^^
                “Lantas bagaimana dengan ibadah jamaah itu? Saya juga ingin menikmati setiap sujud dalam sunyi, sendiri, hanya ada saya dan Tuhan.”
                Lakukanlah. Sugestikan dirimu, bahwa sekalipun ragamu dalam jamaah batinmu sunyi berdua dengan Tuhan. Ia ada di hadapanmu. Tak usah menggagas ada siapa atau dimana kamu. Yakini, bahwa dimanapun kamu dan kapanpun kamu terjaga Tuhan hanya mengawasimu, tak berpaling dari makhluk lain sehingga tak ada sedetikpun waktumu untuk berpaling dan terhindar dari pengawasannya. Jika makmum, hayati suara imam layaknya komando hati kita, jadi shalat berjamaahnya tetap berpahala jamaah namun kenikmatannya laksana berkasih-kasih berdua dengan Allah.
                “Bagaimana jika saya ingin memiliki teman beribadah? Setidaknya agar kelak di surga saya tidak sendiri?”
                Haha itu fitrah manusia sebagai makhluk social, tak apa ajaklah dengan cara yang tepat. Jika melalui social media, ajaklah dengan menunjukkan jalan mengamalkannya, ajaklah dengan menunjukkan kebermanfaatannya, ajaklah dengan kisah sahabat rosulallah saw menghidupkannya, informasikanlah tanpa memberitahu bahwa kamu sedang, akan, selalu, atau belum mengerjakannya. Kamu ingat kan? Terkadang riya’ begitu mudah menyusup pada amalan? Hmm bisa – bisa amalan hangus sebelum sampai tujuan hakiki. Semoga terjaga ya ^^
                Kesendirian itu pun meramaikan ukhuwahmu, tidak hanya horizontal namun juga vertical. ^^ Selamat menapaki kesendirian. ^^ Lekas pulang jika sudah selesai dengan perkaramu. ^^
                “Jika ingin berjalan lama, ajaklah teman.” Timpal temanku menutup bincang.


  5. QS An - Nuur: 26

    Tuesday, 14 July 2015

    Bismillaahirrahmaanirrahiim :)


                Adegan tertanggal 12/07/2015 cukup membuat saya gelisah. Adegan berkunjungnya sahabat jaman aliyahnya Rumana ke rumah mewahnya bersama Robbi dalam sebuah lakon serial televisi. Hmmm berhubung sedang di rumah, dan kebiasaan Mamak nongkrong di depan tipi dengan tontonan macam itu. Jadilah saya, (Terpaksa) ikut menonton.
                Teman Rumana datang bersama anaknya. Sebagai Tuan rumah Rumana dan Robbi menyambut dengan senang hati. Bincang – bincangpun tercipta antara Rumana dan temannya itu, sementara Robi yang masih di ruangan agak risih mendengar cerita teman istrinya itu. Menjaganya dari prasangka, iapun beralasan mengajak main Habibi dan anak temannya itu bermain bola di luar. Meninggalkan dua perempuan itu berbagi cerita dengan leluasa.
                Usut di usut, ternyata temannya Rumana itu baru cerai dari suaminya. Perempuan yang dulu semasa Aliyah katanya sangat tertutup dan paling menjaga diri, lantas menikah melalui proses ta’aruf. Sekarang ternyata melepas hijabnya, sudah bercerai, dan dalam adegan itu ditunjukkan adanya niat tindak kejahatan yang berawal dari rasa cemburu sosial, betapa beruntungnya Rumana. Menikah dengan lelaki sebaik Robi, kaya, dan tampan. Hal yang juga dulu sempat menjadi impian teman Rumana itu. Tapi, takdir membawanya bertemu suami yang keji dan ringan tangan. Perasaan ingin diayomi dan dibimbing tidak terpenuhi. Seratus delapan puluh derajat dari Rumana.
                Adegan di meja makan saat berbuka puasa lah yang paling mengganjal untuk saya. Saat temannya Rumana meluapkan ketidakadilan yang dirasanya. Ketika dia sudah berusaha menjadi yang terbaik namun dipertemukan dengan seorang yang keji.
                Robbi dengan tenang lantas menuturkan QS. An – Nuur ayat 26. Ya, motivator terbaik untuk para single (yang terus memperbaiki diri) bertemu dengan pasangannya.
                “Perempuan – perempuan keji untuk laki – laki yang keji. Laki – laki yang keji untuk perempuan – perempuan yang keji (pula). Sedangkan perempuan – perempuan yang baik untuk laki – laki yang baik, dan laki – laki yang baik untuk perempuan – perempuan yang baik (pula). Mereka itu dibersihkan dari yang  dituduhkan orang. Mereka mendapat ampunan dan rizki yang mulia dari surga.”
                “Jadi menurutmu saya tidak baik? Perempuan keji?!” teriak temannya, tidak terima.
                “Yang tahu baik atau tidak baiknya kita itu hanya kita sendiri.” Jelas Rumana.
                “Tapi ayat itu sangat memojokkan saya.” lirih temannya sedih.
                “Tapi ayat itu sangat sesuai denganku.” Sahut Rumana sambil menatap Robi. Mata mereka beradu. Tersenyum. Ahhh! Menyebalkan.
    ^O^
                Hmmm dan yang membuat saya resah adalah jawaban Rumana yang amm katakanlah sedikit sombong dan kurang meneduhkan. :3 Untuk ukuran ditonton orang banyak, yang kebanyakan ibu – ibu menengah kebawah, dan sangat mungkin ada diantara mereka yang bernasib kurang menyenangkan dengan suaminya. (terlepas dari rasa syukur dan kufur yang menghiasi hati) adegan seolah membangun opini bahwa pasangan kita buruk itu karena kitanya juga buruk. (yang semoga kita, para pejuang yang sedang berproses memperbaiki diri terjaga dari hal tersebut.) Lantas dimana kita letakkan ingat pada istri Firaun yang ketaatannya tidak diragukan? Lantas dimana kita letakkan ingat pada kisah mbak Hana yang baik hatinya sudah kurang manusiawi (terlalu baik maksudnya). :3
                Ayolah! Sekalipun kisah Mbak Hanna itu hanya coretan pena Teh Asma Nadia yang sudah dikontaminasi dengan kebutuhan sutradara dan para krunya. Tapi itu adalah visualisasi yang tidak bisa dipungkiri keberadaanya di lingkungan globalisasi sekarang ini. :3 Ketidaksetiaan tetap kejahatan tak termaafkan (Allah saja tidak mau diduakan.)  -,-. Sebab saya yang sudah menyusuri CHSI (Catatan Hati Seorang Istri) dalam versi literasinya, dan mengakui kekecewaan saya pada pengemasan visualnya. Hmm setidaknya kita belajar menyimak deh ya :3


                Dalam novel yang merupakan kumpulan beragam curahan hati seorang istri ini (yang belakangan seusai membaca saya tahu, itu adalah kisah nyata yang dimetaforakan untuk kepentingan kejelasan penyampaian) saya menemukan bahwa terkadang, lelaki yang baik berjodoh (baca: menikah) dengan perempuan yang kurang baik, atau perempuan yang baik tidak menikah dengan lelaki yang baik.
                Baik di sini baik hanya hanya sinawang oleh manusia lain, kacamata luar. Tidak menjamin hati memang, tapi setidaknya ikhtiar itu nyata :”)

                Bismillah,
             
       Bagi saya, kisah – kisah memilukan perempuan – perempuan yang dipenuhi lara oleh kaum Adam, imamnya itu bukanlah satu hal yang harus dipojokkan dengan QS An – Nuur. Tidak ada yang salah dalam hal ini. Bukan surat yang tidak sesuai atau pribadi yang tak layak mendapat kebaikan.
                Surat itu benar nyatanya, sebab memang diturunkan untuk menjaga Aisyah r.a dari fitnah sahabat yang melihatnya berjalan dengan lelaki lain, yang bukan mahramnya. Menjaga hati Rosulallah SAW dari buruk sangka pada perkara tersebut juga menjaga Rosulallah SAW dari cemburu yang tidak perlu. Meyakinkan beliau bahwa Aisyah r.a masih untuh miliknya tanpa sempat tersentuh selain mahramnya.
                Pribadi itu pun tak sepenuhnya salah. Ikhtiar para perempuan itu bukan satu hal yang butuh diragukan. Mereka, perempuan – perempuan itu sudah menjalankan fitrahnya untuk memantaskan diri. Barangkali serupa Aisha istri Fir’aun itu, menjaga ketaatannya dengan harap Fir’aun akan turut taat bersamanya.
                Tapi kembali pada kuasa.Nya. Manusia hanya berkewajiban berupaya, berusaha, berikhtiar. Percaya bahwa akan ada bahagia di ujung kesabaran pada ketaatan meski banyak sayatan luka dalam perjalanan.
                Kenapa harus seribut ini? itu kan hanya sinetron picisan.
                Ahhh bukan perkara pada seberapa picisannya sinetron itu. Kan sudah saya bilang, ini lebih pada siapa, dan seberapa banyak massa yang menatapnya penuh penghayatan. Rekayasa sosial. Membangun opini. Dan kepentingan – kepentingan lainnya. (Kamu benar Seno! Media kita sedang mengalami pembusukan :3 sayangnya, banyak orang yang senang menjadi tikus. Menikmati kebusukan. :3 Ratatouille hanya animasi disney).
                Diceritakan bahwa temannya Rumana itu menikah melalui jalur Ta’aruf. Jalur halal untuk meminang ia yang diharapkan mampu menggenapi. Kita sama – sama belajar ini kan? Setidaknya pernah menjadi topik permbahasan di satu sesi kelas Sekolah Pra Nikah. Prosesi saling mengenal untuk menciptakan kebaikan dan mencegah keburukan di masa mendatang. Ikhtiar menjemput yang sangat dianjurkan. Tapi, oleh sinetron itu malah dihadirkan sebagai kesalahan (terlihat dari akibat yang terjadi pada temannya Rumana). Jujur, saya sebenarnya sedih.
                Baiklah, saya akan mencoba paham. Berbaik sangka. Bahwa itu adalah kebutuhan Sutradara untuk menjaga cerita. Tapi, bisakah menjaga keutuhan cerita tanpa merancukan kebenaran dan mengaburkan kebaikan?
                Sungguh saya senang, sekarang sudah banyak sinetron / tontonan yang berlatar islam dan pertaubatan. Manis. Tapi akan lebih manis jika dakwah/ syiar ini tidak nanggung. Menyampaikan kebaikan tanpa setengah – setengah, hadirkan secara utuh. Islam itu kaffah kan? :”) Iya berlahan, proses. Tapi harus menunggu episode ke berapa? Menunggu sampai ketersesatan sejauh apa? Banyak perdebatan dimana mana, media yang hanya menyampaikan kebenaran tanpa paket utuh. Setengah setengah yang menimbulkan banyak langkah prasangka. Tidak selaras dengan lancarnya masyarakat yang berlomba – lomba menyampaikan tanpa mengonfirmasi keutuhan berita. Semangat syiar yang tidak tercontrol dengan bijak. :”( Sedihnya itu disitu.
                Kembali pada perempuan – perempuan tadi,
                Saya pertegas bukan sebab kamu bukan perempuan baik – baik. Kamu sudah baik. Penjagaanmu pada pergaulan, penjagaanmu pada diri, kasihmu pada sesama, pengabdianmu pada keluarga, pun dengan tidak sungkannya peluhmu bersuara. Teruslah melangkahkan perbaikan. Ketika pada ujung jalan pemantasan dirimu bertemu dengan seorang yang kamu anggap tidak pantas untukmu, entah sebab apa dan bagaimana jalan itu akhirnya mengarah padamu. Bersabarlah, jagalah ketaatan pada.Nya dan ridhanya. Tuhan sedang jatuh cinta padamu. Ia ingin engkau mengajak seorang itu untuk mencintai.Nya sepenuh nyawa. Ya, engkaulah bidadari penyelamat lelakimu kini. Engkaulah media perantara turunnya hidayah.Nya. Insya Allah. Banyak yang akan sedia berbagi beban denganmu, menyediakan waktu dan telinga seumpama kamu membutuhkan keduanya. :”) saya siap menjadi salah satuyang sedia membersamaimu.
                Namun jika nyata, kaidahmu mulai terusik, ibadahmu mulai diganggu, hingga percayamu dipaksa gulung tikar olehnya. Bergegaslah! Kemas semua kesabaranmu untuk meninggalkannya. Tuhan memang membenci perceraian, namun ia paling murka jika diduakan. Tak rela jika ciptaan.Nya lebih diutamakan dibanding kuasa.Nya. barangkali, bukan melalui kamu hidayah itu turun. Pergilah setelah berjuang dalam kehakikian! Pergilah tanpa menyerah pada keputusaasaan. Semoga langkah dan hatimu kian dilapangkan guna menampung kesabaran. :”)
                Allah mencintaimu. Insya Allah.
                Banyak saudari yang peduli denganmu, Saudariku ...
               Dan untuk kita yang masih saling mengikhtiarkan menjadi versi terbaik untuk masing - masing. Tak apa jika sesekali kamu ingin berhenti sejenak, lepaslah lelah dan penatmu. Bahkan untuk mampu berlari lebih kencang, terkadang kita butuh mundur beberapa langkah bukan? Yang penting, teruslah berusaha bergerak. Bekerjasamalah dengan alam, untuk membuatnya tidak berhenti sebab menyeimbangkan langkah dengan kita. Saling memperbaiki meski wujud seorang itu masih misteri.Intinya, tak perlu minta dikasihani semesta untuk bisa meraih dia yang istimewa. Terus menuju sembari merayu Dia saja, insya Allah kelak disatukan dengan ia yang namanya selalu terapal dalam doa. :")
                Semangat berupaya ya ^^
               

    *NB Bagi teman – teman yang mau e -  book Catatah Hati Seorang Istri By Asma Nadia, bisa inbox di FB saya (Narisa Haryanti) atau inbox ke email saya chi_tiramisucoklat24@yahoo.co.id



  6. Jatuh Cinta pada Aksaramu

    Sunday, 12 July 2015

    Bismillaahirrahmaanirrahiim :)

    taken by risariileon

                “Biar aku tebak!” seru seorang rekan melihat bunga – bunga di ekspresi saya sedari tadi.
                “Tebak apaan?!” saya malah balik terkejut.
                “Kamu lagi jatuh cinta ya?”
                “Hah?!?”
                “Iya, kamu lagi jatuh cinta kan sama mas mas tumblr itu?!” todongnya tanpa babubi.
                “Mas Tumblr?!” saya berfikir keras dengan orang yang dimaksud, “Oh, Mas KaGe itu to? :D hahaha kok iso hlo...”
                “Hla dari kapan tahu tulisanmu bau bau namanya dia mulu, dan dari itu juga kayaknya kamu berbunga – bunga mulu deh.” Cecarnya sebagai pamungkas. Dan saya? Jalan saja deh. :D
    ^O^
                Dan untukmu,
                Semoga terjaga dari rasa cemburu.
                Amm maksud saya, ayolaah sekalipun saya sering mengutip kata – kata yang dia posting, sekalipun saya kerap merepost apa yang ia sampaikan, meskipun saya tak jarang meng’katanya’ itu bukan berarti saya jatuh cinta pada orang tersebut. I just wanna share, apapun yang memang butuh disampaikan pada sekitar.
                Kamu tahu kan? Bagaimana saya mencintai karya – karya Dee, coretan Hamka, penuturan Mbah Nun, puisinya si Seno, pun dengan uraian – uraian rekan rekan maya. Bang Jalan Saja, Mas KaGe, Kak Andhika Pratama, Teh Jagung Rebus, Miss Petrichor, juga Mbak Estehmanistanpagula, juga mereka yang namanya belum saya hafal benar. Saya jatuh cinta pada aksara yang mereka tuliskan dalam dinding rumah virtual itu. Saya hanya jatuh cinta pada tulisan mereka (setidaknya sejauh ini begitu :v.)
                Untuk jatuh cinta dan memutuskan bersedia membersamainya membangun yang disebut rumah tangga, bukan semata pada tulisan yang postingakan kan?
                Sering dalam nasehat pernikahan, katanya. Mendidikan anak dimulai sejak kita memilih pasangan. Sejauh ini pula dalam proses saya jatuh cinta pada karya mereka, saya benar – benar belum tahu bagaimana si mas mas itu bersikap di lingkungannya yang nyata. Bagaimana dia berbakti kepada keluarganya, bagaimana dia mencintai ibunya, bagaimana ia menghormati bapaknya, bagaimana ia menjaga saudarinya, bagaimana ia memperlakukan anak – anak, bagaimana ia istiqomah dalam jalan halal, bagaimana ia bertahan dalam setiap ujian. Untuk jatuh cinta dan memutuskan bersedia membersamainya membangun yang disebut rumah tangga, saya butuh paham ia secara nyata di dunia fana, bukan perasaan jatuh cinta secara virtual pada aksara di dunia maya. :”)
                Tanpa bermaksud berprasangka buruk kepada mereka (atau memang kadang perlu untuk melogiskan rasa? :v), terkadang begitu menyebalkan bukan? Setiap ada ‘kamu’, ‘saya’, dan ‘kita’ dalam tulisan yang disampaikan, seolah memang ditujukan untuk satu orang semata. Hanya kamu, dan satu – satunya. Tapi apa? Itu tulisan untuk umum kan? Se.kamu – kamunya, pasti sudah banyak orang yang GR dan bukan namamu yang disebut. Bukan si Fulanan bin Fulan yang menuju pada namamu. Jadi, semoga terjaga dari sikap rela di PHP :D
    ^O^
                “Jadi kamu enggak jatuh cinta pada masnya itu?!?” tanya Hanna mempertegas.
                “Saya hanya jatuh cinta pada salah satu bagian dari masnya itu.” Jelasku sekenanya.
                “Bagian semacam apa itu?” kejarnya belum puas.
                “Karyanya yang berupa aksara bermakna Hannaa, saudariku sayaaang!” gemasku menatapnya sayang.
                “Ohhh...ok.ok.” akhirnya dia berhenti bertanya. Kembali fokus pada pekerjaannya, untuk 5 menit. “Kamu lagi ngapain sekarang?”
                “Buka Tumblr hahahhaa”
    ^O^
                Siang menuju senja dengan mengendap, takut ketahuan berjalan cepat oleh dua perempuan yang belum ingin berpisah oleh waktunya pulang. Mereka masih enggan menikmati kesendirian di jalan masing – masing yang tanpa pegangan nyata. Hanya doa dan harapan bahwa kelak akan ada masanya, bertemu dengan ia yang nyata menawarkan jasa membersamai hingga jannah.Nya. Seorang yang menggenapi dua perempuan nol komah lima itu.
    ^O^
                “Sa, tapi pertemuan kita juga lucu hlo...” ucap Hanna tiba – tiba.
                “Hahaha kenapa emangnya Han?” alisku meninggi, mencari ingat.
                “Dari postingan kamu yang sering tak like, dan repost, terus curhat – curhatan di inbox FB” jelas Hanna semangat.
                “Curhat – curhatan sampai pagi hahaha terus aku ngajak ketemu dan langsung nginep di tempatmu gegara pas itu aku sakit dan takut di asrama sendiri gegara semua temenku udah pada pulang :D” kenangku terhibur.
                “Dan kita temenan sampai sekarang.”
                 “Terima kasih Putri, sudah menerima hamba untuk singgah di istanamu.”    

                “Hahaha mungkin memang kita ditakdirkan begitu.!”
                "Mungkinnn hahaha" sahut Hanna. 
               Dan kita berlalu. Melangkah. Melanjutkan masing masing hidup kita.