Rss Feed
    Showing posts with label Sosok. Show all posts
    Showing posts with label Sosok. Show all posts
  1. Peluk Frasa untuk Azizah

    Saturday, 12 March 2016

    Minggu, 13 Maret 2016

    Dan ketika banyak orang mencari nilai sebuah kekuatan, mereka lupa bahwa sejatinya kekuatan itu sudah di depan mata, hadir dalam sebuah amal  menerima. Iya, penerimaan atas segala scenario Allah terhadap kita sebagai seorang hamba.

    Dusun Gampingcilik, Desa Tegalrejo, Kecamatan Bayat, Klaten, dalam rumah sederhana Keluarga Bapak Wagiyono  dipinggir jalan Klaten – Gunungkidul beberapa ratus meter dari SD N Tegelrejo, Allah menitipkan sebuah kekuatan di sana. Bocah berusia lima tahun itu, resmi mengambil hati saya.
    Tanpa perlu mencuri, hati ini lekas terpaut pada bait pertama saya membaca ceritanya. Nyata, kebijakan penggunaan media social berhasil membuka jalan pertemuan kami.

    Broadcast dari Bunda Wahyu dalam grup Istitut Ibu Profesional Solo adalah gerbang pertama, yang lantas saya tularkan di grup Laskar Sedekah Surakarta. Tidak banyak yang saya lakukan saat itu, namun satu yang pasti. Mencari kebenaran informasi tersebut adalah langkah pertama.

    Terhubunglah dengan Kang Jaka Triwiyana (0856 – 4287 - 8277) tetangga desa Dik Azizah yang turut merawat Kakak Sulung Dik Azizah, Mahasiswa DKV ISI Surakarta yang sungguh baiknya tiada tara.  Kebenaran informasi tersebut ditemui. Tanpa perlu dusta, nyata ada dik Azizah disana, terbaring tanpa daya namun terus berupaya bersama simbahnya.
    Ramadhan 2015.

    Duka itu datang mengetuk melalui sebuah bengkak dileher serupa gondongen disertai panas, lantas di bawa ke rumah sakit kota sebagai upaya penyembuhan. Alhamdulillah, bengkak itu pergi. Namun duka masih mengiringi, diagnose dokter jatuh dalam sebuah vonis kanker darah. Leukemia katanya. Ingat ini melayang pada ingat mengenai sakit itu, sedikit gambaran dalam pelajaran biologi sewaktu smp. Sakit dengan sebab sel darah putih yang terlalu banyak dan diawali anemia akut. Keberadaan darah merah dan darah putih yang tidak seimbang. Tidak pernah ada bayangan bahwa akan berakibat sefatal itu pada Dik Azizah.

    Tidak ada mimisan, rambut rontok, atau pingsan berkali kali. Itu hanya gambaran fiksi penyesatan dalam sinetron. Nyatanya, dalam proses kemoterapi yang dijalani dik Azizah pasca pemvonisan kanker, dik Azizah masih bisa berlarian bersama teman temannya, mewarnai gambar bersama dokter jaga di rumah sakit ia dirawat, juga bercerita pada simbahnya bahwa ia akan masuk sekolah dengan tas baru, pergi ke mushola bersama Mbak dan adiknya. Ya, anak kedua dari tiga bersaudara itu masih sempat bertumbuh layaknya bocah lima tahun yang banyak tingkah kesana kemari hingga ia berpamitan pada simbahnya untuk berobat ke kota tetangga. Tiga hari berselang tanpa pulang, Dik Azizah dikabarkan ‘masih lebih baik dari kondisi bayi’ oleh Bundanya. Simbah Putripun menyusul ke Kota Tetangga. Mendapati cucu terdekatnya terbaring kaku, dengan reflek genggam kuat, respond mata yang hilang, dan badan yang mengurus kehilangan isi, bahkan untuk mengonsumsi makanan harus melalui selang. Keceriaan Dik Azizah lenyap, dunia Simbah senyap. Tidak ada lagi celoteh dik Azizah untuknya.

    Lantas cinta itu hadir penuh daya. Telinga Dik Azizah masih bisa menerima, raga Simbah masih sekuat kala muda. Proses pengobatan itu terus berjalan tanpa kehilangan sedikitpun harapan. Sayangnya, ujian itu datang dengan banyak jalan juga.
    Bapak Dik Azizah menikah lagi tanpa kembali (yang semoga lekas pulang bersama nurani dan kepedulian kepada sang Putri …aamiin), Sang Bunda berpulang pada Illahi tepat sepuluh hari sebelum kedatangan kami.
    Seminggu sekali kemoterapi itu dijalani (sebelum ibunya meninggal), pengambilan sumsum tulang belakang itu tentu bukan tidak sakit dan tidak membutuhkan biaya sedikit. Alhamdulillah ada BPJS (tanpa harus pro dan kontra, saya hanya bersyukur dan berterima kasih), pembebasan pembiayaan jelas ditangan.

    Lalu sepeninggal sang Bunda, Dik Azizah tidak lagi dirawat di rumah sakit ataupun kemoterapi, dia masih dirawat dalam pelukan Simbah Putrinya. Mbah Mi panggilannya, menyuntikkan susu dua jam sekali melalui selang. Ada susu Proten sebagai suplemen makanan utama Dik Azizah, selang yang sepuluh hari sekali harus diganti demi menjaga sterilisasi gizi, keduanya resmi menyalurkan nafas kehidupan dik Azizah.

    Semoga kekuatan menerima itu bisa menular untuk sesiapa saja yang menyapa. Perempuan yang tidak lagi muda itu penuh telaten menyibin (mandi kering dalam bahasa jawa) Dik Azizah, mengelap keringat dik Azizah, mengganti posisi Dik Azizah, dan ya saya ingat. Ada lubang luka dibagian belakang tubuh dan kepala dik Azizah, entah akibat proses Kemo atau apa, tapi keduanya mengeluarkan semacam cairan. Dan sebab stok obat dokter sudah habis, luka dik Azizah hanya diberi obat warung, antibioatik (supertetra) dan satu obat yang harus dihaluskan untuk lantas ditempel di luka. Alhamdulillah, sudah lebih baik. :”)

    Sabtu, 12 Maret 2016
    Dibersamai saya (0857 – 2847 - 9204), Mbak Avilia (0857 – 2524 - 8080), Dek Ifna, Aldi, Sabriyan. Kami bersaksi kebenaran informasi ini. Maka kepada siapapun yang hendak berdonasi bisa menghubungi kami untuk menjemput kesembuhan Dik Azizah. Maaf tidak ada publikasi fotografi, sebab nurani tidak bisa dibohongi. Jika ia terketuk, tunaikanlah hak saudara kita diamanpun ia berada, jika ia ragu dekaplah yang terdekat dalam jangkauan mata.

    Semoga langkah kita diringankan untuk meringankan langkah saudara kita.
    Semoga Allah senantiasa menjaga setiap amal baik kita sebagai pemberat di yaumul hizab kelak. Aaamiiiin.

    Rumah Aksara dalam Minggu yang seadanya.
    RisaRiiLeon


  2. Bahasa Cinta untuk Gadis Belia

    Friday, 19 February 2016

    Setiap kelahiran menggemgam banyak rahasia dalam tangis pertamanya mengudara. Rahasia yang sejatinya sudah ditakdirkan. Banyak kitab menyatakan tiga perkara itu. Rizky, jodoh, dan ajal. Kitap siapa? Bagaimana? Allah yang Maha Tahu. Kehadiran ketiganya.pun rahasia, lantas bagaimana jika nyatanya banyak manusia lancing mengeja rahasia rahasia itu?
    Baiklah. Tidak lancang. Toh memang Tuhan mencipta hamparan semesta ini sebagai tanda tanda bagi mereka yang hendak mengeja kearifan takdir.Nya.
    Satu rahasia nyaris terbuka untuk seorang Arda. Gadis belia itu belajar mengeja perkara masa. Kisah sebentar yang akan saya coba paparkan dalam waktu yang tak kalah sebentar. Sungguh! Dengan penuh kejujuran, saya tidak mengenal baik perihal lahir batinnya. Semua perkenalan itu melalui perantara lisan lisan itu. Serupa endors di belakang sampul sampul buku, tutup buku Hidup Arda hadir seusai tanah hitam itu berguguran. Menyisakan banyak isak dan air mata mereka yang pernah tersapa.
    Menuju senja yang masih ashar, beserta gerimis yang tidak romantic sebab perjalanan kali itu melaju kencang diantara bis bis luar kota. Menempuh Solo – Klaten dengan hati berdebar. Takut terjatuh. Bukan jatuh hati tentu saja :v
    “Pelan pelan aja ya Kak.” Tawarku pada rekan seperjalanan. (Saudari kembar dihati ^^ Ukhti Shalihah Maryam)
    Bismillah…
    Aroma kehilangan itu masih terhirup. Ada kenang yang masih menggenang. Basah serupa rumput halaman terguyur hujan tadi. Gambar A3 dengan wajah ramah penuh rekahan senyum itu terduduk di depan kami. Dan seorang di sebelah kiri kami duduk bergelora menyatakan rindu pada wajah terbingkai itu.
    Rindu pada suadari penghuni Rahim yang sama meski berbeda masa. Kakak beradik yang terpisah masa mencinta.
    Mesin waktu terputar. Slide slide peristiwa terpampang bergantian. Suka duka, upaya, ikhtiar, kepasrahan, dan doa. Mereka menjadi fakta dalam cerita.
                                  ^O^
    Upaya mengeja rahasia itu terlaksana, tepat saat gadis belia itu duduk di kelas lima sekolah dasar. Bukan vonis manis, tapi cukup membuat miris bocah yang sedang optimis meraih mimpi. ya, gadis kecil itu memiliki mimpi besar.
    DM tipe 1.begitu kata mereka.

    Kata sebuah iklan resiko Diabetes itu lebih besar pada proses genetika, sayangnya kasus gadis belia ini berbeda. Diabetes Miletus tipe 1 adalah yang hadir tanpa di duga, tak melalui jalur genetika, hanya hadir begitu saja.
    Merusak autoimun pada sel beta di pancreas, membabat produksi insulin pada tubuh.
    Kepatahan itu tak hanya menyerang gadis belia itu, jelas ada keluarga yang juga merasa.
    “Bisa diganti kah peran untuk menanggungnya?” Tanya mereka retoris.
    Tanpa maksud menyalahkan suratan ataupun keadaan, mereka berikhitiar saling menegarkan. Membangun pondasi kekuatan lebih besar untuk menopang berita gusar itu.
    Ada banyak hal yang perlu dilakukan.
    Check medis, pencarian upaya penyembuhan, dan jauh sebelum itu, ada langkah mengenal DM tipe 1.
    Insulin menjadi kata kunci di sana, hingga akhirnya prosesi penyuntikan itu hadir setiap hari. Setidaknya dua kali atau lebih sehari. Dosis yang lantas disesuaikan atas dasar monitoring kadar glukosa darah. Proses penggantian shift insulin basal dan preprandial insulin. Bekerjasamalah untuk raga itu, pinta mereka penuh percaya pada Allah Ta’ala.
    Tak lagi sesuka hati menyantap, tapi dia masih dengan leluasa hati menatap.
    Matanya tak pernah kekurangan bara semangat. Menatap cerah cita citanya untuk bisa menjadi sebaik baik manusia. Ya, berguna untuk sekitarnya.
    Jalur prestasi akademik ia kejar penuh cita. Keselarasan horizontal pun enggan tertinggal, ia teman yang baik untuk banyak rekan. Sayang, kakak perempuannya kerap menjadi bahan bullyannya. Tapi percayalah, itu adalah keakraban yang akan dirindukan. Tanda sayang menyebalkan tapi kehadirannya enggan dibuang dalam kenangan. ^^
    Saya melihat, waktu gadis belia itu terlaksana penuh daya. Penuh guna untuk sesama. Tamparan cerita di waktu menuju isya.
    Lantas nikmat Allah yang manakah yang kamu dustakan? :”)
    Ketika sepasang mata itu masih terbangun menatap bias mentari pagi, bukan sepasang malaikat yang menanyakan siapa Rabb.mu.
    Ketika raga itu masih bebas bergerak melanglangbuana menyapa penuh ceria tanpa rambu rambu larangan atas nama kesehatan.
    Tak kenal maka tak sayang. Dan saya tak harus mengenal (nyatanya) untuk jatuh sayang. Berbusa cerita menuju isya itu membuat resmi ada cinta yang membuncah bagi seorang adik perempuan di Surga.Nya. :”) dan sebaik baik cinta adalah ia yang membawamu lebih dekat dengan Allah Ta Ala. Maka, ijinkan cinta ini berbicara dalam doa.
    Bahwa gadis belia itu tidak kemana mana, bahkan sejengkalpun tidak. Dia masih di sana. Di rumah pinggir jalan dengan penghuni tiga raga penuh ketegaran. Raga adik perempuan itu memang tak kasat mata, tapi bias keberadaannya yang penuh manfaat adalah amal bakti yang abadi. Bahasa cinta tak melulu perkara tatap mata, tapi rapal doa yang kian lirih berpasrah pada.Nya.
    Merajuklah pada.Nya untuk keterangan jalan bagi gadis belia itu.
    Merayulah pada.Nya untuk keselamatan jalan bagi gadis belia itu.
    Tidak ada yang berubah, bahkan setelah raga itu tertutup tanah merah dan basah.
    Ia ada. Nyata hadir. Di hati. Di doa. Di nafas dan paru kita menggenapi fitrah sebagai hamba.Nya.
    Hanya satu yang berbeda. Bahasa kita mencinta. Tak lagi lewat kata. Tak lagi lewat belai manja. Tak lagi lewat tatap mata. Tak lagi lewat peluk mesra. Tapi, lewat doa. :”)

    Satu nama resmi masuk dalam list doa, bersanding dengan dua insan terkasih itu… Romo, Biyung, dan Fitria Ardana Anindya Jati

    Selamat mendoa untuk ia yang tercinta. :”)
    Ya Rabbi, kasih.Mu adalah nyata. Maka dengan ridho.Mu Tuhan semesta alam. Yang Maha Satu lagi Maha Berdiri Sendiri, ijinkan kami untuk berkumpul kembali di tempat sebaik baiknya kembali. :”) Surga.Mu. Aaamiiiin…aamiiin…aaamiiin ya rabbal’alamin.
                                   ^O^
    Dan kamu, Kakak Perempuan Gadis Belia itu. Sudikah kamu melanjutkan hari bersamaku? ^^ Menggenggam tangan kecil ini untuk meneruskan apa yang kita mulai, ya, ada amanah untuk menyelsaikan hal yang satu itu. Sungguh, ini belum terlambat. ^^ Sudikah untukmu menyudahi kemanjaan rasa itu? ^^ ada langkah panjang dan hari luar biasa di depan sana. Waktu istirahatmu sudah cukup untuk membangun kekuatan. ^^
    Ujian itu resmi membuatmu menjadi perempuan tegar. Percayaalah, semua baik baik saja.
    Lakukanlah apa yang memang butuh dilakukan, tidak perlu banyak bertanya. Kita tidak akan pernah tahu sebelum mengalaminya sendiri. Hi, I’m here.
    Saya disini. Siap membersamai.


  3. Bismillaahirrahmaanirrahiim :)


    Sabtu, 24 Mei 2014
               

               
    Tiba tiba saya memikirkanmu, entahlah. Dan menuliskan inipun, saya tak berharap kamu akan membacanya, ini hanya sebatas penyaluran uneg uneg saya yang sering tak kesampaian berbincang denganmu.
                Saya ingat benar jabat tangan kita beberapa waktu lalu, saat kamu bersama beberapa rekanmu asik berbincang di depan asrama, lalu saya menyapa salah satu rekanmu dan ya akhirnya kita memiliki sempat berjabat setelah setahun lalu.
                Rabu, 22 Mei 2013 adalah perjumpaan kita kesekian kali dan jabat kita pertama kali. Agak mengejutkan mengingat kamu sangat mahal senyum saat berpapasan, dan betapa murahnya senyum itu 22 mei 2013 lalu. Kamu bahkan menyapa beberapa rekan yang sepertinya kamu kenal dekat, rekan rekan organisasimu. Dan saya melihatmu dalam diri yang berbeda, kamu banyak bicara sedangkan saya masih tertegun menikmati keterkejutanku atas dirimu yang muncul itu.
                Barangkali kamu tidak sadar, bahwa kamu sering membuat saya cemburu. Kamu dengan wordpressmu yang sarat makna juga ego. Kamu dengan komunitasmu yang selalu kamu agung agungkan dalam pena. Aku cemburu dengan luasnya pandang yang kamu miliki, dengan hal hal luar biasa yang kamu tuturkan dengan apik, dan tentu saya cemburu dengan mereka yang sedia kamu ajak bincang.
                Kedatanganmu dua tahun silam sempat menarik gravitasi saya, adik tingkat transfer yang sejatinya sebaya dengan saya? ya, itu kamu. Banyak lisan yang menuturkan tajamnya analisismu, banyak lisan yang mengabarkan cadasnya buah pikirmu, dan tentu banyak lisan yang tak segan memuji kecerdasanmu. Dari sekian banyak kabar itu, saya mencari tahu sosokmu lebih lagi, yaa meski nyatanya tak setiap senyum yang saya lempar selalu kamu tanggapi, tapi dari lubuk hati saya, jujur. Saya ingin diajak berbincang olehmu, seatusias kamu berbincang dengan rekan rekanmu 22 mei 2013 lalu bukan sekedar basa basi “mau kemana dari mana?”. Sebab kamu banyak bicara, maka saya akan banyak diam dan mendengar katamu dengan sesekali saya menimpali wujud antusias saya.
                Atau barangkali saya memang tak sepantas itu mendapat kesempatan sekedar berbincang denganmu? Sebab saya tak secerdas kamu menganalisis sebuah peristiwa, sebab saya tak sepandai kamu merangkai hipotesa, sebab saya hanya seorang Risa? Ahh sudahlah, pada intinya, saya benar benar ingin diajak berbincang denganmu, bertukar ilmu dan seperti katamu, “Saling Mencerdaskan.”
                Anggap saja saya pengagummu yang diam diam dalam sapaan tiap jumpanya berharap ada undangan diskusi. :”)


                                                                                                Pengagum sekaligus rekan satu atapmu. ^_^
     

  4. Menjelang Seratus Hari Kepergianmu :")

    Thursday, 19 December 2013

    Bismillaahirrahmaanirrahiim :)



    Selasa, 01 Oktober 2013

    Saya dan Romo


                Seperti Jumat itu. Jumat, 19 April 2013. Berawal dari pesan singkat beberapa karakter, lalu dilanjutkan adegan panik sambil menelfon ke beberapa nomor. Isak dan jerit tiba tiba menyergap. Lantas guyuran panas di mata, menanti tangan menyapu duka. Pagi ini, Sabtu, 28 September 2013. Peristiwa itu kembali. Terulang. Terekayasa Tuhan.
                “Nduk, Romo Karyo meninggal.”
                Palu takdir yang mengetuk tanpa permisi. Menggebuk hati menjadikannya sesak. Tuhan, kenapa harus sekarang?! Batinku lirih. Bukan, bukan saya tak percaya bahwa kelak semua makhluk yang bernyawa akan berpisah dengan raga, namun mengapa sekarang?! Saat saya bahkan belum sempat mencium punggung tangannya meminta restu untuk pengembaraanku kelak. Saat jarak masih kejam memisahkan beberapa raga. Saat kata maaf saya belum terucap kembali. Saat cerita angkatan empat limanya belum terdengar telinga. Saat saya disini, bukan disana mendampinginya. :”( Ya Rabbi Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang terima ia dan seluruh amal ibadahnya di sisi.Mu. Ya Rabbi yang Maha Pengampun, ampuni segala kehilafannya. Terangkan dan lapangkan kuburnya untuk mencapai ridha.Mu Ya Rabb :”) Serta pandangkanlah kami di sini pada hikmah yang senantiasa Engkau sematkan dibalik tiap musibah agar ikhlaslah jiwa raga kami menerima suratan.Mu. Aamiin
    ^O^
                Dengan hati yang lebam sebab duka yang menghantam, saya pulang. kepulangan pertama setelah lebaran suci kemarin. Meninggalkan dan memasrahkan beberapa amanah pada beberapa rekan. Mengangkat tangan kanan menghentikan bis di depan kampus. Dengan mata yang masih menggenang, kenangan kenangan itu bersliweran. Slide slide kenangan bersama lelaki senja itu. Lelaki penuh cinta yang mengisi enam tahun pertama saya. Sepasang senja yang setia meninabobokan saya sepanjang malam, menyelimuti penuh cinta.
    ^O^
                Lelaki senja yang tiap malam selalu berkeliling kompleks. Memastikan anak cucu lelap dalam aman. Memastikan tamu tamu tak diundang tak merampas bukan miliknya. Ya, seperti rumah di desa desa pada umumnya, satu deret kompleks ini masih memiliki hubungan darah, meski hanya setetes tapi sama sama dari keluarga Widodo. Jauh setelah itu ada nama Adam dan Hawa menjembatani darah persaudaraan kami. Dan lelaki itu, di tengah serangan kantuk, selalu menyediakan waktunya untuk sekedar berkeliling kompleks, seperti satpam yang siaga melakukan tindak preventif. Sesekali dalam sepertiga malam, saya melihatnya menyapanya lantas menawarkan teh hangat. Hmm pagi dini hari selalu menggigilkan raga. Dan saya enggan melihatnya menggigil.
    ^O^
                Juga diorama kunjungan saya setiap pulang menyambangi Kebumen beberapa bulan sekali. Kunjungan senja hari berbekal mangkuk mangkuk rindu yang tersaji dalam menu makan malam untuknya. Menu yang selalu menjadi pengantar bincang hangat hingga seusai isya. Lalu bincang yang mengantarkan banyak bingkai rasa. Rasa rindu pada sosok Biyung yang telah lebih dulu berpulang. Rasa kagum sebab usaha ketegaran Romo mengikhlaskannya. Rasa sayaaang yang berbuah ketaktegaan membiarkannya di rumah joglo itu seorang diri. lalu akan dibalas dengan pernyataan ‘tak apa apa’ sebab enggan merepotkan. Aahh Romo, kamu tak pernah merepotkan bagi kami. :”( . Bahkan saya yang memiliki pengalaman sangat merepotkanmu.
    ^O^
                Ingat enam tahun pertama yang kita habiskan bersama? Semenjak Ayah Bunda merantau ke negeri hujan, kamu beserta Biyung juga Nini-Kaki mengasuh saya. Menjinakkan tangis tengah malam saya. Meredam ngilu sebab gigi yang menggoa oleh kembang gula dari toko dengan menggendong saya di punggungmu. Belum tentang selimut yang selalu basah tengah malam saat saya lupa buang air kecil sebelum tidur. -,- Bahkan sampai Ayah Bunda pulang, saya malah merasa asing dengan keduanya. Memilih tidur bersama Romo Biyung dibanding dua orang itu. Bahkan sampai kelas kelas lima, kamu masih disibukkan mengambilkan rapot saya. Lantas meyakinkan saya bahwa bahwa saya tidak bodoh, bahwa posisi bayangan si pertama bukan berarti runner up. Sebab katamu, usaha dan pemahaman saya selalu yang lebih utama dibanding sebuah ranking -,-. Juga kayuhan sepeda yang memuat saya dibangku belakang sedel. Mengajak saya menonton layar tanjap hajatan tetangga atau sekedar berkeliling mengitari desa. Hal hal sederhana yang selalu istimewa sebab terlaksana bersama. Iya Romo, kerjasamamu dengan Biyung, Nini-Kaki berhasil menyelamatkan masa kecil saya dari ketidakmenyenangkan sulung ditinggal rantau. :3
    ^O^
                Lantas apa yang lebih menyesakkan selain ini? Di sapaan pagi akhir sepetember dengan berita perpisahan tak terencana manusia ini. Dimana seharusnya saya mendampinginya sebagaimana dia mendampingi saya semasa kecil. Seharusnya saya turut serta menyelamatkannya dengan ikrar syahadat diujung hembus nafas terakhir.
                Semoga kamu memaafkan saya Romo :”(
    ^O^
                Dan menjelang seratus hari kepergianmu, sesak itu masih ada. Masih mampu meledakkan banyak isak. Rinai maaf yang terbungkus banyak sesal. Rinai yang selanjutnya akan saya renda dalam rentanya malam, menghidupkan diorama diorama kita bersama sujud sujud sepertiga malam terakhir.
                Ya Rabb, sungguh sesak itu bukan tentang kebelumikhlasan saya. Bukan tentang ketidakrelaan saya. Sungguh saya sangat percaya bahwa Engkau lebih mampu menjaganya dengan segala cinta.Mu. Sayapun percaya, bahwa dia telah tersenyum bersama banyak malaikat.Mu. Sayapun tak ragu sedikitpun pada Kemahaampunan.Mu pada hamba yang bersimpuh penuh taubatan. Maka Ya, Rabb, ijinkan saya merawat kisah kami dengan rapalan rapalan saya untuk kelak Engkau pertemukan kami dalam naungan rahmat.Mu, di surga.Mu. Aamiiiiin :”)

     

  5. Fatah ^^

    Saturday, 7 December 2013

    Bismillaahirrahmaanirrahiim :)


    Minggu, 08 Desember 2013


                Tertanggal 13 Desember 2013. Nyaris setahun yang lalu. Saya mengunjungi ruang kenangan itu. Menemukan sesosok raga yang mencuri perhatian dan kasih sayang beberapa bulan lamanya. :”) Hai Fatah Sayang :”)
                Namanya Fatah. Sulung dari tiga bersaudara. Dinda dan Najwa dua adik perempuan yang tak jauh beda dalam hal usia. Mereka selalu saja mengundang bahagia tiga  hari dalam seminggu. Senin, Rabu, Jumat, atau Selasa, Kamis, Jumat. Tiga hari dalam seminggu selepas dzuhur. Melalui seorang rekan saya diperkenankan menemani Fatah mengeja huruf.
                Dengan Ibu yang masih muda dan cukup paham pergaulan masa kini, bertuturlah sang Ibu tentang kondisi Fatah pada saya. Dengan harap saya memiliki tindakan bjiak untuk sang buah hati juga agar saya lekas beradaptasi.
                Fatah baru masuk beberapa bulan disekolah dasarnya yang dekat rumah. Mengikuti segala pelajaran sesuai irama. Sayangnya irama yang didendangkan Fatah berbeda dengan irama yang dinyanyikan rekan rekannya. Fatah yang tidak bisa diam, Fatah yang tak bisa fokus dalam jangka waktu lama, fatah yang ini fatah yang itu, ini itu yang pada akhirnya membuat rekan rekannya merasa terganggu. Ini itu yang pada akhirnya membuat gurunya meneriakinya ‘sakit’. Ini itu yang membuat lingkungan memperlakukannya dengan tatap ‘ihh!’ tatap ‘enggan mendekat.’ Tatap ‘awas berbahaya’. Dan dari tatap tatap itulah Fatah kian mengecil, menyublimlah semangat Fatah untuk belajar, yang ada hanya tekanan, tuntutan, juga ketiadaan teman. Fatah ingin punya teman, fatah ingin diperhatikan seperti yang lain, fatah ingin belajar. Dinding ingin yang jebol hingga membuahkan tantrum, dan Fatah pulang dalam kondisi terpasung!
                “Astagfirullah!” pekik saya tertahan membayangkan anak seusia Fatah terpasung hanya sebab kata orang dewasa ‘nakal’? Hei, siapa yang berlebihan disini? -_-
                Ibu Fatah menerima kepulangan fatah kerumah dengan linangan air mata, tak tega melihat buah hatinya didera sedemikian rupa. Dari sekian banyak guru di sekolahnya kenapa tidak ada yang mampu mengontrol Fatah sehingga memilih memasung Fatah kecil.
                Ya Rabbi, sepertinya mereka lupa pada fungsi hati yang mendamaikan itu. :”(.
                Ibu Fatah seperti yang saya bilang tadi. Ibu muda dengan tiga anak kecil kecil (Fatah kelas 1, Dinda TK, dan Najwa baru merangkak *pentingnya memikirkan jeda memiliki anak :3) bukan menutup mata pada keistimewaan Fatah itu. Beliau memang tidak tahu tentang gejala yang mengindikasikan bahwa Fatah mengalami ADHD (Attention Defisit Hyperactivity Disorder / Hiperaktif, kondisi dimana anak memiliki kelebihan tenaga sehingga membuatnya nampak tidak pernah lelah), beliau bari tahu setelah kejadian yang dialami Fatah disekolah. Beliau menyekolahkan Fatah di sekolah dasar dekat rumah berharap akan lebih mampu mengontrol pergaulan dan kondisi Fatah, mengingat ada dua makhluk cantik dirumah yang juga masih sangat butuh perhatian. sayangnya harap tak sesuai nyata. :3 Pihak sekolah malah menyalahkan keputusan sang Ibu sebab menyekolahkan Fatah di sekolah umum :3.
                Mendengar fakta adanya sikap guru yang demikian, sunggu mengiris hati :3. Karakter guru yang mengayomi menguap bersama bubuk detergen dipakaian mereka saat dijemur. Membuat hati mereka gersang tandus tanpa kesejukan . :3 Bahkan sudah menjadi tugas guru untuk dapat membantu siswanya dalam belajar. Membuat yang bodoh menjadi pintar, pintar menjadi cerdas, cerdas menjadi super cerdas. Dan dalam kasus Fatah, sudah seharusnya guru mampu membantu Fatah untuk lebih dapat fokus, dapat diterima teman temannya, bukan malah ikut membedakan. :3 Mengganti model pembelajaran menjadi lebih kreatif sehingga tidak menyisakan siswa untuk berpaling dari materi misalnya, membuat proses belajar semenarik dan seinteraktif mungkin. Bukankah ketika siswa tidak bisa fokus dan tertarik pada obyek lain adalah tanda ada yang perlu diperbaiki dari cara kita menyampaikan materi? Bahwa itu terguran tersirat bahwa kita masih perlu berbenah? Bukan lantas menyalahkan siswanya dan menjudge mereka tak bisa menyesuaikan! Tugas guru kan juga membuat semua potensi dan prestasi terstimulus dipermukaan tindak. Merangkum semua kemampuan agar terekplore secara optimal, bukan semata membandingkan satu sama lain dalam peringkat kelas dan nilai rapor :3. Jika ada satu yang berbeda ya berarti harus memiliki cara untuk tetap merangkulnya agar mampu setara dan membaur bersama rekannya.
                Dan ya saya akan berusaha menjadi teman belajar Fatah yang baik. :”)
                Sangat paham pada banyak kemungkinan. Bahwa barangkali Fatah akan cepat bosan, susah fokus, selalu bergerak, minta ini itu dll. Benar benar harus kreatif. Memikirkan permainan edukatif, menyisipkan pembelajaran dalam permainan kami. Saling lempar soal pertambahan pengurangan saat tos tosa, bermain abcd untuk kemampuan berbahasanya, tebak gambar meski saya tak pandai menggambar, juga permainan sederhana lainnya.
                Pernah saat Fatah barangkali sedang terlalu lelah sebab kurang istirahat (ADHD sering lalai untuk istirahat sebab kapasitas tenaga mereka membuatnya selalu ingin bergerak) Sebuah kata ganti –nya menyulut tantrumnya. Melempari saya dengan alat belajar terdekat *seusai saya menjauhkan gunting dan cutter pengasah pensil. Buku, pensil, penghapus, penggaris, semua melayang, mengarah pada saya. hati saya banjir. Takut dan sedih. Takut jika Fatah patah semangat untuk belajar. Sedih sebab saya belum mampu benar benar mengoptimalkan fungsi diri untuk menemaninya belajar. Tapi, diantara takut dan sedih itu ada seutas rasa tertantang untuk mampu mengontrol Fatah yang undercontrol.
                Saya merapikan alat alat tulis, buku buku saya masukan ke dalam tas serta memasang wajah datar seolah lelah dan menyerah.
                “Ibu ngapain beres beres!” bentaknya menghentikan aksi melempari saya.
                “Mau pulang Fatah. Kan Fatah udah enggak mau belajar sama Ibu, terus ngapain dong Ibu disini? Fatah istirahat aja, enggak usah belajar lagi sama Ibu, ya?” tawarku tanpa dosa. Enggan mempedulikan tantrumnya.
                “Tapi itu belum selesai nulisnya!” Yes! Dia terpancing.
                “Laa kan Fatah enggak mau nurut sama Ibu. Kan kalau Fatah lagi belajar harus nurut sama Ibu, bukan Ibu yang nurut sama Fatah.” Belaku teriring senyum.
                “Fatah enggak suka sama orang tua! Sukanya ngatur ngatur!”
                “Ngatur gimana? Kan orang tua Cuma ingin Fatah itu nurut buat belajar. Katanya Fatah ingin jadi Dokter biar bisa ngobatin Najwa kalau Najwanya sakit (Fatah tidak terlalu suka dengan Dinda, haha mungkin salah satu indikasi sibling rivalry), terus bisa beli mobil buat jalan jalan sama ibu (hari pertama saya bertanya cita citanya Fatah, dan dia cerita hal itu haha) Nah buat jadi dokter itu harus cerdas Fatah, buat jadi cerdas ya harus rajin belajar.” Jelasku pelan namun disertai intonasi penekanan halus.
                “Tapi Fatah enggak mau nulis –nya!”
                “Yaudah kalau gitu, Ibu pamitan pulang ya Fatah.” Kataku sembari beranjak.
                “Ck! Huh! Ini nulisnya diselsein dulu Bu!” teriaknya menahan saya pergi.
                “Fatah masih mau belajar sama Ibu?”
                “Mau.” Lirihnya. Merapikan alat tulis dan buku yang tadi melayang ke banyak arah.
                Dan ya Fatahpun meneruskan kalimatnya hingga mencapai titik. Menatapnya yang sudah tidak seperti dua puluh satu lima puluh lima detik lalu, sungguh membuat hati basah. Ya Rabb, anak sekecil ini :”) betapa pemurah.Nya Engkau menitipkan hikmah.
                “Fatah, kalau kita jahat sama orang dan membuat orang itu sakit kita harus?” Pancingku seusai proses belajarnya.
                “Minta maaf kan Bu?” teriring senyum semula.
                “Iya Fatah.”
                “Ibu, kelingking Ibu mana?”
                “Ini?”
                “Fatah minta maaf ya Bu tadi nakal sama Ibu.”
                Dan dua kelingking satu besar satu kecil itupun bertaut bersama dua empunya senyum dan detak jam pukul lima sore. Saya hanya mengacak ngacak poninya, berpamitan bersama Vio diparkiran depan, memastikan untuk pertemuan selanjutnya dia sudah tidur siang.
                “Ibu Hati hati di jalan ya Bu.” Selorohnya sembari mencium punggung tangan saya.
                “Iya sayaaang. Fatah dikerjain PR nya yaa...” kedipku mengingatkan.
                Sore itu tanpa gerimis yang mengundang, hati saya berdendang lega dan bangga. Lega untuk senyum Fatah yang kembali, bangga pada semangat belajar Fatah. :”) Ya Rabb, terima kasih. :*
                Dimana Fatah sekarang?
                Fatah masih diterapi untuk penanganan ADHD yang lebih profesional. Saya pernah membincangkan Fatah dengan kakak perempuan tersayang saya, menceritakan banyak hal mengenai saya dan Fatah. Dan sepertinya jika strategi yang saya terapkan untuk Fatah terus berlanjut maka bukan kemandirian yang timbul pada diri Fatah, melainkan kelekatan pada saya. Hmmm efek ketidakmampuan saya marah dengan Fatah (juga anak orang lainnya :3). Dalam benakk saya kala itu, yang penting Fatah masih ada minat untuk belajar, untuk kemandirian biarlah berjalan dalam proses belajar kami. Membiarkan sebuah kedekatan itu nyata untuk kemudian berlahan mengajaknya untuk lebih mandiri. Ya itu cita cita jangka panjang saya pada proses kami. Dan Allah berkehendak lain. :”) Fatah diharuskan dibimbing oleh ahlinya. :”)
                Sesekali Fatah sms saya, :D menanyakan kapan saya akan bermain ke rumahnya, menanyakan anak saya (Saya pernah membawakan buku mewarnai untuk Fatah, dan ternyata ada satu halaman yang sudah diwarnai adik saya. Nah Fatah tanya, ini yang mewarnai anak ibu ya? Saya sih hanya tersenyum meng.iya.kan :D) :”D