Rss Feed
  1. Grey&Jingga

    Wednesday, 6 November 2013

    Bismillaahirrahmaanirrahiim :)

    Kamis, 07 Nopember 2013



    Grey&Jingga


                Sabtu, 2 Nopember 2013
                Tepat senja hari pertama saya pulang. Kunjungan rutin ke rumah yang lain, rumah dengan pintu sedia saya ketuk. Ke Rumah Simbah di Mrinen. :”)
                “Narisa, pokoknya kamu harus ngfans sama kak Sweta. Harus dan harus!”
                “Haha bentar bentar! Kenapa emangnya?! Ada apa dengan kak Sweta itu?”
                “Dia keren abis Sa. Dia itu komikus dari ITB, besok mau ngisi seminar di UGM. Aku pengen ikut tapi tapi tapi apalah daya tak ada uang hiks hiks hiks.” Cecarnya semangat empat lima yang tiba tiba dirundung air kecewa.
                “Eh hla? Kayaknya kamu udah pernah cerita dia deh ya?”
                “Iya Sa. Dia itu masnya si Hening!”
                “Owalah Masnya Nyingnying to?!Haha”
                “Dan dia kan bikin komik judulnya Grey dan Jingga di posting tiap hari senin sama kamis. Ya ampun ceritanya sweet banget Sa. Terus dia juga bikin OSTnya, di upload di youtube kalau enggak di Soundcloud gitu. Ya Sa pokoknya dia keren banget!”        
                “Iya?” tanyaku dengan dua alis terpaut.
          “Nih dengerin OST!” ucapnya tak rela tersangsingkan. Membuka windows media player dan memutarkan sebuah lagu dengan pria bergitar bersuara amm berat.
                “Afgan versi pra diamplas!” seruku mendengar dendang si tokoh idola rekan saya.
                “Hehe iya sih. Tapi kan tetep dia itu keren!”
                “Haha iya iya iya, terus aku harus ngfansnya kenapa?”
                “Dia penulis juga hloo!” pancingnya dengan wajah menggoda.
                “Eh? Masa sih? Bukunya apa?” Ada antusias tak tersembunyi.
                “Hehe dia penulis komik hehe komikus gitu Sa. Dia kan lulusan DKV ITB gitu, nah sekarang dia jadi komikus di sana. Hwahh pokoknya keren Sa!”
                “Hmm hmm hmm, coba nanti saya check lagi. Ada Fbnya?”
                “Kamu udah temenan deh sama dia!”           
                “Eh? Iya? Kok aku lupa?”
                “Haha orang dari dulu kok!”
                “Hehe yaudah.Eh Va, dia jarang pulang to?”
                “Paling kalau lebaran. Haha kenapa?”
                “Enggak papa. Just asking haha.”
    ^O^
                Minggu, 03 Nopember 2013
                Berbekal antusiasme dari rekan saya tersayang itu, saya mencari sosok Kak Sweta lantas membuka beberapa album atas karyanya, dan disana dengan album mengandung kata Grey&Jingga. Saya mengenal dua insan fiksi itu.
                Terlepas dari saya suka Manga dan Anime (dengan aroma detective dan petualangan, bukan semata cinta), karya anak bangsa selalu mampu menyita suka. Seperti saya suka Mocca, White Shoes and The Couple Company, Sheila On 7, dan rekan rekan indie lainnya. Saya suka (dalam tatap pertama) pada Dharma dan Little Bunny haha mereka memang hanya dua pemeran pendukung dalam Komik Grey&Jingga, namun keduanya selalu nampak manis untuk saya. Baiklah ini out of topic ya :D
                Saya tidak pandai mereview, saya hanya akan bercerita proses perkenalan saya dengan dua tokoh fiksi itu.
                Tentu dari rekan saya itu, si Nova Chocochips sebagai provokator. Di sponsori saya yang mudah terpengaruh dan sangat kepo haha. Juga ada sejumlah file yang memang harus saya kirim via email. Berselancarlah saya malam itu. Menengok cerita cinta senja termanis dari seorang tetangga desa dengan mata berpagar kaca, Hai Kak Sweta :D
                Grey dan Jingga, mereka adalah sepasang anak manusia yang saling jatuh cinta, sayangnya mereka terlampau saling malu untuk sekedar berkata “Aku Cinta”. Terpendamlah segala rasa berbunga itu, namun tidak dengan perhatian yang selalu muncul dipermukaan. Cemburu yang menyusup dalam mimik wajah. Juga rindu yang menyelinap manja di ruang rasa. Mereka adalah sajak dan melodi dalam lagu berolah rasa dan asa. Serupa jingga dengan senja, atau hujan dengan abu abu tua.
                Di temani beberapa tokoh pendukung. Ada Dharma, si pria dengan mata berpagar kaca (kayaknya ini ilutrasi dari si Kak Sweta deh) yang manis dalam cara mencintai kasihnya Little Bunny. Lalu ada si Zahra, gadis berjilbab dengan mahkota telinga pemancar peka. Yes! Zahra, sahabat sekaligus saksi hidup kegalauan Grey menyatakan rasa, dan kegalauan Jingga menentukan langkah (menungu atau menjemput). Nina, sebuah masa lalu yang setia dalam pojok temaram memori Grey, si jelita yang penuh cinta untuk Grey. Martin, lelaki idola semua mata, ideal jadi idaman namun tidak sebagai pasangan untuk Jingga, bagi Jingga ia terlampau sempurna hingga mampu membunuh karakter Jingga yang apa adanya. Kemudian dipermanis oleh beberapa tokoh figuran namun juga turut andil dalam mengelokan cerita. Fanny, si centil yang masih setia dalam persinggahan (belum tau kapan akan membangun sebuah rumah / komitmen). Bobby dan Tuti yang galau dalam kejombloan hingga memutuskan untuk saling sayang bersama. Mbak Tya si pelatih (iya bukan si?) teater kampus mereka (setting tempatnya juga yang aku suka *siul siul anak teater haha). Dan ini dia tokoh nyentrik yang menarik gravitasi, Zaki. Cowok dengan gaya slenge’an yang demen makan. Sangat apa adanya dalam memandang cinta. Terlampau sederhana gitu. Haha
               
    Ada satu adegan yang mengarahkan saya pada dimensi masa jauh dahulu. Dimensi merah putih sebagai seragam. Ketidakrelaan Jingga berpisah dengan Grey pasca kelulusan Sekolah Dasar yang terwujud dalam dekapan lutut dan isak di kamar terkunci. Enggan menemui Grey untuk sekedar berpamitan. Berkata “Hati hati dijalan!” atau “Sampai jumpa!”. Dua kalimat yang tak terealisasi dalam nyata. Hingga keduanya tumbuh tanpa sadar kabar satu sama lain. Hingga Tuhan mempertemukan keduanya dalam masa yang jauh dari duga. Menyairkan melodi dalam sajak Jingga, itulah Grey. Menyuarakan debar hati dalam sajak penuh metafora, itu Jingga. Dan keduanya hidup dalam sebuah lagu merdu dengan cinta yang masih malu malu namun tetap membelenggu, mengubur keduanya dalam ruang galau.
                Dan ya, Grey dan Jingga adalah korban dari cinta yang hadir malu malu. Korban dari kegalauan Kak Sweta (barangkali).
                Segitu sih kisah Grey&Jingga dalam banyak file yang saya baca secara random (maklum ya, ini saya baru tau langsung baca kejar setoran tanpa urutannya hehe). Sempat terlintas sebuah andai :D andai saya secerdas Kak Sweta dalam hal gravis, udah dari kemarin kemarin deh dateng ke RHI bawa oleh oleh buat adik adik hebat disana :D

    ^O^
                  

    So, merekalah manis asem asin Grey&Jingga









    *Semua gambar dala postingan ini saya ambil dari album foto kak Sweta







  2. This Conversation

    Tuesday, 5 November 2013

    Bismillaahirrahmaanirrahiim :)


    Minggu, 03 Nopember 2013

    footage.shutterstock.com
              
             Tiba tiba nyanyian gerimis terdengar sangat sumbang meski tanpa petir juga guntur. Ada mendung mengudara bebas dilangit malam. Menutupi bintang yang telah sedia bersinar.

                “Ra. Aku bete sama dia !” seruku mengudara.
                “Haha bete kenapa? Di cuekin lagi pas kamu lagi kangen kangennya sama dia?”
                “Ih aku kangen?!? ENGGAK NARA! AKU enggak kangen sama sekali sama makhluk super duber nyebelin itu!”
                “Hla terus kenape  sewot gitu? Bukan harusnya bahagia ya? Udah berhasil ngepoin dia pake modem aku. Terus udah pamerin hasil didikan sore tadi kan?!”
                “Nah itu Ra. Aku dibilang Lebay malah! Aku kan bete. Dia enggak apresiatif banget sama karya aku! Bilang makasih aja enggak. Padahal Ra, kalaupun dia ngetawain juga enggak papa. Bilang kek hahaha wagu dek. Atau hahaha enggak mirip dek. Haha lucu dek. Atau apa gitu kurang alus kek apa kek arrrrghhh!! Dia nyebelin!Titik !!”
                “Haha yah gitu aja ngambek sih Ris. Ayolah, kamu kan yang bilang sendiri kalau dia bukan tipe manusia yang mudah menyatakan rasa. Mungkin melihat kamu yang sebegitu ekspresifnya jadi nampak berlebihan. Hehe sebagai sesama cowok aku sih paham. Haha”
                “Jadi kamu sepakat sama dia?! Kalau aku berlebihan dan salah gitu?!”
                “Bukan gitu Ris. Haduh ini kenapa aku juga kena marah juga!” ucapnya menggaruk kepala yang tidak gatal, “Bukan masalah benar atau salahnya Risa Sayang. Ini amm tentang cara mengungkapkan rasa saja!”
                “Tau ah! Saya sudah sangat terlanjur sedih dan bad mood!”
                “Gerimisnya cantik ya Ris!”
                Saya merubah arah pandang. Menatap gerimis yang membungkus udara sedari tadi. Gerimis yang terabaikan oleh bara amarah. “Iya Ra. Cantik!” seruku.
                “Subhanallah!” celetuknya.
                “Eh Bentar? Kamu sedang berusaha mengalihkan amarah ku ya?!” tanyaku dengan pandang tajam. “NGAKU RA!”
                “hehehe!”
                “Ihhhhh Nara! Aku tuh lagi marah! Udah deh, jangan ikut ikutan menyulut emosi!”
                “Kamu lagi PMS ta?”
                “Enggak!”
                “Kamu lagi bete ya?”
                “Udah tau nanya lagi!”
                “Kamu jelek tau kalau bete bete gitu!”
                “Biarin!”
                “Manyun gitu!”
                “Biarin!”
                “Jelek!”
                “Biarin!”
                “Jelek!”
                “Ihhh Nara, sanalah pergi. Kamu tuh sama aja kaya dia. Bikin bete!”
                “Haha tapi kayaknya tampan aku deh!”
                “Ih kata siapa! Dia kemana mana lagi!”
                “Jadi? Dia tampan apa nyebelin? Apa ngangenin?” Godanya dengan tampang tanpa dosa.
                “Errrrhhh! Ih tuh kan! Kalian jangan jangan sekongkol ya buat aku bete?!” Saya salah tingkah.
                “Ris, sehat enggak sih!? Kamu kan belum jadi ngenalin aku sama dia! Hmm.”
                “Hmmm iya lupa. Tapi kalian itu nyebelin.”
                “Iya, kami adalah dua pria tampan yang menyebalkan dimatamu kan?!”
                “Dua pria menyebalkan yang tidak tampan!”
                “Haahha kamu lucu Ris!”
                “Hmm aku bete!”
                “Jadi inget pas SD dulu. Haha”
                “Ih SD? Males banget!”
                “Males ngapain?”
                “Males nginget ngingetnya lah!”
                “Haha padahal kamu itu dulu kalau bete sama siapa gitu mesti terus corat coret enggak jelas dibuku. Terus kertas yang udah dicorat coret kamu sobek, diremas trus lempar sama tersangkanya. Haha”
                “Haha dan seringnya kamu yang jadi obyeknya. Haha kamu kan sering banget buat aku bete gara gara sering ngalahin aku pas lomba lari.” Timpalku segera.
                “Haha terus kamu juga kalau jam istirahat kedua pasti jadi kaya orang setengah waras. Duduk dipojok paling belakang, terus ketawa ketawa sendiri. Bolak balik baca kisahnya Bona, si Gajah Berbelalai Panjang. Komik seri di Majalah Bobo gitu!”
                “Hahaha iya, padahal kamu udah ngantri mau pinjem juga kan? Mau baca kisahnya Oki sama Nirmala gitu!”
                “Haahha iya. Terus inget kan kalau pas kita disuruh bawa gelas ke sekolah. Buat Pembagian segelas susu dari sekolah, kita mesti join satu gelas. Gelas besar yang dibawain Ibuku sama seplastik coklat bubuk. Kita kan sama sama enggak suka susu putih!”
                “Haha iya, kalau enggak susu campur coklat bubuk. Kadang kita bawanya malah kopi.”   
                “Haha iya, biar enggak ngantuk nantinya.”
                “Haha terus kalau pulang sekolah dan rumah kamu kosong pasti langsung kabur ke rumahku. Numpang makan gitu hahaha mana makannya banyak lagi. Haha.”
                “Ih biarin sih, orang budhe aja seneng kok. Hweee! Teruskan abis itu kita manjat pohon mangga depan rumah kamu yang pas itu kebetulan lagi buah. Haha!”
                “Haha iya Ris, dan gara gara kebiasaan manjat manjat pohon gitu kamu jadi ngasih nama aku Wanara gitu kan?!”
                “Haha iya, Si Monyet!”
                “Haha kelinci!”
                “Haha iya. Kita cerdas ya Ra, dulu !”
                “Katanya kamu enggak inget?!” tiba tiba alisnya terpaut. Menaikannya tiga kali. Memasang wajah sangsi.
                “EH?!” Deg! Saya tertangkap basah masih mengenang masa merah putih itu. Masa yang terlampau indah untuk dilupa.
                “Nah gitu. Udahan marahnya.”
                “Hehe iya Ra makasih.”
                “Iya sama sama Ris!”
                “Risa sayang Nara!”
                “Nara tapi enggak sayang Risa. Haha!”
                “Haha biarin!”
                “Jadi seperti apa dia?” tanyanya tiba tiba. Seolah paham bahwa membicarakan seorang yang dirindu akan sedikit mengobati malarindu itu, terlebih jika yang dirindu tak pernah tahu.
                “Dia itu kaya nasi goreng komplit favorit aku Ra. Spesial pake telor gitu haha!”
                “Hwah enak dong?”
                “Kadang kepedesan gitu si. Dia juga kaya secangkir cafein gitu.”
                “Eh kok?”
                “Iya, kalau inget dia lagi ikhtiar gitu. Aku juga jadi betah melek. Enggak mau nyia nyian waktu buat sekedar tidur siang. Hmm kalau inget dia juga lagi cape, kesana kesini entah job atau komunitas. Aku juga enggak mau kalah, pokoknya aku itu refleksinya dia dalam versi yang lebih imut. Hehe”
                “Haha Dasar Penulis!”
                “Haha Dasar Bukan Pujangga!”
                “Kalau kamu refleksinya dia. Apa dia juga sebawel kamu?”
                “Errghh itu amm dia itu pendiem Ra. Ya engga tau si kalau sama temen temennya, tapi pas sama aku dia masih banyak diemnya. Hmm apa aku enggak nyambung ya ngobrol sama dia? Apa kenapa ya Ra?”
                “Menurut aku si wajar Ris. Intensitas kalian bertemu kan jarang ya, kalau ketemu masih diem karena nervous si wajar aja. Kalau enggak nyambung mana mau sama kamu. Haha salah satu hal penting ketika seorang lelaki memilih perempuan adalah nyambung diajak ngobrol. Terus yang bisa meyakinkan bahwa mimpi mimpinya mampu terwujud, bukan menghalangi sambil bilang enggak mungkin.Hehe itu sih menurutku Ris. Menurutku hlo ya”
                “Hmm kadang aku ngrasa aku enggak nyambung gitu sama dia Ra. Apalagi kalau udah enggak ada kabar sama sekali. Apa yang mesti aku bahas. Kabar? Basi banget kayaknya. Agenda dia? Juga kadaluarsa. Makanya aku sok sokan belajar grafis yah paling enggak ada satu bidang yang aku kuasai meski jauuuuuh banget dibawahnya dia.”
                “Dia enggak nuntut kamu buat merubah diri kamu kan?!”
                “Enggak lah Ra. Dia itu pernah bilang, sedang berusaha menerima karakter aku yang amm ya berlebihan gini. Karakter aku yang masih labil katanya. Ya, dia sok dewasa gitu kadang. Haha”  Ada jeda hening, sesuatu itu melintas seketika. “Ra?Kok Diem?!...”
                “Hehe enggak papa kok. Kan udah jelas Ris, dia sayang sama kamu, Cuma ya dia itu terlalu cerdas si nyimpennya. Haha sabar aja si!”
                “Hmm aku Cuma pengen jadi seorang pertama yang tau kabarnya dia, bukan malah jadi orang kadaluarsa. Apa itu juga berlebihan Ra?”
                “Buat kamu mungkin wajar, tapi buat dia?! kamu nyoba pake perspektifnya dia Ris.”
                “Hmm iya, bakal enggak nyaman banget si kalau dikit dikit lapor, tapi bukan yang tiap menit harus lapor gitu kok. Lagian aku kan bukan satpam 24jamnya dia. Ya paling enggak berbagi hal hal yang buat dia ngerasa itu beban. Eh bentar, jangan jangan ngabarin aku udah jadi beban buat dia?!”
                “Ris! Plis, dia Cuma lagi minta kamu buat nunggu. Bukannya kamu cerita ya tanggal tujuh belas kalian ada janji?”
                “Hmm iya Ra. Insya Allah si gitu.”
                “Yaudah, simple kan?! Tunggu sampai tanggal tujuh belas. Dan udah. Kalian punya waktu buat ngobrol banyak tanpa jarak.”
                “Hmm masih lama Ra itu. Dan itu juga kalau keburu enggak ada agenda dia atau akunya.”
                “Bentar kok, dua minggu lagi. Cuma dua minggu! Dan kamu enggak boleh pesimis gitu dong! Ucapan sebagian dari doa hlo yaa!”
                “Hmmm iya Ra!”
                “Nethinknya diilangin  Ris. Dengan dia menyediakan sehari diantara agenda agendanya yang padat merayap itu. Itulah bukti nyata kalau dia juga sebenarnya rindu Haha Cuma ya itu, dia mengemasnya dengan lebih berwibawa sedangkan kamu mengemasnya versi manja haha.”
                “Hmmm terusin aja Ra. Aku enggak marah kok!” kalemku pura pura.
                “Hahha enggak ah aku kan cowok tampan yang baik hati!”
                “Haha malesin!”
                “Eh martabaknya dimakan dong. Dinginkan ini didiemin!” ucapnya mengalihkan pandang.
                “Eh iya, ya ampun martabak kacang coklat tersayang udah dingin deh!”
                “Abisin tuh, udah dibawain juga! Haha”
                “Iyeee. Makasih ya Bang Nara!”
                “Sama sama Dik Risa!”
    ^O^
                Saya membenarkan letak kacamata yang melorot sebab hidung tak pandai menahannya. Hmm potongan martabak kacang coklat itu termamah bersama sugesti dari rekan tersayang disamping saya.  Rekan satu bangku semasa merah putih. Terima Kasih Bang  :D
     

  3. Bismillaahirrahmaanirrahiim :)

    Sabtu, 02 Nopember 2013
     

    weheartit.com

                Hari ini saya pulang. Pada hari jumat, di sore yang masih cukup menyengat. Dengan rindu yang kian rapat mengisi labirin rasa. Dengan kangen yang tak seperti biasa, hadir dengan kadar berlebihan lantas memaksa berkemas melakukan perjalanan.
                Hari ini saya pulang. Selepas adzan ashar pukul lima belas kurang seperempat. Mengayuh Vio menuju stasiun terdekat. Mengantri dalam jajaran penunggang kereta Prambanan Ekspress yang mengulat. Melesat dengan selembar kertas biru seharga dua puluh ribu menuju Kebumenku. Ya, saya siap pulang.
                Hari ini saya pulang. Bukan dengan alasan mewah apalagi sangat istimewah, sebab tak ada agenda atau acara. Melainkan sekedar dan hanya sebab rindu yang hadir terlalu. Rindu yang membuat sesak paru sebab tak diacuh temu.
    ^O^
                Dan kamu tau? Pulang tak semata dan hanya sebatas tentang peluanasan rindu pada sebuah raga berisi jiwa. sungguh tak sesederhana itu sejatinya. Sebab pulang adalah tentang kesiapan telinga mendengar banyak cerita Bunda. Cerita tentang tiga ksatria tampan di bawah gubuk ‘R’ Family, cerita tentang Riki yang masih setia dengan gula gula kantin Sekolah Dasar (Sponshor utama kegeripisan giginya), cerita tentang Rio yang sungguh sukses menguji kesabaran Bunda dalam tindaknya, cerita tentang Romi, remaja baru yang masih bersuara kodok puber, cerita tentang harga harga dipasar yang naik turun seperti kurva buatan Riki didinding, cerita tentang sepasang manusia senja di desa seberang, dan satu yang paling saya suka, cerita tentang apa apa yang terlintas dibenaknya. Entah mimpi, doa, harap, ide, gagasan, dan semuanya.
                Pulang juga tentang kebanggan menjadi Putri Harapan satu satunya dalam R Family. Tentang sapu yang terkayuh menyusuri pelataran beraroma kembang desember milik Nini. Tentang keheningan rapal mantra penuh cinta untuk mereka yang menanti diatas sana. Tentang senja di lahan bergunduk hijau dengan dua gundukan masih merah terhias dua papan nisan terukir nama insan tercinta. Tentang lembar lembar kertas yang terisi sajak sajak perjalanan yang lalu, tersampaikan dengan lisan menjelang tidur, dibawah kelambu yang sama bersama seorang Bunda.
                Pulang juga tentang bangun dengan satu teriakan Riki,
                “Yuuu! Anterin ke sekolah!” paksanya dengan menarik selimut merah aroma Bunda pada pukul 04.30 wib. Hmm padahal mentari masih nyaman di peraduannya.
                Pulang juga tentang permintaan ringan dari seorang Romi,
                “Yuu, masak nasi goreng dong!” pintanya lugu tanpa bumbu rayu seusai melihat sebakul nasi tanpa lauk.
                Pulang juga tentang ajakan sederhana dari si Bolang Istimewa, Rio.
                “Yuuu, ke pantai yuk!” ajaknya begitu melihat saya usai mandi.
                Pulang pun tentang aroma masakan yang terhias banyak manis gula merah. Partikel penghasil rasa manis bernama gula jawa itu, selalu lebih menarik dariapada butir butir putih dengan rasa serupa yang mereka sebut gula pasir. Aroma khas yang lambat laun menjadi wakil aroma masakan saya, aroma solo kata mereka (manis, maksudnya).
    ^O^
                Masih tentang pulang tentu saja. Haha
                Pulang adalah bantal bantal yang terbang dari satu sudut kesudut lain dengan pelempar empat makhluk beda usia berasal dari satu rahim. Empat bersaudara dari rahim Bunda. Empat R dan Perang Bantal di kasur Bunda yang tak lagi empuk tapi selalu membuat mabuk hangat keluarga. Tentang selimut yang ditarik  kanan kiri sebab raga tak lagi sama, dan selimut yang tak tumbuh sebagaimana raga.
                Pulang adalah ritual bermain busa dengan pekat coklat tanah petualangan dua kstaria itu. Bagi mereka berani kotor itu baik. Membilasnya lebih dari tiga kali sebab noda noda lumpur itu. Duh Dek!
                Pulang adalah kunjungan kunjungan ke rumah rumah lain yang sedia menyediakan pintu untuk tetap saya ketuk setiap kali menjamah kata ‘mudik’. Rumah Simbah Ngaran dan Rumah Stitch. Dua rumah penuh cinta yang senantiasa membiaskan tawa diwajah.
                Pulang adalah menjadi tukang bawa belanjaan Bunda tiap akhir pekan. Memenuhi tas tas plastik itu dengan aneka bahan mentah siap masak. Berbatang batang tempe, beberapa bungkus tahu, berkeranjang keranjang Ikan Asin, juga berons ons bumbu dapur, dan satu yang menjadi favorit saya, dua bungkus putren, dua batang wortel, dan seplastik tahu sangan. Entah kenapa memasak empat benda itu menjadi hal istimewa tiap pulang.
                Pulang adalah miniatur wisata kuliner bersama jajanan pasar juga jajan khas anak sekolahan. Otak otak, batagor, cakwe, martabak unyil, bakwan kawi, siomay, jajaran makanan anak sekolah di depan SMPN 1 Kebumen. Jongkong, lemper, klepon, cethil, lupis, songkel meyeg, rondo balen, srabi, timus, usel, jajan jajan buatan Ibu Ibu Jawa aneka rasa di lapak pasar Kutowinagun. Yang menjadi favorit tentu batagor, somay martabak unyil, jongkong, lupis, lemper abon. Ditambah sepotong kepala ayam dan ceker yang disemur. Dimakan tanpa nasi dan filosofi. Kuliner nusantara yang terlampau indah dilewatkan lidah. *Nyyummmi*
                Pulang adalah reuni kecil dengan beberapa rekan yang bertemu dengan sengaja namun tanpa janjian. Stitch dengan Studionya, Bunda Chocochips yang sekarang dipanggil Mboke, Ukh Afi dalam kesiapannya menjadi seorang istri, Bolang bolang yang selalu punya alasan dirindui, Si Pesek Siska  yang akhir akhir ini sering mewek dalam curhatannya, juga rekan lain dengan almamater sama. :”)
    ^O^
                Dan pulang adalah tentang saya, kamu serta kita.
                Saya dan kamu yang masih mencari jalan pulang bernaung kita. Membangun rumah kebersamaan fi sabilillah. Memasrahkan langkah pada Ia yang Esa. Merapalkan bait bait doa, semoga aku dan kamu mampu menjadi rumah untuk kita kelak. Rumah utuh yang jauh dari rapuh. Rumah indah namun bukan tempat singgah. Mari pulang :”)