Rss Feed
  1. Dear My Incredible Journey

    Thursday, 2 January 2014

    Bismillaahirrahmaanirrahiim :)



    Kamis, 02 Januari 2014


                Backsound dari iklan susu penyumbang nutrisi anak sukses menyita ruang penasaran saya sebulanan ini :D. Dan akhirnya ketemu juga, :D sempat saya kira pelantun lagu ini itu Kak Evanescence eh bukan ternyata :v ternyata didendangkan sama kak Bai An. Suaranya sebelas dua belas gitu lah :D mirip mirip :v.
    ^O^
                Dan lagu ini :”) untuk kamu sayaang :”) Ya, Bunda menulis ini jauh sebelum bertemu kamu :”) Sebab suara bunda tak terlalu merdu, semoga lirik lagu ini mampu menyambut kehadiranmumu kelak  :”). Menguatkan kehidupan kisan kita yang masih terlantun dalam doa :")

     Incredible Journey By Bai An 

    We've only just met
    But I feel sure
    We will be best friends

    Sharing the joy
    Of every step
    We take together

    CHORUS

    This journey that we're on
    Where both of us grow strong
    This journey that ...
    We'll make it together


    Love the wonder in your eyes
    The thrill of each
    And every first time

    The whole world is new
    Baby hear it call
    For me and you

    CHORUS

    This journey that we're on
    Where both of us grow strong
    This journey that ...
    We'll make it together

    Stumbles and falls, they may come
    But I know that
    They'll make you stronger

    Through the rain and the shine
    We learn about life
    And grow together

    CHORUS

    This journey that we're on
    Where both of us grow strong
    This journey that ...
    We'll make it together

    (The bridge)


    Look how close we've got
    Look how far we've come
    And yet we've only just begun

    CHORUS

    This journey that we're on
    Where both of us grow strong
    This journey that ...
    We'll make it together

    CHORUS REPEAT WITH SLIGHT VARIATION

    This journey of a lifetime
    O baby you and I
    This journey that ...
    We're sharing together

    CLOSING - TRAIL OFF

    We share our love
    We share our joy

     














































    sumber gambar: google :D


  2. Bismillaahirrahmaanirrahiim :)


    Rabu, 01 Januari 2014



                “Yang menjadi persoalan kan diskriminasi pada kaum minoritas, nah salah satu media yang menjembatani sikap diskriminasi itu salah satunya ‘kolom agama’ di ktp. Begitu kan alur logikanya? Dan kalau benar demikian, saya cenderung setuju dengan penghapusan kolom agam di ktp.” Sengitku dalam sebuah diskusi sepekan lalu.
                “Hwah enggak benar kalau gitu. Dasar negara kita kan pancasila, kalau kolom agamanya dihapus, ilang dong sila pertama! Indonesia tidak lagi berketuhanan yang Maha Esa! Atheis kok dibela. Makin gag jelas aja negeri ini.” sahut salah satu rekan tak kalah sengit. Aku diam, sibuk menyaring kata, meminta mereka untuk sedikit paham.
                “Kalau kolom agama yang katanya menimbulkan diskriminasi, kolom tanggal lahir, jenis kelamin, nama, tempat tinggal, dan yang lainnya juga dihapus dong Ris, kan ada tuh kasus diskriminasi gender, diskriminasi suku, diskriminasi nama, diskriminasi umur. Haha katepenya kosongan, Cuma gambar peta Indonesia gitu ya Ris?” cela rekan yang lain enggan kalah.
                “Satu pertanyaan, kalian pernah berada diposisi mereka? Kaum minoritas? Yang keberadaannya adalah setitik karts diantara bebalnya batu cadas? Diperlakukan berbeda sebab kamu tak sama dengan yang lain? Kalian pernah?! Hah? Belum kan?! Bedakanlah antara keragaman dan tindak diskriminasi!”
    ^O^
                Diskriminasi bukan semata iri atau dengki sebab dibedakan, namun ada satu sisi kemanusiaan yang terpangkas! Dan seringkali yang terpangkas adalah tentang ‘cara’. Cara pandang, cara beribadah, cara hidup, dll. Sedangkan keragamaan adalah tentang majemuknya Indonesia, nama misalnya, yang selanjutnya mendirikan absen berdasarkan abjad dari A menuju Z, lalu si S merasa terdiskriminasi sebab tak pernah maju pertama? Merasa dibedakan perlakuannya dengan si A? Kasihan sekali jika mengartikan diskriminasi demikian!
                Kalian pernah? Ketika hendak belajar malah terabaikan sebab orangtuamu tak seperti yang lainnya, yang mengenakan peci dan merapal dzikir dalam untai tasbih? Kalian yang lahir lalu terbisiki adzan pernahkah kalian dikucilkan sebab orangtua kalian bahkan tak menyerukan adzan dihari kelahiranmu?” geramku terisak. Saya meninggalkan diskusi, dengan hati penuh kecamuk. Kecewa juga nelangsa. Bahwa tak seharusnya semua kalimat itu terlontar. Astagfirullah, :”( Maaf. Afwan jidaan saudariku, :”(
    ^O^
                Bukan semata sebab orang orang ramai berkata bahwa Islam agama terbaik, terlengkap dan penyempurna agama sebelumnya. Bukan sebab rekan rekan ramai mengaji disekolah untuk mendapat nilai sepuluh dimata pelajaran pendidikan agama islam. Bukan semata kata orang atau ajakan siapapun, semua murni sebab kenyamanan yang menyergap, serupa kebutuhan yang tercukupi dan kekurangan yang terlengkapi. Berawal dari ‘meminjam’ Tuhan.nya seorang rekan kecil berpeci, Tuhan yang katanya Maha Penyanyang, Tuhan yang Maha Baik, Tuhan yang selalu ada untuk hamba.Nya, selalu lebih dekat dari urat dileher. Sebelum tidur, ritual ‘meminjam’ Tuhan itu terlaksana, bercengkrama selayaknya bercerita pada teman lalu meminta banyak hal untuk insan insan tersayang. Percakapan panjang yang mereka sebut dengan doa. Dan kebiasaan ‘meminjam’ Tuhan itu berubah menjadi ‘bolehkah memiliki Tuhan yang sama?’ istilah meminjam membuahkan fikir, miskin nian tak memiliki Tuhan. Dan ya, hingga kini Tuhan itu tinggal dalam dua kalimat syahadat. :”)
    ^O^
                Dan pernyataan pernyataan saya dalam diskusi sepekan lalu bukan hendak berkhianat pada apa yang keyakinanya telah mendarah daging ini, Islam selamanya adalah nafas saya. Insya Allah. Hanya saja, kita tidak bisa menutup mata atas keberadaan mereka yang sebenarnya ada. Mereka yang juga saudara setanah air, bahwa enam agama pilihan yang ditawarkan pemerinta bukanlah salah satu dari agama yang mereka yakini. Masih banyak dari saudara kita yang menganut animisme dinamisme (percaya pada benda benda dan tempat tempat tertentu memiliki kekuasaan memberi kesejahteraan).
                “Iya Ris, memang masih ada, dan kita enggak bisa menutup mata atas keberadaan mereka. Tapi biasanya sekalipun mereka animisme atau dinamisme, tetep aja kolom agama mereka terisi,bisa islam, kristen, budha, hindu, katolik, atau konghucu!”
                “Haha sekarang kamu yang lucu. Sejak kapan kamu merestui islam ktp? Hmmm? Bukankah dengan suara seperti itu kamu seperti mendukung mereka untuk mencoveri kepercayaan mereka dengan kepercayaan orang lain? Kamu rela orang yang menyembah pohon beringin lalu mencantumkan agamanya di ktp sebab keharusan sebagai WNI dengan agama Islam? Naif kak, Naif sekali.”
                “Tapi ingat Ris, negara kita sila pertama!” geramnya lagi.
                “Iya, sangat ingat. Ketuhanan Yang Maha Esa. Sila teragung yang mewadahi kerukunan umat beragama. Sebuah konsep cantik tentang ketuhanan yang juga melahirkan konsep konsep elok dalam butir butir pengamalannya! Searchinglah, keyword pengamalan pancasila sila pertama. Adakah dalam point pengamalan sila pertama itu berupa ‘pencantuman agama’ di katepe? Setau saya pengamalan itu berupa kerukunan umat beragama, tepa sliro, toleransi juga konsep konsep cantik lainnya. Lagian sejak kapan sih, Tuhan itu tinggal di KTP?”
                “Kerukunan umat beragama kan Ris? Beragama hlo ya Ris. Kalau tidak mencantumkan agamanya di KTP berarti dia kan enggak beragama. Atheis Ris! Dan itu udah melanggar point pertama pengamalan sila pertama!”
                “Sik. Kembali ke perngertian agama.” Selaku mencari kamus besar bahasa Indonesia. “Ajaran, sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yg berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.”
                “Nah, benar kan kepercayaan dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Harus ada Tuhan yang dipercaya untuk bisa disebut beragama. Hla ini enggak percaya sama Tuhan, bagaimana mau disebut beragama?”
                Aku diam. Terhenyak. “Kalau demikian apakah Nabi Ibrahim juga atheis saat dia bahkan tidak percaya pada Tuhan nenek moyangnya?” tanyaku akhirnya.
                “Bedalah Ris! Jelas beliau itu Nabi, sikapnya demikian kan memang wujud perlindungan Allah SWT agar beliau terhindar dari kemusrikan!”
                “Dan kamu tau kenapa kaum Atheis itu ada? Mereka ingin mengalami kepercayaan akan Allah SWT, bukan semata mendengar dari orang lain. Ingat kisah pemuda asal Ukraina  si Ohtaj Humbat Ohli. Beliau yang dunia bilang mati konyol sebab ingin membuktikan keberadaan Allah SWT. Memanjat pagar besi, menghadapi singa betina yang kelaparan di kebun binatang. Boleh jadi teriakannya tentang Allah SWT ada jika ia selamat, akan menguatkan kelompok Atheis, tapi jika ternyata itulah cara Allah SWT menyelamatkannya dari penyembahan penyembahan lain, maka benarlah selamat dia. Malah tinggal menunggu waktu untuk bertemu dengan Allah. Kebanyakan Atheis bukan mereka tidak percaya sama sekali, mereka hanya belum menemukan titik nol logika mereka. Belum melihat cinta vertikal yang tak tersentuh logika manusia.”
                “Kamu tidak menjawab pertanyaanku Ris!”
                “Tentang beragama itu? Jelas sudah. Kaum Ateis memang belum menemukan cinta vertikalnya, sebab mereka belum menemukannya itulah mereka meyakini logika mereka. Hal hal aroma ilmiahlah yang mereka tuhankan sementara waktu.”
                “Nah itu Ris yang enggak bisa diterima!”
                “Haha siapa kamu yang berhak memutuskan seorang harus percaya Allah SWT atau tidak? Mengapa Allah SWT membiarkan paman dari baginda Rosulallah SAW meninggal dalam keadaan belum memeluk islam? Supaya kita manusia sesudahnya tidak boleh sombong, memaksakan orang lain untuk percaya Allah SWT tanpa ingat bahwa hidaya itu murni urusan Allah SWT. Manusia hanya mampu menjadi perantaranya, jika beruntung. Dan memaksa mereka untuk percaya Allah swt dengan mencantumkan agama apapun yang penting satu dari enam itu, bukan perbuatan bijak menurutku! Seharusnya kita bantu proses mereka mencari Allah itu, kita stimulus dengan kehalusan Islam.”
                “Tau ah Ris. Kamu batu!”
                “Hla kok gitu kak? Lagian kan katanya berlomba lombalah dalam kebaikan, ya ayok kita rame rame berlomba jadi jembatan hidayah buat mereka yang katamu belum  beragama itu biar beragama. Tingkatin dakwahnya, bukan dengan paksaan. Tapi dengan pamerin betapa indahnya Islam, betapa damainya Islam, dan betapa beruntungnya menjadi bagian dari Islam. Rosulallah juga dulu enggak main paksa hlo Kak. Nah nanti to Kak, kita gunain aja ktp tanpa kolom agama itu buat jadi salah satu indikator keberhasilan dakwah kita.”
                “Indikator gimana? Bumerang yang ada!”
                “Eh? Yah ngambek sih? Kan kalau dakwahnya berhasil berarti yang tidak mengisi kolom agamnya semakin sedikit Kak, sebaliknya juga, kalau makin banyak berarti ada yang salah dengan dakwah kita Kak.”
    ^O^
                Dan ya perdebatan itu tidak ditutup dengan penyusunan agenda agenda atau metode dakwah yang saya harakan, namun label baru yang mereka tempel di jidat saya. “si Batu”, si Liberal dan si si lainnya. Duh! Sungguh tak ada niatan saya untuk berkhianat atau tak setia. :”( Saya saya hanya mencoba menyampaikan betapa menyakitkannya diabaikan. Ada namun tak teranggap ada. Ada namun tak kasat mata. Ada namun ditiadakan. :”( sesuatu yang seharusnya ditumbuhkan dan diladangpahalakan malah di bunuh berlahan. Mereka hanya butuh bantuan lebih untuk melihat apa yang kita lihat, bantuan ekstra untuk merasakan apa yang sudah kita rasakan. Bukan pengucilan atau pengabaian, tapi uluran tangan :”(. Berawal dengan mengakui keberadaan mereka, mengapa kita tidak mencoba mengulurkan tangan? Bergandengan tangan untuk mengakui keEsaan.Nya?
     

  3. Bismillaahirrahmaanirrahiim :)


    Rabu, 01 Januari 2014



                Pernah mengagumi seseorang sebab indah akhlaknya, sebab pola pikirnya, sebab agamnya juga sebab sebab lain yang merujuk kita bahwa manusia tersebut tanpa cela?
                Lalu pernahkah ‘ilfeel’ setelah beberapa kali tahu bahwa manusia yang sempat kita tanpa cela.kan itu ternyata melakukan hal hal yang membuatnya nampak tak seterpuji dulu, membuat kabur seluruh kekaguman dan menyisakan sejenis rasa ‘kecewa’?
                Pernah? :D
    ^O^
                Mengagumi seseorang entah dengan alasan apapun tentu akan menyingkirkan segala prasangka buruk tentang insan tersebut. Seolah kita membuat replika insan tersebut sesuai kebaikprasangkaan kita. Ya itu sangat wajar, sebab itu memang bagian dari bentuk husnudon pada sesama, bentuk prasangka baik pada sesama, juga bentuk harapan senandung doa untuk rekan hidup. sayangnya, itu menjadi sangat tidak wajar, ketika benak kita telah dipenuhi ketanpaalpaan dia, mendewakan manusia seolah tanpa dosa hingga lupa bahwa insan yang kita kagumi tersebut hanya serupa manusia biasa juga, sama seperti kita. Manusia biasa yang oleh Allah kita diberi kesempatan lebih banyak menatap sisi baiknya dibanding sisi buruknya. :”)
                Saya tidak menyalahkan ketika seseorang mengagumi insan lain, saya hanya ingin menyelamatkan hati dari kekecewaan harap, bahwa ternyata tidak semua bayangan kita itu sesuatu yang selalu benar terjadi. :”)
    ^O^
                Ada sebuah kisah, tentang seorang yang menarik banyak perhatian rekan rekan saya, seorang yang memang pantas mendapat pujian. Charming, cerdas, sosialis, aktivis, religius, ramah, dan ya shining gitu :v. Nyaris semua lisan mengagungkannya. Lalu pada suatu hari terdengar suara dari masalalunya, mengabarkan aroma tak sedap tentang ia dimasa lalu. Bagaimana sikap rekan rekan saya yang telah jatuh hati mengaguminya? Mereka bubar jalan dari barisan fans. ‘ilfeel’ kata mereka.
                “Tidak ada orang baik yang tidak punya masa lalu, dan tidak ada orang jahat yang tidak memiliki masa depan. Masa depan atau masa lalu itu tentang harapan dan pembelajaran, yang terpenting bagaimana dia berusaha menjadi baik disaat ini. Jadi kenapa harus seterkejut itu tahu bahwa dia memiliki kesalahan? Mengapa harus seterkejut itu tahu bahwa dia memiliki cela? Mengapa harus seterkejut itu tahu bahwa dia pernah khilaf? -,- Kesalahan, cela, ataupun cela adalah bukti bahwa dia manusia seutuhnya, bukan Dewa atau Malaikat apalagi Tuhan yang tanpa dosa!” kesalku pada mereka yang mencecariku dengan keluhan serta kekecewaan terhadap makhluk manta idolanya itu.
                “Ih Ris, kok kamu belain dia sih!?”
                “Ya bukannya belain, Cuma aneh aja dengar berbulan bulan memuji sekarang tiap hari mencela seorang yang sama. Sakne Cah! Toh yang penting bagaimana ikhtiarnya dia sekarang untuk menjadi baik, masa lalunya dia emang jelek, terus kenapa? Jelek? Yaudah sih! Dia kan juga manusia! Hmmm” yakinku pada mereka.
                “Hmm iya sih Ris, tapi ya kaget aja. Masa tampang innoncent gitu bisa kaya gitu kelamnya.”
                “Iya terkejut si wajar, tapi ya enggak usah lama lama juga. Udah tau ya udah. Apa dia pernah minta buat dikagumin dan dinilai tanpa cela sama kalian? Apa dia pernah minta dididolakan sampai segitunya sama kalian? Enggak kan? Kaliannya aja yang terlalu imajinatif menyangka dia sempurna, padahal kan kesempurnaan itu Cuma punya Tuhan, gitu kan kata kalian?”
    ^O^
                Tak perlu sangka baik yang berlebihan untuk bisa menerima orang, dan tak perlu menghindar berlebihan untuk menjaga kewaspadaan. Nikmati saja semua proses pembelajarannya. Jika ingin melebihkan prasangka baik, boleh kok. Tapi tidak pada sesama manusia, berprasangka baik berlebihlah pada Allah SWT. :”) Berlebihan disini bukan berarti berprasangka doa tanpa ikhtiar akan terwuujud :D Prasangka baik seperti yang dicontohkan Umar Bin Khattab lah yang saya maksudkan :”) Bagaimana beliau senantiasa bersyukur dengan prasangka baik pada Rabb.nya tersebut :”)
                Di dalam kitab Nasha-ihul’ibad, diriwayatkan sebuah ungkapan syukur Umar Bin Khattab bahwa ia bersyukur sebab Allah menguji hamba.Nya diambang batas kesanggupannya. Allah tidak pernah menguji manusia diluar batas kemampuan hamba.Nya. Bahkan jika terluka parah dan nyaris mati sebab sebuah musibah, setidaknya masih terselamatkan dari kematian itu. Dan harus diingat, bahwa Allah tidak pernah mendzalimi hamba.Nya. Bahwa melalui ujian itulah Allah sedang jatuh cinta pada kita, menginginkan kita untuk lebih kuat dan senantiasa dekat dengan.Nya. Bahwa melalui sapaan musibah Allah menegur hamba.Nya atas dasar cinta. Tegur sopan agar kita tak melakukan kesalahan yang sama dikemudian hari. Dan seperti janjinya bahwa selalu ada kemudahan sesudah kesukaran, bahwa selalu ada surga dari sebuah kesabaran :”). Jadi, selamat menempatkan prasangka baik berlebih semata hanya pada Dia :”)