Rss Feed
  1. Apa kabar 'Kematian' ?

    Tuesday, 16 December 2014

    Bismillaahirrahmaanirrahiim :)


    Kamis, 19 Desember 2013


                Masih pukul sepuluh lebih lima menit saat Solo dibungkus hujan kecil jika tak ingin disebut gerimis. Sepertinya langit sedang menggambarkan kedukaan, atau air sedang meredam banyak mata yang menggenangkan isak. Hari ini dua kabar lelayu menyambangi ruang dengar. Seorang adik dari dosen tersayang, dokter muda dengan kepontensialannya mengabarkan kesehatan pada pasien lalu juga Bunda dari seorang adik perempuan tersayang setelah beberapa hari di opname.
    ^O^
                Terlepas dari siapapun yang berpulang pada hari ini. Menatap kabar lelayu selalu sukses membangun dinding bening dilapis kornea. Menekan dada menjadikannya asma seketika.
                Bahwa kematian adalah perpisahan paling tak terduga yang sejatinya sudah terencana oleh.Nya. Bahwa kematian adalah kepulangan menuju rumah hakiki yang mengiris hati. Bahwa kematian merupakan tiket pasti mereka yang bernyawa untuk menemui asal mulanya. Namun kematianlah jalan kita menuju kehidupan abadi.

    ^O^
    "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan baru pada hari kiamatlah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan."

                 Ya, kematian adalah kepastian hidup yang ada diantara banyak ketakpastian kehidupan. Yang pasti dialami oleh mereka yang bernyawa. Sebab sudah pasti maka kematianpun bukan untuk ditakuti atau dihindari *An Nisa:78*. Maka lebih baik sibukan diri dengan hal hal indah untuk kematian yang indah (khusnul khotimah). Ketika kita lahir dalam keadaan baik, maka pulanglah sebagai milik.Nya dalam keadaan baik pula. Ya, sesungguhnya kita ini milik Allah dan kepada.Nyalah kita akan kembali.
                Seorang pernah berpesan pada saya, untuk tak lupa merencanakan kematian yang baik disamping kita menjalani kehidupan yang baik. Dan menatap kematian adalah teguran tersopan Allah untuk mereka yang masih memiliki nafas. Agar mengevaluasi usia yang lalu juga merencana usia yang tersisa untuk termanfaat lebih optimal dijalan.Nya. Agar tak lupa pada hulu dan muara sebuah raga serta nyawa. Agar tetap menjaga perpanjangan doa seusai sujud untuk mereka yang telah disurga. (Doa menjadi satu satunya cara menyatakan cinta pada mereka yang telah berpulang).
    ^O^

                Kemudian, kepada engkau yang selalu menatap saya di atap angkasa juga pemerhati saya dinegeri angan. Sebuah cinta yang telah berbeda langit namun masih terhubung oleh rapalan harap. Ku hidupkan kisah kita dalam doa. Boleh ya :”)
                “Raga mereka mungkin memang telah melebur bersama tanah, namun kebersamaan dengan merekapun telah melebur dalam ingatan. Itulah yang membuat mereka tetap hidup disini *mendekap hati*.” Ucap Bunda menenangkanku.
     

  2. Bismillaahirrahmaanirrahiim :)



    Minggu, 3 November 2013


                Melalui debar jantung yang muncul dipermukaan biasanya Tuhan mengabarkan tentang sebuah kejutan pada saya. Dan ada dua macam kejutan didunia ini, kejutan yang menyenangkan dan tidak menyenangkan. Tanpa bermaksud berburuk sangka pada rencana.Nya, saya merasa cukup dibuat khawatir untuk menjalani hari ini.
                “Narisa!” seru sebuah suara tanpa rupa.
                Saya menyapu pandang kesekitar. Mencari sumber suara yang menyerukan nama saya. Sebelum batin saya terpenuhi tanda tanya, Tuhan menjawabnya dengan penuh kejutan. Ya, Tuhan itu Maha Suprise :”) Kejutan yang mendebarkan sedari tadi telah nyata didepan mata.
                “Dalem mas!” pekikku delapan pertujuh menit kemudian. Sadar asal suara tadi.”Bentar mas, tak parkir dulu.”
                Menunda beberapa saat tugas belanja dari Ibu untuk menyapa sosok yang tak jumpa nyaris empat tahun.
                “Subhanallah... apa kabar mas?”
                “Alhamdulillah bikhoir! Kamu gimana? Hwah beda ya sekarang!” jawabnya masih dengan cara dan intonasi sama.
                “Hehehe alhamdulillah seperti ini lah. Dari mana ini mas?” sahutku agak tersipu.
                “Dari Lundong, eh kamu tau bendera ORPLAS dimana?”
                “Hwah afwan mas kurang tahu aku. Kenapa to? Mas mau muncak lagi?”
                “Ndak, mau aku bawa ke London besok buat presentasi di KCL.”
                “Subhanallah lolos kah. :D”
                Saya bukan hendak bercerita tentang obrolan siang diantara riuhnya pasar, bukan. Tapi tentang perjumpaan dengan sosok dalam catatan inspiratif saya. :”) he is ispired me.
                Seorang lelaki yang mengenalkan saya pada organisasi kepecintaalaman dan sedikit mengenai birokrasi juga mengenalkan pada danau hikmah ladang dakwah.
                Saya ingat benar, saat kakak kakak senior lain sibuk dengan agenda MOS di tiap kelasnya, dia datang tergopoh membawa beberapa album foto pendakian dan mengusik keasikan kelas X membahas pensi akhir MOS. Meminta perhatian kami atas sebuah organisasi kepecinta alaman. Dua yang membuat saya tertarik, perjalanan dan penghijauan.
                Sayapun tak lupa, ketika dia meminta berkumpul di lab Kimia lalu menggemakan takbir dalam pembukaan pesantren kilat sekaligus pengenalan medan dakwah yang dibantu seorang alumni. Setidaknya dia turut andil dalam menyebarkan informasi untuk kegiatan itu. Terima kasih. :”)
                Pecinta alam yang mengajarkan saya memaknai perjalanan, persahabatan, kesetiaan juga kematangan persiapan. Dakwah yang mengajari saya kehidupan, keikhlasan, juga kebermanfaatan penuh optimal. Meski dua hal itu memiliki dua sisi yang sangat contras dalam interaksi dan koordinasi, namun Lotus mengajari saya untuk mampu menyerap kebaikan dalam keduanya.
                Lantas apa yang istimewa dari lelaki ini?
                Lelaki yang tidak bisa membedakan kapan saya tertawa dan kapan saya menangis. Lelaki kurus hitam yang setelah empat tahun tidak ada perubahan ini. Lelaki yang selalu gagal marah (haha sebab tak pernah melihatnya marah dengan membentak, dia nampak lucu saat marah dengan membentak, mengaktifkan mode senioritasnya. Nampak seperti Woody Wood Paker), yang membuat istimewa itu binar semangat dimatanya yang kecil. Bukan binar semangat yang tak pernah redup, dia pernah nyaris redup tertiup angin keputusasaan namun bersama sisa bara yang ada dia mampu membakar semangatnya kembali.
                “ 0,01 % itu penting. Jangan diremehkan!” begitu kata seseorang pada saya.
                Dan barangkali serupa dengan semangat yang tinggal berapa persen itu, sebuah presentase terkecil sekalipun jika kamu mampu menjaganya, meyakinkannya, maka itu mampu membuatmu untuk terus hidup dalam juang.
    ^O^
                Tuhan memang Maha Penuh Kejutan. Kejutan yang nyata selalu indah jika dipandang penuh syukur. Bahwa Ia mengingatkan saya dengan penuh kasih sayang mengenai makna impian dan cita cita. Betapa keduanya selalu layak dan wajib diperjuangkan. Tujuan yang harus ditindak lanjuti.
                Membuang jauh jauh kecemburuan sebab waktu yang belum berpihak pada diri, mengubur dalam dalam kebusukan putus asa agar tak lagi muncul dipermukaan. Menanamkan benih mimpi lantas menyiraminya dengan ikhtiar dan kepercayaan penuh pada.Nya. bahwa Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum jika bukan mereka sendiri yang merubahnya. (Ar Raad ayat 11)
                Dan kaki kecil saya kembali melangkah. Sembari menatap punggungnya yang menjauh, saya menghela nafas panjang. Serupa sesak yang terangkat beban lantas lega menyerang. Percaya bahwa selalu ada orang orang dengan bara semangat berlebihan yang mampu menghangatkan orang lain. Selalu ada orang orang yang memiliki kekuatan berlebihan pada mimpinya untuk dapat meringankan langkah insan lain. Selalu ada orang orang dengan pandang indah berlebihan untuk memberi kacamata syukur pada yang lain. Dan dari semua hal yang selalu Tuhan sediakan itu, ada limpahan hikmah disetiap perjalanan. Ada kemudahan sesudah kesulitan. :”) Percaya pada kekuatan 0,01 %!
     

  3. (Mungkin) Apatis!

    Saturday, 22 November 2014

    Bismillaahirrahmaanirrahiim :)


    Bagaimana rasanya berdiri dengan kaki sendiri? Linukah dihari kelima kamu memijak? Pegalkan di 24 x 5 jam kamu menegak? Wajar, sungguh! Itu hanya sensasi awal sebuah ikhtiar.

    Iya ikhtiar. Sebagian ada yang membuat ikhtiar itu benar-benar dalam rangka berdikari, berdiri dengan kaki sendiri hingga mampu berlari tanpa subsidi. Pun sebagian ada yang menguatkan gurita koalisi untuk sebuah kursi. Sebagian lagi ada yang meregang menunggu mati.

    Dari segimanapun ikhitiar itu nampak, sejatinya tugas kita tak pernah jauh dari menyibukan kedua malaikat disisi kanan lantas menganggurkan malaikat disisi kiri. Perihal mereka yang kian asik dalam aksi pencuriannya, perihal ada yang terusik cekik sebab semua butuh serba naik, juga perihal tawa licik yang pura-pura baik. Sungkankah kita untuk turut serta menaikkan syukur? Sebab kita masih ditanah surga milik Pertiwi.

    Dengan kolam susu tanpa nila, meski nyata hanya orang-orang kaya yang  meminum susu. Biarlah setiap tenggaknya itu menyumbang kesibukkan malaikat kiri.

    Kail dan jala di arus hidup berombak, meski nyata ikan-ikan kita ditangkap bebas oleh banyak negara. Bahkan beberapa ada yang riang gembira bertamu lupa pulang ke Indonesia. Setidaknya kita belajar paham, lengan doa selalu mampu memutus sekat negara.

    Batu dan kayu yang selalu sedia tumbuh meski nyata banyak yang terjual untuk membangun surga para 'penunggu' hingga malaikat kanan tersedu sebab jemu menunggu waktu berlalu.

    Apatis? Atau Optimis? Barangkali hanya ingin bersikap sedikit manis pada proses adaptasi yang mulai kritis.

    RisaRiiLeon, Solo, 22/11/2014

  4. Bismillaahirrahmaanirrahiim :)




                   

    By Risa Rii Leon



                    Bertemu denganmu, adalah janji Matahari setiap pagi. Menanti disemester akhir masa perkuliahan. PPL adalah tiket menuju pertemuan saya dan kamu. Di ruang kelas dengan bangku kayu serta senyum lucu darimu. Di sekolah dengan lorong tempatmu berlarian, kursi berlengan tempat kita sempat saling berdendang, juga tentang buku-buku yang mengajak kita saling berpegang. Saling membantu. Menyapa dalam hangat tanpa sekat Guru dan Siswa.
                    Entah siapa guru disini, sebab darimupun aku banyak belajar. Tentang tulusnya senyum menyapa, tentang riuhnya tawa canda dengan semua,tentang ketaatan pada tata tertib, pun tentang memaafkan diantara kalian. Dan tentu saja, tentang keikhlasan menerima saya dan teman-teman sebagai rekan belajar disini. Di sekolah ini, tempat kita pernah berbagi asa, cerita, mimpi, juga cita.
                    Lantas ketika masa begitu cepat melenggang dengan kaki tak nampaknya, bisa apa aku? Tak mungkin ku pincangkan waktu agar berhenti berjalan, tak mungkin ku rem lajunya. Ia adalah partikel yang akan tetap bergerak dan meninggalkan cerita itu sebagai kenangan. Saya dan kamu, hanya akan menjadi kenangan.
                    Kenang sebuah pertemuan sederhana yang membuat hati tak lagi sama. Arrrrghh, mengapa harus sesayang ini untuk hubungan selama tiga bulan? Mengapa seolah enggan tersapa pisah ketika ia adalah satu paket dari pertemuan? Mengapa?!? Bukankah seharusnya hati ini sudah rela sejak langkah pertama. Setidaknya tak ada janji selamanya di awal masa itu.
                    Hari ini, saat pertama senyum kalian menyapa, adalah tiket hangat yang mengalir dibukit pipi. Membius udara penuh haru, bahwa waktu begitu cepat berlalu. Bukan perpisahan yang ku takutkan. Jujur, aku hanya takut dilupakan. Itu saja.

                    Engkau adalah getar pertama yang meruntuhkan gerbang tak berujungku mengenal hidup.
                    Engkaulah tetes embun pertama yang menyesatkan dahagaku calam cinta tak bermuara.
                    Engkaulah matahari  Firdausku yang menyinari kata pertama di cakrawala aksara.

                    Kau hadir dalam ketiadaan. Sederhana dalam ketidakmengertian.
                    Gerakmu tiada pasti. Namun, aku terus disini.
                    Mencintaimu.
                    Entah mengapa.*

    *catatan Dee pada suatu pagi buta diatas atap rumah tetangga*
    Solo, 21/11/2014
    Monolog Tengah Malam setelah sempat menguras mata air dekat kening.