So, sebelum tenggelam dalam lamunan membayangkan kesendirian disamudra kaum berpasangan, check your tipikal of jomblo disini :D
-
Tipikal Jomblo :D
Thursday, 16 January 2014
Bismillaahirrahmaanirrahiim :)
Holla :DBelum malam minggu tapi udah bahas statusiasi sosial :D Abis itu timeline full sama aroma aroma kepesimisan kaum yang masih belum berpasangan sih :D Saya tidak akan membahas mengenai kengenesan menjadi jomblo, meski sejatinya saya merasa tidak ngenes dengan status jomblo :D. Apa yang harus dimengenaskan ketika ruang tanpa pasangan adalah ruang sempat kita untuk lebih memperbaiki diri? memantaskan diri untuk dia yang kelak halal untuk kita. Apa yang harus dimengenaskan ketika ruang yang katanya sepi adalah cara Tuhan mendekatkan kita pada jalan lurus.Nya, memperpanjang percakapan percakapan kita sesuai sujud ataupun rapalan rapalan melalui dekapan tangan. Apa yang harus dimengenaskan ketika ruang tanpa pasangan adalah wilayah bebas kita untuk tak diharuskan lapor dua puluh empat jam tujuh hari seminggu pada manusia lain yang tak sedarah dengan kita, bebas melakukan hal hal yang kita suka tanpa risau ada yang kehilangan rasa pada kita, bebas menjadi diri kita ada adanya tanpa harus membunuh pribadi yang sederhana. :D Yah, menikmati Jomblo dengan sykur itu akan memudahkan kita untuk menerima bahwa jodoh itu tak akan kemana, meski kadang kita nunggunya sampai mana mana :D
So, sebelum tenggelam dalam lamunan membayangkan kesendirian disamudra kaum berpasangan, check your tipikal of jomblo disini :DØ Jomblo SejatiJomblo ini masih murni. Haha serupa air aja murni :v. Jomblo ini belum pernah sama sekali menjalin hubungan lebih dari persahbatan, doi belum pernah pacaran gitu. Pokoknya masih ‘kinyis kinyis’ gitu :D. Doi masih fokusin fikirannya buat study, dan amazingnya doi belum pernah naksir siapa siapa hlo :D. Masih anak singkong bangeettt, bau kencur gitu.Ciri cirinya: kacamata minus tebel, penampilan senyaman mereka aja, cuek banget sama kritikan orang tentang penampilannya doi. Pokoknya Fashion berantakan. :D style cupu abiiiiiss!Ø Jomblo SniperKalau si Sniper ini emang belum pernah menjalin hubungan, Cuma doi udah kesetrum VMJ *Virus Merah Jambu gitu. Doi udah lama naksir berat sama seseorang, udah sampe jadi secret admirernya gitu. Sayangnya doi itu enggak punya nyali buat nembak. Yep, dia agak kurang PD sama something pada dirinya. :DCiri ciriny : tipe penyendiri dan jarang nongol ditempat umum, pakai gelang karet ditangannya (buat nembakin cicak didinding coz doi kurang kerjaan gitu gals -,- ).Ø Jomblo NegatifDoi bukan Jones kok, saya tidak memakai tipikal Jones tenang aja :D pokoknya semua jomblo itu enggak ada yang ngenes (aamiiin). Jadi si Negatif ini adalah jomblo yang dipaksa buat jadi jomblo sebab dipecat atau diputusin sama pasangannya. Lagi broken gitu, duh desperate gitu pokoknya. Belum bisa menerima kenyataan yang doi hadapin. *pukpuk sabar ya kakak.Ciri cirinya: gampang sirik, sering kesel, bad mood along the day, gampang esmosi dan sensi sama film film beraroma romantic. Hahaha buat kamu yang lagi kasmaran hindari jomblo yang satu ini, jangan sampai nyeplos nyebut si mantan :D bila perlu pasang attention gini “Awas jomblo berbahaya! Very Dangerous!”Ø Jomblo BiruNah ini seratus delapan puluh derajatnya si Negatif. Sebab mereka menjadi jomblo itu sama. iye, sama sama abis putus gitu, yang membedakan keduanya itu cara menyikapinya. Jadi jomblo Biru ini menjadi jomblo karea putus secara resmi alias sama sama merestui. Putus adalah keputusan bersama berdasarkan musyawarah dan mufakat keduanya. Bisa karena sudah sama sama bosan, jenuh atau udah bener bener ngerasa empty. Intinya doi ini jomblo baru yang tak biru lebam hatinya :D.Ciri ciri : face always happy and full smile layaknya narapidana yang baru bebas pernjara. Menikmati hidup dan menemukan kehidupan doi kembali. Sering terlihat hang out rame rame bareng temen temennya. Life is nice, Dear. Kesimpulannya doi FREE! Welcome to Freedom :DØ Jomblo FinalHaha lucky jomblo :D Doi ini adalah calon alumni IJO LUMUT (Ikatan Jomblo Lucu dan Imut #DuhKambuhLabilnya!). jadi ceritanya doi ini lagi PDKT gitu sama seseorang and nyaris melepas statusiasi kejombloannya. Belum 100% goll sebab doi belum pasti diterima juga hahhaa *ketawa jahatCiri ciri: menjadi manusia yang doyan ngaca *keriting dah tuh kaca. Doyan pakai make up, fashion up to date pakai banget. Rajin perawatan, mendadak maniak zodiak buat liat peruntungan doi #DuhParah! And lebih parahnya doi jadi sering senyam senyum kurang jelas kalau inget bribik(The Obyek Of Affection)nya. Saran aja, jangan mencoba memancing pembicaraan yang menyangkut atau terhubung sama gebetannya, atau kamu harus siap siap mendengarkan cerita menjemukan tentang gebetannya itu :3 cerita yang sama setiap pembicaraan. #DuhKronis!Ø Jomblo HunterLife is something challenge! Itulah hidup jomblo satu ini. menikmati proses adalah cara doi menjalani kehidupan jomblonya, proses pergantian pasangan maksudnya :D. Yep, doi ini tipe jomblo yang singkat, sering berganti pasangan ammm bisa dikatakan seorang player gitu :D hunter to be player? :v. Ritme kejombloannya begini, jomblo-huntin-jomblo-hunting gitu terus sampe kiamat :3. Buat doi jomblo adalah masa pencarian. -,- Duh! Jauhin deh kalau enggak siap jadi salah satu koleksi :3.Ciri ciri: punya bakat buar jadi seleb, tampang kece, PD level dewa, punya gravitasi luar biasa *radius 5 km bisa ketarik. Menu hariannya cari gebetan di tempat nongkrong (caffe, warnet, juga jejaring sosial).Ø Jomblo ImpossibleIni khusus kaum adam. :D tipikal jomblo yang sering naksir pasangan dan enggak mungkin bisa deketin, example: Gita Gutawa, Nabilah JKT, Yoona SNSD, atau girlband lainnya. Life is dreaming, may be?! -,- Duh!Ciri ciri : Always tampil keren 24 jam tujuh hari seminggu. Kalau udah koar koar itu berasa aktor gitu dan mungkin ngerasa dirinya sekelas Tom Cruise, Hwon Bin? -,- Duh, bangun kak!Ø Jomblo ForeverKhususon makhluk hawa. Tipe ini paling setia buat nunggu dan bisa marries sama cowok idamannya, such as Lee Min Hoo, Mario Maurer, Daniel Radclief, atau siapa itu yang doi jadiin idol. Intinya jomblo satu ini sangat imajinatif buat membuat rekaan masa depan. Efek terlalu banyak liat movie Korea juga mungkin. Mungkin hlo ya :3Ciri ciri: Hobby banget nempelin poster idolanya in anywhere, dikamar tidur, kamar mandi, buku tulis, wallpaper hp or PC juga di dompetnya*duh berasa beneran cowoknya aja! -,- Dalam doanya ada senandung “Tuhan yang Maha Baik, jadikanlah aku cinderella dan ....*diiisi nama idolanya* sebagai pangeran yang membebaskan aku dari gubuk derita ini. Aamiiiiin.” *pukpuk sabar ya Sist, semoga enggak lumutan. :3Ø Jomblo Bahagia/ SingleNah ini nih yang wajib dikasih jempol sebanyak banyaknya :D like pake banget dah pokoknya. Jomblo satu ini enggak peduli sama status doa yang jomblo, doi enggak mikir kalau doi ini jomblo, doi beranggapan kalau doi itu single! Yes! Hlo apa bedanya sama jomblo?! Keduanya memang sama sama sendiri ditengah alutan pasangan, yang membedakan kalau jomblo itu nyari pacar/ nunggu dipacarin kalau single itu nunggu pasangan halal (suami atawa istri gitu). Bagi Jomblo Bahagia atau single ini mereka enjoy banget jalan sendiri meski banyak pasangan disekitarnya. Buat doi, jalan sendiri adalah kesempatan buat lebih banyak menyapa sekitarnya. Lebih baik sendiri daripada menjalani hubungan yang belum sah, sendiri untuk menanti haha gitu sih prinsip doi.Ciri ciri: enggak pernah kelihatan BT, nyengir kuda poni mulu bawaannya, kadang mendadak salting atau senyam senyum kurang jelas kalau sama someonenya, sering kelewat PD, haha and paling doyan nongkrong di tempat rame.So! Tipikal jomblo apa kamu?! :DPosted by RisaRiiLeon at 19:41 | Labels: Kacamata Risa | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Chillar Party
Tuesday, 14 January 2014
Bismillaahirrahmaanirrahiim :)
Judul Film: Chillar Party
Tagline:
Produksi: SKBH Production
Genre: Drama
Tanggal rilis: 15 Jul 2011Yes! The Movie Time :”DKenapa harus nonton film? Haha kapan kapan saya share alasan tepat menonton film. Sebelum saya lupa pada kisah dalam film yang saya tonton, mari menyimak dalam kacamata saya.Film produksi SKBH Production bergenre drama ini resmi memukau saya. :”) Mendongkrak semangat menjadi seorang guru PAUD yang bijak (yeyyeyeye *pakai pompom).Ketika setiap orang tua dengan penuh ketulusan dan harapan kebaikan yang mereka sematkan pada nama nama anak mereka, maka teman teman sebayanya dengan senang hati merusak doa dan harapan dalam nama itu, menggantinya dengan julukan, namun jika keduanya ialah pertanda kasih sayang? Mau diapakan? :DSeorang Rama Shankar dengan potensi pelempar cepat namun kidal resmi dianugerahi panggilan, Akram. Lalu Lucky Singh yang kurang beruntung dalam pengharapannya kini bergelar UnLucky. Laxman si ragil yang selalu mendapat barang bekas dari kakaknya, kini menjadi Second Hand. Balwan yang selalu enggan mengenakan celada dalamnya, dipanggil Janghya. Menjadi penurut perintah Ayahnya, yang selalu memintanya mengikuti berbagai macam les, resmilah dia dipanggil Aflatoon. Si pendiam, Silencer. Ditambah bocah dari India bersemangat China, Shaolin. Si Jenius dengan pengetahuan kece, sah menjadi otak kelompok dengan nama Ensiklopedia. Mereka bersembilan bocah penghuni komplek Chandan Nakar, kesatuan tim kriket yang belum pernah mengalahkan lawan dengan tubuh besar dari komplek tetangga, dan mereka yang tak pernah suka pada anjing sebab suka buang kotorang ditaman bermain mereka. Dan sosok itupun datang. Fatka dan Bhidu. Sepasang rekan bisnis cuci mobil yang saling menyayangi. Fatka si tanpa orang tua yang berteman dengan anjing setianya, Bidhu.Saya tidak akan berkisah kronologis bagaimana Fatka beradaptasi dengan ketidaksukaan Chillarparty pada Bidhu, juga tidak akan memaparkan bagaimana tingkah anak anak Chillar Party, menjadikan Bhidu and Fatka obyek pembullyan hingga bergabungnya Fatka and Bhidu dalam Chillar Party, menjadi kesatuan yang tak terpisahkan.Hasil debut dari duet sutradara Vikas Behl dan Nitesh Tiwari ini resmi menyentil kelopak mata saya. menjadikannya berair penuh haru. Melebur dalam tatap egosentris anak anak, mereka yang diajarkan untuk selalu melakukan hal benar, meski kadang orang lain tak suka. Mereka yang diajarkan untuk menjadi sahabat sejati yang saling membantu. Mereka yang diajarkan untuk menepati janji. Mereka yang diajarkan untuk melawan ketakutan dengan langkah tegap berani, tanpa kepecundangan. Mereka yang diajarkan tentang menjadi teman sejati yang selalu ada untuk saling membantu saat dibutuhkan. Mereka yang diajarkan tentang kebencian yang sering muncul namun sejatinya kekuatan cinta selalu lebih besar. Mereka yang diajarkan tentang binatang juga ingin disayang, merekapun memiliki rasa seperti manusia. Dan merekapun diajak untuk menciptakan sebuah negeri dimana setiap orang saling mengasihi satu sama lain tanpa atmosfer keegoisan. Semua konsep cantik yang diberikan orang tua untuk mendidik anak anak agat tumbuh menjadi pribadi yang indah, konsep cantik yang dimatangkan untuk membekali anak anak, konsep cantik yang juga mengelupas seiring deraan masa dan padatnya agenda manusia dewasa, khususnya orangtua. Mereka yang mengajarkan namun mereka pula yang melupakan. #mirisOrang tua lupa, potongan potongan kue kecil yang baru keluar dari pemanggang itu, yang sedang mengaromankan manisnya hidup adalah buah hati yang sedang tumbuh dan berkembang, buah hati yang sedang mengapilkasikan ajaran mereka tentang kehidupan. :”). Chillar Party lulus menjadi alarm orangtua akan hal itu. Dan menjadi rambu pada saya agar kelak tak lupa.Manisnya, Chillar Party tak hanya menjadi alarm atau rambu tentang kealpaan orangtua tersebut. Disisi lain, kita di ajak untuk tak membenci suatu hal yang tak disukai. :”D Bahwa terkadang manusia terlalu banyak membenci pada hal hal yang bahkan mereka tak tahu. Ketika seorang Akram merasa cemburu pada kehidupan Fatka yang bagai burung bebas, lepas tanpa batas, bebas tanpa aturan. Ya, Fatka bebas untuk tak sekolah, untuk bermain dan tidur selarutnya, sayangnya Akram lupa tak ada yang meyelimuti Fatka saat Fatka tidur, tak ada yang memeluk dan mendendangkan lagu untuk Fatka. Juga kecemburuan Unlucky pada ketidakharusan Fatka untuk meminum susu, Unlucky tidak suka susu. Tapi Fatka tak pernah sempat memikirkan makanan dan minuman apa yang ia tidak suka, sebab baginya dia bisa makan hari itu saja sudah bersyukur. :”)Dibumbui sedikit tentang bagaimana sebuah politik bekerja disuatu negeri, Chillar Party masih saja layak tonton seluruh keluarga. Seorang menteri yang mencari pencitraan masyarakat, mewacanakan Masyarakat Bebas Serangan Anjing Liar sebab Asistennya diserang Bhidu saat peresmian taman di Chandan Nagar. Anjing tidak pernah menyerang jika tidak diserang, fakta yang mengawali semua konflik. Membawa Chillar Party ke medan pertempuran. Sebuah memperjuangkan persahabatan atau membiarkan pencitraan. :”) Disaksikan saja disini jangan hanya dibayangkan :D So #HappyWatching :”D^O^“Aku selalu sedih jika ingat bahwa aku tidak pernah bersekolah seperti anak anak lainnya. Aku takut jika aku akan tumbuh menjadi sesuatu yang tidak baik dan tak berguna. Tapi aku tak lagi sedih, karena sepertinya orang dewasa lupa pada apa yang diajarkan mereka saat kecil. Jadi apa pentingnya pergi sekolah atau tidak?” ujar Fatka untuk kalimat terakhir dalam paragraf pembelajaran dari anak anak.

Ensiklopedi, si otak kelompok :D

Fatka dan Bidhu juga VW kodok rumah mereka

Second Hand yang merelakan tabungannya demi Bidhu :") Sweet :*

Si Anti Kolor yang mengenakan kolor demi sahabatnya

Bocah tanpa kata yang berseru demi persahabatan

Si India dengan Semangat Chinees :D

si Tidak Berungtung Pembawa Keberuntugan :D Posted by RisaRiiLeon at 05:48 | Labels: Movie | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Dua Titik Segitiga Sama Kaki
Thursday, 9 January 2014
Bismillaahirrahmaanirrahiim :)

https://www.facebook.com/PenerbitHarfeey
Menunggu #2
-Lelah dalam Durasi-
Genre : Kumpulan Cerpen
Penulis : Boneka Lilin et Boliners
Editor : Boneka Lilin
Layout : Boneka Lilin
Design Cover : BoLin & Ary
Penerbit : Harfeey
ISBN : 978-602-7876-71-2
Tebal : 140 Hlm, 14, 8 x 21 cm (A5)
Harga : Rp37.000,- (Harga kontributor Rp31.000,- setiap pembelian bukunya)
CP Order : 081904162092
Sinopsis
Ibarat mengejar jarum jam yang tak berhenti untuk kian pergi. Sekeras apa pun aku berlari, dia tetap melenggang jauh.
Maka di sinilah aku, bersama pilihan yang kurasa jauh lebih baik dari mengejar sesuatu yang tak pasti; menunggu. Paling tidak, dengan aku diam menunggu, jarum jam itu akan berputar dan kembali padaku. Walau entah harus kutukar dengan berapa lama durasi dalam menunggu.
***
Kontributor:
Boneka Lilin, Syukron Ya Sukron, Nunik Susilo Rini, Tri Sadono, Ovie Nurbaity Paring, Narisa Haryanti, Alzenni Manda, Rozella Maryam, Faatin Han, Wulan Dadi, Arni Mei Yuni, Nadyannisa Pratiwi, Arinny Fharahma, Nindika Tria Hapsari, Witri Prasetyo Aji, Widya Neva, Anisa Sholihat, Rosnelly Dwi Fitria, Heridwan, Aifia A. Rahmah, Muhrodin A.M, Visca Julianti, I Made Binar Andromeda, Sindu Lintang Ismoyo, Mayang Ayu, Rika AngrianiIni adalah penantianku :) #HappyReading! ^^^O^
Kulitnya mulai mengelupas, berganti warna dan mulai terhinggapi lumut. Dua papan kayu berengselpun mulai rapuh. Termakan rayap jaman. Dialah tersangka utama pembuat jengkal antar titik dalam segitiga sama kaki. Gerbang Sekolah Dasar Kasih Bunda.Ada jarak antara saya dan kamu yang diberi nama kita.
viraeya24.tumblr.com “Kita adalah dua titik dalam segitiga sama kaki.” Ucapmu sembari menawarkan kelingking guna dikaitkan dengan kelingking saya.“Kenapa segitiga sama kaki memangnya?” tanya saya penasaran, masih enggan dan belum mengerti untuk apa ritual pengaitan jari ragil itu.“Karena aku kan mau pergi. Jadi nanti jauh sama kamu. Sama kaya dua titik di segitiga sama kaki. Jauh tapi nanti juga ketemu.” Katamu semangat empat lima. Mengaitkan dua alismu. Mencoba meyakinkan saya. “Kalau udah besar. Pasti ketemu!” kamu menegaskannya.Adegan sepuluh tahun lalu. Di tempat yang sama saya berdiri saat ini. Saat merah putih begitu indah berkibar dalam langkah langkah ringan kita. Saat merah putih dengan mesra menggandeng kita menyusun mimpi setinggi bintang di langit. Saat merah putih dengan santun mengajarkan kita untuk saling menghargai sebagai sesama. Saat merah putih mengenalkan gobak sodor dan tarian padang bulan. Merah putih menyelamatkan masa kecil kita. Membuat kita memiliki kisah manis untuk diwariskan pada lingkaran api unggun anak cucu.Kini merah putih telah tersimpan di rak baju. Mengendap bersama kenangan dan janji kita. Sepuluh tahun kelingking itu masih terkait dihati masing masing. Terpatri dan menanti tertepati. Dua titik segitiga yang membutuhkan penggaris pemutus jarak. Dua titik yang harus segera dihubungkan guna menjadi utuh satu sama lain.Saya mematung disana. Tak menghiraukan colomus nimbus yang mulai menyapa. Membiarkan gerimis menjamah penutup raga. Mengikhlaskan diri menggigil demi menunggumu. Saya percaya. Sekali kamu berjanji, kamu akan menepati. Bahkan bulan rela dan legowo menjadi pasi demi berjumpa dengan sang surya. Bulan memang bodoh, tapi tidak. Barangkali dia hanya terlalu rindu. Dan bulan ingin setia penantiaannya segera terlunas oleh pertemuan nyata, meski harus menjadi pasi sekalipun.“Sha, ini Ari. Besok saya tunggu di gerbang depan kasih bunda ya J. Dua titik segitiga sama kaki itu butuh penggaris!!” pesan dengan seratus tujuh belas karakter itu sukses membuat saya berjingkrak jingkrak, melupakan penantian panjang pada dosen pembimbing yang hobby travelling.Mungkin itu jawaban atas percakapan panjang saya dengan Tuhan seusai sujud. Bukankah saat jarak begitu nyata, hanya lengan doa yang mampu menghangatkan? Bukankah lengan doa pula yang menjawab segala rindu yang tercipta oleh angkuhnya jarak?! Fasilitator untuk saling memeluk bagi mereka yang berjarak. Doa.Lantas bagaimana caranya menjelaskan tentang rindu pada seseorang yang entah berada dimana? Hanya perlu percaya pada Tuhan. Itu saja. Karena jarak adalah cara Tuhan mengajarkan agar menghargai pertemuan. Karena jarak adalah cara Tuhan membuatmu mengerti arti menunggu yang bertunas oleh rindu. Karena jarak adalah cara Tuhan menguji mereka yang mencinta dalam balutan rapal doa untuk tetap saling ada.Karena saya percaya. Saya dan kamu akan menjadi kita. Suatu hari nanti, pada masa yang tidak kita ketahui. Maka biarlah saya tetap disini. Menantimu kembali bersama rindu yang hampir basi. Menyelamatkannya dari masa kadaluarsa dan menggantinya dengan genggaman masa depan. Mengaitkan kelingking dan menghubungkan titik segitiga sama kaki.Selasa, 09 April 2013Risa Rii Leon ^^*Sebenarnya kisah diatas adalah bibit dari fiksi yang bercerita sama, tentang penantian. Haha ada satu paragraf yang saya ambil dari cerpen sekelopak rindu merah jambu :D tentang penantian :DPosted by RisaRiiLeon at 19:39 | Labels: Buku, Fiksi Mini | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Bismillaahirrahmaanirrahiim :)
Jumat, 10 Januari 2014
http://aepublishing.blogspot.com/2014/01/seasons-are-changing.html Judul : Seasons Are Changing
Pengarang : Lailla Tifani and Friends
Ukuran : 14 x 20 cm
Tebal : vi + 198 hlm
Harga : 43.000
Ketik: MUSIM# NAMA LENGKAP # ALAMAT LENGKAP # JUMLAH # NO TELP
Kirim ke : 082333535560
Untuk kontributor, tambahkan #JUDUL KARYA
Nanti Anda akan mendapatkan SMS No.Rek dan jumlah yang harus dibayarkan.
SINOPSIS :
Aku ibarat sebuah titik. Mengamati, mendengar, merasakan, lalu kutuliskan segala hal. Menarik maupun tidak, tugasku tetap mengukir kisah. Titik tak selalu membentuk garis lurus, melengkung, terputus-putus, samar-samar, lalu menebal, hingga sampai pada titik di mana ceritaku berakhir ....
Aku suka mengamati. Ya, aku pasif. Tapi ini adalah aku, sebuah titik yang masih sibuk mengukir kenangan mencari bentuk diriku yang sebenarnya.
~Lailla Tintani~
Dan ini adalah ceritaku :") #HappyReading ^^
^O^Kertas putih yang digantung di luar jendela dengan wajah emoticon senyum itu hampir habis masa pajangnya. Dia telah memasuki ranah pensiun, tugasnya sebagai pawang hujan telah usai. Hujan tak akan lagi mengguyur seintens musim lalu. Ini adalah waktu bermerah jambu. Selamat beristirahat Teru Teru Bozu :) Bye bye salju :) Selamat datang Sakura. Negeri Tirai Bambu bermetamofosa menjadi Negeri Merah Jambu.Salju mulai mencair, tertiup kehangatan Semi. Ada es yang membeku pula dalam hati saya. Ada sehembus angin yang menerpa. Meluluhkan hati dan meredam kegigilan. Ada pertemuan yang harus dibayar. Ada rindu yang segera terselamatkan dari masa kadaluarsa.“Tunggu saya di Hananami *perayaan melihat bunga sakura saat musim semi* seminggu setelah ia nampak. Di taman, di bangku kali pertama kita bertemu. Satoshi.”Pesan elektronik berkapasitas delapan belas kata itu menjadi tiket bahagia saya yang tertunda setahun ini. Tentu, seperti udang hati saya sekarang. Melompat dan melonjak kegirangan. Dan ini masih hari pertama. Masih ada lima hari untuk menanti dan menyiapkan hati. Dan bonus waktu memimpikan pertemuan yang belum terjadi. Manis dan lucu.^O^Lusa. Rindu segera terlunaskan. Sibuk menyiapkan kimono terbaik untuk menemuinya. Saya ingat benar pesan terakhirnya sebelum terbang ke Indonesia guna passionnya akan ilmu berbisnis, memperluas pangsa pasar katanya.“Kelak, saya ingin melihatmu memakai kimono. Saya kira kamu akan terlihat sangat manis.” Bisiknya musim panas lalu saat Tanabata (Festival Musim Panas).Badan saya menggigil. Suhu tubuh lebih dari tiga puluh delapan. Satoshi datang menjenguk, memilih menemani saya dan melewatkan Tanabata. Lucunya, dia tidak lupa membawakan saya unagi juga teh teman setianya. Sayangnya, unagi yang dibawa tidak senikmat saat dimakan di tempat penjualnya atau mungkin karena lidah saya yang sedang sakit? Tapi, sungguh Satoshi manis sekali waktu itu.^O^Masih ada enam puluh menit. Masih ada tiga ribu enam ratus detik lagi. Sebelum saya menatap mata kecilnya. Menyibakkan sepagar poni yang menutup kening, juga menekan hidungnya gemas. Ah saya nyata rindu Satoshi. Tiga belas bulan, hampir empat belas bulan adalah waktu yang cukup bagi saya menabung rindu. Saldo saya sudah hampir mencapai unlimited. Saya akan menjadi jutawan saat seorang yang merindu digaji.Lima belas menit berjalan kaki, saya telah sampai di taman itu. Menambah waktu untuk menabung rindu lagi. Ueno Park, tempat saya mengantar keberangkatan, dan kini tempat saya menanti hadirnya. Saya duduk di bangku dekat replika Saigo Takamori dalam balutan semen, dan di dekat kakinya ada Hachiko, belahan jiwa penuh setia. Melihat mereka bersanding, tentu saja sangat romantis. Si Tuan penuh penjagaan dalam merawat peliharaannya dan si Pengawal yang mengabdi penuh kesetiaan.

chemibuneba.wordpress.com Empat belas bulan tepat pada pukul tiga sore ini. Dan kereta yang dinaiki Satoshi tiba pada pukul 15.15. Ada waktu lima belas menit untuk menata hati. Meredam rindu agar nampak tidak menggebu dan terburu. Melatih debar jantung agar tidak terlalu membuat gempa tubuh. Juga mengeja kalimat rindu tanpa berunsur kata rindu, “Apa kabar?” misalnya. Lalu diucapkan dengan ekspresi datar, dan seolah biasa saja.
Lalu bercengkrama mengenai kesibukan masing masing selama tidak bersama. Semua sudah saya latih, agar rapi dan nampak natural. Kenapa tak bilang rindu saja tanyamu? Bukankah hal yang wajar saat perempuan menjadi sangat pemalu dihadapan lelaki yang dicintainya diam diam selama ini? Terlebih jika sebenarnya mereka hanya bersahabat sejak di bangku Himawari Daycare :D. Bangku tempat saya dan Satoshi selalu dijodoh-jodohkan oleh Shizuka Sensei*guru* dengan alasan wajah kami yang mirip satu sama lain. Ada titik hitam kecil bibir atas Satoshi dan begitu juga dengan saya. Selain itu kami berdua menyukai satu jenis makanan yang sama. Sushi. Selalu saja. Belum lagi permainan yang selalu kami mainkan bersama. Bermain lumpur. Saat semua rekan putri tengah asik bermain dengan boneka, Satoshi menarik tangan saya dan membawa saya ketaman samping sekolah. Mengajak membuat adonan coklat berbahan dasar air dan tanah liat, lantas mengalirkannya dari gundukan tanah yang lain. Nampaklah air terjun coklat buatan kami. :D Dulu, saat kami masih belum menyadari resiko dari keintensitasan sebuah interaksi lelaki dan perempuan. Dulu, sebelum saya menyadari saya telah jatuh cinta duluan. Dulu saat saya dan Satoshi masih bergandengan tangan sepulang sekolah tanpa peduli terik musim panas, atau salju musim dingin. Bagi kami semua daun selalu indah seperti saat musim gugur, jingga dan indah. Bagi kami udara selalu sesejuk dan sesegar musim semi. Hangat dan bersahabat dalam mekarnya alam. Bagi kami, selama masih bersama dan saling menatap, kami baik baik saja. :)Meski nyata, waktu tidak membiarkan semua semanis itu. Tanggung jawab terus berkembang dan meminta terperhatikan seiring bertambahnya usia. Bukan lagi anak ingusan yang beransel kuning, bertopi kuning dan berseragam renda. Kami telah bermetamorfosa, ada dasi yang meminta perhatian, dan juga ada kerah yang meminta dilipat. Kami berpura pura menjadi dewasa meski hati terpenjara dalam jiwa anak anak. Bukankah memang demikian? Tidak ada orang yang benar benar tumbuh menjadi dewasa. Menjadi tua itu pasti namun menjadi dewasa adalah soal pilihan bersikap bukan?^O^Jam tiga lebih lima menit. Dua keluarga diseberang mulai merapikan perlengkapan pikniknya. Melipat tikar dan menata keranjang kosong. Entah karena telah puas bercumbu pandang dengan sakura, entah karena menyadari sakura hampir lelah dipandang dan mulai berjatuhan oleh angin, atau bisa juga karena ada segerombol kolumunimbus yang mulai berarak dalam lapisan troposfer ini? Entahlah, yang pasti keberanjakkan mereka menjadikan saya satu satunya penghuni di taman gubahan tanah hibahan Kaisar Taiso. Dan tentu saya masih sesetia Hachiko pada tuannya. Menunggu di bangku taman, menatap sakura yang mulai terjamah gravitasi dan dipermainkan angin. Mata saya panas. Dada saya sesak. Ada sakit dalam kekosongan penantian. Nyata jarum pendek berada diangka empat, dan jarum panjang diangka enam. Satoshi belum menampakkan batang hidungnya.“Dimana kamu?”“Saya mematung disini. Tak menghiraukan colomusnimbus yang mulai menyapa. Membiarkan gerimis menjamah penutup raga. Mengikhlaskan diri menggigil demi menunggu. Saya percaya. Sekali kamu berjanji, kamu akan menepati. Bahkan bulan rela dan ikhlas menjadi pasi demi berjumpa dengan sang surya. Bulan memang bodoh, tapi tidak. Barangkali dia hanya terlalu rindu. Dan bulan ingin setia penantiaannya segera terlunas oleh pertemuan nyata, meski harus menjadi pasi sekalipun.”Meski kimono telah berganti rupa, percayalah saya tetap akan menunggu disini. Meski sakura mulai ragu dan goyah terbawa angin, saya akan tetap yakin. Meski musim siap berganti dan menyisakan jingga pada dedaunan, saya tetap percaya. Janjimu itu nyata. Senyata hangat mentari pagi tanpa penghalang mendung. Bukankah menunggu saat rindu adalah cara Tuhan mengajarkan untuk menghargai pertemuan ? Bukankah menunggu sebab rindu adalah cara Tuhan mengajarkan tentang kesabaran sekaligus keikhlasan? Karena menunggu tanpa keikhlasana hanya akan menyesakkan dada.^O^Saya terjebak disebuah lorong. Gelap dan panjang. Mungkin membutuhkan waktu bertahun tahun untuk mencapai titik terang di ujung lorong, seberkas cahaya yang sangat kecil di depan sana. Badan saya menggigil, gigi gemerutuk tak menentu, baju saya kuyup tanpa sebab. Bukan karena keringat, sungguh tak ada setetespun keringat mengucur. Ini terlalu sejuk untuk sebuah lorong, dan tunggu! Saya mendengar suara, di belakang. Sangat akrab ditelinga.

wallsaved.com “Sakura...sakura.. bangun.. buka matamu!” bisik suara itu. Dekat di telinga. Suara itu seperti tiket sinar memasuki gelap. Akhirnya terang mau berbagi sinar dengan gelap. Saya dapat melihatnya. Jelas sekali, di depan saya.“SATOSHI?!!?” sorakku kaget. Batas percaya dan ragu. Masih mengerjap-ngerjap mencari kebenaran pandang. “Ini kamu?” Nyawaku kembali utuh, tidak lagi separuh, tidak pula setengah.“Iya, ini saya. Maaf membuatmu menunggu hingga pingsan begini. Gomen*maaf*” Ucapnya lirih rapi terbungkus sesal.“Hei, kenapa meminta maaf. Saya tak apa.” Saya coba menjelaskan. Dan memastikan tak membuatnya khawatir. “Hehe saya yang seharusnya meminta maaf. Saya gagal menunggumu. Lihat, kimono saya sudah jadi jelek begini. Hahhaaha.” Tawaku renyah. Mencoba mencairkan suasana.Yushima Tenjin Shrine menyelamatkan saya dan Satoshi. Menaungi seribu cerita yang terlucur deras. Takdir memang sempat mengantarkan kereta yang dinaiki Satoshi terlambat sampai di Okachimachi Station beberapa jam. Hujan memang sempat menjerumuskan saya pada lorong gelap itu. Sakura juga telah melambaikan tangan, berkata sampai jumpa di musim mendatang. Tapi sebuah setia menghangatkan hati yang hampir beku. Menyelamatkan asa yang hampir kadaluarsa. Di saat para pelajar mengunjungi kuil ini untuk berdoa agar sukses dalam ujian sekolah atau agar mereka sukses mendapat beasiswa, kami di sini hanya untuk bercengkrama. Menyampaikan syukur pada Tuhan atas segala nikmat.^O^“Sakura, kamu tahu kenapa Ayahmu memberimu nama sama seperti bunga sakura?” Tanya Satoshi sambil menatap lekat lekat, bukan jenis pertanyaan yang dia belum tahu jawabannya. Tapi, jenis pertanyaan karena dia hendak menguji.“Tidak. Ayah tidak pernah bercerita padaku.” Jawabku agak sebal. “Kamu memangnya tahu?”“Haha taulah!!” ucapnya setengah bangga bercampur sombong.“Kenapa?!” Tuntutku segera.“Kata Ayahmu, agar kamu dapat seperti bunga sakura. Kehadirannya yang singkat tak menghalanginya untuk tetap bermanfaat. Memberi keindahan.”“Oh...” saya ber oh ria. Belum terlalu peduli dengan cerita dibalik layar. Apalah arti sebuah nama jika bunga mawar tetaplah harum baunya? Demikian kata Shakesphare. Nama hanya sebuah judul diri, bukan?^O^“Karena sakura adalah cara Tuhan menunjukkan keseimbangan, betapa semua yang hadir di dunia ini itu hadir satu paket. Seperti dua sisi mata uang. Berkebalikan namun ada dan saling melengkapi. Ada saatnya pertemuan, dan perpisahan akan menjadi pelengkap dari pertemuan itu sendiri. Bahagia karena berkesempatan berpandang dengan si mungil merah jambu sehingga membuncahlah syukur, bersedih atas kehadiran sakura yang singkat hingga perpisahan nampak memilukan. Meski dari perpisahan itulah kelak ada ratusan dan pertemua kembali :).”Dan Tuhan memberi kami sekelopak sakura terakhir di musim ini. sakura di hari ketujuh di dahan terendah. Merah jambu hampir layu, jatuh diterpa bayu. Pasrah pada gravitasi, dan terbang. “Sampai Jumpaaaa...” katanya.
Posted by RisaRiiLeon at 18:45 | Labels: Buku, Fiksi | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |



