Rss Feed
  1. Bismillaahirrahmaanirrahiim :)

    Sabtu, 8 Maret 2014

    Ceritanya ikut Give Away #StayInLove.nya Nisa Maulan Shofa yang di share rekan twitter. Membaca beberapa persyaratannya di kawah kegalauannya dek Nisa ini sepertinya cukup menarik, dan dengan niat menggebu, berharap menjadi pertama yang mengisi inbox emailnya :D, sayapun ngebut buat fiksi mini sesuai tema :D tiga puluh menit, dan taraaaa :D jadilah ini :D
    Ceritanya pas itu iseng iseng ikutan Give Away buku #StayInLove.nya dek

    ^O^
      “Untuk apa merasakan bahagia karena dekat dengan seseorang yang kamu cintai, tapi ternyata dia mencintai gadis lain sedang hatimu terus digerogoti cemburu?” tanya Nara penuh tikam disela tangisku.
                “Untuk melihatnya tetap bahagia Ra.” Jawabku lirih.
                “Kamu bodoh Nis! Ayolah Nis jangan bunuh diri dengan cara konyol seperti ini!” tegasnya kembali.
                “Sebab mencintai terkadang tentang meletakkan bahagianya diatas bahagia kita, Ra.
    Melihatnya bahagia meski bukan karena kita. Mengikhlaskan dia bahagia meski tak bersama kita.” Belaku ditengah tangis.
                “Dan setia pada cemburu yang kamu tutup tutupi?!” sindirnya tajam “Kamu sama saja bunuh diri dengan bom waktu ditangan Nis!”
                Mungkin benar, cemburu adalah magma yang selalu siap bererupsi kapan saja, terlebih jika terpendam begitu lama. Terpendam bersama bahana tawa saat ia bercerita gadisnya. Terajut oleh manisnya kisah dia dan gadisnya diberanda sosial media. Sebuah cemburu yang membuat tuli dan buta. Tuli pada hati yang sejatinya menjerit ingin memiliki. Dan buta untuk tahu ada hati yang selalu menemani sedekat nadi. Nara, andai kamu paham betapa tidak menyenangkannya keadaan ini. Aku pun ingin mampu mencintaimu, seperti aku mencintainya. Sayangnya, hanya maaf yang mampu ku cerna untuk menjawab semua tanya. Maaf untuk tangan yang bertepuk tanpa bunyi, sebab hanya satu yang terangkat. Menepuk udara hingga terluka.
    ^O^
    Sama dek Nisa juga dimuat di blognya :D

    disini.... ^_^ Happy Reading :) Thanks a lot Dear ^_^


  2. Lets Play Together!

    Tuesday, 4 March 2014

    Bismillaahirrahmaanirrahiim :)


    Kamis, 27 Februari 2014

                Lets Play Together! :D
                Just share your memoreable play event on your childhood, please! :”)
               
    Lumayan berfikir keras untuk menyeleksi permainan paling berkesan, mengingat semua permainan yang saya lakukan diwaktu kecil masih mengendap segar di memori. Terlalu sayang untuk terlupa. Dan setelah melalui seleksi yang cukup panjang juga menyita banyak waktu, terpilihlah “Petak Umpet” menjadi pemenangnya. Permainan sederhana penyumbang bahagia yang akan saya ceritakan.
                Diawali dengan pembuatan sebuah lingkar cukup besar, lalu dengan jarak kira kira satu hingga tiga meter untuk dibuatkan garis seratus delapan puluh derajat (garis lurus), juga susunan pecahan getheng di tengah garis lingkar. Kemudian satu persatu pemain melemparkan gachoan.nya, kalau jaman saya itu terbuat dari pecahan gentheng (kalau semakin pipih dan agak cembung bisa tepat sasaran mendaratnya). Dalam proses pelemparan gacho tersebut, usahakan agar gachoan kita itu tidak keluar dari garis lingkar yang telah dibuat. Pemain dengan gacho (di luar lingkar) dan terjauh atau terdekat (di dalam lingkar) dari garis lingkar akan diamahi untuk menjaga agar susunan pecahan gentheng itu tetap tersusun di singgasananya serta mencari rekan rekannya yang telah melesat mencari tempat persembunyian. Yups, pemain tersebut resmi menjadi sosok penjaga sekaligus pencari, menjaga menara pecahan gentheng dari serangan musuh musuh tak terduga, dan mencari para musuh yang masih bersembunyi. Haha harus memiliki strategi jitu disini. Jika menara tersebut roboh oleh pemain yang bersembunyi tanpa sepengetahuan si pemain jaga, tetaplah pemain jaga bertugas menyusun, menjaga, dan mencari kembali pemain lainnya, namun jika pemain yang jaga berhasil menjaga berdirinya menara hingga semua pemain yang bersembunyi tertemukan, maka permainan diulang kembali seperti yang saya tuturkan di awal.
                Petak Umpet dengan bahasa kerennya di tempat saya (Ambal, Kebumen) Umpet – umpetan, di Solo delikan, di Gombong Kebumen dul dulan, di Cilacap galipo, bukan semata tawa bahagia saat berkumpul bersama rekan sebaya, bukan semata sebab menang kalah, bukan semata pula tentang gachoan tepat ndarat, tapi melalui petak umpet ini, saya menemukan sebuah room X. :D Sebuah ruang imaji yang mengantarkan saya pada dunia dibalik cermin, melihat sosok rekan rekan sebaya tanpa mereka melihat saya, lalu saya akan muncul ketika mereka telah menyerah menanti saya diketemukan. :D Tempat rahasia inilah yang membuat petak umpet menjadi begitu mengesankan bagi saya. tidak serahasia agen FBI sih sebenarnya, sebab kulit saya yang kelam mendukung dimanapun saya bersembunyi. Mayoritas kami bermain seusai ngaji di langgar atau kala bulan penuh, jikapun siang kami biasanya main di kebun dengan banyak pohon, jadi sisi gelap bayang benda itulah yang berpadu dengan gelap kulit saya sehingga menyulitkan rekan rekan menemukan saya. Dan perlu dicacat, begini begini saya pernah memiliki sejarah menjadi makhluk termini diantara teman teman saya (ya iyalah, mainnya aja sama mbak dan mas kompleks rumah) haha.
                Hari itu benar benar melesat ke era sembilan puluhan, membiarkan diri terhisap memori canda ala bocah sederhana namun bahagia tanpa gadget, tanpa remote control, tanpa tv kabel, bahkan tanpa balon aneka bentuk dan aneka warna. Kami (rekan rekan saya era 90an) telah cukup bahagia dengan sebuah kebun lapang dengan rindangnya tanaman sebagai markas besar jaringan tersembunyi (petak umpet). Lumpur lumpur liat basah perangsang motorik halus dan pewujud aneka bentuk hewan, kendaraan, hingga
    benda abstrak lainnya (main lumpur, rumah rumahan). Tangan tangan yang saling bertepuk dalam irama domikado atau miami (miami, domikado, tong tong bolong). Untaian karet yang saling bersambung dan menginstruksikan untuk melompat dalam hitungan hingga tiga puluh jenis lompatan (lompat tali, gudril). Garis garis persegi hingga setengah lingkaran yang menuntut kami melompat tanpa menginjak garis dengan tiket sebundar pecahan genteng (Engklek, sura manda, taplak gunung, gobak sodor). Susunan pecahan genteng yang terjatuh sebab gelindingan bola plastik bekas (ultrakol). Berpuluh batu batu kecil yang kami sebar kemudian kami ambil melalui proses melempar satu batu keudara dan mengambil batu lain diwaktu bersamaan dan siap menangkap batu yang diudara (gatheng, bekelan) atau sekedar melempar batu di area yang ditentukan lalu mengambil lagi tanpa menggerakkan batu yang lain (malingan). Tak ketinggalan membuat ragam menu spesial dari tanah, irisan daun mangkok, tali putri, juga ragam kembang taman lainnya dalam sebuah gubuk yang disebut rumah rumahan, berbagi peran menjadi sosok ayah, ibu, dan anak, dengan sebelumnya mengadakan moment manten mantenan. Juga cukup bahagia dengan potongan kertas dengan bentuk avatar manusia super imut dan cantik yang dilengkapi guntingan guntingan banyak baju baju ala nonya nyonya kaya, bungkus rokok dan pasta gigi sebagai dinding pembatas wilayah, bungkus korek api sebagai lemari pakaian, kursi kursi kertas buatan sendiri juga aneka perabot indah khayalan kami (mini minian, bongkar pasang). Kami telah cukup bahagia dengan semua itu. Sungguh!
                Benarkah?
                Tentu saja benar, kami benar benar bahagia. Meski kadang tangis sempat membuncah, kecewa sempat tersirat, marah kadang menyerang, namun kami tetap mampu mencerna semuanya dalam bungkus tawa, bahagia sebab kebersamaan cengkrama rekan sebaya. Bagi kami, bermain adalah tentang menikmati moment bersama banyak rekan, bercengkrama, atau sekedar berlarian mengejar anak angin. Paham benar tentang makna sebuah bahagia, menikmati moment, mensyukurinya penuh ceria.
                Lantas kemanakah ragam permainan penyumbang tawa itu? Punahkah bersamaan dengan hilangnya dinosaurus di peredaraan makhluk hidup? atau menguap sebab panasnya arus globalisasi yang dengan ramahnya mengajak anak memiliki dunia di genggamannya?
                Mereka, permainan permainan itu, tidak menghilang, tidak musnah, apalagi punah, mereka hanya sedang diam. Menunggu tersampaikan kembali, menuggu ditemukan kembali. Layaknya saya yang menunggu ditemukan pemain lainnya, mereka pun demikian. Menunggu ditemukan, untuk kemudian terangggap ‘ada’ kembali. Sebab nyatanya, meski arus globalisasi dan kemajuan IT kian deras, meski tanah tanah lapang kian berkurang, meski orang orang tua jarang mengajarkan, sejatinya anak anak tetap bermain. Anak anak tetap berkembang sesuai tahap perkembangannya, orang tua tetap menyediakan ragam fasilitas pendukung perkembangan anak, dari mainan hingga media pembelajaran. Sayangnya ragam mainan itu, banyaknya media pembelajaran itu, banyak tersedia di toko, mudah ditukar dengan lembaran lembaran rupiah atau dolar. Kemudahan yang lagi lagi melenakan.
                Tidak dipungkiri, softfile games games edukatif telah beredar di gadget gadget anak anak. Orang tua kian cerdas memilihkan mainan untuk anak mereka. Kognitif, psikomotorik, juga linguistik anak juga cukup berkembang dengan games games tersebut. Sayangnya, raga mereka tak lagi setangguh kita. Anak anak terlalu dilindungi oleh atap permainan maya, bermain air tapi tak basah, bermain api tapi tak panas, terpeleset tapi tak lecet, terjungkal tapi terpingkal. Dan saat kaki mereka menginjak lumpur, kuku menghitam kena tanah, terguyur hujan, berkeringat atau kepanasan bisa demam dua hari. Hmmm
                Petak umpet, gobak sodor, engklek, gatheng, gundu, gangsing, panggal, dakon, lompat tali, suro manda, layangan, dan seabrek permainan tradisi (era 90an) lainnya, sungguh tak semata mengajarkan tentang sportifitas, kerjasama, strategi, kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, dan ragam sifat positif lainnya, mereka juga mengajarkan bagaimana bermain dengan alam. Menyatu dengan atmosfer semesta tanpa embel embel harga uang. Ayolah, permainan permainan itu secara tidak langsung akan menuntun raga untuk beradaptasi dengan alam. Mengenal ragam resiko dan problem solving dengan lebih real (nyata).
                Jadi, tanpa menyalahkan siapapu atau apapun, saya hanya ingin mengajak bermain petak umpet :D Ayoo temukan permainan permainan masa kecil kalian. Di sudut sudut kerajaan kenangan kalian. Jika sudah ditemukan, ajak adik adik kecil itu mengenal mereka, salurkan kebahagiaan kita dulu pada mereka. Sejenak meletakkan flappybird, joystick, dan gadget lainnya. Men.sut down gadget sebentaaaar saja :D
     

  3. Bismillaahirrahmaanirrahiim :)


    Minggu, 02 Maret 2014
               
                #PrayForIndonesia begitu rekan rekan meramaikan jagad maya dalam rangka duka cita atas segala
    bencana, dan minggu, 23 Februari 2014 lalu rekan rekan pekerja seni se Solo menggalang aksi peduli bencana. Teater Peron pun tak kalah start. Bersama Wardhana Sandhi (as Director), mereka menyita pandang penghuni car free day Solo melalui sebuah teatrikal bertema Move On. *CMIIW :v
                Seperti melihat tatanan baju di etalase toko, seperti itulah saya melihat mereka sekarang. Rekan rekan mahasiswa pekerja teater yang nyaris tiga tahun membersamai proses adaptasi saya. meski saya tak membersamai proses mereka kali ini, saya percaya mereka telah brlatih cukup keras seperti proses produksi sebelum sebelumnya. Dan melalui kacamata tak lengkap saya, sebab saya tak mengikuti proses mereka sedari awal, saya mencoba menggambarkan apa yang saya lihat. Sekali lagi, correct me if I wrong *nglirik pak Sutradara*
    ^O^
                Ada beberapa titik tatap yang mereka pilih sepanjang CFD Slamet Riyadi, pertama sekelompok manusia (M Tri Atmojo, Ningsih, Lika, Openg, Fina, Putri) bermake up kucel penuh derita sebagai para korban bencana alam tepat di bawah kegagahan patung Jendral Slamet Riyadi. Kedua seorang berjas hitam dengan make up datar duduk tenang penuh fikir di depan Gramedia Pustaka. Juga seorang pemuda melukis erupsi sebuah gunung berapi di papan nonkanvas di depan Taman Sriwedari. Dari ketiga titik itu, entah siapa yang bergerak lebih dulu, yang jelas pada akhirnya mereka berjalan bersama. Orang orang itu, membawa kedukaan mendalam, menghampiri sang Tuan Berjas Hitam yang telah bersama seorang petani, hingga kini mereka menuju pemuda penuh semangat dengan ragam warna tinta. Ditangan merakapun tak lagi hanya sekedar duka, nyata mereka masih memiliki semangkuk tinta yang juga berwarna suka.
                Sang pemuda yang telah selesai dengan lukisan erupsi (lukisan pertama), kini melengkapi sisi lain dari papan nonkanvasnya (lukisan kedua). Menggambarkan hal serupa, ya peristiwa duku yang merengut banyak air mata. Mereka yang menghampirinya lantas menatap lukisannya yang telah sempurna (lukisan pertama). Menatapnya bersama gelimangan kenang tentang kehilangan sanak saudara, tetangga, harta, atau tanaman mereka yang nyaris petik panen, semua kehilangan yang membuat hati terasa ngilu. Benarkah alam marah pada mereka? Benarkah semesta sedang mengutuk mereka? Kenapaa? Mungkin demikian teriak mereka dalam tatapnya.
                Pemuda itu selesai dengan lukisan kedua, meletakkan beberapa tinta warna, lantas membuka pintu (papan lukisannya dibuat seperti pintu kemana saja.nya Doraemon). Terkaget melihat sosok sosok di balik pintu. Mereka dengan mata mengandung duka, berdiri dalam kelumpuhan harap. Tak lama dalam keterkejutannya, sang Pemuda lantas melukiskan sebuah benda ajaib di atas lukisan erupsi gunung berapi (lukisan pertama). Enam buah persegi yang simetris di kiri kanan membelah papan, kemudian bersama hangatnya rengkuhan tangan mengajak mereka untuk turut menorehkan tinta di papan. Satu persatu merekapun melangkah, menghampiri lukisan enam persegi. Melukis enam kotak persegi penuh dan sebuah lubang untuk anak kunci. Dan ketika mereka usai, Pemuda menegaskan ajakannya dalam dua kata tintanya ‘MOVE ON’. Teriring tepukan di bahu setiap orang, ia meyakinkan mereka, bahwa mereka tak pernah sendiri, bahwa selama mereka memiliki harap dan percaya, mereka akan mampu melewati segala hadangan rintang. Pelan tapi pasti, bibir bibir datar itu kini tak lagi seratus delapan puluh derajat. Ada sebuah garis lengkung yang melurukan banyak hal. Meluruskan kebersamaan sebuah bangsa untuk saling menjaga, meluruskan segala duka menjadi suka cita, meluruskan sebuah percaya akan janji.Nya menyertakan kemudahan sesudah kesulitan. Dan tentu saja menumbuhkan sebuah harap untuk esok lebih baik. Bersama langkah kebersamaan, kaki mereka melangkah pasti, menjejakkan masa silam yang kelam sebagai tanah pembelajaran, sebagai masa peringatan sopan dari.Nya, sebagai bukti Tuhan masih memberi kesempatan untuk sedikit memperbaiki. Pemuda itu, dengan hati yang masih dipenuhi bara empat lima, menuntun mereka. Mempersilahkan mereka ber’dada ria’ pada rupa bencana, menatap bencana sebagai anugerah terselubung, menatap duka sebagai pengurangan dosa. Ya, badai pasti berlalu :D
    ^O^
                Teriring banyak tepuk, saya percaya mereka berhasil menyajikan proses mereka selama car free day :”) Azarine (adik les saya) terpesona dan membanjiri saya dengan ragam tanya tentang mereka (meski lebih banyak keinginannya untuk berpartisipasi sebagai seorang yang duduk di kursi roda :3). Dan minggu itu, atmosfer kepedulian terbingkai indah dalam figura seni penuh ornamen tenggang rasa. Ada beberapa rekan Pekerja Seni yang melakukan hal serupa, hanya saja dititik yang berbeda, ada pula yang membuat arakan sejalan Slamet Riyadi, memilih satu spot dan stay disana, dan ragam aksi lainnya.
                Apapun aksi mereka, Slamet Riyadi telah tergelar atmosfer seni. Dan berapapun dana yang terkumpul tak akan pernah mewakili keikhlasan mereka untuk saling berbagi, kepedulian juga simpati yang mengalir sepanjang denyutan nadi. :”) Lets move on together :”) make a better future ^_^

    Foto by Ian Tri Hananto

  4. Marry Your Daughter

    Saturday, 1 March 2014

    Bismillaahirrahmaanirrahiim :)


    Sir, I'm a bit nervous
    Tuan, aku agak grogi
    'Bout being here today
    Berada di sini hari ini
    Still not real sure what I'm going to say
    Masih tak yakin apa yang akan kuucapkan
    So bare with me please
    Maka bersabarlah
    If I take up too much of your time
    Jika nanti aku menghabiskan terlalu banyak waktu Anda
    See in this box is a ring for your oldest
    Lihatlah, di kotak ini ada sebuah cincin untuk putri tertua Anda
    She's my everything and all that I know is
    Dia segalanya bagiku dan yang kutahu
    It would be such a relief if I knew that we were on the same side
    Aku akan sangat lega jika tahu bahwa kami punya pandangan sama
    Very soon I'm hoping that I...
    Sebentar lagi aku berharap aku....

    CHORUS
    Can marry your daughter
    Bisa menikahi putri Anda
    And make her my wife
    Dan jadikan dia istriku
    I want her to be the only girl that I love for the rest of my life
    Kuingin dia menjadi satu-satunya gadis yang kucinta selama sisa hidupku
    And give her the best of me 'till the day that I die, yeah
    Dan memberinya yang terbaik dari hingga saat aku mati
    I'm gonna marry your princess
    Aku akan menikahi putri Anda
    And make her my queen
    Dan jadikan dia ratuku
    She'll be the most beautiful bride that I've ever seen
    Dia akan menjadi pengantin paling cantik yang pernah kulihat
    Can't wait to smile
    Tak sabar tersenyum
    When she walks down the isle
    Saat dia susuri lorong
    On the arm of her father
    Dan menggandeng ayahnya
    On the day that I marry your daughter
    Di hari aku menikahi putri Anda

    She's been hearing for steps
    Dia tlah mendengar langkah-langkah
    Since the day that we met
    Sejak hari kami bertemu
    (I'm scared to death to think of what would happen if she ever left)
    (Aku takut sekali berpikir apa yang akan terjadi jika dia pergi)
    So don't you ever worry about me ever treating her bad
    Maka jangan kuatir aku akan tak baik memperlakukannya
    I've got most of my vows done so far
    Selama ini aku selalu penuhi janji
    (So bring on the better or worse)
    (Maka bawalah pada bagian lebih baik atau buruk)
    And tell death do us part
    Dan katakan kematian memisahkan kita
    There's no doubt in my mind
    Tak ada keraguan dalam benakku
    It's time
    Inilah saatnya
    I'm ready to start
    Aku siap memulai
    I swear to you with all of my heart...
    Aku bersumpah pada Anda dengan sepenuh hatiku...

    CHORUS

    The first time I saw her
    Pertama kali kulihat dia
    I swear I knew that I say I do
    Aku bersumpah aku tahu bahwa aku kan bilang bersedia


    By Bryan McKnight_Marry Your Daughter
    ^O^

                Tanpa perlu erupsi dari sebuah gunung berapi, ada sebuah gempa di Jalan Slamet Riyadi  336. Rumah dengan pagar kayu penuh bunga sepatu yang sedang mekar, juga dua pot bunga mawar merah di dekat pintu masuk. Tenanglah, ini bukan sejenis gempa Gunung Kelud, ini hanya sebuah gempa lokal. Peristiwa yang terjadi hanya sebab grogi berlebihan. Grogi yang terlahir sebab sebuah tatap elang dari laki laki berkumis tebal lima langkah di depan saya. Ah ya, perkenalkan dia adalah Ayah dari calon ibu dari anak anak saya.
                Jarum pendek di lengan kiri saya telah berpindah lima kali semenjak pertama saya disini, jarum detikpun telah beredar lebih dari ratusan kali. Lima jam dan saya masih membincangkan ketertarikan saya pada kebun depan rumah maha karyanya, tanpa menyinggung sedikitpun ketertarikan saya pada putri sulung di rumah ini. Bodohnnya! Dan saya baru sadar, betapa grogi dapat menyumbat segala keteraturan yang terencana sebelumnya. Datang, berbincang, menawarkan transaksi dunia akhirat pada sebuah akad walimah, dan memboyong seorang gadis dengan makhkota keindahan seorang muslimah.
                Baiklah, ini adalah tahap paling menyebalkan. Grogi akut yang menyebabkan perut mengeluh tak tepat. Jantung tiba tiba beranak pinak, salah satunya jatuh ke lambung. Dan dimana hujan? Kenapa ada tetes air dari kening saya?!?
                Tapi tunggu!
                “Ayah, makan siangnya sudah siap!” begitu katanya, lalu segera menghilang di balik tirai pemisah ruang.
                Lima kata yang membius. Menyerap seluruh keraguan menjadi benteng kokoh keyakinan. Dan kami pun duduk mengotak, mengitari meja dengan sajian menu menggoda selera. Sebakul nasi putih yang masih lengkap dengan kepulan asap, semangkuk besar sup dengan aroma kaldu menyengat hidung, lezat. Disertai beberapa potong tahu tempe, sumber protein nabati yang nampak ingin segera dilahap. Dan disana, di dekat piring kecil sambal krosek, ada piring terisi sarden jawa. Ikan ikan yang berenang pasrah dalam balutan saos sarden jawa. Dan saya, duduk diantara insan insan tersayang, mereka yang akan ku segera ku mintai restu membawa putri pemilik senyum sejuk itu. Arah jam dua, seorang gadis berjilbab biru yang masih setia, menunduk, meredam senyum yang tak pandai ia sembunyikan.
                Ritual makan siang yang mengantarkan saya pada klimaks keberanian seorang laki  laki memperjuangkan gadisnya, gadis yang diam diam selalu disertakan dalam rapal doanya. Pernyataan cinta untuk pertama kalinya, mencintainya sebab Allah semata, dan hendak mengunduh restu membina yang orang sebut rumah tangga. Membangun pondasi bersama dalam susunan batu bata penuh cinta berlandas Allah Ta’ala. Tak ada kalimat panjang lebar, bahkan sepenggal ‘ya’pun tak terucap, namun sebuah tepuk di pundak kanan saya dan sebuah angguk kecil teriring segaris senyum lima centi, cukup mewakili semua kalimat yang ingin saya dengar. Pucuk dicinta ulampun tiba.
                Ada hangat mengalir di dua pelipis saya, pecahan dari dzikir yang sedari tadi mengendap di batin. Ya Rabbi, terima kasih :”) syukurku berkali kali. Seusai berpamitan, langkah saya kian tegap, percaya itu telah berhasil saya tangguhkan. Bukan saatnya menyerahkan hal hal genting pada grogi atau ketakutan esok, tak ada waktu untuk grogi dan menyalahi tingkah tak penting, masih banyak yang harus saya siapkan. Satu bulan kedepan adalah tentang proses membuat kencana  itu melenggang lancar, menjemput seorang putri yang masih setia dalam penantian, menjaga hijabnya hingga saya datang.
    ^O^
                H – 7, sanak saudara dan banyak saudara telah datang bertandang. Mengaminkan banyak doa untuk pilihan saya. Menjawab ragam tanya tentang dia yang namanya telah terukir di halaman depan ratusan lembar undang. Mengenang banyak moment dari sebuah jumpa pertama, debar pertama, hingga malam menyatakan cinta dua puluh satu hari lalu. Membisiki Tuhan dengan ragam harap dan semoga yang kian meningkat seiring mendekatnya hari itu tiba.
                Dua hingga empat rekaat sesudah atau sebelum sang fardhu, dua hingga tiga rekaat diantara mata yang terlelap, dua hingga tiga rekaat yang menunda kepulangan malaikat langit beberapa menit, sepertiga malam terakhir yang diaminkan dalam dalam. Juga lantunan asma.Nya yang tak henti menyalurkan tenang seketika. Semoga Engkau memudahkan kami untuk saling melengkapi separuh agama, membimbing satu sama lain untuk menuju satu jalan membuka Jannah.Mu dalam kebersamaan yang halal. Aaamiiin.
    ^O^
                Bismillah...
                “Saya terima . . . . . .”
                Hingga hari ini baru saya tahu, bahwa sebuah bahagiapun dapat melumpuhkan beberapa indra untuk berfungsi sesuai guna. Meski lisan lancar mengucap, mata mantap menatap, tangan tanpa salah bertingkah, telinga menjadi tuli, tertutupi kebahagiaan limpahan rahmat.Nya.
                Dia dengan balutan hijab putih pemancar kesucian hati serta kejernihan setianya, senyum yang murni dari hati, melangkah malu malu dalam tuntunan imamnya yang akan pensiun muda memimpinnya. Masa kepemimpinan sang Ayah yang akan tergantikan oleh seorang pemuda biasa yang jatuh cinta pada debar pertama mengenal gadis sederhana itu. Dituntun oleh sepasang tangan renta yang telah sukses membesarkan gadis jelita penuh disampingnya, mereka berjalan menghampiri saya yang dilanda bahagia. Hari ini, sematan lingkar emas di jari manis juga sebuah kalimat walimah meresmikan saya dan dia dalam atap rumah tangga. Menjadi imamnya, menjaga serta membimbingnya agar tetap dalam koridor takwa. :”)
                “Ayah, dengar dan saksikanlah saya menjadi imamnya. Meneruskan darah juangmu menjadi pemimpin bagi kejelitaan iman pada.Nya, membersamainya melengkapi separuh dien. Dan sungguh, engkau tidak perlu khawatir atas keselamatannya. Doa dan restumu telah cukup membekaliku untuk senantiasa menjaganya, menyediakan pundak dan kelapangan hati jika ia hendak berkeluh kesah. Ayah, terima kasih telah menjaga dan mencintainya, terima kasih atas keikhlasanmu menerima saya menjadi pendamping hidupnya. Sir, You have an amazing princess. And I will make her to be the only girl that I love for the rest of my life.”