Rss Feed
  1. PPL Ceria ^_^

    Friday, 13 March 2015

    Bismillaahirrahmaanirrahiim :)


    Sabtu, 29 September 2014

    PPL Ceria


                Sudah lebih dua puluh sembilan hari setelah tanggal pertama sebagai aksi penyerahan Mahasiswa PPL dari Fakultas Keguruan universitas tempat saya belajar. Dua puluh sembilan hari yang memroses saya dan kamu dalam ruang ceria.
    ^O^
                Pertemuan itu...
                Diamanahi untuk belajar di sebuah taman pendidikan anak-anak berlabel Permata Hati, berjarak sepuluh menit perjalanan dari asrama kampus dengan menggunakan motor, berangkat pukul tujuh pagi lima hari dalam seminggu dan jam pulang setelah makan siang (14.00 WIB) serta lingkungan kerja yang masuk kategori nyaman. Bismillah, tiga bulan ke depan adalah pengalaman yang menyenangkan.
                Diawali aksi mengobservasi ragam pernak-pernik taman pendidikan, tata tertib, sistem pembelajaran, kurikulum yang diterapkan, juga warga pendukung pendidikan, semua dilahap dalam waktu satu minggu. Dan dari serangkaian hasil observasi, menemuimu adalah tahap tak terlupakan.
                Ada lima kelas peramu ilmu. Dua kelas untuk kelompok A (Kelas A1 dan Kelas A2), dua kelas untuk kelompok B (Kelas B1 dan Kelas B2) serta satu kelas untuk Kelompok Bermain (KB1/ Play Group). A1 yang memuat kamu dan Rara, Fida, Ghefa, Ochi, Kal El, Arum, Fafa, Ayun, Anin, Dika, Galih, Zahra, serta Hasna sebagai siswa, A2 yang tak terjamah kaum PPL namun ada Ilham, Rafif. Aila, Aira, Fira, Dira,Fahma, Iffah, Rayhan, Azka, Arka, Keisha dan Sika. B1 dengan Aleeta dan Fahreza serta Ataya dan Qoim yang selalu ingin dekat saya, Dirgan yang mengikuti tingkah Aleeta, Opal, Royan, Evan, Kenzie, Rasyad, Dika, Aathif, Aurel, Yaya, Nabil, Naoura, Zana, juga Faiza di dalamnya. Lantas B2 dengan sinar bintang dari seorang Alma, serta kesuyian dari Fadli juga aksi ramai dari pasukan Dina, Nayla, Kayla, Ceyda, Fafa, Zaid, Zacky, Ozi, Arka, Yuda, Adit, Rafi, Ahnaf, Bita, Fitra, juga Faiq. Kebersamaan yang membuat saya mampu mengeja satu persatu pemilik wajah superlugu itu. Dan kamu ada satu diantara mereka. Lucu dan Imut.
                Kelas terbimbing telah berjalan seminggu, namun para ustadzah itu sejatinya telah membimbing sejak pertama kaki menjejak Permata Hati. Bu Rini dan bu Yani yang siap melayani kaitannya dengan administrasi juga birokrasi, Bu Uun dan Bu Midah tentang teknis kePPLan, Bu Risma, Bu Isna, Bu Ana, Bu Syam, Bu Surya, juga Bu Septi yang tak sungkan membagi tips mengelola kelas juga lagu-lagu penarik fokus anak. Tak ketinggalan bu Dyah dan Bu Dwi yang menghangatkan atmosfer proses pembelajaran ini. Tak lupa rekan guru dari SD IT Insan Mulia yang seatap merajai pendidikan dasarnya. Lingkungan nyaman untuk mengisi halaman pertama tabularasa.
    ^O^
                 Benar! Saya menyukaimu sejak pandang kedua. Pada jam renang, ketika kamu memilih diam diantara riang semua rekan menikmati riak buatan kolam Kora-Kora itu. Diam dan mengamati kehisterisan Fahreza berjalan dituntun bu Syam di tengah kolam. Keasyikan Rara, Arum dan Fafa di kolam dangkal. Juga aksi mengendap-endapnya Dika, Aleeta, Dirgan, Opal memasuki prosotan. Lantas mengamati saya yang sibuk membantu Bu Septi memandikan, memakaikan baju rekan-rekanmu.
                Tatap tajammu selalu mengena, Sayang. :D Membuat saya menghampirimu dan menerima ajakanmu untuk mengantarmu ke mobil yang membawamu kemari tadi, ya kelas renang usai, kisah kita dimulai.
    ^O^
                Di usiamu yang masih 3,5 tahun, terlalu dini untuk masuk taman pendidikan, tapi berkat itu kita bertemu bukan? ^^ Saya percaya, satu sekolah memiliki jawaban sama tentang pemilik wajah terimut dan termenggemaskan :D iya kamu Rizaaaaaaaaal :D si Pipi Bakpao bermata lebar tapi meyipit diujungnya. Mata yang diam-diam menatap sok tak peduli namun jika ditinggal pergi malah menghampiri, mengajak bermain dan berlarian di teras sekolah. :D Mana ada yang bisa nolak. :D Tentu saja sikap pantang menolak yang teriring ingatan bahwa kamu adalah bocah 3,5 tahun yang jarang bermain sebegitu antusiasnya. Lebih sering mengamati dibanding terlibat langsung. Lebih sering mengobservasi daripada menggabungkan diri.
    Guru Lukis Yang Payah! (Setiap Jumat Pagi di Kelompok A)
                Tertawalah! Silahkan. Saya tidak akan sakit hati ketika kamu menertawakan apa yang kita gambar jumat lalu di kelas lukis. Pembelajaran tanpa persiapan yang benar-benar membuat saya belajar. Menjadi seorang Guru Lukis untuk kelompok A.
                Jujur! Saya tidak pandai dalam hal grafis atau lukis, dan menggambar terkadang adalah pilihan terakhir kegiatan yang ingin saya tekuni. Mewarnai saja sering kacau hahaha tapi saya diwajibkan mencoba. Maaf membuatmu menjadi bahan percobaan :D
                Lagi-lagi bukan soal keberhasilan, namun bagaimana mengajakmu untuk mau dan berani melakukan suatu hal hmmm melalui banyak bujuk rayu tentunya. Tapi jujur, masuk pertama saya terpesona oleh kesungguhan Sika menggambar. Haha dengan gambar contoh yang agak absurb hingga menimbulkan perdebatan antar guru. Tas atau gelas. :v Teman – teman mungil berhasil meniru gambar saya. setidaknya berbentuk sama :”) *agakmenghiburdiri*
                Tak berhenti pada menarik ragam garis sampai membentuk satu gambar, ada sesi mewarna untuk anak. Selembar kertas berisi gambar yang telah dikopi sebanyak anak, lantas mengajak kamu dan semua rekan mewarna sesuai urutan. Dari ukuran yang diwarna, posisi dalam prioritas fokus gambar, juga gradasi warna. Jelas, bu Uun memiliki gudang pemakluman yang cukup lebar pada ruang belajar saya di kelas lukisnya. *suwun Bu :*
              Manisnya Roti Lapis. (Kamis, 18 September 2014)
              Bersama kamis pagi yang selalu manis, kamu dan semua rekan menghambur dipelataran sekolah. Mewarnai teras dengan orange cerah. Kursi dan meja mungil sesak oleh banyak raga. Jelas menghambur menjadi satu. Membawa misi sama dengan selai beda rasa. :D Ayooo membuat roti lapis. ^_^ Sandwich ala Permata Hati ^_^
                Itu adalah cinta, Nak! (Senin, 7 Oktober 2014)   
                Tangan mungil itu menggenggamku lebih erat. Bibirnya mengerut sebab takut. Segera ku bopong ia, sebelum sebuah tangis pecah di hari penuh abdi cinta ini. 10 Dzulhijah adalah bukti cinta banyak hamba kepada Illah.nya. Pun sama, atap Permata Hati sudah ramai sedari pagi. Kambing-kambing itu siap menjemput ajal dalam bismillah sembelihan.
                “Ndak papa kok Yasmin. Cuma agak takut tadi Bu.” Jelasku pada Bu Evi saat melihat Yasmin meringkuk dalam peluk saya.
                Lisan ini lirih membisik. Maafkan kami nak, sebab pandang dinimu yang terhias darah penyembelihan. Kesakitan dari binatang muda ciptaan.Nya. Seolah kami adalah tersangka penuh tega mengambil nyawa dari binatang tak berdaya. Percayalah Nak, itu bukan pengorbanan sia-sia. Dalam kepasrahan para binatang itu, meski sesekali terdengar erangan sakit, di sanalah cinta itu ada. Nyata mengudara dengan banyak doa. Nyata terbukti dalam rela mengabdi. Nafas itu berasal dari Lillah dan biarlah kembali hanya sebab dan kepada.Nya pula. Sekali lagi, itu bukan pengorbanan Nak. Itu adalah pengabdian. Sebab dalam cinta tak ada pengorbanan. :”) Batinku gerimis seusai bisik itu reda. Mengerti atau tidak, akan ada masanya Allah membuatmu mengerti akan makna cinta itu sendiri.  
    Diingatkan pada siklus Utang, Zakat, Kebutuhan!
    (Kamis, 16 Oktober 2014)
                Goro Assalam diserbu kerumunan bocah berbaju orange. Menyerang rak-rak makanan dengan riuhnya. Yups, menyelaraskan putaran tema agar anak tak sekedar mendengar cerita, kali ini anak diajak untuk berbelanja kebutuhannya. Ya masih kebutuhan sampingan sih, tapi bukan itu pointnya. Anak diajak untuk berbelanja jajan (kebutuhan anak saat itu) dengan alokasi dana yang telah ditetapkan. Menyeleksi ragam jajan yang ingin dia beli dengan sadar diri. Haha cukup tersenyum lucu melihat Ayun dan Arum bingung memilih snack yang mana. Atau cukup dibuat bingung oleh Galih yang tak kunjung mengambil makanan sebab banyaknya larangan dari sang bunda. Atau Rayhan dan Ilham yang sibuk memasukkan banyak macam makanan tanpa pandang harga haha Lucu. :D
                Lantas dari sekian banyak tingkah anak-anak itu, fikirku mengudara pada siklus keuangan keluarga. Arus utang, zakat, dan kebutuhan yang harus benar-benar dijalankan dengan konsisten. Harus tahan godaan untuk membeli sesuai kebutuhan :D Ya mengingat saya gampang tergoda oleh bonusan. Misal, saya tidak terlalu butuh sambal terasi tapi akan membeli sambel terasi yang berbonus mangkok cantik :D. Tidak terlalu butuh pelembab rambut tapi akan beli ketika berbonus pita cantik. :v Juga label harga yang sering kali miring, hmm alibinya sih ah siapa tahu kelak saya akan membutuhkannya. :D Tahan godaan Ris! :v
    Merawat Takwa Bersama, (Jumat, 24 Oktober 2014)
                Tidak ada kembang api yang  menghias langit malam, tidak seramai 1 januari setiap ganti kalender tapi malam permata hati ramai di hari pertama hijriyah berhijrah masa. Merayakan tahun baru islam dengan malam bina iman dan takwa. Mengisi sore dengan cerita hikmah para nabi, shalat berjamaah lanjut muroja’ah, juga tentang full day untuk semua kelompok B. Benar- benar full day at school. Pagi hingga siang pembelajaran seperti biasa, lalu sore pukul tiga kembali ke sekolah dengan amunisi menginap masing-masing. Malam terisi tawa dan canda permainan sederhana tanpa pandang kelompok kelas. Menyatu dan berbaur menjadi satu.
                Pagi menawarkan cerita baru tentang menginap bersama teman di sekolah. :D Semangat Pagi di Hari Pertama Hijriyah ^_^
    Sumpah Pemuda (Senin, 28 Oktober 2014)
                Kemungkinan mereka belum mengerti kegiatan apa ini, berbaris rapat dengan kakak SD, memberi hormat, menyanyikan lagu, juga pengibaran sang merah putih, jelas kemungkinan itu terbuka lebar. Tak apa, upacara hari sumpah pemuda toh masih pada tahap perkenalan ^_^
                Ayo baris teman-teman ^_^ Menyapa kembali tiga ikrar pemuda bangsa di masa lalu dengan semangat yang terwariskan hingga masa kini.
                “Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia.
                Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu, tumpah darah Indonesia.
                Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku berbahasa satu, bahasa persatuan, bahasa Indonesia.”
    Unjuk Gigi (Kamis, 30 Oktober 2014)
                “Mana gigimu?”
                “Ini gigiku...Hiiiiih” Seru anak-anak kompak. Meringiskan gigi, memamerkan gigi gigisnya. :D
                Ditemani Ibu – Ibu dokter dari Puskesmas Purwosari, anak-anak diajak menggosok gigi dengan benar. Dengan Dina dan Dzacky memberi contoh di depan masa lantas dilanjutkan pembagian seperangkat alat membersihkan gigi kepada setiap anak. Ayoo senyum gigi sehat ^_^
    UJIAN Haha (Senin-Selasa, 2-3 November 2014)
                Huuuuuuuuuuuuuuuuuuuuaaah! Berbekal daya yang masih ada. haha tragedi 1 november di Kaki Lawu jelas cukup menguras tenaga. Terlebih dengan riuhnya deadline naskah, ujian pembuatan RKH saya lalui dengann penuh syukur. Bersyukur masih mampu melewati :v
                Jujur, jika niat membandingkan dengan rencana kegiatan teman-teman tentu dengan mudah saya berputus asa. Mereka kereeeeeeeeeeen! Kreatif men! Saya? Haha terlampau sederhana. Dan setelah tereksekusi, berharap anak-anak tidak terbunuh bosan dalam kelas saya. Mengingat ini adalah ujian, sepertinya saya tidak boleh terlalu banyak bermain dengan anak-anak. Pun mengingat betapa tidak sukanya saya dengan formalitas, kali ini saya hanya berusaha profesional sebagai seorang mahasiswi magang :D ada prosedur yang memang harus saya jalani dengan senang hati. Lalalalalalalala.
                Dimulai dengan kelas pengamatan dan terbimbing yang kerap membuat saya terkantuk. Baiklah terlepas dari aktivitas malam saya (entah latihan atau mengerjakan deadline -_-) menonton tanpa terlibat selalu mampu menidurkan saya. Untungnya kelas terbimbing berlangsung tidak lama. Dalam kelas yang tidak lama itu ada lumayan banyak bekal untuk langkah selanjutnya. Tentang aktivitas motorik, pembiasaan, hafalan, juga sistematika rkh yang benar :v. Dan masa hafalan adalah sesi paling mengharukan, bagi saya, teman-teman kecil saya itu. Anak-anak itu adalah pemilik keberuntungan yang tidak dapat ditukar dengan apapun. Lahir dan dibesarkan dalam sebuah atap keislaman sejak dini. ^_^ setidaknya tidak perlu meminjam Tuhannya teman dulu. :”)
                Kelas berlanjut pada proses mandiri mengelola kelas. Well, jujur saja. Pengelolaan saya cukup buruk :3 Anak-anak kerap uncontrol bersama saya. Maunya main tanpa aturan mulu. :D Ya bahagia sih, tapi kan proses pembelajarannya jadi ndak terarah. Dan kalau sudah demikian? Guru kelas akan membantu saya. (Terima kasih Bu :* Peluk Cium deh). Melalui tepuk atau lagu, mengajak anak untuk berfokus pada saya sebagai pusat gravitasi. Gag boleh gagas hal lain selain saya. Hahaha senangnya diperhatikan penuh rela oleh mata-mata malaikat kecil.
                Ujian Praktek mengajar adalah puncak dari proses magang. Hmmm jujur, jika di kelas kuliah, remidi adalah tentang pengulangan ujian, kalau boleh, saya remidi saja. Biar saya memiliki waktu lebih bersama anak-anak. :”(  Ujian dimulai, aroma perpisahan mengudara. Sungguh, saya belum siap move on dari anak-anak. :”( Agak lancang ketika saya berharap menjadi pengajar di sana. Bagaimana tidak? Teman-teman saya jelas lebih berkompeten dibanding saya,  hla wong saya taunya Cuma main sama anak :”( taunya gimana biar mereka mau nyoba mengerjakan, taunya Cuma lagu itu itu aja, bahkan sering minta ajarin nyanyi sama anak-anak. :”( Huwaaaa tapi perasaan enggan berpisah itu malah kian kuat. :”( Ya Rabb, semoga kesempatan bermain bersama mereka itu masih ada. :”) Aamiin.
    Kandang Binatang (Kamis, 13 November 2014)
                Prakarya terakhir bersama Bu Guru PPL. Menabahkan hati untuk tidak jatuh sayang terlalu dalam kepada sebocah Syamil dan Faizah. Keakraban yang hadir di masa nyaris perpisahan. Syamil yang baru masuk namun mau menerima saya sebagai teman lelarian mengejar Hafidz, lantas menunggui saya selesai shalat dan tidur dipangkuan saya (ada bahagia tersendiri melihat seorang bocah tidur dipelukan, :”) ) atau Faiza yang mulai mau bersuara dalam nyanyian, haha masih belum terlalu jelas sih tapi senang bisa melihatnya menggerakan bibir seakan hendak mengikuti saya bernyanyi. Juga lengan mungilnya yang mengikuti gerakan lagu “bermain layang-layang”. Dan kamu yang sekarang lebih sering bermain dengan teman-temanmu tapi sesekali masih berlari memeluk saya dari belakang sambil berteriak “Bu Guruku” ^_^ Suku Kata “Ku” yang ammm menyenangkan. Haha
                Dan kamis ini, resmi menemani A2 membuat kandang ayam. Menemani Sika, Ifah, Rafif dan Ilham Arjuna, empat ayam itu berhasil dibuatkan rumah. :D Proses penantian merekatkan lem yang cukup menguras sabar.

    Perpisahan
              Hukum semesta tentang pertemuan yang bersanding dengan perpisahan itu nyata ada dan valid terbukti. Ketika kamu tersapa temu, kamupun harus siap terjamah pisah. Pertemuan awal september telah mencapai ujungnya di november. Dan harusnya saya cukup tahu diri untuk tidak terlalu jatuh hati di Permata Hati, setidaknya harus mengatur sedalam apa rasa itu boleh ada untuk hubungan yang berlangsung selama tiga bulan. :”(
                Dada ini sudah menyesak sejak langkah pertama pemberangkatan ke sekolah. Tanpa mengindahkan dan menggagas berapun nilai di kertas putih kelak (beberapa rekan sudah sibuk bertanya tentang nilainya =,=), sungguh saya tidak peduli. Ayolah, memangnya dengan nilai A kenangan selama tiga bulan itu akan benar-benar terwakili? Dengan nilai B kenangan selama tiga bulan itu akan benar-benar terjaga? Atau malah kandas seketika? Intinya nilai itu tidak ada apa-apanya dibanding dengan apa yang terjalin selama tiga bulan. Canda tawa bersama anak-anak, kelas orang tua bersama curhatan para bunda tentang biduk rumah tangga hingga kebijakan negara, ilmu-ilmu guna pengkaderan sejak dini untuk generasi rabbani, kesabaran yang melebar dalam rengkuh peluk hangat nan bersahabat rekan rekan seatap, arrrgggghhh semuanya itu bagaimana saya harus berpindah dan menyatakan pisah tanpa air mata? :”(
                Belum apa-apa saya malah sudah rindu duluan :”( Lantas dalam riuhnya kabar rindu, maka saya titipkan banyak harap untuk rekan mungil yang mengajari saya banyak hal mengenai kesabaran. :”) Semoga langkah kalian kian lurus dalam membawa amanah manusia bertakwa. Semoga cita kalian kian mendekatkan pada Allah Ta’Ala. Semoga ridho dan rahmat.Nya selaras dengan jejak jejak yang akan kalian ciptakan. :”) Dari jauh, ada saya, guru PPL yang menyanyangi kalian :”) Dari jauh, ada saya, mahasiswa PPL yang mencintai ukhuwah ini. :”) Semoga ada ijin.Nya untuk dipertemukan kembali... (Aamiiiin....)
     



















































  2. Makhluk Angin

    Friday, 6 March 2015

    Bismillaahirrahmaanirrahiim




                Musim penghujan tiba, genangan kenangan hadir tanpa iba. Menyita ruang pikir dengan derasnya. Bersama rintik air, petir juga hembusan angin, semuanya mengarahkan pada sudut temaram sosok yang kadang masih terngiang.
                Oktober  lalu alam telah membuat jadwal kencan untuk senja dan hujan. Kala matahari kembali dalam peraduannya, kumandanga adzan menggema, juga kepakan burung gereja di angkasa, hujan menerpa, menyapa malam yang sendiri. Kamar blok E asrama kampus terbungkus air langit sedari senja. Dalam gelapnya malam terbungkus hujan tanpa penerangan (listrik padam beberapa menit setelah hujan turun), seluruh penghuni kamar berkumpul mengitari lilin di kamar 22. Saling bercerita tentang sosok buram yang hinggap dalam harapan. Dan entah bagaimana aroma tanah diguyur hujan itu resmi mengarahkanku pada sosoknya. Makhluk angin satu mei. :”D
    ^O^
                Bukan kali pertama saya bertemu dengannya, bukan kali kedua juga. :D Pandang pertama telah terpangkas sejak silaturahim antar dua kelompok pecinta alam beberapa bulan lalu. Dia yang mencari perhatian dengan memanjat papan Wall Climbing di sekolahnya, sementara saya dan beberapa rekan masih antusias dengan penjelasan sang Korlat. Hmm sialnya saya malah sibuk mengkhawatirkan dia diatas sana, khawatir jika ia lupa pada hukum Gravitasi. -_-.
                Sedang pertemuan kedua lunas sudah diantara serakan buku buku Pameran di Setda Kebumen. Pameran dua kali setahun yang selalu menjadi kunjungan pencari buku murah. :v. Ketika sosoknya nyata terlihat diantara rak rak kios penjaja buku, juga seruan seruan pedagang menawarkan dagangannya. Dia bersama rekan rekannya begitupun saya. Sempat hampir saling menghindar (sebab malu yang hadir dengan terlalu) namun tergiring iringan teman kami berpapasan, saling menundukkan pandang, lalu menyembunyikan senyum senang namun salah tingkah. Arggg sepertinya wajah saya sudah serupa udang rebus. Merah padam tak pandai meredam malu.
                “Bukunya bagus bagus ya...!” pesan singkatmu kemudian. :D Saya ingat betul, pesan singkat itu terbaca tepat saat saya meninggalkan tempat pameran menuju masjid agung terdekat. Menggugurkan ashar dalam empat rekaat lillahi ta’ala. :”)
                Pesan yang menjadi tiket saya memasang senyum sepanjang perjalanan. Pesan singkat yang membuat saya dibanjiri tanya ‘kenapa’ oleh semua rekan seperjalanan saya. :”D
    ^O^
                Ya, ini pertemuan ketiga kami. Di hari ketujuh tiap minggunya, dengan seragam osis yang beraroma keringat. Dengan ketidakberanian saya melenggang sendiri ke Kebumen (kota) dan kepeduliannya, kami bertemu.
                Dengan klakson sumbang dari kuda besinya, saya menoleh. Memastikan itu bukan seruan menggoda dari tukang parkir jalan, memastikan bahwa itu sosoknya. Dengan helm masih disinggasananya (dikepalanya dan kaca hitam tertutup -_-) entah ekspresi apa yang coba ia sembunyikan, lalu menyerahkan helm serupa untuk saya. tanpa ba – bi – bu, saya nangkring di jok bagian belakang :D memintanya menarik pacu kuda besinya, menyegerakan menuju stasiun radio tempat saya akan mengudara.
                Dan kamipun menjadi sepasang putih abu abu berpakaian osis yang berboncengan tanpa cengkrama, malu malu. :D Sesampainya di studio, kumandang ashar menggema. Mengundang kami menyerukan sujud. Dan (lagi) masjid agung dekat Alun alun menjadi tujuan. Memarkir disebelah menara, lalu melenggang berlawanan (dia ke arah timur dan saya ke arah barat) menuju tempat wudlu masing masing. Seusai sujud itu, ada namanya yang ku rapal. Ucapan terima kasih dalam kemasan yang berbeda. Lalu membenarkan letak jilbab, dan menyusulnya yang sudah siap di beranda masjid. Duduk bersandar dengan kaki telanjang.     
                Disanalah. Saat saya lupa menundukkan pandang. Mata kami beradu dengan tatap malu dan langkah ragu. Saya resmi dibuatnya merona. Hei, berapa jumlah jantungku?! Kenapa debarannya benar benar muncul dipermukaan?!
                Tanpa mendetailkan lagi, kami kembali ke studio.
                Dia bercerita bahwa salah satu rekannya ulang tahun, tepat satu mei. Dan ucapan untuk rekannya itu menutup kalimat saya diudara. Keluar menemuinya yang masih setia diberanda. Haha sungguh saya bahagia saat itu.
                “So How was?”tanyaku penuh antusias.
                “Suaramu enggak kedengeran.”  Jawabnya sedatar papan parut.
                “Eh masa?! Kata temenku kedengeran og.” Celetuku ngeyel.
                Sebab itukah ia menatapku sedari tadi. Tatap yang mengundangku menatapnya kembali. Tatap yang pada akhirnya membuat kami salah tingkah satu sama lain. Dia membenarkan duduknya, saya tersipu digoda rekan satu siaran. Dia kembali menekuri layar handphone dan saya kembali pada layar siar. Adegan lucu kedua sehari itu.
                “Mau pulang naik apa?” tanyamu, masih dengan nada datar.
                “Hmm emang jam segini masih ada angkutan?” gumamku lebih pada diri sendiri. Melihat jarum jam (17.11 WIB) lalu melempar pandang harap padanya.
                “Yaudah, ayo aku temenin nunggu di stand plat.” Tawarnya.
                “Hehhe.” Ada bahagia tak tersembunyi disana.
                Lima belas menit di lampu merah tempat biasa angkutan berhenti, tak ada tanda tanda kemunculan angkutan umum itu. Selaras dengan doa yang kurapalkan sedari tadi. Senja terlampau indah untuk ku nikmati sendiri dibawah atap angkutan umum itu. Terlampau indah untuk tidak dinikmati dengan makhluk angin ini.
                “Hmmm.” Desauku sembari menatap jarum jam yang terus berjalan, seolah putus asa.
                “Yaudah, ayo pulang. Aku anter!” respondnya seolah paham. Haha
                “Hehehe.” Benar bukan. Senja terlampau indah untuk tidak bersamanya. Senja satu mei dua ribu sepuluh.
    ^O^
                Aku mengunci senja itu. Mematrinya sebagai bagian termanis dalam kubangan coklat kenangan. Senja itu, saya sungguh berterima kasih. :”)
    ^O^
                “Avada Kadavra!” smsnya tiba tiba.
                “Ekspeliarmus!” mantra yang salah. Bahkan sebelum menguncapkannya saya sudah luluh lantah sebab ia tak memberi ruang saya untuk melawan. Memberinya Patronus.pun bukan tindakan berarti. -_-
                “Hahha.” Balasnya.
                “Milih jadi apa, antara laut, angin, pohon, rumah?” tanyaku out of topic.
                “Angin.” Balasnya singkat.
                “Kenapa?” tanyaku penasaran.
                “Ingin saja.”
                “Hmmm.”
                “Bebas.”
                “Hahaha”
    ^O^
                Ya, makluk satu mei yang lahir tanggal dua belas januari itu, adalah ia Si Makhluk Angin. Bolang dari negeri Merdeka. Calon akuntan yang pernah mendapat nilai 3 di mata pelajaran serupa. Calon akuntan yang mengajariku cara menikmati manisnya sejarah. Haha
    ^O^
                “Siapa penemu Benua Amerika?” ujiku suatu hari.
                “Columbuslah.” Jawabnya penuh percaya diri.
                “Haha salah :P Padahal kan si Erick Mera”
                “-_- diakan tidak meninggalkan jejak keberadaannya nag pernah singgah di daratan itu hooooo”
                “Haha emang.”
                “Sejarah itu tentang kronologis, ojo dihafalke!” nasehatnya.
                “Hmm iya.”
                “Ganbatte!”
                “Hamasah!”
                “Haha”
                “ :P ”
    ^O^
                Selewat angin aku titipkan rindu ini, melalui aksara saya mengenang kamu dalam bait sajak. Lantas apakah cerita kita hanya selewat angin, Wahai Raja Udara?!






     

  3. Bahagia Itu Sederhana

    Thursday, 5 March 2015

    Bismillaahirrahmaanirrahiim :)



    Senin, 07 Oktober 2013


                Kehadiran banyak adik tanpa ikatan darah lagi-lagi memberikan ruang belajar. Celoteh dan curahan hati mereka yang kerap tanpa batas nyata memberikan sumbangsih pada ruang menatap banyak hal. Hmm lagi-lagi-lagi bukan perkara siapa harus belajar dari siapa, bukan perkara siapa lebih tua dari siapa, namun siapa yang mau saling belajar dari banyak perbincangan, siapa yang mau saling belajar dari saling mendengarkan, siapa yang mau belajar dan memberi kesempatan paham.
                Bukan teori Santrock atau tokoh parenting lainnya, ini hanya sebuah pengamatan dari seorang yang hanya mampu mengamati sekitar, pengamatan dari ruang dengar juga pandang. Menajamkan telinga, menjernihkan mata, ada banyak Adik yang rekening afeksinya terisi hampa.    Kosong akan perhatian dan kepedulian dari orangtuanya, terganti dengan nominal rupiah tarik tunai yang selalu mengalir seiring kerinduannya pada sentuhan lembut orangtua. Hmmm barangkali memang masih cukup banyak orang tua terutama Ayah, mengira bahwa yang dibutuhkan anak anak dan keluarga adalah uang untuk makan, pendidikan, mainan, kesehatan, dll.
                Ayah terkadang merasa berhak melupakan anaknya karena kesibukan mencari uang. Banyak orang tua merasa berhak meminta anak-anaknya menjauh ketika ada pekerjaan kantor yang harus dilanjutkan di rumah. Tidak sedikit bahkan akhirnya menganggap anak anak menjadi gangguan kerja dan lupa bahwa alasan utama sebenarnya mereka bekerja adalah untuk anak anak dan keluarga.
                Jika uang adalah masalah sebagian orang tua Indonesia, maka orang tua di Indonesia harus lebih kreatif untuk mulai memberikan begitu banyak kebahagiaan pada anak anak mereka dengan sesuatu yang tidak menuntut biaya tinggi. Cinta ; waktu ; dan perhatian. Begitu banyak kebahagiaan yang bisa diberikan pada anak anak tanpa harus merisaukan masalah keuangan. Ketika anak anak bercerita dengan antusianya pengalaman mereka, yang mereka butuhkan adalah orang tua yang  mendengarkan dengan penuh perhatian dan keingintahuan. Ini akan membuat mereka percaya diri dan merasa berharga. Ketika mereka menggambar, menulis, dan menunjukkan hasil karyanya yang dibutuhkan adalah sedikit pujian ringan, kebanggaan dan juga sedikit kekaguman hal tersebut akan membuat mereka berharga, berprestasi dan diakui menjadi seorang. Ketika mereka menunjukkan berat badannya sudah bertambah, tubuhnya beranjak besar atau larinya kian cepat  yang mereka butuhkan adalah wajah bahagia nan cerah atas peningkatannya. Memberikan tanggapan positif, menunjuknya sebagai anak hebat, jagoan atau semacamnya. Sebuah komentar sederhana yang memotivasi agar ia kian rajin dan terus menjaga pola makan demi kesehatan. Ketika anak-anak berpakaian dengan baju baru atau baru saja mandi dan berdiri tegak di depan kita, mereka sebenarnya menunggu kita mengatakan betapa mereka harum, betapa mereka menarik dan mampu membuat bahagia. Testimoni yang sangat boleh ditutup dengan peluk atau cium kepada anak. Dengan demikian anak-anak akan merasa percaya diri dan memiliki harga diri. Langkah awal memberikan konsep diri positif kepada anak. ^_^
                Ketika anak-anak menangis, terluka, dan bersedih mereka ingin orangtua memberikan perhatian, simpati, serta rasa sepenanggungan. Satu hal yang akan membuat mereka merasa diperhatikan, pun dengan menanamkan rasa kepedulian. Dan sebagai orang yang lebih dewasa tentu tahu kadar yang tepat bersikap mengayomi tanpa membuat anak merasa sangat dimanjakan. Tidak selalu membenarkan namun mengarahkan kearah kebaikan. :”)
                Ketika anak-anak bertengkar, tertindas, merasa terancam dan ketakutan. Bukan uang yang paling bisa menentramkan hati mereka. Saat itu mereka butuh pelukan yang akan membuat nyaman, merasa aman dan terlindungi, dijaga serta dipertahankan. Sebelum kita bisa membicarakan masalah sebenarnya bersama anak-anak.
                Ketika anak-anak bermain, mereka jelas ingin ditemani dan menganggap orangtua adalah teman sebaya, teman sepermainan terbaik didunianya tanpa jenjang batas usia. (Itulah menjaga sikap kekanak-kanakan itu perlu, setidaknya disana kita belajar memandang dari sudut pandang anak :”)) Sehingga mereka merasa diperlakukan secara setara, adil dan tentu berharga. Begitu banyak ‘ketika’ lain yang membuat anak-anak bahagia tanpa mengeluarkan rupiah atau mata uang apapun. Kita boleh tidak punya uang, namun tetap memiliki waktu, cinta, dan perhatian untuk anak-anak. :”) Semangat Belajar Ayah, Bunda ^_^