-
Balonku Tinggal Empat, Ku Pegang Erat Erat
Wednesday, 30 April 2014
Posted by RisaRiiLeon at 09:51 | Labels: Kacamata Risa, Rectoverso | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
@JatayuSolo #OjoLaliJawane "Anak Hebat Sadar Budaya"
Sunday, 20 April 2014
Bismillaahirrahmaanirrahiim :)
Minggu, 20 April 2014“SD Muhammadiyah 23!” seru seorang berkaos hitam di depan gerbang selatan Novotel Solo diantara riuhnya pekikkan nama instansi lain. Lebih dari sekali ia berteriak dan menyapu pandang sekitar, berharap instansi dengan nama tersebut menghampirinya bersama belasan bocah pejuang budaya hari ini.^O^Tepat pukul 05.40 WIB sepeda onthel Ungu keluaran Phoenix itu keluar dari gerbang asrama kampus PGSD, menyusuri Slamet Riyadi bersama dua rekannya. Tiga gadis dengan senyum mengembang yang sedang menebarkan semangat sepanjang putaran roda. Dan Radyapustaka menjadi pilihan mereka memarkirkan sepeda, mempercayakannya pada seorang bapak penjaga parkir museum, dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju TKP kegiatan, Lapangan Parkir Selatan Novotel. Mengisi presensi dan membantu beberapa rekan menata kain putih berjajar. Mengambil lembaran nama sekolah dasar.Dan disinilah saya. berdiri dengan lembaran kertas bertulis “SD Muhammadiyah 23”, di depan gerbang menanti para bocah. Belum apa apa sudah mendapat pelajaran moral pertama hari ini “Jika yang ditunggu tak kunjung datang, barangkali kamu memang harus menjemputnya!”“Mbak, itu di depan gerbang Novotel sebelah timur ada banyak SD! Dikiranya acara disana.” Ucap seorang wali murid saat registrasi. Berharap ada SD yang diamanahkan, saya menjemput mereka disana.Taraaaa! Mereka ada disana.“SD Muhammadiyah 23?” sapaku dengan tatap tanya pada serombongan bocah berseragam batik dan para wali pendampingnya.“Iyaaa!” seru mereka serentak. Aihh manis nian aroma semangat pagi itu.“Yuk, adik adik ikutin kakak yaa..kita registrasi dulu di parkiran sebelah selatan!” ajakku, menggiring mereka menuju medan laga penulisan huruf jawa.Tanggal 18 April lalu ialah hari Pusaka Dunia aka World Heritage Day. Jatayu Solo, Mahasiswa Berbudaya, mengapresiakan hari budaya dengan membuat ruang #OjoLaliJawane sebagai aksi pelestarian budaya tradisi, khususnya Jawa. Derasnya arus globalisasi menginspirasi mereka untuk mengajak kembali adik adik sekolah dasar se-Solo Raya untuk mengeja budaya melalui torehan huruf Hanacaraka dan kunjungan ke museum Radyapustaka.Rencana tepat pukul enam pagi prosesi penulisan aksara jawa akan dimulai, nyata pukul tujuh lebih acara baru dibuka dengan serangkaian sambutan dan hiburan. Diawali prakata dari Kak Cythia sebagai ketua pelaksana kemudian sambutan dari Wali Kota Solo yang diwakilkan dengan selingan Performance perkusi oleh rekan rekan dari FISIP UNS barulah adik adik dari dua puluh tujuh sekolah dasar di Solo yang membawa delegasinya kisaran lima belas anak, siap bercorat coret ria. Mengingat mereka yang sudah kelas empat dan lima sekolah dasar, menemani mereka menulis aksara jawa tidak terlalu menyulitkan. Jika pun kami lupa, ada banyak huruf Hancaraka bertebaran seantero TKP.“Nulis apa Nduk?” tanyaku pada Elsa, salah satu adik SD Muhammadiyah 23 yang saya temani.“Pasar Kliwon, Bu!” jawabnya bersama kembangan senyum.Sebenarnya mereka dibebaskan untuk menuliskan apapun yang mereka mau, tapi rupanya dari sekolah masing masing sudah mengarahkan mereka untuk menuliskan nama nama pasar si Solo, ada juga yang nama nama tokoh pewayangan, nama senjata tradisional dll.Meski penuh sesak, ku edarkan pandang pada lautan bocah usia sekolah dasar. Subhanallah, antusias sekali mereka. Saling berbagi papan, saling berbagi tempat, saling mengingatkan, dan tentu saja saling menyemangati.Jelang beberapa menit berlangsungnya prosesi penulisan, beberapa adik sudah selesai dengan tulisannya, “Kalau yang udah selesai boleh ditulisin nama sama sekolahnya. Kalau yang belum selesai dilanjutkan aja dulu, santai saja.” Bisikku pada adik adik mengingat MC di depan masih asik dengan celotehnya. (MC.nya siapa? Sepasang Mbak dan Mas, Mbak.nya aku lupa namanya, kalau Mas.nya aku tahu -_- seorang yang sebenernya pengen gue timpuk pake jimbe pas liat dari pagi ada di sana. Sudahlah!).Jajan pasar dan segelas air mineral turut mengisi energi mereka pagi ini. menyemangati mereka yang sudah mulai berpeluh. Dan disinilah, kesabaran mulai diuji. Bukan, bukan adik adiknya yang gimana gimana, tapi ammm wali pendamping (wali murid maupun pendamping dari sekolah) yang juga mulai rewel melihat jam kunjung ke Radyapustaka sudah molor nyaris satu jam.“Bu, kapan ke Radyapustakanya? Katanya jam sembilan ke selesai?” sapa seorang guru pendamping saat saya akan mengambil snack untuk adik adik.“Bu, kasian mereka kepanasan!” seru seorang wali murid.“Bu, mereka keringetan!” ucap seorang wali siswa.Dan masih banyak keluhan lagi.“Nggeh Bu, ini habis kalau adik adiknya sudah selesai, nanti kita bareng bareng kita Radyapustaka. Sementara adik adiknya di sini dulu aja. Menunggu adik lain yang belum selesai dan menikmati hiburan. Ada konsumsi kok buat adik adiknya, jadi insya allah mereka ndak papa.” Jelasku dengan wajah super manis. -_-Padahal dalam hati. Duh ini, siapa yang manja sebenarnya. Berkeringat kan tanda kalau sistem metabolisme tubuhnya bagus. Sinar matahari pagi (06 – 10an) itu kan mengandung Vit.D, baik untuk pertumbuhan. Menunggu teman bukannya akan mengajarkan mereka untuk bersabar atas proses rekannya, setidaknya menstimulus kecerdasan intrapersonal maupun interpersonal. ^_^Ahsudahlah, mari melanjutkan ke sesi acara selanjutnya. Bersama membawa kain yang sudah terhias tulisan tangan mereka, kami pun melangkah menuju Museum Radyapustaka. Berjalan beriringan, menjaga ketertiban, menyusuri Slamet Riyadi, dan tralalala kami siap mengantri masuk museum. ^_^ Berhubung, adik adik dari SD Muhammadiyah 23 ini memiliki adik adik yang super kece, saya dijadi hafal deh nama nama mereka. Yuk, absen dulu sebelum masuk.“Adik adik, dengerin Ibu ya..sekarang diabsen dulu. Nanti barisnya dua dua. Terus inget pesen kakaknya tadi. Di dalam museum itu jalannya pelan pelan aja, boleh liat tanpa pegang. Ok?“Ok. Bu...!” jawab mereka tak kompak.“Nah, sekarang absen. Karima, Elsa, Aqila, Dita, Raihana, Deltia. Baris di sebelah kanan ya....Sekarang yuk, Ian depan (berhubung dia paling usil dan banyak sambat plus paling kecil :D), Rizky (yang enggak kalah tingkah sama Ian :D), Agastya, Faqih, Fikri, Fernando, Yusuf bersaudara (yang ini kembar :D).” Seruku semangat.Welcome To Radyapustaka.Dengan ragam replika dan benda budaya yang dipajang disana juga keantusiasan adik adik Radyapustaka menjadi sangat riuh keceriaan. Lebih dari sekedar benda pajangan, benda benda itu adalah warisan budaya yang mengingatkan adik adik untuk tetap sadar sejarah. Bagaimana perkembangan senjata dari jaman dulu hingga sekarang, ragam perabot, juga alat musik tradisional, dan banyak replika arca di penjuru negeri. (Tidak ambil foto, duh mana sempat -_- menghandle lima belas anak untuk tertib menikmati di ruang penuh benda rapuh itu sungguh istimewa. Sayang untuk dilewatkan.)Finish! Ditutup aksi berfoto bersama adik adik dengan para gurunya (gue yang motoin :D), kamipun meninggalkan decak kagum atas warisan budaya di Radyapustaka. Hmm adalah ia yang menyakitkan, masa perpisahan yang selalu sepaket dengan pertemuan. Sampai jumpa kembali, sayaaang! ^_^“Kita kan tadi udah jalan jalan, udah nulis aksara Jawa, juga udah makan jajanan pasar. Sekarang kalian boleh jalan jalan sama Ibu, kalau mau pulang juga boleh, kalau mau beli buku pakai diskon yang Ibu kasih tadi juga enggak papa.”“Langsung pulang boleh bu?” tanya Ian.“Boleh sayaaag...boleh. Mau pulang sama siapa Ian?”“Sama Kakak Bu! Pulang dulu ya Bu..” serunya sambil berlari meninggalkan saya.“Ati ati dijalan Ian, Assalamualaykum..!” teriakku.“Bu, saya belum dijemput...” ucap Aqila lesu.“Nah yang belum pulang boleh nunggu di sini sama Ibu.” tawarku.“Biar sama saya saja Bu..!” sahut Ibu Pendamping dari sekolah.“Oh ngenten Bu? Hehe nggeh sampun, matursuwun ngegh Bu! Saya tak pamit dulu.” Pamitku pada adik adik. Hmm sedih deh. :”(^O^Minggu, 20 April 2014 adalah langkah baru mengenalkan kembali budaya kita yang nyaris tersisih. Budaya induk yang telah mendarah daging sejak atmosfer Jawa kita hirup dalam nafas pertama. Budaya yang seharusnya kita tekuni melebihi mereka para kaum pendatang namun terkesampingkan oleh tuntutan pergantian kurikulum.Terima kasih untuk Kakak Kakak Jatayu Muda dan Berbudaya atas ruang budayanya. Terima kasih untuk peluh dan semangat kalian membersamai adik adik dan turut menggandeng kami para penikmat budaya negeri ^_^. Terima kasih untuk adik adik yang senantiasa menginspirasi kami, membuat kami berusaha menjadi lebih baik menyiapkan ruang untuk generasi hebat seperti kalian ^_^.Ah ya, nyaris lupa.Posted by RisaRiiLeon at 05:46 | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Pecinta Yang Tak Banyak Kata
Thursday, 17 April 2014
Sekilas lalu dia hanya lelaki biasa, seorang laki laki penjual nasi goreng yang hanya tahu cara meramu bawang, garam, dan nasi menjadi sebuah menu masakan seharga delapan ribu rupiah. Seorang laki laki yang setia di tikungan belakang asrama kampus tempat tinggal saya selama kuliah. Seorang paruh baya yang biasa saja dimata dunia.Dan rinai pukul delapan malam bersamaan kepulangan saya mengampu bimbel sekolah dasar mengantarkan saya untuk mengenal sosok lelaki itu. Membincangkan beberapa hal yang bermula dari kebasabasian. Pak Yono, begitu yang tertera dalam brand nasi gorengnya.“Nasi goreng sedang enggak pakai kubis sama timun ya Pak.” Pesanku membuka perbincangan kami.“Nggeh Nduk.1” Jawab ia sembari meracik bahan mie dog dog untuk dua Ibu yang mengantri sebelum saya.Bersama penantian saya menunggu giliran, sebuah kenangan menggenang dalam benak. Memaksa saya memenjarakan rindu pada sesosok perantau di negeri tetangga, Ayah.Sepuluh tahun ia mengolah lahan negeri tetangga, menanaminya dengan kelapa sawit, merawat benih benih di sana untuk menyulam biaya pendidikan dan penutupan kebutuhan keluarga. Bentuk tanggung jawab seorang laki laki agar asap dapur keluarganya tetap mengepul dan agar mimpi anaknya untuk turut mencerdaskan anak bangsa tetap berkibar. Sepuluh tahun ia mengolah lahan negeri tetangga, menanaminya dengan bibit pohon karet, menorehnya ketika telah dewasa demi mempersilahkan putra putrinya menorehkan prestasi untuk negeri. Ya, di luar negeri ia merantau. Mengirimi ringgit tiap bulannya semata untuk putra putrinya. Hidup di luar negeri untuk menghidupi yang di dalam negeri. Hmm Ayah.“Sedang mboten kaleh kubis lan timun nggeh Nduk?2” ucap Pak Yono memastikan pesanan saya. Mengembalikan saya dari alam lamun.“Enggeh, Pak!” ucapku agak terkaget. Mengumpulkan ingat tentang kini yang harus dihadapi sambil tak jeda memanjatkan rapalan doa untuk Ayah di sana.“Hayoo nglamunke sinten Nduk?3” goda pak Yono di sela peracikan pesanan saya.“Hehe mboten nglamun kok Pak!4” alihku agak tersipu. “Pak, ini bapak jualannya sih biasanya habisnya sampai jam berapa?!” lanjutku masih berupaya mengalihkan.“Hwah mboten mesti nduk, kalau lagi rame itu jam dua belas udah habis tapi kalau lagi sepi bisa sampai jam dua baru habis.”Adegan itu pun membayang. Seorang paruh baya dengan sebuah gerobak yang menanti pembeli hingga tengah malam, berkeliling komplek perumahan untuk menu seharga delapan ribu rupiah. Menahan dinginnya malam di Solo. Menahan serangan kantuk sebab lama terduduk. Menahan hasrat pulang sebelum habis barang dagang. Barangkali seperti Ayah yang juga menahan kerinduannya pada kami selama bertahun tahun. Meniatkan semuanya berlandas tanggung jawab sebagai seorang pemimpin keluarga.Dan air bincang itu terus mengalir, menganakkan banyak tanya dan canda di antara kami. Menjalar lebih dalam dari sekedar kebasa-basian. Menjamah tentang keluarga yang menunggu kepulangan sang Pencari Nafkah Keluarga. Seorang istri yang selalu sedia untuk membukakan pintu meski jam dua dini hari pintu terketuk. Tiga putra yang gagah dengan mimpi mimpinya. Dengan Sulung di Bandung, mengambil Pendidikan Guru Sekolah Dasar di Universitas Pendidikan Indonesia, merengkuh jalur Bidik Misi sebagai pemulus jalan pendidikannya. Program beasiswa yang tepat sasaran rupanya. Si Bungsu yang masih rajin mengeja alfabet ditahun pertamanya sekolah dasar, serta si Tengah yang mulai sibuk berkegiatan dengan tepuk praja muda karana sekolah lanjutan tingkat pertamanya. Tiga ksatria harapan bangsa yang kelak akan mencantumkan nama Pak Yono sebagai Ayahnya penuh rasa bangga.“Bapak niki bodo mbak mulo uripe susah. Bapak ndak pengen mereka itu sama seperti Bapak!5” tutup Pak Yono sembari menyerahkan sebungkus nasi goreng pesanan saya.Rinai malam itu memang membuat basah ujung rok saya yang menjulur hingga bawah mata kaki. Tapi jauh dari ujung rok yang basah, ada satu syukur yang membanjir merambah ke hati.Dengan hati basah, transaksi malam itu tak hanya sekedar sebungkus nasi goreng dengan empat kertas dua ribu rupiahan. Sebuah ketulusan yang ditularkan nyata dari seorang biasa kepada saya, ah Pak Yono bukanlah insan biasa lagi, beliau seorang Ayah yang istimewa sekarang.Keinginannya sederhana, keengganan melihat anak anaknya hidup sengsara dan dipandang sebelah mata oleh dunia hanya sebab ketidaktahuan serta kedangkalan ilmu. Bahkan meski beliau seorang yang sekolah sampai kelas tiga sekolah dasar, seorang yang dikatakan buta huruf, seorang yang katanya hanya tahu takaran garam, bawang merah, bawang putih, merica, minyak, dan nasi yang pas untuk sepiring nasi goreng tek tek. Bagi saya, Pak Yono telah masuk Ayah Hebat versi saya, merubah dunia dengan mengawalinya dari keluarga. Tanpa perlu koar koar pada dunia, tanpa perlu banyak kata, tanpa perlu banyak suara, Pak Yono, juga ayah ayah yang lain telah mengawali tindak nyata merubah dunia. Mengawali dari hal sederhana dalam keluarganya.Dalam kegelapannya menjamah serangkaian alfabet, dia memiliki obor semangat untuk menerangi jalan anak anaknya mengeja aksara.Dalam ketakberdayaannya menghindari takdir terlahir dari keluarga tak berpunya hingga pendidikan harus terhenti sebelum kelulusan di jenjang sekolah dasar, ia berhasil tumbuh penuh daya dan upaya menyulamkan pendidikan untuk putra putranya.Dalam kekhusu’annya meracik rempah untuk nasi goreng dan menu sederhana lain, ia pun meramu bumbu penuh asa untuk asupan cita anaknya. Bumbu cinta tiada tara untuk ketiga keluarganya.Terkadang tanpa harus banyak kata, kaum adam satu ini telah mengucap banyak cinta dalam tindak nyata. Ayah. Melalui peluh yang sering menganak sungai di dahi bidangnya. melalui kerutan kerutan kening yang tak henti memikirkan kepentingan keluarga melebihi kepentingan dirinya. Melalui legamnya warna kulit yang diterpa perjuangan di bawah matahari. Melalui dekapan tangan yang menahan rasukan bayu penyebab badan menggigil. Melalu kantuk kantuk yang tertahan melunasi deadline harian. Tanpa perlu kata cinta, ia telah mengandung banyak cinta untuk keluarga.Ayah yang selalu berkata, “Tumbuhlah Nak, menjadi apapun yang engkau inginkan. Tebarkan manfaat untuk setiap umat yang kamu temui di jalan. Hiduplah dalam kebermanfaatan untuk sesama!” serangkaian kata cinta yang benar benar terlumuri keikhlasan. Kesejatian cinta yang tak pernah terungkap kata ‘Aku mencintaimu, Nak!’. Namun di sana, dalam pernyataan cinta tanpa kata cinta itu lah ikhlas benar benar ada. Bukankah ikhlas itu baru ada ketika tak pernah terucap? Bukankah hanya dia yang ikhlas yang hanya berbuat tanpa perlu mengucapkannya? Pun dengan cinta yang ikhlas, cinta yang barangkali tak pernah berkata cinta namun berbuat banyak untuk ia yang di cinta tanpa perlu mengucapkannya.^O^Air masih menyatakan kepasrahannya pada gravitasi, mengecup tanah dalam rombongan tetes langit penguar petrichor. Selokan asrama telah membanjir terisi penuh aliran air hujan. Benakkupun penuh terisi inspirasi, memaknai lebih dalam tentang berbagi, memperbaiki, serta mencintai. Berbagi kebaikan untuk saling memperbaiki sebagai tindak nyata mencintai.Ayah yang berjuang atas nama perbaikan penerus. Berbuat lebih banyak agar generasinya tak seperti dirinya. Merelakan ketakberlakuan pepatah ‘buah jatuh tidak jauh dari pohonnya’. Menyilahkan generasi penerusnya untuk tumbuh bebas sesuai pilihannya tanpa harus terikat persamaan takdir sang induk. Bukankah menjadi hal yang percuma jika generasi baru harus dipaksabentukan menjadi seperti keinginan sang Induk Generasi, membuat yang muda menjadi produk pembentukan yang tua tanpa melihat perkembangan kondisi yang terjadi, sepertinya itu bukan sebuah tindak bijak.Dan terkadang menjadi seorang motivator tak harus dengan dasi menjulur gagah dibidangnya dada, berjas hitam lalu melantangkan kata semangat. Seorang Ayah yang buta huruf, seorang Ayah yang sederhana pun mampu menjadi seorang motivator hebat. Menebar inspirasi melalui keberdayaannya berupaya.Dan terkadang menjadi seorang yang bisa membantu dan menolong sesama tak harus dengan limpahan harta yang terbagikan dalam lengan dermawan. Seorang Ayah penjual nasi goreng, seorang Ayah buruh tani, seorang Ayah tukang becak, juga Ayah Ayah lain yang harus bekerja penuh peluh menghasilkan beberapa lembar ribuan itu memiliki kelapangan hati untuk senantiasa berbagi. Seorang yang dikatakan rakyat kecil namun menyimpan keluasan hati lebih dari bentangan Sabang hingga Merauke.Keterangan:1. Iya Nak! Nduk sebutan untuk anak perempuan dalam bahasa Jawa.2. Sedang tidak pakai kubis dan timun ya Nak?3. Hayoo melamunkan siapa?4. Tidak melamun kok Pak!5. Bapak ini bodoh Mbak, makannya hidupnya susah. Bapak tidak mau mereka itu sama seperti Bapak.Posted by RisaRiiLeon at 19:17 | Labels: Fiksi | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |