-
Kita, Sang Alkemis, Dan Musafir Laut
Wednesday, 16 April 2014
Bismillaahirrahmaanirrahiim :)"Dibaca yaa, bagus hlo!" kira kira begitu waktu aku mengirimimu sebuah file ebook berjudul Sang Alkemis."Iya, terima kasih. Masih mengantri di ruang baca dulu ya!" dan kira kira begitu balasmu tentang perekomendasianku.Itu sudah hampir berbulan lalu, sudahkah buku itu masuk dalam bacaanmu? Sudahkah kamu menyambangi perjalanan Santiago?Aku ingin membincangkannya denganmu, tapi sayang sepertinya kamu terlalu sibuk dengan agenda yang aku tak tahu.Bukan aku tidak mencari tahu, berkali aku mencarimu. Ditempat biasa kamu muncul dengan satu yang melintas dibenakmu. Iya, beranda media sosial. Tapi sayang, kamu tak juga ada.Bukan aku tidak menyempatkan mencarimu, berkali aku mencarimu. Pada sebuah kotak pesan yang melampirkan namamu sebagai speed dial number one. Taukah, aku menyukaimu sebab sisi kemanusiaanmu yang ammm berbeda. Ada keistimewaan dalam perbedaan itu. Sayangnya sisi itu seakan sirna ketika pesan elektroniku dibalas oleh mesin short message itu. Hmm bahkan jika tak kau balas, barangkali itu lebih tak mengapa.Sebentar! Jangan beralih dulu. Sejatinya bukan ini yang aku tuju, bukan penyalahan atas tindakmu. Bukan! Aku paham, terkadang keistimewaanmu itu memang membawamu jauh dari ruang keberadaanku. Ruang rahasia yang hanya ada kamu dan kamu, tanpa aku dan kita. Seperti aku dan ruangku yang enggan terjamah insan lain, aku paham kamu pun demikian. Tenanglah, sungguh aku tidak apa apa.Baiklah, sebelumnya, apakah kamu mau secangkir teh? Aku ingin membincangkannya panjang panjang. Bukankah sudah lama kita tidak berbincang sebegini dekat? Setidaknya sudah lebih dari tiga hari. :)Hei, bukunya sudah kamu buka? Sungguh?! itu kabar baik, tentu akan memudahkan kita menghangatkan bincang ini.Kamu pasti sudah bertemu dengan Santiago, iya si tokoh musafir itu. Aku menyukainya. Hehe bukan suka seperti aku menyukaimu. Meski ada beberapa kesamaan dari kalian, tetap saja keberadaan Santiago tak senyata keberadaanmu sekarang ini.Kamu tahu kenapa aku menyukainya? Sebab Sang Alkemis berhasil memuat pertemuan Fatima dan Santiago dengan sangat manis. Bagaimana tidak manis, jika sebelumnya Santiago telah dipertemukan dengan si Putri Saudagar itu dan membuahkan keterarikan dihatinya namun lihainya takdir membawa Santiago untuk bersama Fatima dalam naungan cinta. Ya, semata sebab Santiago yang menemukan Fatima layaknya Asad yang menemukan Rossum setelah pernikahannya urung berlangsung dengan Morgiana.Bahwa aku tak pernah menuntut untuk menjadi yang pertama.Aku percaya, meski cinta pertama itu menumbuhkan, namun ketika kamu bertemu dengan cinta yang terakhir (dan ku harap itu aku), melalui cinta terakhirlah kamu akan terlengkapi. Mengisi kekosongan yang barangkali sempat menyinggahi hatimu.Selama kamu masih menyediakan ruang itu untukku menetap, aku sungguh masih legowo nrimo.Ruang itu, ruang yang hanya terisi aku dan kamu. Ruang segitiga sama kaki yang mengarahkan kita pada sang Maha Cinta.Ruang yang memampukan kita untuk saling menuju dalam perjuangan saling memantaskan diri.Ruang yang tentu saja mendekatkan dengan.Nya dalam ketersalingan menjaga fitrah mencinta.Dan aku paham jika ah yaa sering aku dan kamu bersebrangan jalan. Aku ke kanan dan kamu ke kiri. Aku ke barat, dan kamu ke timur. Aku sibuk menerka dan kamu sibuk menyimpan tanya.Tapi tenanglah, selama masih ada ruang ruang yang aku sebutkan tadi, tak seinchipun aku meragukanmu. ^_^Ingat tentang teori Bumi Marco Polo atau Teori Bumi Ferdinand Magellan, juga Cristopher Colombus. Mereka telah membuktikan bahwa Bumi itu bulat. Petualangan mereka juga mematahkan anggapan bahwa bentuk bumi itu datar yang beredar luas di Eropa pada abad pertengahan. Teori bumi bulat , kepercayaan kuno menyatakan bahwa bumi itu datar sehingga jika kita menjelajah sampai di pinggir bumi, kita akan terjatuh keruang angkasa. Kepercayaan ini sebenarnya diprakarsai oleh para pendeta di gereja katolik. Kepercayaan itu bertahan sampai abad ke 4 SM. Pada masa ini mulailah para filsuf berfikir bahwa Bumi itu bulat. Namun, kepercayaan itu terkubur bersama dengan runtuhnya kekuasan Romawi. Sesudah keruntuhan Romawi tersebut, Eropa berada dalam masa masa kegelapan dan pada masa itulah muncul persepsi salah bahwa Bumi itu datar. Sebenarnya, Marco Polo dan Cristopher Colombus tidak pernah menyatakan secara langsung bahwa bumi itu bulat. Namun pelayaran pelayaran – pelayaran yang dilakukan oleh kedua orang tersebut memperkuat kenyataan bahwa bumi itu bulat. Orang yang pertama kali membuktikan bahwa bumi bulat adalah Ferdinand Magellan, seorang penjelajah Spanyol. Setelah Colombus pada tahun 1492 – 1503 menemukan India dan menemukan jalur perdagangan Asia, Kerajaan Spanyol mulai memikirkan ekspedisi penjelajahan serupa. Tujuan penjelajahan Magellan adalah mencari sumber rempah rempah bagi kerajaan Spanyol. Penjelajahan Magellan dimulai pada tanggal 20 September 1519 dan berakhir pada tahun 1522. Penjelajahan ini merupakan perjalanan mengelilingi Bumi yang pertama dilakukan oleh manusia. Penjelajahan ini menggunakan lima buah kapal, yaitu Trinidad, San Antonio, Concepcion, Victoria, dan Santiago dengan membawa awak kapal 270 . sebenarnya dia tidak bisa menyelsaikan penjelajahan ini karena ia mati terbunuh di Filipina tahun 1512. Setelah kematian Magellan, penjelajahan diambil oleh Juan Sebastian Elcano. Elcano dan awak kapal lainnya memutuskan meneruskan penjelajahan itu atas nama Magellan. Jadi sebenarnya teori Bumi itu bulat bukan Teori Marcopolo, tapi Ferdinand Magellan. Musafir laut itu membisikiku tentang bulatnya bumi. Iya, jikapun kamu berjalan ketimur terus menerus tanpa berbalik arah ke barat, sekalipun aku berjalan terusm menerus ke barat tanpa berbalik arah ke timur, selama jalan kita lurus lurus saja :D selama keyakinan satu sama lain yang pasrah pada.Nya masih ada, Kelak kita akan bertemu pada koordinat yang jauh dari duga kita.Teh mu sudah dingin? Mari ku hangatkan, masih ada bercangkir cangkir teh yang akan menemani malam panjang kita. Masih ada pahit manis dalam lapang-sempitnya perjalanan kita. ^_^Posted by RisaRiiLeon at 06:42 | Labels: Dear, Kita | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
(Saksikanlah!) Saya Akan Menikah!
Wednesday, 9 April 2014
Bismillaahirrahmaanirrahiim :)
Jumat, 24 Januari 2014
Baiklah, ini (masih) tentang mudik. Mudik ternyata tak semata ajang pejemputan rindu pada insan insan rumah, bukan pula perkara cengkrama lepas penuh canda. Di sisi lain mudik menyimpan tanduknya untukku, menyeruduk benak dengan tanya yang memuakkan. Pertanyaan sama dan berulang itu memuakkan menurut saya! Mudik juga perkara menjawab pertanyaan ‘kapan lulus?’ atau ‘kapan nikah?’ Oh My -,-Pertanyaan ‘kapan lulus?’ tidak terlalu membuat sesak untuk dijawab. Kalimat ‘insya Allah tahun depan Budhe/Pakdhe/Nini/Kaki/Om/Tante/Paman/Bibi, ya doakan saja semoga dilancarkan.” Cukup membuat mereka diam takzim mendoakan. Sayangnya itu hanya pertanyaan preambul, ada satu pertanyaan inti yang sejatinya akan segera terlontar. “Kapan nikahnya Ris?” Oke. Saya akan menikah! Ya tentu saya akan menikah, bukahkah itu sunah Rosul? Bukankah itu salah satu cara membuka pintu surga?Saya akan menikah setelah Allah SWT menyatakan bahwa saya telah siap lahiriah maupun batiniah menempuh peran kedua seorang perempuan, menjadi seorang istri.Budhe/Pakdhe/Nini/Kaki/Om/Tante/Paman/Bibi, saya paham bahwa dari sekian anak sebaya saya di dusun kita hanya segelintir anak yang belum menikah, anak anak yang masih disibukkan dengan sebuah jenjang program study, yang masih sibuk SMA, SMP, dan beberapa kuliah. Seperti yang kalian ketahui, saya masih resmi menjadi mahsiswi semester enam. Saya paham jika kalian mulai mengkhawatirkan masa depan saya, tapi sungguh saya baik baik saja. Tak perlu repot repot mengkhawatirkan saya berlebihan seperti itu.Budhe/Pakdhe/Nini/Kaki/Om/Tante/Paman/Bibi, terima kasih atas perhatiannya. Perhatian yang muncul sebab sekitar yang tak lagi sama. Rekan rekan saya yang telah berumah tangga. Ya, saya setuju dengan kalian. Mereka itu keren, menikah di usia muda, meminimalisir fitnah yang mungkin terjadi. Saya akui keputusan mereka patut di acungi lima jempol :”). Menikah, merantau, memiliki anak, menitipkan anak pada ayah bundanya, merantau lagi. Siklus rumah tangga mereka saya paham, dan saya saya juga tahu betapa Ayah Bunda yang dititipi anak itu bahagia. Menimang cucu 24 jam, menyanding kelucuan dan keramahan anak usia dini. Iya saya juga ingin membuat bahagia Ayah Bunda saya dengan hal tersebut, tapi kelak jika Allah memang sudah menyatakan saya siap. Siap menjadi seorang Bunda yang leluasa menemani pertumbuhan buah hatinya, sesekali mengunjungi Ayah Bundanya untuk membiasakan si cucu menyapa kakek neneknya. Tak semata menitipkan buah hati sehingga melewatkan masa emas pertumbuhan anak sendiri :”) Moment yang terlampau berharga untuk dilewatkan sebab kata ‘merantau’.Budhe/Pakdhe/Nini/Kaki/Om/Tante/Paman/Bibi juga rekan rekan yang sering menganjurkan menikah dalam banyak postingan sosial media, jazakillah khoiron katsir atas anjurannya, nasihat nasihat indahnya, sekali lagi saya tegaskan. Saya akan menikah setelah Allah SWT menyatakan saya siap memperluas hati saya untuk menampung cinta dua keluarga yang bersatu. Mencinta keluarga suami saya serupa saya mencintai keluarga saya. Membagi bakti untuk dua keluarga. Jika memang masanya sudah tiba, dan tibanya masa itu hanya Allah SWT yang Maha Tahu, maka resmilah saya menikah. Sungguh kalian tak perlu repot repot merisaukan keadaan saya. Percayalah saya baik baik saja. Saya hanya meminta sedikit pengertiannya, sedikit tepo sliro dari luasnya hati kalian. Sebab saat ini saya memang sedang berproses menuju kesiapan kesiapan itu, menempa diri menjadi calon istri juga calon Bunda. Saya mohonkah sedikit pengertiannya, sedikit tepo sliro dari luasnya cinta kalian pada saya. Sehingga tak terlintas fikir bahwa jodoh saya datang terlambat. Biarkan saya tetap pada keyakinan saya, bahwa tidak ada kata terlambat dalam kamus renacana Allah, begitupun perihal jodoh. Semuanya telah Ia rencakan dengan tepat tanpa kata terlambat ataupun tersesat.^O^Bagi saya, pernikahan (sepertinya menjadi perbincangan yang ramai untuk usia 20+) tidak semata tentang pertemuan dua insan, menikah, tinggal serumah, seks, punya anak, memberi materi, punya cucu. Bukan, jauh dari fase itu pernikahan lebih pada sebuah perjalanan sesi kedua seorang manusia. Perjalanan sesi pertama adalah tentang perjalanan seorang anak yang membaktikan diri kepada orang tuanya, dan perjalanan kedua ialah tentang membersamai seorang untuk saling melengkapi.Tak semata tentang lebih tua, seumuran, ataupun lebih muda. Juga bukan tentang si Sulung yang harus disandingkan dengan si Bungsu, si Tengah yang bebas memilih. Pernikahan lebih tentang perjalanan. Ya, perjalanan bersama insan yang mampu menyeimbangkan hidup dan yang bisa berjalan beriringan, bukan yang didepan mendahului dan tidak tertinggal dibelakang, tapi dia yang berlajan di sisi kita. Yang memberi kedamaian di hati. Kenyamanan di sisi juga kasih sayang tiada henti. Tentang tertawa bersama, saling mensupport, serta mendoakan satu sama lain. Tentang perbincangan lepas tak berbatas tanpa berfikir ini pantas atau tidak. Saat dunia memperlakukan dengan kejam dalam keterasingan, dialah tempat kita untuk pulang. Atap teraman dan ternyaman kita untuk selalu merasa tentram. Yang senantiasa membuat kita sanggup untuk menjadi sangat penyabar juga membuat kita sanggup untuk senantiasa mengerti sesulit apapun suatu keadaan. Yang menerima kita apa adanya meski seadanya. Wajah yang barangkali tidak rupawan, namun keyakinan bahwa bersamanya adalah satu hal yang wajib diperjuangkan. Barangkali jauh dari idaman, namun disana iman brtahta, yakin bahwa dialah seorang yang kita butuhkan dalam perjalanan ini. Dan tentang masa lalu yang masih menyertainya akan kita terima sebab kita percaya bahwa itulah yang membentuknya sekarang. Lantas kekurangan dan kelebihan masing masing adalah tugas bersama untuk saling menerima dan saling melengkapi agar mampu menjadikan dua pribadi yang lebih baik. Tentang seorang yang ikhlaskan untuk menjadi ma’mummu jika kamu laki laki. Tentang seorang yang kamu ikhlaskan untuk menjadi imammu jika kamu perempuan. Dan tentu membuatmu bangga menjadi Ayah atau Ibu dari anak anaknya. :”)Bahkan dalam islam, nilai sebuah pernikahan diibaratkan dengan setengah agama. Bahwa menikah akan mampu menyempurnakan sebuah percaya akan kuasa.Nya. Kuasa atas apa? Kuasa atas ikhtiar kita, melalui kuasa.Nya kita dibekali seorang yang hadir untuk menjadi partner kita mengarungi perjalanan sesi dua ini. Seorang yang engkau datangi (jika kamu laki laki), seorang yang mendatangi (jika engkau perempuan) sebab Allah semata. Meniatkan semua ikhtiar sebab hendak mencapai ridha.Nya.Dan saya ingin mengikhtiarkannya baik baik tanpa ketergesa gesaan sebab pertanyaan dan celaan sekitar. Tanpa ketergesa-gesaan sebab celotehan insan insan sebaya diperempatan jalan. Tanpa ketergesa-gesaan sebab usia dua puluhan.Dan saya ingin mengikhtiarkannya baik baik tanpa campuran budaya kebodohan sebab mengatasnamakan prosesi perkenalan dalam sebuah ikat pacaran. Tanpa campuran pesan pesan elektronik yang beraroma kemesraan. Juga tanpa panggilan panggilan pengundang fitnah.Dan saya ingin mengikhtiarkannya baik baik, membiarkan Allah mengukur kesiapan saya menjadi partner.nya membangun rumah tangga berlandas Allah Ta’Ala.^O^Kelak jika masanya telah tiba. Masa pertemuan yang telah Allah tetapkan untuk saya. masa dimana Allah tautkan hati saya untuk seorang yang membawa tenang, tentram juga kasih dan sayang. Kebersamaan yang tercipta tanpa proses pacaran. Semoga engkau diberi nikmat sempat untuk menyaksikan bagaimana kami saling berproses membincangkan untuk hidup kami. Bagaimana kami saling meredam ego masing masing dalam pengambilan keputusan. Bagaimana kami membincangkan hal hal yang sebelumnya telah kami rencanakan sebelum saling bertemu. Hal hal tentang dimana kami akan tinggal, berapa jumlah anak yang dinginkan, pembagian kewajiban, pengelolaan keuangan, pendidikan anak, pengasuhan anak, dan hal lain yang berkaitan dengan kebutuhan kami kelak. Semoga engkau diberi nikmat sempat untuk menyaksikan kami memutuskan ragam kebutuhan itu bersama sama.Kelak jika masanya telah tiba. Masa pertemuan yang telah Allah tetapkan untuk saya. Masa dimana Allah tautkan hati saya untuk seorang yang membawa tenang, tentram, juga kasih dan sayang. Sebuah kebersamaan dengannya yang membawa ketenangan dan ketentraman sehingga menimbulkan kecenderungan pada hati kami satu sama lain. Kebersamaan yang tidak perlu ikatan bualan seperti pacaran. Kebersamaan yang berdasarkan penjagaan dari fitnah fitnah kesyahwatan. Semoga engkau diberi nikmat sempat untuk menyaksikan binar mataku menatapnya. Semoga engkau diberi nikmat sempat untuk mendengarnya mengucap janji seorang laki laki asing untuk menjaga seorang perempuan asing berlandas Allah semata yang diaminkan malaikat langit. Menyaksikan eratnya jabat tanganya kepada Ayah saya, mengikrarkan transaksi pengalihan tanggung jawab seorang Ayah kepada seorang Pemuda.Kelak jika masanya telah tiba. Masa pertemuan yang Allah tetapkan untuk saya. Masa dimana Alla tautkan hati saya untuk seorang yang membawa tenang, tentram, juga kasih dan sayang. Semoga engkau diberi nikmat sempat untuk menyaksikan kami menua bersama. Saling memperbaiki bersama. Membesarkan buah hati bersama. Mengembangkan senyum Bunda-Ayah bersama. Hingga kami menua bersama dalam genggaman tangan tangan keriput kami.Ya, semoga engkau diberi nikmat untuk semua itu :”) Aamiin aamiin aamiiin ya Rabbal ‘alamin :”)Posted by RisaRiiLeon at 17:54 | Labels: Kacamata Risa, Kita, Mengintip Masa Depan | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Bismillaahirrahmaanirrahiim :)
Rabu, 09 April 2014Cooking day! :DCeritanya lagi demen masak gitu :D nah berhubung di blok E itu enggak ada dapurnya, memanfaatkan peralatan seadanya untuk sebuah masakan sederhana itu cukup bijak :DJadi bersama naluri coba coba, saya mencoba memasak nasi kuning dengan magicom :DUntuk bahan dan bumbunya masih sama seperti saat kita masak nasi kuning dengan kompor dkk. Beras 2 gelas penuh magicom kecil, 3 lembar daun salam, 1 batang serei, santan instan 65 ml. Untuk bumbu yang dihaluskan 1 ruas jari kunyit (di saring lalu ambil airnya), 1 siung bawang putih, 2 siung bawang merah, garam secukupnya. (Jumlah siung bawang merah dan bawang putih menyesuaikan porsi)
Nah cara membuatnya,Pertama cuci semua bahan, (Bumbu yang dihaluskan, daun serai, daun salam). Kemudian bumbu dihaluskan (bawang merah, bawang putih, dan garam), kunyit dihaluskan lalu disaring, airnya dicampurkan bumbu yang sudah halus tadi. Selanjutnya air bumbu dan kunyit itu dicampur santen lalu masukan ke beras yang sudah siap dimasak tadi. Bersamaan dengan itu daun serei yang sudah di ‘geprek’ dan daun salam. Aduk sampai air bumbu itu merata dengan beras. Nyalakan magicom, dan waiting for the delicious yellow rice :D Dalam masa penantian masak, sesekali aduk kembali nasinya agar semua lapisan matang. ^_^Lauk pauk pelengkapnya, sederhana saja. Berhubung di blok kami hanya ada abon, dan kerupukjuga sebungkus oseng bihun jagung, jadilah kami sarapan pagi dengan menu nasi kuning abon bihun jagung :D
^O^Makanan sesi kedua itu puding tela ungu :D sebenarnya saya masaknya semalam :D emang niat dimakan buat hari ini :DSeperti yang kita tahu, tela ungu itu mengandung warna favorit saya :D jadi wajar jika saya mencoba masak ini :D *terusngopo? -,- Oke. Abaikan!Langsung kebahan ya ^_^Ada nutrijell paling (tanpa rasa berwarna biru), tela ungu, gula pasir, santan instan, susu kedelai, dan tepung maizena.Cara memasak:Tela ungu dicuci, kupas lalu direbus. Lalu setelah dingin dihaluskan, berhubung di blok E enggak ada blender untuk menghaluskan jadi saya haluskan secara manual dengan sendok :v, kalau yang punya blender pas menghaluskan di beri air secukupnya (jangan terlalu kental). Tela yang telah dihaluskan tadi dicampurkan dengan air santan, lalu saring agar serat kasarnya tidak terbawa masak. Hasil saringan tela dan santan tadi dicampur gula pasir secukupnya, lalu masak deh :D kalau menggunakan magicom, tutup magicomnya dibiarkan terbuka saja, soalnya kalau ditutup bisa amm meluber nutrijellnya :D. Selama proses menunggu matang, diaduk aduk terus ya biar santennya ndak mengental. Setelah matang, masukan ke cetakan deh ^_^
Sekarang buat fla.nya ^_^Susu kedelai dimasukan ke magicom, masukan satu sendok makan tepung maizena. Aduk hingga merata (tepung maizena.nya enggak mengental dibawah), masukan gula secukupnya. Lalu masaknya sambil diaduk aduk, kenapa? Pertama biar tepung maizenanya enggak mengental dibeberapa bagian saja. Kedua biar kita tahu tingkat kekentalan fla.nya, kalau misal fla.nya kurang kental bisa ditambah setengah sendok makan saja. Terus kalau pudingnya udah agak beku, tuangkan fla susu kedelainya diatas puding \^_^/. Puding Tela Ungu Fla Sule pun siap santap ^_^ Lalalala. Puding tela ungu ini juga bisa buat bekal ke sekolah, dari pada jajanan dipinggir jalan yang notabene kurang sehat (plus bahan pemborosan :v), selain itu juga bisa buat cemilan sehat :v haha buat yang diet dan enggan makan nasi gitu :DDan tralalalala... Puding Tela Ungu Fla Sule
^O^Jadi kreatif itu enggak melulu soal mengerjakan hal biasa dengan cara luar biasa, tapi mengerjakan hal biasa dengan peralatan seadanya, mengoptimalkan keberfungsian benda benda disekitar tanpa memaksakan kehadiran benda lain itu sudah termasuk kategori kreatif versi saya ^_^ Tak juga melulu tentang menciptakan goyang ala tim kreatif Trans 7 :v #ehSelamat menikmati aja deh ^_^ dan selamat mencoba juga bagi yang berkenan ^_^Posted by RisaRiiLeon at 09:34 | Labels: Seni Tangan, Serial Anak Kost | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Bismillaahirrahmaanirrahiim :)
Selasa, 24 Maret 2014
Satu tahun, lagi lagi jatah usiapun berkurang. Angka duapuluh pun terimbuh angka satu. Menggantikan nol yang tak lagi laku. Hallo My Twenty One :”)“Selamat Mengulang Tanggal Kelahiran Adeekkk!” serunya dengan lilin diantara kumpulan bakwan jagung.“Haha iya kakak terima kasih!” sahutku dengan senyum bahagia tanpa pura pura.Bismillah... lilin itu padam, terhembus uap air dan karbondioksida dari manusia penginjak angka dua puluh satu. Ada protein berlebih di bakwan jagung yang dibawanya, protein yang memupuk syukur tiada tara pada sang Pemberi Waktu. :”)Ya Rabbi, terima kasih atas nikmat usia yang anugerahkan :”)Terima kasih atas semua oksigen yang masih mampu terhirup dengan hidung hamba.Terima kasih atas semua garis lengkung wajah yang masih menguarkan kebahagiaan bersama insan tersayang.Terima kasih untuk dua puluh satu tahun yang insya Allah kian membuat saya mencintai Engkau.Dan Ya Rabb, dalam terima kasih tanpa tepi ini ijinkan hamba memohonkan satu hal pada Engkau, Maha Pendengar lagi Maha Penyayang.Satu permintaan sederhana dari seorang gadis biasa yang ingin Engkau lebih mencintai Ayah-Bunda saya. Tanpa menutup mata atas semua nikmat selama ini, tanpa menutup mata atas limpahan anugerah hingga kini, tanpa berharap apapun kecuali keridha’an.Mu :”) Ijinkan hamba menjadi ma’mum dari Ayah hamba sebelum seorang laki laki asing mengkhitbah saya. Ijinkan hamba menjadi ma’mum dari Ayah hamba, mengaminkan dalam dalam atas lantunan doa yang beliau panjatkan kepada Engkau dibarisan shaf bersama Bunda, dan tiga adik tercinta hamba. Ijinkan kami sekeluarga shalat berjamaah bersama. :”) Ijinkan kami mencintai Engkau dengan cara yang sama. Merasakan nikmat iman islam dalam naungan jamaah keluarga sakinah bersama.Mu.Ya Rabbi yang Maha Pengasih, limpahkan kasih sayang.Mu untuk kedua orang tua hamba, untuk semua peluh dan sabar Ayah Bunda membesarkan kami, lembutkan hati mereka untuk menerima cahaya.Mu :”) Jaga mereka senantiasa dalam atap ridha.Mu.Ya Rabbi yang Maha Penyayang, limpahkan cinta dan kasih.Mu untuk tiga ksatria di rumah yang semoga kelak mampu menjadi tiket surga untuk kedua orang tuanya. Tiga pemuda yang semoga mampu memperjuangkan agama.Mu selama nafas masih ada.Ya Rabbi yang Maha Mencintai, limpahkan kerahmatan dan keridhaan.Mu untuk seluruh rekan yang senantiasa menerbarkan manfaat di jalan.Mu, rekan rekan seperjuangan dalam menegakan syariat.Mu, insan insan yang dengan ihsan mengumandangkan asma.Mu dalam dalam setiap nafasnya. Para jamaah dakwah yang menyampaikan keagungan.Mu dala ragam cara :”)Dan ya Rabbi yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, bersama kekerdilan daya hamba, mohon ampunilah segala kekhilafan hamba. Kealpaan hamba sebagai seorang Muslimah, kealpaan hamba sebagai Putri Sulung, kealpaan hamba sebagai seorang rekan, kealpaan hamba sebagai seorang pelajar, kealpaan hamba sebagai anggota sebuah umat, juga kealpaan hamba terhadap kewajiban kewajiban yang tak tertunaikan, janji yang barangkali tak tertepati, lisan yang pernah melukai, hati yang pernah berprasangka. Ampuni hamba ya Rabb.Aamiin Amiin Aamiin Ya Rabbal’alamin :”)Posted by RisaRiiLeon at 09:06 | Labels: Dear | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |

