-
Miracle Of The Day: Jingga
Monday, 23 June 2014
Bismillaahirrahmaanirrahiim :)
Rabu, 18 Juni 2014Pengembangan Gerak dan Lagu Anak Usia Dini, mata kuliah pembiasaan yang menyapa di semester enam ini. Mengilhami penilaian tak semata dari materi materi yang dipaparkan dalam slide presentasi, namun bersama dalam proses pembiasaan membaur dengan nada nada liris yang manis, mata kuliah ini resmi membuat saya kelimpungan menghaluskan suara guna menyelaraskan dengan tempo serta alunan melodi. Mengingat suara sumbang saya juga ketidakpekaan telinga menanggapi bunyi, debaran menjelang ujian mata kuliah ini selalu berhasil memompa kerja jantung lebih dari biasa. Muncul di permukaan layaknya loveseisme -_- Sayaaaa grogi sekali pemirsah! -_-Adalah hari ini puncak dari semua rupa pembelajaran di semester ini, membawakan lagu ciptaan sendiri beserta ekspresi yang terwujud dalam gerak serta mimik wajah. Jika menilik jejak uji kompetisi saya yang rawan ketidaklulusan wajar jika sayaaa sangaaaaaaaaaat khawatir pada nasib mata kuliah ini di Kartu Hasil Studi saya :v. Selasa lalu adalah bukti nyata kekhawatiran saya, sebab dengan tampang badak memberanikan diri berkonsultasi setelah jumat sebelumnya meninggalkan kelas konsultasi lagu.Dan taraaaa ... ^_^ This is song For you, you better listen ^_^Posted by RisaRiiLeon at 07:05 | Labels: Amanah, Sing a Song | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Pagi Putih Memutihkan Hati
Saturday, 21 June 2014
Bismillaahirrahmaanirrahiim :)
Jumat, 14 Februari 2014, membawa Eropa di depan mata,berjarak lima langkah dari pintu depan asrama. Bersama nafas yang kian sesak, saya melangkah, menginjak tumpukan abu vulkanik yang merata sebumi jawa. Di sebelah timur sana, di Kota Malang, gudang ragam keripik buah itu, Sang Kelud bererupsi. Sungguh, bukan sebab ia emosi pada manusia, dia hanya sedang beradaptasi, menyeimbangkan diri barangkali.Pukul 23.04 WIB, kaca kaca asrama bergetar, dinding pun ikut bergetar, juga pepohonan sekelilinya, ya alam bergetar setelah sebuah gemuruh mengisi ruang dengar manusia yang masih terjaga. Ada apa? Batinku. Erupsikah? Ombak Pantaikah? Ya, Rabb, lindungi kami. Ketersediaan media komunikasipun menjadi tepat guna, ketika sebuah kabar dari kota sebelah langsung terupdate dalam hitungan detik. Timeline sosial media memberitakan banyak hal tentang gemuruh dan getaran tadi. Asap Erupsi Kelud Mencapai 3000 meter. La haula wala quwwata illa billah.Seorang pelajar tidak akan mungkin duduk di sebuah kelas, melainkan dengan pertolongan.Nya. Seorang guru tidak mungkin dapat mengajarkan ilmu yang bermanfaat, melainkan dengan pertolongan.Nya. Seorang medic tidak akan mungkin menyembuhkan pasiennya, melainkan dengan pertolongan.Nya. Termasuk, seorang ‘anda’ tidak mungkin mampu membaca postingan ini, melainkan sebab pertolongan.Nya. Sederhananya, melalui erupsi eksplosif setinggi tiga ribu meter dari Gunung Kelud, Allah sedang menyapa kita, mengingatkan kita akan ketakberdayaan kita, maka apa yang perlu disombongkan dari kita?Keindahan fisik? Bukankah seiring pertambahan usia, ia akan menguap begitu saja? Bahkan lipatan lipatan di kulit tidak akan terbohongi oleh krim penghilang tujuh tanda penuaan dini. Gelimangan harta? Akankah hartamu mampu menyuap Izrail untuk membiarkanmu hidup lebih lama? Kedudukan tinggi? Mungkinkah janji janji manis yang biasa dilontarkan sebelum resmi menjabat itu berlaku untuk merayu Ridwan membukakan pintu yang ia jaga untukmu?Bukankah Tuhan masih menegur dengan cukup sopan?Melalui gemuruh tengah malam dari liang bumi di seberang kota.Sebab manusia itu tanpa daya, dan Tuhan itu Maha Daya.Bukankah Tuhan masih menegurmu dengan cukup sopan?Melalui langkah langkah kecil dari mereka yang terevakuasi.
Sebab manusia memang harus mulai beradaptasi.Dari sekian banyak dampak negatif dari aktivitas vulkanisme (keluarnya magma dari perut bumi/dapur magma) dari Gunung Kelud (13/02/2014) , juga aktivitas tektonisme (perubahan atau gerakan lapisan bumi secara horisontal dan vertikal, baik berupa patahan atau lipatan) di barat daya Kebumen (25/01/2014), bukankah masih ada banyak dampak positif yang membersamainya?Mungkin memang banyak kerusakan lahan, bangunan kotor oleh abu hingga roboh sebab gempa, tapi dengan peristiwa erupsi eksplosif Allah memberikan pupuk alam yang merata sepanjang Jawa bahkan hingga Bali. Manusia mana yang mampu memberi pupuk gratis dan merata untuk semua warga Jawa Bali? Bahkan Allah menyertakan barang tambang yang bisa menunjang pembangunan yang lebih baik, menyertakan air langit untuk membersikan udara dari kawanan debu yang beterbangan. Subhanallah. :”)Mungkin memang banyak warga yang mengungsi dan mengeluhkan keadaan, bertanya mengapa harus kami, namun dalam kesesakan itu mereka akan meneteskan air mata haru. Mengingat ladang mereka yang kelak akan subur, mengingat kebersamaan dalam camp pengungsian, mengingat uluran tulus dari rekan relawan, juga mengingat keberuntungan mereka sebab oksigen masih gratis hingga saat ini. Allahu Akbar :”)“Semua bencana alam yang terjadi di Indonesia saat ini, dari mulai banjir, gempa, gunung meletus,kebakaran hutan, lumpur lapindo, dan yang lainnya, itu adalah aktivitas penyeimbangan alam. Bahwa alam sedang menuju titik stabilitas.” Ujar seorang rekan dalam sebuah obrolan.Hmmm, saya sependapat.Memasang cermin, dan memandang bayangan di depan mata itu, sebuah refleksi tentang diri manusia. Manusia sekarang yang kian tak ramah pada alam. Mengambil barang alam tanpa mengindahkan pelestariannya. Menggunakan bahan alam tanpa mengindahkan analisis dampak lingkungan. Menebang pohon tanpa menggantinya dengan bibit baru. Menanami tanah tanpa melakukan rotasi tanaman hingga menghabiskan unsur hara tanah. Mengeruk pasir hingga batas permiable, lupa bahwa tak hanya manusia yang butuh pasir untuk membangun peradaban, biota airpun membutuhkan pasir untuk menjaga mereka dari kepunahan.Bersama kuatnya arus banjir, alam hendak membersihkan sampah sampah yang menyumbat laju irigasi sebab aktivitas manusia yang lupa diri (membuang sampah tidak pada tempatnya, menutup lahan serap air dengan gedung bertingkat). Bersama letusan gunung berapi, alam sedang menyuburkan diri sebab manusia yang tak lagi peduli pada kesuburan tanah tempat para tanaman tumbuh. Bersama aktivitas tektoniknya, alam sedang menyediakan lahan baru untuk mereka yang membutuhkan (epirogenetik negatif/ turunnya daratan, misalnya) juga ragam gejala alam lainnya.Ingat sebuah dialog langit yang termaktub dalam QS Al – Baqarah ayat 30 ?“Sesungguhnya Aku akan menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” Firman.Nya pada penghuni langit.“Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu manusia yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah? Padahal kami senantiasa bertasbis dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” tanya malaikat. Membayangkan (jika mereka beralis) alis mereka bertaut, dan menggumpalkan ragam heran juga rasa ingin tahu yang tak tertutupi.“Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” Ujar Allah tak terbantahkan lagi. Sebab sesungguhnya apa yang diketahui Allah tidak akan diketahui oleh makhluk ciptaan.Nya kecuali dengan seizin.Nya.Allah menciptakan manusia dengan akal pikiran yang lebih baik dibandingkan makhluk lainnya. Sebab dengan nikmat akal, Allah ingin agar manusia menjadi khalifah/pemimpin di bumi. Bukan untuk saling beradu demi kuasa atau harta semata, namun banyak berfikir dan banyak bertindak membangun peradaban manusia yang senantiasa memperbaiki diri, mendekatkan diri pada.Nya. Dan kembali pada gejala alam yang menyapa di depan mata, Allah mengajak kita untuk bersikap lebih bijak pada amanah seorang khalifah, sebuah makhluk yang dibekali kecerdasan akal dan kelengkapan anggota badan.Bukankah Nabi Adam dan Bunda Hawa telah memberi teladan bagaimana memanfaatkan nikmat akal ini? Nabi Adam as mengajarkan berkebun pada Qabil, juga mengajarkan Habil ilmu beternak. Mengajarkan anak anaknya untuk senantiasa melafalkan syukur kepada.Nya dengan berbagi hasil kucuran keringat mereka kepada makhluk lain. Memanfaatkan alam dengan cukup tanpa berlebihan, semata mata untuk kelangsungan hidup sekarang hingga masa depan, sadar penuh bahwa semua adalah titipan.Nya. Kalau kata orang sekarang, “Kekayaan alam Indonesia adalah milik para penerus bangsa, kita hanya meminjam dari mereka.” Lantas, haruskah manusia terus menyita kekayaan alam tanpa tindakan pelestarian? Tak menyisakan semilimeterpun untuk hidup aman para planton? Atau udara bersih untuk para pipit?Atap atap rumah kompleks asrama, atap atap gedung perkuliahan, serta jalan raya kian memutih. Menebarkan ragam material vulkanik di udara, memotong jarak pandang menjadi beberapa meter saja,,,dan Tuhan, kian dekat dengan manusia! Menyapa tiap hari, melebihi detakan nadi :”)sumber foto: beranda facebook yang dipenuhi postingan hujan abu.Posted by RisaRiiLeon at 18:55 | Labels: Cinta Indonesia, Kacamata Risa | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Untuk Kamu Yang Masih Menjadi Bolang (Ku)
Wednesday, 11 June 2014
Bismillaahirrahmaanirrahiim :)
Kau tapaki puncak-puncak tertinggi, tapi masih kau lukai pepohonan dengan pucuk tajam pisaumu.
Apa gunanya?
Kau jelajahi pantai berpasir hitam dan putih, tapi masih kau lukai karang karang tebing dengan sampah plastikmu.
Apa gunanya?
Kau jejaki lorong lorong goa gelap hingga terang, tapi masih kau lukai ornamen ornamen alam dengan busuknya polusimu.
Apa gunanya?
Kau jamahi hutan hutan perawan Irian juga Kalimantan, tapi masih kau lukai tunas tunas muda dengan langkah congkakmu.
Apa gunanya?
Kau salami anak anak sungai dari rafting sampai rafling, tapi masih kau lukai jembatan jembatan tua dengan keluhanmu pada semesta.
Apa gunanya?
Kau sapa seluruh unsur semesta sekedar amoeba hingga manusia, tapi masih kau lukai raga raga dunia dengan tindakmu sebagai makhluk sempurna.
Apa gunanya?
Sampah yang kau tinggalkan sebagai jejak.
Hara semesta yang kau tumpuk sebagai harta diri.
Pun dengan waktu yang kau bunuh dalam keluhan.
Ingatmu tentang khalifah menguap, melebur sebab syahwat duniamu.
Ingatmu tentang penjaga semesta mengudara tanpa sempat ternyatakan.
Semesta menua dalam renta.
Menunggu ketiadaan sebab kealpaan umat manusia.
Solo, 11 Juni 2014
Risa Rii Leon
Posted by RisaRiiLeon at 17:22 | Labels: Accapella, Bolang | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Bismillaahirrahmaanirrahiim :)
Senin, 02 Juni 2014Dengan senja yang tetap jingga serta hati yang tak lagi sama, saya kembali pada Senin, Selasa dan seterusnya. Menapaki jalan yang seharusnya. Menyimpan perjalanan kemarin pada beberapa alinea dalam format doc. Mengisi Kerajaan Kenangan atas nama kita serta bukit icon kota.Stasiun Lempuyangan, pukul 17.25, bola merah itu mulai bersemayam, meninggalkan sisi bumi yang berisi saya dengan hantaran jingga ufuk barat. Dan lipatan tiket dalam genggam saya, resmi akan mengantar kepulangan saya pada rutinitas semula. Kuliah, membersamai adik adik belajar, dan bersepeda. Membingkai kenangan dua hari semalam yang menakjubkan dalam beberapa prosa.Tepat di kilometer tiga puluhan jalan Magelang, jingga itu membius kecepatan laju motor saya. Berfusi indah menjadi kelambatan menatap perpisahan hari, melambai pada senja yang segera digulung malam. Menunaikan lima rekaat untuk waktu jamak di rumah teman Muntilan. Sebelumnya perkenalkan dulu, empat rekan Pejuang Pena yang melaju bersama. Nduk Evi si Penyuka Langit Malam, Sifa yang pendiam dalam keanggunannya (Perempuan Calm Yang Entah Kapan Saya Bisa Setenang Dia :v ), Nduk Amie Si Pena Ilmiah (Calon Apoteker yang Ahli Buat Manga ^_^ ), juga kerikil bernama Bara :v. Bersama dari Yogya, kami mulai perjalanan tepat pukul 16.17 WIB dari Masjid Kampus UGM. Armada yang dipertemukan dalam event pena pun melaju dalam bahagia (*aku sih bahagia :D )^O^Pekan Seni Tidar, begitu label acara tersebut, dengan warga BS (Bengkel Seni: Semacam Unit Kegiatan Mahasiswa UNTidar dibidang seni, berbeda dengan UKM di FKIP UNS yang setiap jenisnya berdiri sendiri, semisal teater ya Peron, olah Vocal ya Fox Magistra, dll. BS terlalu rakus :3 dia membawahi semua divisi seni, dari tari hingga seni peran juga olah vocal.) dalang atas kebersamaan ini. Yang juga mengajak rekan semua untuk menyapa kembali ragam seni budaya yang tersebar di tanah air tercinta. Di awali dengan Pasamuan Budaya (31 Mei 2014, 19.00 WIB – 23.00 WIB ) launching Antologi Cerpen “Mengejar Angin” yang merupakan Kompetisi Cerpen Nasional bertemakan sama dengan judul buku, menyeleksi ratusan cerpen yang masuk menjadi 15 cerpen terbaik dari kalangan pelajar SMA (5 cerpen) dan mahasiswa (10 cerpen). Berlanjut pada Pameran Rupa (1-5 Juni, 13 .00 WIB – 22 Mei WIB ) memaparkan ragam seni rupa karya pemuda pemuda calon penerus bangsa. Berlanjut pada tanggal 2 Juni 2014, pukul 13.00 WIB – 22.00 WIB Parade Puisi, menyampaikan ragam bait bait liris dari penyair kritis negeri. Kemudian tanggal 3 – 4 Juni 2014 di jam yang sama, ada Secreening Film, semacam parade film anak negeri, seni audio visual yang berkoalisi apik dalam kacamata sang sutradara. Dan ini puncak malam seni Tifest, 5 Juni 2014, Parade Teater sekaligus sebagai penutup, berharap lebih mampu menyampaikan tujuan dari agenda besar Tifest. Mengindahkan seni mencintai karya negeri J^O^Perpustakaan Kyai Sepanjang.Belum banyak manusia luar yang datang, gedung perpustkaan yang kabarnya belum lama di upgrade (?), beberapa panitia masih wira wiri dalam kesibukan, jadilah kami tamu krik krik :D. Tunggu! Ada sosok kriwil yang menyambut kami, menyilahkan kami masuk dan meyakinkan kami bahwa kami tak salah alamat :v. Holla mas Kury Yusuf (bilang namaku alay pake i (rii) double padahal dia juga alay, i (maskuri) nya dianti y (kury) -_- ). Masa penampakan wajahnya pun datang, setelah sekian lama kami hanya disuguhi punggungnya yang membungkuk hormat saat bersalaman dengan Bapak SBY dalam Foto Profil Fbnya :vDilanjutkan dengan penampakan imut dari Dek Sesty dengan tiket message “Mbak, aku pakai sweater merah, kalau mbak liat aku, dicegat ya!”Saya tersenyum menengok ke kiri saya suda ada satu bocah yang nampak kebingungan mencari seseorang.“Assalamualaykum, Nduk Sesty!” sapaku segera, sedikit khawatir dia melangkah terlalu jauh, dan tersesat -_-.Dengan tanpa dosa, Sesty duduk disamping saya. Hmm bocah SMA N 1 Surakarta asal Bali yang nyangsang di Solo dan sekarag terdampar di Magelang tepatnya di samping kursi saya sebab kemampuan menulisnya. Itu sih info yang saya dapatkan selama perbincangan ngetan ngulon bareng dia :v Sayanya yang kocak atau Sestynya yang terlalu mudah tertawa, sepertinya malam itu dia banyak tertawa :vProses penampakan masih berlanjut pada sosok Susi Lestari. Perempuan Bolang (*benerin kerah baju *berasa ketemu SahabatBolangKembarDiHati). Doa yang ternyata bela belain dari Brebes (asli arek Brebes katanya) langsung otw Magelang bersama laju bis selama tujuh jam (bener enggak?) Seterong bingiittt!! :v padahal katanya Senin harus udah di Semarang. (Ah udah biasa, kata dia)Satu lagi, penampakan dari satu sosok tak terduga yang bahkan tak masuk dalam rencana. Hai Mbak Ika ^_^. Korban SKSD saya yang amm kok anggun gitu ya :v Mahasiswi UNTidar yang sudah meramaikan jagad dengar kampus Tidar. Yep, dia penyiar hlooo di radio kampus Tidar. Obrolan yang sempat menumbuhkan keinginan siaran lagi :”(. Ah sudahlah, itukan jaman SMA -_-. Enggak usah jauh jauh Ris!! Itu nyanyiin lagu ciptaan sendiri ajah belum bener, tuh tugas Seni Musik belum kelar!! :3 *abaikan*Dan inilah jadinya ketika tujuh perempuan duduk berdekatan dalam satu garis kursi. Sibuk berbincang penuh candaan di antara kata sambutan pemiliki acara :v hingga lalai pada satu fase yang sepertinya terlewatkan. Sambutan ketua panitia dan lurah rumah?Satu satunya yang membuat kami hening sejenak ialah suara MC yang menyatakan sesi “Penganugerahan”. Menyimak penuh khidmat, tiga nama itu meluncur hangat. Fildzah sebagai Penulis Cerpen Terbaik Tingkat Mahasiwa (*Peluk Cium Seribu Kali). Sesty Arum sebagai Penulis Cerpen Terbaik Tingkat Pelajar (*Peluk Cium Seratus Kali). Dan Dek SMA yang Cantik (lupa namanya -_- )sebagai juara Favorite (*Peluk Salam Senyum Manis). Selamat semuanyaa ^_^Nyatanya penampakan belum selesai, seorang Izah (Fildzah) sebab ia tidak berangkat bersama, dia tiba empat puluh menit semulai acara dan baru sempat saling berbincang sepuluh menit setelah pengumuman. Menghampiri saya dengan senyum sumringah dan mata penuh binar bahagia.“Mbaaak Risa, maaf tadi enggak tau kalau itu mbak, ini aku baru buka hape!” hamburya menyalami saya. Detik itu, entah darimana saya terharu :v teringat adik adik di Solo :vPerbincanganpun kembali hangat. Izzah berbagi perjuangannya membidani satu novelnya yang berjudul Phobia. Perjuangannya untuk bangun dari cercaan dan penolakan penerbit. Ah bocah ini, belum belum sudah membuat saya sukaaaa. Bagi yang penasaran seperti apa cerianya si Izzah bisa disantap itu karya pertamanya :”) dengan harga Rp. 54.000,- kamu telah menyuplai kebahagiaan Izzah dalam berbagi inspirasi :v *bantu promo*^O^Pameran lukisan di sudut ruang gedung perpustakaan menutup pembukaan Pekan Seni Tidar. Kami sebagai tetamu jauh dipersilahkan menikmati suguhan tinta warna warni karya seniman Tidar ^_^ Salam Kanvas Mas Piou.Taraaaaaaa...kagumku nyaris habis di sana. (berhubung saya enggak bisa ngegambar sekece ituh :v kagum menjadi hal yang mampu saya berikan sebagai bentuk apresiasi ).Selepas menikmati lukisan di ruang pameran, megabadikan beberapa kebersamaan dalam jepretan kamera, kami diantar panitia untuk menunggu tourguard :v. Sayangnya, Fildzah harus kembali ke Yogya malam itu juga, ada agenda di minggu pagi katanya. Pun dengan Sesty yang ke Magelang bersama keluarga besar, bersama Ayah dan Ibu yang setia menemani, dia harus pulang ke Solo, sebab Ayah harus berangkat ke Jakarta demi asap dapur tetap mengepul (*apaseh? -_-). Tinggalah saya, Amie, Sifa, Evi, Bara, dan Akbar (Oia, Akbar datengnya hampir barengan sama Si Fildzah tapi sayanya enggak ngeh :v dia lonelly ranger from Semarang) yang merepotkan panitia dalam porsi lebih. :3 Maaf. :”(Bersambung .......Posted by RisaRiiLeon at 08:29 | Labels: Amanah, Bolang | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |



