-
Pesta Para Penyepi Di Lembah Kejenuhan
Thursday, 22 August 2013
Bismillaahirrahmaanirrahiim :)
“Karena sejatinya manusia diciptakan untuk merayakan kesepian, berpesta sendirian dalam sengatan senyap.”^O^Masjid Akbar NH terbanjiri oleh wajah wajah baru berseragam putih putih, serupa jemaah haji yang hendak sa’i (barangkali). Hilir mudik di pelataran masjid, beberapa bergerompol laksana awan di langit senja ini. Dan melalui mereka Tuhan memberi saya tiket untuk pulang, untuk mengenang tentang sebuah niat awal. Ya niat awal saya sampai di kota bernama Surakarta ini.Satu jam yang lalu, saya masih berada dalam ruang yang sama bersama dengan beberapa rekan. Lalu saat suara mulai terdengar, saat mata mulai membangun prasangka, juga seringai yang kian menggugurkan rasa. Mengerdilkan saya seketika. Saya menjadi Alice dengan serpihan roti pengecil tubuh. Jadilah saya tak nampak, tak terdengar juga tak teranggap. Ya saya terabaikan disana. Hal paling menyedihkan ternyata ketika menyadari kesiaan dari sebuah kehadiran. Ketika hadirmu tak berpengaruh pada apapun atau siapapun, itulah hal paling menyedihkan nomor tiga menurut saya. ketidakbergunaan juga ketidakproduktivan waktu yang seharusnya mampu termanfaatkan dengan optimal.Saya menyerah dalam gravitasi.Nya. Enggan melangkah ataupun mengayuh lagi. Saya hanya ingin duduk manis dibangku berlengan. Menyaksikan para wayang melakukan lakonnya. Arghh saya ingin berteriak, lalu meledak dan menghilang. Tak apa selamanya. Diantara rayuan menyerah, ditengah lunglainya kaki sebab terlalu lama melangkah, ku paksa diri berpamit pada yang Maha Berdiri sendiri. Meminta kepada.Nya makna sebuah kesabaran. Lalu, Iapun menunjukkan pada saya tentang mereka. Mahasiswa mahasiswa baru yang dengan sangat khidmat mengerjakan tugas osmarunya. Mengingatkan saya, bahwa saya pernah dalam posisi mereka. Dengan semangat maksimal guna menghasilkan optimal. Semangat yang belum terkontaminasi harap yang tak sesuai nyata. Belum tersentuh adaptasi yang tak terinteraksi dengan baik, juga hal hal lain yang memupuskan semangat.“Kelak dalam perjalananmu Nak, kamu mungkin akan tersesat. Bukan, sungguh itu bukan kesalahan. Barangkali Tuhan hanya sedang membiarkanmu menikmati perjalanan. Jikapun kamu merasa tersesat, maka kembalilah dijalan kamu mengambil langkah pertama kali. Ujung suatu jalan tidak akan pernah kita ketahui jika kita tak melakukan perjalanan itu bukan?!” selintas bisikan itu menggema. Mengembalikan memori pada langkah awal melenggang ke kota Solo.Ya, mungkin ini jalan buntu saya. Tersesat sebab saya dalam kubangan itu itu saja. Merasa melangkah namun tak sejengkalpun berpindah hingga lelah benar benar membuat payah. Sederhananya inilah kejenuhan. Ya, saya jenuh.Secara harfiah, jenuh (dalam KBBI) ialah bosan, padat, kenyang, penuh. Saat sekolah menengah, seorang guru mengenalkan saya pada istilah titik jenuh, yaitu suatu kondisi benda yang larut namun sudah tidak bisa larut lagi pada lingkungan yang sama. Misalnya saja, garam yang larut pada air, lalu jika kita memasukan garam terus menerus ke dalam gelas berisi air tersebut, maka akan muncul keadaan garam yang tidak bisa larut lagi (titik jenuh garam pada air).Layaknya garam dalam segelas air, maka saya adalah garam yang sudah tak mampu lagi melarutkan diri dalam air yang sudah terlalu sempit untuk keberadaan saya. Serupa pula dengan seorang admisnistrator yang jenuh dengan berkas dihadapannya, seorang SPG jenuh terhadap posisinya dilapangan, atau seorang masinis kereta yang jenuh dengan rute perjalanan keretanya. Setiap orang memiliki titik jenuhnya masing masing baik hitungan bulan maupun tahun. Dengan kegiatan nyaris sama yang dilakukan berulang ulang, lingkungan yang tak berbeda, setiap hari, setiap minggu, selama berbulan bulan bahkan hingga bertahun tahun. Potensi jenuh maksimalpun tak dapat dihindari, resep manjur pengundang stress (astagfirullah).Kecepatan reaksi garam (kecepatan mencapai titik jenuh) untuk larut dalam air juga sesuai dengan suhu, semakin tinggi suhu maka semakin cepat pula pelarutan terjadi. Dalam kehidupan nyata, suhu adalah kondisi lingkungan. Lingkungan yang baik, ramah, dan profesional dapat membuat diri kita lebih nyaman untuk beradaptasi (larut) dibanding dengan lingkuang yang tegang, keras, juga kaku. Saklek penuh tuntutan dan cermin yang memangkas habis kewarasan. Arghh, lagi lagi tentang tuntutan dan tekanan. Lupakah? Jika hanya berisi tekanan dan tuntutan, bahkan jika itu hanya hubungan dua orang. Sudah sepantasnya disudahi saja. Apalagi jika ini berkaitan dengan banyak orang. Bagaimana bubarkan saja kah?! -_- tentu tidak. Sebenarnya ini cukup sederhana, ingat hukum Newton ke tiga? Benar, mengenai aksi reaksi. Ketika ada salah satu pihak yang melakukan aksi, sebaiknya harus diberi reaksi sebagai bentuk apresiasi kepedulian. Bukan hanya terus mencela dalam forum evaluasi!! Memang kuman diseberang lautan nampak gajah dipelupuk mata tak terlihat. Memang organisasi ini milik bersama. Memang semua sayang dan berjuang pada organisasi yang sama. Tapi dengan selalu membandingkan jaman kepengurusan dulu, dengan selalu menjadikan masa lalu sebagai tolak ukur, kapan akan beranjak menata masa depan? Setidaknya menghindari kesalahan kesalahan yang sama. Akankah menyerupakan diri dengan bapak beruban yang kini telah terkubur zaman namun masing terngiang dalam sapaanya, “Pie kabare? Enak jamanku to?!”.Kejayaan masa lalu memang selalu indah untuk dikenang. Selalu mampu menumbuhkan sayang. Selalu mampu meramaikan angan. Namun, bukan berarti membuat perubahan dimasa depan adalah kesalahan kan? Bukan berarti melakukan perbedaan adalah dosa besar kan? Setau saya perbedaan itu normal, bukan tindak kriminal.Saya mengakui salah. Dimana seharusnya saya melakukan pendekatan, malah saya melakukan kelekatan. Seolah mengerti dan mahfum dengan apa yang mereka pilih sehingga saya tak pernah mampu memaksakan, tak mampu membuat mereka memprioritaskan hal yang sama dengan banyak orang. Akhirnya hanya berupa ajakan, mengingatkan, lalu memberi pengertian. Ya, tidak dibenarkan! Tentu saja! Bagaimana hal tersebut dapat dibenarkan, saat dimana saya seharusnya menjadi perekat semuanya, malah saya hanya menjadi jembatan penyampai alasan ketidakhadiran.Saya salah sebab terlalu banyak sok mengerti orang. Sok maklum dengan keadaaan orang. Sok tidak memaksakan kehendak orang. Dan beginilah pada akhirnya. Ruangan itu terkadang sepi, tak jarang ramai pula. Terisi insan itu itu saja. Banyak yang mengeluh kemana yang lainnya? Dan kembali pada saya. “Kowe ki ngopo?!” satu pertanyaan yang sungguh menghunus hingga ulu hati. Lisan berbusa oleh ajakan juga rayuan untuk turun lapangan, untuk tak sekedar menjadi penonton berakhir pada telinga yang menggemakan alasan alasan logic untuk memilih prioritas.Maka nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan? – (QS: Ar Rahman)*Menjadi surat favorit saya akhir akhir ini, teman setia kala menyapa gulita dilembah deadline*Baiklah. Mungkin saya hanya perlu menambahkan air sebanyak banyaknya dalam larutan garam itu. Belajar menata kembali rencana rencana yang semoga mendapat ridha.Nya. Juga mengganti wadah garam, tak hanya gelas yang berbatas. Mungkin saatnya dipindahkan ke danau. Meluaskan pandang, bahwa kesulitan adalah kemudahan yang tertunda, bahwa Allah memberika ujian sesuai dengan kapasitas hamba.Nya. Bahwa kejenuhan adalah cara Tuhan mengajarkan tentang kenikmatan lapang fikiran, hal yang sangat manusiawi, hal yang juga mengajarkan untuk tetap berfikir positif pada ketentuan.Nya.Melalui mahasiswa mahasiswa baru itu. Melalui wajah wajah baru pelepas putih abu abu. Melalui pemilik langkah langkah lugu. Melalui senyum polos tanpa ragu itu. Allah menitipkan bisik, “Bagaimana kabar niatmu sayang? Masihkah ia terpenuhi dengan landasan cintamu pada.Ku? Masihkah ia terlaksana sebab kamu mengharap ridha.Ku?”Disaksikan cermin dikamar mandi putri dalam masjid NH, saya membasuh diri. Menyucikan niat untuk berharap tetap bermanfaat. :’) Menitipkan semoga, menitipkan doa, juga merapalkan mantra untuk tetap terjaga dalam titian.Nya. :’) aamiin. Semoga dimudahkan :’) Dan untuk adik adik saya yang telah resmi menanggalkan putih abu abunya. Saya mengucapkan selamat datang :) Semoga bukan calon mahasiswa nyinyir :DSelasa, 20 Agustus 2013Posted by RisaRiiLeon at 15:43 | Labels: Kacamata Risa | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Surat Pertama Untuk Lelaki Terakhir ^^
Tuesday, 20 August 2013
Bismillaahirrahmaanirrahiim :)
Bibir saya kian mengembangkan seulas garis lengkung. Mengangkat kedua pipi untuk terus nampak tembem. Yah, saya tersenyum malam ini. membiarkan diri merasa tersanjung juga senang. Astagfirullah, saya telah terlalu berbaik sangka (mungkin). Saya melihat diri saya dalam sebuah bayangan kata. Dimana saya mengira paragraf paragraf itu adalah kacamata yang digunakan seseorang untuk menatap saya. Dimana saya merasa telah memasuki ruang benaknya yang berisi tentang saya. Ya, Rabb semoga benar :’) dan semoga bukan jalan untuk menjauh dari penjagaan.Mu :’)Terlalu dini untuk mengatakan dan mendefinisikan tentang rasa atau tentang apapun yang telah membentang. Namun, dalam proses ‘menjadi’ kali ini bukan lagi membuat adonan kue kering, tapi adonan bahan cangkir. Bukan semata untuk kenikmatan semata, tapi juga suatu keawetan karena proses yang panjang. Ditempa dalam penjagaannya, di bimbing dalam rak rak kaidah, lalu di panggang dalam panasnya menjauh dari syahwat duniawi. Semuanya memang membaur dalam atmosfer bumi, tapi kali ini saya enggan melebur bersama. Saya akan menjaga yang tersiratkan olehnya, menjaga harapnya yang tergambar dalam alinea itu. Semoga :’).Menjadi ma’mumnya. Mengaminkan setiap doa atas kebaikan keluarga bersama yang meluncur lirih penuh kepasrahan di balik punggungnya. Dalam takzim sujud sepertiga malam, dalam isak penuh pengharapan. Kita bersimpuh atas kesyukuran rencana.Nya. Rencana yang kerap disangka tak sengaja oleh manusia, bahkan dalam kamus.Nya tak ada kata tak sengaja atau main main. Semua telah terencana dan terprogram dengan sangat apik.Mungkin hati saya sedang berwarna merah jambu. Merona oleh rasa malu juga rindu yang enggan berlalu. Entah rasa apa ini, yang jelas saya ingin mengislamkannya. Bukan semata bentuk penghalalan dan pengatasnamaan Tuhan untuk sebuah hubungan, bukan. Sungguh, saya hanya ingin mempertahankan apa yang saya yakini dari awal. Sebuah komitmen penantian juga penjemputan. Seorang perempuan yang menanti dalam kesetiaannya menjaga diri, ya dia menanti dalam penjagaannya. Juga seorang laki laki yang menjemput perempuannya dalam langkah ikhtiarnya untuk kelak menjadi seorang imam bagi perempuan yang menantinya dibatas waktu.Saya mungkin bukan seorang perempuan yang duduk manis dalam sebuah peron stasiun guna menanti datangnya jemputan dari seorang masinis. Bukankah setiap orang memiliki cara tersendiri untuk menyikapi suatu hal, dan saya enggan duduk manis disana.Dalam penantian saya, saya kerap berkeliling stasiun mencari tahu apa saja yang ada disana, kadang sampai melewati gerbang stasiun sebab jalan didepan stasiun ramai teriakan manusia lain, kadang juga saya berlari mengejar seorang yang salah menaiki keretanya, kadang pula saya kehabisan tiket sebab tiket saya berikan pada orang lain. Tapi dalam proses interaksi saya dengan lingkungan stasiun itulah saya banyak belajar tak hanya tentang pengutamaan sebuah kepentingan tapi juga indahnya mengikhlaskan. Di sana di peron penantian saya, saya dalam proses memperbaiki diri sebab saya percaya engkaupun demikian. Bukankah saya adalah cerminannya? :’)Masa penantian ini mungkin tak jarang berbuah luka, namun jikapun saya pernah hampir mati sebab terlalu lama menanti tapi setidaknya saya masih bernafas hingga kini. Dan bukankah saya telah berhasil selamat dari kematian? JDalam sujud panjang itu, saya kerap menyisihkan ruang untuk berharap. Bahwa kelak saya dan dia mampu menjadi kita. Bersatu untuk semakin dekat dengan yang Maha Satu. Lalu, ragu itu tiba begitu saja. Nyata saya mungkin tidak selamanya indah seperti dalam benaknya, banyak sekali kekurangan yang nantinya saya mohonkan bantuan untuk dia meluruskannya. Memintanya agar kelak membimbing saya dalam kasih sayanngnya, namun juga enggan menjadi segan untuk menegur saya jika saya berbuat salah tentunya. Dan melalui ini, dia akan tahu sedikit mengenai kekurangan saya, hendak pula kuyakinkan padanya. Bahwa ini hanya sebagian kecil saja. Lantas memintanya untuk mempelajari yang sedikit itu hingga mampu memahami saya, karena dalam segala keingintahuan saya terhadapnya. Sejatinya adalah proses saya memahaminya.Jika kelak ditakdirkan bersatu, Saya yakin Allahh akan mengutusnya untuk membimbing saya karena kesanggupannya. Allah pasti ingin agar kelak kita saling melengkapi atas kekuranganku dengan kelebihannya. Dan atas kekurangannya dengan kelebihanku.Jika ia membaca ini, sungguh bukan ungkapan cinta yang ingin saya dengar. Bukankah sebaik baiknya lelaki yang menyatakan cinta kepada perempuan bukan mahramnya ialah jika ia menyatakan cintanya didepan keluarga besar sang perempuan berbekal mahar juga bonus sabar penuh ikhtiar? Saya sangat percaya itu. Jika kelak ia membaca ini, saya hanya ingin dia tersenyum lantas mengaminkan doa ini :’)Lantas menjaga kesetiaannya terhadap sebuah komitmen. Bahwa komitmen bukan tentang bagaimana menjalin suatu hubungan, tapi juga tentang kesetiaan terhadap suatu keyakinan untuk saling mendoakan meski jarak hijab masih membentang. Mari menjaga hijab kita masing masing. Menjaga pandang juga hati untuk menatap pada yang Esa, bukankah disana kita dipertemukan?! :’) kian mendekatkan diri pada.Nya agar Iapun sudi untuk mendekatkan kita. :’) kian memperbaiki diri agar masing masing dari kita menjadi baik dan layak untuk memantulkan bayangan diri dalam cermin musahabah :’) Ya semoga :’) semoga ada saya dan dia dalam kita untuk tetap menjaga agama. :’)“Duhai Rabbi, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Membolak balikkan hati manusia. Pemilik atas hati manusia yang kerdil ini, yang menumbuhkan kerinduan dalam diriku untuk bertemu belahan jiwa atas kehendak.Mu. Menciptkan kasih sayang diantara kami agar tentram hidupku dan merasakan kebahagiaan atas indahnya ciptaan.Mu.Duhai Rabbi, jika tak pernah cukup amalku membawaku ke surga.Mu, berikanlah aku seorang imam yang akan mendoakanku menjadi bidadari surganya hingga doanya menjadi salah satu alasan bagi.Mu mengisi salah satu surga.Mu dengan aku.Duhai Rabbi, jika tak pernah mampu aku memberatkan timbangan amalku dengan ibadahku sendiri, berikanlah aku seorang yang membuatku mengabdikan diri kepadanya sebagai bukti cintaku kepada.Mu, agar ridhanya menjadi kunci bagiku membuka surga.Mu dan pengabdian kepadanya adalah ibadah mulia yang kulakukan atas nama cinta kepada.MuDuhai Rabbi, jika itu semua tak layak untukku pertemukanlah aku dengan jiwa baik yang aku rindu itu, yang mengaitkan cintanya semata pada.Mu, yang akan ku muliakan dalam pernikahan yang tenram hingga semakin kuat cintaku padamu, hingga kami berkumpul dalam naungan kasih sayang.Mu. Maafkan pula kami yang telah memburu cinta yang pernah hadir tanpa.Mu, yang hadir sebab bukan atas nama.Mu, dan biarkanlah kami menjadi penghuni menara menara langit.Mu, yang Kau janjikan terisi oleh mereka yang mencintai karena.Mu.” :) Aamiin :)Saya seorang perempuan yang tak pernah diam dalam penantiannya’Terima kasih Ya Allah atas indah.Nya rencana.Mu :’)Semoga penantian saya hanya karena.Mu Ya Rabb :’)
Senin, 19 Agustus 2013
Posted by RisaRiiLeon at 08:41 | Labels: Dear, Kita, Mengintip Masa Depan | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Kentang Kebencian
Sunday, 14 July 2013
Bismillah :)
Selasa, 28 Mei 2013“Sekarang Rista enggak mau temenan sama Elyana lagi!!” Teriak Rista sepulang sekolah.“Selamat datang Rista.” Sapa Bunda menanggapi teriakan Rista. “Ada apa sayang? Kok pulang sekolah marah marah gitu?”“Rista engak mau temenan sama Elyana lagi!! Titik.!!” Jelasnya masih dengan amarah.“Hlaa memangnya kenapa sayang?” Tanya Bunda tenang.“Elyana, Nakal. Elyana merusak pensil spongebobnya Rista. Spongebobnya jadi ilang hidungnya Bunda!” Jelas Rista pada Bunda sambil menunjukkan bukti nyata ucapannya “Jadi jelek. Rista benci Elyana!Benciiiii”“Coba sekarang Rista tenang dulu, jelasin pelan pelan sama Bunda.” Pinta bunda lembut. Dan meluncurlah curhatan Rista.^O^“Nah tuh putri Bunda cantik kan.” Sambut Bunda melihat putrinya telah berganti busana.
“Iya dong, kan Bundanya juga cantik.” Timpal Rista
sembari menempatkan diri di pangkuan Bundanya, mendaratkan ciuman aroma kecap
di pipi sang Bunda.“Sekarang coba, Rista ambilkan Bunda kertas, crayon, kantong plastik, sama kentang.”Beberapa menit kemudian Rista kembali dengan barang barang yang diminta Bunda.“Sekarang ayo Rista tuliskan Elyana dikertas itu pakai crayon.” Ajak Bunda hati hati, mengingat nama itu begitu rawan memancing amarah Rista beberapa menit lalu meski sejatinya Rista dan Elyana adalah sahabat dekat sebelumnya.“Ih Bunda kok pakai nulis namanya Elyana gitu. Rista kan lagi benci sama Elyana!!” tolak Rista dengan wajah manyun lima centi. Menggemaskan sekali.“Makannya, Rista tuliskan nama teman yang Rista benci dikertas lalu kertasnya ditempelkan di kentang tadi, terus dibungkus pakai plastik.”“Abis itu diapain Bunda?”“Abis itu Rista bawa kentang dalam kantong itu kemanapun Rista pergi.”“Kemanapun Bunda?”“Iyaa..kemanapun!”“Pas Rista bobo juga?”“He.emm.” jawab Bunda diiringi anggukan kecil.“Sampai kapan Bunda?”“Seminggu aja deh.” Kata Bunda dengan kerlingan mata meminta persetujuan.Seperti perintah Bunda, Rista menurutinya dengan senang hati. Kentang dengan nama orang yang dibenci itu menemani setiap aktivitas Rista. Dari berangkat sekolah, ke kamar mandi, ke toilet, bermain, hingga Rista tidur. Hal itu berlangsung selama satu minggu.Hari berganti hari, kentang itupun mulai membusuk. Rista mulai mengeluh selain karena berat baunya juga mulai tidak sedap. Dan setelah seminggu Rista merasa lega karena penderitaannya akan segera berakhir.“Bagaimana rasanya membawa kentang selama seminggu sayang?” tanya Bunda begitu melihat Rista pulang sekolah tepat seminggu dari mulainya permainan.Segera keluarlah keluhan Rista. “Enggak enak Bunda. Membawa kentang busuk kemana mana. Bauuuu!” ucapnya sambil menutup hidung.Bunda tersenyum lantas menjelaskan apa arti dari permainan yang mereka lakukan. “Seperti itulah sayang, jika kita tetap menyimpan kebencian yang selalu kita bawa bawa bila kita tidak bisa memaafkan orang lain.”“Iya Bunda.. Rista sudah memaafkan Elyana kok.” Kata Rista dengan wajah menyesal. Menyesal karena menyiakan permintaan maaf Elyana dari seminggu yang lalu.“Allah saja Maha Pemaaf. Jadi sebagai hamba.Nya yang beriman kita juga harus bisa memaafkan kesalahan orang lain. Terlebih jika orang tersebut sudah minta maaf dan menyadari kesalahannya.” Tutur Bunda bijak.“He.emm Bundaaaa.” Ucap Rista gemas pada Bundanya.“Setiap manusia di dunia, pasti pernah sakit hati tapi hanya yang berjiwa ksatria yang mau memaafkan...Setiap manusia di dunia, pasti punya kesalahan. Tapi hanya yang pemberani yang mau mengakui...” Dendang Bunda mengajak bungsunya mengingat lagu favorit putrinya itu.Posted by RisaRiiLeon at 00:13 | Labels: Jendela Anak | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Azalea Di Padang Ratu Boko
Wednesday, 10 July 2013
Bismillah :)
Minggu, 04 November 2012Alhamdulillah SKI FKIP Goes To SKI KMIP UNY Succes :DSaya tidak ingin bercerita mengenai kunjungan anjangsana ini,,saya ingin bercerita tentang setangkai Azalea di tengah Candi Ratu Boko.
Berawal dari satu kalimat ajakan “ Dhek, sini foto!” dan dengan gaya sederhana (kaki melenggang biasa, senyum malu malu yang tak berhasil di tahan serta tangan kanan memegang erat kantong kresek warna hitam) dia menghampiri saya.Umurnya baru sekitar 4 tahun lebih menurut saya, tingginya tidak lebih dari pinggang saya, badannya kurus, rambut tergerai bergelombang dengan poni di jepit oleh pita flanel biru. Gadis itu berbalut gaun warna merah muda, berjaket warna senada, dan bersepatu haq 3 cm warna merah. Nampak dari jauh kamu akan mendapati dia sosok gadis nyonya yang sedang berjalan jalan sore dengan keluarganya, namun dekatkanlah jarak itu menjadi beberapa senti saja dari dia. Cukup 5 centimeter saja.Gaun merah muda itu tak lagi utuh sebagai gaun gadis kecil nyonya. Ada guratan yang membentuk lubang di sana (baca: sobek). Jaket merah muda itu telah bermetamorfosa menjadi jaket putih agak kecoklatan dengan sedikit warna dasar pink yang tertinggal. Sepatu dengan tinggi 3 cm itupun sudah cocok berisirahat di rak sepatu paling bawah dengan kresek hitam membungkusnya. Dan tas kantong plastik hitam itu? Itu bukan bawaan khas Gadis Nyonya bukan?! Seorang gadis nyonya biasanya membawa tas kulit cantik dengan warna cerah berornamen atau bergambar barbie dan berisi sejumlah rupiah, mainan kesayangan, dll. Namun gadis ini membawa tas kantong kresek hitam dengan isi botol air mineral kosong.
“ Adhek, namanya siapa?”“ Bunga Melati.. tapi biasanya di panggil Bunga.” ucapnya teriring senyum polos.“Bunga? Haha Kinanti (entah kenapa saya ingat nama itu :D ).. Bunga yaa ..hmm bagus bagus :) Bunga sekarang kelas berapa?” tanya saya sedikit KEPO haha.“Kelas nol besar.” Jawabnya dengan melangkah sembari memilin bagian bawah gaunnya “mba mba itu yang pake kerudung putih siapa?”“Yang mana, sayang?” tanyaku sambil menyapu pandangan ke sekitar. Mencari sosok yang dimaksud. “oh itu temen mba.. kenapa memangnya?”“ hehe gag papa mba. Hla yang kerudung hitam itu juga temennya mba bukan?”“ iyaa sayang. Semuanya temen mba :) ”Obrolan saya dengan Bunga di dominasi oleh saya sebagai penanya (yah anggap saja saya yang sangat KEPO haha) dan Bunga sebagai Narasumber (oke. Anggap dia korban KEPO :D). Beberapa kesimpulan yang saya peroleh dari perbincangan saya dengan Bunga, yakni:Bunga termasuk siswa yang cerdas menurut saya. Di usia yang terbilang masing dini. 4 tahunan dia sudah mengenal ragam warna. Terbukti saat dia menanyakan ‘siapa mba yang pake jilbab putih itu?’ dan saat dia menyamakan warna jaket, gaun, dengan antingnya dia. Bunga juga tergolong anak yang aktif. Ahah sepanjang saya berjalan dengan Bunga dia tak henti hentinya bergerak melompat layaknya anak kelinci keluar dari lubang yang sempit. Dia juga sosok yng sangat percaya diri. Dia mudah akrab dengan teman saya yang lain. Mau menunjukkan tarian yang diajarinya di sekolah nol besarnya , dan mengajari saya bernyanyi lagu yang dia dapatkan di sekolah. Batin saya bertasbih “Subhanallah!” :) Puji Tuhan Semesta alam J. Hampir saja saya lupa, satu hal yang membuat saya menamai Bunga dengan Azalea. Dia bekerja untuk pendidikannya di usia yang tertulis sangat muda. EMPAT TAHUN. Saya ulang. EMPAT TAHUN (capslock plus ctrl B agar terlihat mengharukan dan jelas :D). Sangat dini untuk mengemban biaya pendidikan.
“Bunga, ayoo turun. Udah sore lo ..nanti ibu nyariin di rumah!” ajak saya saat rombongan saya hendak bersiap meninggalkan jejak di Ratu Boko.“Bunga nanti turunnya.” Jawabnya singkat.“Hlo kenapa memangnya?” tanya saya penasaran.“Nunggu bapak bapaknya yang di atas.”“Kenapa nunggu bapaknya tho nduk?” saya makin penasaran.“Biar dikasih uang buat bayar sekolah”Batin saya “astagfirullah..Tuhan, kenapa harus anak sedini ini?!”Dari percakapan saya dengan Bunga tadi. Bunga bilang ibunya berjualan ( Bunga ndak nyebutin dagangan ibunya) bapaknya bekerja (ndak nyebutin juga kerjaan bapaknya).Dari jawaban dan cerita polos Bunga, saya merasa tertampar. Saya sering mengeluhkan sedikit hal yang membuat saya lelah. Saya sering kurang mensyukuri nikmat-Nya. Astagfirullah :( ....Bunga tidak mengeluh dengan apa yang dia jalani meski dia seorang diri menjelajah Ratu Boko demi sebotol kosong air mineral. Dia masih tetap berdendang lagu pohon cemara sambil melompat ala kelinci “Alice”.^O^Bunga, terima kasih telah menunjukkan ketegaran yang Luar Biasa keren :). Mengispirasi saya :’) dan membuka mata saya untuk tetap bersyukur atas segala nikmat yang teranugrahkan :’) Karena apapun itu dan bagaimanapun itu, percaya lah bahwa itu yang terbaik untukmu saat ini :) Bukannkah Tuhan itu sebaik baiknya sutradara? :)Kelak jika Tuhan mengizinkan. Aku ingin bertemu denganmu sayang :) melihat metamorfosa apa saja yang telah terjadi padamu. :) Sebotol susu dan roti itu mungkin memang tak berpengaruh pada prosesmu. Namun dari sebotol susu dan roti sobek itu, ku selipkan setetes harap. Semoga Tuhan memudahkan langkahmu sayang :) dan semoga kita dapat bertemu kembali :).
Posted by RisaRiiLeon at 14:31 | Labels: Sosok | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
