-
Suara Pena Tanpa Angka
Monday, 7 July 2014
Bismillaahirrahmaanirrahiim :)
Selasa, 8 Juli 2014
"Kamu pilih nomor berapa?" tanyaku dengan binar penasaran yang berantakan.Kamu menatapku sejenak, menghentikan adukan vanila lattemu. Menarik depan jilbabku. Gemas."Satu atau Dua?" kerjarku kian ingin tahu.Kamu masih sibuk mengaduk vanila lattemu yang saya yakin dia sudah manis merata."Nara! Jawab dong!" seruku tak sabar. Menarik gravitasi pandang rekan satu tempat makan, bahkan Aa Burjo ikut memandang, kaget.Kamu tersenyum puas, dan saya tersenyum maaf untuk semua."Nduk Risa Yang Banyak Tanya, saya itu bukan mau beli togel yang harus tahu angka atau nomor. Saya itu mau milih pemimpin Nduk." Jawabmu tenang, dengan dua seruput kopi sesudahnya."Baiklah, saudara Nara Yang Bijak calon pemimpin mana yang akan kamu pilih sembilan juli mendatang?" redamku dengan penasaran yang enggan pergi."Yang amanah dong." Ujarmu singkat, dengan alis terangkat satu. Kode bahwa kamu sepertinya tidak tertarik membahas ini. barangkali muak juga dengan atmosfer demokrasi yang benar benar bergejolak dimasa ini.Beranda sosial media yang ricuh oleh aksi tuding pencitraan pun dengan celoteh puji mendewakan. Belum lagi pemberitaan ragam media yang enggan kalah, menghadirkan salah satu kubu di setiap stasiun televisi swasta koalisinya. Yah, sejatinya sayapun muak. Geliat politik yang mengundang aksi anarki antar pendukung beda kubu, bahkan beberapa jalinan pertemanan terancam punah sebab perbedaan dukungan. Seolah lupa bahwa proses demokrasi ini untuk membhineka.tunggal.ikakan ragam pulau, suku, budaya, pun pandang Indonesia.“Ris, kamu tahu mengapa mereka disebut calon pemimpin, bukan calon ketua?” celetukmu menyelamatkanku dari alam lamun tanpa ujung.“Ah bukannya sama saja? Hanya saja kata ketua sepertiny lingkupnya lebih kecil di banding pemimpin. Kata ketua melekat pada hal terdekat, semacam ketua kelas, ketua RT, dan jajaran ketua ketua lainnya. Kemudian kata pemimpin akan merambah pada Pemimpin Perusahaan dengan ratusan bawahan hingga pemimpin negara dengan puluhan ribu penduduknya.” Jelasku serampangan, memanggil kesadaran penuh bahwa kamu mulai tertarik membahas ini.Bibirmu tersenyum sembari tangan membenarkan letak kacamata yang turun dari singgasananya, posisi berkhutbah, baiklah saya harus siap mendengarkan, “Mereka adalah pemimpin, bukan sekedar ketua. Pemimpin itu memiliki pandangan jauh kedepan sementara ketua hanya sebatas pandangannya. Pemimpin itu menginspirasi, sedangkan ketua tergantung pada kontrol, ketua menyukai sesuatu yang tidak berubah sedangkan pemimpin melakukan perubahan. Ketua melakukan sesuatu dengan benar sementara Pemimpin melakukan sesuatu yang benar. Tindak yang kemudian akan dijadikan teladan oleh umatnya.” Kamu menutup penjabaranmu dengan tenggukan terakhir vanila lattemu. Membabat habis cangkir berkafein itu, pun menyudahi perbincangan kita mengenai hangatnya demokrasi saat ini.Dan masih dengan kesibukanmu memamahbiak menu cemilan malam, dua bakwan dan sebatang pisang ambon, kita melanjutkan bincang. Dengan kamu sebagai pembicara, dan saya pendengar setia.Perbincangan lebih dari satu jam kita yang pertama di enam bulan ini. Liuk Rinjani resmi menyitamu enam bulan ini, dan Rinjani dengan cintanya menganugerahimu pigmen coklat di kulitmu. Menyamaratakan warna tubuhmu dengan pekat lensamu. Kamu makin Indonesia saja, dan rambutmu :3 aaahhh kian gimbal saja :3 Kapan kamu berencana memotongnya Kisanak? -__-“Kan hanya rambut saya yang gondrong, itu juga enggak berantakan-berantakan banget kok. Yang penting saya kan tidak pakai tato, tindik atau semacamnya. Bukannya Nabimu juga tidak melarang memanjangkan rambut ya? Lagian saya kan tidak menyerupakan diri dengan perempuan. Meski gondrong rambut saya tidak ada hiasan pita warna warni atau jepit taman berbunga :3. Ayolah, dont judge a book only the cover. Itu yang pakaiannya rapi malah hatinya busuk, duit rakyat malah buat buncitin perut! :3” belamu selalu. Membungkam dua kata tanya saya mengenai kapan akan potong rambut atau shampoanmu habis berapa ml. :v^O^Masih ada empat puluh lima menit dari pukul sepuluh malam. Jam malam asrama harus dikejar sebelum gerbang ditutup. Mengayuh Vio dan B ke medan Ir Sutami hingga Slamet Riyadi, kamu mengepuk betis, menyabarinya untuk semangat mengantar saya pulang asrama. :D Seharusnya kamj tidak perlu sedramatis itu, apa Rinjani juga membuatmu lupa cara mengayuh sepeda? :P“Salam------jariiiii......!” pamitmu menggodas sembari memutar balik kayuhan. Kembali pada sekelompok rekanmu disana. Saya yakin kamu tidak sedang menuju rumahmu :3Huuu, katanya enggak kampanye :3 Tapi lucu, mengingat tujuh puluh menit lalu. Kamu yang terusik dengan pertanyaan mengapa pilih beliau, alih alih menjawab kamu malah menyangkal.“Sudah ya, saya ndak mau debat sama kamu. Kamu milih siapa ya terserah kamu, saya milih siapa juga terserah saya. Kalau kamu tanya seperti itu sama saja mengundang saya untuk mendebat kamu. Pertanyaan mengapa memilih si itu sama saja dengan memandang kebaikan si itu dan menyandingkan keburukan si ini. Pamali Neng!”Tenanglah, siapa pun pemimpin bangsa ini nanti, pilihan saya atau bukan, saya tetap manusia Indonesia. Tidak ada yang bisa menggantikan dan merebut rasa cinta itu, bahkan jika hati saya patah karena pilihan saya bukan jadi juara. Di atas itu semua, Indonesia adalah tanah, air, udara, dan darah saya. Ibu kita semua. Saya berdoa agar kedamaian terus bersama kita. Saya berdoa agar Ibu Pertiwi ini kian disayangi dan dipelihara oleh anak-anaknya.Saya berdoa, ke arah mana pun Indonesia melangkah dan siapa pun pemimpinnya, cinta yang sama tetap bisa menyatukan kita. Dalam masa paling sulit sekalipun, semoga kita mampu melihat satu sama lain, sesama anak-anak Ibu Pertiwi, dan masih menemukan sosok saudara. Meski saya satu dan kamu dua.Dan saya telah menitipkan mandat, mendukung beliau maju mengusung visi misinya untuk terealisasi, pun mendukung mundur beliau saat tak mampu melunasi janji. Embanlah sebakul amanah ini dalam langkah kebijakan yang tepat sasaran. Tindak nyata atas ragam fakta yang terjadi dilapangan, memilih dengan hati atau logika, saya memilih untuk Indonesia, sebab saya mencintainya. Cinta ini tidak bisa dibeli. Tidak bisa direbut. Dia memang bisa patah, namun waktu akan menyembuhkannya kembali. Ini hanya cinta yang tidak bisa mati. Dan semoga engkau mampu menggenggam terus saat anda memimpin nanti. :”)Posted by RisaRiiLeon at 10:19 | Labels: Cinta Indonesia, Conversation, Kacamata Risa | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta: Jadilah Kupu-Kupu Yang Tak Henti Berproses
Monday, 30 June 2014
Bismillaahirrahmaanirrahiim :)
Kasus Dolly ya?Tiga tahun lalu saya menjadi tim afirmatif dalam debat sebuah mata pelajaran, setuju atas sebuah pernyataan "Lokalisasi". Ya, saya diharuskan setuju dengan pernyataan tersebut, menyiapkan fakta fakta hangat yang pro akan hal tersebut. Lokalisasi seperti yang kita tahu merupakan fasilitas ruhaniah yang merujuk pada kesenangan sesaat. Cerminann masyarakat hedon. Meletakkan kesepian dan ketidakpuasan sebagai biangkeladi adanya lokalisasi. Kesepian akan kehadiran seseorang? Pun kepuasan dalam bersosial dalam hal "Itu".Dalam debat tersebut saya mengusung beberapa point guna menguatkan pernyataan saya. Hal hal yang dipertimbangkan atas berdirinya ruang lokalisasi, hal hal yang katanya positif.1. Dengan adanya Lokalisasi orang orang yang dulunya malu malu muncul di depan umum sebagai pelanggan akan enggan kesana kembali sebab belangnya akan nampak di depan umum. (atau bahkan makin percaya diri dan kehilangan urat malu).2. Sesekali kita dapat menunjukkan kepada anak cucu kita, atmosfer keruntuhan moral serta dampak dampak yang menyertainya. Setidaknya mencegah kepenasaran mereka dan keinginan mereka mengunjungi tempat tersebut dengan petak umpet.3. Kita akan mampu lebih waspada terhadap para pelanggan. Dengan tahu siapa saja pelanggan disana, setidaknya kita bisa menjaga diri dari orang orang tersebut.Hanya tiga point itu yang saya ingat, selebihnya tenggelam dalam keterbatasan ingat saya. Dan nyata meski saya berhasil menaklukan tim yang menolak dengan tegas adanya lokalisasi tersebut, ada segumpal menyesalan yang mengendap di relung hati. Sesak. Menyiksa. Sejatinya saya kalah dalam keegoan. :3Lokalisasi, pembiaran ruang bisnis “esek – esek”. Ramainya ruang yang mengindikatorkan minimalisnya kesetiaan dan pengindahan akhlak dalam masyarakat. Landasan kebutuhan hidup juga keharusan survive menjadi alasan penghalalan jalan mencari makan dan kepuasan. Percaya atau tidak, bahkan mereka paham benar akan makna zina, dosa, ODHA, dan surga pun neraka. Sayangnya mereka meutup mata rapat rapat, enggan sekarat dalam perut yang minta diisi nasi, enggan sekarat termakan ngengat sepi.Kembali pada kasus penutupan Gang Dolly, adalah kebijakan kecil yang semoga disusul dengan tindak sama terhadap sarkem Yogya, remang RRI Solo, juga tempat tempat serupa lainnya.Sekalipun mereka adalah penyedia jasa. Mereka pun menjadi jembatan dosa melawan kesetiaan. Khawatir jika banyak dibuka Dolly Dolly lain secara sembunyi sembunyi? Khawatir jika pasangan bermain kucing kucingan mengunjungi atap Dolly yang malah kian mempelosok tersembunyi rapat? Khawatir ada perut buncit keroncongan meraja lela sebab lapangan kerja ditutup?Baiklah, mendekat sini biar saya bisiki sesuatu daripada kamu berteriak hingga serak namun tak bertemu jalan tengah, daripada kamu merintih pada Tuhan untuk penerangan jalan sesat.Ku kenalkan kamu pada dua sosok tangguh, Sarinah dan Dasima yang lahir dari rahim kritis W.S. Rendra. Jika kamu tak ingat sebab beda masa yang jauh. Tenang saja, ada Diva yang meringkuk nyaman di paragraf Supernova milik Dee. Mereka bertiga akan mengajakmu melawan dengan tepat aksi penutupan sebuah remang lapangan kerja.^O^Bersatulah Pelacur – Pelacur Kota JakartaOleh W.S RendraPelacur-pelacur Kota Jakarta
Dari kelas tinggi dan kelas rendah
di ganyang
Telah haru-biru
Mereka kecut
Keder
Terhina dan tersipu-sipu
Sesalkan mana yang mesti kau sesalkan
Tapi jangan kau lewat putus asa
Dan kau relakan dirimu dibikin korban
Bisikan Rendra jelas membawa pengangkatan derajat perempuan. Terkhususkan perempuan yang tersisih dalam kehidupan berlatar belakang negatif oleh mayoritas masyarakat. Dan tentu, Rendra sedang membicarakanmu ah tidak tepatnya menguatkanmu untuk melawan. Bahkan ia mengorbankan diri untuk proses penyebaran pengaruhnya ini. dia abaikan mata mata yang menatapnya sebelah.Memaknainya lebih dari sekedar sajak liris, “Bersatulah Pelacur – Pelacur Kota Jakarta” adalah penggambaran realita dalam masyarakat. Atas nama penolakan tindak pengucilan masyarakat kepadamu dia bertutur melalui sajak. Dan biar bagaimanapun kamu adalah bagian dari saya. Perempuan. Pemaknaan atas diksi “Pelacur” mempertegaskan bahwa Rendra tak main main membela kaum perempuan yang tersisihkan. Ia paham benar bagaimana kehidupan terbalut ketakutan akan hukum yang tidak berpihak padanya. Kehidupan yang dirundung malu mengakui sebuah mata pencaharian sebab terpandang hina oleh kontruksi sosial serta norma bermasyarakat. Meski ada dari kamu yang duduk manis terselubung kehormatan di “Tingkat Tertinggi” yang tak semata melakukan pekerjaan untuk pemehuhan kehidupan sehari hari, namun tetap saja hidup dalam kaum persembunyian.Ya sayang. Terkadang masyarakat begitu kejam dalam tatapnya. Rendra dengan bijak memanfaatkan diksi “Pelacur” tak sebatas pada sebuah profesi bawah tangan, tapi disanalah tersimpan rapi dibalik kekejaman serta ketidakadilan yang dialami perempuan. Bentuk tranfosmasi liris dari relitas kehidupan sosial yang ada dalam kehidupan lapangan.Wahai pelacur-pelacur kota Jakarta
Sekarang bangkitlah
Sanggul kembali rambutmu
Karena setelah menyesal
Datanglah kini giliranmu
Bukan untuk membela diri melulu
Tapi untuk lancarkan serangan
Karena
Sesalkan mana yang mesti kau sesalkan
Tapi jangan kau rela dibikin korbanBenar! Kamupun bagian dari perempuan yang diperjuangkan emansipasinya oleh R.A Kartini. Jika dulu perempuan dikucilkan sebab pendidikan yang dianggap tabu serta melanggar nilai, nyata kamu terpinggirkan sebab aksi persembunyian mata pencaharian. Maka kamupun layak berjuang dari status sosial yang terpandang negatif oleh masyarakat. Rendra dengan lugas mendobrak kebenaran atas keberadaanmu dibalik tirai kelam gedung-gedung birokrasi.
Sarinah
Katakan kepada mereka
Bagaimana kau dipanggil kekantor menteri
Bagaimana ia bicara panjang lebar kepadamu
Tentang perjuangan nusa bangsa
Dan tiba-tiba tanpa ujung pangkal
Ia sebut kau inspirasi revolusi
Sambil ia buka kutangmu
Dan kau Dasima
Khabarkan pada rakyat
Bagaimana para pemimpin revolusi
Secara bergiliran memelukmu
Bicara tentang kemakmuran rakyat dan api revolusi
Sambil celananya basah
Dan tubuhnya lemas
Terkapai di sampingmu
Ototnya keburu tak berdaya
Politisi dan pegawai tinggi
Adalah caluk yang rapi
Kongres-kongres dan konferensi
Tak pernah berjalan tanpa kalian
Kalian tak pernah bias bilang ‘tidak’
Lantaran kelaparan yang menakutkan
Kemiskinan yang mengekang
Dan telah lama sia-sia cari kerja
Ijazah sekolah tanpa guna
Para kepala jawatan
Akan membuka kesempatan
Kalau kau membuka kesempatan
Kalau kau membuka paha
Sedang diluar pemerintahan
Perusahaan-perusahaan macet
Lapangan kerja tak ada
Revolusi para pemimpin
Adalah revolusi dewa-dewa
Mereka berjuang untuk syurga
Dan tidak untuk bumi
Revolusi dewa-dewa
Tak pernah menghasilkan
Lebih banyak lapangan kerja
Bagi rakyatnya
Kalian adalah sebahagian kaum penganggur yang mereka ciptakan
Namun
Sesalkan mana yang kau sesalkan
Tapi jangan kau lewat putus asa
Dan kau rela dibikin korban
Pelacur-pelacur kota Jakarta
Berhentilah tersipu-sipu
Ketika kubaca di koran
Bagaimana badut-badut mengganyang kalian
Menuduh kalian sumber bencana negara
Aku jadi murka
Kalian adalah temanku
Ini tak bias dibiarkan
Astaga
Mulut-mulut badut
Mulut-mulut yang latah bahkan seks mereka politikkan
Saudari-saudariku
Membubarkan kalian
Tidak semudah membubarkan partai politik
Mereka harus beri kalian kerja
Mereka harus pulihkan darjat kalian
Mereka harus ikut memikul kesalahan
Saudari-saudariku. Bersatulah
Ambillah galah
Kibarkan kutang-kutang mudih ujungnya
Araklah keliling kota
Sebagai panji yang telah mereka nodai
Kinilah giliranmu menuntut
Katakanlah kepada mereka
Menganjurkan mengganyang pelacuran
Tanpa menganjurkan
Mengahwini para bekas pelacur
Adalah omong kosong
Pelacur-pelacur kota Jakarta
Saudari-saudariku
Jangan melulur keder pada lelaki
Dengan mudah
Kalian bias telanjangi kaum palsu
Naikkan tarifmu dua kali
Dan mereka akan klabakan
Mogoklah satu bulan
Dan mereka akan puyeng
Lalu mereka akan berzina
Dengan isteri saudaranyaSaya paham tidak mudah lepas dari jerat lorong pekat itu, benar bahwa membubarkan partai Politik lebih mudah dibandingkan membubarkan lapak lapak itu. Hanya saja, bukankah ini penawaran pantang tolak agar kamu terbebas dari lingkaran setan lapar itu? Setidaknya aksi tegar Bu Risma adalah wujud nyata pembelaan atas kamu. Dia bahkan membukakan pintu untukmu kembali bermasyarakat. Dana kompensasi itu berupa buku tabungan senilai Rp 5.050.000. itu memang tak sebanding dengan rupiah bertahun kalian disana. Hanya saja, bersama niat melawan dan tindak enggan bergantung pada lumpur pekat, gunakanlah itu. Membuka usaha dengan lihainya tanganmu meracik kopi, teh, bakwan, pun dengan kuliner lain yang biasa kamu makan. Bisa juga kamu lawan dengan kelincahanmu melukis wajah di depan cermin pun dengan aksi memangkas rambut rambut guna memperindah raga. Saya percaya, kamu mampu dan bisa.Jadilah kupu-kupu yang tidak berhenti bermetamorfosis :”) Tak bergantung pada pekat malam yang penuh fana pun dengan siang yang banyak tak disangka. :”). Kamu, Saya adalah Perempuan yang harus tetap berjuang :”)Posted by RisaRiiLeon at 23:29 | Labels: Kacamata Risa | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Bismillaahirrahmaanirrahiim :)
Senin, 23 Juni 2014Masih mengemban judul sama “Mahasiswa Pengangguran Nyari Kegiatan”, saya menyusup dalam lingkaran anak anak SIM UNS, mengikuti jejak mereka untuk bermalam di sebuah atmosfer pendidikan. Setidaknya keikutsertaan saya tak serta merta sebab aksi penyusupan ini :P ada sebuah pamflet beredar bebas di beranda sosial saya :D Membawa jargon “Sejenak Menatap Sungai” saya percaya undangan itu dibuka untuk umum :DBerenam motor kami berangkat selepas menggugurkan tiga rekaat magrib dan meredam kelaparan di warung Mbok Warni. Perjalanan memakan waktu satu jam lebih, bukan sebab tempat yang begitu jauh, hanya saja di tengah perjalanan kami sempat terpencar dan harus saling menunggu untuk kembali utuh. Sembari menanti kamipun melunasi isya dalam empat rekaat berjamaah. Melanjutkan perjalanan menuju pondok ilmu belajar.^O^Dalam radius satu lima ratus meter hidung saya mencerna sebuah wangi khas. Semacam pengawetan kayu dengan luluran pernis, pun dengan usia kayu yang telah bersenyawa dengan udara. Sepertinya memang banyak pengusaha kayu di daerah ini. Gondangsari, Juwiring, Klaten.Dan bersama detak waktu pukul sepuluh malam kami tiba. Di sambut oleh riuh anak anak yang berkolaborasi dengan kobaran bara serta aroma jagung. Menyapa beberapa dari mereka, saya sepintas lalu menatap sekitar. Ah ya, saya teringat sosok Alice. :D Saya merasa terjatuh ke dalam lubang kelinci, tanpa harus meminum cairan pengecil ataupun makan roti pembesar saya telah masuk dalam istana Ratu Merah. Hanya saja, istana Ratu Merah telah bermetamorfosa menjadi ladang Rapunzel. Pasukan Ratu Merah pun menjelma menjadi bocah bocah kelebihan energi yang pukul sepuluh malam belum memeluk gulingnya :3Membiarkan bocah bocah itu menyalurkan energi bersama bongkahan jagung, langkah kami tertuntun untuk memasuki sebuah forum. Menilik dari penampilan dan pembahasan forum tersebut, yakinlah bahwa kami memasuki ranah kelas orangtua. Menyimak tiap dialog juga slide presentasi, kami memilih diam dan tak banyak cakap. Saya percaya, nanti ada masanya untuk menyerbu seorang di sana dengan banyak tanya. Setidaknya beliau harus bertanggung jawab kepada semua tanya yang beranak pinak dalam benak saya :3Tentang kegiatan macam apa ini? Mengajak orang tua berbincang sementara membiarkan anak anak riuh hingga tengah malam?Tempat belajar macam apa ini? Menyusupkan dunia Rapunzel dalam susunan kayu yang katanya sebagai area ilmu?Nyaris satu jam kami menyimak sembari menahan diri untuk tidak banyak tanya. Setidaknya kami belajar untuk sedikit tahu diri, bahwa forum ini bukan ranah untuk menjawab kepenasaran sekelompok mahasiswa yang pastinya sudah pernah ditanyakan banyak mahasiswa sebelum kami.^O^Sekali pandang dia tidak jauh berbeda dengan bapak bapak pada umumnya. Dengan pakaian resmi bapak bapak rumah tangga berupa sarung, kemeja longgar dengan beberapa kancing atas di bebaskan dari kekang, rambut tak tumbuh merata di kepala, juga sebaris kumis yang tetap di singgasannya, demikian deskriptif sekali pandang sosok tersebut. Orang sekitar menyapanya dengan panggilan Pak Yudi. Itu jika sekali pandang, namun jika kamu memandangnya sekali dan diselingi cuap cuap pendidikan, nahh nampaklah wujud asli sosok cadas dibalik cover sederhana itu.Beliau mengaku hanya tukang kayu yang prihatin dengan muramnya wajah pendidikan Indonesia. Sikap keprihatinan yang terwujud dalam tindak peduli membangun lahan dan menyihirnya menjadi wonderland a la Kakek Gepeto. :v Yups, saya baru benar benar sadar sejauh paragraf ini. Bahwa beliau serupa dengan Kakek Gepeto :D Yeay!Ingat bukan? Bagaimana Kakek Gepeto si Pengrajin Kayu itu memberikan jiwa untuk sebongkah kayu yang ia cinta sepenuh hidupnya. Selama ini kayulah yang menghidupinya, membuat asap dapurnya tetap mengepul, hingga suatu saat ia berniat untuk menghidupkan kayu. Ya, menghidupkan sesuatu yang menghidupinya. Dengan semboyannya Kakek Gepeto abad milenia “ Membangun dari bawah, merombak dari atas ” ia mulai membekali kayu kayu itu dengan jiwa pebelajar. Membuat Pinokio bernyawa.Hijaunya sawi sawi di lahan sekolah, penuhnya buku buku di perpustakaan dengan tulisan tangan, jahe jahe yang ramai bergerombol, juga maraknya aksi empati satu sama lain adalah wujud nyata dari terjiwainya kayu kayu itu. Iya sayang, kayu kayu itu adalah anak anak yang katanya penerus bangsa itu. Manisnya surat tujuan dan fungsi pendidikan dalam perundang-undangan nyata tak sejalan dengan manisnya dunia pendidikan yang malah menjadi sangat miris. Pendidikan formal, khususnya sekolah formal, faktanya hanya menghasilkan manusia manusia boneka, penghafal tanpa amal. Paham benar satu ditambah satu itu dua, namun lupa pada probabilitas lainnya. Bahwa satu tambah satu tidak selalu dua, namun jauh dari satu ada dua puluh tujuh sebagai jawaban satu ditambah satu. *IfYouKnowWhatIMeant. Pun dengan pemaknaan ikhlas, sejak kapan ikhlas begitu renyah dikumandangkan dalam jawaban “Iya Bu saya ikhlas kok?” bahkan dalam Al-Ikhlas tak selarikpun ada kata ikhlas.Kamu masih butuh bukti bahwa anak-anak sekolah sekarang tak jauh berbeda dengan bonek kayu tanpa nyawa? Ayolah, ingat bagaimana kita dulu harus menghafalkan materi ujian bahkan saat saya belum paham makna dari apa yang saya hafalkan. -_- Ingat bagaimana kita menghafalkan jumlah simetri dari tiap bangun datar tanpa tahu bagaimana simetri itu terbentuk? Ingat bagaimana kita sibuk menghafalkan proses deduksi dan induksi perpindahan panas tanpa kita pernah tahu bagaimana proses itu berjalan? Ingat bagaimana senangnya kita saat pelajaran olah raga itu ada dijadwal kita, kelas bebas kita mencoba apapun tanpa harus menghafalkan. Kita tak butuh hafal berapa derajat sudut jitu untuk melempar bola kasti agar mampu mengantar kita pada home run. Kita tak butuh hafal seberapa besar energi yang dibutuhkan untuk melompati kayu lompat tinggi. Kita hanya perlu melakukan tanpa takut kesalahan. Ahhh bagi saya mengalami sendiri selalu lebih efektif untuk paham materi dibanding kita memandang saja. :PMasih belum cukup? Ingat bagaimana lowongan tentor bimbingan belajar itu menjamur di papan papan pengumuman kampus? Dengan kualifikasi sedemikian rupa, mereka diharuskan mampu mencetak bocah bocah hafal materi, bocah bocah pemilik ranking di kelas. Bocah bocah korban keegoisan orang tua, pemerahan masa perkembangan anak. -_- menyeragamkan kecerdasan hanya dalam kemampuan logika, aljabar, hingga dialektika :3 Dudek! Korban dari Perkembangan Anak adalah Kompetisi =,= menutup mata bahwa setiap anak memiliki tahap perkembangannya masing masing, menutup mata bahwa setiak anak istimewa dengan potensinya.Iya, hal tersebut masih bergantung pada pola asuh serta pribadi masing masing. Tak jarang kok orang yang berempati tinggi dan baik baik saja dalam berprestasi. Banyak pula yang berhasil dengan sekolah formalnya tanpa harus menjadi boneka orang tua. Tapi berapa persen dari jumlah keseluruhan anak didik di negeri tercinta ini?Dan mengenai ketimpangan presentase tersebut Sekolah Alam Bengawan Solo yang kemudian saya sebuat SABS beralamat di Panjangan Rt/Rw: 01/01 Gondangsari, Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah hadir. SABS adalah sekolah alam pertama yang saya kunjungi dan saya kuliti dalam obrolan dengan si pendiri meski konsep sekolah alam sendiri sudah pernah saya dengar dari Om Dik Doank dkk. Membawa kata beda dengan sekolah alam lainnya, ada semacam spesifikasi pengembangan potensi di sini. Melalui sistem pendidikan sekolah alam yang masih berlandas pada UU No 20 tahun 2003 Bab II Tentang Dasar, Fungsi, dan Tujuan Pendidikan beliau mengajak peserta didik untuk melakukan upaya pembiasaan dalam sebuah perilaku sehingga mengakar menjadi sebuah karakter/kepribadian/watak. Sebab pendidikan ialah tentang membangun peradaban, bukan proses penyeragaman budaya dan potensi. -_-BAB IIDASAR, FUNGSI DAN TUJUANPasal 2Pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara RepublikIndonesia Tahun 1945.Pasal 3Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watakserta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupanbangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusiayang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis sertabertanggung jawab.Dan delapan karakter yang diam diam disisipkan melalui keragaman kegiatan mereka adalah:1. Cinta Kebenaran dengan wujud sikap jujur, adil, juga amanah.2. Kekuatan Kehendak dengan wujud sikap optimis, inisiatif, tegar, bersungguh – sungguh, juga disiplin.3. Ambisi tinggi dengan wujud sikap berprestasi, dinamis, pun menjaga kehormatan.4. Kesabaran dengan wujud sikap tenang, lembut, konsisten, santun, dan menjaga rahasia.5. Rasa Kasih Sayang dengan wujud sikap pemaaf, empati, penolong, serta berbakti.6. Naluri sosial dengan wujud sikap persatuan, bersih hati, menutup aurat dan berbudaya malu.7. Cinta Sesama dengan wujud sikap berbuat baik dan persaudaraan.8. Kedermawanan dengan wujud sikap pemurah, hormat, mendahulukan orang lain.Kedelapan karakter yang terwujud dalam beberapa kegiatan sarat makna semisal kegiatan Rabu Legi yang mengajak anak menjajakan produk kreatif mereka. Tak melulu soal laba dan rugi, namun lebih mengajak anak untuk berani mencoba dan percaya pada buah kreatifnya bisa diterima lingkungan. Kemudian Green Lab, agenda bercocok tanam yang mengajak anak untuk tidak lupa bahwa selain nenek moyang seorang pelaut, juga ada kakek moyang seorang petani. Bahwa Indonesia tak hanya maritim namun juga agraris. Pun kegiatan Bermain Permainan Tradisional yang menstimulus perkembangan psikomotor anak, meningkatkan kinestetik agar lincah melangkah. (Saya pernah membahas ini di sini). Masih dalam rangka pembiasaan, PR merekapun tak berupa soal soal bernomor banyak dan berjawaban rumit. PR mereka adalah catatan amal yaumi mereka dalam rangka membantu orang tua. Ahh manis sekali. Tak hanya persoalan akademik dan pengembangan potensi namun juga mensinergikan pendidikan formal dengan pendidikan informal.^O^Dan aksi flash freeze mob: Save Bengawan Solo #sabsfest02 mendekatkan saya dengan manisnya tingkah mereka. :”) Merapal beberapa nama yang dengan penuh perjuangan saya hafalkan :v Sati, Cikal, Lita, Fergy, Bening, Anis, Umi, Ihsan, huwaaa saya belum hafal benar rupanya :3. Satu jam lebih kami berada di tepi jalan, menggelar karya tangan atas nama penyelamatan kebeningan sungai Bengawan Solo ini. Aksi sederhana untuk saling mengingatkan sesama, bahwa manusia adalah khalifah. Makhluk ciptaan termulia yang wajib menjaga semesta. :”)Jingga ufuk timur mengantar kepulangan kami dengan rutinitas mahasiswa. Mengaminkan harap untuk dapat berkunjung kembali pun dengan menimba ilmu dari Kakek Gepeto :”) Semoga ada kelak saya di sana. Aamiiin.^O^
Foto By Risa Rii LeonPosted by RisaRiiLeon at 06:41 | Labels: Cinta Indonesia, Conversation, Kacamata Risa | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |