Rss Feed
  1. Fatah ^^

    Saturday, 7 December 2013

    Bismillaahirrahmaanirrahiim :)


    Minggu, 08 Desember 2013


                Tertanggal 13 Desember 2013. Nyaris setahun yang lalu. Saya mengunjungi ruang kenangan itu. Menemukan sesosok raga yang mencuri perhatian dan kasih sayang beberapa bulan lamanya. :”) Hai Fatah Sayang :”)
                Namanya Fatah. Sulung dari tiga bersaudara. Dinda dan Najwa dua adik perempuan yang tak jauh beda dalam hal usia. Mereka selalu saja mengundang bahagia tiga  hari dalam seminggu. Senin, Rabu, Jumat, atau Selasa, Kamis, Jumat. Tiga hari dalam seminggu selepas dzuhur. Melalui seorang rekan saya diperkenankan menemani Fatah mengeja huruf.
                Dengan Ibu yang masih muda dan cukup paham pergaulan masa kini, bertuturlah sang Ibu tentang kondisi Fatah pada saya. Dengan harap saya memiliki tindakan bjiak untuk sang buah hati juga agar saya lekas beradaptasi.
                Fatah baru masuk beberapa bulan disekolah dasarnya yang dekat rumah. Mengikuti segala pelajaran sesuai irama. Sayangnya irama yang didendangkan Fatah berbeda dengan irama yang dinyanyikan rekan rekannya. Fatah yang tidak bisa diam, Fatah yang tak bisa fokus dalam jangka waktu lama, fatah yang ini fatah yang itu, ini itu yang pada akhirnya membuat rekan rekannya merasa terganggu. Ini itu yang pada akhirnya membuat gurunya meneriakinya ‘sakit’. Ini itu yang membuat lingkungan memperlakukannya dengan tatap ‘ihh!’ tatap ‘enggan mendekat.’ Tatap ‘awas berbahaya’. Dan dari tatap tatap itulah Fatah kian mengecil, menyublimlah semangat Fatah untuk belajar, yang ada hanya tekanan, tuntutan, juga ketiadaan teman. Fatah ingin punya teman, fatah ingin diperhatikan seperti yang lain, fatah ingin belajar. Dinding ingin yang jebol hingga membuahkan tantrum, dan Fatah pulang dalam kondisi terpasung!
                “Astagfirullah!” pekik saya tertahan membayangkan anak seusia Fatah terpasung hanya sebab kata orang dewasa ‘nakal’? Hei, siapa yang berlebihan disini? -_-
                Ibu Fatah menerima kepulangan fatah kerumah dengan linangan air mata, tak tega melihat buah hatinya didera sedemikian rupa. Dari sekian banyak guru di sekolahnya kenapa tidak ada yang mampu mengontrol Fatah sehingga memilih memasung Fatah kecil.
                Ya Rabbi, sepertinya mereka lupa pada fungsi hati yang mendamaikan itu. :”(.
                Ibu Fatah seperti yang saya bilang tadi. Ibu muda dengan tiga anak kecil kecil (Fatah kelas 1, Dinda TK, dan Najwa baru merangkak *pentingnya memikirkan jeda memiliki anak :3) bukan menutup mata pada keistimewaan Fatah itu. Beliau memang tidak tahu tentang gejala yang mengindikasikan bahwa Fatah mengalami ADHD (Attention Defisit Hyperactivity Disorder / Hiperaktif, kondisi dimana anak memiliki kelebihan tenaga sehingga membuatnya nampak tidak pernah lelah), beliau bari tahu setelah kejadian yang dialami Fatah disekolah. Beliau menyekolahkan Fatah di sekolah dasar dekat rumah berharap akan lebih mampu mengontrol pergaulan dan kondisi Fatah, mengingat ada dua makhluk cantik dirumah yang juga masih sangat butuh perhatian. sayangnya harap tak sesuai nyata. :3 Pihak sekolah malah menyalahkan keputusan sang Ibu sebab menyekolahkan Fatah di sekolah umum :3.
                Mendengar fakta adanya sikap guru yang demikian, sunggu mengiris hati :3. Karakter guru yang mengayomi menguap bersama bubuk detergen dipakaian mereka saat dijemur. Membuat hati mereka gersang tandus tanpa kesejukan . :3 Bahkan sudah menjadi tugas guru untuk dapat membantu siswanya dalam belajar. Membuat yang bodoh menjadi pintar, pintar menjadi cerdas, cerdas menjadi super cerdas. Dan dalam kasus Fatah, sudah seharusnya guru mampu membantu Fatah untuk lebih dapat fokus, dapat diterima teman temannya, bukan malah ikut membedakan. :3 Mengganti model pembelajaran menjadi lebih kreatif sehingga tidak menyisakan siswa untuk berpaling dari materi misalnya, membuat proses belajar semenarik dan seinteraktif mungkin. Bukankah ketika siswa tidak bisa fokus dan tertarik pada obyek lain adalah tanda ada yang perlu diperbaiki dari cara kita menyampaikan materi? Bahwa itu terguran tersirat bahwa kita masih perlu berbenah? Bukan lantas menyalahkan siswanya dan menjudge mereka tak bisa menyesuaikan! Tugas guru kan juga membuat semua potensi dan prestasi terstimulus dipermukaan tindak. Merangkum semua kemampuan agar terekplore secara optimal, bukan semata membandingkan satu sama lain dalam peringkat kelas dan nilai rapor :3. Jika ada satu yang berbeda ya berarti harus memiliki cara untuk tetap merangkulnya agar mampu setara dan membaur bersama rekannya.
                Dan ya saya akan berusaha menjadi teman belajar Fatah yang baik. :”)
                Sangat paham pada banyak kemungkinan. Bahwa barangkali Fatah akan cepat bosan, susah fokus, selalu bergerak, minta ini itu dll. Benar benar harus kreatif. Memikirkan permainan edukatif, menyisipkan pembelajaran dalam permainan kami. Saling lempar soal pertambahan pengurangan saat tos tosa, bermain abcd untuk kemampuan berbahasanya, tebak gambar meski saya tak pandai menggambar, juga permainan sederhana lainnya.
                Pernah saat Fatah barangkali sedang terlalu lelah sebab kurang istirahat (ADHD sering lalai untuk istirahat sebab kapasitas tenaga mereka membuatnya selalu ingin bergerak) Sebuah kata ganti –nya menyulut tantrumnya. Melempari saya dengan alat belajar terdekat *seusai saya menjauhkan gunting dan cutter pengasah pensil. Buku, pensil, penghapus, penggaris, semua melayang, mengarah pada saya. hati saya banjir. Takut dan sedih. Takut jika Fatah patah semangat untuk belajar. Sedih sebab saya belum mampu benar benar mengoptimalkan fungsi diri untuk menemaninya belajar. Tapi, diantara takut dan sedih itu ada seutas rasa tertantang untuk mampu mengontrol Fatah yang undercontrol.
                Saya merapikan alat alat tulis, buku buku saya masukan ke dalam tas serta memasang wajah datar seolah lelah dan menyerah.
                “Ibu ngapain beres beres!” bentaknya menghentikan aksi melempari saya.
                “Mau pulang Fatah. Kan Fatah udah enggak mau belajar sama Ibu, terus ngapain dong Ibu disini? Fatah istirahat aja, enggak usah belajar lagi sama Ibu, ya?” tawarku tanpa dosa. Enggan mempedulikan tantrumnya.
                “Tapi itu belum selesai nulisnya!” Yes! Dia terpancing.
                “Laa kan Fatah enggak mau nurut sama Ibu. Kan kalau Fatah lagi belajar harus nurut sama Ibu, bukan Ibu yang nurut sama Fatah.” Belaku teriring senyum.
                “Fatah enggak suka sama orang tua! Sukanya ngatur ngatur!”
                “Ngatur gimana? Kan orang tua Cuma ingin Fatah itu nurut buat belajar. Katanya Fatah ingin jadi Dokter biar bisa ngobatin Najwa kalau Najwanya sakit (Fatah tidak terlalu suka dengan Dinda, haha mungkin salah satu indikasi sibling rivalry), terus bisa beli mobil buat jalan jalan sama ibu (hari pertama saya bertanya cita citanya Fatah, dan dia cerita hal itu haha) Nah buat jadi dokter itu harus cerdas Fatah, buat jadi cerdas ya harus rajin belajar.” Jelasku pelan namun disertai intonasi penekanan halus.
                “Tapi Fatah enggak mau nulis –nya!”
                “Yaudah kalau gitu, Ibu pamitan pulang ya Fatah.” Kataku sembari beranjak.
                “Ck! Huh! Ini nulisnya diselsein dulu Bu!” teriaknya menahan saya pergi.
                “Fatah masih mau belajar sama Ibu?”
                “Mau.” Lirihnya. Merapikan alat tulis dan buku yang tadi melayang ke banyak arah.
                Dan ya Fatahpun meneruskan kalimatnya hingga mencapai titik. Menatapnya yang sudah tidak seperti dua puluh satu lima puluh lima detik lalu, sungguh membuat hati basah. Ya Rabb, anak sekecil ini :”) betapa pemurah.Nya Engkau menitipkan hikmah.
                “Fatah, kalau kita jahat sama orang dan membuat orang itu sakit kita harus?” Pancingku seusai proses belajarnya.
                “Minta maaf kan Bu?” teriring senyum semula.
                “Iya Fatah.”
                “Ibu, kelingking Ibu mana?”
                “Ini?”
                “Fatah minta maaf ya Bu tadi nakal sama Ibu.”
                Dan dua kelingking satu besar satu kecil itupun bertaut bersama dua empunya senyum dan detak jam pukul lima sore. Saya hanya mengacak ngacak poninya, berpamitan bersama Vio diparkiran depan, memastikan untuk pertemuan selanjutnya dia sudah tidur siang.
                “Ibu Hati hati di jalan ya Bu.” Selorohnya sembari mencium punggung tangan saya.
                “Iya sayaaang. Fatah dikerjain PR nya yaa...” kedipku mengingatkan.
                Sore itu tanpa gerimis yang mengundang, hati saya berdendang lega dan bangga. Lega untuk senyum Fatah yang kembali, bangga pada semangat belajar Fatah. :”) Ya Rabb, terima kasih. :*
                Dimana Fatah sekarang?
                Fatah masih diterapi untuk penanganan ADHD yang lebih profesional. Saya pernah membincangkan Fatah dengan kakak perempuan tersayang saya, menceritakan banyak hal mengenai saya dan Fatah. Dan sepertinya jika strategi yang saya terapkan untuk Fatah terus berlanjut maka bukan kemandirian yang timbul pada diri Fatah, melainkan kelekatan pada saya. Hmmm efek ketidakmampuan saya marah dengan Fatah (juga anak orang lainnya :3). Dalam benakk saya kala itu, yang penting Fatah masih ada minat untuk belajar, untuk kemandirian biarlah berjalan dalam proses belajar kami. Membiarkan sebuah kedekatan itu nyata untuk kemudian berlahan mengajaknya untuk lebih mandiri. Ya itu cita cita jangka panjang saya pada proses kami. Dan Allah berkehendak lain. :”) Fatah diharuskan dibimbing oleh ahlinya. :”)
                Sesekali Fatah sms saya, :D menanyakan kapan saya akan bermain ke rumahnya, menanyakan anak saya (Saya pernah membawakan buku mewarnai untuk Fatah, dan ternyata ada satu halaman yang sudah diwarnai adik saya. Nah Fatah tanya, ini yang mewarnai anak ibu ya? Saya sih hanya tersenyum meng.iya.kan :D) :”D
     

  2. Bismillaahirrahmaanirrahiim :)


    Sabtu, 7 Desember 2013

    top-cerpen.blogspot.com


               
                Assalamualaykum.Wr.Wb Bundaa :”)
                Bunda, Nanda mau cerita.
                Bunda, meski sejatinya cita cita Risa itu bukan menjadi seorang guru (Iya, Nanda masih ingin menjadi seorang Psikolog yang menulis dan nyambi menjadi pendidik) namun Tuhan dengan segala keindahan rencana.Nya menuntun Nanda untuk menimba ilmu di sebuah Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan. Semenjak itu Bunda, Nanda merawat benih ingin menjadi pendidik itu dalam sanubari Nanda. Setidaknya masih ada kepingan mimpi Nanda yang tercapai dalam jalan yang Nanda tapaki ini. Nanda sangat percaya, terkadang kita memang harus menjadi orang lain dulu untuk dapat menjadi diri sendiri. Iya, Bunda, seperti Jalan Memutar yang sering kita bincangkan sebelum tidur.
                Meniatkan diri untuk menjadi seorang pendidik dulu. Mengucap cinta padamu dalam bentuk kontribusi turut mencerdaskan anak bangsa. Meski jalan terjal, namun lika liku itu membuat Nanda banyak belajar kok Bund. Belajar untuk ikhlas terutama, :”D Iya seringkali apa yang kita harapkan tidak sesuai dengan nyata.
                Tapi kali ini Nanda tak habis fikir Bund. Ketika Nanda meniatkan diri untuk memberikan tenaga pendidik dengan ide ide yang liar siap terapkan pada calon anak anak didik Nanda kelak. Ketika banyak cara kontrutivistik mentransfer ilmu pada calon anak didik Nanda. Ketika semangat Agent Of Change dalam diri Nanda begitu meletup guna mengembalikan senyum Bunda, kenapa banyak kakak yang seolah mempersulit langkah kami Bund. :”(
                Bunda sudah mendengar kan? Isyu mengenai kebijakan baru pada saat Nanda lulus kelak. Ketika Nanda lulus dengan menggandeng gelar Strata I, Nanda diharuskan menempuh pendidikan lagi selama satu tahun dengan nama program pendidikan keprofesian gitu Bund. :”( Masa waktu empat tahun itu masih kurang cukup untuk mengemban amanah sebagai pendidik sih Bund? :”( Padahal kan selama empat tahun itu Nanda sudah akan diberi banyak materi berkenaan dengan hal hal yang mungkin kelak Nanda hadapi di kelas Nanda. Dari materi tentang psikologi perkembangan calon anak didik Nanda, tentang psikologi pendidikannya, tentang dasar dasar pendidikan, tentang ragam kurikulum yang pernah terjamah dalam sistem pendidikan kita, managemen pendidikan, strategi pendidikan, dan segala macam kesenian baik tradisi maupun modern penunjang motorik kasar maupun halus dll. Materi materi yang telah mereka susun untuk membekali Nanda di lapangan kelak. Dan pada enam bulan ke tujuh Nanda juga sudah akan di beri kesempatan untuk mengaplikasikan bekal ilmu itu. Dan kamu tahu Bunda? Lapangan itu tak terdefinisikan dalam teori Bund, membaur dengan obyek masa depan kita itu tak terperikan indahnya Bund. Penuh pembelajaran sangat. Lalu setelah itu Nanda diberikan ruang untuk membuahkan pikir dalam bentuk skripsi, bentuk buku dari sinergisitas teori yang ada dengan aplikasi dilapangan yang kita amati. Empat tahun membuat Nanda seolah kenyang teori Bund, kenyang materi materi yang disampaikan dikelas dengan posisi Nanda sebagai siswa.
                Bunda, ingat prinspi trial and learn yang waktu itu Bunda ajarkan lewat kisah para pahlawan dalam melawan penjajah dengan banyak cara itu? Nah Nanda ingin menggunakan prinsip itu Bund. Iya kesannya memang seperti Nanda belum siap mendidik, tapi Nanda ingin memberikan anak anak didik Nanda pengetahuan dengan kontrivistik. Membiarkan mereka membangun pemahamannya sendiri untuk kemudian diklarifikasikan bersama sama dalam perbincangan seusai kegiatan. Jadi nanti Nanda juga belajar bersama mereka, menemani, mengarahkan beberapa hal, lalu membuat kesimpulan bersama sama. Posisi siswa dan guru sama sama belajar. Jadi, kalau alasan diadakannya Pendidikan Keprofesian atau PPG itu untuk mendalami gitu, apa ya enggak mending pakai prinsip trial and learn itu ya Bund?
                Hmm emang sih Bund, akan ada beasiswa untuk mereka yang berminat. Jadi nanti katanya akan ada program SM3T, serupa pengabdian gitu. Ya, mirip mirip Indonesia Mengajar gitu Bund. Jadi kalau ikut SM3T itu dibebasbiayayakan ikut PPG itu. Mengingat biaya PPG yang mencapai angka 6juta persemester Nanda sangat tertarik meski sebenarnya aroma pengabdian itu sumber gravitas utamanya, free PPG itu bonus aja buat Nanda. Tapi tetep aja Bund, Nanda masih belum paham sama keefektifan program tersebut. Kira kira itu berdampak pada karakter keprofesionalan sebagai guru gitu enggak ya Bund?

                Wassalamualaykum.Wr.Wb ya Bunndd :*

    Dari Nanda Yang Banyak Tanya
     
     

  3. Bismillaahirrahmaanirrahiim :)


    Kamis, 05 Desember 2013

     
    www.voa-islam.com

              
           “#PekanKondomNasional bukan cara bijak menangangi penyebaran HIV/AIDS tapi cara efektif menghalalkan freesex! So? #TolakPekanKondomNasional! Now!” pekik saya di beranda jejaring sosial saya.
                Batin saya dipenuhi gemuruh tanda tanya mengenai kebijakan yang tidak bijak ini. Kebijakan #PekanKondomNasional tertanggal 1-7 Desember 2013 dengan tokoh balik layar Kementrian Kesehatan Ibu Dr. Nafsiah Mboi,SpA, M.P.H bekerjasama dengan beberapa perusahaan kondom juga Komisi Penanggulangan AIDS Nasional dalam rangka memperingati hari AIDS untuk membagi bagikan kondom secara gratis kepada masyarakat.
                Bagaimana sebuah pembagian alat kontrasepsi bernama kondom itu dikatakan sebagai tindak penanggulangan yang bijak, jika nyata mayoritas masyarakat pra nikah yang sebelumnya sembunyi sembunyi membeli kondom malah diberikan secara bebas dan gratis? Bukankah itu sama saja memfasilitasi mereka untuk bergaul secara bebas tanpa mengindahkan status pernikahan yang belum mereka miliki. Serupa membuka pintu gerbang freesex. Astagfirullah Bu, semoga beliau dimudahkan dalam mengambil kebijakan yang benar benar mendukung kesehatan bukan pembebasan hubungan tanpa pernikahan. :3
                Menurut Sekretaris KPAP, Rohana Manggala PKN bukanlah program yang mengajak generasi muda untuk pesta seks. "Bukan itu maksudnya, salah kalau dengan PKN mengizinkan seks bebas, tidak ada keinginan ke arah sana. Mungkin kondom masih terbilang tabu di masyarakat tapi jangan dulu berpikiran negatif," ujar Rohana, Selasa (3/12/2013)
                Rohana menambahkan pola pikir masyarakat yang harus diubah. Adanya PKN ini sebagai upaya pengingat bahaya HIV/AIDS dan kondom merupakan alat kesehatan bukan pemicu seks bebas.
                "PKN itu seperti mengingatkan kalau seks bebas atau perilaku berisiko lainnya dapat merugikan banyak orang. Kondom hanya alat kesehatan, yang digunakan oleh pasangan yang sudah sah untuk menghindari penularan HIV kalau memang pasangan tersebut positif HIV," tambah Rohana saat dihubungi tim Health Liputan6.com.              
                Menurut Kak Rohana, pemberian kondom gratis dalam #PekanKondomNasional itu untuk mengenalkan masyarakat pada kondom sebagai alat kesehatan bukan pemicu seks bebas sebab mereka masih tabu terhadapnya. 
                Jika hanya untuk mengenalkan, kan ya bisa to Kak lewat  penyuluhan yang edukatif melalui pihak sekolah atau organisasi kepemudaan juga ibu ibu PKK gitu. Jadi dinas kesehatan bekerjasama dengan tokoh tokoh masyarakat untuk mengenalkan kondom yang masih tabu itu, mengenalkan fungsi sebenarnya, disertai mengenalkan HIV AIDS. Mengenalkan cara penularan, dampak dikesehatan juga solusinya. 
                Kemudian bisa juga dilanjutkan dengan membuat kebijakan pembatasan pemasaran kondom. Misalnya saja, jika sekarang kondom dijual bebas dimasyarakat dan siapapun bisa membelinya, maka alangkah indahnya jika hanya beberapa tempat yang menjual kondom (Apotek atau Rumah Sakit) lalu untuk membelinyapun tidak boleh sembarangan, harus ada bukti bahwa ia sudah menikah (menunjukkan buku nikah gitu). Nah kebijakan macam itu kan insya Allah akan meminimalisir penggunaan kondom untuk freesex .
    ^O^
                "Telah terjadi misinterpretasi dan misinformasi terkait tujuan kampanye kondom, sehingga acara dihentikan," kata Budi Harnanto, Deputi Dukungan Umum Komisi Penanggulangan AIDS Nasional melalui pesan singkat.
                Bagaimana tidak misinterpretasi dan misinformasi jika belum ada sosialisasi fungsi sebenarnya dari ‘kondom’ juga pengenalan bahaya ‘HIV AIDS’ dan ‘FreeSeks’ langsung difasilitasi mencoba alat kontrasepsi -_-.
                Jadi nih ya bu, biar ndak mis mis gitu lagi, yo mbok disosialisasikan dulu baru di konstribusikan dalam bentuk kebijakan yang benar benar bijak. :”) Semoga dimudahkan :”)

                *Dan alhamdulillah saat saya memposting coretan ini, #PekanKondomNasional dibatalkan. :”) Maha Suci Engkau, Pemilik Rencana terindah :”)
     

  4. Grey&Jingga Part I

    Wednesday, 4 December 2013

    Bismillaahirrahmaanirrahiim :)


    Sabtu, 16 Nopember 2013

              
    Foto : Album FB Sweta Kartika

                *Jingga
                Jika tidak ingin dianggap pertemuan pertama, maka aku sebut senja tadi adalah pertemuan yang tertunda banyak tahun. Pertemuan tanpa rencana dan janji sebelumnya, barangkali Tuhan memang penuh kejutan seperti banyak kata orang.
                “Jingga!” suara di balik punggung. Dengan ragu, dan memastikan tak salah dengar, aku menoleh. Menatapnya dengan tatap lekat ‘Siapa ya?’.
                Menyusuri ruang memori, berpetualang dengan segala kenang. Mengapa tiba tiba sosok manusia ini terasa dekat?! Serupa debaran yang tiba tiba nyaris muncul dipermukaan.
                “Grey?” Panggilan menggantung mencari kepastian.
                Dan lihatlah! Dia hanya tersenyum empat centimeter! Sial, masih saja sifat coolnya terpelihara. Tidakkah enam tahun waktu yang cukup melumerkan hatinya? Setidaknya menyerukan namaku lebih keras untuk lantas menghampiriku dengan rindu yang membuncah sebab pertemuan yang lama tertunda?! Rupanya takdir hanya membuatnya semakin amm tampan barangkali? Wajah tirus kecoklatan dengan rambut terikat di belakang juga gitar disamping kanan. Jejak ketampanannya sejak kecil tak berubah. :”)
    ^_^
                Takut kehilangan tak mengenal usia bukan? Dan salahkah meski baru seumur jagung kehilangan itu nyata menyergap?! Kehilang rekan sepermainan yang sejatinya menyebalkan, namun mudah menjadi kebutuhan. -_- Arrghh bocah lelaki berperut gendut yang selalu sok keren dalam ke-cool-annya sejak sekolah dasar. Dan aku tidak suka pada surya hari ini, kenapa begitu cerah?! Acara pelepasan sudah berlalu beberapa jam lalu, kenapa tak turun hujan saja, mengakhiri kemarau yang terlalu panjang! Mengakhiri persahabatan yang lekas tersapa perpisahan. :”( Grey pindah! Kamu tahu bagaimana rasanya? Ketika rekan sepermainanmu harus pergi dengan tiba tiba?! Seharusnya dia menyediakan waktu untukku bersiap siap menghadapi perpisahan, tidak seperti ini! memberiku seutas gantungan kunci serupa yang ku berikan padanya, abu abu tua dan orange yang ditukar semata. -_-
                Harus hari itu memang harus hujan! Setidaknya Tuhan seharusnya pengertian, memberiku ruang meredam isak dikamar untuk menghalau ketidakrelaan yang barangkali akan membanjir jika aku menemuinya, melambaikan tangan padanya. Maaf aku bukan perempuan yang pandai berpura pura.
                Dan waktu menjadi hal sederhana untuk membuat saya terbiasa tanpa bocah lelaki berperut gendut yang menyebalkan itu. Tumbuh tanpa kabar darinya, dan tentu saja melupakan harap jumpa.
    ^O^
                Dia masih sebongkah es yang menghangatkan. :”) gletser yang mengaromakan keakraban. Enam tahun tak merubah sosok bocah perut gendut dalam dirinya. Dan benar, senja kali ini nampak sangat biru :”) Sebiru hati tanpa kelabu ^_^ Senang bertemu denganmu (lagi).
    ----^O^----
                *Grey
                “Jingga!” seru saya pada sesosok yang dapat dipastikan itu dia. Saya ingin menghampirinya, menepuk pundaknya untuk segera berbalik menatap saya. tapi demi mengamankan rindu yang menbuncah tiba tiba, saya harus tetap terjaga di koordinat ini. menantinya menoleh pada saya.
                “Grey?” jawabnya penuh ragu. Dan benarlah, itu dia. Dia dalam versi yang lebih manis, juga versi lebih tinggi dari enam tahun lalu.
                Percakapan senja itu dia yang mendominasi. Meluncurkan banyak tanya tentang saya dan keluarga. Lalu saya pun enggan kalah, enak saja dia melucuti rindu sendirian. Saya dengan kesederhanaan rasa, mencoba mengobati rindu yang tertunda temu itu. Tau kan saya tidak pandai mengungkapkan rasa sebab saya memang hanya pelantun nada. :P
    ^O^
                Meski saya masih seumur jagung namun entah bagaimana rasa enggan berpisah dengan penyuka kincir kertas itu nyata ada. Mengikuti Ayah yang dipindah tugaskan ke lain kota, saya memutuskan untuk berpamitan padanya seusai acara pelepasan sekolah dasar. Dan kamu tahu? Selalu ada waktu yang diharapkan tak cepat berlalu, satu waktu yang mungkin sudah menjadi kenangan dan seringkali dirindukan. Satu waktu saat saya menemuinya lantas memberikan gantungan kunci serupa yang dia berikan pada saya, abu abu tua dan orange yang kami tukar semata.
                Sayangnya, hingga jarak beberapa meter roda berputar ia tak juga mucul dibalik pagar untuk melambaikan tangan atau sekedar berseru ‘sampai jumpa!’. Mengubur harap dalam dalam, saya coba untuk tidak terlalu sering menengok ke belakang. Melaju terus kearah ruang masa depan meski nyata hati saya telah tertinggal dibelakang, dicuri seorang gadis berkepang kanan. Tercuri sejak kebiasaan kebiasaan sederhana bersama.
                Dan Tuhan melalui waktu mengajari saya beradaptasi tanpa melihatnya berlarian membawa baling baling kertas, tanpa melihat tubuh kurus dan rambut acak acakkannya menyita perhatian sepanjang jalan, juga tanpa melihat kaos power ranger menutup raganya. Kami tumbuh dalam waktu yang sama namun terpisah tempat ribuan kilometer. Termakan agenda hidup masing masing, hingga Tuhanpun dengan sifatnya yang Mah Suprised mengarahkan pandang saya pada satu universitas yang mencantumkan namanya. Alivia Jingga Remi, dengan fakultas sastra. Sebab Jingga adalah alasan saya menghirup atmosfer disini.
    ^O^
                Dan Jingga masih saja mempesona dalam kesederhaannya menerima bias surya ufuk barat. Hanya saja kali ini, saya melihat senja begitu biru, mengharukan hati sebab rindu tersapa temu. Bukan seorang batu, tapi seorang yang lama hidup dari masa lalu. :”) Jingga, terima kasih sudah mengobati rindu saya.
    ----^O^----

              Dari seluruh hal yang saya ingin tulis hari ini, entah magnet apa yang membuat saya memilih menulis ini untuknya. Hmm sepertinya saya sudah terkena gravitasi benda timbul warna hitam diwajahnya. :D Hai Bunda Chocochips ^_^ Tidak janji akan menyelesaikannya sebelum tanggal dua puluh empat kelak, namun saya berusaha menyelesaikannya :”) Tenang, saya menyukai ini, anggap saja ‘seribu kata perhari*terapi menjaga konsistensi menulis* dalam kemasan yang lain” ^_^ Jadi? Semoga kamu suka, maaf jika tak serupa :*