![]() |
| k.a.m.u |
-
K.A.M.U
Sunday, 14 June 2015
Bismillaahirrahmaanirrahiim :)
Selasa, 20 Mei 2014Saya melukiskanmu dengan sangat menawan beberapa tahun silam melalui sebuah beranda sosial, mengundang banyak tanya dari rekan rekan sekitar tentang siapa kamu sejatinya wahai kisanak? :D Hanya keentahan yang mampu saya berikan untuk jawab tanya mereka, dan banyak harap bahwa sosokmu adalah seorang di bawah naungan langit yang sama denganku, yang diam diam juga selalu menyertakan saya dalam rapalan doa.“Bocah laki laki berkacamata, mantan sispala (siswa pecinta alam), pandai berpuisi dan jago perkusi, dengan poni berpeci yang agak berantakan tapi tetep rajin ngaji, juga ramahnya sarung yang diselempangkan. Serta seorang Omnifora terbaik yang pernah saya temui.” Tulis saya di media sosial.Gencar semua orang mengarah pada beberapa nama. Rekan satu sispala semasa SMA, rekan satu rohis dan lembaga dakwah kampus, juga yaa seorang Kakak Tingkat yang agak keG-eRan :P. Menepis semua nama yang khalayak tudingkan, saya menyajikan kamu untuk mereka, sedikit meminimalisir sangkaan tentang kamu yang sejatinya belum saya jumpa.^O^Bocah laki laki berkacamata, entah sejak kapan saya begitu suka dengan kacamata hingga mencantumkannya sebagai syarat hadirnya kamu. Ayolah, kacamata bukan semata tentang sepasang kaca kecil yang membantu memperjelas pandang dengan sebuah frame yang mengindahkannya. Kamu memang harus berkacamata, agar pandangmu terjaga dari hal yang tak semestinya, memudahkanmu dalam menjaga setia. Kamu pun wajib berkacamata, setidaknya agar kamu tahu cara pandang tepat dalam sebuah fenomena sehingga kamu tak perlu risau dengan mata mata lain yang memandang dalam beda.Mantan Sispala? :D Iyaa, kamu. Ingat betapa menyenangkannya sensasi lelah sebab perjalanan yang jauh, menanjak, menikung, menurun, curam, terjal, dan ragam tawaran topografi alam yang kemudian dibayar lunas oleh pandang indah semesta? Guratan jingga ufuk timur bersama sunrise, puncak gunung, serbuan udara kaya oksigen, hijaunya khatulistiwa. Semua sajian alam yang selalu kita jaga dalam tiga prinsip, tidak mengambil sesuatu kecuali gambar, tidak membunuh sesuatu kecuali waktu, pun tidak meninggalkan sesuatu kecuali jejak. Dan kamu adalah partner terbaik yang Tuhan kirim untuk membersamai perjalanan saya. Banyaknya kesukaan pada perjalanan jauh, liburan panjang, pantai, sunset, obrolan ringan, tawa bersama, dan tentu saja sepasang kursi malas untuk saya dan kamu.Setidaknya saya berharap kamu mengijinkan jingga menjadi saksi senjanya kita. Dalam masa yang tak lagi muda, juga anak anak yang telah berkeluarga, saya dan kamu masih siaga untuk berjalan bersama. Mengenang pertemuan saya dan kamu yang jauh dari duga, ketertatihan kita saling menjaga, kehadiran anak pertama hingga cucu pertama. Selingan ringan tentang kisah kasihmu semasa sma, dengan saya memasang wajah cemburu, dan selalu hidungku menjadi korban atas jahilnya jemarimu. Adegan senja yang terpenuhi tawa, ditutup hening penuh bahagia, menyimak dengungan adzan semesta, memuji asma.Nya dalam dalam bersama gandengan tangan kita yang mengerat.Pandai berpuisi dan jago perkusi. Tentu, kamu dan kata adalah satu paket tak terpisahkan, seperti saya dan kamu yang sepaket dalam kita. Melalui kamu definisi puisi bagi saya meringsek tak karuan, tak perlu liris ataupun manis. Sebab entah apa, setiap kata yang kamu tulis seolah puisi untuk saya, terasa manis tanpa buatan. Kamu pun orang yang tangguh dalam kemanjaan saya. Sosok laki laki kedua yang bisa saya tunjukkan sisi manja saya saat di depan dunia berjuang penuh kemandirian. Dalam helaan nafas sepertujuh detik, kamu akan menatap saya lembut, mengiyakan ajakan saya, membahas satu tema. :DDua cangkir teh yang telah terisi lebih dari lima kali, langkah jarum jam yang berkeliling tiga kali, juga binar dimata saya yang belum hilang adalah diskusi kita setiap hari. Meski terkadang kamu jemu pada paksaan saya membahas Supernova, Rectoverso, Dee hingga Andrea Hirata juga Seno Gumira Ajidarma, satu hal yang membuatmu tak jengah, cinta. :D cinta yang membuat Jalaluddin Rumi bersanding mesra dengan guratan Dewi Lestari hingga Kitab Al – Hikam Ibnu Athaillah berkoalisi dengan perjalanan budaya Andrea Hirata juga sanjungan untuk senja dari Seno Gumira Ajidarma mewarnai bincangan kita. Aku mencintai kita dalam meski. :”)Lantas lisanmu yang menyuarakan kelembutan, bukan macam suara kebanci-bancian yang sangat peduli pada pencitraan. Sungguh kamu tak harus menjadi ikhwan yang kabarnya harus berjambang dan bercelana cingkrang. Kamu adalah laki laki Islam yang tak lalai pada lima waktu wajibnya dengan rutin mendirikan sunnah pendekat jannah. Lisan yang juga mengabarkan bahwa laki laki pun mampu menyandingkan kelembutan bersama sikap ketegasan, layaknya dawai gitar yang lembut namun tegas menyuarakan ruang resonansi.Sebagaimana dalam kamus biologi tentang klasifikasi makhluk hidup berdasarkan jenis makanannya. Kamu adalah satu omnifora terbaik yang pernah saya temui. Seorang yang tidak terlalu rewel dengan makanan yang masuk mulutnya. Cukup mensyaratkan halal, bersih dan sehat. Sudah dan selesai. Tak pernah mengeluhkan bahan apapun yang saya masakan untukmu. Bahkan meski itu Cuma telur goreng dan kecap, atau tempe dan sayur bayam bening. Kamu adalah yang sedia menerima setiap menu tanpa keluh, ya beberapa isyarat barangkali coba kamu kirim melalui porsi yang lebih sedikit atau seraut kemasaman wajah lantas meninggalkan makanan untuk makhluk lain serupa kucing atau ayam :v Isyarat lembut yang harus segera saya cerna agar tak terulang kembali. :D Tapi kamu adalah juara untuk omnifora. ^_^^O^Terlepas dari frasa yang melukiskan kamu dalam pandang saya, kehadiranmu selalu lebih indah dari lukisan saya. Tak perlu membebani diri dengan harapan saya ini, faktanya saya akan tetap membersamaimu merajut amal menuju jannah.Nya bersama – sama.Bertemu denganmu.Saya pernah membayangkan bagaimana prosesi pertemuan saya dan kamu. Bukan dengan tatap dan surat penuh sakit merah jambu serupa remaja kini, bukan jumpa yang dipaksakan oleh salah satu dari kita sekalipun saya dan kamu benar-benar menginginkannya. Saya dan kamu bertemu sebab memang sudah masanya bertemu, seseorang yang mungkin sudah saya kenal dekat, seseorang yang mungkin baru saya dengar namanya, seseorang yang mungkin benar benar pertama kali saya kenal, atau seseorang yang pernah berpapasan dalam perjalanan.Bahkan saya sudah berharap pertemuan saya dengan seseorang yang kelak melengkapi saya itu serupa pertemuan sahabat lama, entah bagaimana semua ringan berjalan, mengalir apa adanya tanpa paksaan, bertemu seseorang yang nyata mampu menjadi partner of life menggenapi separuh agama. Ah, bukankah dilangit (dulu) saya dan kamu adalah sahabat? Bumi adalah pemisah sekaligus penguat dalam satu paket. Sayangnya saya cukup sulit menerka bagaimana rupa sahabat langit saya itu diwajah semesta kini. :”)Semoga saya dan kamu dimudahkan menjaga apa yang seharusnya terjaga. Diringankan melafalkan syukur atas jalan masing masing diri hingga kelak saling menemui. Dilancarkan menyelsaikan apa apa yang harus diselesaikan dari saya dan kamu sebelum menjadi kita.Kemudian kamu adalah kamu, yang tak dibatasi sebuah pandang pencintraan. Leluasa bergerak dalam untaian al-quran dan sunnah. :”). Iya, itu kamu dalam harapan juga dalam khidmat sujud panjang. :”) Semoga dimudahkan menjaga :”) Semoga dipertemukan dalam jalan penuh perjuang bersama :”) Semoga di dekatkan dengan ragam kebaikan pembawa manafaat untuk umat :”) Aamiiin :”)
Sampai bertemu lagi, Sahabat Langitku ^_^Posted by RisaRiiLeon at 21:44 | Labels: Dear, Kacamata Risa, Kita | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Bismillaahirrahmaanirrahiim :)

bahagiaku Tangisnya masih menyisakan isak atas lukanya yang masih lebam, juga beberapa luka lama yang muncul kembali pada permukaan.“Nag kaya gitu terus aku ndak bisa mbak. Aku gag kuat. Aku merasa dizalimi.” Curahnya terbata. Tersengal oleh air mata.Peluk itu kian menghangat tanpa maksud membarakan api yang masih berkobar. Peluk yang diharapkan mampu memberi sejuk. Peluk yang diharapkan mampu meredam semua pilu dan ngilu yang tak kasat mata. Peluk yang Cuma buat kamu, Nduk Sayaang :”)“Terluka, kecewa, marah, benci, juga perasaan negatif lainnya adalah beberapa cara yang Allah rencanakan dalam rangka menunjukkan cinta.Nya kepada kita. Dicintain Allah hlo itu, masa kamu nolak Nduk?” usapku pada tangisnya dengan tanya retoris.“Tapi mbak, rasanya itu sakit. Entah kejahatan apa yang sudah tak lakuin sampe mereka bisa sejahat ini sama aku. Aku enggak sekuat itu, aku juga punya batas. Aku mau menyudahi ini semua Mbak. Serius.” Putusmu masih dengan kobar bara yang belum padam.“Ssssttt!” pagarku pada lisannya yang meliar. “Saat hatimu keruh oleh emosi, saat hatimu riuh oleh resah tak perlu mengambil keputusan apapun Sayang. Tenang dulu, istigfar Nduk. :”) ”“Astgfirullah hal’adzim.” Lirihmu meredam erupsi ”Ajarin aku buat bahagia Mbak. Setidaknya aku belum pernah lihat Mbak tidak bahagia atau sesedih aku sekarang.”^O^Dibanding pertanyaan, “Kamu enggak capek ris?” “Kamu enggak kecewa Ris?” “Kamu enggak nangis Ris?” “Kamu enggak marah Ris?” saya lebih suka dengan pertanyaan adik perempuan saya yang satu itu. :”) Hi Cantik, terima kasih atas inspirasinya :”) Melalui tanyamu, mbak belajar berbagi :”)1. Belajar memaafkan. Berdamai dengan ragam kondisi meski tak sesuai yang diingini. Tidak menyalahkan diri atau siapapun atas apapun yang terjadi.Memaafkan berarti berdamai dengan diri. Perkara yang bersangkutan meminta maaf atau tidak itu bukan perkara yang harus dirisaukan, sebab ketika hati telah memaafkan dengan lapang maka ringanlah bibir melukiskan senyuman.Sayaang, maafkanlah semua luka itu. Kekecewaan, kemarahan, atau apapun hal yang tidak menyenangkan, maafkanlah. Terimalah mereka sebagai proses pendewasaanmu. Tegurlah para tersangka yang kamu tuding atas lukamu dengan kasih sayang, sehingga langkah kalian kian dekat dengan perbaikan bersama. Kamu melapangkan hati, lantas mengomunikasikan hal tersebut dalam lembutnya saling mengingatkan hingga yang bersangkutanpun tahu betapa manisnya kamu menyikapi hal yang tidak menyenangkan itu.“Kenapa harus aku yang memulai? Kan bukan aku yang salah!!”Sebab kamulah yang paling peka diantara semuanya, kamulah yang paling awas terhadap problema yang ada. Paling paham bahwa itu harus dikomunikasikan bersama. Dan terkadang untuk mulai memperbaiki sesuatu kita tidak harus tahu ‘siapa yang salah atau benar’, namun cukup pahami bahwa hal tersebut adalah pembelajaran bersama. Bukankah apapun yang terjadi adalah yang terbaik (setidaknya ketikan ‘kun fayakun’ itu terlontarkan, Allah sudah mengambil keputusan, dan pasti itu yang terbaik) namun tidak mesti itu baik dimasa mendatang. Terbaik saat itu sebab disana kita belajar mencari solusi bersama, tapi tidak dimasa mendatang agar kita tidak jatuh pada lubang yang sama, sebab kita telah memperbaiki diri. J“Tapi udah terlalu banyak yang membuat kecewa mbak, dibanding mereka akulah yang paling terluka! Seharusnya tidak seperti ini, kenapa mereka tidak memperlakukan sama seperti yang telah aku lakukan untuk mereka Mbak.” Isakmu kian sesak. Nafasmu tersengal naik turun.Peluk itu melonggar, memberimu ruang untuk menghirup duka semesta yang tidak bisa dibandingkan dengan manusia mana.Sayaaang, jika kamu hendak mencoba membandingkan luka dalam sebuah pengabdian kepada Allah Ta’ala, lihatlah Muhammad Bin Abdullah Bin Abdul Mutalib, seberapa banyak luka fisik maupun hati yang ia terima tanpa pernah membalas dengan hal serupa. Tengoklah ketabahan Maryam menerima dera caci dari tetangga atas kehadiran putranya yang tanpa Ayah.“Tapi itu kan jaman dulu Mbak.”Oke. Oke. Sekarang bayangin, kamu perempuan yang sedang berusaha menjadi baik, sendirian, naik motor, pulang jam sepuluh sampai jam satu malam, melewati jalan dengan kanan kiri sawah dan pekarangan kosong sejauh 20 km? Nyaman enggak?Tidak ada jawaban, hanya sebuah gelengan mewakilinya.Bayangin lagi nduk. Kamu magang, antar jemput adekmu sejauh 23 km setiap pagi. Sebelum jam enam harus udah jalan. Pulang magang masih harus ngeles sampai magrib, jemput adekmu, ke kampus buat nemenin adek adek recruitmentmu sampai jam sepuluh malem, dan besoknya harus bangun jam setengah lima buat siapin bekal adekmu, dan memulai hari dengan siklus tadi. Nyaman? Sementara tugas magang tetep jalan, pemasukan buat kamu juga harus tetap ada. Bahagia nduk?Masih belum ada jawaban.Bayangin lagi. Kamu pergi seharian, pulang orang yang kamu sayangi udah tidur, dan Cuma bisa ngliatin dia yang udah tidur nyenyak lantas menikmati kebersamaan dalam keterdiaman atau bermonolog ria atas hari yang sudah dilewati tanpa sempat saling berbagi. Nyaman nduk?Iya sayaang, itu contoh yang terdekat yang bisa diceritakan. Nyatanya, tokoh itu masih berbahagia. Dalam benaknya, setiap perjalanan malam itu ia tempuh. Ada banyak sayap kunang – kunang yang sedia menerangi perjalanannya menembus pulang. Ada ribuan bintang dan singgasana bulan yang tak pernah menolak mengawalnya. Ada jalan sunyi yang membebaskannya menemukan cerminan hati dalam kontemplasi. Ada lisan yang sibuk merapal dzikir menjajah segala kekhwatirannya. Dan terkadang ada hujan yang menghapus air mata sebelum sempat menetes. :”)Nyatanya tokoh itu masih berbahagia. Dalam benaknya, setiap perjalanan membersamai adik adalah penempaannya untuk mendampingi ‘sahabat langit’nya kelak juga menebus makna sulung dalam keluarganya. Tidak ada yang perlu disesali, yang ada ialah syukur yang tak bertepi. Sebab melalui Ksatria Kedua, ia belajar banyak hal yang dulu belum pernah terfikirkan. Pola asuh, menjaga komitmen dengan anak anak, konsisten memberi teladan, mencari solusi bersama, menyampaikan larangan dengan ajakan, dan masih banyak hal lain.Nyatanya tokoh itu masih berbahagia. Dalam benaknya, setiap monolog yang ia hadapi saat sepasang mata tersayang itu lelap adalah moment mensugesti hal – hal lugas yang belum tentu langsung diterima saat sepasang mata itu terjaga. Pun dengan masa pengecheckan keberadaan luka raga yang belum tentu akan dengan jujur diakui saat sepasang mata tersayang itu terbuka, dan pertolongan pertama itu harus lekas diberikan sebelum kian parah. Mengobati saat yang tersayang lelap, bukan kah itu memudahkan langkah ketika kita belum mampu sepenuhnya menjaga?Bismillah nduk, luka yang katamu membuatmu seolah menjadi manusia ternelangsa di dunia, sekarang jadilah perempuan terbahagia di Indonesia (dulu) :”)2. Belajar bertahan dalam paham bahwa Allah SWT mencintai hamba.Nya tidak selalu dengan hal yang menyenangkan.Sudah banyak yang saya ceritakan kepadamu sayang, diawalpun sudah sempat saya singgung. Bahwa prosesmu kini adalah proses Allah menunjukkan cinta.Nya kepadamu. Iya Kamu, ^_^ *malahnengok* :3Kamu sedang dicintain Allah swt hloo, masa kamu nolak sih. :D Disaat banyak orang masih sibuk mencari cinta.Nya, kamu dengan terang – terangan dicintai oleh Allah swt. Maka, agar segala hal dalam proses ini menjadi nikmat. Balaslah cinta Allah ini dengan mencintai.Nya kembali.“Bagaimana caranya Mbak?!”Hlaa kalau kamu sayang sama seseorang gimana menunjukkan rasa sayang itu? :)Deketin Allah swt. Lakukanlah hal – hal yang membuat.Nya senang. :”) Shalat, berdoa, ngaji, puasa, tilawah, dzikir, atau apapun yang membuat.Nya bahagia.“Taunya nag Allah bahagia atas usaha kita Mbak?”Lihat hatimu Nduk. :”) Jika dalam proses berpeluhmu ini kamu masih menemukan keluasan hati, kelapangan fikir, dan ketenangan bertindak, serta perasaan diperhatikan oleh.Nya insya Allah itu tanda bahwa Allah selalu membersamaimu. Menyertai setiap langkahmu menuju perbaikan. :”)SEMANGAT!!!!3. Allah Maha Mencintai pada hamba.Nya yang meyakini.Maka Nduk, lakukanlah apapun yang butuh kamu lakukan tanpa ada harapan mendapat balasan dari siapapun. Lakukan itu sebagai ketidaksengajaan, sebab apa yang kamu lakukan itu hanya sebuah keharusan untuk memenuhi sebuah kebutuhan dalam proses pembelajaran. Keharusan untuk memenuhi kebutuhan pembuktian keyakinan bahwa kita mencinta.Nya sepenuh jiwa.“Tanpa berharap balasan? Tindak ketidaksengajaan. Gimana maksudnya mbak?”Sederhananya begini nduk. Apa yang telah kamu lakukan itu, tindakan itu ya memang sesuatu yang harus dilakukan. Semisal, ketika kita bertemu dengan seseorang yang kita kenal, tersenyum dan menyapa adalah tindakan yang butuh kita lakukan. Kamu tidak perlu mengharap orang tersebut membalas senyum dan sapaanmu, yang penting kamu sudah menyapa dan memberinya senyum. Selebihnya ya lupakanlah. Jika ada balasan senyum dan sapa, ya itu bonus saja. Membebani perasaan kita dengan harap balasan itu hanya menjauhkan kita dari tindak kebaikan selanjutnya.“Tindak kebaikan selanjutnya? Apa mbak?”Tindak kebaikan yang dilakukan tanpa sengaja, ialah yang terdekat dengan keikhlasan. Puncak dari kebaikan. Dan siapa yang tahu keikhlasaan itu? Cuma Allah dan moment ketidaksengajaan itu. Sekalinya kita berharap, hanguslah keikhlasan itu.“Bukannya kita boleh berharap pada Allah mbak. Mendapat balasan dari.Nya? ”Tentu saja boleh. Seharusnya memang hanya kepada Dia harapan itu bermuara. Sekali lagi, biar tindak kebaikan itu yang tahu hanya Allah maka berpasrahlah atas amalmu. Harapan kita ketika berbuat baik, pasti ingin segera dibalas. Cinta yang membara harus segera disampaikan. Nah itu yang nantinya akan membuat kita kecewa, sebab Allah itu kan Maha Surprised. Penuh kejutan. Kalau kita berharap ini, tapi diberi itu? Belum tentu suka kan? Minta suka malah diberi luka. Nah, malah bisa bisa nanti kamu lupa bahwa itu salah satu proses dicintai.Nya.Jadi, ya lakukan, lupakan, pasrahkan pada Tuhan, Allah Ta’ala :”)Selamat Berbahagia sayaang ^_^
Posted by RisaRiiLeon at 21:39 | Labels: Kacamata Risa | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Bismillaahirrahmaanirrahiim :)

google search Sebut saja TK Permata Hati Jajar, tempat saya berkesempatan belajar menemani anak – anak bermain. Tempat saya berkesempatan belajar sabar pada perilaku menggemaskan bocah tiga hingga enam tahun. Tempat saya berkesempatan belajar mendengar bunda – bunda bertutur perkara biduk rumah tangganya. Tempat saya mendapat banyak masalah anak – anak. :D“Bu Risa..... Bu Risa.” Kirana terburu menghampiri saya kala jeda istirahat.“Iya Kirana, kenapa?” jawabku tenang sembari merapikan buku Penghubung Sekolah - Orangtua.“Ada masalah.” Jawabnya singkat, mengharap perhatian.“Siapa yang bermasalah Sayaang?”Adegann selanjutnya adalah saya dan Kirana akan menuju si anak yang menjadi korban, lantas memanggil si tersangka. Kenapa harus diawali siapa? Sebab untuk meminimalisir perhatian anak – anak lain, juga lebih efektif bin efisien ketika area masalah dipersempit bukan?Kemudian seusai kedua pihak dipertemukan, tanyakanlah duduk masalahnya. Dengarkan dari dua pihak secara adil. Ajak anak untuk saling bersalaman dan bertukar senyuman. Masalah selesai. Lantas ingatkan bahwa kita harus sayang teman.Biasanya masalah anak – anak itu tidak jauh – jauh dari, rebutan mainan, enggak mau bergantian, ada yang ngomongnya keras – keras padahal Cuma mengingatkan dan jatuhnya malah jadi kaya marah – marah, terus belain temennya yang nampak tertindas tapi dianya biasa aja. Maka, ingatkan anak – anak bahwa mainan itu harus bergantian. Kalau ada yang merebut, diingatkan kalau mainan itu sudah dipakai temannya kita harus bersabar menunggu giliran bergantian, dan yang sedang bermain juga harus sadar bahwa ada yang sedang mengantri menunggu giliran. :DTerus kalau ada anak – anak yang mengingatkan temannya dengan teriak – teriak?“Ssstttt, kakak kalau mau mengingatkan tidak teriak – teriak nuw. Nanti to kalau teriak – teriak, kasihan tenggorokannya kakak, nanti bisa sakit. Terus suaranya kakak kalau hilang gimana? Kan kalau teriak teriak juga enggak enak to di dengarnya. Mending kakak deketin adeknya, baru deh kakak bilang langsung.”^O^“Anak – anak kok diajarin bermasalah to?! Gedhenya mau jadi apaan!” komentar seorang rekan mendengar ceritaku.Bukan bermasalah Bunda, tepatnya peka terhadap masalah. Perkara besarnya mau jadi apa, ya terserah anak – anak nuw. :DPeka terhadap masalah itu penting untuk anak, (sesungguhnya orang dewasa juga demikian :v), setidaknya dengan anak terbiasa bertemu masalah ia akan sering pula bertemu dengan solusi. Berlahan anak terbiasa menyelesaikan masalah yang ditemuinya, dihadapi bukan dihindari. Dilecut tanpa pengecut. :D^O^Faktanya kepekaan seseorang memang baiknya distimulus sejak dini, terlebih dengan masalah yang ada disekitar kita. Bayangkan saja, ketika kita tidak memiliki kepekaan tersebut, selalu mengganggap semua baik – baik saja padahal ada hal yang harus dicarikan solusi (aka masalah). Seperti sakit yang memberi gejala namun masih diabaikan siempunya badan. Jatuhnya malah sakit kebangetan to? :”) nah iya sama, ketika ada kepekaan terhadap masalah dan ditindak lanjuti dengan tindakan penyelsaian masalah penuh bijak, insya Allah bibit bibit masalah besar itu sudah hangus sebelum tumbuh. :”)Jadi enggak papa bermasalah, asalkan tetap bersolusi juga :D
Posted by RisaRiiLeon at 21:36 | Labels: Jendela Anak, Kacamata Risa | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Bismillaahirrahmaanirrahiim :)

google search
“Dek, jarang minta pulang ke Kebumen itu hal yang buruk to?” tanya Mbak Dian saat melihat pengisian quisioner sewaktu Jagongan OrangTua/Wali CahBocah menjelang akhir april lalu.“Ho.oh i mbak. Hla pripun?”“Kok iso?” alisnya tertaut, sungguhan ingin tahu.Pulang, atau tepatnya keinginan pulang adalah perasaan yang wajib hadir untuk mereka yang memiliki rumah aka keluarga. Rumah dan keluarga adalah paket tak tergantikan sebagai tempat pulang, yang seharusnya menjadi titik ternyaman diseluruh koordinat semesta. Bagi saya itu wajib. (Abaikan jenis bangunan, abaikan makna sedarah, generalisasi makna membuat siapapun dan apapun menjadi rumah atau keluarga, right?)Maka, saat ada keengganan untuk pulang, dalam kacamata saya itu bukan sesuatu yang baik. Sesuatu yang harus lekas ditindak lanjuti setidaknya agar kacang tetap ingat letak kulitnya.Harus ada analisis mengapa perasaan enggan itu muncul. Mengapa rindu itu tak kunjung hadir. Apa yang salah?Rumah yang kurang membuat nyaman? Hati yang sudah membeku? Kepesimisan yang berkolaborasi apik dengan buruk sangka pada rumah? Ketidakpercayaan yang belum sirna? Trauma yang masih membayangi? Luka yang tidak juga sembuh?Bahkan untuk membuat rumah menjadi nyaman membutuhkan pembiasaan bersama dalam cengkrama hangatnya komunikasi. Bahkan untuk melelehkan hati dibutuhkan pembiasaan bersama dalam cengkrama hangatnya komunikasi. Bahkan untuk menyingkirkan kepesimisan, buruk sangka, ketidakpercayaan dibutuhkan pembiasaan bersama dalam cengkrama hangatnya komunikasi. Bahkan untuk menyembukan luka dan trauma dibutuhkan pembiasaan bersama dalam kehangatan keluarga.Intensitas komunikasi menentukan quallity time yang tercipta. Bahkan pertanyaan sederhana ketika jauh dimata serupa “Nduk/Le, sampun maem?” “Pripun kuliahipun/sekolahipun?” “Nduk/Le, Ibu kangen. Kapan pulang?” atau ajakan yang lebih bermakna sejenis, “Ayo main layangan sama bapak!” “Mancing yuk Le.” “Nduk besok masak makanan kesukaanmu yuk.” “Nduk, ajarin Ibu internetan dong.” Atau yang seringnya tersirat banget seperti, “Kamu punya rumah hlo di Kebumen.” “Hari ini Ibu masakan makanan kesukaanmu hlo.” “Mangga didepan sudah masak hlo”. Hlo Hlo yang mewakili rindu tanpa kata rindu. :D Ketika rumah telah menyajikan kehangatan tersebut, adakah alasan untuk tidak pulang?Dan dengan segala kerendahan hati, rumahpun berbisik. “Hubungi aku sesekali saja. Tapi nanti saja. Maaf atas kelancanganku, jika merindu katakan saja secara langsung. Iya nanti saja. Atau jika ingin sekali bertemu ajak saja. Nanti saja jika kamu ingat aku. Jika ingat saja ya? Kan kamu sibuk.”Pulanglah Nak, :”) sehangat-hangatnya selimut kontrakan, pelukan Bunda/Ayah selalu lebih hangat. :”)^O^Trauma mendalam yang masih menyuburkan kepesimisan dan ketidakpercayaan lantas menimbulkan keengganan itu ammm cukup sulit memang. Hal – hal tidak menyenangkan yang membuat kita tidak nyaman.Tengoklah lagi, benarkah itu benar-benar sesuatu yang wajar untuk masuk kategori “tidak nyaman”, maksud saya. teliti lagi, jangan-jangan itu nampak tidak nyaman sebab rasa syukur kita yang kurang. Harapan kita yang terlalu tinggi sehingga berbuah kecewa pada rumah / keluarga. Jika memang demikian, berdamailah dengan ketidaknyamanan itu. Jadikan itu nyaman dalam tampilan yang berbeda. Bersyukurlah atas kehadiran rumah/keluarga yang kini milikmu. Setidaknya disana kamu akan menemukan paket kesabaran dan penerimaan kehendak.Nya. Seperti halnya rumah/keluarga yang senantiasa menerima kepulangan kita, kapanpun dengan keadaan seperti apapun. Pintu untukmu selalu terbuka.Atau luka itu memang nyata membuat kucuran air mata dan goresan penuh nanah? Kamu tidak yakin bisa kembali lagi kesana? Tidak yakin pada keselamatanmu disana? Bismillah, ketika kamu menyadari hal itu. Melunaklah untuk menguatkanmu. Kamu adalah bara, menghangatkan atau meniadakan sekaligus. Hijrahlah jika luka itu nyata mengancam akidahmu, jika hanya mengancam raga, insya Allah ada yang selalu membuatmu bertahan. Menerjang luka itu. Maka, pulanglah. Maaf dan memaafkan itu tidak pernah sekalipun berpihak dan terlambat.^O^Jumat, 15 Mei 2015Kereta Prambanan Ekspress merah hijau melaju menuju barat. Meninggalkan Stasiun Purwosari yang sudah sepertiga penuh penumpang. Ada saya dan Ksatria Kedua disana. Sepasang kakak-adik yang hendak menjemput rindu. Melunasinya hingga minggu siang. Sayang, sepulangnya saya ke Solo, Ksatria Kedua masih di Kebumen. Totalitas membayar rindu, mungkin.Dan tanpa harus merindu lebih banyak lagi, Jumat depan saya harus menjemput Ksatria Kedua (lagi). :D Ekspedisi Wonogiri bersama cahbocah SABS sudah menanti kehadirannya. ^_^Bismillah, semoga sehat! :D
Posted by RisaRiiLeon at 21:18 | Labels: Dear, Kita | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Bismillaahirrahmaanirrahiim :)
Bukan pertama kalinya moment saya mencandai Faiz dalam kebasahan pipis di kamar mandi. :D Memandikan Faiz setelah ia sukses dibasahi pipisnya sendiri. Faiz ngompol lagi di sekolah. :D“Kan kemarin Bu Risa sudah bilang ke Faiz, kalau Faiz mau pipis bilang ke Bu Risa atau ke Bu Diah. Kok Faiz enggak bilang to. Hem hem.” Tanyaku berpura pura marah dengan memasang wajah pura – pura sebel. Dan yang ditanya bukannya memberikan penjelasan, malah gigit jari sama cengar – cengir enggak jelas. (Mungkin tahu, kebiasaan pura – pura nesu.ku di kelas. :D ) Duh Nduk, gimana aku enggak jatuh cinta sama kamu to yo :3^O^Di kelas Kelompok Bermain, memang Cuma Faiz yang masih memakai pampers. Usianya baru mau masuk tiga tahun, tapi motorik kasarnya sudah cukup bagus, dan sepertinya sudah siap untuk proses toilet training. Saatnya meminimalisir penggunaan pampers untuk si kecil. (sebab popok semacam itu sebenarnya juga kurang baik untuk kulit di kecil, ya biar bagaimanapun toksin dalam air seni itu memang harus segera di bersihkan.) ^_^Bunda, selain dari segi usia, sebenarnya memutuskan waktu tepat memulai proses toilet training itu ada beberapa hal. Tanda – tanda kesiapan anak diantaranya, ia sudah mampu berjalan sendiri, tidak dipegangi lagi, interval buang air kecilnya paling tidak dua jam sekali, anak sudah bisa menurunkan celananya sendiri, dan sudah bisa berkata/ memberi isyarat kalau ia ingin buang air kecil.Untuk Faiz, kesiapannya sudah baik, hanya saja faktor pembiasaannya yang memang harus ditekankan. Karena terbiasa dengan pampers, kemungkinan dia masih belum terbiasa menyatakan keinginannya untuk buang air. Atau bisa juga karena persepsinya dia yang perlu diluruskan. Sebagaimana anak – anak lainnya yang harus melihat bendanya secara langsung baru bilang, mungkin Faiz juga harus lihat ‘benda’nya dulu baru bilang. Makannya baru bilang ke bu gurunya setelah dia pipis atau pup. :D Jadi, mungkin bisa diberi pengertian bahwa pipis atau pup datang dengan tanda – tanda, sakit perut atau semacamnya. :D“Nanti to, kalau Faiz perutnya sakit bilang ke Bu Risa atau ke Bu Diah ya. Itu berarti Faiz mau pup. Nah nanti dianter deh ke kamar mandi. Oke Faiz?” tanyaku agak retoris ke si bocah.Tak ada jawaban iya, tapi anggukannya cukup melegakan. Ya, saya titipkan banyak semoga disana. :DTerlepas dari kisah Faiz di sekolah, pembiasaan dirumah juga sangat berpengaruh Bunda. (sebab sebagian waktu anak memang dihabiskan bersama ayah bunda kan? J Sekolah hanya penunjang. Mengingat di sekolah anak – anak sudah dibiasakan untuk pipis sebelum kegiatan bermain dan sebelum makan, juga sebelum tidur bagi yang fullday.)Saat si kecil bangun tidur, biasanya ia ingin buang air kecil tetapi malas ke kamar mandi dan berakhir dengan sengaja pipis ke kasur. :D Untuk itu Bunda bisa menyediakan ember dengan penutup di dekat tempat tidur. Awalnya kita kenalkan fungsi dari benda tersebut. Sampaikan secara berkala sampai anak mampu memahaminya. Ketika anak sudah lancar buang air kecil di ember itu, secara berlahan letakkan ember itu menjauhi tempat tidurnya. Hal tersebut untuk membuat anak berjalan agar menjangkau ember dan melawan kemalasannya. Selangkah demi selangkah, jauhkan ember dari tempat tidur sampai mendekati kamar mandi. Nah tahap finalnya, letakkan ember itu dikamar mandi sehingga anak terbiasa ke kamar mandi untuk buang air.Bunda tetap harus ingat, bahwa kesabaran adalah bekal utama membersamai anak. Barangkali akan ada saat anak buang air kecil sembarangan lagi, padahal sudah diingatkan berkali – kali. Hmm namanya juga anak – anak bu. :D (yang sudah dewasa saja masih harus sering diingatkan :v) Tidak perlu emosi Bunda. Segera bawa saja si kecil ke kamar mandi, sembari menegaskan, “Sayaang, pipisnya disini hlo. Tempat pipisnya di kamar mandi. Paham?” :D Kalau dijawabnya dengan anggukan. Jangan lupa kasih jempol. :D Dan berilah pujian saat anak berhasil buang air kecil di kamar mandi.Lain lagi jika anak mengompol di malam hari, Bunda. Agar si kecil tidak mengompol dimalam hari, sebaiknya dua jam sebelum tidur anak tidak diberi minum. Karena proses pencernaan itu biasanya setelah dua jam. Minum susunya setelah shalat magrib nag gitu :D. Kemudian, tawarkan untuk pipis sebelum tidur kepada anak.“De, pipis dulu yuk sebelum tidur.”Oia Bunda, tahap toilet training tidak berhenti pada keberhasilan anak pipis di kamar mandi. Sebab setelah pipis, anak juga harus belajar memakai celananya sendiri. :D Kalau di sekolah, biasanya celananya ditata (tidak terbalik luar dalam atau depan belakang). Lalu anak memakainya sambil duduk. Kakinya dimasukkan satu satu ke celana, nah tahap mengangkat celananya itu yang biasanya anak kesusahan. Biarkan anak selesai dengan ikhtiarnya dulu Bunda, setelah itu kita baru merapikannya :DDaaaan tepuk salut untuk dek Safa yang sudah mau pipis di sekolah. :D Bu Risa tunggu suara Safa yang lain yaa sayaang :* Buat Faiz juga deh. :D Kan udah nurut enggak pake pampers ^_^
Semangat Bersabar Membersamai dua - tiga tahun pertama si Kecil Bunda, Ayah ^_^Posted by RisaRiiLeon at 20:56 | Labels: Jendela Anak, Kacamata Risa | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Bismillaahirrahmaanirrahiim :)
Senin, 19 Januari 2015
Ms. Asri's wedding, 5 Mei 2015
Subuh tadi, tepat pukul 04.53 WIB saya terbangun dengan layar handphone penuh pemberitahuan pesan masuk. Ada tiga pesan, satu dari seorang rekan, dan dua dari kamu. Pesanmu adalah prioritasku untuk dibalas. Tentu saja, mengingat betapa langkanya pesan singkatmu dalam lingkup waktu kita yang berbeda agenda. Dan Voillaaa, Maha Suci Allah yang meneteskan embun bahagia dihari yang masih merayap malu-malu.“Cuma mau ngasih kabar, nanti malam dirumah insya Allah ada acara.” jelasmu singkat.“Acara” sebuah kata yang menjadi tiket ku menggambar pada moment ketika seorang laki-laki menyatakan keseriusannya membersamai dan mencintai dihadapan dua keluarga. Ya, Khitbah :”) Ada bahagia yang membuncah, dan saya bingung mengekspresikannya. Melonjak kegirangan, guling-guling dikasur, tertawa penuh syukur, memuji Sang Maha Perencana berkali-kali, kamu resmi membuat saya jumpalitan senang pagi ini. Hahahaha entahlah, kenapa saya sebahagia ini. Tapi tak perlu memakan waktu banyak untuk mencari jawabnya. Bahagiamu itu penting bagi saya, dan perasaan seorang adik kepada kakaknya itu tidak akan berubah sampai kapanpun.Bahagia yang selalu ada saat kamu mengajak jumpa atau saya yang memaksa temu. :D Jujur, saya tidak terlalu peduli pada penuturanmu pada kisah-kisah temanmu saat kita bersua, saya hanya peduli bagaimana kamu menyikapi ragam karakter temanmu itu. Saya hanya peduli pada lisanmu menjabarkan suka duka lika luka hidup. Saya hanya peduli pada bagaimana kamu berusaha menerima dan berdamai dengan hal-hal yang kurang menyenangkan. Sebab disana saya melihat kamu belajar, bertumbuh, dan berkembang. Sebab disana pula saya banyak belajar darimu :”)Tepatnya nanti malam ya? Ah ya, seharusnya saya turut disana. Menyaksikan pipimu yang merona. Bahagiamu yang pecah. Juga haru yang menyaru dalam tetes bening di pelupuk mata. Saya harus siaga untuk memelukmu, jika perlu mencubitmu. Meyakinkanmu bahwa ini bukan mimpi belaka. Ayolah, dari cerita terakhir kali kamu masih mempertanyakan nyata kehadirannya yang memang benar-benar ada. :”)Ingat? List karakter yang kamu butuhkan sebagai kriteria seorang partner menjalani hidup. Seorang yang tak hanya akan menjadi suami namun juga seorang ayah dari anak-anakmu kelak. Saya masih menyimpannya, berharap dapat menemukan seorang itu lantas mempertemukannya denganmu. :”) Sangat berharap saya adalah pihak yang memiliki kontribusi atas pertemuan kalian, namun apalah daya. Alur hidup membawamu bertemu dengannya tanpa melalui saya. Ah bahkan saya yang kamu ajak berkenalan dengannya. Insya Allah sepulang amanah ini saya agendakan untuk menemui kalian ^_^
Dan hingga senja tergulung malam,
rona bahagia ini masih nampak. Meski seharian harus mengurus perijinan
kegiatan, mencari tempat foto copy yang bisa foto copy buram hingga puskesmas
yang jaraknya dua belasan kilometer dengan jalan super siaga, keliling sekolah
dasar satu desa, merampungkan proposal kegiatan dalam waktu sesingkat mungkin,
semua kekuatan dan senyum saya hari ini resmi disponsori oleh berita darimu.
^_^ Terima kasihhh untuk berbagi bahagia.^O^“Aku ndak berani lihat siapapun!” teramu sebagai balasan atas pertanyaanku mengenai prosesimu.
Terbayangkan bagaimana kamu terjangkit Loveseisme. Dengan tampilan apa adanya kamu menemui mereka. Kesederhanaan yang penuh keanggunan, senyum penuh malu-malu, lantas degup jantung yang seolah beranak pinak hingga muncul dipermukaan layaknya gempa lokal, padahal cuma ada dua insan yang merasakannya. Yakin deh, diapun merasakan hal serupa. Hmm sekedar info saja, Loveseisme itu semacam guncangan yang terjadi dalam tubuh sebab adanya gelombang cinta dalam diri. Jarak episentrum yang dekat dengan permukaan hati kedua insan adalah salah satu pemicunya. Gejalanya cukup sederhana, perut mulas sebab jantung yang turun ke lambung, degup jantung berpacu lebih cepat, ada kristalan keringat dibeberapa tempat. :D Pun dengan rona wajah yang menguat seketika. :D Kamu pasti lucu dengan raut wajah demikian. Semoga dilancarkan yaa ^_^ Semangat menjemput keberkahan atas proses menuju keutuhan diri. ^_^ Saya berbahagia untuk kamu. :”)Posted by RisaRiiLeon at 20:52 | Labels: Dear, Sahabat | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Berdamai dengan Ketidaknyamanan
Thursday, 28 May 2015
Bismillaahirrahmaanirrahiim :)
“Anak – anak membutuhkan rasa kecewa, sedih, juga berbagai rasa yang kurang menyenangkan untuk membawanya pada proses pendewasaan. #risariileon”Beberapa buah bincang dengan mereka yang sudah menjadi orangtua kritis dalam forum jagongan cahbocah ataupun forum evaluasi pembelajaran di PAUD, nyata ada kenyamanan yang mulai dikhawatirkan para orangtua.^O^Ada seorang anak yang terpenuhi fasilitas pengembang bakat dan minatnya. Kerajinannya mencorat-coret kertas dengan berbagai bentuk disekitarnya, ayah bunda telah siaga dengan fasilitas kertas gambar, pensil banyak warna, software pendukung, pun dengan kebersamaan menemaninya menggambar. Menyenangkan dan menyamankan. Dan kerisauan itu mulai datang, saat di luar rumah anak mulai menunjukkan keengganannya berbaur dengan lingkungan, keengganannya bertegur sapa, ah ya, nyaman membuatnya lupa pada sekitar yang tak sama dengan rumahnya.Setiap kata yang keluar dari si kecil adalah titah. Ayah Bunda harus ‘iya’ meski seharusnya tidak. Harus menuruti apa yang dikehendaki. Jika sebaliknya, ada gelegar panjang berbuntut rengekan tak henti. Si Anakpun tak pernah mau mengalah, kepatuhannya entah terbawa laut mana. Tak ayal lagi, kecemasan mulai menyergap hati Ayah Bunda.^O^Zona kenyamanan memang kerap melenakan, membuat kita enggan melakukan perpindahan pada hidup yang nyata terus bergerak. Menjadi sangat perlu bukan? Untuk mengenalkan anak pada ketidaknyamanan. Mengenalkannya pada hal – hal yang kurang menyenangkan. Mengenalkannya dengan ikhtiar untuk mendapatkan sesuatu yang ia inginkan. Mengajaknya untuk sedikit berpeluh tanpa banyak mengeluh. Menjalani penundaan keinginan sebab mendapat jeda mengikhtiarkan.Memang akan ada guratan kecewa atau sedih ketika keinginannya tidak segera terwujud. Memang akan ada berontak yang tercuat ketika keinginannya tidak segera terlaksana. Memang akan ada kemarahan yang muncul dipermukaan ketika keinginannya tidak sesuai dengan harapan.Namun, tenanglah, berlahan anak pun akan belajar untuk bersabar. Berdamai dengan ketidaknyamanan. Bersyukur atas anugerah yang diberikan. Bukan proses pendek tentunya, maka kitapun harus turut menyabarkan diri, menguatkan diri untuk membuat anak – anak turut kuat bersama kita. Kuat berikhitar, kuat bersabar, kuat dalam ujian, kuat mengarungi samudra kehidupan. Hingga kuatlah imannya kepada Tuhan.Lebih dari itu, ketika sebuah ikhtiar terlaksana, senyum sapa ramah sekitar pun mulai terangkai. Melibatkan anak tentu akan membawanya bertemu dengan banyak atmosfer sosial. Pembiasaan dini untuk mengajaknya belajar beradaptasi dengan banyak ranah. Tidak harus mengandalkan lembaga pendidikan formal agar anak mau memulai pertemanan. Seminggu sekali atau dua kali keluar rumah, menyapa tetangga, bismillah akan membawanya mengenal banyak orang.Ingat bukan? Tugas orang tua adalah fasilitator, bukan diktator :vTidak perlu melarang anak untuk ini itu yang sedang ia ingintahui, atau menuruti apa yang dimaui. Cukup mengawasi tanpa mengekang. Mencukupi tanpa banyak memanjakan. Bukan melarangnya mencoba, tapi tetap mendampinginya saat terjatuh. Biarlah dia terjatuh selama dia tahu bagaimana caranya bangkit. Biarlah dia memiliki masalah selama dia paham bagaimana solusinya. (keknya saya pernah menulis ini deh :v)Kemandirian ataupun kematangan anak bertemu dengan banyak lingkungan itu tidak melulu soal usia, tidak dapat dipungkiri bahwa latar belakang keluarga dan pola asuh orangtua itu juga memiliki andil pada kematangan anak. Dan meski tidak dapat dipukul rata, usia seorang anak berpengaruh terhadap proses pembelajarannya di kelas (secara klasikal). Akan ada masanya untuk anak belajar dengan teman sebayanya, melepas genggaman nyaman Ayah Bunda.Jika dikaitkan dengan yang lebih dekat (sebelum mengarah pada pola asuh, pemilihan mengikhtiarkan seorang ‘partner of life’ adalah yang terdekat dengan saya setidaknya :v ) perkara jodoh sejatinya tidak melulu soal kenyamanan. Sekedar mengingatkan saja, bukankah zona nyaman itu kerap melenakan? Maka ikhtiarkanlah terhadap ia yang mampu meningkatkan kadar keimanan. Ikhtiarkanlah terhadap ia yang membawa banyak kebermanfaatan. Ikhtiarkanlah yang bersamanya kamu mampu berbuat banyak kebajikan. Ikhtiarkanlah yang bersamanya kamu mampu membuat banyak perbaikan. Ikhtiarkanlah yang bersama dengannya membuatmu saling mengingatkan dalam kebaikan. Ikhtiarkanlah yang kebersamaan dengannya meningkatkan kecintaanmu kepada Tuhan. Semangat mengikhtiarkan! ^_^ Semangat berdamai dengan ketidaknyamanan! ^_^^O^
“Menikahlah sebelum mapan agar anak – anak kita dibesarkan bersama kesulitan – kesulitan kita. Agar anak – anak turut kenyang bersama keajaiban – keajaiban yang Allah anugerahkan. Menjaga anak –anak dari ketertinggalan makna perjuangan hidup. Andriano Rusfi”Posted by RisaRiiLeon at 02:46 | Labels: Jendela Anak, Kacamata Risa | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
“PR Bersama” Segenggam Apresiasi Untuk Sekolah Alam Bengawan Solo
Friday, 24 April 2015
Bismillaahirrahmaanirrahiim :)
*hmmmmm* Menghela nafas sebentar. Bukan sebab menuliskan ini akan memerlukan banyak tenaga, bukan pula sebab berfikir banyak, namun menuliskan ini berarti menyatukan kepingan – kepingan cerita yang sempat masuk kerajaan kenangan.Masa Ksatria Kedua berkenalan, beradaptasi, hingga mampu berinteraksi sampai kini. Tanpa jelas siapa yang menjadi guru, semua menikmati masa pembelajaran tersebut. Dan selalu, adalah “Mengapa dan Kenapa” yang hadir ketika saya ditanya alamat.Dan ketika harus memberikan testimoni, fikir saya melayang jauh kemana – mana. Harus mulai darimana? Hmmm saya bingung.^O^Menggaris bawahi program “Jagongan Orang Tua CahBocah” sebagai daya tarik dari Sekolah Alam Bengawan Solo (SABS) di mata saya. Sejenis forum bincang hangat yang tercipta setiap akhir tema pembelajaran sebagai wadah komunikasi proses di sekolah dan di rumah. Di hadiri oleh orang tua/wali dari CahBocah, seperangkat Mas/Mbak SABS, Pak Yudi, dan terkadang Mbah Gondrong atau beberapa rekan mahasiswa/i dengan KEPO tingkat univ. Mengambil waktu ba’da isya dengan harapan kehadiran penuh dari segenap orangtua/wali CahBocah.Terhitung empat atau lima kali saya mengikuti Jagongan tersebut, tiga kali menerima raport sisanya sebagai seorang mahasiswi KEPO :v. Raport pertama mengabarkan proses adaptasi Ksatria Kedua dengan lingkungan barunya, teman – teman dan proses belajarnya.“Gimana, mau sekolah di Solo atau di Kebumen aja?” tanyaku retoris dalam perjalanan pulang.“Di Solo aja Yu.” Jawab Ksatria Kedua spontan.“Hla kenapa? Yayu capek ig jemputin kamu terus haha ” candaku polos.“Hla disini enggak pernah nyatet kok!”Ketahuan kan kalau Ksatria Kedua itu menjauhi hal – hal administratif :DPertemuan sebagai wali dari Ksatria Kedua nyata berbuah fikir tentang Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional. Sebab tidak ada bangsa yang mampu mencapai kemajuan tanpa meletakkan pendidikan sebagai dasar utama pembangunannya, maka melalui undang undang tersebut pemerintah menghadirkan tiga pilar pendidikan, yakni Pendidikan Formal, Pendidikan Informal, dan Pendidikan Non Formal.Lantas mengapa tidak semua sekolah mengadakan Jagongan semacam ini? Amm setidaknya dengan mengadakan bincang hangat pendidik di rumah dan di sekolah akan mendukung penanganan tepat terhadap perkembangan perilaku anak, tidak hanya perilaku. Bisa apapun sebenarnya, mengingat semua hal tentang perkembangan anak bisa dimasukan dalam bahan bincang Jagongan tersebut. Intinya untuk melunasi UU Nomor 20 Tahun 2003 itu harus ada tindak sinergi dari tiga pilar pendidikan. Sekolah selaku pemegang ranah pendidikan formal, Rumah selaku pemilik ranah informal, serta masyarakat sebagai kendali pendidikan non formal.Nyatanya, banyak orangtua yang seolah menyerahkan penuh perkara pendidikan anak tersebut pada pihak sekolah. Ketika anak bermasalah dalam hal kognitif maupun afektif, kerap sekolahlah sasaran empuk dikambing hitamkan.Nyatanya, banyak sekolah yang menuding rumahlah sumber masalah anak bermasalah. Penanaman nilai dari moral dari keluarga yang kurang kuat sebagai pondasi anak melangkah keluar gerbang sosial, tak ayal menjadi pintu masuknya pencermaran akhlak anak.Nyatanya, rumah dan sekolah pun masih bisa menyalahkan lingkungan yang tidak mendukung perkembangan sosial anak. Lingkungan yang kotor, kasar, antipati, cuek, cerewet, pun dengan lingkungan yang rawan tindak kriminal, semua sukses menggiring anak menjadi pribadi yang kurang menyenangkan.Jika mengkambinghitamkan sudah cukup untuk menyelsaikan perkara pendidikan anak, sudah sedari dulu saya lakukan. -_-. Sayangnya, menunjuk pelaku belum tentu menunjukkan jalan keluar.^O^My SABS edisi idhul adha yang memuat “Kurikulum Orang Tua” torehan pena Rhenald Kasali serta secarik frasa yang betul – betul saya garis bawahi sekaligus kepegang erat perkara pendidikan anak ini. Laporan perkembangan Ksatria Kedua di sekolah dari Mas dan Mbaknya tentang live in Tlogowatu hingga Lapak Rebo Legi, diakhir laporan menyatakan ada “PR Bersama” yang menyemangati saya untuk lebih membersamai Ksatria Kedua ini.“PR Bersama”Pas. Bukan hanya tentang bagaimana atau dimana peringkat prestasi anak disekolah, bukan hanya tentang bagaimana atau menjadi apa anak di rumah. Bukan hanya tentang bagaimana dan seperti apa anak dimasyarakat. Namun bagaimana dan seperti apa anak disekolah, rumah, dan masyarakat. Tiga pilar yang memang harus disatukan. Tiga keping puzzle yang memang harus di gabungkan untuk menjadikan obyek itu utuh.Rumah dengan penanaman pembiasaan yang memperkuat pondasi anak berakhlak mulia hingga mampu mengajak insan lainnya, beriringan dengan perluasan wawasan ilmu dari sekolah, lantas bersinergi dengan masyarakat yang paham cara mendukung perkembangan anak.Misal,Di rumah anak diajak menjadi insan taat beribadah, santun kepada orang lain, peka terhadap kebutuhan, di sekolah anak diajak menjadi insan yang mampu melihat dunia dari banyak sisi, membuka banyak jendela semesta lantas masyarakatnya mendukung dengan kesadaran bersama tentang jam belajar (tidak bisa kan, kalau jam belajar hanya berlaku pada satu rumah,sementara rumah yang lain riuh oleh aneka hiburan audio visual. Fokus anak mesti terhias iri :3 )^O^Sekalipun tidak ada tujuan pendidikan dalam keluarga yang dirumuskan secara tersurat, tetapi secara tersirat dipahami bahwa tujuan pendidikan dalam keluarga pada umumnya adalah agar anak menjadi pribadi yang mantap, beragama, bermoral, dan menjadi anggota masyarakat yang baik.Maka dapat dikatakan bahwa pendidikan formal, non formal, dan informal ketiganya hanya dapat dibedakan tetapi tidak bisa pisahkan karena keberhasilan pendidikan dalam arti terwujudnya output pendidikan berupa sumber daya manusia sangat tergantung kepada hubungan ketiga sub system tersebut. Terlebih lagi pendidikan informal sebagai suatu fase pendidikan yang berada di samping dan di dalam pendidikan pendidikan formal dan non formal sehingga sangat menunjang keduanya, karena sebagian besar waktu peserta didik adalah justru berada di dalam ruang lingkup yang sifatnya informal yaitu lingkup keluarga.Berbagai penelitian yang dilakukan di banyak negara menunjukkan bahwa kesinambungan dari keselarasan layanan di sekolah (pendidikan formal) dengan pengasuhan di keluarga memberi dampak positif bagi keberhasilan anak di sekolah dalam jangka waktu panjang. Karena itu program Kelas Orang Tua yang terwujud dalam Jagongan Orantua/ Wali cahbocah SABS sebagai wujud pendidikan berbasis keluarga sebagai ikhtiar agar mampu menguatkan peran keluarga sebagai media pendidikan informal dan peran lembaga sebagai media pendidikan formal dalam memberikan layanan pendidikan anak yang komprehensif (Direktorat Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini, Kemendiknas: 2011).^O^Proses pengasuhan anak yang terangkum dalam istilah pola asuh orang tua merupakan sikap orang tua dalam berinteraksi kepada anaknya. Pengasuhan orang tua diharapkan mampu memberikan kedisiplinan terhadap anak, memberikan tanggapan yang sebenarnya agar anak merasa orang tuanya selalu memberikan perhatian yang positif terhadapnya. Pola asuh orang tua sebagai suatu bimbingan terhadap anak untuk membentuk kepribadian yang nantinya dapat diterima oleh masyarakat. Sehingga dapat dikatakan pola asuh orang tua merupakan penjagaan, perawatan dan mendidik anak untuk belajar dewasa dan mandiri. Sehingga dengan demikian adanya Jagongan Orangtua/Wali cahbicah SABS adalah tindak sinergi antara pihak sekolah sebagai lembaga pendidikan formal dan pihak keluarga sebagai lembaga pendidikan informal mewujudkan pembangunan kepribadian anak. Memberikan tanggapan yang sebenarnya agar anak merasa orangtuanya senantiasa mendukung aktivitas mereka. Juga menjadi salah satu kegiatan yang dapat meningkatkan hubungan orangtua dengan pihak sekolah, menjadikan orangtua tidak hanya disibukan saat proses pendaftaran dan penerimaan hasil belajar saja. Lantas sebagai anggota dari masyarakat kita mampu memposisikan diri seberapa besar porsi kita pada lingkungan, mampu membedakan ranah pribadi dan yang boleh dicampuri.Maka,Mari bersinergi membangun negeri ^_^
Jika kata Ayah Edy Indonesia Strong From Home, kata Risa Indonesia Strong From Triangle. Tiga pilar yang harus diselaraskan keberjalanannya. PR Bersama kok! Makannya Ayoo :DPosted by RisaRiiLeon at 23:28 | Labels: Dear, Jendela Anak | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
saya (sangat) pamrih!
Monday, 23 March 2015
Bismillaahirrahmaanirrahiim :)
“Syaratnya adalah ikhlas. Tanpa mengharap pamrih.“ lontarmu renyah tanpa tahu ada batu besar menumbuk di dada saya, membuat remuk dan sesak nafas saya.
Kamu berkata seolah ikhlas ada kerupuk ringan yang siap kunyah dan mampu dinikmati manusia kelas tinggi hingga kelas bawah.
Kamu mensyaratkan keikhlasan pada manusia super pamrih macam saya.
Lagian, seperti apa wujud ikhlas itu? Saya belum pernah menemuinya, bahkan dalam surat yang katanya Al-Ikhlas. Tak secarikpun kudapati kata atau frasa ikhlas itu ada.
Saya buta akan ikhlas.
Ya, kamu benar. Saya adalah makhluk matrealistis. Makhluk Super Pamrih yang memang harus ada timbal balik dari apa yang saya lakukan.
Pun dengan mencintaimu kini.
Tak setetespun ikhlas itu menempel dalam niatan saya.
Sebab nyata, saya menginginkan kamu menjadi bagian dari kita agar setidaknya Allah Ta’ala sudi menatap saya.
Sebab nyata, saya menginginkan surga atas semua amal yang saya kerjakan di jalan ini.
Sebab nyata, saya menginginkan ridho dan pertolongan.Nya yang hanya bisa dijemput melalui takwa.
Sebab nyata, saya adalah manusia biasa yang tak berdaya bila tanpa kuasa.Nya.
Maka ijinkan saya bertanya mengenai ikhlas yang kamu syaratkan kepada saya, ikhlas macam apa? jenis yang bagaimana? sebab ramai semesta mengabarkan keikhlasan akhir-akhir ini.
Tentang mengabarkan media perihal tindak terpuji kah?
Tentang mengharap pamrih atas laku baikmu?
Tentang menuntut balas atas akhlak kasihmu?
Lantas,
dimana ikhlas yang tak terbilang namun banyak sayang?
dimana ikhlas yang terpendam tanpa pernah mendendam?
dimana ikhlas yang sedia menerima tanpa menanya?
dimana ikhlas damai cinta hamba semata pada Allah ta'ala dengan banyak cara?
Dan kamu akan bertemu Merana sebagai rasa pertama yang terasa saat rela menguap ke udara. Ikhlas yang dipertanyakan. Serta ikhtiar yang terabaikan. Pun dengan amal yang hangus sebelum sampai tujuan. Terjebak dalam ruang pencitraan.
hey, itu ulahmu bocah!
Grobogan, 8 Februari 2015
Posted by RisaRiiLeon at 20:53 | Labels: Kacamata Risa | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
