-
Seorang Dengan Nama ‘Lurus’
Wednesday, 27 November 2013
Bismillaahirrahmaanirrahiim :)
Selasa, 29 Oktober 2013Sebuah surat delegasi menjadi tiket resmi saya menyelami danau itu. Danau kenangan yang terisi riak masa lalu, tentangmu, tentang kita, tentang hujan, tentang ayunan, tentang masa seragam berenda itu. :”) Tentang semua yang pernah kita jamah.^O^Bus berlabel “Rukun Sayur” tiba di TKP tepat pukul 08.27 WIB (kira kira sih). Lima puluh enam peserta Pendidikan Karakter tumpah dipelataran Pondok Sari I. Merajai jalan diantara bus bus yang saling bersenggama ditrotoar jalan. Dan di sana, arah jam dua dari gerbang masuk, sebuah benda anakan dari Bandul Sederhana cetusan Galileo Galilei, benda berayun dengan tempan duduk yang turut berayun didasarnya. Ya sebut saja Ayunan. :D Saya berlari ke arahnya. Serupa besi yang tersengat ujung magnet, tanpa peduli tatapan “iiieuuuhh!” atau “Ih apa apan sih?” juga “Anak Kecil!” haha kupangkas pandang itu bersama kecuekan luar biasa. :DDan diantara kepasrahan benda berbahan besi itu, diantara terjangan udara yang mengayun, dengan tatap sembarang, saya menangkap seorang. Seorang dengan rupa sama denganmu. Seorang dengan dua taring yang muncul disela senyuman. Seorang yang beberapa kedepan nanti sepertinya menyita perhatian. Ya, sepertinya demikian.^O^Nyata memang. Ruang pandang saya sesekali tertarik pada sosoknya. Di sela riuhnya permainan dari moderator. Si sela hujan makna dari pembicara. Di sela bahana tepuk tangan di udara, saya mencuri sempat menatapnya. Sial, saya terbohongi. Sebab dia bukan kamu, tapi saya tetap menatapnya. Hmm bodoh ternyata!Tapi diantara kebodohan kebodohan saya sabtu – minggu lalu, sungguh saya merasa sangat dekat denganmu, rekan satu debat semasa biru putih. Dan nyata saya berharap itu kamu, seorang yang menatapku masih dengan malu malu. Dentingan sendok garpu yang bergesek dengan piring, air yang tumpah di gelas, meja diseberang resmi membuat saya berdebar sebab alasan tak jelas. Haha semoga bukan asmara!^O^Dalam sebuah sesi permaian saya kami saling tukar nama, dan sekarang saya tahu siapa nama manusia dengan dua gigi taring dipermukaan itu. Saya memanggilnya “Lurus”. Mungkin ada harap orang tua agar ia tumbuh sebagai manusia yang memiliki jalan lurus (tanpa neko neko yang bikin nelongso ) serupa jalan bagi orang orang yang dirahmati.Nya. :”)Dalam sesi permaianpun, dimana ia menjadi obyek hukuman terindah , sungguh membuncahkan kagum saya. Melalui segelas udara yang ia tangkap dalam ruang kaca lalu dijatuhkan dengan tempo tepat dipapan kayu kemudian lisan yang mendendangkan melodi bersyair, dia dan kelompoknya memukau kami para penonton. Accapela dan perkusi yang indah. Terlampau sayang jika dibiarkan menguap tanpa tepuk tangan dan decak kagum.^O^Dan Tuhan entah dengan maksud apa mengijinkan saya memberi kesempatan untuk satu koordinat sejajar di meja saji. Memberinya sebuah piring, garpu dan sendok, lalu berjalan berseberangan tanpa sepatah katapun. Sepertinya ada kesibukan meredam sesuatu yang takut muncul dipermukaan. Kami mengambil menu sarapan tanpa saling sapa, juga tanpa saling tatap (padahal sebelumnya saling curi tatap haha Sifat!). Makanpun tak satu meja. Namun saya ingat benar, meski secara tidak langsung dia menjadi salah satu dari beberapa rekan yang menanyakan sebab saya tidak mengikuti permainan selanjutnya setelah perang perangan.“Kamu sakit to?” tanyanya dengan (basa basi) seusai mencuci kaki.“Hehe enggak kok, Cuma mimisan biasa!” jawabku sekenanya.“Iya? Amm kalau gitu aku duluan ya!”“Hehe iya!” ucapku sembari mengganti tisu bernoda merah.^O^Ini hanya sebuah tulisan tentang simpati yang kadang hadir secara berlebihan. Menggenang dipermukaan sebab memang demikian. Haha suatu hal yang berlebihan memang sangat wajar untuk dibagikan bukan?! Simpati yang mudah hadir untuk siapa saja, misalnya. :PPosted by RisaRiiLeon at 03:45 | Labels: Sosok | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Bismillaahirrahmaanirrahiim :)
Rabu, 27 Nopember 2013Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang (Q.S. Al Ahzab : 59)^O^Masih pagi tapi hati sudah dibuat mendidih. :3Untuk Saudariku Tersayang, terima kasih untuk hari ini :”)Semoga apa yang saya sampaikan tadi dan saya tuliskan ini tidak membersitkan luka padamu. Saya hanya ingin meluruskan beberapa hal berdasarkan logika agar tampak kasat mata, seperti penuturanmu tadi :”)^O^Ketika kamu berkata dan menunjuk apa yang saya kenakan dengan istilah ‘KUNO, TIDAK MODERN, KETINGGALAN JAMAN, TIDAK UP TO DATE!” maka saya bertanya, seperti apakah jenis pakaian mereka manusia purba? Manusia terdahulu yang belum mengenal mesin mesin pencipta kain dari serat serat tumbuhan, manusia yang belum mengenal peradaban indah?Hayooo coba diingat bagaimana cara berpakaian mereka?Minimalis, hanya menutup beberapa bagian tertentu saja, ketat, pengundang masuk angin dan lain lain. Nah sekarang bandingkan dengan apa yang saya kenakan, serupakah dengan mereka sehingga kamu mengatakan saya kuno dan tidak modern? :”)Bahkan saya merasa sangat modern sebab apa yang saya kenakan. Bahkan saya merasa sangat up to date, mengikuti perkembangan jaman dengan banyak pemanfaatan teknolgi. Bahkan saya merasa sangat tidak ketinggalan jaman sebab yang saya kenakan tidak serupa manusia purba yang kurang pakaian. :”)^O^Saat kamu menuding berfikiran kolot dan enggan terbuka dengan kemajuan teknologi, amm mungkin benar saya berfikiran kolot. Mewarisi paham bahwa sesuatu yang berharga harus dijaga penuh kesahajaan cinta. Bahwa sesuatu yang istimewa harus diperlakukan istimewa. Perempuan adalah makhluk indah bukti ciptaan.Nya yang istimewa, lebih indah dari perhiasan dunia dan seisinya. Maka untuk menjaga sesuatu yang sangat istimewa itu saya mengenakan apa yang saya yakini. Saya menjaganya untuk seorang yang istimewa juga. :”) Kemudian, seperti apakah keterbukaan kemajuan teknologi yang kamu maksudkan? Saya rasa apa yang saya kenakan kini serupa dengan kerukunan manusia dalam pemanfaatan teknologi, :”) memanfaatkan kemajuan teknologi berpakaian khususnya. :”)^O^Saudariku, maaf atas sikap saya tadi. Jujur saya memang marah, namun sejatinya saya sangat sedih sebab kita berbeda pandang.Saudariku, kamu tau intan permata yang biasa engkau lihat dietalase toko agung diseberang jalan itu? Bayangkan jika intan permata dibungkus hanya dengan kantong kresek transparan, bukankah ia terkesan barang murahan. Serupa imitasi jauh dari asli. Bandingkan dengan sebuah emas sederhana yang dibungkus kertas kado istimewa, bukankah ia akan nampak lebih mempesona? :”)Juga saudariku, saya tahu engkau cerdas, bahkan engkau sudah menyita habis seluruh hukum tentang menutup aurat, dan saya sangat paham bahwa kamu sedang berproses, sayapun sangat percaya bahwa kamu akan ada masanya kita berpandang sama. Saya sangat menantikan masa itu. :”)^O^“Sesungguhnya dunia ini adalah perhiasan dan tidak ada di antara perhiasan dunia yang lebih baik daripada wanita yang sholihah.” (HR. Ibnu Majah)Posted by RisaRiiLeon at 03:26 | Labels: Dear | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Dua Perempuan Di Bawah Gerimis
Tuesday, 26 November 2013
Bismillaahirrahmaanirrahiim :)
Selasa, 26 Nopember 2013hamasahselalu.wordpress.com Mendung pukul dua belas membuat langit seakan melewatkan manisnya bias jingga ufuk barat. Konspirasi alam untuk menipu pandang bahwa hari masih berjalan setengahnya, menampakkan kaki malam sebab columunimbus yang memayungi jagad. Dan air itupun berjatuhan, menabrak nabrakan diri pada tiap permukaan yang ditawarkan bumi. Hujan.Dan kita berlarian menuju kelas untuk mata kuliah selanjutnya. Mata kuliah yang sering membuat galau katanya :D Haha Pendidikan Anak Dalam Keluarga. Kamu terheran memandang saya yang jalan berlahan, pasrah pada air yang menimpuk saya pelan.“Ini masih gerimis. Nikmatilah sayaang!” seruku menjawab tatapmu.“Haha tapi tetap saja membuat basah sayaang!” selorohmu enggan mengalah, namun kaki ringan melangkah. Tak lagi berlari.“Nikmati saja, ini kah limpahan berkah katamu!” pandangku mengarah, memastikan kamu tidak lupa “Q.S Ar Rum ayat 48!”.“Iya iyaa, hujan memang berkah hanya saja jika kamu kehujanan gini terus ini mau kuliah, kamu bisa masuk angin sayaang!”“Haha sekarang kamu ya yang berlebihan :P Sayakan sudah bilang ini masih gerimis, jadi nikmati saya tiap tetesnya.” Seringaiku batu. “Jadi bagaimana untuk tahun depan? Lanjutkah?” Alihku mencari tema lain.“Hmmm saya belum tahu. Kamu saja ya yang lanjut, biar saya di jalan sebelah.”“Hla kok gitu? Bukannya di jalur sebelah sudah banyak insan yang meramaikan. Saya butuh teman untuk disini.”“Saya belum memutuskan Ukh, tenang saja. Insya allah nanti dimudahkan.” Hiburmu tak tega melihat saya manyun.“Hehe syukron Ukh. Adik adik anti bagaimana? Masih terkoordinir? Komunikasinya intens? Udah bribik buat difollow up kan?” serbu saya ingin tahu.“Hwahh sepertinya ada adik saya yang lebih dominan dijalur sebelah, tapi ada juga yang tetap lebih disini. Saya sih ya ngajak ngajak kalau ada agenda Ukh, untuk bribik jelas sejak awal tapi ya tetep semua keputusan ada pada mereka Ukh.” Jelasmu panjang lebar.“Hmm saya juga gitu Ukh. Meski sejak awal kita sudah bribik adik adiknya, mengharap kontribusi mereka dijalan ini tapi keputusan pada akhirnya kita kembalikan pada mereka. Hla berjalan disini kan ndak bisa dipaksain, toh juga sejatinya dimanapun mereka berjalan, selama menebar kebaikan bersama insya Allah ada kemudahan kemudian.”“Benar Ukh, ndak bisa dipaksa. Cuma mengoptimalkan untuk menemani mereka. Njagani istilahnya.”“Menjaga mereka sebelum tidak bisa menjaga. Menemani sebelum tidak bisa menemani. Ya Allah Ukh, sebentar lagi ya ....”“Eh? Apanya?!” kamu terkaget.“Ya PPL atau KKN gitu, terus skripsi, terus wisuda. Aamiiiiin” histerisku antara senang dan bimbang.“Iya sepertinya baru kemarin kita ngumpul didepan rektorat pakai seragam serba putih untuk upacara pembukaan OSMARU.” Ucapmu penuh kenang.^O^Serasa mencium aroma perpisahan, masa kepengurusan akhir selalu saja mengabarkan tentang perpisahan juga pemeberian tongkat estafet lembaga. Kakak yang sudah siap dengan ide ide mengenai judul proposal, adik adik yang sedang dalam proses memilih dalam kebaikan, juga agenda agenda yang segera rilis dalam rapat kerja pengurus yang baru. Semua hal yang selalu menyita perhatian bersama.Dimulai dengan pegumpulan LPJ kepenguran guna dieavaluasi dan refrensi perbaikan tahun mendatang hingga musyawarah anggota untuk peresmian seserahan tongkat estafet. Dan slide slide indah kenangan satu periode kepengurusanpun bersliweran dalam angan. Kali pertama melangkah bersama, kali pertama menyukseskan agenda program kerja, kali pertama mengajukan proposal kegiatan, kali pertama syuro dibalik hijab, dan hal hal pertama lainnya. Hal hal yang pada akhirnya akan membuahkan rindu pada sesama saudari seperjuangan, :”)^O^Kemudian, madu itu terasa sangat manis penuh kesahajaan. Manis yang sangat sederhana, ketika dua anak manusia berjalan beriring dibawah rinai air yang merembes dari pori langit. Dua anak manusia yang saling bertemu, menyapa, menyinta sebaba semata karena.Nya. Membincangkan banyak hal dalam langkah perbaikan bersama. Saling mengingatkan dan mengajak dalam kebaikan. Ukhti, uhibukki fillah :”)Posted by RisaRiiLeon at 05:30 | Labels: Hujan | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |
-
Tidak Ada Anak Yang Nakal, Tapi.....
Monday, 25 November 2013
Bismillaahirrahmaanirrahiim :)
Selasa, 19 November 2013
“Saya pernah mendengar sebuah peribahasa yang menyatakan bahwa tidak ada anak yang nakal yang ada hanya orang tua yang tak mampu mengasuh. Tidak ada siswa yang bodoh, yang ada guru yang tak mampu mendidik. Dari dua pernyataan tersebut yang ingin saya tanyakan ialah benarkah kedua pernyataan tersebut? Juga tolong sertakan dasar dari jawaban saudari.” Kira kira begitu pertanyaan dari seorang rekan saat presentasi saya dalam makul Pendidikan Anak Dalam Keluarga dengan tema Pola Asuh anak dalam keluarga.Saya ditugaskan menjadi moderator dalam diskusi kali ini, sayangnya saya moderator dengan hak istimewa, yakni boleh menjawab pertanyaan dari audiens. Baiklah ini agak merepotkan memang, ketika moderator seharusnya fokus mengontrol diskusi juga merangkum guna membuat kesimpulan diskusi ini juga diharuskan ikut mengurai kata untuk sebuah jawaban.Pelan pelan saya mencerna kalimat dalam peribahasa tersebut. “Tidak Ada Anak Yang Nakal Yang Ada Hanya Orang Tua Yang Tak Mampu Mengasuh. Tidak Ada Siswa Yang Bodoh, Yang Ada Guru Yang Tak Mampu Mendidik. Jika dipikirkan sepintas memang dapat dikatakan bahwa orang tua dan guru dalam peribahasa tersebut salah, namun jika dipandang lebih jeli lagi, keduanya tak dapat disalahkan begitu saja.Begini, dalam sebuah proses pembentukkan karakter anak itu memang tidak terlepas dari peran orang tua yang dominan, sayangnya jangan lupa bahwa ada banyak faktor yang menyertai pembentukan karakter anak tersebut. Jadi ketika terbentuk karakter anak nakal itu tak dapat dikatakan bahwa orang tuanya yang salah. Lantas faktor apa saja yang turut andail dalam pembentukan karakter anak ?1. Teman sebaya di masyarakat.Ketika rumah menjadi ruang utama meminta perhatian orang tua, maka anak anak memiliki ruang eksistensi bersama rekan sebayanya. Sebab eksistensi sebagai sesama anak anak juga merupakan kebutuhan mereka, tak jarang mereka lupa waktu untuk bermain. Kelupaan yang menimbulkan suara falset menjelang senja dari para Bunda. Interaksi anak anak dengan rekan sebayanyapun nyaris empat puluh persen dari presentase keseluruhan ruang interaksi anak diluar rumah. Berdasarkan hal tersebut tentu orang tua menjadi pihak yang diwajibkan mampu mengontrol pergaulan anak dengan rekan rekannya. Perlu digarisbawahi bahwa pengontrolan disini sangat jauh berbeda dengan pengekangan dan pembatasan anak dalam bergaul. Pengontrolan yang dimaksudkan saya disini, cukup dengan tahu siapa saja rekan sebaya anak, bagaimana perilaku mereka, lantas kitapun pelan pelan membekali anak untuk tahu mana yang dapat dijadikan refrensi berakhlak dan mana yang harus menjadi bahan teguran sesama. Jika beruntung malah anak anak yang mampu menjadi teladan bagi rekan rekannya. :”)2. Lingkungan Sosial masyarakat sekitar.Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial, tidak dapat hidup sendiri. Sebab itulah manusiapun hidup bermasyarakat. Dan keluarga (unit masyarakat terkecil) adalah bagian dari masyarakat. Jadi, selain berkeluarga juga bermasyarakat. Dalam masyarakat ini ada banyak karakter yang mewarnai, dari sekedar tetangga hingga perangkat desa. Atmosfer hidup bermasyarakat ini pun memiliki sumbangsih terhadap pembentukan perilaku anak. Faktor sosial ekonomi berhubungan dengan pekerjaan dan penghasilan serta cara bergaul seseorang. Lingkungan sosial berkaitan dengan pola hubungan sosial atau pergaulan yang dibentuk oleh orang tua maupun anak dengan lingkungan sekitarnya. Anak yang sosial ekonominya rendah cenderung tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau bahkan tidak pernah mengenal bangku pendidikan sama sekali karena terkendala oleh status ekonomi.3. MediaSeperti yang kita tahu, keseharian anak sangat dekat dengan berbagai media sosial dan elektronik. Karena sekarang ini banyak anak- anak yang lebih dekat dengan berbagai media dibanding dengan orang tua atau temannya. Sehingga hal itu menyebabkan anak kurang memahamai kondisi sekitarnya. Banyak pengaruh yang diakibatkan dari berbagai media yang ada baik dari TV, media cetak maupun online.Manfaat atau kelebihan utama dari media elektronik yaitu sebagai hiburan, pendidikan, dan juga relaksasi. Semua orang bisa mempelajari budaya luar, memahami sudut pandang orang lain, memperoleh inspirasi, dan mempromosikan kreativitas. Selain itu, manfaat lainnya yaitu adanya dukungan keamanan, keselamatan, serta dukungan sosial yang ditawarkan oleh komunikasi modern. Sebuah riset akademik menunjukkan bahwa anak anak itu cenderung banyak belajar dari televisi. Ketersediaan media untuk memengaruhi keyakinan sekaligus perilaku bisa digunakan untuk manfaat anak seperti mempromosikan aktivitas anak ataupun lewat internet dengan basis layanan pendukung di dalam pembelajaran.Dampak negatif yang di timbulkan oleh berbagai media :1) Anak kurang bersosialisasi dengan dunianya yang nyata. Anak lebih memilih untuk melihat DVD atau TV yang ada didalam rumah.sehingga ia tidak tahu dunia luar yang sebenarnya.2) Acuh terhadap apa yang ada disekitarnya.3) Tidak mampu mengembangkan potensi diri. Hal itu disebabkan anak lebih dominan berkecimpung dengan media elektronik yang menyebabkan ia malas melakukan sesuatu hal yang berhubungan dengan fisik. Sehingga yang terjadi potensi anak tidak akan berkembang atau terhambat.4) Banyak pengaruh buruk dari media terutama TV yang ditiru oleh anak. anak masih suka dalam meniru suatu hal yang dianggapnya menarik. Apa yang ditampilkan di TV akan ditirunya dan menjadi kelakuan sehari- hari.jika hal yang di tiru itu baik tidak mengapa, namun jika hal yang ditiru merupakan hal yang kurang baik akan berdampak pada kelakuannya. Orang tua perlu menjaga anak- anaknya dari damapak negatif TV maupun media lainnya.Sebuah teori bernama teori Jarum Hipodermik menjelaskan bahwa kekuatan dahsyat pada media bisa menguasai kendali pikiran masyarakat yang pasif dan tak berdaya. Kekuatan media yang memengaruhi khalayak ramai ini bergerak seperti jarum suntik, yaitu tak terlihat tetapi berefek. Berdasarkan teori tersebut, dapat disimpulkan bahwa tayangan buruk di media mampu memengaruhi perilaku anak-anak.4. Penghuni lain selain orang tua.Dalam keluarga modern saat ini, anggota keluarga tidak lagi hanya suami (ayah), istri (Bunda), dan anak, namun juga terkadang ada nenek serta kakek serta Baby Sitter.Peran nenek dan kakek dalam pengasuhan anak dan perkembangannya menurut Dra. Augustine S. Basri, MSi, psikolog anak dan keluarga dari UI :a) Menganggap cucu sebagai pengganti anak. Pola asuh kakek dan nenek biasanya bersifat permisif, yaitu lebih banyak memberikan keleluasaan kepada cucunya untuk melakukan apa yang dikehendaki dan mendapatkan apa yang mereka inginkan. Hal inilah yang sering bertentangan dengan prinsip pengasuhan oleh orang tua.b) Terjadi dualisme kepemimpinan. Jika dibiarkan terlalu lama dan berlarut-larut, hal ini bisa berakibat negatif pada perkembangan anak, hubungan interpersonal mereka dengan orangtua, dan hubungan orangtua dengan kakek nenek. Anak akan bingung, harus mengikuti perkataan siapa, orangtua yang melahirkan mereka, atau kakek-nenek yang sehari-harinya mengasuh mereka orangtua sebagai pengasuh harusnya lebih besar daripada kakek dan neneknya. Selain itu sikap mandiri dan disiplin juga sulit untuk terbentuk dalam diri anak karena terlalu disayang oleh kakek dan neneknya.Sebenarnya peran kakek dan nenek untuk perkembangan anak juga sangat penting. Hal itu dikarenakan :a) Anak menganggap bahwa kakek-nenek adalah makhluk paling istimewa yang serba bisa.b) Secara emosional, kakek- nenek mampu memberikan rasa aman dan dan nyaman pada anak/cucu.c) Anak bisa belajar suasana baru baradaptasi dengan kakek dan neneknya.Peran baby sitter/ pengasuh/pendidik:Bagi orang tua yang sibuk bekerja baby sitter atau lainnya merupakan pilihan yang tepat untuk merawat anaknya dan mengasuhnya. Jika dalam memilih pengasuh kurang tepat akibatnya perkembangan anak akan kurang tepat pula, namun jika orang tua bisa memilih pengasuh yang baik hasil perkembangan anak juga baik dan positif. Peran pengasuh bisa menjadi orang tua dominan sang anak karena orang tua yang asli sangat jarang berkomunikasi dengan anak. Bahkan, anak akan lebih memilih ikut peraturan pengasuhnya, dibanding dengan orang tuanya.Terdapat beberapa tips agar orang tua dapat menjaga kondisi perkembangan dan kebutuhan anak secara sehat mental dan fisiknya dengan memilih pembantu/ baby sitter yang jujur, seiman, dan menyayangi anak, dan memberi batasan dan wewenang pada pembantu/ baby sitter.Namun sebaiknya orang tua tetap menyempatkan berinteraksi dengan anak dan mendidiknya meskipun dengan waktu yang relatif singkat. Karena orang tua lebih tahu dengan karakter anak dibandingkan dengan pengasuh/pendidik di sekolah. Sangat penting pilar-pilar pendidikan yang utama dilakukan di keluarga meskipun waktu yang ada hanya sebentar namun, jika diusahakan untuk efektif maka hasilnya akan baik. kualitas lebih berarti daripada kuantitas. Artinya, sedikit bila dimanfaatkan dengan baik, maka waktu tersebut sangatlah berharga. Daripada 24 jam berada di rumah, tetapi orang tua di sibukkan dengan menonton tv, membaca koran, dan lain–lain. Akan tetapi harus di ingat, kualitas jaga tidak ada artinya tanpa kuantitas. Maksudnya, orang tua harus meluangkan waktu bersama anak setiap hari. Pantaulah bagaimana perkembangan mereka di rumah dan sekolah. Apakah mereka mampu mengalami masalah dengan aturan sekolah, dan lainnya.5. Genetis.Faktor diluar duga manusia yang membuat manusia untuk senantiasa bertawakal pada.Nya semata. Menyadari bahwa diatas segala rencana manusia ada Allah SWT yang memutuskan segalanya. Faktor bawaan sejak dalam rahim yang telah Allah sisipkan sebagai anugerah. :”)^O^Semoga bermanfaat dan semoga menjadi orangtua cerdas penuh kreativitas mengasuh buah hati ^_^ #eh? :”) aamiiinPosted by RisaRiiLeon at 06:36 | Labels: Conversation, Jendela Anak | 0 comments | Email This BlogThis! Share to X Share to Facebook |